Anda di halaman 1dari 9

Program Pemerintah tentang Flu Burung

Program pengendalian Flu Burung di Indonesia didukung oleh bantuan USAID


yang memegang peranan penting secara keseluruhan. Bantuan dana sebesar 42,88
juta US Dollar telah dicairkan untuk mencegah dan mengendalikan flu burung di
Indonesia sejak tahun 2005. Adapun program yang dijalankan adalah :
Persiapan dan Pengendalian Flu Burung
Membentuk program pengendalian berbasis masyarakat yang diberi nama
Community-Based Avian Influenza Control (CBAIC), yang memprakarsai dan
mengkoordinasi berbagai kegiatan di sektor dan tingkatan pemerintahan. Contoh
kegiatannya adalah melatih para coordinator Flu Burung di desa-desa untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali gejala awal flu burung.
Mengawasi dan Menangani Flu Burung
Membangun dan Melaksanakan kegiatan pengawasan unggas secara aktif, dengan
melatih petugas kesehatan hewan dan melengkapinya dengan keterampilan
pengawasan dan pengendalian penyakit, serta melengkapinya dengan peralatan
yang sesuai untuk dapat melakukan aktivitas lapangan.

untuk mengawasi perkembangan penyakit yang berbasis laboratorium terutama


untuk daerah yang beresiko tinggi terkena flu burung.
Penyuluhan melalui Perubahan perilaku
Mengembangkan pesan-pesan yang utama tentang flu burung dan menyebarkan
pesan tersebut melalui berbagai media massa dan materi informasi lainnya seperti
poster dan brosur untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat dengan materi
informasi dan edukasi tersebut sehingga diharapkan masyarakat dapat mengubah
perilaku untuk mengurangi penyebaran flu burung dan resiko yang mengenai pada
manusia itu sendiri.
Penelitian
Melakukan penelitian operasional dengan bekerja sama dengan ILRI (International
Livestock Research Institute) untuk menemukan cara penanggulangan yang efektif
demi menanggulangi dampak flu burung di Indonesia.
Perbedaan flu burng dengan flu babi

Perbedaan kedua flu tersebut adalah sebagai berikut.


Selain itu juga bekerjasama dengan LSM lokal untuk menyebarkan informasi
pencengahan, pengawasan dan pelaporan penanggulangan Flu Burung ke desa-desa,
dan melatih sukarelawan desa untuk turut serta melakukan usaha pencegahan flu
burung dengan menyebarkan informasi ke masyarakat supaya dapat mengubah
kebiasaan atau perilaku yang mungkin berbahaya.
Mengawasi Perkembangan Influenza pada Manusia
Berupaya supaya pasien suspek flu burung mendapatkan penanganan yang tepat
dengan adanya konfirmasi dari kasus unggas yang dapat dideteksi dalam waktu
kurang lebih 24 jam. USAID mendukung berdirinya NAMRU-2 di berbagai daerah

Kedua virus tersebut disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Flu
burung disebabkan oleh virus H5N1 sedangkan flu babi disebabkan oleh
virus H1N1.
Penyebab penularan kedua jenis flu ini berbeda. Flu jenis pertama
menggunakan burung sebagai meda penularan, sementara flu jenis kedua
ditularkan melalui babi. Pemusnahan hewan ternak yang terjangkit virus
tersebut masih dipandang sebagai cara paling efektif untuk memusnahkan
virus-virus tersebut. Pemusnahan yang dilakukan harus dengan cara
dibakar. Penguburan bangkai diasumsikan sebagai jalan terefektif untuk
mencegah penularan virus yang ada pada hewan ternak tersebut. Meski
ternak unggas dan babi adalah vektor utama kedua virus tersebut,

penularan antar manusia juga dimungkinkan terjadi. Pada virus H1N1,


dengan sekali bersin saja dapat disebarkan setidaknya 100.000 virus yang
akan menempel pada apapun di sekitar orang tersebut. Dengan jumlah
yang sedemikian banyak, proses penularan H1N1 jauh lebih cepat
dibanding dengan virus H5N1.
Meski tingkat penyebaran virus H1N1 lebih tinggi, virus H5N1 diklaim
sebagai virus yang lebih ganas.Virus ini dinyatakan jauh lebih mematikan
dibanding virus H1N1. Berdasarkan data terkini, tingkat kematian karena
H5N1 bisa mencapai 80 persen, hampir 12 kali kemungkinan kematian
karena terjangkit H1N1 (6 persen). Pada berbagai kasus H5N1 di tanah
air, sebagian besar penderita tewas sebelum diketahui penyebab sakit
mereka.

Persamaan kedua jenis flu tersebut antara lain adalah pada beberapa hal.

Kedua flu tersebut disebabkan oleh tipe virus yang sama. Keduanya
sama-sama disebabkan oleh virus influenza tipe A dengan variasi masingmasing.
Sama-sama menggunakan hewan sebagai vektor penularan utama.
Keduanya juga bisa ditularkan antar manusia.
Sama-sama mematikan. Dalam banyak kasus, penderita kedua jenis flu ini
nyaris tidak memiliki kesempatan hidup. Kebanyakan penderita mengira
bahwa penyakit yang diderita hanya flu biasa dan mengabaikan
pengobatan yang intensif.
Zona penyebaran H5N1 ditengarai berbeda dengan H1N1, akan tetapi
temuan terbaru kasus H1N1 di Meksiko membuat para ahli harus
merevisi pengklasifikasian zona penyebaran H1N1. Meksiko sendiri
merupakan negara tropis yang artinya H1N1 tidak lagi anti terhadap
daerah tropis. Temuan terbaru ini menghapus anggapan bahwa H1N1
hanya bisa hidup dan tersebar di daerah subtropis. Beberapa ahli
menyatakan bahwa mutasi pada H1N1 membuat virus jenis ini kemudian
memiliki kemampuan bertahan hidup di daerah dengan iklim hangat.

flu burung dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) adalah dua penyakit
yang sama-sama disebabkan oleh virus. Secara umum kedua penyakit ini
menpunyai gejala yang mirip, yaitu demam lebih dari 38C, batuk, pilek, dan
mialgia. Namun ada beberapa hal yang membedakan kedua penyakit ini.

Pertama, virus penyebab Flu burung disebabkan oleh virus influenza tipe
A yang biasa mengenai unggas. Sedangkan SARS disebabkan oleh virus
corona.
Kedua, penularan. Flu burung ditularkan dari unggas yang menderita flu
burung ke manusia. Penularan dari manusia ke manusia belum dapat
dipastikan. Sedangkan SARS ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderita SARS. Terlihat jelas bahwa SARS tidak menyerang dan
ditularkan oleh organisme selain manusia.
Ketiga, manifestasi klinis. Manifestasi klinis flu burung terutama pada
sistem respiratorik dari yang ringan sampai berat dan pada sistem
pencernaan yang biasanya berupa diare. SARS mempunyai manifestasi
yang lebih berat, tidak hanya manifestasi pada sistem respiratorik dan
sistem pencernaan, tetapi juga dapat bermanifestasi pada darah, hati,
sistem kardiovaskuler, sistem saraf.
Keempat, pemeriksaan penunjang diagnostik. Untuk flu burung, diagnosis
ditegakkan dengan uji konfirmasi berupa kultur dan identifikasi virus
H5N1, uji Real Time Nested PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk
H5, dan uji serologi. Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah
pemeriksaan laboratorium darah lengkap, pemeriksaan kimia, dan juga
pemeriksaan radiologi. Untuk SARS, pemeriksaan spesifik SARS
coronavirus yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan RT-PCR pada
specimen dahak, feses, dan darah perifer pasien. Selain RT-PCR untuk
mendeteksi SARS coronavirus juga dapat dilakukan deteksi antigen
serum dan kultur virus. Gold standard untuk diagnosis SARS Coronavirus
ini adalah deteksi antibody SARS Coronavirus dengan teknik Indirect
Immunofluorescent Assay (IFA) dan Enzyme Immunoassay (EIA). Selain
pemeriksaan yang spesifik, terdapat pemeriksaan non spesifik untuk
SARS Coronavirus. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk menilai kondisi

tubuh pasien saat itu. Pemeriksaan radiologi dan laboratorium masuk


dalam pemeriksaan yang non spesifik.
Kelima, Kriteria diagnostik. Kriteria diagnostik flu burung yang
ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI terbagi menjadi empat
kategori, yaitu: Pasien dalam Observasi, Kasus Suspek Avian Influenza
H5N1 (Under Investigation atau Dalam Pengawasan), Kasus Probabel
Avian Influenza H5N1, dan Kasus Konfirmasi Influenza A/H5N1.
Sedangkan kkriteria diagnosis SARS ditetapkan oleh WHO pada tahun
2003. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut: demam tinggi dengan suhu
lebih dari 38C, ada satu atau lebih keluhan pernapasan (termasuk batuk,
sesak, dan kesulitan bernapas), disertai dengan satu atau lebih keluhan
berikut:
Kontak dekat dengan orang yang didiagnosis supek atau probabel SARS
dalam 10 hari terakhir
Riwayat perjalanan ke rempat atau Negara yang terkena wabah SARS
dalam 10 hari terakhir
Bertempat tinggal/pernah tinggal di tempat/Negara yang terjangkit wabah
SARS
Penyebaran flu burung dapat terjadi melalui dua cara. Cara pertama,
penyebaran flu burung lewat media jaringan hidup. Cara kedua,
penyebaran lewat media benda-benda mati. Penyebaran pertama
menggunakan jaringan hidup. Virus flu berada dalam keadaan aktif.
Virus flu mula-mula menempel pada sel hidup. Kemudian inti virus flu
melakukan penetrasi ke dalam sel. Inti virus flu berkembang biak di
dalam sel hidup membentuk virus-virus baru. Selama pembentukan virusvirus baru, virus flu mengubah protein di dalam sel sebagai energi.
Rusaknya protein sel tersebut yang menyebabkan unggas jadi terserang
penyakit flu burung.
Proses ini begitu cepat menjangkiti antar sel dalam waktu singkat. Semua
organ unggas menjadi tidak berfungsi. Akibatnya unggas yang terserang
penyakit flu burng akan mati. Virus flu burung dapat dijumpai pada air
liur, darah, tinja. Dengan tes anigen, virus flu burung di dalam bahan
organik tersebut dapat diketahui oleh kita.

Saat bahan organik terpapar sinar matahari, bahan organik tersebut akan
mengering. Pada suhu kamar, virus flu burung memasuki fase
dorman. Virus flu seperti layaknya benda mati. Lapisan dinding terluar
virus akan mengalami penebalan. Karena ukuran yang sangat
mikroskopis, virus flu ini dapat menempel pada benda-benda mati.
Benda-benda mati tersebut antara lain bulu unggas, air, angin. Selama
virus flu burung pada fase dorman, virus ini tidak akan menjadi penyakit
flu burung.
Penyebaran virus flu burung melalui udara dapat dibawa oleh burung dan
angin. Perilaku burung pada musim-musim tertentu melakukan migrasi.
Migrasi burung terjadi pada saat di bumi belahan utara memasuki musim
dingin. Burung dari belahan bumi utara yang membawa virus dorman
terbang ke daerah di belahan bumi selatan. Selama perjalanan burung ini
menuju ke tempat tujuan akan singgah di tempat tertentu. Hal ini yang
menyebabkan virus flu dapat tersebar luas.
Virus flu burung memiliki ukuran yang sangat kecil. Hal ini memudahkan
virus ini terbawa oleh angin. Jangkauan angin dapat melintasi antar benua
dan samudera.
Virus flu yang sudah menyebar lewat perantara burung dan angin akan
masuk ke dalam jaringan hidup. Virus ini masuk melalui pernapasan,
makanan dan minuman. Saat metabolisme unggas mengalami gangguan,
virus ini masuk ke dalam jaringan hidup melalui saluran jaringan
pengangkut. Lemahnya imunitas tubuh unggas mengakibatkan virus ini
tidak bisa hancur. Virus flu mulai mengaktifkan inti virus. Saat itu juga
unggas terserang penyakit flu burung. Siklus ini akan terjadi terusmenerus.

Flu burung merupakan bagian dari influenza


influenza, atau biasa disebut flu, merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh virus influenza atau virus flu. Virus flu merupakan virus RNA dari kelompok
Orthomyxoviridae dan virus ini dapat menyerang burung dan mamalia, termasuk
manusia. Gejala flu yang paling umum meliputi demam, menggigil, sakit

tenggorokan, pusing, batuk, hidung tersumbat dan bersin-bersin. Gejala yang tidak
sembuh-sembuh dapat menyebabkan pneumonia yang dapat berakibat kematian.

Virus influenza dapat menyebar melalui udara dan bisa menjadi inaktif
ketika terpapar panas matahari, disinfektan, atau antibiotik. Penyebaran
virus flu dapat dicegah dengan penggunaan sabun dan rajin mencuci
tangan. Virus flu telah menyebar sangat luas di seluruh dunia, dan
menyerang 250-500ribu orang per tahun.
Virus flu sangat mudah bermutasi menghasilkan jenis baru untuk
meningkatkan resistensi virus tersebut terhadap antibiotik atau obat flu.
Mutasi virus flu dapat menyebabkan virus flu dapat berpindah dari hewan
satu ke hewan yang lain, atau bahkan menulari manusia seperti virus flu
burung dan flu babi. Terdapat tiga tipe virus flu yaitu influenza A, B dan
C. Influenza A secara alami akan menyerang spesies-spesies burung,
influenza B yang umum menyerang manusia, sedangkan influenza C
menyerang anjing dan babi. Virus flu burung termasuk dalam influenza A
dan mutasi virus tersebut dapat menyerang manusia.
Influenza tampaknya menjadi penyakit yang umum di derita orang
Indonesia. Bagaimana tidak, perubahan cuaca yang kadang tidak bisa
dipredikasi di negeri ini salah satunya yang menjadikan daya tubuh
menjadi menurun. Bahkan kejadian beberapa tahun yang lalu yang
menyebabkan banyak korban akibat flu burung membuat Kita harus lebih
peduli terhadap kesehatan.
Virus flu menyerang daya tahan tubuh Kita. Namun untuk kasus flu
burung, tampaknya tidak cukup dengan hanya beristirahat untuk
memulihkan dari virus H5N1 ini seperti halnya virus flu ringan, perlu
tindakan medis yang lebih intensif untuk mengatasinya.
Nah untuk lebih mengetahui lebih banyak mengenai virus influenza, mari
kita mengenal tipe-tipe dari virus flu ini.
Virus influenza tipe A. Virus tipe ini bisa menginfeksi manusia dan
hewan (babi, anjing laut, ikan paus kuda, unggas dan binatang lainnya).
Virus tipe ini dikelompokkan lagi ke dalam sub tipe, berdasarkan dua
jenis protein pada permukaannya, yang disebut dengan Hemaglutinin

(HA) dan juga Neuroaminidase (NA). Untuk jenis Hemaglutinin (HA)


terdapat 15 jenis sub tipe sementara untuk tipe Neuroaminidase (NA)
terdapat 9 sub tipe serta terdapat juga beberapa kombinasi dari keduanya.
Dari beberapa jenis virus dari tipe ini, yang biasanya menyerang manusia
adalah H1N1, H1N2 dan H3N2. Beberapa jenis lainnya menyerang
hewan seperti H7N7 dan H3N8. Sub tipe dari virus flu tipe A ini
dinamakan berdasarkan jenis protein HA dan NA nya. Contohnya: H1N2
merupakan virus influenza tipe A yang mempunyai jenis protein HA1 dan
NA2. Hanya virus tipe A yang menyerang unggas. Beberapa strain virus
tipe A ini menyebabkan unggas liar sakit parah bahkan mati mendadak.
Namun kasus yang banyak terjadi virus tipe A ini justru menyerang
unggas peliharaan. Virus H5NI atau virus avian adalah virus influenza
tipe A yang mempunyai protein HA5 dan NA1. Begitu cepatnya
penyebaran virus yang satu ini sehingga menyebabkan pandemik. Virus
H5NI yang terdapat pada unggas menyebar melalui air liur unggas ketika
Kita melakukan kontak dengan hewan yang sakit. Penyebarannya juga
melalui sekreta unggas serta bisa juga melalui konsumsi produk unggas
seperti daging maupun telur yang dimasak kurang sempurna. Virus
influenza yang terdapat pada burung ini sangat cepat menyebar dan bisa
menyebabkan kematian pada burung yang terjangkit. Tidak hanya
mematikan pada burung, pada manusia yang terkena virus ini juga dapat
menyebabkan kematian. Penyebaran virus tipe A ini bisa melalui kontak
dengan hewan yang sakit atau dari lingkungan yang tercemar, konsumsi
produk hewan bahkan dari manusia ke manusia yang sudah terjangkit
virus H5N1. Pada tahun 2004 hingga sekarang flu burung ini cukup
mendapatkan perhatian. Jika terkena virus tipe A ini maka wajib
mengkonsumsi Tamiflu, menghindari bepergian ke luar rumah untuk
beberapa saat serta selalu dipantau kesehatannya. Langkah tanggap
terhadap penularan virus tipe A ini sangat diperlukan guna mencegah
bertambahnya korban. Pada tipe ini gen virus bermutasi. Tidak hanya flu
burung yang banyak mendapat perhatian di tanah air, berkembangnya
kasus flu babi dan SARS di tanah air mengharuskan Kita meningkatkan
kewaspadaan.

Virus influenza tipe B. Hampir sama dengan tipe A, virus influenza untuk tipe B ini
juga banyak ditemukan pada manusia. Yang berbeda adalah pengklasifikasiannya
tidak berdasarkan sub tipe. Virus tipe ini dapat menyebabkan epidemik, namun
tidak perlu khawatir karena virus ini tidak menyebabkan pandemik. Virus tipe ini
memiliki strain. Perubahan strain akan menggantikan strain yang lama. Karena
itulah vaksin flu harus diperbarui setiap tahunnya demi mengikuti perubahan dari
strain virus ini.
Virus Influenza tipe C. Pada virus influenza tipe C, dapat menyebabkan sakit ringan
pada manusia namun tidak menyebabkan epidemik maupun pandemik. Virus ini
tidak diklasifikasnn juga berdasarkan sub tipe seperti halnya virus influenza tipe B.
Virus dengan tipe C ini banyak Kita alami.
Apakah sama flu burng dengan virus influenza?
Flu burung merupakan virus yang secara alami menyerang burung namun mutasi
virus flu burung dapat menulari hewan lain bahkan manusia. Mutasi virus tersebut
dapat dibedakan menjadi beberapa subtipe virus. Subtipe yang sangat patogenik
atau berbahaya pada manusia meliputi H5N1, H7N3, H7N7 dan H9N2. Subtipe
H5N1 dapat dikatakan sebagai subtipe flu burung yang paling terkenal. Virus H5N1
telah menyebabkan pandemik pada manusia.
Virus tersebut telah menyebabkan kematian jutaan unggas di peternakan-peternakan
Asia, Afrika, dan Eropa. Virus ini pertama kali dilaporkan menyerang manusia pada
akhir 1980-an. Penyebaran virus flu burung pada manusia dapat bersifat
mematikan. Pada tahun 2009 virus ini menyebabkan kematian pada beberapa warga
Cina dan pada tahun 2010 dilaporkan 300 kematian pada manusia akibat flu burung
di seluruh dunia.
Berbagai penelitian mengenai flu burung telah banyak dilakukan para ilmuwan
demi tujuan menemukan vaksin atau obat yang tepat untuk mencegah penyebaran
virus ini. Sejak tahun 2008 telah dibentuk lembaga kontrol flu burung di berbagai
belahan dunia yang bertugas mengawasi dan mengendalikan kesehatan unggas
terutama pada peternakan-peternakan besar. Lembaga tersebut menetapkan

beberapa peraturan mengenai penanganan unggas seperti kewajiban menggunakan


baju pelindung, masker dan sarung tangan ketika menangani hewan ternak dan
pemberian vaksin pada anak unggas yang baru lahir. Flu burung telah menyebabkan
kerugian pada usaha peternakan unggas dan menurunkan konsumsi masyarakat
Virus merupakan jenis makhluk hidup peralihan dari benda hidup dan benda mati.
Tubuh virus hanya terdiri dari asam nukleat yang mengandung substansi genetik
(DNA dan RNA) serta diselubungi oleh protein yang dapat dikristalkan. Salah satu
fungsi dari substansi yang terdapat pada virus yaitu untuk bereproduksi. Virus dapat
menginfeksi manusia, hewan bahkan bisa menginfeksi tumbuhan. Virus ini
mempunyai berbagai jenis, diantara jenis-jenis virus yang paling sering menginfeksi
manusia yaitu virus flu.
Virus flu bisa dibedakan menjadi dua kategori, diantaranya yaitu virus flu
burung dengan virus influenza. Kedua jenis virus flu ini merupakan virus- virus
yang berasal dari mutasi satu jenis virus, yaitu virus influenza A. Virus ini
mempunyai tingkat mutasi yang sangat tinggi, sehingga mampu menciptakan
variasi-variasi virus yang berbeda.
Jika ditinjau dari segi materi penyusun tubuhnya, maka virus influenza dengan virus
flu burung ini mempunyai banyak persamaan. Persamaan itu terletak pada
komposisi genetik yang menyusun inti tubuhnya. Hampir semua substansi genetik
yang terkandung dalam tubuh virus terdiri dari golongan basa ribosa (RNA).
Meskipun kedua virus ini berasal dari mutasi virus yang sama, tetapi virus flu
burung dengan virus influenza tetap saja memiliki perbedaan. Terutama dari segi
hospes yang diinfeksi. Virus influenza akan cenderung menginfeksi manusia
daripada hewan. Serum yang dimiliki oleh virus influenza itu lebih mampu
mengadaptasikan diri dengan antibodi yang dimiliki tubuh manusia daripada
dengan antibodi hewan.
Jika antibodi pada manusia sedang melemah, maka virus ini akan mudah
menyerang manusia. Sedangkan virus flu burung cenderung menginfeksi unggas
misalnya ayam dan burung. Infeksi yang disebabkan oleh virus flu burung terhadap

unggas ini dapat ditularkan kepada manusia. Penularan dapat terjadi apabila terjadi
kontak langsung antara unggas yang terinfeksi oleh flu burung dengan manusia,
terutama apabila terkontaminasi langsung dengan lendir atau kotoran yang
dikeluarkan oleh unggas.
Infeksi yang ditimbulkan oleh infeksi virus flu burung dengan virus influenza
ternyata memiliki perbedaan tersendiri jika dilihat dari segi gejala yang dialami oleh
penderita. Pada penderita flu burung biasanya mengalami demam tinggi hingga
memcapai lebih dari 380C. Demam ini terjadi pada saat virus flu burung yang
menginfeksi manusia sedang mengalami masa inkubasi atau penyesuaian dengan
antibodi panderita. Demam ini biasanya diikuti dengan pusing kepala, nyeri otot,
rasa sakit pada mata, bahkan bisa juga terjadi sesak napas.
Jika dibandingkan dengan pengaruh dari infeksi yang disebabkan oleh virus flu
biasa (virus influenza), maka penderita flu burung ini lebih mengkhawatirkan.
Bahwasannya banyak sekali penduduk dunia yang meninggal karena pengaruh
infeksi virus flu burung, khususnya di negara-negara Asia Tenggara. Pada dasarnya
dampak yang disebabkan oleh infeksi virus influenza ini tidak begitu serius.
Mungkin infeksi yang terjadi hanya disertai dengan timbulnya penyakit flu, demam,
dan sedikit pusing. Masa inkubasi virus influenza di tubuh manusia hanya berkisar
satu minggu saja.
Penanganan Flu Burung pada Ternak
Jika anda mendapati bahwa unggas ternak anda terjangkit flu burung, maka ada
serangkaian tindakan yang merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan terutama
setelah anda melapor pada Dinas Kesehatan. Tindakan yang berjumlah 9 langkah
itu adalah :

Meningkatkan keamanan biosekuriti


Melakukan vaksinasi terhadap unggas
Melakukan depopulasi atau pemusnahan terbatas di daerah yang tertular
Mengendalikan lalu lintas keluar masuk unggas dan menghalangi
masuknya unggas liar

Melakukan pengamatan dan penelurusan kembali bagaimana unggas bisa


terkena flu burung
Mengisi kandang kembali
Memusnahkan keseluruhan unggas di daerah yang baru tertular
Meningkatkan kesadaran masyarakat atas bahayanya virus flu burung
Melakukan monitor dan evaluasi

Untuk melindungi ternak unggas anda supaya tidak terjangkit wabah flu burung,
anda harus :

Menjaga ternak supaya dalam kondisi baik, dengan menyediakan akses


air bersih dan makanan yang memadai, kandang yang memadai, dan
memberi ternak produk bebas cacing yang sudah diberi vaksin
Menjaga ternak supaya tetap berada dalam lingkungan yang terlindung
Memeriksa barang-barang yang masuk ke dalam peternakan
Ketika flu burung sudah merebak, maka yang harus anda lakukan untuk
melindungi peternakan anda adalah :
Memelihara ternak di tempat yang terlindungi
Tidak membeli atau menerima hewan lagi di peternakan
Membatasi dan mengendalikan orang yang masuk ke peternakan
Bersihkan pekarangan, kandang, semua peralatan, sepeda motor dan
barang-barang yang ada dikandang secara berkala
Jauhkan pupuk kandang dari kolam dan sumur

Dampak dalam bidang sosial ekonomi budaya dan keamanan


Meski pengaruh flu burung terhadap manusia tidak sedahsyat wabah sindrom
pernafasan sangat akut (SARS) di tahun 2003, namun jika dilihat dari dampak
buruk yang ditimbulkannya mirip dengan isu SARS. Betapa tidak, selain penyakit
ini cepat menyebar ke negara-negara dan benua (khususnya Amerika Serikat),
penyebarannya begitu cepat, jauh lebih cepat dari perkiraan. Akibatnya, orang tidak
hanya takut bepergian, tapi juga menjadi ragu-ragu untuk melangkah ke tempattempat umum. Fenomena masyarakat bepergian, traveller society, mobilisasi

manusia dan barang, arus pergerakan lintas negara, kawasan dan benua menjadi
terganggu. Korban tewas sebagai akibat flu burung di Asia mencapai 22 orang. 14
orang di Vietnam dan 8 orang di Thailand.
Upaya dari pemerintah berbagai negara untuk mengeluarkan penghentian impor
unggas dari berbagai negara yang terkait dengan perjanjian dagang antar negara
yang terjangkit flu burung menyebabkan menurunnya jumlah ekspor-impor unggas,
khususnya ayam, yang berdampak pada menurunnya pendapatan berbagai
perusahaan peternak ayam, restoran dan sebagainya. Dapat diperkirakan akibat
adanya flu burung ini beban perekonomian domestik di banyak negara ikut
terganggu, belum lagi harus ditambah dengan tuntutan untuk mengeluarkan biaya
yang tidak sedikit guna membangun sarana dan prasarana kesehatan yang memadai
dalam penanggulangan bahaya dari flu burung.
Ancaman langsung bagi kesehatan dan ekonomi sebagai akibat dari penyakit flu
burung bahkan telah merambah sedikitnya pada aspek politik dan keamanan. Di
bidang politik domestik, isu flu burung telah mengundang kontroversi di berbagai
negara di Asia. Di Indonesia misalnya, pemerintah dianggap tidak memberi
informasi yang cukup dan terbuka tentang isu ini. Akibatnya, sebagian besar
masyarakat Indonesia masih cemas terhadap penggunaan daging ayam. Sementara
di pihak lain pemerintah melalui lembaga-lembaga tertentu melakukan aksi
kampanye makan ayam dengan tujuan menepis kekhawatiran bahwa makan telur
dan ayam berbahaya karena berjangkitnya wabah virus flu burung di Indonesia
sejak Oktober 2003.
Sementara di bidang keamanan, isu penyakit flu burung ini memicu kekerasan
rasisme di Perth, Australia bagian Barat. Pada tanggal 1 Februari 2004 lalu tiga
restoran Cina dibakar yang menyebabkan kerugian US$ 42.000. Kekerasan rasisme
itu sendiri mengundang Jaksa Agung Australia Barat Jim McGinty untuk
berkomentar bahwa reputasi negara bagian itu semakin memburuk di kalangan
komunitas Asia. Bahkan munculnya poster-poster bermotifkan rasisme di kota dan
lokasi lainnya di metropolitan Perth, berniat untuk mempromosikan cara-cara Nazi
yang hanya memicu kekerasan rasial.

ANTIVIRUS UNTUK INFLUENZA


Pengobatan untuk infekksi antivirus pada saluran pernapasan termasuk influenza
tipe A & B, virus sinsitial pernapasan (RSV).
A. Amantadin dan Rimantadin
Amantadin & rimantadin memiliki mekanisme kerja yang sama. Efikasi keduanya
terbatas hanya pada influenza A saja.
1. Mekanisme kerja : Amanatadin dan rimantadin merupakan antivirus yang bekerja
pada protein M2 virus, suatu kanal ion transmembran yang diaktivasi oleh pH.
Kanal M2 merupakan pintu masuk ion ke virion selama proses uncoating. Hal ini
menyebabkan destabilisasi ikatan protein serta proses transport DNA virus ke
nucleus. Selain itu, fluks kanal ion M2 mengatur pH kompartemen intraseluler,
terutama aparatus Golgi.
2. Resistensi : Influenza A yang resisten terhadap amantadin dan rimantidin belum
merupakan masalah klinik, meskipun beberapa isolate virus telah menunjukkan
tingginya angka terjadinya resistensi tersebut. Resistensi ini disebabkan perubahan
satu asam amino dari matriks protein M2, resistensi silang terjadi antara kedua
obat.
3. Indikasi : Pencegahan dan terapi awal infeksi virus influenza A ( Amantadin juga
diindikasi untuk terapi penyakit Parkinson ).
4. Farmakokinetik : Kedua obat mudah diabsorbsi oral. Amantadin tersebar ke
seluruh tubuh dab mudah menembus ke SSP. Rimantadin tidak dapat melintasi
sawar darah-otak sejumlah yang sama. Amantadin tidak dimetabolisme secara luas.
Dikeluarkan melalui urine dan dapat menumpuk sampai batas toksik pada pasien
gagal ginjal. Rimantadin dimetabolisme seluruhnya oleh hati. Metabolit dan obat
asli dikeluarkan oleh ginjal.

5. Dosis : Amantadin dan rimantadin tersedia dalam bentuk tablet dan sirup untuk
penggunaan oral. Amantadin diberikan dalam dosis 200 mg per hari ( 2 x 100 mg
kapsul ). Rimantadin diberikan dalam dosis 300 mg per hari ( 2 x sehari 150 mg
tablet ). Dosis amantadin harus diturunkan pada pasien dengan insufisiensi renal,
namun rimantadin hanya perlu diturunkan pada pasien dengan klirens kreatinin 10
ml/menit.
6. Efek samping : Efek samping SSP seperti kegelisahan, kesulitan berkonsentrasi,
insomnia, hilang nafsu makan. Rimantadin menyebabkan reaksi SSP lebih sedikit
karena tidak banyak melintasi sawar otak darah. Efek neurotoksik amantadin
meningkat jika diberikan bersamaan dengan antihistamin dan obat
antikolinergik/psikotropik, terutama pada usia lamjut.

pada penglepasan virus pada sel yang terinfeksi.


3. Indikasi : Terapi dan pencegahan infeksi virus influenza A dan B.
4. Dosis : Zanamivir diberikan per inhalasi dengan dosis 20 mg per hari ( 2 x 5 mg,
setiap 12 jam )selama 5 hari. Oseltamivir diberikan per oral dengan dosis 150 mg
per hari ( 2 x 75 mg kapsul, setiap 12 jam ) selama 15 hari. Terapi dengan
zanamivir /oseltamivir dapat diberikan seawal mungkin, dalam waktu 48 jam,
setelah onset gejala.
5. Efek samping : Terapi zanamivir : gejala saluran nafas dan gejala saluran cerna.,
dapat menimbulkan batuk, bronkospasme dan penurunan fungsi paru reversibel
pada beberapa pasien. Terapi oseltamivir : mual, muntah, nyeri abdomen , sakit
kepala.

B. Inhibitor Neuraminidase ( Oseltamivir, Zanamivir )


C. Ribavirin
Merupakan obat amtivirus dengan mekanisme kerja yang sam terhadap virus
influenza A dan B. Keduanya merupakan inhibitor neuraminidase; yaitu analog
asam N-asetilneuraminat ( reseptor permukaan sel virus influenza ), dan disain
struktur keduanya didasarkan pada struktur neuraminidase virion.
1. Mekanisme kerja : Asam N-asetilneuraminat merupakan komponen mukoprotein
pada sekresi respirasi, virus berikatan pada mucus, namun yang menyebabkan
penetrasi virus ke permukaan sel adalah aktivitas enzim neuraminidase. Hambatan
terhadap neuraminidase mencegah terjadinya infeksi. Neuraminidase juga untuk
penglepasan virus yang optimaldari sel yang terinfeksi, yang meningkatkan
penyebaran virus dan intensitas infeksi. Hambatan neuraminidase menurunkan
kemungkinan berkembangnya influenza dan menurunkan tingkat keparahan, jika
penyakitnya berkembang.
2. Resistensi : Disebabkan adanya hambatan ikatan pada obat dan pada hambatan
aktivitas enzim neuraminidase. Dapat juga disebabkan oleh penurunan afinitas
ikatan reseptor hemagglutinin sehingga aktivitas neuraminidase tidak memiliki efek

Ribavirin merupakan analog sintetik guanosin, efektif terhadap virus RNA dan
DNA.
1. Mekanisme kerja : Ribavirin merupakan analog guanosin yang cincin purinnya
tidak lengkap. Setelah mengalami fosforilasi intrasel , ribavirin trifosfat
mengganggu tahap awal transkripsi virus, seperti proses capping dan elongasi
mRNA serta menghambat sintesis ribonukleoprotein.
2. Resistensi : Hingga saat ini belum ada catatan mengenai resistensi terhadap
ribavirin, namun pada percobaan diLaboratorium menggunakan sel, terdapat sel-sel
yang tidak dapat mengubah ribavirin menjadi bentuk aktifnya.
3. Spektrum aktivitas : Virus DNA dan RNA, khusunya orthomyxovirus ( influenza
A dan B ), para myxovirus ( cacar air, respiratory syncytialvirus (RSV) dan
arenavirus ( Lassa, Junin,dll ).

4. Indikasi : Terapi infeksi RSV pada bayi dengan resiko tinggi. Ribavirin
digunakan dalam kombinasi dengan interferon-/ pegylated interferon untuk
terapi infeksi hepatitis C.
5. Farmakokinetik : Ribavirin rfektif diberikan per oral dan intravena. Terakhir
digunakan sebagai aerosol untuk kondisi infeksivirus pernapasan tertemtu, seperti
pengobatan infeksi RSV. Penelitian distribusi obat pada primate menunjukkan
retensi dalam semua jaringan otak. Obat dan metabolitnya dikeluarkan dalam urine.
6. Dosis : Per oral dalam dosis 800-1200 mg per hari untuk terapi infeksi HCV/
dalam bentuk aerosol ( larutan 20 mg/ml ).
7. Efek samping : Pada penggunaan oral / suntikan ribavirin termasuk anemia
tergantung dosis pada penderita demam Lassa. Peningkatan bilirubin juga telah
dilaporkan Aerosol dapat lebih aman meskipun fungsi pernapasan pada bayi dapat
memburuk cepat setelah permulaan pengobatan aerosoldan karena itu monitoring
sangat perlu. Karena terdapat efek teratogenikpada hewan percobaan, ribavirin
dikontraindikasikan pada kehamilan.