Anda di halaman 1dari 13

Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran

Posted by Mahmuddin pada November 10, 2009


Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis,
sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada, keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses
kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar,
mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas
siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (siswa sebagai subjek belajar). Kedua,
seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban
sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan
dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran
inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.
Menurut Sanjaya (2009), penggunaan inkuiri harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu
berorientasi pada pengembangan intelektual (pengembangan kemampuan berfikir), prinsip
interaksi (interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan
lingkungan), prinsip bertanya (guru sebagai penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning
how to think), prinsip keterbukaan (menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada
siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang
diajukan).
Prinsip prinsip Penggunaan Inkuiri
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian ,
strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses
belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi
inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh
mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
b. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun
interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai
proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur
lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
c. Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inkuiri adalah guru sebagai
penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah
merupakan sebagian dari proses berpikir.
d. Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir
(learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri
maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara
maksimal.
e. Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan
sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang
untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka
membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Dalam implementasinya, pembelajaran inkuiri memiliki sintaks sebagai berikut:
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah: Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah
dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
2. Membuat hipotesis: Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat
dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang
relevan dengan permasalahan dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi
prioritas penyelidikan.
3. Merancang percobaan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan
langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing
siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan.
4. Mengumpulkan dan menganilisis data: Guru memberi kesempatan kepada setiap
kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
5. Membuat kesimpulan: Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.
Sedangkan menurut Sudjana (1989), ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan
pembelajaran inkuiri, yaitu :
1. Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa
2. Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
3. Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau
permasalahan
4. Manarik kesimpulan atau generalisasi
5. Mengaplikasikan kesimpulan
Berdasarkan tingkat kematangan siswa, pendekatan inkuiri dapat dilakukan dalam lima tingkatan,
yaitu inkuiri tradisional, inquiri terbimbing, inkuiri mandiri, keterampilan prosedur ilmiah,
Penelitian siswa. Terdapat tiga aspek yang sama penting dalam pembelajaran, yaitu tujuan

pembelajaran, Kegiatan Belajar/Mengajar dan materi, hasil evaluasi. Proses yang baik
diasumsikan akan mendapatkan hasil yang baik. Proses belajar yang efektif harus melibatkan
sebanyak mungkin alat indera. Pendekatan inkuiri, melibatkan semua indera sehingga
pengetahuan siswa akan menjadi tahan lama. Perumusan indikator, harus memikirkan efek
samping terutama pada tahapan perkembangan psikologi siswa. Kelemahan pendekatan inkuiri
(kekacauan pembelajaran), dapat terjadi kalau guru tidak melakukan pembimbingan secara
terarah dan bertanggung jawab. Guru penting melakukan monitoring atau pengontrolan terhadap
aktivitas siswa.

Kegiatan Laboratorium Verifikasi vs Problem Solving


Berikut ini adalah penjelasan ringkas tentang perbedaan kegiatan laboratorium verifikasi dengan
kegiatan laboratorium berbasis problem solving :
Model Kegiatan Laboratorium Verifikasi
Pada umumnya kegiatan praktikum atau percobaan sains yang diselenggarakan baik sekolah
menengah maupun di perguruan tinggi merupakan praktikum tradisional. Pola kegiatan/aktivitas
laboratorium tradisional adalah sebagai berikut; siswa diberi tahu prinsip/teori/konsep sains.
Setelah itu siswa menguji/memverifikasi kebenaran teori/prinsip/konsep tersebut. Kegiatan
laboratorium seperti ini cenderung mendorong siswa untuk tidak jujur, karena hasil
pengamatannya dikendalikan oleh teori/prinsip/ konsep yang sudah diketahuinya. Jika demikian
halnya, kegiatan laboratorium sains yang diharapkan sebagai wahana pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah malah menjadi kebalikannya. Kelemahan lainnya terletak
pada proses kegiatannya, modul praktikum pada laboratorium tradisional disajikan secara rinci
memuat prosedur-prosedur baku yang harus dilaksanakan siswa tahap demi tahap. Petunjuk
praktikum yang terlalu rinci mengakibatkan kurang merangsang siswa untuk mengembangkan
daya nalarnya untuk merencanakan dan menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Kegiatan Laboratorium Berbasis Problem Solving
Inovasi pembelajaran dalam kegiatan praktikum ini diilhami oleh kegiatan praktikum yang
didesain dan dikembangkan di Universitas Minnesota serta di Jurusan Pendidikan Fisika
FPMIPA UPI, yang memberikan penekanan utama pada aspek problem solving. Kegiatan
laboratorium ini terintegrasi dengan pembelajaran. Tujuannya seperti dikemukakan oleh
Heller&Heller adalah menjadikannya sarana bagi siswa untuk : (a) mengkonfrontasi konsep awal
mereka dengan bagaimana alam bekerja; (b) melatih skill problem solving; (c) belajar
menggunakan alat; (d) belajar mendesain ekperimen; (e) mengobservasi sebuah peristiwa yang
memerlukan penjelasan yang tidak mudah sehingga mereka menyadari bahwa diperlukan ilmu
untuk menjawabnya; (f) mendapatkan apresiasi kesulitan dan kegembiraan saat melakukan
eksperimen; (g)mengalami pengalaman seperti ilmuwan asli dan (h) merasa senang melakukan
kegiatan yang lebih aktif daripada duduk dan mendengarkan. Berdasarkan desain problem
solving laboratory yang dikembangkan di universitas Minnesota dan FPMIPA UPI, komponenkomponen kegiatan laboratoriumnya diuraikan sebagai berikut:

a. Petunjuk Praktikum
Perbedaan yang mencolok adalah tidak adanya dasar teori dan langkah-langkah percobaan pada
petunjuk praktikum yang akan dikembangkan. Peniadaan dasar teori didasarkan pada alasan
untuk menegaskan bahwa kegiatan praktikum ini merupakan bagian terintegrasi dengan
pembelajaran, sehingga teori yang mendasari praktikum dapat digali dan dibaca sebanyakbanyaknya dari buku-buku paket sekolah. Adanya prediksi dan pertanyaan metode dalam
petunjuk praktikum dimaksudkan untuk men-trigger penggalian teori oleh siswa. Sedangkan
peniadaan langkah-langkah percobaan yang mendetil dalam petunjuk praktikum dimaksudkan
untuk memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melatih skill problem solving-nya, sehingga
dengan demikian kemampuan problem solving-nya dapat terus dipertajam. Berikut perbandingan
antara petunjuk praktikum lama dan petunjuk praktikum problem solving.

Petunjuk praktikumnya terdiri dari langkah-langkah: permasalahan yang dijumpai dalam


kehidupan siswa disajikan, kemudian disediakan alat dan bahan yang diperlukan. Siswa
diarahkan untuk memprediksi tentang alternatif solusi dari masalah yang disajikan. Untuk
mengarahkan siswa agar dapat melakukan eksplorasi dengan benar, maka guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan metode/pengarah. Jika langkah kerja yang akan dilakukan siswa sudah
sesuai, kemudian dilakukan eksplorasi dan pengukuran untuk memperoleh data yang akan
dianalisis. Dari hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan berupa suatu konsep yang utuh
b. SettingKegiatan Praktikum
Perbedaan seting kegiatan praktikum lama adalah diawali dengan pengumpulan tugas awal untuk
dinilai dan tanya jawab tentang penggunaan alat dan proses pengukuran, pada seting baru
diadakan tahap pra eksperimen (pre-experiment) yang berbentuk diskusi. Diskusi ini diadakan
untuk memonitor prediksi dan jawaban pertanyaan metode dari setiap anggota kelompok untuk
kemudian diseragamkan menjadi prediksi kelompok. Sedangkan tujuan pasca eksperimen (postexperiment) adalah mendiskusikan data yang diperoleh dari hasil pengukuran untuk memantau
kelengkapan data dan ketepatannya, jika terjadi kekeliruan dapat segera diadakan perbaikan.
Perbedaannya dapat dilihat pada Tabel 2.

Pada setting kegiatan praktikum problem solving, dapat dijelaskan bahwa dua hari menjelang
pembelajaran dilakukan, kelompok siswa diberi LKS pre eksperimen yang berisi tahap:
penyajian masalah, pengenalan alat-alat eksperimen, prediksi yang harus dilakukan siswa dan
penyampaian pertanyaan-pertanyaan metode/pengarah. LKS pre eksperimen ini dikerjakan
secara berkelompok di rumah siswa. Pada saat pembelajaran berlangsung maka hasil rumusan
masalah, pemilihan alat eksperimen, hasil prediksi siswa dan langkah-langkah eksperimen
didiskusikan sebelum melakukan eksplorasi. Jika langkah kerja yang akan dilakukan siswa sudah
sesuai, kemudian dilakukan eksplorasi dan pengukuran untuk memperoleh data yang akan
dianalisis. Dari hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan berupa suatu konsep yang utuh.
Kegiatan analisis data, perolehan kesimpulan dan penentuan solusi masalah disebut kegiatan post
eksperimen.

Pembelajaran Inkuiri
Posted on 12 September 2011 by AKHMAD SUDRAJAT 28 Komentar

A. Konsep Dasar

embelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara

maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia
atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran
tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam pembekajaran ini adalah mencari dan
menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan
pembimbing siswa untuk belajar. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan

pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri
biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Pembelajaran ini sering juga
dinamakan pembelajaran heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang
berarti saya menemukan.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi
timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebasterbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu
diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses
pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam
pengujian hipotesis.
B. Ciri-ciri Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri, di antaranya:
Pertama, pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk
mencari dan menemukan. Artinya, pada pembelajaran inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek
belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima materi
pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan
sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan
jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan
sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, pada pembelajaran inkuiri menempatkan guru
bukan sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi lebih diposisikan sebagai fasilitator dan
motivatorbelajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya
jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya
merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di
kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus
dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi
kerja kelompok.
Ketiga, tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara
sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari
proses mental. Dengan demikian, dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut untuk
menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan
kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan
berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:

1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual. Tujuan utama dari pembelajaran inkuiri adalah
pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, pembelajaran ini selain berorientasi
kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.
2. Prinsip Interaksi. Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi
antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan
lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai
sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip Bertanya. Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pembelajaran ini
adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan
pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Dalam hal ini, kemampuan guru
untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Di samping itu, pada
pembelajaran ini juga perlu dikembangkan sikap kritis siswa dengan selalu bertanya dan
mempertanyakan berbagai fenomena yang sedang dipelajarinya.
4. Prinsip Belajar untuk Berpikir. Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi
belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi
seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
5. Prinsip Keterbukaan. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan
berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru
adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan
hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.

D. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri


Proses pembelajaran inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b)
melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini
adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan
merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari :
mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b)
menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan
mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan
dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan;
dan (b) merumuskan kesimpulan
5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

E. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri


Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena memiliki
beberapa keunggulan, di antaranya:
1. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui
pembelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna.

2. Pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajarmereka.
3. Pembelajaran ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi
belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
4. Keuntungan lain adalah dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh
siswa yang lemah dalam belajar.

Di samping memiliki keunggulan, pembelajaran ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:


1. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam
belajar.
3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga
sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4. Selama kriteria keberhasiJan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka strategi ini tampaknya akan sulit diimplementasikan.

Model Pembelajaran Inkuiri


27 Mei 2010 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.
Model Pembelajaran Inkuiri

Sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk


menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di sekelilingnya
merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk
mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan, pendengaran, pengecapan dan indera-indera
lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan
menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna
(meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Didasari hal inilah suatu strategi
pembelajaran yang dikenal dengan inkuiri dikembangkan.
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan
bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun

kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir


reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara
untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.
Selanjutnya Sanjaya (2008;196) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama
strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara
maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa
sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai
penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk
menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan,
sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam
pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai
fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses
tanya jawab antara guru dan siswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik
bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan
strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar
menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
dimilikinya.
Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut:
A. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai
tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah,
mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan
kesimpulan
Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar siswa.

B. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa
didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting
dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

C. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban
sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan
mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan
jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu
permasalahan yang dikaji.
D. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses
mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan
dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
E. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau
informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan
bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan
dapat dipertanggungjawabkan.
F. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan
hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu
menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan
mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap
matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan penyelidikan. Investigasi
yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri.
Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan
keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep
merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut.
Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa diharapkan
dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap pelajaran matematika, khususnya
kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan
inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir
ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar
sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar
ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan

inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang
perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah
yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber
belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih
diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas, guru mempunyai peranan sebagai konselor,
konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman
kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap problem solving atau tugas; (2) Tahap pengelolaan
kelompok; (3) Tahap pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai
instruktur harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan intervensi
dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.
Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap
siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis
pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi.
Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.
Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar
dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada
bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada
pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik
melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan
menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai
dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada
tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses
inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan
diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran
matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang
terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa,
sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang
diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan
pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah
bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk
diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau
langkah-langkah yang diperlukan.

Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan
sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa
dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih
dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri.
Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah
ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki.
Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain: 1) waktu
yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah
ditetapkan dalam kurikulum, 2) karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan
yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam
kurikulum, 3) ada kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda,
sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa,
4) karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan
kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau
individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)
Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya,
yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu
permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani
acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau
menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan
pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh
bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak
terstruktur.
Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya
terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri
penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya,
maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang
relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok
lain.
Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga jenis pembelajaran dengan pendekatan inkuiri,
penulis memilih Pendekatan Inkuiri Terbimbing yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Pemilihan ini penulis lakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian yang akan dilakukan
terhadap siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana tingkat perkembangan
kognitif siswa masih pada tahap peralihan dari operasi konkrit ke operasi formal, dan siswa
masih belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri serta karena siswa masih dalam
taraf belajar proses ilmiah, sehingga penulis beranggapan pendekatan inkuiri terbimbing lebih
cocok untuk diterapkan.
Selain itu, penulis berpendapat bahwa pendekatan inkuiri bebas kurang sesuai diterapkan dalam
pembelajaran matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika topik yang diajarkan

sudah ditetapkan dalam silabus kurikulum matematika, sehingga siswa tidak perlu mencari atau
menetapkan sendiri permasalahan yang akan dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Cochran, Rachel et al.(2007). The impact of Inqury-Based Mathematics on Context Knowledge
and Classroom Practice. Journal. Tersedia: http://www.rume.org/crume2007/papers/cochranmayer-mullins.pdf
Krismanto, M.Sc. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika.
PPPG Matematika. Yogyakarta.
Sanjaya, Wina. Dr. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Slavin, Robert.E. (2008). Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik. Bandung. PT. Nusa
Media
Tim MKPBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. JICA