Anda di halaman 1dari 24

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

BAB VII
ANALISA STRUKTUR
7.1.

ANALISA STRUKTUR BENDUNG (WEIR)

7.1.1. Analisa Pembebanan


Analisis stabilitas merupakan perhitungan stabilitas bangunan berdasarkan pada jenis bahan
bangunan serta geologi bangunan tersebut ditempatkan. Stabilitas suatu bangunan ditentukan
oleh kondisi tanah yang menahan beban bangunan tersebut. Kemampuan tanah dalam
memikul bangunan diatasnya tergantung pada sifat, jenis dan pengaruh terhadap gaya luar.
Analisis stabilitas pelimpah ditentukan oleh gaya-gaya yang bekerja pada bangunan
pelimpah antara lain (KP-02, 1986):
1. Tekanan air
a. Tekanan hidrostatik
Tekanan hidrostatik adalah fungsi kedalaman di bawah permukaan air. Persamaan
yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):

Ph

. w . H 2

dengan :
Ph
= tekanan hidrostatik (t/m)
w
= berat volume air (t/m3)
H
= tinggi air (m)
Titik berat gaya pada 1 H (m)
3

b.

Tekanan hidrodinamik
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
7
Pd
w H 2 Kh
12
dengan :
Pd
= tekanan hidrostatik (t/m)
w
= berat volume air (t/m3)
H
= tinggi air (m)
Kh
= koefisien gempa
Titik berat gaya pada

2.

(m)

Tekanan tanah
a. Tekanan tanah aktif
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
1
Pa H 2 t Ka
2
dengan:
Pa
= Tekanan tanah aktif (t/m)
t
= Berat volume tanah (t/m3)
Ka
= Koefisien tekanan tanah aktif
H
= kedalaman tanah untuk tekanan tanah aktif (m)
Titik berat gaya pada 13 H (m)
b.

Tekanan tanah pasif

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-1

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
1
Pp H 2 t Kp
2
dengan:
Pa
= Tekanan tanah aktif (t/m)
t
= Berat volume tanah (t/m3)
Ka
= Koefisien tekanan tanah pasif
H
= kedalaman tanah untuk tekanan tanah pasif (m)
Titik berat gaya pada 3 H (m)
c. Tekanan sedimen/Lumpur
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
1
Ps s w Cs H 2
2
dengan:
Ps
= Tekanan sedimen (t/m)
s
= Berat volume sedimen (t/m3)
Cs
= Koefisien tekanan tanah
H= kedalaman air(m)
1

Titik berat gaya pada


3.

H (m)

Beban mati
Beban mati adalah berat sendiri dari struktur termasuk material pengisinya. Menurut
Standar nasional Indonesia, berat satuan dari berbagai material diuraikan sebagai
berikut:
Tabel 7.1 Berat Satuan Material
No
Jenis Material
Berat Satuan (t/m3)
1
Baja
7.85
2
Batu galian, batu kali (tidak dipadatkan)
1.50
3
Batu koral
7.25
4
Besi tuang
0.70
5
Beton
2.20
6
Beton bertulang
2.40
7
Kayu kelas I
1.00
8
Kayu kelas II
0.80
9
Kerikil
1.65
10 Mortal/adukan
2.15
11 Pasangan Bata
1.70
12 Pasangan batu
2.20
13 Pasir (kering udara sampai lengas)
1.60
14 Pasir (basah)
1.80
15 Air
1.00
16 Tanah lempung dan lanau (kering udara sampai lengas)
1.70
17 Tanah lempung dan lanau (basah)
2.00
Sumber : KP - 06
a.

Berat bangunan
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
Wt W1 W2 . . . Wn
W V p

dengan:
Wt
= Berat bangunan total (t)
CV. ALAM SEJAHTERA

VII-2

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


W1, W2, . . . ,Wn = Berat bagian-bagian bangunan (t)
V
= Volume bangunan (m3)
p
= Berat volume bangunan (t/m3)
b.
Berat air
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
Ww V w
dengan:
Ww
= Berat air (t)
V
= Volume air (m3)
w
= Berat volume air (t/m3)
4.

Beban gempa
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-06, 1986):
kw kh . W

dengan:
kw = Gaya gempa (t)
kh = Koefisien gempa
W = Berat bangunan (t)
5. Gaya tekan ke atas (Uplift)
Akibat bangunan bendung terendam di air, maka akan mendapatkan gaya angkat ke atas
yang akan mengurangi berat efektif bangunan itu sendiri. Rumus gaya tekan ke atas
untuk bangunan yang didirikan pada pondasi batuan adalah :
Px = Hx dengan :
Px
:
L
:
Lx
:
H
:
Hx
:

Lx
H
L

Gaya angkat pada titik x (kg/m2)


Panjang total bidang kontak bendung dan tanah bawah (m)
Jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai titik x (m)
Beda tinggi energi
Tinggi energi dihulu bendung (m)

7.1.2. Perhitungan Rembesan


Untuk menghitung tekanan air tanah dihitung dengan menganalisa jalur rembesan dengan
menggunakan metode Lane yang juga disebut angka rembesan lane (weighted creep ratio
method). Angka rembesan menurut lane adalah (KP-02, 1986):
1
Lv Lh
3
CL
H
dengan :
Lv = panjang rembesan arah vertikal (m),
Lh = panjang rembesan arah horizontal (m),
H = perbedaan tinggi air hulu dan hilir (m),
CL = angka rembesan menurut Lane.
dan
P = H H
dengan :
P
= tinggi tekanan air pada titik X (m),
H
= jarak jalur rembesan pada titik X ( m),
CV. ALAM SEJAHTERA

VII-3

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


H

= beda tinggi energi (m).

Tabel 7.2 Harga-harga minimum angka rembesan Lane (Cl)


No
Uraian
Minimum Angka Rembesan Lane
1
Pasir sangat halus atau lanau
8.50
2
Pasir halus
7.00
3
Pasir sedang
6.00
4
Pasir kasar
5.00
5
Kerikil halus
4.00
6
Kerikil Sedang
3.50
7
Kerikil kasar termasuk berakal
3.00
8
Bongkah dengan sedikit berakal dan kerikil
2.50
9
Lempung lunak
3.00
10
Lempung sedang
2.00
11
Lempung keras
1.80
12
Lempung sangat keras
1.60
Sumber : Kriteria Perencanaan 02, 1986
7.1.3. Stabilitas Bendung
1. Stabilitas terhadap gaya guling
Persamaan yang digunakan sebagai berikut (KP-02, 1986):
Keadaan Normal:

SF

Mt
1.50
Mg

Keadaan Gempa:

SF

Mt
1.30
Mg

dengan:
SF
= faktor keamanan
Mt = jumlah momen tahan (tm)
Mg = jumlah momen guling (tm)
2. Stabilitas terhadap gaya geser
Persamaan yang dipakai adalah (KP-02, 1986):
f . V c . A
SF
H
(2-79)
dengan :
SF
= faktor keamanan,
f
= koefisien geser,
V
= jumlah gaya vertikal (ton),
H
= jumlah gaya horizontal (ton),
c
= kohesi (t/m)
A
= Luas bidang dasar pondasi (m2)
3. Stabilitas terhadap daya dukung tanah
CV. ALAM SEJAHTERA

VII-4

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Persamaan yang dipakai adalah :
Eksentrisitas :
e

max

M L
V 2
V 1 6e

dengan:
max =
M
V

daya dukung maksimum (t/m2),


= Mh Mv (tm),
= jumlah gaya-gaya vertikal (ton),
= daya dukung yang diijinkan (t/m2),
= eksentrisitas akibat beban yang bekerja (m).

7.1.4. Hasil Perhitungan Stabilitas Bendung


1. Rembesan pada Pelimpah
Tabel 7.3 Perhitungan rembesan pada keadaan muka air normal
Titik

Garis

Lv (m)

Panjang Rembesan
Lh (m)
L

Lw (m)

H
m

H
m
2.500

P=H-dH
m
2.500

A
A-B

0.900

0.000

B-C

0.000

0.500

B
C
C-D

0.500

0.000

D-E

0.000

7.150

E-F

0.600

0.000

F-G

0.000

2.000

G-H

1.000

0.000

D
E
F
G
H
H-I

0.000

1.500

I-J

1.000

0.000

J-K

0.000

5.440

I
J
K
K-L

0.300

0.000

L-M

0.000

0.500

L
M
4.300

17.090

0.900

0.900

0.522

3.400

2.878

0.167

1.067

0.619

3.400

2.781

0.500

1.567

0.909

2.900

1.991

2.383

3.950

2.292

2.900

0.608

0.600

4.550

2.640

3.500

0.860

0.667

5.217

3.027

3.500

0.473

1.000

6.217

3.607

4.500

0.893

0.500

6.717

3.897

4.500

0.603

1.000

7.717

4.477

5.500

1.023

1.813

9.530

5.529

5.500

-0.029

0.300

9.830

5.703

5.800

0.097

0.167
9.997

9.997

5.800

5.800

0.000

Tabel 7.4 Perhitungan rembesan pada keadaan muka air banjir


Titik

Garis

Lv (m)

CV. ALAM SEJAHTERA

Panjang Rembesan
Lh (m)
L

Lw (m)

H
m

H
m

P=H-dH
m

VII-5

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


A
A-B

0.900

0.000

B-C

0.000

0.500

B
C
C-D

0.500

0.000

D-E

0.000

7.150

E-F

0.600

0.000

D
E
F
F-G

0.000

2.000

G-H

1.000

0.000

H-I

0.000

1.500

I-J

1.000

0.000

J-K

0.000

5.440

G
H
I
J
K
K-L

0.300

0.000

L-M

0.000

0.500

L
M
4.300

17.090

4.860

4.860

0.900

0.900

0.522

5.760

5.238

0.167

1.067

0.619

5.760

5.141

0.500

1.567

0.909

5.260

4.351

2.383

3.950

2.292

5.260

2.968

0.600

4.550

2.640

5.860

3.220

0.667

5.217

3.027

5.860

2.833

1.000

6.217

3.607

6.860

3.253

0.500

6.717

3.897

6.860

2.963

1.000

7.717

4.477

7.860

3.383

1.813

9.530

5.529

7.860

2.331

0.300

9.830

5.703

8.160

2.457

0.167
9.997

9.997

5.800

8.160

2.360

Sumber : Hasil Perhitungan


Berdasarkan hasil perhitungan rembesan pada tabel 4.23 s/d 4.24 didapatkan nilai:
Lv
= 4.30
Lh
= 17.09
1/3Lh = 5.70
H
= 5.80
Sehingga :
4.30 5.70
CL
1.72
5.80
Dari tabel 2.6 diketahui bahwa harga minimum angka rembesan lane untuk jenis tanah lempung
keras = 1.60 sedangkan hasil perhitungan didapatkan nilai lebih besar yakni 2.0 sehingga dapat
disimpulkan bangunan pelimpah aman terhadap rembesan.

2. Stabilitas Konstruksi Bendung


Perhitungan stabilitas pelimpah ditinjau dalam dua keadaan yakni keadaan muka air
normal (MAN) dan muka air banjir (MAB). Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-6

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Tabel 7.5 Rekapitulasi Analisa Stabilitas Bendung PLTM Batu Bedil
No
1

Kondisi
Kosong Tanpa Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser
c. Daya Dukung (t/m2)
Kosong Dengan Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser
c. Daya Dukung (t/m2)
Muka Air Normal Tanpa Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser

c. Daya Dukung (t/m2)


4 Muka Air Normal Dengan Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser
c. Daya Dukung (t/m2)
5 Muka Air Banjir Tanpa Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser
c. Daya Dukung (t/m2)
6 Muka Air Banjir Dengan Gempa
a. Terhadap Guling
b. Terhadap Geser
c. Daya Dukung (t/m2)
Sumber: Hasil Perhitungan

Angka Keamanan
Hitung
SF

Ket

15.97
2.96
5.07

1.50
1.50
40.00

AMAN
AMAN
AMAN

7.28
17.53
7.79

1.30
1.30
40.00

AMAN
AMAN
AMAN

4.67
12.14

1.50
1.50

AMAN
AMAN

8.53

40.00

AMAN

2.66
4.93
10.74

1.30
1.30
40.00

AMAN
AMAN
AMAN

2.04
1.38
7.64

1.30
1.30
40.00

AMAN
AMAN
AMAN

2.66
5.28
10.74

1.10
1.10
40.00

AMAN
AMAN
AMAN

Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa bangunan aman jika ditinjau dalam keadaan
kosong, normal maupun banjir terhadap gaya geser, guling dan daya dukung tanah.

7.2.

ANALISA STRUKTUR SALURAN (HEADRACE)


Headrace direncanakan sebagai saluran terbuka berpenampang segi empat dengan aliran
bebas. Alur headrace dipilih berdasarkan kondisi topografi dan mempertahankan kebutuhan
beda tinggi. Konstruksi saluran direncanakan dari Beton bertulang. Untuk meningkatkan

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-7

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


stabilitas sisi kiri dan kanan headrace ditimbun kembali sampai permukaan saluran dan
perkuatan tebing dengan kontruksi bronjong.
0.20

0.20

3.00

0.32

0.32

2.18

2.18

0.25
0.10

Gambar 7.1 Potongan Melintang Saluran

12 - 150

12 - 150

10 - 150

10 - 150

12 - 150

12 - 150

10 - 150

10 - 150

10 - 150

12 - 150

Gambar 7.2 Detail Penulangan Saluran


Perhitungan detail penulangan saluran dapat dilihat pada lampiran.

7.3.

ANALISA STRUKTUR BAK PENENANG (HEAD POND)


Head pond direncanakan dengan struktur beton bertulang yang dimaksudkan untuk
mengurangi kecepatan aliran dari headrace sebelum masuk ke penstock. Head pond

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-8

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


dilengkapi dengan trashrack untuk menghalangi benda masuk kedalam turbin, serta penguras
yang dilengkapi dengan valve untuk membuang sedimen yang terkumpul.

P in tu U li r B = 1.00 m

15.00

0.80

0.50

Tra srac k Ve rtikal

P in tu U li r B = 0.60 m
P in tu P en ga mb il an 1 .6 0 x 1.60

5.64

Gambar 7.3 Denah Head Pond

5.79

+17 0.680

1. 90

0. 30

12.91

+16 8.470

0.40

22.57

15.00

Trasrack Vertikal

0.50

Pintu Ulir B = 0.60 m


0.60

P ip a Pe ns to ck d ia. 2.30
Pintu Pengambilan
1.60 x 1.60

5.79

5.64

+16 3.380

2.30

6.6312.91

10.00

Pintu Ulir B = 1.00 m


0.80

1.90

0.30

+170.680

+168.470

10.00

0.40

6.63

+163.380

2.30

0.40

Pipa Penstock dia. 2.30

22.57

0.40

Gambar 7.4 Potongan Melintang Head Pond


Hasil perhitungan struktur bak penenang dapat dilihat pada lampiran.

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-9

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

0.40

1.00

3.60

0.80

1.00

3.60

12

12

12

12

12 - 150

12 - 150
12 - 200

10.00

12 - 200

12 - 200

12 - 200

12 - 150

12 - 150

Detail B-B
12 - 200

12

0.40

12

12

12 - 200

9.00

0.50 0.90 0.50

0.50 0.90 0.55

1.00

12 - 200
0 .80

12 - 150
4 .40

+183.440

0 .60

3 .23

12 - 200
12 - 200
12 - 150

1 .00

+181.820
0 .79

+181.420
12 - 200

0.92
3 .05

0.80

Detail A-A

2 .06

Detail B-B

Gambar 7.5 Detail Penulangan Bak Penenang (Head Pond)

7.4.

ANALISA STRUKTUR SANDARAN PIPA PESAT (PENSTOCK)

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-10

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Tumpuan pipa pesat, baik pondasi anchor block, saddle support, berfungsi untuk mengikat
dan menahan penstock. Hasil Perhitungan dapat dilihat pada lampiran.

2.30
3.20

2.30

2.30

2.30

0.20

0.60

Beton K 125 Pelapis Penstock

2.30

0.30

2.90

2.30
0.30

0.20

0.30

Lantai Kerja t = 0.1 m

12 - 200

12 - 200

12 - 200
12 - 200
12 - 200
2.30

12 - 200

DETAIL TULANGAN MEMANJANG SIPON

POT A-A

Gambar 7.6 Detail Penulangan Sandaran Pipa Pesat (Penstock)

7.5.

ANALISA STRUKTUR GEDUNG PEMBANGKIT (POWER HOUSE)

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-11

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Kriteria bangunan yang dicantumkan dalam laporan ini merupakan struktur bangunan gedung
pembangkit (Power House). Analisis yang dilakukan terdiri dari dua bagian yaitu struktur rangka
baja untuk atap dan struktur beton untuk perhitungan balok, kolom dan pondasi.
Analisa perancangan struktur gedung didasarkan pada pedoman SNI 03-2847-2002 tentang Tata
Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung sedangkan analisa perancangan stuktur
rangka atap berpedoman pada SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Stuktur Baja
Untuk Bangunan Gedung.
7.5.1. Analisa Pembebanan
Analisa pembebanan dalam perancangan struktur gedung didasarkan pada pedoman
pembebanan Indonesia untuk gedung 1983 ( PPIUG ) menentukan bahwa struktur gedung
harus direncanakan kekuatannya terhadap pembebanan yang diakibatkan oleh beban-beban
berikut :
1.Beban Mati adalah berat dari semua bagian struktur gedung yang bersifat tetap, termasuk
segala unsur tambahan dan peralatan tetap yang tak terpisahkan dari struktur gedung
tersebut.
2.Beban Hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu
gedung dan kedalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barangbarang yang dapat berpindah. Menurut tabel 3.1 PPIUG ( 1983 ), beban hidup untuk
lantai sekolah atau ruang kuliah dan kantor sebesar 250 Kg/m 2
3.Beban Angin adalah semua beban yang bekerja pada struktur gedung atau bagian struktur
gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Berdasarkan pasal 4.4 PPIUG
(1983) menyatakan bahwa untuk gedung tertutup dan rumah tinggal yang tingginya tidak
lebih dari 16 meter dengan lantai dan dinding yang memberikan kekuatan yang cukup,
struktur utamanya tidak perlu diperhitungkan terhadap beban angin.
4.Beban Gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada struktur gedung
yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa. Dalam hal ini mengikuti
peraturan perencanaan Tahap Gempa Indonesia untuk Gedung 1983.
7.5.2. Kondisi Perencanaan
A. Beban Terfaktor
Beban rencana atau beban terfaktor didapatkan dengan mengalikan beban kerja dengan
faktor beban dan kemudian digunakan subkrip sebagai penunjuknya. Besarnya faktor beban
berbeda untuk beban mati (D) , hidup (L), dan gempa (E). Berdasarkan DSK SNI T-15-199103 pasal 3.2.2. maka kekuatan yang diperlukan (U) untuk menahan beban-beban tersebut
adalah :
U = 1,2 D + 1,6 L
Pada lokasi dimana ketahan struktur terhadap gempa harus diperhitungkan dalam
perancangan, maka berlaku :
U = 1,05 ( D + LR E )
U = 0,9 ( D E )
Nilai-nilai U tersebut tidak diperkenankan lebih besar dari pada nilai yang didapat dari
persamaan U = 1,2 D + 1,6 L

B. Faktor Reduksi Kekuatan


CV. ALAM SEJAHTERA

VII-12

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Konsep keamanan lapis kedua adalah reduksi kapasitas teoritik komponen struktur dengan
menggunakan faktor reduksi kekuatan dalam menentukan kuat rencana. Pemakaian faktor
reduksi dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan penyimpangan terhadap
kekuatan bahan, pengerjaan ketidaktepatan ukuran, pengadukan dan pengawasan
pelaksanaan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.2.3 memberikan faktor reduksi kekuatan untuk
berbagai mekanisme, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Lentur tanpa beban


= 0,80
Geser dan putir..
= 0,60
Tarik aksial,tanpa dengan lentur
= 0,80
Tekan aksial, tanpa dengan lentur dengan tulangan spiral.
= 0,70
Tumpuan pada beton .
= 0,70
Untuk beton bertulang simetris yang membebani gaya aksial rendah, nilai boleh
ditingkatkan dari 0,65 menjadi 0,08

7.5.3. Asumsi Perencanaan


Dalam menghitung struktur terhadap beban lentur atau aksial atau kombinasi dari beban
lentur dan aksial, asumsi dalam perancangannya sebagai berikut :
1. Regangan dalam tulang dan beton harus diasumsikan berbanding langsung dengan
jarak dari sumbu netral.
2. Regangan maksimum yang dapat digunakan pada serat beton terluar harus disumsikan
sama dengan 0,003.
3. Tegangan dalam tulang di bawah kuat leleh yang ditentukan oleh fly untuk mutu
tulangan yang digunakan harus diambil lebih besar dari regangan yang diberikan fly,
tegangan pada tulangan harus dianggap tidak tergantung pada regangan dan sama
dengan fly.
4. Kekuatan tarik beton diabaikan dan tidak digunakan dalam hitungan.
5. Hubungan antara distribusi tegangan tekan beton dan regangan beton dianggap
berbentuk persegi yang dapat didefinisikan sebagai berikut :
a. Tegangan beton sebesar 0,85 fc harus diasumsikan terdistribusi secara merata pada
daerah tekan ekivalen yang dibatasi oleh tiap penumpang dan suatu garis lurus
yang sejajar dengan sumbu netral sejarak a = LC dari serat dengan regangan tekan
maksimum.
b. Jarak c dari serat dengan tegangan maksimum ke sumbu netral harus diukur dalam
arah tegak lurus terhadap sumbu tersebut.
c. Faktor 1 harus diambil sebesar 0,85 untuk kuat tekan beton fc hingga atau sama
dengan Mpa, 1 harus direduksi secara menerus sebesar 0,008 untuk setiap
kelebihan 1 Mpa diatas 30 Mpa, tetapi tidak boleh diambil kurang dari 0,65
ketentuan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jika fc 30 Mpa
: 1 = 0,85
Jika 30 Mpa fc Mpa
: 1 = 0,85-0,008 ( fc-30 )
Jika fc 55 Mpa
: 1 = 0,65

7.5.4. Analisa Struktur Atap dan Beton Bertulang

a. Struktur Rangka Atap


CV. ALAM SEJAHTERA

VII-13

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


Struktur Tekan
Kuat tekan komponen struktur ditentukan oleh :
a. Bahan (tegangan leleh, tegangan sisa dan modulus elastis).
b. Geometri (penampang, panjang komponen, dan kondisi ujung serta penopang).
c. Kondisi batas (batas kekuatan dan batas kestabilan).
Kondisi tekuk/batas kestabilan perlu memperhitungkan :
a. Tekuk lokal elemen pelat
b. Tekuk lentur
c. Tekuk torsi atau kombinasi lentur dan torsi
Kemungkinan-kemungkinan kondisi batas :
a. Tercapainya batas kekuatan (komponen struktur mencapai tegangan leleh tanpa masalah
kestabilan dan berdasarkan kekuatan penampang.
b. Komponen struktur mengalami tekuk lentur inelastis (hasil test distandarisasi dengan
persamaan interpolasi dan dipengaruhi oleh tegangan sisa dan ketidaksempurnaan awal),
dan
c. Komponen struktur mengalami tekuk lentur elastik (berdasarkan persamaan kestabilan
Euler dan dipengaruhi oleh ketidaksempurnaan awal).
Lk
Kelangsingan komponen struktur tekan =
200, sedangkan elemen penampang
rmin
(lihat Tabel 7.5-1, SNI 03-1729-2002) < r, dimana r min = jari-jari girasi minimum =

I min
.
A
Standar Perencanaan Struktur Tekan
Kriteria perencanaan komponen struktur tekan menurut konsep LRFD di SNI Baja.
Nu n Nn
Keterangan :
n
=
faktor reduksi kekuatan
fy
Nn
=
kuat tekan nominal = Ag . fcr =

faktor tekuk yang ditentukan berdasarkan :


Lk f y
c
.r E
c 0.25

=1
1.43
0.25 < c < 1.20

=
1.6 0.67. c

c 1.20

= 1.25 c

Struktur Tarik
Untuk komponen struktur tarik kondisi batas kekuatan yang berpengaruh dapat berupa :
a. Pelelehan penampang brutto (Ag) pada tempat yang jauh dari titik sambungan.
CV. ALAM SEJAHTERA

VII-14

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


b. Retakan penampang efektif (Ae) pada sambungan, luas efektif Ae = U. An dan U = faktor
x
reduksi = 1, dimana x = jarak dari centroid ke bidang transfer, dan l = panjang
l
sambungan.
Untuk komponen struktur tarik dengan lubang (baut), penampang yang direduksi desebut
sebagai luas netto (An) dimana 0.85 Ag An Ag.
Kelangsingan struktur tarik =

L
240 untuk struktur utama, dan
r
= jari-jari girasi minimum =

I min
.
A

Dalam SNI baja, kelangsingan tidak secara eksplisit dinotasikan sebagai =

L
, di
r

L
300 untuk struktur sekunder, dimana r
r

min

Indonesia notasi r dapat juga dinotasikan sebagai i = jar-jari inersia =

I
A

Standar Perencanaan Struktur Tarik


Kriteria perencanaan komponen struktur tekan menurut konsep LRFD di SNI Baja.
Nu Nn
Nn adalah kuat tarik rencana yang besarnya diambil sebagai nilai terendah diantara dua
perhitungan menggunakan harga-harga dan Nn di bawah ini.
Kondisi leleh :

=
0.90
Nn
=
Ag. fy
Kondisi retak :

=
0.75
Nn
=
Ae. Fu
Keterangan :
Ag
=
luas penampang brutto, mm2
Ae
=
luas penampang efektif, mm2
fy
=
tegangan leleh, Mpa
Fu
=
tegangan tarik putus, Mpa

b. Struktur Plat
Petak plat biasanya dibatasi oleh balok anak pada kedua sisi panjang dan oleh balok induk
pada kedua sisi pendek kecuali untuk jenis plat lain. Apabila plat didukung sepanjang
keempat sisinya seperti diatas dinamakan plat dua arah, dimana lenturan akan timbul 2 arah
yang saling tegak lurus. Namun apabila perbandingan sisi panjang terhadap ini pendek
yang saling tegak lurus besar dari 2, maka plat dapat dianggap hanya bekerja sebagai plat 1
arah dengan lenturan utama pada sisi yang lebih pendek. Serviceability system lantai dapat
dipertahankan dengan mengontrol defleksi dan terak. Karena defleksi merupakan fungsi
kekuatan plat sebagai ukuran ketebalannya, maka harus ada ketebalan minimum yang tidak
tergantung pada persyaratan untuk lentur. SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.2.5 memberikan
pendekatan empiris mengenai batasan defleksi. Dengan mensyaratkan tebal minimum plat
yaitu tebal total tidak boleh berkurang dari kedua harga dibawah ini :

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-15

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

dan tidak perlu lebih dari:

Dalam segala hal tebal minimum plat tidak boleh kurang dari harga berikut :
untuk m < 2.0 = 120 mm
untuk m < 2.0 = 90 mm

c. Struktur Balok
1.

Perencanaan Dimensi Balok


Ukuran-ukuran yang ekonomis untuk sebuah balok empat persegi tak dapat
ditentukan secara tepat. SK SNI T-15-1991-03 memberikan ketebalan minimum,
balok non pratekan bila lendutan tak dihitung. Secara umum ukuran cukup
diperkirakan :
h = 1/15.Ln ~ 1/10.Ln .
h = 1/2 h ~ 2/3.h

2.

Pembatasan Tulang Tarik


Keruntuhan pada beton mendadak, karena beton adalah material getas. Dengan
demikian hampir semua peraturan perencanaan merenkomendasikan perencanaan
balok dengan tulang bersifat under-reinforced untuk memberikan peringatan yang
cukup seperti defleksi yang berlebihan sebelum terjadinya keruntuhan. SK SNI T15-1991-03 pasal 3.3.3. menetapkan bahwa jumlah baja tarik boleh melebihi 0,75
jumlah tulang baja tarik yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan.

maks = 0,75 b
Akan tetapi untuk tujuan praktis, angka tulangan ( As/bd ) diharapkan tidak
melebihi 0,5 b untuk menghindari tulangan yang selalu rapat, juga agar beton
dapat dengan mudah dicor. SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.5. juga menetapkan
tulangan minimum sebesar :
min = 1,4 / fy.

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-16

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

3.

Balok Bertulang Tunggal


Dalam desain dan analisis balok dengan tulangan tarik saja penampangnya secara
teoritis seperti pada gambar 3.1 agar keseimbangannya gaya horizontal terpenuhi,
gaya tekan Dc pada beton gaya tarik Ts baja harus saling mengimbangi.
Cc = 0,85 . fc . b . a
Ts = As . fy
0
,
8
5

c= 0,003

C
h

A
s
b

f
y

Dengan lengan momen (d-a/2) yaitu jarak antara gaya tarik dan tekan yang membentuk
kopel, maka momen tahanan nominal penampang :
Mn = 0,85 . fc . b . a . ( d-a/2 )
Mn = As . fy ( d-a/2 )
Jadi langkah-langkah dalam perancangan balok bertulang tunggal adalah sebagai berikut :
Hitung d dan Mn
Hitung a dari persamaan Mn = 0,85 . fc . b . a . ( d-a/2 )
Hitung
Hitung maks dengan persamaan min = 0,75 b
Jika < maks , hitung luas tulang tarik
As = . b . d

6. Pilih tulangan jika pada pemasangannya lebih dari satu baris, maka kekuatannya
(perasamaan Mn = As.fy. (d-a/2)) perlu dihitung dengan nilai a dan d yang baru.

d. Struktur Kolom
1. Eksentrisitas Minimum
Dalam kenyataannya, unsur struktur tekan pada rangka struktur dengan beban aksial
murni ( e = 0 ) merupakan hal yang sangat mustahil. Umumnya kolom memikul beban
aksial dan momen yang dapat ditimbulkan oleh kekangan ujung akibat pengecoran yang
monolit dengan balok-balok lantai atau karena ketidaktepatan letak ukuran kolom, beban
yang tidak simetris akibat perbedaan tebal plat disekitar kolom atau karena
ketidaksempurnaan lainnya. Apabila menurut hitungan suatu kolom secara teoritik hanya
mendukung gaya aksial sentries, eksentrisitas tambahan tetap harus diperhitungkan SK
SNI T-15-1991-03 sub-sub 3.3.11 butir 5.4 menetapkan eksentrisitas minimum sebesar :
e min = 15 + 0,03 . h
CV. ALAM SEJAHTERA

S
Gambar 7.7 Distribusi Tegangan dan Regangan Balok
Bertulang Tunggal

1.
2.
3.
4.
5.

VII-17

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

2. Panjang Tekuk Kolom


Panjang tekuk kolom adalah panjang bebas/tak tertumpu kolom antara plat lantai atau
balok-balok diujungnya dikalikan dengan suatu faktor panjang efektif ( k ) yang
besarnya
a. K > 1 untuk kolom tanpa pengaku ( unbreaced )
b. K untuk kolom dengan pengaku ( breaced )
Faktor panjang efektif merupakan fungsi dari faktor kekangan ujung atas ( A ) dan
bawah ( B ) faktor kekangan ujung tersebut dihitung dengan persamaan-persamaan
berikut :
Ec = 4.700 fc
Ig = 1/12.b.h3
1,2 MD
d =
1,2 MD + 1,6 ML
Ec . Ig
EI

=
2,5 ( I + d )

Es
n

=
Ec
n x As

2 x bw x d

y =

bxw

n x As

EI

Kolom

Lu

Ec.Icr

Balok

Ln

Selanjutnya nilai dari faktor panjang efektif ( k ) dapat diperoleh dari nomogram pada
gambar 9.23 ( Dispohusodo ) dengan memasukkan nilai keterangan ujung atas dan bawah.
Kemudian memasukkan nilai kekekangan ujung atas dan bawah. Kemudian menarik garis
lurus yang melewati titik-titik ( A ) dan ( B ) sehingga didapat nilai k dari perpotongan
garis lurus tersebut.
3. Pengaruh Kelangsingan
Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03 sub-sub 3.3.11 butir 4, pengaruh kelangsingan pada
kolom boleh diabaikan apabila :
a. Untuk komponen struktur yang ditahan terhadap goyangan kesamping :
K.Lu

<

32-12

CV. ALAM SEJAHTERA

M1
M2b

VII-18

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


b. Untuk komponen struktur yang tidak ditahan terhadap goyangan kesamping :

Untuk mendapat jari-jari girasi ( r ) dapat ditentukan sebagai berikut :


a. Untuk kolom persegi
h2

Ig
y =

= 0,288 h ~ 0,3 h

Ag

12

b. Untuk kolom bundar


1/64..h2
r

= 0,25 h

1/4..h

4. Kekuatan Kolom Panjang ( Langsing )


Semakin lanGsing atau semakin mudah komponen struktur tekan melentur akan mengalami
fenomena tekuk. Untuk mencegah tekuk yang tidak dikehendaki, perlu terhadap reaksi
reduksi kekuatan yang harus diberikan dalam perhitungan struktur kolom. Kolom lansing
yang menahan kombinasi beban aksial dengan lentur akan mendapatkan momen lentur
tambahan (Momen Sekunder) akibat P dan mengalami deformasi kearah lateral pada
penampang yang ditinjau. Dengan demikian jumlah momen menjadi Pu.e - Pu. dan
selanjutnya tinjauan kekuatan didasarkan pada momen yang sudah diperbesar yang
dinyatakan sebagai :
1
Mc

b. M2b + s. Ms

=
Pu

Cm

b =
Pu
1

Pc

Pc

dan

2. EI
Pc

=
(k. Lu)2

e. Struktur Pondasi
1.
Tekanan Dukung Tanah pada Dasar Pondasi
Tanah dibawah pondasi dianggap merupakan material elastis homogen dan pondasinya
dianggap kaku. Dengan demikian tekanan dukung tanah dapat dipandang terdistribusi
merata apabila beban reaksinya mempunyai titik tangkap yang melalui sumbu plat pondasi.
Apabila bebannya tidak melalui sumbu tersebut, atau tidak bekerja secara simetris maka
distribusi tekanan tanah akan berbentuk trapezaoid sebagai akibat kombinasi momen lentur
dan gaya aksial.

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-19

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

L
/
6
L
/
6

B
/
6

B
/
6

(a)

(b)
a
b
Gambar 7.8 Diagram Tekanan dukung tanah akibat beban

)
) tekanan tarik
Jika dari kombinasi tersebut bebannya
masih didalam bidang (e<L/6), maka
pada salahsatu sisi seperti yang terlihat pada gambar (a).
P
=

6.E
.

B.L

)
L

Apabila beban yang bekerja diluar bidang ke ( e<L/6), maka akan ada tekanan tarik pada
salah satu sisi pondasi seperti yang diperlihatkan pada gambar (b) dengan demikian tekan
yang didukung tanah maksimal yang terjadi :
2P
maks =
3 . B(L/2 - e)

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-20

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

2.
Kapasitas Geser Pondasi Telapak
Perancangan pondasi yang bekerja pada 2 arah didasarkan pada nilai kuat geser Vn yang
ditentukan tidak boleh lebih Vc apabila dipasang penulangan geser. Dari ketentuan SK
SNI T 15 1991-03, Vc ditentukan nilai terkecil dari :
2
Vc

.2.

fc' . bo . d

c
Vc

4.

fc' . bo . d

Penggunaan tulangan geser didalam pondasi tidak disarankan karena kurang praktis,
terutama berkaitan dengan kesulitan pemasangan disamping lebih praktis untuk
menambah ketebalan pondasi sedikit saja. Umumnya perencanaan kuat geser pondasi
telapak didasarkan sepenuhnya pada kuat geser beton saja.
Perilaku pondasi telapak yang bekerja satu arah dapat disamakan dengan balok atau plat
dengan penulangan satu arah. SK.SNI T 15 1991 03 menentukan bahwa penampang
kritis geser ditempat yang berjarak sama dengan tinggi efektif dari muka beben terpusat
atau bidang reaksi. Sama seperti halnya pada balok, kuat geser betonnya sama.

7.5.5. Hasil Perhitungan


A.

Perhitungan Rangka Atap


Perencanaan bangunan atap power house menggunakan rangka atap baja dengan bentang
kuda-kuda induk 7.5 m. Perencanaan meliputi perhitungan dimensi gording dan dimensi
batang rangka baja. Adapun rekap perhitungan struktur atap dijelaskan sebagai berikut:
1.

Dimensi Gording

2.

Dimensi Batang:

: C 100.50.20.4,5

- Batang atas
: 2 L 50.50.5
- Batang Bawah : 2 L 50.50.5
- Batang Diagonal : 2 L 50.50.5
3.

Plat Kopel

: 2 L 65.65.7

4.

Perletakan

- Perletakan sendi : 15 x 15 x 0.9


- Perletakan rol
: 15 x 15 x 0.9

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-21

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

F
D
2.17

B
E

7.50
1.87

1.25

1.25

Gambar 7.9 Potongan Melintang Kuda-Kuda bentang 7.5 m


KUDA-KUDA BENTANG 7.5 M
Multi roof

Gording Kanal 100.50.20.4,5

usuk 5/7
2L 50.50.5

2L 50.50.5
2L 50.50.5
Plat t = 8 mm
Plat t = 8 mm

0.50

2L 50.50.5

0.300.40 0.30

Baut 1/2 "

Angker 19 mm

0.50

0.50

2L 50.50.5
Baut 3/4"

0.300.40 0.30 0.300.40 0.30

Baut 1/2 "

DETAIL A

DETAIL E
BUBUNGAN

Gording Kanal 100.50.20.4,5


usuk 5/7
Multi roof

2L 50.50.5

Plat t = 8 mm

Baut 1/2 "


2L 50.50.5

2L 50.50.5

DETAIL F

Gambar 7.10 Detail rangka baja kuda-kuda


CV. ALAM SEJAHTERA

VII-22

Feasibility Study PLTM Batu Bedil


B.

Perhitungan Struktur Beton Bertulang


Perencanaan struktur beton pada power house meliputi perencanaan balok, kolom dan
pondasi. Adapun rekap hasil perhitungan dijelaskan sebagai berikut:
1.

Dimensi Balok :
-

bxh
bentang
tul. pokok
tul. sengkang

2.

: 30 x 50 cm
: 500 cm
: 16 mm
: 10 - 200 mm

Dimensi Kolom
-

bxh
bentang
tul. pokok
tul. sengkang

3.

: 35 x 45 cm
: 700 cm
: 16 mm
: 10 - 200 mm

Pondasi
bxh
: 150 x 150 cm
tul. pokok
: 16 mm
tul. sengkang : 10 150 mm
Kedalaman pondasi : 1.50 m

+137.800

R esapan

+139.800

RUANG ADMINIS TRASI

RUANG KONTROL

+139.800

DAPUR
Septitank

KM/ WC

Denah 7.11 Denah Power House

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-23

Feasibility Study PLTM Batu Bedil

B 20x30
K 30x30

B 30x40

B 20x30
K 30x30

B 30x40
I

1.50

5.00

K 30x30

B 30x40

K 35x45

K 35x45

1.50

B 20x30

K 35x45

5.00

K 35x45

5.00

5.00

Gambar 7.12 Potongan Memanjang Penulangan Power House


0.30
0.30

0.30
0.30

4D16
4D16

2D16
2D16

0.45

0.30

0.40
0.40

0.35

0.40
0.40
0.30

D10-250

D10-250

8D16

2D16
2D16

POTONGANF-F
F-F
POTONGAN

10D19

4D16
4D16

POTONGAN H-H

POTONGAN I-I

POTONGANG-G
G-G
POTONGAN

D16-125

1.50

0.15
0.30

D16-125

1.50
1.50

Gambar 7.13 Detail Penulangan Power House

CV. ALAM SEJAHTERA

VII-24