Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk
terbanyak di dunia. Telah tercatat bahwa Indonesia menempati urutan ke empat dalam
hal penduduk terpadat di dunia.1 Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal pada 30 april 2014 menyampaikan salah
satu isu kependudukan yakni besarnya jumlah penduduk indonesia, diperkirakan
jumlahnya 240 juta jiwa dengan pertumbuhan 1,49% per tahun. 2 Dengan banyaknya
jumlah penduduk yang ada di Indonesia tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa di
Indonesia seringkali banyak timbul permsalahan didalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat. Permasalah yang timbul di Indonesia sangat lah beragam,

baik

permsalahan ekonomi, sosial, budaya maupun hukum. Permsalahan hukum di


Indonesia dapat dikategorikan sebagai suatu permasalahan yang lebih banyak ditemui
dibandingkan dengan permsalahan dibidang, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal
tersebut dikarenakan Indonesia merupakan negara hukum sebagaiaman telah diatur
didalam Pasal 1 ayat (3) UUD RI, yang berisi:
Negara Indonesia adalah negara hukum
Dengan daiturnya Indonesia sebagai negara hukum, maka segala tindakan
baik bernegara maupun bermayarakat akan selalu dihadapkan dengan berbagai
ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia atau dapat
1

Jumlah Penduduk Terpadat di Dunia, http://ilmupengetahuanumum.com/10negara-dengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/, diakses pada


tanggal 1 Desember 2014, Pukul: 19.37 WIB.
2
Jumlah Penduduk Indonesia, http://dbagus.com/jumlah-penduduk-indonesia2014, diakses pada tanggal 1 Desember 2014, Pukul 19.37 WIB.

dikatakan hukum positif yang terdapat di Indonesia. Oleh sebab itu, segala bentuk
permasalahan akan diselesaikan melalui ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia. Permasalahan tersebut salah satunya timbul atau berasal
dari bidang hukum perdata seperti perbuatan melawan hukum dan wanprestasi.
Perbuatan melawan hukum dan wanprestasi merupakan perbuatan yang
bertentangan dengan ketentuan yang terdapat didalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata merupakan salah satu peraturan perundang-undangan yang merupakan
produk hukum dari Belanda. Dengan adanya asas ordonansi, maka Indonesia
membuat peraturan tersebut, menjadi peraturan yang mengatur mengenai bidang
keperdataan di Indonesia. Pada hakekatnya, dalam menyelesaikan permasalahan
mengenai perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dapat dilakukan dengan cara
mengajukan gugatan ke pengadilan dimana tempat tergugat tinggal. Pengajuan
gugatan tersebut dilakukan apabila antara kedua belah pihak baik itu penggugat
maupun tergugat tidak berhasil melakukan musyawarah untuk menghasilkan suatu
mufakat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Pengajuan gugatan tersebut
merupakan salah satu upaya hukum yang terdapat dibidang hukum perdata dan telah
diatur didalam HIR maupun RBg.
Pada hakekatnya, HIR dan RBg pun juga merupakan produk hukum yang
dihasilkan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia, sehingga sangat berperan penting
dalam sistem hukum nasional yang ada di Indonesia yakni dalam hal tata cara
pelaksanaan pengajuan gugatan dibidang hukum perdata. Dengan kata lain, dengan
adanya HIR dan RBg ini, memberikan pengaruh positif terhadap sistem hukum
nasional menyangkut perubahan atas substansi hukum yang ada di Indonesia. Dimana
sebelumnya di Indonesia ketika merdeka tidak ada peraturan khusus mengenai tata
cara pengajuan gugatan ke pengadilan dan sekarang terdapat peraturan yang
mengatur mengenai hal tersebut.

Dalam suatu gugatan terdapat seseorang atau lebih yang merasa bahwa
haknya atau hak mereka dilanggar, akan tetapi, orang yang dirasa melanggar
haknya atau hak mereka itu, tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu yang
diminta itu.3 Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dikatakan subjek dalam
mengajukan gugatan adalah penggugat yakni seseorang atau lebih yang merasa
bahwa haknya atau hak mereka dilanggar dan tergugat yakni orang yang dirasa
melanggar haknya penggugat dan tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu yang
diminta oleh penggugat. Pada dasarnya, yang dapat digolongkan sebagai penggugat
adalah individu yang merasa dirinya dirugikan oleh perbuatan hukum orang lain
seperti perbuatan melawan hukum sebagaimana yang diatur didalam pasal 1365
KUHPerdata dan wanprestasi sebagaimana yang telah diatur didalam Pasal 1236,
1237, dan 1243 KUHPerdata.
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, tidak hanya individu dan
kuasa hukum nya yakni pengacara yang dapat melakukan gugatan ke pengadilan,
tetapi juga badan hukum dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi
sosial lainnya juga dapat mengajukan gugatan untuk mewakili seseorang. Tata cara
pengajuan gugatan tersebut dinamakan sebagai Legal Standing. Dengan terdapatnya
legal standing ini, yang merupakan salah satu sistem yang digunakan di negaranegara yang menganut sistem Anglo Saxon, merupakan salah satu perkembangan
yang terdapat di bidang hukum perdata. Perkembangan tersebut, terjadi ketika dalam
mengajukan suatu gugatan yang dapat mengajukannya adalah pihak-pihak yang
berkepntingan didalamnya, akan tetapi, dalam perkembangannya LSM atau
organisasi lainnya dapat melakukan gugatan untuk mewakili kepentingan publik atau
kepentingan badan hukum atau individu. Perkembangan tersebut selain memberikan
pengaruh terhadap hukum perdata dalam mengajukan gugatan, juga memberikan
pengaruh yang besar terhadap sistem hukum nasional, sehingga penulis tertarik untuk
membahas lebih lanjut dan mendalam mengenai Legal Standing dan hungannya
3

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata


Dalam Teori dan Praktek, CV Mandar Maju, Bandung, 2009, hlm. 10.

dengan sistem hukum nasional Indonesia. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk
membahas dan menulisnya dalam makalah yang berjudul: KEDUDUKAN LEGAL
STANDING DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL INDONESIA

B. Identifikasi Masalah
Dalam membahas mengenai pengaruh dari legal standing terhadap sistem
hukum nasional dan kedudukan dari legal standing itu sendiri dalam sistem hukum
nasional, maka akan timbul beberapa permasalahan, antara lain:
1. Bagaimana kedudukan legal standing (hak gugat organisasi) dalam sistem
hukum nasional?
2. Bagaimana pengaruh perkembangan legal standing (hak gugat organisasi)
terhadap sistem hukum nasional?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Kedudukan Legal Standing (hak gugat organisasi) dalam sistem hukum


nasional
Legal standing, Standing tu Sue, Ius Standi, Locus Standi dapat diartikan
sebagai hak seseorang, sekelompok orang atau organisasi untuk tampil di pengadilan
sebagai penggugat dalam proses gugatan perdata (Civil Proceding) disederhanakan
sebagai hak gugat. Secara konvensional hak gugat hanya bersumber pada prinsip
tiada gugatan tanpa kepentingan hukum (poit dinterest point daction).
Kepentingan hukum (legal interest) yang dimaksud di sini adalah merupakan
kepentingan yang berkaitan dengan kepemilikan (propietary interest) atau
kepentingan material berupa kerugian yang dialami secara langsung (injury in fact).
Perkembangan hukum konsep hak gugat konvensional berkembang secara pesat
seiring pula dengan perkembangan hukum yang menyangkut hajad hidup orang
banyak (public interest law) di mana seorang atau sekelompok orang atau organisasi
dapat bertindak sebagai penggugat walaupun tidak memiliki kepentingan hukum
secara langsung, tetapi dengan didasari oleh suatu kebutuhan untuk memperjuangkan
kepentingan, masyarakat luas atas pelanggaran hak-hak publik seperti lingkungan
hidup, perlindungan konsumen, hak-hak sipil dan politik.
Pendapat yang memberikan hak gugat kepada suatu organisasi/lembaga
swadaya masyarakat (legal standing) berangkat dari teori yang dikemukakan oleh
Prof. Christoper Stone, yang memberikan hak hukum kepada objek-objek alam
(natural object) seperti hutan, laut, sungai, gunung sebagai objek alam yang layak
memiliki hak hukum dan adalah tidak bijaksana jika dianggap sebaliknya

dikarenakan sifatnya yang inanimatif (tidak dapat berbicara) tidak diberi suatu hak
hukum.
Pada dasarnya, dalam HIR maupun RBg, ternyata sama sekali tidak ada diatur
mengenai masalah pihak yang tidak memiliki kepentingan hukum langsung dapat
mengajukan tuntutan hak ke pengadilan karena prinsip dasar dalam sistem hukum
acara perdata konvensional sebagaimana telah dikemukakan dimuka adalah tiada
gugatan tanpa kepentingan hukum. Dengan kata lain, legal standing ini diadopsi dari
sistem hukum anglo saxon. Pengaturan mengenai legal standing ini muncul pertama
kali ketika terdapatnya kasus antara WALHI (Yayasan Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia) dengan PT Inti Indorayon Utama. 4 Dalam perkara tersebut, Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat menerima gugatan WALHI tersebut terhadap 5 instansi
pemerintah dan PT Inti Indorayon Utama. WALHI dalam hal ini bertindak sebagai
organisasi

yang

mewakili

kepentingan

publik

yaitu

kepentingan

yang

menguapayakan perlindungan daya dukung ekosistem dan fungsi lingkungan hidup.


Pengakuan hak gugat organisasi tersebut berkembang untuk kasus-kasus diluar
lingkungan hidup, padahal peraturan perundang-undangan belum mengatur mengenai
hal tersebut. Akhirnya, pada tahun 1997 dilatarbelakangi dengan putusan hakim
berdasarkan kasus tersebut diatas, hak gugat organisasi diakui dengan diakomodir
dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Jika berbicara mengenai kedudukan legal standing dalam sistem hukum
nasional, maka dapat dikatakan bahwa legal standing ini merupakan suatu
perkembangan dari tata cara pengajuan gugatan yang ada di dalam hukum acar
perdata atau diluar dari ketentuan yang terdapat didalam HIR maupun RBg. Legal
standing ini merupakan hasil adopsi dari sistem hukum anglo saxon dimana banyak
sekali negara yang melakukan gugatan dengan menggunakan legal standing ini.
Dengan kata lain, di dalam sistem hukum nasional Indonesia sendiri, legal standing
4

Petra M. Zen dan Daniel Hutagalong, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia,


Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007, hlm. 379.

ini memiliki kedudukan yang sama dengan gugatan pada umumnya, yakni proses atau
tata cara mengajukan gugatan ke pengadilan, namun yang membedakan legal
standing dengan gugatan yang diatur didalam HIR maupun RBg adalah di dalam
legal standing yang mengajukan gugatan adalah badan hukum, LSM, atau organisasi
lainnya yang memiliki suatu legalitas dalam mengajukan gugatan yang mana tidak
memiliki kepentingan atau bukan salah satu pihak yang dirugikan oleh perbuatan
hukum orang lain, akan tetapi, mewakili kepentingan publik atau masyarakat dalam
suatu bidang tertentu untuk mengajukan gugatan, sedangkan dalam HIR telah diatur
bahwa pihak yang mengajukan gugatan atau dapat dikatakan penggugat adalah orang
yang merasa dirinya dirugikan atas suatu perbuatan hukum orang lain dan
mengajukan gugatan ke pengadilan.
Dalam Yurisprudensi Amerika terdapat 3 syarat yang harus dipenuhi untuk
mempunyai standing to sue atau legal standing, yaitu:
a. Adanya kerugian yang timbul karena adanya pelanggaran kepentingan
pemohon yang dilindungi secara hukum dan bersifat spesifik, aktual
dalam satu kontoversi dan bukan hanya bersifat potensial;
b. Adanya hubungan sebab akibat (kausalitas) antara kerugian dengan
berlakunya suatu UU;
c. Kemungkinan dengan diberikannya keputusan yang diharapkan, maka
kerugian akan dihindarkan atau dipulihkan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa legal standing merupakan salah satu proses
yang ditemukan dalam mengajukan gugatan yang merupakan salah satu hasil
penemuan hukum yang dilakukan oleh hakim di Indonesia dalam menyelesaikan
suatu perkara. Dimana dalam hal ini, hakim tidak mengacu pada ketentuan peraturan
perundang-undangan, akan tetapi mengacu pada nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang di dalam masyarakat. Dengan adanya legal standing ini, maka dapat

dikatakan bahwa terjadi perubahan dalam sistem hukum nasional terutama dalam hal
pengajuan gugatan ke pengadilan.

2. Pengaruh perkembangan legal standing (hak gugat organisasi) terhadap


sistem hukum nasional
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada uraian sebelumnya, bahwa legal
standing merupakan suatu cara baru yang ada di Indonesia, sebagai hasil dari
penemuan hukum yang dilakukan oleh hakim dalam mengadopsi sistem hukum anglo
saxon, sebagai suatu nilai yang tumbuh dan berkembang didalam masyarakat.
Dengan adanya adopsi tersebut, maka terdapat perubahan didalam sistem hukum
nasional yang ada di Indonesia dalam hal pengajuan gugatan.
Menurut Lawrence Meir Friedman, seorang ahli sosiologi hukum dari Stanford
University, ada empat elemen utama dari sistem hukum (legal system), yaitu:
a. Struktur Hukum (Legal Structure)
b. Isi Hukum (Legal Substance)
c. Budaya Hukum (Legal Culture)
Jika ditinjau dari adanya legal standing dalam hukum acara perdata di Indonesia dan
kemudian dihubungkan dengan perubahan yang terjadi didalam sistem hukum
nasional berdasarkan pendapat Friedman tersebut, maka dapat dikatakan bahwa baik
sturktu, isi, maupun budaya hukum yang ada di Indonesia setelah menganut legal
standing mengalami perubahan.
Pertama, berdasarkan substansi atau isi hukum, dengan adanya legal standing
dalam sistem hukum nasional terdapat perubahan dalam hal substansi hukumnya.
Dimana seblumnya di Indonesia, tidak mengatur mengenai adanya suatu legal

standing dalam mengajukan gugatan, sekarang telah ada peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai legal standing. Substansi hukum itu sendiri
berdasarkan teori friedman, dapat disebut juga produk yangdihasilkan oleh orang
yang berada dalam sistem hukum yang mencakup keputusan yang merekakeluarkan,
aturan baru yang mereka susun. Substansi juga mencakup hukum yang hidup (living
law), bukan hanya aturan yang ada dalamkitab undang-undang (law books). Sebagai
negara yang masih menganut sistem Civil LawSistem atau sistem Eropa Kontinental
(meski sebagaian peraturan perundang-undangan jugatelah menganut Common Law
Sistem atau Anglo Sexon) dikatakan hukum adalah peraturan- peraturan yang tertulis
sedangkan peraturan-peraturan yang tidak tertulis bukan dinyatakanhukum.
Mengenai legal standing ini, di Indonesia telah diatur dalam beberapa
peraturan perundang-undangan. Diawali dengan terbentuknya UU No. 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dimana terbentuk setelah adanya kasus antar
WALHI dengan PT inti Indorayon Utama. Kemudian tedapat juga didalam ketentuan
yang mengatur mengenai Mahkamah Konstusi yakni UU No. 24 Tahun 2003 yang
terdapat didalam Pasal 51 ayat (1), yang mengatur mengenai:
Pemohon

adalah pihak yang menganggap hak dan/atau


konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:

kewenangan

a. perorangan warga negara Indonesia;


b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara.
Berdasarkan ketentuan tersebut, jelaslah telah diatur mengenai legal standing di
Indonesia, yang mana sebelumnya di Indonesia gugatan atau tata cara pengajuan
gugatan hanya mengacu kepada ketentuan yang diatur didalam HIR, akan tetapi
dengan seiringnya perkembangan yang terjadi didalam hukum perdata terutama

dengan adanya legal standing, terdapat peraturan perundang-undangan yang


mengatur mengenai hal tersebut.
Kedua, selain substansi hukum, struktur hukum dalam sistem hukum nasional
di Indonesia juga mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi ketika hakim
menerima pengajuan gugatan yang diajukan oleh WALHI yang berperan sebagai
suatu lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat atau publik. Dalam hal ini,
hakim tidak hanya mengacu kepada ketentuan peraturan perundang-undangan yang
ada di Indonesia saja yag dikarenakan Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental
sehingga dalam memutus perkara haruslah selalu mengacu pada ketentuan yang
terdapat didalam peraturan perudang-undangan, akan tetapi juga mengacu pada nilainilai yang tumbuh dan berkembang didalam masyarakat, salah satunya adalah dengan
adanya sistem legal standing.
Dengan adanya penemuan hukum tersebut yakni diterimanya gugatan dengan
menggunakan sistem legal standing, maka berdasarkan struktur hukum menurut teori
friedman ini, peraturan perundang-undangan mengenai legal standing tersebut, bisa
dilaksnakan dengan baik di Indonesia. Dalam struktur hukum itu sendiri, menjelaskan
mengenai bisa atautidaknya hukum itu dilaksanakan dengan baik.
Ketiga, budaya hukum pun dengan adanya legal standing di Indonesia telah
mengalami perubahan dimana masyarakat Indonesia menerima dan mengakui adanya
legal standing di Indonesia. Selain itu, budaya hukum di Indonesia juga mengalami
perkembangan dimana sebelumnya masyarakat di Indonesia tidak mengatuhi dan
tidak menganut juga mengenai adanya legal standing dalam mengajukan gugatan ke
pengadilan, sekarang masyarakat Indonesia mengetahui dan mulai menggunakan
legal standing dalam mengajukan gugatan ke pengadilan. Budaya hukum ini
membahas mengenai sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukumkepercayaan,nilai, pemikiran, serta harapannya

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian terebut diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan


untuk menjawab permasalahn-permasalahan yan timbul berdasarkan identifikasi
masalah dalam makalah ini. Kesimpulan tersebut, antara lain:
1. legal standing memiliki kedudukan yang sama dengan gugatan pada umumnya,
yakni proses atau tata cara mengajukan gugatan ke pengadilan, namun yang
membedakan legal standing dengan gugatan yang diatur didalam HIR maupun RBg
adalah di dalam legal standing yang mengajukan gugatan adalah badan hukum,
LSM, atau organisasi lainnya yang memiliki suatu legalitas dalam mengajukan
gugatan yang mana tidak memiliki kepentingan atau bukan salah satu pihak yang
dirugikan oleh perbuatan hukum orang lain, akan tetapi, mewakili kepentingan
publik atau masyarakat dalam suatu bidang tertentu untuk mengajukan gugatan,
sedangkan dalam HIR telah diatur bahwa pihak yang mengajukan gugatan atau dapat
dikatakan penggugat adalah orang yang merasa dirinya dirugikan atas suatu
perbuatan hukum orang lain dan mengajukan gugatan ke pengadilan.

2. Legal standing membawa banyak perubahan terhadap sistem hukum nasional


baik dari segi struktur hukum, substansi hukum, maupun budaya hukumnya.
Hal tersebut terbukti dengan dibuatnya peraturan perundang-undangan
mengenai legal standing seperti yang diatur didalam UU No. 24 Tahun 2003
Tentang Mahkamah Kosntitusi, yang mana dibentuknya peraturan tersebtu
berawal dari adanya keputusan hakim yang memperbolehkan badan hukum
atau lembaga masyarakat atau lembaga sosial lainnya yang tidak memiliki
kepentingan dalam melakukan suatu gugatan akan tetapi mewakili masyarakat
atau kepentingan publik dalam mengajukan gugatan. Hal tersebut telah diakui
dan diterima didalam kehidupan masyarakat Indonesia dan telah terbukti

bahwa pada era globalisasi ini, banyak sekali masyarakat Indonesia yang
menggunakan legal standing dalam mengajukan gugatan.
Pada intinya, penulis ingin menyampaikan bahwa legal standing ini, memberikan suatu
dampak atau pengaruh yang positif terhadap sistem hukum nasional di Indonesia, dimana
Indonesia akan mendapat masukan dan lebih banyak mengetahui serta mengikuti
perkembangan yang ada di bidang hukum perdata terutama dalam hal pengajuan gugatan ke
pengadilan. Selain itu, dengan diakuinya legal standing ini, terjadi suatu perkembangan
dalam sistem hukum nasional dimana sustem hukum nasional di Indonesia menjadi bersifat
dinamis, yakni berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.