Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

REAKSI KIMIA PADA SIKLUS LOGAM TEMBAGA

OLEH:
ROSANTI S.T MBATU
1408105057
KELOMPOK 8B

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

REAKSI KIMIA PADA SIKLUS LOGAM TEMBAGA

I.

Tujuan Percobaan
Mempelajari perubahan kimia yang terjadi pada siklus logam Cu.

II.

Dasar Teori
Tembaga adalah logam cokelat kemerahan yang lunak, dapat ditempa dan liat.

Melebur pada 1038oC. Karena potensial elektrode standarnya positif, tidak larut dalam
asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen bisa larut
sedikit. Tembaga yang terdapat di bumi ini tidak melimpah (55 ppm) namun
terdistribusi secara luas sebagai logam dalam sulfida, arsenida, klorida dan
karbonat. Mineral yang

paling

umum

adalah

chalcopyrite CuFeS2.

Tembaga

diekstraksi dengan pemanggangan dan peleburan oksidatif atau dengan pencucian


dengan bantuan mikroba, yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat kimiawi.
Tembaga ditemukan sebagai Cu+ dan Cu2+.
Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga termasuk ke dalam
golongan IB. Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama
sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak
reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama. Tembaga adalah logam
berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut
dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga
tembaga larut dalam HNO3. Senyawa tembaga (I) stabil dalam larutan air bila keadaan
tembaga (I) mengalami disproporsionasi dalam alrutan air dan bila konsentrasi dari
tembaga tersebut sangat rendah.
Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling
aktif. Cu+ mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku).
Hal ini bukan berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai
pada keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu+)
cukup banyak pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab
konsentrasinya harus sekitar duajuta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi
akan menajdi sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat
yang sedikit larut atau ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I)
menjadi mantap. Ditinjau dari struktur elektron yang lebih stabil adalah Cu+, karena

elektronnya terisi penuh, sedangkan untuk ion Cu2+tidak stabil karena orbital tidak
terisi penuh elektron.
Tembaga dalam jumlah yang kecil esensial bagi kehidupan, tetapi akan bersifat
racun dalam jumlah yang besar, terutama bagi bakteri, alga, dan fungi. Diantara
banyak senyawa tembaga yang digunakan sebagai pestisida adalah asetat basa,
karbonat, klorida, hidroksida, dan sulfat. Secara komersil senyawa tembaga yang
terpenting adalah CuSO4.5H2O. Selain dalam bidang pertanian, CuSO4 juga
digunakan untuk baterai dan penyepuhan, pembuatan garam tembaga yang lain,
perminyakan, karet, dan industri baja.
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan
berubahnya suatu zat menjadi zat lain. Semua materi selalu mengalami perubahan.
Perubahan itulah yang disebut perubahan kimia dimana terjadi reaksi di dalamnya
yang kemudian kita kenal dengan reaksi kimia. Zat yang mengalami perubahan
disebut zat pereaksi (reaktan) dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi (produk).
Kehidupan di dunia tidak lepas dari perubahan kimia.
Beberapa jenis reaksi kimia antara lain:
1. Pembakaran adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa bergabung
dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana.
2. Penggabungan (sintetis) suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks
terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa).
3. Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat yang lebih
sederhana.
4. Penggantian (Perpindahan tanggal) adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur
pindahan unsur lain dalam suatu senyawa.
5. Metatesis (pemindahan tanggal) adalah suatu reaksi dimana terjadi pertukaran
antara dua reaksi.
6. Penetralan (reaksi asam basa) : reaksi antara asam yang membentuk garam atau air
7. Pengendapan : reaksi yang umumnya terjadi pada larutan dengan ciri terbentuknya
produk yang tak larut.
8. Redoks : reaksi reduksi dan oksidasi.
Secara umum ada beberapa peristiwa yang menandai adanya perubahan kimia,
yaitu:
1. Habisnya zat yang bereaksi

2. Timbulnya gas
3. Terjadi perubahan warna
4. Timbul endapan
5. Terjadi perubahan suhu
6. Tercium adanya bau yang baru
Faktorfaktor ini digunakan untuk menunjukkan apakah suatu reaksi kimia telah terjadi
atau tidak.
Hubungan mol dengan massa zat:
Massa satu mol zat sama dengan massa atom relatif/massa molekul relative
dalam gram. Rumus mol suatu unsur/ senyawa dirumuskan sebagai berikut:
Untuk

unsur:
n=

m
atau m = n x Ar
Ar

n=

m
atau m = n x Mr
Mr

Untuk senyawa:

Keterangan:
n = mol unsur/senyawa
m = massa unsur/senyawa
Ar = massa atom relative
Mr = massa molekul relative

Hubungan mol dengan volume:


Volume merupakan ukuran besarnya ruang yang ditempati oleh suatu zat yang
dilambangkan (V) dengan satuan liter (L). Avogadro menyatakan bahwa volume
setiap mol gas pada suhu 0C (273K) dan tekanan 1 atm (76 cmHg) mempunyai
volume 22,4 liter. Sehingga kondisi tersebut dinamakan sebagai keadaan standar/STP
(Standard Temperature and Pressure) yang dituliskan dengan (0C, 1 atm). Hubungan
volume gas dengan mol dapat dituliskan sebagai berikut:

V = n x 22,4 atau n =

v
22,4

Keterangan:
V = volume gas STP
n = mol unsur/senyawa
Volume gas untuk keadaan tidak STP, maka dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:

Keterangan:
P = tekanan gas (atm)
V = volume gas (liter)
n = mol gas (mol)
R = tetapan gas (0,082 L atm/mol K)
T = temperatur (K)
Bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitaif unsur dalam suatu peristiwa
atau reaksi disebut Stoikiometri (bahasa Yunani : Stoichea = unsur , metrain =
mengukur), jadi Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan
kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Pada persamaan reaksi kimia berlaku
Hukum Kekelan Massa, yang dikemukakan oleh Lavoiser. Pada tahun 1774 ia
melakukan penelitian dengan memanaskan timah dengan oksigen dalam wadah
tertutup. Dengan mengamati secara teliti, ia berhasil membuktikan bahwa dalam
reaksi itu tidak terjadi perubahan massa. Hukum Kekelan Massa itu menyatakan
bahwa setiap reaksi kimia, massa zatzat setelah bereaksi adalah sama dengan zat
sebelum bereaksi.

III.

Alat dan Bahan


Alat:
1. Gelas kimia
2. Gelas ukur
3. Gelas arloji
4. Batang pengaduk (spatula)
5. Pipet tetes
6. Steambath (pemanas)
7. Botol semprot
8. Cawan penguap
9. Penjepit
10. Neraca analitik
11. Gunting
Bahan:
1. Logam Cu 0,2 gram
2. 2,5 ml larutan HNO3 4M
3. 7 ml larutan NaOH 1M
4. 2 ml larutan H2SO4 2M
5. Logam Zn 0,2 gram
6. Air suling

IV.

Cara Kerja
Langkah 1: Reaksi antara logam Cu dan asam nitrat
1. Logam Cu ditimbang sebanyak 0,2 gram.
2. Logam Cu digunting kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam gelas
kimia 250 ml.

Logam Cu

Gelas kimia 250 ml

3. Sebanyak 2,5 ml larutan HNO3 dituangkan ke dalam gelas kimia yang berisi
logam Cu.

Gelas beker yang


berisi 2,5 ml HNO3
4M

Logam Cu dalam gelas


beker yang dicampurkan
dengan 2,5 ml larutan
HNO3 4M
4. Gelas kimia ditutup dengan gelas arloji dan sesekali digoyangkan.
Ditutup dengan gelas arloji

Larutan HNO3

Logam Cu

5. Kemudian disimpan selama kurang lebih satu minggu lalu diamati


perubahan kimia yang terjadi.

Langkah II: Penambahan larutan NaOH


1. Sebanyak 7 ml larutan NaOH 1M ditambahkan ke dalam gelas kimia yang
berisi larutan Cu(NO3)2 dari hasil percobaan langkah I dengan hati-hati
sambil diaduk.

Sambil diaduk
menggunakan
pengaduk

Larutan 7
NaOH 1M

Larutan
Cu(NO3)2
berwarna biru
bening

ml

Langkah III: Pemanasan


1. Sebanyak 50 ml air suling ditambahkan ke dalam gelas kimia di atas.

Sambil tetap
diaduk
menggunakan
pengaduk

Air suling 50
ml.

Larutan
Cu(OH)2
berwarna biru pekat

2. Gelas kimia beserta isinya dipanaskan, dimana selama pemanasan larutan


tetap diaduk secara perlahan-lahan. Pemanasan dilanjutkan sampai
mendidih dan tidak terjadi perubahan yang dapat diamati lagi.

Sambil diaduk

Larutan
Cu(OH)2 yang
dipanaskan

Pemanas

3. Setelah mendidih, pemanas dimatikan, lalu didinginkan selama kurang lebih


5 menit.

4. Pengaduk dikeluarkan dari larutan lalu disemprot dengan aquades untuk


melepaskan partikel-partikel yang melekat

5. Setelah kurang lebih l5 menit, cairan bening dituangkan ke dalam gelas


kimia terpisah (dekantasi) dengan hati-hati agar padatan yang ada tidak ikut
tertuang.

Dekantasi
Endapan CuO berwarna
hitam

Cairan bening

6. Hasil padatan dalam gelas kimia dicuci dengan ditambahkan 50 ml air


suling, kemudian zat padat dibiarkan mengendap.

Air suling 50 ml

Endapan CuO

7. Proses pencucian dan dekantasi diulangi sekali lagi.


8. Hasilnya disimpan untuk pengerjaan berikutnya.

Langkah IV: Penambahan larutan H2SO4


1. Pada endapan CuO, ditambahkan 2 ml larutan H2SO4 2M, kemudian
diaduk sampai tidak terlihat lagi perubahan yang dapat diamati lagi.
2 ml larutan
H2SO4 2M

Diaduk

Endapan CuO

2. Larutan ini disimpan untuk langkah berikutnya.

Langkah V: Penambahan logam Zn


1. Logam Zn sebanyak kurang lebih 0,2 gram ditambahkan ke dalam gelas
kimia di atas yang berisi larutan CuSO4. Lalu gelas kimia ditutup dengan
gelas arloji dan sesekali gelas kimia digoyangkan.
Ditutup dengan
kaca arloji

Logam Zn

Digoyangkan
Larutan CuSO4
berwarna biru

Larutan
Zn+CuSO4

2. Reaksi kimia dibiarkan berlangsung hingga Zn habis bereaksi.


3. Hasil percobaan disimpan untuk percobaan berikutnya.

Langkah VI: Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)


1. Cairan bening dalam gelas kimia didekantasi dari padatannya.

Padatan
Cu
berwarna merah
bata

Cairan bening

2. Hasil dicuci dengan 50 ml air suling, padatannya dibiarkan mengendap.

Kemudian didekantasi kembali. Pencucian dan proses dekantasi dilakukan


dua kali.

Air suling 25 ml

Air suling dan endapan Cu

3. Cawan penguap yang bersih ditimbang dan dicatat massanya.

Cawan Penguap / Kaca Arloji


Timbangan

4. Padatan dalam gelas kimia dituang ke dalam cawan penguap kemudian

dikeringkan hasilnya dengan cara cawan penguap dipanaskan di atas


steambath. Lalu cawan penguap beserta isinya ditimbang dan dicatat
massanya.
Padatan
Cu
berwarna merah
bata

Padatan Cu

Cawan penguap

Padatan
Cawan Penguap

Air
suling

Timbangan

5. Massa Cu dan rendemennya dihitung.

V.

Data Pengamatan
1. Langkah 1: Reaksi antara logam Cu dan asam nitrat
Sebelum reaksi:
No.

Logam Cu

Pengamatan

1.

Wujud

Padat

2.

Warna

Cokelat kemerahan

3.

Bentuk

Lempengan pipih yang dipotong kecil-kecil

4.

Massa

0,2 gram

No.

Larutan HNO3

Pengamatan

1.

Wujud

Cair

2.

Warna

Bening

3.

Bentuk

Larutan

4.

Volume

2,5 ml

5.

Konsentrasi

4M

Setelah reaksi:
No.

3Cu + 8HNO3 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O

Pengamatan

1.

Warna

Biru bening

2.

Adanya bau

Ada

3.

Adanya gas peningkatan suhu

Tidak terjadi

4.

Adanya gas

Ada (gas NO)

5.

Adanya gelembung

Ada

6.

Endapan

Tidak ada

7.

Zat yang bereaksi

Keping Cu habis bereaksi

2. Langkah II : Penambahan larutan NaOH


Sebelum reaksi:
No.

Larutan NaOH

Pengamatan

1.

Wujud

Cair

2.

Warna

Bening

3.

Bentuk

Larutan

4.

Volume

7 ml

5.

Konsentrasi

1M

Setelah reaksi:
No.

Cu(NO3)2 + 2NaOH Cu(OH)2 + 2NaNO3

Pengamatan

1.

Warna

Biru pekat

2.

Adanya gas

Tidak ada

3.

Endapan

Ada

4.

Gelembung

Tidak ada

5.

Zat yang bereaksi

Habis bereaksi

6.

Adanya bau

Tidak ada

7.

Peningkatan suhu

Tidak ada

3. Langkah III: Pemanasan


Cu(OH)2 CuO + H2O

No.
1.

Pengamatan
Biru bening biru susu

Warna larutan

hitam pekat
2.

Adanya gas

Ada

3.

Endapan

Ada

(Endapan

berwarna hitam)
4.

Gelembung

Ada

5.

Zat yang bereaksi

Habis bereaksi

6.

Adanya bau

Tidak ada

7.

Peningkatan suhu

Meningkat

8.

Warna endapan

Hitam

4. Langkah IV: Penambahan larutan H2SO4

Sebelum reaksi:
No.

Larutan H2SO4

Pengamatan

1.

Wujud

Cair

2.

Warna

Bening

3.

Bentuk

Larutan

4.

Volume

2 ml

CuO

5.

Konsentrasi

2M

Sesudah reaksi:
CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O

No.

Pengamatan

1.

Warna larutan

Biru bening

2.

Adanya gas

Tidak ada

3.

Endapan

Tidak ada

4.

Zat yang bereaksi

Habis bereaksi

5.

Adanya bau

Tidak ada

6.

Gelembung

Tidak ada

7.

Peningkatan suhu

Tidak ada

1. Langkah V: Penambahan logam Zn


CuSO4 + Zn Cu + ZnSO4

No.

Pengamatan

1.

Warna larutan

Biru bening

2.

Warna endapan

Merah bata

3.

Bau

Tidak ada

4.

Adanya gas

Tidak ada

5.

Endapan

Ada

6.

Zat yang bereaksi

Habis bereaksi

7.

Peningkatan suhu

Tidak ada

2. Langkah VI: Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)


No.

Recovery Cu

Pengamatan

1.

Wujud

Padat

2.

Warna

Cokelat kemerahan

3.

Bentuk

Butiran (serbuk)

4.

Massa

0,1278 gram

VI.

Pembahasan
Pada percobaan kali ini digunakan beberapa zat untuk mengetahui adanya

suatu reaksi kimia, yaitu logam Cu, larutan HNO3, larutan NaOH, larutan H2SO4, dan
logam Zn.
1. Langkah 1: Reaksi antara logam Cu dan asam nitrat
Pada percobaan ini terjadi reaksi antara logam Cu dan larutan HNO3 sesuai
persamaan reaksi dibawah ini :
3 + 4H+ + NO3- NO + 2H2O
Cu Cu2+ + 2

(x2)
(x3)

6 + 8H+ + 2NO3- 2NO + 4H2O


3Cu 3Cu2+ + 6
3Cu + 8H+ + 2NO3- 2NO + 4H2O
Menjadi : 3Cu(s) + 8HNO3(aq) 3Cu(NO3)2(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)
Massa logam Cu = 0,2 gram

Mol HNO3 =
Konsentrasi HNO3 = 4 M.
Volume HNO3

Dalam percobaan ini, larutan HNO3 yang ditambahkan ke dalam gelas kimia yang
berisi logam Cu 0,2 gram yang berbentuk pipih dan dipotong kecil-kecil adalah
sebanyak 2 ml. Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa setelah penambahan larutan
HNO3 sebanyak 2 ml reaksi kimia telah berlangsung. Hal tersebut dapat diamati dari
adanya gelembung-gelembung gas yang berwarna kuning, yaitu gas NO yang beracun,
adanya perubahan warna larutan HNO3 dari bening menjadi biru, dan logam Cu
menghilang karena habis ketika bereaksi dengan larutan HNO3. Gas NO yang
terbentuk lama kelamaan akan menghilang seiring dengan habisnya Cu yang bereaksi.

2. Langkah 2 : Penambahan larutan NaOH


Reaksi yang terjadi pada langkah II:
Cu(NO3)2(aq) + NaOH(aq) Cu(OH)2(s) + NaNO3(aq)
Menjadi : Cu(NO3)2(aq) + 2NaOH(aq) Cu(OH)2(s) + 2NaNO3(aq)
1

Keterangan :
Mol Cu = mol Cu(NO3)2 = 0,003 mol
Maka : mol NaOH =

2
x mol Cu(NO3)2
1
=

2
x 0,003 = 0,006 mol
1

Dengan 1 M NaOH maka volume NaOH yang dibutuhkan adalah:

Pada percobaan yang dilakukan, awalnya larutan NaOH ditambahkan sebanyak 6 ml,
tetapi dalam larutan tersebut belum terjadi reaksi kimia karena dapat diamati bahwa
warna larutan tersebut belum mengalami perubahan. Untuk mempercepat reaksi, maka
larutan NaOH ditambahkan lagi sebanyak 1 ml. Jadi larutan NaOH yang diperlukan
agar reaksi dapat berlangsung adalah sebanyak 7 ml. Hal ini dapat diamati dari
hilangnya Cu (Cu yang bereaksi telah terlarut), timbul endapan dan adanya perubahan
warna menjadi biru susu. Menghilangnya logam Cu disebabkan karena adanya reaksi
yang mengubah logam Cu menjadi endapan. Pada akhir langkah ini, logam Cu sebagai
senyawa Cu(OH)2.
3. Langkah III : Pemanasan
Pada percobaan III dilakukan pemanasan pada larutan tersebut dan dapat
diamati adanya perubahan warna menjadi hitam pekat pada larutan.
Persamaan reaksinya: Cu(OH)2(s) CuO(s) + H2O(l)

Selanjutnya dilakukan dekantasi sebanyak tiga kali dengan menambahkan air


suling sebanyak 50 ml kemudian biarkan zat padat mengendap. Endapan yang
dihasilkan merupakan CuO dengan warna hitam pekat, dan endapan terpisah dengan
cairan bening yaitu H2O. Proses pemanasan sangat mempengaruhi proses
pengendapan, karena semakin lama dilakukan pemanasan maka pengendapan akan
terlihat semakin jelas.

4. Langkah IV: Penambahan larutan H2SO4


Reaksi penambahan H2SO4 :
CuO(s) + H2SO4 (aq) CuSO4(aq) + H2O(l)
1

Molaritas H2SO4 = 2 M
Karena mol Cu = Cu(NO3)2 = CuO maka mol CuO = 0,003 mol.
Volume

H2SO4

Volume H2SO4 dibulatkan menjadi 2 ml.


Jadi penambahan H2SO4 ke dalam CuO = 2 ml.
Pada percobaan IV ditambahkan larutan H2SO4 sebanyak 2 ml pada larutan
sebelumnya. Dalam percobaan ini dapat diamati bahwa reaksi kimia berlangsung
dengan ditunjukkan oleh adanya perubahan suhu dan warna larutan menjadi biru
bening seperti semula dan logam Cu habis bereaksi. Logam Cu pada percobaan ini
telah bereaksi dengan H2SO4 dan membentuk larutan CuSO4 yang berwarna biru
bening.

5. Langkah V: Penambahan logam Zn


Reaksi kimia yang terjadi pada langkah V yaitu:
CuSO4(aq) + Zn(s) Cu(s) + ZnSO4(aq)
Mol Zn =
Massa Zn = mol x Ar Zn = 0,003 mol x 65 = 0,195 gram = 2 gram

Dalam percobaan ini dapat diamati timbulnya endapan Cu yang berwarna merah bata
berbentuk serbuk, dan larutan ZnSO4 menjadi berwarna bening.
6. Langkah VI: Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)
Untuk mendapatkan Cu kembali setelah dilakukan proses dekantasi dan memanaskan
endapan Cu pada steambath, maka dilanjutkan dengan penimbangan:
Massa cawan penguap + sampel = 38,9897 gram
Massa cawan penguap = 38,8619 gram
Maka massa padatan Cu sebenarnya:
38,9897 gram - 38,8619 gram = 0,1278 gram

Dan perhitungan rendemannya adalah :

Dalam percobaan ini massa Cu awal adalah 0,2 gram dan massa Cu akhir adalah
0,1278 gram. Selisih massa Cu adalah 0,0722 gram. Hal ini disebabkan karena tidak
semua logam Cu habis bereaksi, kesalahan saat dilakukan dekantasi atau pada saat
menuangkan endapan Cu ke cawan penguap. Kemungkinan endapan Cu masih banyak
yang tertinggal di pengaduk atau di dinding gelas beker sehingga saat ditimbang
terjadi selisih antara logam Cu di akhir dan diawal. Sehingga perhitungan
rendemennya kurang dari 100%.

7. Kesimpulan
1. Dalam percobaan tentang beberapa reaksi kimia dengan menggunakan siklus
tembaga (Cu), maka diperoleh beberapa kesimpulan tentang proses terjadinya reaksi
kimia yakni :
a. Habisnya zat yang bereaksi
b. Timbulnya gas
c. Terjadinya perubahan warna
d. Timbulnya endapan
e. Terciumnya adanya bau

2. Konsentrasi, luas permukaan suatu zat, suhu dan katalis merupakan faktor yang
mempengaruhi terjadinya sebuah reaksi kimia (contohnya adalah logam Cu yang
dipotong kecil-kecil untuk mempercepat proses reaksi kimia).
3. Proses dekantasi yang kurang teliti menyebabkan banyak zat yang terbuang atau
menempel pada alat. Adanya selisih dari hasil rendemen disebabkan oleh logam Cu
yang tidak habis saat terjadinya reaksi. Sehingga reaksi tidak berlangsung secara
sempurna.

8. Daftar Pustaka
Staf Kimia Dasar. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Jurusan Kimia
FMIPA, Universitas Udayana : Bukit Jimbaran, Bali
Tiopan. 2007. Kimia 3. Jakarta: Yudhistira
Ningsih, Sri Rahayu. 2004. Sains Kimia. Jakarta: Bumi Aksara.
Kulaururi Miftah. 2013. Reaksi Pada Siklus Logam Tembaga.
http://miftakulsururi.blogspot.com/2013/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html. 1
November 2014.

Anda mungkin juga menyukai