Anda di halaman 1dari 4

Mikrobiologi Air

Mikroorganisme dalam air sangatlah berbeda. Jumlah dan tipe bakteri yang ada bergantung
kepada jumlah bahan organik yang ada di dalam air, adanya zat racun, kadar garam air, dan
faktor lingkungan seperti pH, suhu, dan udara. Mikroorganisme heterotrofik ada di dasar sungai
dan danau dimana zat organik mendominasi sedangkan air yang terbuka atau berada di
permukaan akan memiliki bakteri autrotrof dengan banyak tipe. Dengan adanya bakteri di dalam
air, penyakit seperti kolera dapat menjadi penyakit yang sering menyerang saat kualitas air tidak
diperhatikan atau ditangani.
Sebenarnya, air dengan bakteri aman untuk diminum tergantung dari jenis mikroba apa yang
terdapat di dalamnya. Air dari mata air dan danau yang mengandung banyak bakteri autotrof dan
heterotrof dapat diminum selama tidak patogen terhadap manusia. Meski begitu perhatian masih
mengarah kepada mikroba yang patogen. Contohnya yang menyerang usus seperti penyebab
disentri dan kolera. Penularan yang diakibatkan oleh sisa-sisa metabolisme manusia menjadi
faktor lain penyebaran mikroba patogen sehingga pemeriksaan kualitas air yang konstan
diperlukan untuk menjaga kemurnian air agar aman dikonsumsi.
Mikroorganisme dalam air dapat diketahui keberadaannya melalui bakteri-bakteri yang menjadi
indicator keberadaannya. Indikator yang umum diketahui adalah Escherichia coli yang
diklasifikasikan sebagai bakteri Coliform. Bakteri coliform merupakan bakteri aerob dan anaerob
fakultatif, Gram negative, tidak membentuk spora, dan memiliki kemampuan untuk
memfermentasi laktosa dengan tanda gas dan asam pada suhu 35 C selama 24-48 jam.
Coliform dapat ditemukan dalam saluran pencernaan makhluk hidup atau secara alami pada
lingkungan. Adanya bakteri jenis ini di dalam air memperbesar kemungkinan adanya bakteri
yang berbahaya bagi kesehatan. Dalam kondisi normal, jumlah coliform juga normal dan masih
dapat diukur. Namun apabila jumlahnya berlebih, dapat dikatakan bahwa air tersebut tercemar
dan dapat melebihi jumlah bakteri patogen lainnya. Karena sifat bertambah banyak ini, coliform
dijadikan indicator pencemaran air. Ada dua grup bakteri coliform yaitu coliform fekal yang diisi
oleh Escherischia coli dan bakteri Enterobacter aerogenes yang masuk dalam bakteri coliform
non fekal.
Air yang digunakan dalam keperluan farmasi tidak boleh mengandung mikroba dan air yang
digunakan untuk sediaan parenteral harus bebas dari pirogen. Air untuk keperluan farmasi dapat
dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
1. Potable water/drinking water (air minum)
Air ini adalah air yang dapat dikonsumsi secara aman oleh manusia. Umumnya berasal
dari sungai, sumur, mata air, danau, atau laut.
2. Purified water
Air murni diperoleh dari air minum yang telah melalui proses ultrafiltrasi, deionisasi,
ataupun reverse osmosis. Air ini harus memenuhi ketentuan dalam Farmakope terhadap
kandungan kimia air dan terlindung dari segala aktivitas mikroba.
3. High purified water (HPW)

Hampir sama dengan purified water. Hanya saja air jenis ini harus memenuhi kriteria air
untuk injeksi termasuk dalam jumlah endotoksin. Air ini diproduksi dari air minum biasa
yang melalui proses kombinasi dari ultrafiltrasi, deionisasi, dan reverse osmosis.
4. Water for injection (WFI)
Air ini digunakan untuk sediaan parenteral dan bukan merupakan produk steril atau
produk jadi melainkan produk antara yang diperoleh dari air minum yang diolah dengan
sistem destilasi.
Ketentuan kemurnian air dari berbagai standar adalah sebagai berikut,

Tahun 2002, Departemen Kesehatan RI menetapkan kriteria kualitas air secara


mikrobiologis melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 tahun 2002 dan diperbaiki
melalui Peraturan Menteri Kesehatan 492/Menkes/Per/IV/2010. Dalam peraturan tersebut
dituliskan bahwa air minum tidak diperkenankan mengandung bakteri coliform dan
Escherischia coli.
Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3553-2006 menyatakan bahwa air minum
kemasan tidak boleh mengandung bakteri pathogen yaitu Pesudomonas aeruginosa, dan
Salmonella. Selain itu cemaran mikrobanya tidak boleh lebih besar dari 100 koloni/ml.
USP 28 untuk Purified Water (PW) memiliki persyaratan mikrobiologi air adalah 100
CFU/ml dan untuk Water for Injection (WFI) sebesar 10 CFU/ml serta batas cemaran
endotoxin 0,25 EU/ml.

Untuk menjamin kemurnian air yang ada di dalam kehidupan sehari-hari maupun yang dipakai
untuk keperluan farmasi, dapat dilakukan serangkai tes terhadap sampel. Ada tiga tahap uji yang
dapat dilakukan yaitu Uji Penduga (Presumptive Test), Uji Penguat (Confirmed Test), Uji
Lengkap (Complete Test), Uji pewarnaan Gram untuk mengetahui morfologi sel, dan Uji IMViC.
a. Uji Penduga (Presumptive Test)
Uji ini dimaksudkan untuk mendeteksi mikroba yang dapat menghasilkan hasil
fermentasi laktosa yaitu asam dan gas. Mikroba dengan ciri seperti itu diduga sebagai
salah satu jenis bakteri coliform. Mikroba coliform mampu menggunakan laktosa sebagai
sumber karbon sehingga terjadilah proses fermentasi yang menghasilkan asam maupun
gas. Asam dapat dilihat dari kekeruhan media penanaman sedangkan gas dapat dilihat
dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Hasil tes penduga dinyatakan positif
apabila terjadi kekeruhan dalam media dan adanya gas sebanyak 10% atau lebih dari
volume di dalam tabung Durham. Banyaknya jumlah bakteri dapat diketahui dengan
menghitung tabung yang reaksinya positif (terdapat asam dan gas) lalu dibandingkan
dengan tabel MPN.

b. Uji Penguat (Confirmed Test)

Setelah uji penduga menampakan reaksi positif, dapat dilakukanlah uji penguat yang
bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai mikroba yang terdapat di dalam sampel.
Uji penguat dilakukan dengan mengkulturkan hasil positif dari uji penduga ke media lain
yaitu Brilliant Green Lactose Bile (BGLB) broth sebagai media diferensial dan selektif.
Bakteri Gram positif selain coliform dapat dihambat pertumbuhannya jika berada di
dalam BGLB karena BGLB mengandung asam empedu. Selain itu dapat digunakan juga
Levine EMB atau Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). EMBA mengandung indikator
metilen blue yang menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif. Hasil positif apabila
ada warna hitam dan hijau kilat metalik dari lingkungan asam yang membuat indikator
membentuk senyawa kompleks, lalu dipresipitasikan ke luar sel kelompok coliform dan
merupakan karakteristik khas dari E.coli. Kelompok lainnya bisa dilihat dari warna
koloni merah muda atau merah muda dengan lendir. Jumlah cawan EMBA yang
menunjukan adanya pertumbuhan coliform jenis apapun dihitung, dan dibandingkan
dengan tabel MPN.
c. Uji Lengkap (Complete Test)
Pengujian ini merupakan uji untuk menentukan golongan bakteri coliform dengan cara
menginokulasikan koloni positif hasil dari uji penguat dalam media Nutrient Agar miring
untuk melihat asam dan Lactosa Broth untuk memeriksa gas. Inkubasi pada suhu 37 C
selama 24 jam. Bila ternyata terdapat gas dan asam maka sampel air tersebut positif
mengandung E.coli. Untuk menentukan golongannya, maka inkubasinya dibagi menjadi
dua bagian. Satu pada suhu 37 C dan yang satunya pada suhu 42 C. Karakteristik
coliform non fekal yang tidak dapat tumbuh baik pada suhu 42 C membuat bakteri
coliform fekal dapat dikenali. Untuk melihat secara jelas bakteri yang ada beserta sifatsifatnya, kultur yang sudah diinokulasikan dapat dipakai untuk uji pewarnaan Gram atau
uji IMViC.
d. Uji IMViC
IMViC merupakan singkatan dari Indol, Metil merah, Voges-Proskauer, dan C untuk
Citrate utilization atau uji penggunaan sitrat.
1. Uji Indol
Indol merupakan senyawa yang diproduksi dari Tryptone. Dengan menginokulasikan
kultur ke dalam media Tryptone broth dan dinkubasi pada 35 C selama 24 2 jam
serta penambahan reager Kovacs, maka akan terlihat karakteristik dari mikroba.
Apabila terbentuk cincin merah pada bagian atas tabung, maka bakteri dapat
menghasilkan indol positif. Sedangkan apabila terbentuk cincin kuning maka bakteri
tersebut menghasilkan indol negatif. E.coli dapat memproduksi indol sehingga
hasilnya positif. Bacillus subtilis dapat digunakan sebagai control negatif untuk
mempermudah perbandingan hasil tes.

2. Uji Methyl Red


Produksi asam dari glukosa dengan Methyl Red sebagai indikator penurunan pH dapat
membedakan bakteri yang terdapat di dalam sampel air. Kultur dugaan
diinokulasikan dalam MR-VP Broth dan diinkubasi selama 48 2 jam pada suhu 35
C. Setelah itu 5 tetes metal merah ditambahkan ke dalam tabung. E.coli memberikan
hasil yang positif.
3. Uji Voges-Proskauer
Uji ini dapat mengklasifikasi bakteri yang mampu memproduksi acetylmethylcarbinol atau tidak. Senyawa ini dikenali dengan penambahan potassium hidroksida
sebagai pembentuk diasetil. Diasetil akan beraksi dengan pepton sehingga terbentuk
warna merah. Kultur diinokulasikan dalam MR-VP broth dan diinkubasi selama 48
2 ja. Setelah 24 pindahkan 1 ml ke tabung kosong dan tambahkan 0,6 ml larutan naphtol dan 0,2 ml KOH 40% serta tambahkan juga kristal creatine. Kocok dan
biarkan selama 2 jam. Uji dinyatakan positif apabila warna berubah menjadi merah.
E.coli dinyatakan ada jika tidak ada perubahan warna atau hasilnya negatif.
Enterobacter dapat digunakan sebagai kontrol positif dan E.coli sebagai control
negatif.
4. Uji Penggunaan Sitrat
Bakteri yang mampu menggunakan sitrat sebagai sumber nutrisi akan terlihat dalam
uji ini. E.coli seharusnya tidak menunjukkan perubahan warna pada uji ini. Klebsiela
pneumonia dapat digunakan sebagai kontrol positif dan E.coli sebagai kontrol negatif.
Uji dapat dilakukan dengan menginokulasikan kultur dugaan ke media Simmon
Citrate (SC). Kultur lalu diinkubasikan selama 96 2 jam pada suhu 35 C. Reaksi
positif apabila ada perubahan warna menjadi biru.