Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

Graves Disease

Nama : Retno Suci Fadhillah


Nim : 2010730090
Pembimbing : dr. Camelia Khairunnisa,Sp.PD

KEPANITERAAN KLINIK STASE INTERNA RSUD SEKARWANGI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014

I.

STATUS PASIEN

Identitas
Nama

: Ny. S

Umur

: 71 tahun

NRM

: 582583

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Nagrog 02/05 Cipetir Cibeber

Agama

: islam

Tgl masuk RS

: 10 November 2014

Anamnesis
Keluhan utama : Sesak 2 minggu SMRS.
Riwayat penyakit sekarang : sesak disertai batuk berdahak, dahak lebih banyak saat pagi hari
berwarna putih terkadang kekuningan, dahak lengket dan sulit keluar dan nyeri dada saat
menarik nafas. OS juga mengalami demam 3 hari , pusing (+) nyeri ulu hati (+) penurunan
nafsu makan (+) dan penurunan BB (+)
Riwayat penyakit dahulu : pasien pernah berobat OAT dengan suntik tetapi tidak tuntas
5 tahun yang lalu
3 bulan SMRS OS pernah dirawat dengan keluhan sesak.
Riwayat penyakit keluarga : cucu perempuan OS sering batuk-batuk dan berobat ke d okter
Spesialis paru.
Riwayat psikososial : OS tinggal bersama anak cucunya , OS merupakan seorang perokok
1 bungkus / hari selama 25 tahun tetapi sekarang sudah berhenti.
Riwayat pengobatan : belum pernah diobati sebelumnya.
Riwayat alergi : disangkal.
Pemeriksaan fisik
2

Keadaan umum : tampak sakit sedang.


Kesadaran : compos mentis.
Tanda vital
Suhu : 37,2C
TD : 150/90 mmHg
Nadi :7 8 kali / menit, kuat angkat, isi cukup, regular.
Pernapasan : 28 kali/ menit
Status generalis

Kepala : normochepal

Rambut : rambut hitam sedikit beruban, lurus, tipis, distribusi merata, tidak mudah
rontok.

Mata : alis hitam, tipis, madarosis (-/-), konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/- )
refleks pupil (+/+), pupil isokor, edema palpebra (-/-).

Hidung : normonasi (+/+), deviasi septum (-/-), konka hiperemis (-/-), sekret (-/-),
epistaksis (-/-), polip (-/-).

Telinga : normotia (+/+), sekret (-/-), serumen (-/-), nyeri tekan tragus (-/-).

Mulut : bibir kering (+), sianosis (-/-), stomatitis (-/-), lidah kotor (-), faring
hiperemis (-), tonsil hiperemis (-/-), besar tonsil T1/T1.

Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), massa (-).

Thorak :

Paru-paru:
-

Inspeksi : normochest, simetris (+), bagian dada tertinggal saat inspirasi (-/-)

Palpasi : vocal fremitus normal dikedua lapang paru.

Perkusi : sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : vesikuler (+/+), ronchi basah (+/+) ,wheezing (+/-).

Jantung:
-

Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra.


3

Perkusi : batas kanan jantung berada di ICS V parasternal kanan batas kiri
jantung berada di ICS V garis midclavicula sinistra.

Auskultasi : BJ I dan II normal, murmur (-), gallop (-).

Abdomen :
-

Inspeksi : perut datar, simetris, scar post op (-).

Auskultasi : bising usus (+) normal.

Palpasi : supel, massa (-), nyeri tekan epigastrium (+), hepatomegali (-),
splenomegali (-).

Perkusi : timpani keempat kuadaran.

Ekstremitas atas dan bawah


Atas

Bawah

CRT

< 2 detik

< 2 detik

Akral

Hangat (+),edema(-)

Hangat (+),edema(-)

Jari tabuh : (-)

Inguinal : tidak dilakukan.

Anus dan rectum : tidak dilakukan.

Genitalia : tidak dilakukan.

Resume : OS perempuan 71 th Sesak (+) 2 minggu SMRS, batuk berdahak (+), dahak lebih
banyak saat pagi hari berwarna putih terkadang kekuningan, nyeri dada saat menarik nafas
(+). demam 3 hari , pusing (+) nyeri ulu hati (+) penurunan nafsu makan (+)
penurunan BB (+). Riwayat pengobatan OAT katagori 2 tidak tuntas

dan

tahun yang lalu,

riwayat dirawat dengan keluhan sesak 3 bln yang lalu.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan

Nilai rujukan normal

Hasil pemeriksaan

Hb

12-14 (gr%)

8,1

Leukosit

4000-11000 mm3

4500

Trombosit

160.000-400.000

172.000

Hematokrit

40-45

46%

LED

3-12mm/jam

1 jam : 3mm /2Jam :7

GDS

< 180

78

Ureum

10-50

22

Kreatinin

0,5-1,9

0,59

SGOT

<21

31

SGPT

<22

14

Radiologi :

Ekspertise : Tb paru lama dengan kalsifikasi , emfisematous PPOK & penebalan pleura
bilateral

Diagnosis Banding : - TB paru BTA (?) kasus drop out lesi luas + Suspek MDR
- Penyakit Paru Obstruksi Kronik eksaserbasi
- Bronkiektasis

Rencana pemeriksaan : Kultur Sputum Suspek MDR


Penatalaksanaan :
-

OBH syr

Guaifenesin

Azytromisin

Inhalasi salmeterol

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI

Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi (ektasis)
dan distorsi bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik, persisten, atau
irreversibel. Bronkus yang terkena umumnya adalah bronkus kecil, sedangkan bronkus besar
umumnya jarang.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Pada penelitian terbaru ditemukan kasus bronkiektasis terjadi pada sekitar
110.000 penduduk di Amerika Serikat. Kelainan ini umumnya diderita oleh pasien
usia lanjut, dan kira-kira 2/3 dari mereka adalah wanita.

2.3 ETIOLOGI
Penyebab bronkiektasis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas.
Padakenyataannya kasus-kasus bronkiektasis dapat timbul secara kongenital
maupundidapat2. Bronkiektasis pada umumnya terjadi oleh karena obstruksi dan
inflamasi pada saluran napas. Obstruksi dan inflamasi bisa disebabkan oleh infeksi
akut tuberkulosis, adenovirus, measles, Mycobacterium avium, atau Aspergillus
fumigatus.
a. Kelainan congenital
Dalam hal ini bronkiektasis terjadi sejak individu masih dalam kandungan.
Faktor genetik atau faktor pertumbuhan dan perkembangan fetus memegang peran
7

penting. Bronkiektasis yang timbul kongenital ini mempunyai ciri sebagai berikut,
pertama, bronkiektasis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau
kedua paru. Kedua, bronkiektasis kongenital sering menyertai penyakit- penyakit
kongenital lainnya, misalnya: mukoviskidosis (cystic pulmonary fibrosis), sindrom
kartagener (bronkiektasis kongenital, sinusitis paranasal dan situs inversus), hipo
atau agamaglobulinemia, bronkiektasis pada anak kembar satu telur (anak yang satu
dengan bronkiektasis, ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis),
bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut: tidak adanya
tulang rawan bronkus, penyakit jantung bawaan, kifoskoliosis kongenital.
b. Bronkiektasis didapat
Bronkiektasis sering merupakan kelainan didapat dan kebanyakan merupakan
akibat proses berikut:
* Infeksi
Bronkiektasis sering terjadi sesudah seseorang anak menderita pneumonia
yang sering kambuh dan berlangsung lama. Pneumonia ini umumnya merupakan
komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak, tuberkulosis paru,
dan sebagainya.
* Obstruksi bronkus
Obstruksi bronkus yang dimaksudkan disini dapat disebabkan oleh berbagai
macam sebab: korpus alineum, karsinoma bronkus atau tekanan dari luar lainnya
terhadap bronkus. Menurut penelitian para ahli diketahui bahwa adanya infeksi
ataupun obstruksi bronkus tidak selalu secara nyata menimbulka bronkiektasis. Oleh

karenanya diduga mungkin masih ada faktor intrinsik ikut berperan terhadap
timbulnya bronkiektasis.

2.4 PATOFISIOLOGI
Dilatasi

bronchial

pada bronkiektasis diakibatkan adanya destruksi dan

inflamasi pada dinding bronkus ukuran sedang, biasanya pada bagian bronkus
segmental atau subsegmental. Proses inflamasi pada saluran napas, terutama dimediasi
oleh neutrofil, sehingga menyebabkan meningkatnya kerja enzim elastase dan
metalloproteinase matriks. Komponen struktur dinding saluran napas normal yang
terdiri atas kartilago, otot, dan jaringan elastik, mengalami kerusakan dan digantikan
oleh jaringan ikat/fibrosa. Pada dinding saluran napas yang berdilatasi berangsungangsur mengandung tumpukan mukus yang tebal, bahan purulent, sedangkan pada
saluran napas yang lebih perifer mengalami oklusi/hambatan akibat adanya sekresi
yang berlebihan dan digantikan oleh jaringan ikat. Gambaran tambahan secara
mikroskopis termasuk inflamasi dan fibrosis pada bronkial dan peribronkial, ulkus pada
dinding bronkial, metaplasia skuamosa, dan hiperplasia glandula mukus. Parenkim paru
yang pada keadaan normal mendapat supply dari saluran napas tersebut, menjadi
abnormal, sehingga mengalami fibrosis, emfisema, bronkopneumonia dan atelektasis.
Sebagai ri proses inflamasi tersebut, vaskularisasi pada dinding bronkial menjadi
banyak, juga disertai dengan adanya pembesaran aarteri bronkial dan anastomosis
diantara sirkulasi arteri bronkial dan pulmonal.
Terdapat tiga gambaran yang terjadi pada bronkiektasis. Pada bronkiektasis silindris,
bronkus yang mengalami gangguan secara seragam mengalami dilatasi dan pada
akhirnya akan pecah dikarenakan saluran napas yang lebih kecil terobstruksi oleh

sekret. Pada bronkiektasis varikosa, bronkus yang mengalami gangguan memiliki


gambaran dilatasi irregular menyerupai vena varikosa. Pada bronkiektasis sakular
(kistik), bronkus memiliki gambaran seperti balon di bagian perifer.

2.5 PATOLOGI
Terdapat berbagai variasi bronkiektasis, baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus
yang terkena maupun beratnya penyakit.
1. Tempat predisposisi bronkiektasis Dapat mengenai bronkus pada satu segmen paru,
bahkan dapat secara difus mengenai kedua paru. Bagian paru yang sering terkena dan
merupakan tempat predisposisi bronkiektasis adalah lobus tengah paru kanan, bagian
lingual paru kiri lobus atas, segmen basal pada lobus bawah kedua paru.
2. Bronkus yang terkena
Umumnya adalah bronkus ukuran sedang, sedangkan bronkus yang besar jarang
terkena. Bronkus yang terkena dapat hanya pada satu segmen paru saja maupun difus.
3. Perubahan morfologi bronkus yang terkena.
a. Dinding bronkus
Dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan
ireversibel. Pada pemeriksaan patologi anatomi sering ditemukan berbagaitingkatan
keaktifan proses inflamasi serta terdapat proses fibrosis. Jaringan bronkus yang
mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis.
b. Mukosa bronkus

10

Permukaannya menjadi abnormal, silia pada sel epitel menghilang, terjadi perubahan
metaplasia skuamosa dan terjadi sebukan hebat sel-sel inflamasi. Apabila terjadi
eksaserbasi infeksi akut, pada mukosa akan terjadi pengelupasan, ulserasi dan
pernanahan.
c. Jaringan paru peribronkial.
Dapat ditemukan kelainan antara lain berupa pneumonia, fibrosis paru atau pleuritis
apabila prosesnya dekat pleura. Pada keadaan yang berat, jaringan paru distal
bronkiektasis akan diganti oleh jaringan fibrotik dengan kista-kista berisi nanah.
4. Variasi kelainan anatomis bronkiektasis.
Telah dikenal ada 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronkiektasis, yaitu:
a. Bentuk tabung (Tubular, Cilindrical,Fusiform bronchiectasis)
Merupakan bronkiektasis yang paling ingan. Bentuk ini sering ditemukan pada
bronkiektasis yang menyertai bronchitis kronis.
b. Bentuk kantong (Saccular bronchiectasis)
Merupakan bentuk bronkiektasis yang klasik, ditandai dengan adanya dilatasi dan
penyempitan bronkus yang bersifat ireguler, Bentuk ini kadang-kadang berbentuk kista
(Cystic bronkiektasis).
c. Varicose bronchiectasis
Merupakan bentuk antara bentuk tabung dan kantong. Istilah ini digunakan karena
perubahan bentuk bronkus menyerupai varises pembuluh vena2. Adanya variasi
bentuk-bentuk anatomis bronkus tadi secara klinis tidak begitu penting, karena
kelainan-kelainan yang berbeda tadi dapat berasal dari etiologi yang sama dan tidak
11

mempengaruhi gejala klinis dan manajemen pengobatannya sama saja. Bahkan


beberapa bentuk kelainan tadi bisa terdapat pada satu pasien.
5. Pseudobronkiektasis
Ini bukan termasuk bronkiektasis yang sebenarnya. Pada bentuk ini terdapat pelebaran
bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. Kelainan ini bersifat
sementara karena dalam beberapa bulan akan menghilang. Bentuk ini biasanya
merupakan komplikasi pneumonia.

2.6 GEJALA DAN TANDA KLINIS


Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronkiektasis tergantung pada luas dan
beratnya penyakit, lokasi kelainannya dan ada atau tidak adanya komplikasi lanjut. Ciri
khas penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya
hemoptisis dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis tersebut dapat demikian
hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit
yang ringan. Bronkiektasis yang mengenai bronkus pada lobus atas sering dan
memberikan gejala, sebagai berikut :
a. Batuk
Batuk pada bronkiektasis mempunyai cirri antara lain batuk produktif berlangsung
kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronkitis kronik, jumlah sputum bervariasi,
umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi
tidur atau bangun. Kalau tidak ada infeksi sekunder sputumnya mukoid, sedang apabila
terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau mulut yang tidak
sedap. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob akan menimbulkan sputum

12

sangat berbau busuk. Pada kasus yang ringan, pasien dapat tanpa batuk atau hanya
timbul batuk apabila ada infeksi sekunder. Pada kasus yang sudah berat, misalnya pada
sacular type brokiektasis, sputum jumlahnya banyak sekali, purulen dan apabila
ditampung beberapa lama, tampak terpisah jadi tiga lapisan: 1. Lapisan teratas agak
keruh terdiri atas mukus, 2. Lapisan tengah jernih terdiri atas saliva dan 3. Lapisan
terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak.
b. Hemoptosis
Hemoptisis atau hemoptoe terjadi kira-kira pada 50% kasus bronkiektasis. Keluhan ini
terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah dan
timbul perdarahan. Perdarahan yang terjadi bervariasi mulai yang paling ringan sampai
perdarahan yang cukup banyak apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat
atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri bronkialis (darah berasal dari
peredaran darah sistemik). Pada bronkiektasis kering, hemoptisis justru merupakan
gejala satu-satunya, karena jenis ini letaknya di lobus atas paru, drainasenya baik,
sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Pasien tanpa
batuk atau batuknya minimal. Dapat diambil pelajaran, bahwa apabila kita menemukan
kasus hemoptisis hebat tanpa adanya gejala-gejala batuk sebelumnya atau tanpa
kelainan fisis yang jelas hendaknya diingat dry bronciektasis ini. Hemoptisis pada
bronkiektasis walaupun kadang- kadang hebat jarang fatal. Pada tuberculosis paru,
bronkiektasis (sekunder) ini merupakan penyebab utama komplikasi hemoptisis.
c. Sesak nafas (dispnea)
Pada sebagian besar pasien (50% kasus) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan
beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronkitis kronis yang terjadi
serta seberapa jauh timbulnya kolaps paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi
13

sebagai akibat infeksi berulang (ISPA), yang bisanya menimbulkan fibrosis paru dan
emfisema yang menimbulkan sesak nafas tadi. Kadang-kadang ditemukan wheezing,
akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat lokal atau tersebar tergantung pada
distribusi kelainannya.
d. Demam berulang
Bronkiektasis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi
berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam.
Kelainan Fisik
Pada saat pemeriksaan fisis, mungkin pasien sedang mengalami batuk-batuk dengan
pengeluaran sputum, sesak nafas demam atau sedang batuk darah. Tanda- tanda fisis
umum yang dapat ditemukan meliputi sianosis, jari tabuh, manifestasi klinis komplikasi
bronkiektasis. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda kor
pulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Kelainan paru yang timbul tergantung
pada beratnya serta tempat kelainan bronkiektasis terjadi dan kelainannya apakah lokal
atau difus. Pada pemeriksaan fisis paru, kelainannya harus dicari pada tempat
predisposisi. Pada bronkiektasis biasanya ditemukan ronkhi basah yang jelas pada lobus
bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waktu ke waktu, atau ronkhi
basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural dan timbul lagi di waktu
yang lain. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat, dapat
menimbulkan kelainan berikut: terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan
dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran mediastinum ke daerah paru
yang terkena. Bila terdapat komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai
dengan pneumonia. Wheezing sering ditemukan apabila terjadi obstruksi bronkus.

14

Sindrom Kartagener
Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut: (1) Bronkiektasis kongenital, sering
disertai dengan silia bronkus imotil, (2) Situs invertus atau pembalikan letak organorgan dalam, dalam hal ini terjadi dekstrokardia,left sided gall bladder, left sided liver,
right sided spleen dan sebagainya, dan (3) Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya
sinus frontalis. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah kelainan kongenital
(suatu kebersamaan). Bagaimana asosiasi tentang keberadaannya yang demikian ini
belum diketahui dengan jelas.
Bronkolitiasis
Kelainan ini merupakan kalsifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa
kompleks primer tuberkulosis paru primer. Kelainan ini bukan merupakan tanda klinis
bronkiektasis. Kelainan ini sering mengakibatkan erosi bronkus di dekatnya dan dapat
masuk ke dalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. Selanjutnya terjadilah
bronkiektasis. Erosi dinding bronkus oleh bronkus tadi dapat mengenai pembuluh darah
di situ dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemoptisi hebat.
Kelainan Laboratorium
Umumnya tidak khas. Pada keadaan lanjut dan sudah mulai ada insufisiensi paru dapat
ditemukan polisitemia sekunder. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal.
Sering-sering ditemukan anemia, yang menunjukkan adanya infeksi kronik, atau
ditemukannya leukositosis yang menunjukkan adanya infeksi supuratif. Urin umumnya
normal, kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteinuria.
Pemeriksaan sputum dengan pengecatan langsung dapat dilakukan untuk menentukan
kuman apa yang terdapat dalam sputum. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensitivitas

15

terhadap antibiotik perlu dilakukan, apabila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder.
Perlu segera dicurigai adanya infeksi sekunder apabila misalnya dijumpai sputum pada
hari-hari sebelumnya warnanya putih jernih, yang berubah menjadi warna kuning atau
hijau.
Kelainan Radiologis
Gambaran foto dada (plain film) pasien bronkiektasis posisi berdiri sangat bervariasi,
tergantung berat ringannya kelainan serta letak kelainannya. Dengan gambaran foto
dada tersebut kadang- kadang dapat ditemukan kelainannya, tetapi kadang-kadang
sukar. Gambaran radiologis khas untuk bronkiektasis biasanya menunjukkan kista-kista
kecil dengan fluid level, mirip seperti gambraran sarang tawon pada daerah yang
terkena. Gambaran seperti ini hanya dapat ditemukan pada 13% kasus. Kadang-kadang
gambaran radiologis paru menunjukkan adanya bercak-bercak pneumonia, fibrosis atau
kolaps (atelektasis), bahkan kadang-kadang gambaran seperti pada paru normal (7%
kasus). Gambaran bronkiektasis akan jelas pada bronkogram.
Kelainan Faal Paru
Tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Fungsi ventilasi dapat masih normal bila
kelainannya ringan. Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan
kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama (FEV1) terdapat tendensi
penurunan, karena terjadinya obstruksi aliran udara pernafasan. Pada bronkiektasis
dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 derajat ringan sampai berat,
tergantung pada beratnya kelainan. Penurunan PaO2 ini menunjukkan adanya
abnormalitas regional (maupun difus) distribusi ventilasi, yang berpengaruh pada
perfusi paru.

16

2.7 KLASIFIKASI BRONKIEKTASIS

Tingkatan beratnya penyakit bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat. Brewis
membagi tingkatan beratnya bronkiektasis menjadi derajat ringan, sedang dan berat.
1.

Bronkiektasis Ringan

Ciri klinis: batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam (ada
infeksi sekunder), produksi sputum terjadi dengan adanya perubahan posisi tubuh,
biasanya ada hemoptisis sangat ringan, pasien tampak sehat dan fungsi paru normal.
Foto dada normal.
2. Bronkiektasis sedang
Ciri klinis: Batuk-batuk produktif terjadi tiap saat, sputum timbul setiap saat (umumnya
warna hijau dan jarang mukoid, serta bau mulut busuk), sering-sering ada hemoptisis,
pasien umumnya masih tampak sehat dan fungsi paru normal, jarang terdapat jari
tabuh. Pada pemeriksaan fisis paru sering ditemukan ronkhi basah kasar pada daerah
paru yang terkena, gambaran foto dada boleh dikatakan masih normal.
3. Bronkiektasis berat
Ciri klinis: Batuk-batuk produktif dengan sputum banyak berwarna kotor dan berbau.
Sering ditemukan adanya pneumonia dengan hemoptisis dan nyeri pleura. Sering
ditemukan jari tabuh. Bila ada obstruksi saluran nafas akan dapat ditemukan adanya
dispnea, sianosis atau tanda kegagalan paru. Umumnya pasien mempunyai keadaan
umum kurang baik. Sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit, infeksi mata dan
sebagainya. Pasien mudah timbul pneumonia, septikemia, abses metastasis, kadangkadang terjadi amiloidosis. Pada pemeriksaan dapat ditemukan ronkhi basah kasar pada
17

daerah yang terkena. Pada gambaran foto dada ditemukan kelainan: (1) penambahan
bronchovascular marking, (2) multiple cysts containing fluid levels (honey comb
appearance). Perjalanan Klinis Penyakit Sesudah seseorang menderita bronkiektasis,
perjalanan klinis penyakit selanjutnya tergantung pada luasnya penyakit, efektivitas
drainase sputum dan efektivitas pengobatan infeksi. Kalau penyakitnya luas atau
pengobatannya tidak memuaskan, dapat timbul beberapa komplikasi lanjut yang tidak
menyenangkan. Apabila penyakit ini berlanjut terus, keadaan umum pasien dapat
menjadi sangat menurun. Sebagai akibat daya tahan tubuh yang menurun mudah timbul
infeksi berulang, nafsu makan berkurang menimbulkan malnutrisi dan sebagainya.
Dalam keadaan yang sangat jarang, pada pasien dapat timbul perubahan degeneratif
yaitu terjadi amiloidosis.

Berdasarkan kelainan anatomi:


1) Tubular atau cylindrical bronkiektasis. Merupakan bentuk bronkiektasis yang paling
ringan, sering ditemukan pada bronkiektasis yang disertai dengan bronkitis kronis.
2) Saccular/ cystic bronkiektasis. Merupakan bentuk bronkiektasis yang klasik, ditandai
dengan dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular.
3)Varicose bronkiektasis.

18

2.8 DIAGNOSIS

Diagnosis pasti bronkiektasis dapat ditegakkan apabila telah ditemukan adanya dilatasi
dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat
bronkogram yang didapatkan. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap
pasien bronkiektasis, karena terikat oleh adanya indikasi, kontra indikasi, sarat-sarat
kapan melakukannya dan sebagainya. Oleh karena pasien bronkiektasis umumnya
memberikan gambaran klinis yang dapat dikenal, penegakan diagnosis bronkiektasis
dapat ditempuh melewati proses diagnosis yang lazim dikerjakan di bidang
kedokteran,meliputi: (1) anamnesis, (2) Pemeriksaan fisis, (3) Pemeriksaan penunjang,
terutama pemeriksaan radiologic.
Tanda-tanda penting :
1. Sputum dan napas berbau.
2. Rhonki (+).
3. Kadang disertai bunyi wheezing.
4. Jari tabuh.
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan darah Rutin
b. Radiologi
c. Analisis sputum

19

2.9 DIAGNOSIS BANDING


Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan
dengan bronkiektasis:
1. Bronkitis kronis
2. Tuberkulosis paru (penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa
bronkiektasis).
3. Abses paru (terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar).
4. Penyakit paru penyebab hemoptisis, misalnya: karsinoma paru, adenoma paru dan
sebagainya.
5. Fistula bronkopleural dengan empiema

2.10 KOMPLIKASI
Ada beberapa komplikasi bronkiektasis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain:
1. Bronkitis kronik.
2. Pneumonia dengan atau tanpa atelektasis. Bronkiektasis sering mengalami infeksi
berulang, biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas, hal ini
sering terjadi pada mereka yang drainase sputumnya kurang baik.
3. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia.
Umumnya merupakan pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
4. Efusi pleura atau empiema (jarang).

20

5. Abses metastasis di otak. Mungkin akibat septikemia oleh kuman penyebab infeksi
supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian.
6. Hemoptisis. Terjadi karena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri
pulmonalis), cabang arteri bronkialis atau anastomosis pembuluh darah. Komplikasi
hemoptisis hebat dan tidak terkendali merupakan indikasi tindakan bedah gawat
darurat. Sering pula hemoptisis masif yang sulit diatasi ini merupakan penyebab
kematian utama pasien bronkiektasis.
7. Sinusitis. Keadaan ini sering ditemukan dan merupakan bagian dari komplikasi
bronkiektasis pada saluran nafas.
8. Kor-pulmonal kronik (KPK). Komplikasi ini sering terjadi pada pasien bronkiektasis
yang berat dan lanjut atau mengenai beberapa bagian paru. Pada kasus ini bila terjadi
anastomosis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus
(bronkiektasis, akan terjadi arteriovenous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah,
timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi
hipertensi pulmonal, kor pulmonal kronik. Selanjutnya dapat terjadi gagal jantung
kanan.
9. Kegagalan pernafasan. Merupakan komplikasi paling akhir yang timbul pada pasien
bronkiektasis yang berat dan luas.
10. Amiloidosis. Keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi
klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi amiloidosis ini
sering ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinuria.

21

2.11 TATALAKSANA
Pengobatan pasien bronkiektasis terdiri atas dua kelompok, yaitu sebagai berikut :
Pengobatan Konservatif
1. Pengelolaan Umum
Pengelolaan umum ini ditujukan terhadap semua pasien bronkiektasis, meliputi:
a. Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat bagi pasien. Contoh: membuat ruangan
hangat, udara ruangan kering, mencegah/menghentikan merokok, mencegah atau
menghindari debu, asap dan sebagainya.
b. Memperbaiki drainase postural. Tindakan ini merupakan cara yang paling efektif
untuk mengurangi gejala, tetapi harus dikerjakan secara terus-menerus. Pasien
diletakkan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase
sputum secara maksimal. Tiap kali melakukan drainase postural dikerjakan selama 1020 menit dan tiap hari dikerjakan 2-4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha
mengeluarkan sputum (sekret bronkus) dengan bantuan gaya gravitasi. Untuk keperluan
tersebut, posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak
kelainan bronkiektasisnya. Tujuan membuat posisi tubuh seperti yang dipilih tadi
adalah untuk menggerakkan sputum dengan pertolongan gaya gravitasi agar menuju ke
hilus paru bahkan mengalir sampai ke tenggorok sehingga mudah dibatukkan keluar.
Drainase postural tiap kali dikerjakan selama 10-20 menit atau sampai sputum tidak
keluar lagi. Apabila dengan mengatur posisi tubuh pasien seperti tersebut di atas belum
diperoleh drainase sputum secara maksimal dapat dibantu dengan tindakan memberikan
ketukan dengan jari pada pumggung pasien (Tabotage).
22

c. Mencairkan sputum yang kental. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan, misalnya:
inhalasi uap air panas atau dingin (menurut kesadaran), menggunakan obat-obatan
mukolitik dan sebagainya.
d. Mengatur posisi tempat tidur pasien. Posisi tempat tidur pasien sebaiknya diatur
sedemikian rupa sehingga posisi tidur pasien dapat memudahkan drainase secret
bronkus. Hal ini dapat dicapai misalnya dengan mengganjal kaki tempat tidur bagian
kaki pasien (disesuaikan menurut kebutuhan) sehingga diperoleh posisi pasien yang
sesuai untuk memudahkan drainase sputum.
e. Mengontrol infeksi saluran nafas. Adanya infeksi saluran nafas akut (ISPA) harus
diperkecil dengan jalan mencegah pemajanan kuman. Apabila telah ada infeksi (ISPA)
harus diberantas dengan antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. Apabila
ada sinusitis harus disembuhkan.
Farnakoterapi :
-

Antibiotik : Claritromimicyn , Azitromycin, Trimethoprim-sulfamethoxazole,


doxiciklin,levofloksasin, Tobramycin, Gentamisin , Amikacin

Inhalasi B-Agonist : Salmeterol,Albuterol

Inhalasi Kortikosteroid : Fluticason, Beclometason

Expektoran : Guaifenesin

2.12 PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit sewaktu pasien
berobat pertama kali. Pada kasus yang berat dan tidak diobati, prognosisnya jelek.
Kematian dapat terjadi akibat komplikasi pneumonia, gagal jantung kanan.

23

DAFTAR PUSTAKA

(1)
Rahmatullah, Pasiyan.Bronkiektasis dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi
Empat Sub Bagian Pulmonologi.Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Siti
Setiati.Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.2006.Halaman: 1035.
(2)
Bronkiektasis dalam buku Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I Sub Bagian
Pulmonologi.Arif Mansjoer, Kuspuji Triyati, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani.Media
Aesculapius FKUI.2001.Halaman: 482.
(3)
Gregory Tino, Steven E. Weinberger.Bronchiectasis dalam buku Harrisons
Principles of Internal Medicine 17th Edition Volume II.Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser
Longo, Jameson, Loscalzo.Mc Graw Hill.2008.Page: 1629.
(4)
Lorraine M. Wilson.Bronkiektasis dalam buku Patofisologi Edisi 6 Volume 2.Sylvia
A. Price, Lorraine M. Wilson.EGC.2005.Halaman: 783.
(5)
Keistinen T, Saynajakangas O, Tuuponen T, Kivela SL. Bronchiectasis: an orphan
disease with a poorly-understood prognosis. Eur Respir J. Dec 1997;10(12):2784-7.
(6)
Saynajakangas O, Keistinen T, Tuuponen T, Kivela SL. Bronchiectasis in Finland:
trends in hospital treatment. Respir Med. Aug 1997;91(7):395-8.
(7)
Ip MS, Lam WK. Bronchiectasis and related disorders. Respirology. Jun
1996;1(2):107-14.

(8)

emedicine.medscape.com

(9)

www.lung.org American Lung Association

24