Anda di halaman 1dari 14

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL

FESTIVAL ILMIAH MAHASISWA 2013


STUDI ILMIAH MAHASISWA UNS
Panen Emas dari Daun Dengan Metode Phytomining Upaya Pelestarian
Lingkungan di Sekitar Areal Pertambangan di Indonesia

Disusun oleh :
Muhammad Ardian N

(H 0711064) (2011)

Akas Anggita

(H 0710004) (2010)

Aristiyana Nur Tri W

(H0811011) (2011)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


SURAKARTA
2013

HALAMAN PENGESAHAN
1. JudulKaryaTulis

: Panen Emas dari Daun Dengan Metode

Phytomining Upaya Pelestarian Lingkungan di Sekitar Areal Pertambangan di


Indonesia
2. Ketua
a. Nama Lengkap

: Muhammad Ardian Nursetyawan

b. NIM

: H0711064

c. Jurusan / Fakultas

: Agroteknologi / Pertanian

d. Universitas/Institut/Politeknik

: Universitas Sebelas Maret Surakarta

e. No. Telp/HP

: 085642146217

3. Nama Anggota / Jurusan /Angkatan


a. NamaAnggota 1

: Akas Anggita

b. Nama Anggota 2

: Aristiyana Tri Nur Wardhani

4. Dosen Pembimbing
a. NamaLengkap

: Dr. Ir Supriyadi MP.

b. NIP

: 19610612 198803 1 003

c. No. Telp/HP

: 0271(495883), 08179488860

1. d. Alamat

: Jl. Teknologi 143 PERUM UNS Jati Jaten


Karanganyar , 57731
Surakarta, 31 Agustus 2013

Menyetujui,
DosenPembimbing

Ketua Tim

(Dr. Ir. Supriyadi MP.)

(Muhammad Ardian N)

NIP. 19610612 198803 1 003

NIM. H0711064

a.n Dekan Fakultas Pertanian UNS


Pembantu Dekan III

Ir. Kawiji, MP
NIP. 19611214 198601 1 001

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS


Kami menyatakan bahwa karya tulis dengan judul Panen Emas dari
Daun Dengan Metode Phytomining Upaya Pelestarian Lingkungan di Sekitar
Areal Pertambangan di Indonesia Ini adalah karya orisinil kami yang belum
pernah dipublikasikan dan tidak sedang dan belum pernah diikutkan lomba dalam
bentuk apa pun. Penulis juga mengijinkan karya tulisnya untuk didokumentasikan
dan atau dipublikasikan panitia. Bila ternyata kami melanggar ketentuan tersebut,
maka kami siap untu menerima konsekuensi dengan peraturan yang berlaku.
Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam karya tulis ini dan
dicantumkan dalam daftar pustaka sebagaimana peraturan dan format karya tulis
ini.
Kami yang membuatpernyataaniniadalah:
Nama
1. Muhammad Ardian
2. Akas Anggita
3. Aristiyana Tri Nur

NIM
H0711064
H0711004
H0811011

Jurusan/Fakultas
Agroteknologi / Pertanian
Agroteknologi / Pertanian
Agribisnis / Pertanian
Surkarta, 31 Agustus 2013

Yang membuat pernyataan,

Mengetahui,

Ketua

DosenPembimbing

(Muhammad Ardian N)

(Dr. Ir. Supriyadi MP.)

NIM. H0711064

NIP. 19610612 198803 1 003

Panen Emas dari Daun Dengan Metode Phytomining Upaya Pelestarian


Lingkungan di Sekitar Areal Pertambangan di Indonesia

Muhammad Ardian1, Akas Anggita2, Aristiyana N3


cambizar@gmail.com1, akas_soloraya@yahoo.co.id2,
risstea@dussydelay@yahoo.co.id3
Universitas Sebelas Maret Surakarta
RINGKASAN
Usaha pertambangan emas rakyat di Kecamatan Selogiri Kabupaten
Wonogiri telah berlangsung sejak tahun 1993 sampai sekarang, dimana dalam
kegiatan penambangan tersebut masih menggunakan teknik tradisional. Setiap
tahapan dalam proses penambangan tersebut menghasilkan limbah cair.
Berdasarkan hasil penelitian Candra (2005) menunjukkan bahwa tanah dan air
sungai Telu di areal pertambangan emas Kecamatan Selogiri Kabupaten
Wonogiri mengandung kadar logam berat Mercuri (Hg) sebesar 0,0856 mg/l;
Timbal (Pb) sebesar 4,0863 mg/l; Tembaga (Cu) 0,2115 mg/l; dan Besi (Fe)
sebesar 70,375 mg/l yang berpotensi menyebankan kerusakan dan pencemaran
lingkungan.
Salah satu upaya dalam meminimalisir adanya limbah cair hasil dari
kegiatan penambangan emas rakyat di Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri
yang terbukti mengandung logam berat seperti Mercuri (Hg), Timbal (Pb),
Tembaga (Cu) dan Besi (Fe), yaitu dengan cara penerapan metode phytomining.
Implementasi metode phytomining memerlukan kerjasama dari berbagai pihak,
baik dari pemerintah daerah setempat yang berperan dalam mendukung program
penerapan metode phytomining; peneliti baik dari Balai Penelitian maupun
Perguruan Tinggi yang berperan dalam upaya pengenalan, pengembangan dan
penerapan metode ini; dan penambang sebagai tokoh utama dalam penerapan
metode ini.
Gagasan penerapan metode phytomining di daerah penambangan emas
Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri ini diharapkan akan memberikan
manfaat untuk pelaku penambang emas rakyat di Kecamatan Selogiri dan
masyarakat Kabupaten Wonogiri pada umumnya, dimana masyarakat dapat
melakukan kegiatan penambangan emas dalam memenuhi kebutuhan hidup
dengan tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.
Kata Kunci: Pertambangan, Phytomining, Emas

1. Pendahuluan
Usaha pertambangan masyarakat seringkali dituding menjadi
penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. Kegiatan pertambangan
emas yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan
Selogiri Kabupaten Wonogiri telah berlangsung sejak tahun 1993 sampai
sekarang. Penambangan pada Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri
merupakan penambangan tradisonal yang dilakukan dengan membuat lubang
terowongan

(tunnel)

dan

serta

proses

penambangan

sumuran

(shaft),

pengolahannya

dimana
masih

dalam

kegiatan

dilakukan

dengan

menggunakan peralatan tradisional. Proses pengolahan emas ini dilakukan


dengan melalui beberapa tahapan antara lain penggalian bahan tambang,
pengolahan, dan pembuangan limbah. Setiap tahapan dalam proses ini, secara
ekologi

membawa

lingkungan,

dampak

sehingga

perlu

yang

dapat

mengganggu

langkah-langkah

yang

keseimbangan

bijaksana

dalam

penanganannya sehingga resiko terhadap kerusakan lingkungan dapat


diminimalisasi.
Belum adanya usaha pengelolaan limbah cair hasil dari pengelolaan
emas ini mengakibatkan semakin meningkatnya kandungan logam berat
terutama Mercuri (Hg), Timbal (Pb), dan Arsenik (As) yang terbuang ke
lingkungan baik melalui udara maupun melalui badan sungai. Hal ini
menyebabkan adanya penurunan kualitas lingkungan akibat akumulasi limbah
yang cukup tinggi.
Sebuah fakta menunjukkan bahwa secara alami tumbuhan memiliki
kemampuan untuk menyerap logam dalam tanah dengan jumlah dan jenis
yang bervariasi. Sejumlah tumbuhan dari banyak famili terbukti memiliki sifat
hipertoleran, yakni mampu mengakumulasi logam dengan konsentrasi tinggi
pada jaringan akar dan tajuknya, sehingga bersifat hiperakumulator. Sifat
hiperakumulator berarti dapat mengakumulasi unsur logam tertentu dengan
konsentrasi tinggi pada tajuknya dan dapat digunakan untuk tujuan
fitoekstraksi. Dalam proses fitoekstraksi ini logam berat diserap oleh akar

tanaman dan ditranslokasikan ke tajuk untuk diolah kembali atau dibuang


pada saat tanaman dipanen (Chaney et al., 1995).
Phytomining merupakan metode yang memanfaatkan kemampuan
hiperakumulator suatu tanaman yang diaplikasikan di bidang pertambangan.
Metode ini diharapkan mampu mengatasi masalah limbah hasil penambangan
emas, sehingga kegiatan tambang yang dilakukan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhanya tetap dapat dilakukan dengan tetap menjaga
kelestarian lingkungan. Metode ini khususnya di Indonesia, masih belum
lazim digunakan. Gagasan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pengetahuan mengenai teknologi penambangan dengan menggunakan
teknologi Phytomining serta mendorong usaha pemamfaatan sumber daya
alam untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap mengutamakan kelestarian
lingkungan.
2. Gagasan
Aktifitas penambangan emas rakyat di Kecamatan Selogiri
Kabupaten Wonogiri memberikan manfaat bagi kehidpan masyarakat, salah
satunya memberikan kesempatan kerja pada masyarakat, namun disisi lain
kegiatan tersebut juga menimbulkan dampak negatif yaitu menurunnya
kualitas lingkungan khususnya kualitas air sungai sebagai akibat pencemaran
limbah cair hasil pengolahan emas secara amalgamasi yang menggunakan
Mercuri (Hg). Penambangan dilakukan dengan membuat lubang terowongan
(tunnel) dan sumuran (shaft) seperti yang ditunjukkan pada gambar 1, gambar
2 dan gambar 3 yang diambil pada tanggal 18 Juli 2013.

Gambar 1. Lubang Terowongan (Tunnel) di Kecamatan Selogiri Kabupaten


Wonogiri

Gambar 2. Sumuran (Shaft) di Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri

Gambar 3. Kondisi Penambangan di Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri


Pengambilan batuan dari urat-urat yang diduga mengandung emas
dilakukan dengan menggunakan linggis, pahat dan palu, sedangkan pengangkutan
ke tempat pengolahan dilakukan dengan tenaga manusia. Proses pemisahan emas
dari konsentrat melalui tahapan : (i) Penghancuran atau penghalusan (Crushing),
(ii) Penggelundungan (Amalgamasi), dan (iii) Pengambilan Bullion Emas (Au +
10

Ag) yang hanya menggunakan peralatan tradisional seperti yang ditunjukkan pada
gambar 4. Hasil dari kegiatan penambangan ini berupa limbah cair yang
dihasilkan dari kegiatan

akan mencemari lingkungan yang ditunjukkan pada

gambar 5.

Gambar 4. Peralatan Penmabangan Emas di Kecamatan Selogiri Kabupaten


Wonogiri

Gambar 5. Limbah Cair Hasil Penambangan Emas di Kecamatan Selogiri


Kabupaten Wonogiri
Berdasarkan hasil penelitian Candra (2005) menunjukkan bahwa tanah dan
air sungai Telu di areal pertambangan emas Kecamatan Selogiri Kabupaten
Wonogiri mengandung kadar logam berat Mercuri (Hg) sebesar 0,0856 mg/l;
Timbal (Pb) sebesar 4,0863 mg/l; Tembaga (Cu) 0,2115 mg/l; dan Besi (Fe)
sebesar 70,375 mg/l. Contoh lain terjadi pada penambangan emas rakyat di daerah
Pongkor yang limbah cairnya mengandung 240 ppm Hg dan 0.1 ppm Cn dan
terbuang begitu saja ke lingkungan sekitarnya baik persawahan maupun aliran
sungai Cikaniki.

11

Indonesia memiliki modal penting berupa keragaman hayati terbesar


kedua setelah Brazil. Hal ini sangat memungkinkan untuk mendapatkan sumber
tanaman hiperakumulator. Karakteristik tumbuhan hiperakumulator adalah: (i)
Tahan terhadap unsur logam dalam konsentrasi tinggi pada jaringan akar dan
tajuk; (ii) Tingkat laju penyerapan unsur dari tanah yang tinggi dibanding tanaman
lain; (iii) Memiliki kemampuan mentranslokasi dan mengakumulasi unsur logam
dari akar ke tajuk dengan laju yang tinggi. (iv) Secara ideal memiliki potensi
produksi biomassa yang tinggi (Reeves, 1992).
Mekanisme biologis dari hiperakumulasi unsur logam pada dasarnya
meliputi proses-proses: (i) Interaksi rizosferik, yaitu proses interaksi akar tanaman
dengan media tumbuh (tanah dan air). Dalam hal ini tumbuhan hiperakumulator
memiliki kemampuan untuk melarutkan unsur logam pada rizosfer dan menyerap
logam bahkan dari fraksi tanah yang tidak bergerak sekali sehingga menjadikan
penyerapan logam oleh tumbuhan hiperakumulator melebihi tumbuhan normal
(McGrath et al., 1997); (ii) Proses penyerapan logam oleh akar pada tumbuhan
hiperakumulator lebih cepat dibandingkan tumbuhan normal, terbukti dengan
adanya konsentrasi logam yang tinggi pada akar (Lasat, 1996). Akar tumbuhan
hiperakumulator memiliki daya selektifitas yang tinggi terhadap unsur logam
tertentu (Gabbrielli et al., 1991); (iii) Sistem translokasi unsur dari akar ke tajuk
pada tumbuhan hiperakumulator lebih efisien dibandingkan tanaman normal. Hal
ini dibuktikan oleh rasio konsentrasi logam tajuk/akar pada tumbuhan
hiperakumulator lebih dari satu (Gabbrielli et al., 1991).
Setelah tanaman hiperakumulator menyerap logam berat dalam jumlah
besar, tanaman menjadi jenuh oleh polutan. Logam yang disimpan di bagian
trubus, dapat dipanen dan dilebur untuk mengambil kembali logam (metal
recycle), atau dibuang sebagai limbah B3. Proses ini dilakukan berulangkali
sampai mencapai di bawah ambang batas aman. Dalam berbagai kasus,
pengambilan kembali logam disebut sebagai phytomining (penambangan
menggunakan tanaman), yaitu untuk mengambil logam-logam tertentu melalui
proses fitoekstraksi.

12

Gambar 6. Proses Phytomining


Tanaman yang telah jenuh dilebur untuk memisahkan logam dengan bahan
lain. Dengan demikian logam-logam yang masih mempunyai nilai ekonomi dapat
dipergunakan kembali. Teknologi untuk mengambil atau memekatkan logam dari
tanaman yang telah dipanen dapat melalui proses pemanasan, pelindihan
mikrobial, secara kimia maupun fisik. Cara-cara pembakaran, pengabuan,
peleburan, dan pelindihan sering digunakan untuk memproses logam yang akan
diambil kembali dari biomassa tanaman.
Upaya implementasi gagasan ini tentunya membutuhkan kerjasama
beberapa pihak, antara lain : (i) Pemerintah daerah melalui instansi-instansinya,
seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Balai Penelitian Kehutanan yang berperan
dalam mendukung upaya pengenalan dan pengembangan metode phytomining di
kawasan penambangan emas rakyat; (ii) Peneliti, baik dari Balai Penelitian
maupun instant pendidikan seperti perguruan tinggi sebagai pihak yang berperan
dalam upaya pengenalan, pengembangan dan penerapannya; (iii) Penambang
berperan sebagai tokoh utama dalam penerapan metode phytomining dimana
kegiatan penambangan emas dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat tetap
mengutamakan kelestarian lingkungan.
3. Pembahasan
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk implementasi gagasan ini
adalah:

13

1. Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi tanaman yang potensial untuk

digunakan dalam metode phytomining yang ada di kawasan penambangan


emas rakyat.
2. Merancang dan mengembangkan metode phytomining, setelah tanaman
teridentifikasi,

seperti

menetapkan

metode

menumbuhkan

tanaman

hiperakumulator, komposisi media pertumbuhan dan parameter teknis yang


diperlukan.
3. Memelihara tanaman hiperakumulator, dan menetapkan pola pertumbuhan
serta kecepatan pertumbuhan dan pertambahan biomassanya.
4. Menetapankan pola penyerapan logam berat dan atau transformasi bahan
organik dari tanaman yang digunakan dalam proses phytomining.
5. Melakukan ekstraksi tanaman hiperakumulator untuk memisahkan emas
dengan bahan lain yang terdapat pada tumbuhan.

14

4. Kesimpulan
Salah satu upaya dalam meminimalisir adanya limbah cair hasil dari
kegiatan penambangan emas rakyat di Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri
yang terbukti mengandung logam berat seperti Mercuri (Hg), Timbal (Pb),
Tembaga (Cu) dan Besi (Fe), yaitu dengan cara penerapan metode phytomining.
Implementasi metode phytomining memerlukan kerjasama dari berbagai pihak,
baik dari pemerintah daerah setempat yang berperan dalam mendukung program
penerapan metode phytomining; peneliti baik dari Balai Penelitian maupun
Perguruan Tinggi yang berperan dalam upaya pengenalan, pengembangan dan
penerapan metode ini; dan penambang sebagai tokoh utama dalam penerapan
metode ini.
Gagasan penerapan metode phytomining di daerah penambangan emas
Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri ini diharapkan akan memberikan
manfaat untuk pelaku penambang emas rakyat di Kecamatan Selogiri dan
masyarakat Kabupaten Wonogiri pada umumnya, dimana masyarakat dapat
melakukan kegiatan penambangan emas dalam memenuhi kebutuhan hidup
dengan tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.

15

DAFTAR PUSTAKA
Candra A, Sukandarrumidi, Djoko W. 2005. Dampak Limbah Cair Hasil
Pengolahan Emas Terhadap Kualitas Air Sungai Dan Cara Mengurangi
Dampak Dengan Menggunakan Zeolit : Studi Kasus Penambangan Emas
Tradisional Di Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri
Provinsi Jawa Tengah. Manusia dan Lingkungan 12 (I) : 13-19.
Chaney RL et al. 1995. Potential use of metal hyperaccumulators. Mining Environ
Manag 3:9-11.
Gabbrielli R, Mattioni C, Vergnano O. 1991. Accumulation mechanisms and
heavy metal tolerance of a nickel hyperaccumulator. J. Plant
0000000Nutr 14:1067-1080.
Lasat MM, Baker AJM, Kochian LV. 1996. Physiological characterization of root
Zn2+ absorption and translocation to shoot in Zn hyperaccumulator and
nonaccumulator species of Thlaspi. Plant Physiol 112:1715-1722.
McGrath SP, Shen ZG, Zhao FJ. 1997. Heavy metal uptake and chemical changes
in rhizosphere of Thlaspi caerulescens and Thlaspi ochroleucum grown in
contaminated soils. Plant Soil 188:153-159.

16