Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH BAYI BARU LAHIR

DAN INTERGRASINYA DENGAN ILMU BIOREPRODUKSI,


MIKROBIOLOGI, ANATOMI FISIOLOGI, BIOKIMIA,
DAN FISIKA KESEHATAN
TUGAS MATA KULIAH BIOREPRODUKSI DAN MIKROBIOLOGI

KELOMPOK V
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

FITRIYA NINGSIH
DESHINTA
ANIS MASRUROH
NILA RISKYATUL
YULITA W.
DINDA NUR A.
MILA RUSMITA
RIFZI DEVI N.
NUR RATNAWATI

1402450004
1402450015
1402450009
1402450022
1402450028
1402450033
1402450039
1402450044
1402450049

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLTEKKES MALANG JURUSAN KEBIDANAN
PRODI DIV KEBIDANAN MALANG
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR

32

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Biologi Reproduksi dan Mikrobiologi dengan judul Bayi Baru Lahir
dan integrasinya dengan ilmu Bioreproduksi, Mikrobiologi, Anatomi Fisiologi,
Biokimia, dan Fisika Kesehatan. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi
tugas kelompok mata kuliah Biologi Reproduksi Program Studi DIV Kebidanan
Malang, Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta
bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih kepada :
1. Ibu Tarsikah, M.Keb. selaku dosen mata kuliah Biologi Reproduksi

2.

Bapak/Ibu petugas Perpustakaan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

3.

yang telah membantu selama proses pinjam-meminjam buku referensi.


Orang tua tercinta yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberikan

4.

bantuan baik moril maupun materi.


Seluruh teman-teman yang telah banyak membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Malang, 7 Desember 2014

Penulis

32

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..... ii
Daftar Isi..... iii
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang.
Rumusan Masalah ...
Tujuan ..
Manfaat ....

1
1
2
2

Bab II Pembahasan
Pengertian Bayi Baru Lahir 3
Integrasi Bayi Baru Lahir dengan Ilmu.. 3
Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Bioreproduksi. 3
Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Mikrobiologi... 4
Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Anatomi Fisiologi... 8
Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Biokimia.11
Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Fisika Kesehatan....20
Bab III Penutup
Kesimpulan ... 26
Saran.. 27
Daftar Pustaka 28

32

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat bayi, lahir terdapat berbagai macam perubahan fisiologis atau
adaptasi fisiologis yang bertujuan untuk memfasilitasi peyesuaian pada
kehidupan ekstrauterin (diluar uterus). Pada masa transisi dari intrauterin
(dalam uterus) ke ekstrauterin (luar uterus) tersebut perlu pernafasan spontan
dan perubahan kardiovaskuler berserta perubahan lain menjadi organ dengan
fungsi independen (tidak lagi tergantung pada ibunya). Untuk itu, diperlukan
pengetahuan dan keterampilan yang baik agar dapat menangani bayi baru
lahir yang mengalami kesulitan pada masa transisi ini.
Pembahasan mengenai bayi baru lahir termasuk perubahan, mekanisme,
dan konsep yang terjadi di dalamnya tidak dapat terlepas dari aspek kajian
bidang ilmu kebidanan lainnya, meliputi: ilmu biokimia, ilmu bioreproduksi,
ilmu mikrobiologi, ilmu fisika kesehatan, serta ilmu anatomi fisiologi yang
saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu, kami akan membahas lebih
lanjut mengenai bayi baru lahir dalam makalah berikut.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa pengertian bayi baru lahir?


Bagaimana kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Bioreproduksi?
Bagaimana kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Mikrobiologi?
Bagaimana kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Biokimia?
Bagaimana kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Fisika Kesehatan?
Bagaimana kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Anatomi Fisiologi?

32

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.4

Untuk mengetahui pengertian bayi baru lahir


Untuk mengetahui kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Bioreproduksi
Untuk mengetahui kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Mikrobiologi
Untuk mengetahui kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Biokimia
Untuk mengetahui kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Fisika Kesehatan
Untuk mengetahui kaitan bayi baru lahir dengan ilmu Anatomi Fisiologi
Manfaat

1. Dapat digunakan sebagai dasar pengetahuan dan pengalaman dalam


kegiatan penulisan makalah berikutnya tentang bayi baru lahir.
2. Dapat dijadikan sebagai sumber bacaan ilmu pengetahuan tentang bayi
baru lahir.
3. Mempunyai gambaran tentang integritas bayi baru lahir dengan ilmu
bioreproduksi, mikrobiologi, anatomi fisologi, biokimia, dan fisika
kesehatan.

32

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Bayi Baru Lahir


Neonatus adalah Bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm (37-42
minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gr. Asuhan bayi baru lahir
adalah asuhan bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
(Saifuddin, 2002).
Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal adalah berat
lahir antara 2500 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan
tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.

2.2

Integrasi Bayi Baru Lahir dengan Ilmu Bioreproduksi, Mikrobiologi,


Anatomi Fisiologi, Fisika Kesehatan dan Biokimia
2.2.1. Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Bioreproduksi.
Bayi baru lahir merupakan periode bulan pertama kehidupan
bayi yang mana bayi mengalami pertumbuhan dan perubahan yang
amat menakjubkan, begitu pula pada sistem reproduksinya.
Pada masa embrio, perkembangan genetalia wanita meliputi
penyusutan dan penyatuan struktur urogenital primitive. Folikelfolikel primordial dibentuk selama bulan ke-6 kehamilan, tetapi
harus menunggu sampai pubertas untuk perkembangan lebih lanjut.
Pada bayi baru lahir wanita yang cukup bulan dan normal, ovarium
mengandung ribuan sel-sel germinal primitive pada saat lahir. Sel-sel
ini mengandung komplemen lengkap ova yang matang karena tidak
terbentuk oogonia lagi setelah bayi cukup bulan lahir. Labia mayor
berkembang dengan baik dan menutupi labia minora. Pada bayi
premature, klitoris menonjol dan labia mayora terbentuk kecil dan
terbuka. Peningkatan kadar estrogen selama hamil, yang diikuti
dengan penurunan setelah bayi baru lahir, bisa menyebabkan
keluarnya cairan vagina yang berlendir putih dan kental pada bayi
wanita dan kadang-kadang pengeluaran bercak darah melalui vagina
(pseudomenstruasi). Kadar estrogen yang tinggi yang terdapat
selama kehamilan sering menyebabkan pembengkakan pada jaringan
payudara baik pada bayi wanita maupun laki-laki dan kadang bisa
32

keluar sedikit cairan putih dari payudara. Kondisi ini akan hilang
setelah estrogen keluar dari tubuh bayi dan tidak membutuhkan
tindakan khusus.
Pada bayi laki-laki testis turun kedalam skrotum pada akhir
kehamilan 36 minggu. Testis turun kedalam skrotum pada 90% bayi
baru lahir laki-laki. Kejadian tidak turunnya testis kedalam skrotum
pada anak laki-laki sekitar 1%. Spermatogenesis tidak terjadi sampai
pubertas. Prepusium (kulup) yang ketat sering dijumpai pada bayi.
Muara uretra dapat tertutup oleh prepusium. Sebagai respon terhadap
estrogen ibu, pada bayi baru lahir laki-laki cukup bulan, dapat
dijumpai ukuran genetalia eksternal dan pigmentasi yang meningkat.
Adanya rugae yang menutupi kantung skrotum menunjukkan
kehamilan cukup bulan.
2.2.2. Hubungan bayi baru lahir dengan Mikrobiologi
Infeksi terjadi karena organisme yang berkoloni pada seseorang
menimbulkan penyakit ( respon seluler). Infeksi pada neonatus lebih
sering ditemukan pada bayi dengan berat badan rendah. Infeksi ini
lebih sering dialami oleh bayi yang lahir dirumah sakit daripada
yang lahir dirumah. Bayi baru lahir mendapat imunitas transplasenta
terhadap kuman-kuman yang berasal dari ibunya. Bayi yang lahir
dirumah sakit terkena kuman yang bukan berasal dari ibunya sendiri,
melainkan juga dari ibu-ibu yang lain. Terhadap kuman yang bukan
dari ibunya bayi tidak mempunyai imunitas. Infeksi pada neonatus
dibagi menjadi dua golongan besar yaitu ;
1. Infeksi

berat

(infeksi

mayor):

sifilis

kongenital,

sepsis

neonatorum, meningitis pneumonia, diare apedemik, pielonefritis,


osteitis akuta, dan tetanus neonatrum.
2. Infeksi ringan (infeksi minor): infeksi pada kulit, oftalmia
neonatorum, infeksi umbilikus, moniliasis.
Beberapa infeksi yang didapat setelah kelahiran yang paling
umum pada infeksi neonatus adalah umbilikus, kulit yang rusak,
saluran pernafasan serta infeksi akibat prosedur dan alat invasive
(askin 1995)
32

1. Infeksi mata
Infeksi mata umum terjadi pada bayi, dan dapat ditangani dengan
perawatan mata secara rutin dan antibiotik jika diperlukan.
Kondisi lain yang lebih serius harus disingkirkan, seperti oftalmia
neonatorum,

trauma

benda

asing,

dan

obstruksi

duktus

nasolakrimal. (Hammerschalag 1993, OHara 1933)


2. Infeksi kulit
Sebagian besar infeksi kulit pada neonatal disebabkan oleh S.
aureus. Pada bayi baru lahir, lesi kulit yang sering terjadi adalah
bintik septik atau pustule yang ditemukan sebagai lesi tersendiri
atau kumpulan lesi di umbilikalis dan bokong. Untuk neonatus
sehat

dengan

pustula

terbatas,

penatalaksanaan

meliputi

pembersihan secara teratur dengan larutan antiseptik dan terapi


antibiotik untuk pastla yang lebih luas (wright lott et al 1994)
3. Meningitis
Meningitis neonatus adalah suatu inflamasi di membrane yang
melapisi otak dan kolumna spinalis. Meningitis disebabkan oleh
organisme seperti E.coli, streptokokus gropu B, dan Listeria
monocytogenes, Dan yang tidak lebih lazim adalah candida dan
herpes. Tanda-tanda yang sangat awal mungkin tidak spesifik,
diikuti dengan iritasi meningeal dan peningkatan intra krania,
seperti iritabilitas, penonjolan ubun-ubun, peningkatan letargi,
tremor, muntah berat, perubahan kesadaran. Bayi juga dapat
menunjukan hemiparesis, deviasi horizontal, dan penurunan
reaksi pupil mata. Diagnosis dan terapi dini penting untuk
mencegah kolaps dan kematian. Diagnosis biasanya di konfirmasi
dengan pemeriksan CSS. Bayi yang sangat sakit sangat
memerlukna perawatan intensif, cairan intervena dan cairan
antibiotik. Komplikasi neurologis jangka panjang dapat terjadi
pada bayi yang selamat. (Andhikari et al 1995, Barone & krilov
1995,Synott et al 1994)
4. Infeksi pernafasan
32

Infeksi ini dapat terjadi minor (nasofaringitis dan rinitis) atau


lebih berat, seperti pneumonia.
5. Infeksi saluran pencernaan
Pada bayi baru lahir, infeksi ini meliputi gastroenteritis atau lebih
berat NEC. Organisme kausatif gastroenteritis termasuk rotavirus,
salmonella, shigella, dan strein patogenik E.coli. Sekresi IgA
dalam ASI memberikan proteksi penting pada organisme ini,
terutama rotavirus. Terapi bergantung pada beratnya gejala.
Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit adalah perioritas
segera, karena mual dan muntah dapat secara cepat menyebabkan
dehidrasi pada neonatus.
6. Infeksi umbilikal
Tanda infeksi dapat meliputi inflamasi lokal dan rabas berbau.
Infeksi yang tidak diobati dapat menyebar ke hati melalui vena
umbilikalis, serta menyebabkan hepatitis dan septicemia. Terapi
dapat melputi pembersihan secara teratur, pemberian bubuk
antibiotik, dan terapi antibiotik.
7. Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh bakteri seperti E.coli
atau akibat dari anomali kongenital yang menyebabkan sumbatan
aliran urine. Tanda infeksi biasanya tanda infeksi awal
nonspesifik, dan diagnosis biasanya dipastikan melalui evaluasi
laboratorium terhadap sampel urin.
8. Oral trush
Oral trush adalah infeksi jamur yang terjadi pada area hangat dan
basah yang ditandai dengan bercak-bercak membran berwarna
putih, mirip sisa-sisa susu diselaput lender bibir, pipi, lidah,
palatum, dan faring. Mula-mula dianggap endapan susu, tetapi
apabila dipaksa diangkat akan menyebabkan bayi malas menyusui
karena terasa agak nyeri. Dalam hal ini diagnosis dapat dipastikan
dengan melakukan pemeriksaan mikroskop dan biakan kerokan
mukosa terkait. Infeksi pada neonatus ini dapat sembuh spontan
32

dengan pengobatan 1 ml larutan nystatin (100.000 unit / ml) yang


diberikan 4 kali sehari dengan interval 6 jam. Obat ini akan
membatasi penyebaran penyakit hanya diruang perawatan bayi
serta menghindari infeksi yang berkepanjangan yang terkadang
terjadi. Larutan tersebut hendaknya ditaruh dengan lembut dan
hati-hati kedalam mulut sehingga ada kesempatan untuk
menyebar luas diseluruh rongga mulut sebelum ditelan.
Pencegahan oral trush adalah dengan membersihkan dan
mengeringkan segera daerah mulut bayi dan sekitarnya setiap
selesai menyusui serta menjaga kebersihan ibu dan bayinya.
9. Sariawan
Sariawan merupakan insfeksi jamur dimulut dan tenggorokan.
Keadaan ini sering terjadi pada neonatus, terutama jika neonatus
mendapat terapi anti-biotik. Infeksi ini muncul sebagai bercak
putih yang terlihat dilidah dan membran mukosa dan sebagai
ruam merah diperineum.
10. Virus herpes simpleks
Jika didapat pada periode neonatal, ini infeksi virus yang sangat
serius. Penularan pada uterus jarang terjadi, infeksi biasanya
terjadi selama persalinan. Tujuh puluh persen bayi yang terinfeksi
akan mengalami ruam, yang tampak seperti vesikel atau pustule.
Moralitas bergantung pada beratnya penyakit dan terapi dimulai
(logan 1990).
11. Sepsis umbilikus
Sepsis ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Hingga
pemisahannya, tali pusat dapat menjadi fokus infeksi bagi bakteri
yang berkoloni dikulit neonatus. Jika kemerahan periumbilikal
terjadi atau terlihat rabas, mungkin perlu dilakukan pemberian
terapi antibiotik untuk mencegah infeksi asenden.
12. Bullous impetigo
Ini adalah keadaan yang membuat kulit tampak seperti terbakar
dan disebabkan oleh streptokokus dan stafilokokus. Terjadi secara
32

luas sebagai eritema yang nyeri tekan, yang diikuti dengan lepuh,
yang pecah dan yang menimbulkan area kasar dikulit. Tanda ini
terutama terlihat pada area celemek bayi, tetapi juga dapat
menyebabkan sepsis umbilikus, absese payudara, konjungtivitis
dan pada infeksi dalam, juga dapat mengenai tulang dan sendi.
2.2.3. Hubungan Bayi Baru Lahir Dengan Anatomi Fisiologi
1. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari faring,
yang bercabang dan membentuk struktur percabangan bronkus.
Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar usia 8
tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus sepenuhnya
berkembang walaupun janin memperlihatkan adanya bukti gerakan
napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney, 1997).
Ketidakmatangan paru terutama akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 24
minggu, yang disebabkan oleh keterbukaan permukaan alveolus,
ketidakmatangan system kapiler paru, dan tidak mencukupinya
jumlah surfaktan.
2. Perubahan sistem sirkulasi

Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk
mengambil

oksigen

dan

bersirkulasi

melalui

tubuh

guna

mengantarkan oksigen ke jaringan. Agar sirkulasi baik untuk


mendukung kehidupan luar uterus, harus terjadi dua perubahan
besar, yaitu sebagai berikut:
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.
b. Penutupan duktus arteriosus antara arteri pulmonalis dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada
seluruh system pembuluh darah di tubuh. Darah akan mengalir
pada daerah yang mempunyai resistensi yang kecil. Jadi, perubahan
tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah.
Oksigen menyebabkan system pembuluh darah mengubah
tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya
sehingga mengubah aliran darah. Hal ini terutama penting dengan

32

mengingat bahwa sebagian besar kematian dini bayi baru lahir


berkaitan dengan oksigen (asfiksia).
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem pembuluh
darah, yaitu sebagai berikut.
1. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh darah sistemik
meningkat dan tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium
kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium
kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan
tekanan atrium kanan itu sendiri. Dua kejadian ini membantu
darah dengan kandungan oksigen sedikit, mengalir ke paru-paru
untuk menjalani oksigenasi ulang.
2. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah
paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada
pernapasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya
system pembuluh darah paru (menurunkan resistensi pembuluh
darah paru). Penigkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan
peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan.
Dengan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium
kanan, foramen ovale secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikalis, duktus venosus, dan arteri hipogastrika dari
tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah
bayi lahir dan setelah tali pusat diklem.Penutupan anatomi jaringan
fibrosa berlangsung dalam 2-3 bulan.
3. Perubahan sistem termoregulasi

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka


sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan
lingkungan. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan uterus ibu
yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan
ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini
menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit sehingga
mendinginkan

darah

bayi.

Pada

lingkungan

yang

dingin,

pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha

32

utama bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas


tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil
penggunaan lemak cokelat yang terdapat di seluruh tubuh dan
mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar
lemak

cokelat,

bayi

harus

menggunakan

glukosa

guna

mendapatkan energy yang akan mengubah lemak menjadi panas.


Lemak cokelat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir
dan cadangan lemak cokelat ini akan habis dalam waktu singkat
dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehanilan,
semakin banyak persediaan lemak cokelat bayi.
Jika bayi kedinginan, ia mulai mengalami hipoglikemia,
hipoksia, dan asidosis. Oleh sebab itu, upaya pencegahan
kehilangan

panas

merupakan

prioritas

utama

dan

bidan

berkewajiban unuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi


baru lahir.
4. Perubahan sistem gastrointestinal

Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan


menelan. Refleks batuk dan refleks gumoh sudah terbentuk dengan
baik saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk
menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas.
Hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum
sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir atau
neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas, kurang dari 30
cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan
bertambah secara lambat

bersamaan dengan pertumbuhan bayi

baru lahir. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting,
misalnya memberi ASI non demand.
Usus bayi masih belum matur sehingga tidak mampu
melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya di kolon.Bayi
baru lahir kurang efisien dalam mempertahankan air dibandingkan
orang dewasa sehingga menyebabkan diare yang lebih serius.
2.2.4. Hubungan Bayi Baru Lahir Dengan Biokimia
32

1. Metabolisme Glukosa
Setelah tali pusat di ikat atau di klem, maka kadar glukosa
akan di pertahankan oleh si bayi itu sendiri serta mengalami
penurunan waktu yang cepat 1-2 jam. Guna mengetahui atau
memperbaiki

kondisi

tersebut,

maka

di

lakukan

dengan

menggunakan air susu ibu (ASI), penggunaan cadangan glikogen


(glikogenolisis), dan pembuataan glukosa dari sumber lain
khususnya lemak (glukoneogenesis). Seorang bayi yang sehat akan
menyimpan glukosa sebagai glikogen dalam hati. Koreksi
penurunan kadar gula darah dapat di lakukan dengan 3 cara :
a. Melalui penggunaan ASI
b. Melalui penggunaan cadangan glikogen
c. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
2. Sistem Kekebalan Tubuh
Perkembangan sistem imunitas pada bayi juga mengalami
proses penyesuaian dengan perlindungan oleh kulit membran
mukosa, fungsi saluran nafas, pembentukan koloni mikroba oleh
kulit dan usus, serta perlindungan kimia oleh lingkungan asam
lambung. Perkembangan kekebalan alami pada tingkat sel oleh sel
darah akan membuat terjadinya sistem kekebalan melalui
pemberian kolostrum dan lambat laun akan terjadi kekebalan
sejalan dengan perkembangan usia ( Jane Ball, 1999).
Pada masa awal kehidupan janin, sel-sel yang menyuplai
imunitas bayi sudah mulai berkembang. Namun sel-sel ini tidak
aktif selama beberapa bulan. Selama tiga bulan pertama
kehidupannya, bayi baru lahir dilindungi oleh kekebalan pasif yang
diterima dari ibunya. Namun bayi sangat rentang terhadap
penyebaran mikroorganisme, oleh karena itu septikemia lebih
sering terjadi pada bayi baru lahir. Maka dari itu penatalaksanaan
dan asuhan pada bayi baru lahir pada saat lahir dan setelah lahir
bertujuan untuk pecegahan terjadinya infeksi.
Imunoglobulin meningkatkan imunitas pada janin dan bayi
baru lahir. Imunoglobulin ini,merupakan tipe antibodi yang
disekresikan oleh limfosit dan oleh sel-sel plasma dan ditemukan
32

dalam cairan ibu. Imunoglobulin yang ditemukan pada bayi adalah


fraksi antibody igG, igM, igA.
Imunoglobulin G (igG): janin memperoleh Imunoglobulin G
didalam uterus, karena berat molekul igG kecil maka mampu
melintas dari ibu kejanin melalui plasenta jumlah igG yang
diterima oleh bayi tergantung pada infeksi yang telah dilawan dari
imunitas yang disusun ibunya, kuantitas dalam sistem ibu dan usia
kehamilan pada janin. Lama nya imunitas sangat berfariasi dan
dapat berlangsung dari usia 1-4 bulan tergantung pada panyakit dan
kuantitas igG yang diterima. Fraksi antibodi ini terdapat pada smua
cairan tubuh baik secara intra vaskuler maupun extra vaskuler. Tipe
imunitas seperti ini diistilahkan sebagai imunitas yang didapatkan
secara pasif. Namun, segara setelah lahir sistem imunologis bayi
sendiri mulai membentuk igG. Akan tetapi, sintesis antibodi aktif
yang seharusnya terjadi setelah prosedur imunisasoi dalam
beberapa bulan pertama kehidupan bayi bisas terganggu dengan
anti bodi igG yang didapat secara pasif. Yang termasuk fraksi anti
bodi igG yang memiliki transfer transplasenta yang baik adalah :
a)
b)

Virus: rubella, measles, mumps, variola, dan poliomyelitis.


Bakteri: pada dipteri dan tetanus dan antibody
antispilokokus

Yang termasuk fraksi antibodi yang memiliki transfer transplasenta


yang buruk adalah virus bakteri dan organisme-organisme lain
contohnya haemophilis influenza, bacillus pertusis, striptokogus
dan organisme penyebab disentri. Bayi mulai mensintesis igG dan
mencapai sekitar 40% kadar igG orang dewasa pada usia 1 tahun.
Imunoglobulin M (IgM): Imunoglobulin M mempunyai berat
molekul yang lebih besar dan oleh karna itu, tidak mampu
melintasi dari ibu ke janin melalui plasenta. Normalnya, bayi
membentuk igM setelah lahir. Namun, igM bisa ditemukan pada
darah tali pusat jika ibu terkena infeksi selama kehamilan dan janin
juga terpengaruh kondisi ini. Antibody igM kemudian dibentuk
oleh sistem imunologis janin. Beberapa kondisi dimana janin
32

berkontraksi dalam uterus dan menyebabkan janin memproduksi


igM adalah:
a.

Yang disebut penyakit TORCH : Toxoplasmosis, Others:


sifilis, Rubela, penyakit yang termasuk dalam Citomegalic,

b.

Herpes.
Tipe antibosi ini terutama terdapat dalam aliran darah dan tipe
imunitas nya dikenal; sebagai imunitas aktif.
Imunoglobulin A (igA): Imunoglobulin A tidak dapat

melintasi plasenta dan hanya diproduksi oleh bayi setelah bayi


lahir dalambeberapa minggu pertama didalam kehidupannya.
Antibodi ini ditemukan dalam aliran darah dan dalam sekresi
saluran pernafasan dan pemcernaan. Fungsi sekresi ini aktif
melawan beberapa virus, seperti poliomielitis. Tipe imunitas ini
dikenal sebagai imunitas aktif yang didapat secara alami.
Ketiga Imunoglobulin diatas dapat ditemukan didalam asi. Asi
juga mengandung laktoferin dan transferin yang menungkatkan
partumbuhan flora usus yaitu laktobasilus.
Alat imunitas lainnya pada bayi baru lahir adalah limfosit T
dan B yang berasal dari kelenjar timus dan yang melindungi
melawan berbagai macam infeksi virus, jamur dan basilus.
Limfosit T dan B ini tidak menjadi berfungsi sepenuhnya sampai
beberapa minggu terakhir.
3. Kelainan Metabolik
Bayi yang lahir dengan gangguan metabolisme bawaan
mengalami kekurangan enzim yang esensial dalam reaksi biokimia
tubule atau defisiensi jumlah enzim tersebut. Semua makanan yang
diingesti dipecah menjadi lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan
mineral yang kemudian dimetabolisme oleh enzim. Suatu defisiensi
enzim, seperti yang terlihat pada gangguan metabolisme bawaan,
menghambat rantai reaksi biokimia yang biasa, yang disebut jalur
metabolik, dari kejadian yang sebenarnya. Selain itu, rantai
abnormal zat metabolik terbentuk karena adanya suatu defisiensi
pada kunci enzim normal, yang dapat mengakibatkan sejumlah
32

hasil yang tidak diharapkan. Kebanyakan kelainan metabolisme


bawaan diturunkan sebagai sifat resesif autosom, sehingga riwayat
kematian dalam periode neonatus pada keluarga dekat akan
meningkatkan kecurigaan terhadap diagnosis
Tubuh kita mendapatkan energi melalui metabolisme makanan.
Reaksi kimia dalam sel-sel tubuh mengubah makanan menjadi
glukosa (produk dari metabolisme karbohidrat), asam amino
(produk dari metabolisme protein), dan asam lemak (produk dari
metabolisme lipid), yang digunakan untuk menyediakan energi.
Jenis-Jenis Kelainan Metabolik
A. Kelainan metabolisme karbohidrat
Pada saat lahir, neonatus dengan gangguan metabolik
biasanya normal, namun beberapa jam setelah melahirkan
timbul tanda-tanda dan gejala-gejala seperti alergi, nafsu
makan yang rendah, konvulsi dan muntah-muntah. Kelainan
metabolisme karbohidrat di bagi dalam beberapa macam antara
lain:
1. Galaktosemia
Galaktosemia (kadar galaktosa yang tinggi dalam
darah) biasanya disebabkan oleh kekurangan enzim
galaktose

1-fosfat

uridil

transferase.

Kelainan

ini

merupakan kelainan bawaan. Sekitar 1 dari 50.000-70.000


bayi terlahir tanpa enzim tersebut. Pada awalnya mereka
tampak normal, tetapi beberapa hari atau beberapa minggu
kemudian, nafsu makannya akan berkurang, muntah,
tampak kuning (jaundice) dan pertumbuhannya yang
normal

terhenti.

Galaktosemia

biasanya

merupakan

kelainan bawaan. Tidak adanya enzim yang dapat


merombak laktosa pada bayi yang baru lahir, sehingga tidak
dapat meminum ASI dari ibunya karena mengandung
galaktosa. Kelainan ini bila dibiarkan dapat menyebabkan
kerusakan mata, hati, dan otak. Jika kadar galaktosanya
tinggi, galaktosa dapat melewati plasenta dan sampai ke
janin, menyebabkan katarak. Susu dan hasil olahan susu
32

(yang merupakan sumber dari galaktosa) tidak boleh


diberikan kepada anak yang menderita galaktosemia.
Demikian juga halnya dengan beberapa jenis buahbuahan, sayuran dan hasil laut (misalnya rumput laut).
Seorang wanita yang diketahui membawa gen untuk
penyakit ini sebaiknya tidak mengkonsumsi galaktosa
selama kehamilan. Seorang wanita hamil yang menderita
galaktosemia juga harus menghindari galaktosa. Penderita
galaktosemia

harus

menghindari

galaktosa

seumur

hidupnya.
Pada masa pubertas dan masa dewasa, anak perempuan
seringkali mengalami kegagalan ovulasi (pelepasan sel
telur) dan hanya sedikit yang dapat hamil secara alami.
2. Glikogenosis
Glikogenosis (Penyakit penimbunan glikogen) adalah
sekumpulan penyakit keturunan yang disebabkan oleh tidak
adanya 1 atau beberapa enzim yang diperlukan untuk
mengubah gula menjadi glikogen atau mengubah glikogen
menjadi glukosa (untuk digunakan sebagai energi). Pada
glikogenosis, sejenis atau sejumlah glikogen yang abnormal
diendapkan di dalam jaringan tubuh, terutama di hati.
Gejalanya timbul sebagai akibat dari penimbunan
glikogen atau hasil pemecahan glikogen atau akibat dari
ketidak mampuan untuk menghasilkan glukosa yang
diperlukan oleh tubuh. Usia ketika timbulnya gejala dan
beratnya gejala bervariasi, tergantung kepada enzim apa
yang tidak ditemukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
hasil pemeriksaan terhadap contoh jaringan (biasanya otot
atau hati), yang menunjukkan adanya enzim yang hilang.
3. Intoleransi Fruktosa Herediter
Intoleransi Fruktosa Herediter adalah suatu penyakit
keturunan dimana tubuh tidak dapat menggunakan fruktosa
karena tidak memiliki enzim fosfofruktaldolase. Sebagai
akibatnya, fruktose 1-fosfatase (yang merupakan hasil
pemecahan dari fruktosa) tertimbun di dalam tubuh,
32

menghalangi pembentukan glikogen dan menghalangi


perubahan glikogen menjadi glukosa sebagai sumber energi.
Fruktosa atau sukrosa (yang dalam tubuh akan
diuraikan menjadi fruktosa) dalam jumlah yang lebih, bisa
menyebabkan: hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah)
disertai keringat dingin, tremor (gerakan gemetar diluar
kesadaran), linglung, mual, muntah, anyeri perut, kejang
(kadang-kadang), koma.
Jika penderita terus mengkonsumsi fruktosa, bisa
terjadi kerusakan ginjal dan hati serta kemunduran mental.
Pada penangananya dilakukan pengujian respon tubuh
terhadap fruktosa dan glukosa yang diberikan melalui infus.
Karier (pembawa gen untuk penyakit ini tetapi tidak
menderita penyakit ini) dapat ditentukan melalui analisa
DNA dan membandingkannya dengan DNA penderita dan
DNA orang normal. Pengobatan terdiri dari menghindari
fruktosa (biasanya ditemukan dalam buah-buahan yang
manis), sukrosa dan sorbitol (pengganti gula) dalam
makanan sehari-hari. Serangan hipoglikemia diatasi dengan
pemberian tablet glukosa, yang harus selalu dibawa oleh
setiap penderita intoleransi fruktosa herediter.
4. Fruktosuria
Fruktosuria merupakan suatu keadaan yang tidak
berbahaya, dimana fruktosa dibuang ke dalam air kemih.
Fruktosuria disebabkan oleh kekurangan enzim fruktokinase
yang sifatnya diturunkan. 1 dari 130.000 penduduk
menderita fruktosuria. Fruktosuria tidak menimbulkan
gejala, tetapi kadar fruktosa yang tinggi di dalam darah dan
air kemih dapat menyebabkan kekeliruan diagnosis dengan
diabetes mellitus.Tidak perlu dilakukan pengobatan khusus.
5. Pentosuria
Pentosuria adalah suatu keadaan yang tidak berbahaya,
yang ditandai dengan ditemukannya gula xylulosa di dalam

32

air kemih karena tubuh tidak memiliki enzim yang


B.

diperlukan untuk mengolah xylulosa.


Kelainan metabolisme piruvat
Piruvat terbentuk dalam proses pengolahan karbohidrat,
lemak dan protein. Piruvat merupakan sumber energi untuk
mitokondria (komponen sel yang menghasilkan energi).
Gangguan pada metabolisme piruvat dapat menyebabkan
terganggunya fungsi mitokondria sehingga timbul sejumlah
gejala: kerusakan otot, keterbelakangan mental, kejang,
penimbunan asam laktat yang menyebabkan asidosis
(meningkatnya asam dalam tubuh), dan kegagalan fungsi
organ (jantung, paru-paru, ginjal atau hati).
Gejala tersebut dapat terjadi kapan saja, mulai dari awal
masa bayi sampai masa dewasa akhir. Olahraga, infeksi atau
alkohol dapat memperburuk gejala, sehingga terjadi asidosis
laktat yang berat (kram dan kelemahan otot). Kekurangan
kompleks

piruvat

dehidrogenase.

Kompleks

piruvat

dehidrogenase adalah sekumpulan enzim yang diperlukan


untuk mengolah piruvat. Kekurangan kompleks piruvat
dehidrogenase bisa menyebabkan berkurangnya kadar asetil
koenzim A yang penting untuk pembentukan energi.
Gejala utamanya adalah: aksi otot menjadi lambat,
koordinasi buruk, gangguan keseimbangan yang berat yang
menyebabkan penderita tidak dapat berjalan. Gejala lainnya
adalah kejang, keterbelakangan mental dan kelainan bentuk
otak.
Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tetapi diet tinggi
lemak bisa membantu beberapa penderita. Tidak memiliki
enzim piruvat
menghalangi

karboksilase akan mempengaruhi

pembentukan

glukosa

di

dalam

atau
tubuh.

Akibatnya di dalam darah akan tertimbun asam laktat dan


keton

yang

menyebabkan

timbulnya

mual

dan

muntah.Penyakit ini sering berakibat fatal. Sintesa asam


amino (komponen pembentuk protein) juga tergantung
32

kepada piruvat karboksilase.Jika enzim ini tidak ada, maka


pembentukan neurotransmiter (zat yang menghantarkan
gelombang saraf) akan berkurang, menyebabkan sejumlah
C.

kelainan saraf, termasuk keterbelakangan mental yang berat.


Kelainan metabolisme asam amino
Asam amino merupakan komponen pembentuk protein.
Penyakit keturunan pada pengolahan asam amino dapat
menyebabkan gangguan pada penguraian asam amino
maupun pemindahan asam amino ke dalam sel.
Fenilketonuria
(Fenilalaninemia,
Fenilpiruvat
oligofrenia) adalah suatu penyakit keturunan dimana tubuh
tidak memiliki enzim pengolah asam amino fenilalanin,
sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di
dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Dalam keadaan
normal, fenilalanin diubah menjadi tirosin dan dibuang dari
tubuh. Tanpa enzim tersebut, fenilalanin akan tertimbun di
dalam darah dan merupakan racun bagi otak, menyebabkan
keterbelakangan mental.
Asam fenilketonuria yang berlebih dapat merusak sistem
saraf serta yang mempengaruhi pengolahan protein oleh
tubuh dapat menyebabkan ketidak mampuan belajar sampai
keterbelakangan

mental.

Bayi

yang

terlahir

dengan

fenilketonuria tampak normal, tetapi jika tidak diobati


mereka akan mengalami gangguan perkembangan yang baru
terlihat ketika usianya mencapai 1 tahun. Dalam keadaan
normal, fenilalanin diubah menjadi tirosin dan dibuang dari
tubuh. Tanpa enzim tersebut, fenilalanin akan tertimbun di
dalam darah dan merupakan racun bagi otak. Fenilketonuria
pada wanita hamil memberikan dampak yang besar terhadap
janin

yang

dikandungnya,

yaitu

menyebabkan

keterbelakangan mental dan fisik.


Gejala pada anak-anak yang menderita fenilketonuria
yang tidak diobati atau tidak terdiagnosis adalah: kejang,

32

mual dan muntah, perilaku agresif atau melukai diri sendiri,


hiperaktif, dan gejala psikis (kadang-kadang).
Secara umum gejala ringan maupun

berat

dari

Fenilketonuria antara lain: pada saat bayi baru lahir biasanya


tidak ditemukan gejala. Kadang bayi tampak mengantuk atau
tidak mau makan, kejang, tremor. Bayi cenderung memiliki
kulit, rambut dan mata yang berwarna lebih terang
dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya yang tidak
menderita penyakit ini. Beberapa bayi mengalami ruam kulit,
perilaku autis dan gangguan pemusatan perhatian serta
hiperaktivitas dan pertumbuhan terhambat. Bayi terlahir
dengan kepala yang kecil (mikrosefalus) dan penyakit
jantung. Jika tidak diobati, bayi akan segera mengalami
keterbelakangan mental, yang sifatnya biasanya berat.
Dengan mencegah terjadinya keterbelakangan mental,
pada minggu pertama kehidupan bayi, asupan fenilalanin
harus dibatasi. Pembatasan yang dimulai sedini mungkin dan
terlaksana

dengan

baik,

memungkinkan

terjadinya

perkembangan yang normal dan mencegah kerusakan otak.


Jika pembatasan ini tidak dapat dipertahankan, maka anak
akan mengalami kesulitan di sekolah. Pembatasan yang
dimulai setelah anak berumur 2-3 tahun hanya bisa
mengendalikan hiperaktivitas
Pembatasan

asupan

yang

fenilalanin

berat dan kejang.


sebaiknya

dilakukan

sepanjang hidup penderita. Jika selama hamil dilakukan


pengawasan ketat terhadap kadar fenilalanin pada ibu,
biasanya bayi yang lahir akan normal. Pengobatan meliputi
pembatasan asupan fenilalanin. Phenylketonuria (PKU),
asupan makanan anak harus rendah kadar phenylalanine, dan
selalu harus dilakukan monitoring kadar phenylalanine darah.
Pengobatan Fenilketonuria adalah diet ketat dengan sangat
terbatas asupan fenilalanin, yang kebanyakan ditemukan

32

dalam makanan yang kaya protein. Jumlah yang aman


fenilalanin berbeda untuk setiap orang.
2.2.5. Hubungan Bayi Baru Lahir dengan Fisika Kesehatan

Bayi memasuki suasana yang jauh lebih dingin pada saat


kelahiran, dengan suhu kamar bersalin 21C yang sangat berbeda
dengan suhu dalam kandungan, yaitu 37,7C. Ini menyebabkan
pendinginan cepat pada bayi saat cairan amnion menguap dari kulit.
Setiap mili liter penguapan tersebut memindahkan 560 kalori
panas. Perbandingan antara area permukaan dan masa tubuh bayi yang
luas menyebabkan kehilangan panas yang cepat, khususnya dari
kepala, yang menyusun 25% masa tubuh.
Penurunan suhu bayi sampai di bawah normal tersebut dinamakan
hipotermia. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 C (Suhu
axila). Gejala awal hipotermi adalah suhu bayi <36 C atau kedua
kaki dan tangan bayi dingin. Hipotermi terbagi atas: hipotermi ringan
(cold stres) yaitu suhu antara 36-36,5 C, hipotermi sedang yaitu
antara 32-36C, dan hipotermi berat yaitu suhu tubuh <32 C.
Hipotermia dapat terjadi dengan cepat pada bayi yang sangat kecil
serta bayi yang diresusitasi atau dipisahkan dari ibu, dalam kasuskasus ini suhu dapat cepat turun sampai <35C, diperlukan termometer
ukuran rendah (low reading thermometer ) yang dapat mengukur
sampai 25 C untuk mengukur suhunya. ( Sarwono, 2006 : 288).
Penyebab terjadinya hipotermi pada BBL di masa perinatal yaitu:
a. bayi baru lahir tidak mempunyai respon menggigil pada reaksi
b.
c.
d.
e.
f.
g.

kedinginan
asfiksia yang hebat
resusitasi yang ekstensif
lambat sewaktu mengeringkan bayi
distress pernapasan
sepsis
bayi prematur atau bayi kecilmemiliki cadangan glukosa yang

sedikit
h. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan
sempurna
i. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas

32

j. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakainnya agar dia
tidak kedinginan
k. Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan,
seperti lingkungan dingin, basah, atau bayi yang telanjang,cold
linen, selama perjalanan dan beberapa keadaan seperti mandi,
pengambilan sampel darah, pemberian infus, serta pembedahan,
peningkatan aliran udara dan penguapan.
l. Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh
yang relatif luas, kurang lemak.
m. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti
defisiensi brown fat, misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran,
kerusakan sistem syaraf pusat sehubungan dengan anoksia, intra
kranial hemorrhage, hipoksia, dan hipoglikemia.
Menurut ( Yunanto, 2008:44 ) BBL dapat mengalami hipotermi
melalui beberapa mekanisme, yang berkaitan dengan kemampuan
tubuh untuk menjaga keseimbanganantara produksi panas dan
kehilangan panas yaitu:
1. Penurunan produksi panas.
Hal ini disebabkan kegagalan sistem endokrin dan terjadi
penurunan basal metabolisme tubuh, sehingga timbul proses
penurunan produksi panas, misalnya pada keadaan disfungsi
kelenjar tiroid, adrenal ataupun pituitari.
2. Peningkatan panas yang hilang
Terjadi bila panas tubuh berpindah ke lingkungan sekitar, dan
tubuh kehilangan panas. Adapun mekanisme tubuh kehilangan
panas dapat terjadi secara:
a. Konduksi
Perpindahan panas yang terjadi sebagai akibat perbedan suhu
antara kedua obyek. Kehilangan panas terjadi saat terjadi
kontak langsung antara kulit BBL dengan permukaan yang
lebih dingin. Sumber kehilangan panas terjadipada BBL yang
berada pada permukaan/alas yang dingin, seperti pada waktu
proses penimbangan.
b. Konveksi
Transfer panas terjadi secara sederhana dari selisih suhu antara
permukaankulit bayi dan aliran udara yang dingin di
32

permukaan tubuh bayi. Sumber kehilangan panas disini dapat


berupa: inkubator dengan jendela yang terbuka,atau pada
waktu proses transportasi BBL ke rumah sakit.
c. Radiasi
Perpindahan suhu dari suatu objek yang dingin, misalnya dari
bayi dengan suhu yang hangat dikelilingi lingkungan yang
lebih dingin. Sumber kehilangan panas dapat berupa suhu
lingkungan yang dingin atau suhu inkubator yang dingin.
d. Evaporasi
Panas terbuang akibat penguapan, melalui permukaan kulit dan
traktus repiratoris. Sumber kehilangan panas dapat berupa
BBL yang basah setelah lahir,atau pada waktu dimandikan.
3. Kegagalan Termoregulasi
Kegagalan termoregulasi secara umum disebabkan kegagalan
hipotalamus dalam menjalankan fungsinya dikarenakan berbagai
penyebab. Keadaan hipoksia post partum, paparan obat prenatal
(analgesik/anestesi) dapat menekan respons neurologik bayi dalam
mempertahankan suhu tubuhnya. Bayi sepsis akan mengalami
masalah dalam pengaturan suhu dapat menjadi hipotermi atau
hipertermi.
Salah satu penanganan kehilanganpanas (hipotermi) adalah
dengan melakukan inisiasi menyusu dini (IMD). (IMD) bukan
program ibu menyusui bayi, tetapi bayi yang harus aktif
menemukan sendiri puting susu ibu. Caranya, dengan mengenakan
popok dan tutup kepala pada bayi yang baru lahir. Kemudian, bayi
diletakkan di antara payudara ibu dan ditutupi baju ibu yang
berfungsi sebagai kantung kanguru. Posisi bayi tegak ketika ibu
berdiri atau duduk,dan tengkurap atau miring ketika ibu berbaring.
Hal ini dilakukan sepanjang hari oleh ibu atau pengganti ibu (ayah
atau anggota keluarga lain).
IMD harus dilakukan langsungsaat lahir, tanpa boleh ditunda
dengan kegiatan menimbang, memandikan, mengukur atau
pemberian vitamin K dan obat tetes mata. Bayi tidak boleh
dibersihkan, hanya boleh dikeringkan kecuali tangannya.Biarkan

32

bayi di dada ibu selama satu jam bahkan sampai dapat menyusu
sendiri.
Terjadinya peningkatan suhu pada bayi disebabkan oleh karena
kulit bayi menempel pada kulit ibu sehingga terjadi konduksi,
yaitu perpindahan panas dari ibu ke bayi. Selain karena adanya
konduksi, juga karena pada saat bayi diletakkan di dada ibu, ia
bergerak merangkak sambil mencari putting susu. Adanya gerakan
ini dapat merangsang produksi panas sehingga susunan saraf pusat
akan menstimulasi saraf simpatis untuk menggunakan cadangan
lemak coklat yang merupakan sumber panas pada bayi. (Chair,
2007; Christesnsson, Bhat, Amadi, Eriksson, &Hojer, 1998;
Ludington-Hoe &Golant, 1993). Oleh karena itu, proses ini harus
berlangsung skinto skin antara bayi dan ibu.
Pada saat ibu bersalin, salah satu factor yang berperan adalah
tenaga. Tenaga yang digunakan pada saat ibu bersalin meningkat
sehingga terjadi peningkatan laju metabolism. Peningkatan laju
metabolisme ini membuat susunan saraf pusat menstimuli saraf
simpatis untuk menggunakan cadangan makanan atau lemak untuk
diubah menjadi energi. Hal ini menyebabkan suhu tubuh ibu
meningkat. (Bobak, Lowdermilk, & Jensen, 1999/ 2005). Hal ini
membuat kulit ibu bersalin dapat berfungsi sebagai incubator
alami, karena kulit ibu bersalin lebih hangat dari pada kulit ibu
yang tidak bersalin.Hal ini dikarenakan kulit dada ibu yang
melahirkan meningkat kira-kira satu derajat lebih panas dari ibu
yang tidak melahirkan.
Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama merangkak
mencari payudara. Kulit ibu memiliki kemampuan untuk
menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi
(thermoregulator, thermal synchrony).Jika bayi kedinginan, suhu
kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi.
Jadi Secara otomatis dapat mempengaruhi suhu bayi baru lahir
yang rentan mengalami kehilangan panas. Hal Ini berarti
dengancara IMD, resiko kehilangan panas (hipotermi) pada bayi
32

baru lahir yang bisa menimbulkan kematian dapat dikurangi, dan


interaksi ibu-bayi akan membuat bayi merasa nyaman dan aman,
serta meningkatkan perkembanganpsikomotor bayi sebagai reaksi
rangsangan sensoris dari ibu ke bayi.

32

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Pada dasarnya bayi baru lahir memiliki mekanisme adaptasi fisiologis
dan mengalami perubahan pada system pernapasan, system sirkulasi, system
termoregulasi, system metabolism, gastrointestinal, dan imunitas serta dapat
ditinjau dari berbagai aspek kajian ilmu dalam kebidanan yang mencakup
biokimia, fisika kesehatan, mikrobiologi, bioreproduksi, dan anatomi
fisiologi yang implementasinya dapat kami ringkas sebagai berikut.
Pada biokimia, dijelaskan bahwa bayi yang sehat memiliki mekanisme
penyimpanan glukosa menjadi bentuk glikogen di dalam hati. Selain
itu, bayi juga dilahirkan dengan beberapa kemampuan melawan infeksi.
Kemampuan tersebut didapat dari ibu melalui plasenta sejak masih
berada di dalam kandungan.
Pada aspek fisika kesehatan, bayi dapat mengalami defisiensi suhu
tubuh yang hebat yang biasanya disebut dengan hipotermi. Kondisi
seperti ini dapat diatasi melalui mekanisme IMD (Inisiasi Menyusui
Dini) oleh ibu yang dapat menstabilkan suhu tubuh bayi menjadi
normal serta merangsang pengeluaran ASI.
Pada anatomi fisiologi, bayi mempunyai mekanisme adaptasi fisiologis
yang diwujudkan dalam perubahan pada system-sistem tubuhnya untuk
menyesuaikan dengan suhu ekstra-uterine (di luar rahim).
Pada aspek bioreproduksi, bayi mengalami perubahan pada system
reproduksinya. Pada bayi baru lahir wanita, perubahan terjadi pada
ovarium di mana mengandung sel-sel germinal primitive, labia mayor
dan labia minor berkembang, peningkatan kadar estrogen yang tersisa
di tubuh ibu menyebabkan keluarnya cairan dari vagina bayi baru lahir
yang berlendir putih dan kental serta kadang disertai dengan bercak
darah (pseudomenstruasi). Pada bayi laki-laki, sebagai respon terhadap
estrogen ibunya, bayi baru lahir laki-laki dapat dijumpai ukuran
genetalia eksernal dan pigmentasi yang meningkat.
Pada aspek mikrobiologi, bayi rentan terhadap serangan infeksi. Infeksi
pada neonates dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
32

infeksi berat (sifilis congenital, meningitis pneumonia, diare

apedemic)
infeksi ringan (infeksi pada kulit, infeksi umbilicus, oftalmia
neonatorum)

3.2

Saran
Mengingat manfaat dan luasnya bidang integritas dari kajian bayi baru
lahir terhadap bidang ilmu biomekanika, fisika kesehatan, bioreproduksi,
mikrobiologi, serta anatomi fisiologi, maka sebagai mahasiswa mampu
memahami lebih dalam mengenai bayi baru lahir.Semoga makalah ini dapat
dijadikan sebagai refrensi serta menambah wawasan bagi para pembaca
tentang mekanisme persalinan serta penulisan dokumentasi persalinan dan
diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca maupun penulis.

32

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, Fraser. 2009. Buku Ajar Bidan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Maryunani, Anik. 2008. Asuhan Bayi Baru Lahir Normal (Asuhan Neonatal).
Jakarta: TIM.
Deslidel, dkk. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Gabriel. J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Ambar Dwi Erawati. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan Normal. 2010.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Muslihatun,wafi nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Fitramaya
Sudarti. 2010. Kelainan dan Penyakit Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta: Nuha
Medika
http://zezyliaflorena22.blogspot.com/2013/04/tugas-asuhan-neonatuskelainan.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2014 pukul 09.15 WIB
http://bidanku.com/inisiasi-dini-sesaat-bayi-lahir. Diakses pada tanggal 5
Desember 2014 pukul 09.45 WIB
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/07/hipotermi-pada-bayi-baru-lahirdan.html. Diakses pada tanggal 5 Desember 2014 pukul 10.05 WIB
http://endriyanieli.blogspot.com/2013/11/perubahan-fsiologis-pada-bayi-barulahir.html. Diakses pada tanggal 5 Desember 2014 pukul 10.00 WIB

32