Anda di halaman 1dari 13

Di Balik Kemegahan Bali Mandara

HL | 26 May 2014 | 22:02

Dibaca: 1415

Komentar: 51

23

Bali, negeri para dewa. Magnet wisata andalan yang sudah mendunia. Terkenal karena keelokan
alam dan kentalnya tradisi yang tak tergoyahkan jaman. Tak heran, ratusan bahkan ribuan
wisatawan domestik dan mancanegara tiap hari menjelajah sudut-sudut Pulau Bali. Akhirnya,
Pulau Bali terutama jalan-jalan di Bali Selatan macet. Parah!
Untuk mengurai kemacetan di Bali Selatan bukan perkara mudah. Banyak hal yang menjadi
kendala. Ketersediaan lahan di daratan demikian terbatas. Kadang pula membangun infrastruktur
harus mempertimbangkan kearifan lokal yang harus terjaga. Maka, pemerintah dalam hal ini
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) , Kementerian BUMN dan Pemerintah Provinsi Bali serta
Kabupaten Badung telah melakukan terobosan yang hebat dan luar biasa. Membangun
Underpass dan mahakarya jalan tol di atas laut. Untuk melihat mahakarya itu, saya pun
menyempatkan mencicipi Underpass dan melintas di Tol Bali. Maka hari itu bersama Mas
Darmaji dan Mas Edy yang hafal jalan-jalan di Bali, selepas mengunjungi Tanah Lot, saya pun
meluncur menuju Tol Bali. Sebelum memasuki tol, ternyata harus ketemu dulu dengan
Underpass Dewa Ruci.

Underpass Simpang Dewa Ruci


Salah satu titik kemacetan terparah di Bali adalah di Simpang Dewa Ruci. Disebut Simpang
Dewa Ruci karena di tengah persimpangan ini berdiri kokoh patung Dewa Ruci. Di titik ini
sering terjadi penumpukan kendaraan yang keluar masuk ke objek wisata pantai Kuta. Untuk
mengatasi kemacetan itu, pemerintah Bali membangun Underpass menghubungkan jalur dari
Bandara Ngurah Rai menuju Sunset Road, dan sebaliknya. Masing-masing dibuat dua jalur.

Dewa Ruci

Underpass Dewa Ruci sedang dikerjakan (dokpub.pu.go.id/puskompu)

Underpass Simpang Dewa Ruci yang menelan anggaran Rp. 148,3 milyar lebih benar-benar
berfungsi optimal. Keruwetan dan kemacetan yang biasanya terjadi sudah tidak terlihat lagi. Saat
saya melewati Underpass ini menuju Sunset Road, nampak motor dan mobil demikian nyaman
melenggang di kawasan ini. Hebatnya, para perancang Underpass ini benar-benar sangat
menjaga nilai-nilai tradisi dan kepercayaan masyarakat Bali. Patung Dewa Ruci tetap in situ.
Tidak bergeser sedikitpun walaupun disekitarnya diadakan rekayasa jalan raya yang cukup rumit.
Triangle Connection
Keluar dari Underpass Dewa Ruci, Mas Edy yang sudah 5 tahun tinggal di Bali dan bekerja di
BPC Hotel, menunjukkan jalur ke arah jalan tol Bali. Jalan tol ini sebenarnya lebih tepat disebut
sebagai jembatan di atas laut. Panjangnya 12,7 kilometer. Sekitar 10 kilometer ada di atas laut.
Ini adalah tol di atas laut pertama yang ada di Indonesia. Sekaligus merupakan mahakarya anak
bangsa yang sangat luar biasa dan menjadi tonggak sejarah dalam pembangunan infrastruktur
jalan raya di Indonesia. Konon, konstruksi yang serupa dengan jalan tol Bali ini bisa dijumpai di
Malaysia (Penang Bridge panjangnya 12,9 Km) dan di Kanada (Union Bridge panjangnya 13,5
Km). Kelebihan lainnya, Tol Bali ini juga menyediakan jalur khusus pengendara sepeda motor.

Jalan Tol Bali, dibangun untuk menghubungkan segitiga emas (Triangle Connection) Bali.
Yakni Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa dan kawasan wisata Nusa Dua. Selama ini jalur
menuju Nusa Dua tumplek blek di By Pass I Gusti Ngurah Rai. Akibatnya jalan pun overload.
Maka, kemacetan terjadi dimana-mana. Solusinya, jika segitiga emas itu terhubung maka arus
wisatawan dari Bandara Ngurah Rai menuju sudut-sudut Bali akan lebih lancar. Kegiatan
distribusi dan mobiltas barang keluar dan masuk Bali di pelabuhan Benoa juga makin dinamis.
Sekaligus diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi masyarakat
sekitarnya. Begitu pula dengan kawasan wisata Nusa Dua akan lebih nyaman sebagai destinasi
wisata di Bali Selatan. Sekaligus tempat yang ideal untuk menghelat kegiatan-kegiatan
pariwisata maupun kegiatan pemerintahan yang bersifat nasional dan internasional.
Green, Strong & Beautiful
Sesaat setelah masuk Jalan Tol Bali, saya melihat bahwa megaproyek ini benar-benar luar biasa.
Sungguh membanggakan dan seakan tidak dapat dipercaya jika desain dan konstruksi jalan tol
ini 100 persen adalah karya putra terbaik bangsa. Ini membuktikan dibidang pembangunan jalan
dan jembatan di atas laut, Indonesia sangat mumpuni.

Mangrove di sekitar Tol Bali

Tol Bali menghubungkan Segitiga Emas (www.topholidaysbali.com)


Jalan Tol Bali, dibangun oleh konsorsium 7 BUMN dibawah koordinasi PT Jasa Marga Bali Tol.
Konsep yang diusung adalah Green, Strong & Beautiful. Konsep Green, setidaknya keberadaan
jalan Tol Bali ini diharapkan tetap ramah lingkungan. Maka tak kurang dari 16 ribu bibit
mangrove telah ditanam kembali di sekitar jalan tol. Diharapkan, suatu saat di kanan kiri jalan tol
akan tampak ijo royo-royo. Strong, kualitas pekerjaan harus dinomor satukan. Bahan-bahan yang
digunakan harus teruji dan awet umurnya. Beautiful, tol Bali selain jadi ikon konstruksi yang
hebat harus tampil pula sebagai ikon pariwisata yang elok dimata dunia. Tidak sekedar jembatan
beton yang gersang.
Demi kualitas, jalan tol Bali melibatkan kontraktor handal di tanah air. Untuk mempercepat
proses, maka paket pengerjaan jalan tol Bali dibagi 4 paket. Adi Karya mengerjakan paket I.
Waskita Karya mengerjakan paket II dan IV. Hutama Karya kebagian paket III. Masing-masing
paket pekerjaan dilakukan secara paralel dan simultan. Totalnya menyerap dana sekitar 2,5
triliun. Masing-masing kontraktor mensurvey, merencanakan desain dan teknis serta membangun
sendiri-sendiri sesuai dengan kontrak Desain & Built. Tak kurang dari 3000 pekerja terlibat
dalam megaproyek ini! Dan untuk menjaga kualitas (strong), kontraktor diawasi oleh Konsultan
Quality Assurance yang selalu mengawasi dan mengaudit hasil pekerjaan serta melakukan tes-tes
yang berhubungan dengan hasil pekerjaan teknis.
Mengingat jalan tol ini dibangun di atas laut, maka banyak hal yang harus dipertimbangan.
Terutama kualitas tiang pancang, pengiriman bahan, kedalaman laut dan gangguan cuaca. Sifat
air laut yang sangat korosi sangat diperhatikan oleh para pembangun jalan tol ini karena akan
sangat berpengaruh pada sekitar 14 ribu tiang pancang yang akan dibenamkan kedalam tanah di

dalam laut. Panjang tiang pancang rata-rata 12 meter. Sedangkan kedalaman laut bervariasi
antara 5-30 meter. Maka untuk bagian laut yang dalam, tiang pancangnya harus disambung.
Bagian sambungan digunakan baja. Sambungan ini kemudian dilas agar menyatu. Untuk
mencegah korosi, khusus sambungan dilapisi bahan anti karat yakni: Petro Paste, Petro Tape
dan HDPE (High Density Polyethylene) sebuah polimer minyak bumi yang bersifat anti karat.
Selain dikonsep hijau dan kuat, unsur artistik dan keindahan nuansa Bali harus muncul dalam
pembangunan jalan tol ini. Bangunan Bali harus berunsur Kepala, Badan dan Kaki (seperti
konstruksi sebuah bangunan candi). Maka, para arsitek Bali pun dilibatkan untuk mendesain
Gerbang Tol Bali. Hasilnya berupa gerbang tol yang sangat eksotik. Modern namun tetap
bernuansa Bali. Untuk menunjang pengoperasian dilengkapi pula dengan electronic payment,
CCTV serta pengukur kecepatan angin. Ini sangat berguna terutama untuk keselamatan
pengendara sepeda motor. Jika angin terlalu kencang, maka jalur sepeda motor pun ditutup
sementara. Sungguh, jalan tol Bali sangat berbeda dengan tol lainnya di Indonesia. Saya cukup
merogoh kocek 10 ribu rupiah untuk melintas di Jalan Tol Bali yang mulus dan indah ini!

Bali Mandara
Setelah bekerja selama 14 bulan, siang malam akhirnya jalan tol Bali pun selesai. Sebelum
diresmikan, maka Jalan Tol Bali yang merupakan pekerjaan konstruksi tercepat, terkuat dan
terindah yang pernah dibuat oleh putra terbaik bangsa ini harus diberi tetenger. Muncul banyak
nama untuk jalan tol Bali. Ada nama I Wayan Lotring (mahaguru tari dan tabuh Bali), I Gusti
Ngurah Rai, I Gusti Patih Jelantik, I Gusti Nyoman Lempad (pelukis tersohor Bali abad 20)
bahkan Soekarno-Hatta. Namun akhirnya, satu nama yakni Bali Mandara (Maju, Aman,
Damai dan Sejahtera) jadi pilihan. Maka, Senin, 23 September 2013, Jalan Tol Nusa Dua,
Ngurah Rai dan Benoa pun diresmikan.
Siang itu selepas melintas sebentar di Jalan Tol Bali, saya merasakan bahwa sebuah pekerjaan
besar sudah ditunaikan oleh putra terbaik bangsa. Secara khusus saya pernah mendengar celoteh
Dahlan Iskan, Menteri BUMN yang gesit dan pakar jurnalistik ini. Proyek Bali Mandara bisa
berjalan mulus karena proyek ini tidak hanya dibahas di seminar dan rapat. Tapi action dan
dukungan seluruh stake holder-lah (terutama Kementerian PU dan Kementerian BUMN) yang
menjadikan megaproyek ini bisa segera dituntaskan. Termasuk peran strategis pemerintah dan
pemimpin daerah yang antusias agar pekerjaannya bisa dilaksanakan dan segera diselesaikan.
Selamat untuk putra terbaik bangsa yang telah mampu mengangkat jatidiri dan kompetensi

bangsa ini di mata dunia. Impian bangsa kita untuk menguasai teknologi kontruksi dan
rekayasa utamanya dalam pembangunan jalan tol di atas laut akhirnya menjadi kenyataan

Referensi