Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan terus bergulirnya arus globalisasi, segalanya hampir tidak
punya batas lagi. Begitu pula dengan bahasa antar negara. Seluruh negara di
dunia sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan bahasanya sendiri untuk hidup
berdampingan dengan negara-negara lain. Berasal dari sini lah akhirnya harus ada
satu bahasa yang menjadi bahasa internasional sebagai alat komunikasi yang bisa
digunakan di seluruh belahan dunia. Bahasa Inggris pun dipilih menjadi bahasa
internasional itu.
Keahlian berbahasa internasional (bahasa Inggris) ini diperlukan untuk
menguasai ilmu pengetahuan, memiliki pergaulan luas dan karir yang baik. Hal
ini membuat semua orang dari berbagai kalangan termotivasi untuk mengusai
bahasa Inggris.
Meningkatnya kebutuhan akan berbahasa Inggris di dunia rupanya juga
terjadi di Indonesia. Bahasa Inggris menjadi penting untuk dipelajari jika tidak
ingin tertinggal dengan negara lain.

Maka tidak heran, beberapa tahun

belakangan ini pembelajaran bahasa Inggris begitu masif dilakukan di semua


tingkat satuan pendidikan, tidak terkecuali pendidikan pra-sekolah yang notabene
siswanya dikategorikan sebagai anak usia dini. Banyak institusi pendidikan prasekolah, baik yang bertaraf internasional maupun lokal, yang menerapkan bahasa
Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. Bahkan tidak hanya itu,

bahasa Inggris juga digunakan oleh para siswa dan guru sebagai bahasa
komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah.
Tidak hanya sekolah pada tataran atau tingkat SMP dan SMA, pada
tingkat SD pun pelajaran bahasa Inggris sudah didiajarkan untuk melatih dasardasarnya. Bagi sebagian besar murid di Sekolah Dasar, mata pelajaran bahasa
Inggris bisa jadi merupakan mata pelajaran baru dan sulit. Hal ini dikarenakan
kebiasaan berbahasa mereka di rumah tidak menggunakan bahasa Inggris.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1. Pendekatan teoritis apa saja yang dapat digunakan dalam pembelajaran
penguasaan bahasa Inggris di SD/MI ?
2. Bagaimana teknik dan strategi pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia
SD?
3. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Inggris pada
anak usia SD?
4. Bagaimana implikasi positif pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia SD?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam suatu kajian atau analisis sangatlah penting dalam
menentukan arah tujuan penulisan. Oleh karena itu dalam bahasan yang memiliki
tema utama

Strategi dan Teknik Pengajaran Bahasa Inggris di SD

penulis

membatasi pembahasan tentang jenis-jenis strategi dan teknik pembelajaran

Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua yang dikhususkan bagi anak usia SD/MI
yang mencakup 4 keterampilan berbahasa yaitu listening, speaking, reading dan
writing.

1.4 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan karya tulis ini antara lain :
1. Menambah pengetahuan mengenai bagaimana pembelajaran bahasa kedua
(bahasa Inggris) pada anak usia SD.
2. Memperoleh pengetahuan strategi dan teknik pembelajaran bahasa Inggris
anak usia SD.
3. Memperoleh

pengetahuan

mengenai

metode

dan

implikasi

positif

pembelajaran bahasa Inggris anak usia SD.


4. Dapat mengaplikasikan teori mengenai pembelajaran bahasa Inggris bagi anak
usia SD yang ada di sekitar.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pemerolehan Bahasa


Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa adalah
suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar,
implisit, dan informal. Pemerolehan bahasa juga disebut sebagai proses alami
dalam diri seseorang untuk menguasai bahasa atau proses seseorang mulai
mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Pemerolehan bahasa
dibagi menjadi dua yaitu pemerolehan bahasa pertama (bahasa ibu) dan
pemerolehan bahasa kedua (bahasa asing).

2.1.1 Pemerolehan Bahasa Pertama


Pemerolehan bahasa adalah bahasa pertama yang diperoleh dan dipahami
anak dalam kehidupan dan berkomunikasi di lingkungannya (Suhartono, 2005:
81). Bahasa pertama disebut juga sebagai bahasa ibu, karena anak pertama kali
berintaraksi dan belajar dengan ibu. Pemerolehan bahasa pertama (B1) terjadi
bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa.

2.1.2 Pemerolehan Bahasa Kedua


Pemerolehan bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh setelah bahasa
pertama.

Bahasa kedua didapat oleh anak dari lingkungan, baik lingkungan

sekitar rumah atau tempat bermain maupun lingkungan sekolah.

2.2 Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua


Di Indonesia, bahasa pertama atau bahasa ibu yang dikuasai anak
kebanyakan merupakan bahasa daerah. Sedangkan bahasa kedua yang dikuasai
adalah bahasa Indonesia. Namun seiring dengan bergulirnya arus globalisasi,
bahasa kedua yang didapat anak tidak lagi hanya bahasa Indonesia akan tetapi
ditambah lagi dengan bahasa Inggris.
Milafaila (2011) merangkum beberapa kebijakan pemerintah yang
berkaitan dengan pembelajaan bahasa Inggris pada anak usia SD. Di antaranya
adalah kebijakan Depdikbud RI menyatakan bahwa Sekolah Dasar dapat
menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, dengan syarat pelajaran ini tidak
tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan Nasional. Kebijakan ini kemudian
ditindak lanjuti melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris lebih dini sebagai satu mata
pelajaran muatan lokal di Sekolah Dasar. Kebijakan tentang program bahasa
Inggris ini selanjutnya ditindaklanjuti oleh beberapa propinsi yang menyatakan
bahwa mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan
menjadi mata pelajaran muatan lokal wajib.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pendekatan Pembelajaran Bahasa Inggris


Menurut Bohannon dan Warren-Leubecker dalam dalam Cahyono (1997:
136-137) terdapat empat pendekatan penguasaan bahasa Inggris.

Keempat

pendekatan itu adalah pendekatan behavioristik (behavioristic approach),


pendekatan linguistic (linguistic approach), pendekatan interaksionis-kognitif
(cognitive-interactionist approach) dan pendekatan interaksi sosial (social
interaction approach).

3.1.1

Pendekatan Behavioristik
Pendekatan behavioristik memfokuskan pada belajar yang didasarkan pada

hubungan stimulus-respons. Inti pandangan model ini ialah language is a function


of reinfoercement. Menurut teori ini anak-anak mula-mula merupakan tabula
rasa. Kata-kata yang didengarnya disimpan di dalam ingatan melalui asosiasi.
Kemudian dalam observasinya sehari-hari terhadap lingkungan, ia melihat adanya
suatu hubungan antara entry (kombinasi antara objek dengan person) dengan
suatu aksi tertentu. Lama-lama terjadi asosiasi yang kuat antara keduanya dan
asosiasi tersebut disimpannya dalam ingatan (memory). Makin banyak asosiasi
yang terjadi dan disimpan dalam ingatannya.

3.1.2

Pendekatan Linguistik
Menurut pendekatan linguistik, anak memiliki struktur bahasa atau

gramatika yang independen.

Pendekatan ini juga mempercayai adanya

mekanisme alamiah (innate machanism) yang memadu penguasaan bahasa anak.


Anak-anak dipandang memiliki piranti pemerolehan bahasa yang dikenal dengan
sebutan LAD (Language Acquisition Device). Piranti pemerolehan bahasa ini
membantu anak memperoleh struktur gramatikal bahasa orang dewasa yang
sangat kompleks. Secara alamiah piranti ini membantu memperkenalkan anakanak pada semesta bahasa, membantu pemahaman, dan menghasilkan kalimatkalimat yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya.

3.1.3

Pendekatan Interaksi Kognitif


Menurut pendekatan ini, bahasa merupakan suatu pengungkapan

seperangkat kemampuan kognitif yang lebih umum.

Perkembangan sistem

kognitif yang memadai merupakan dasar pengungkapan bahasa. Tugas utama


para penganut pedekatan interaksi kognitif ini adalah mengidentifikasikan urutan
kematangan kognitif

dan menjelaskan bagaimana perkembangan kognitif itu

dapat menghasilkan pemerolehan bahasa.

3.1.4

Pendekatan Interaksi Sosial


Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perkembangan bahasa merupakan

hasil pemerolehan kaidah-kaidah gramatikal.

Lingkungan dipandang sebagai

sumber masukan pengalaman bahasa yang diperlukan untuk perkembangan.

Hubungan interaksi sosial dan pemerolehan bahasa itu sendiri merupakan


hubungan yang saling menguntungkan. Interaksi sosial membantu pemerolehan
bahasa dan pemerolehan bahasa itu juga mematangkan interaksi sosial.
Pengajaran bahasa Inggris untuk anak dengan mengambil sisi-sisi baik
dari masing-masing pendekatan ini amat disarankan. Misalnya saja, anak-anak
tetap perlu diberi stimulus bahasa Inggris maupun penguatan terhadap stimulus
itu.

Mereka juga perlu

diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan

mengungkapkan kemampuan berbahasanya secara kreatif dan bukan imitatif.


Pemberian kesempatan berbahasa Inggris kepada anak-anak dalam suasana
interaktif dan bermakna akan menambah keberhasilan pengajaran itu.

3.2 Karakteristik Anak Usia SD sebagai Pembelajar Bahasa


Pembelajaran bahasa Inggris yang melibatkan anak usia SD sebagai
pembelajar

mengharuskan

guru

selaku

pengajar

untuk

memahami

kalakteristiknya. Hal ini dilakukan agar guru dapat menentukan metode apa yang
tepat untuk dapat diterapkan kepada siswanya. Karakteristik itu antara lain :
1. Mereka suka belajar sambil bermain
2. Mereka dapat menceritakan apa yang mereka lakukan dan dengarkan
3. Mereka memiliki perhatian dan konsentrasi yang singkat (tidak tahan lama)
4. Mereka mempelajari bahasa Inggris dengan cara menyimak, menirukan dan
mengucapkan
5. Mereka sebenarnya belum menyadari untuk apa belajar bahasa asing
walaupun mereka senang dan bersemangat

6. Anak belajar dengan baik ketika mereka diberi motivasi untuk terlibat secara
langsung dalam kegiatan yang berhubungan dengannya.

3.3 Metode Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak SD


Metode pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam
menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, guru
harus memilki metode yang menarik bagi anak (terutama usia SD) dengan
memperhatikan karakteristiknya. Berikut beberapa metode pembelajaran bahasa
Inggris bagi untuk anak usia SD yang dapat diterapkan:
1) Listen and Repeat
Dalam teknik pembelajaran ini, pengajar mengucapkan sesuatu dan anak hanya
mendengarkan. Kemudian pengajar mengucapkan lagi dan anak diminta
mengulang apa yang diucapkan oleh guru.
2) Listen and Do
Dalam kegiatan ini pengajar mengucapkan suatu ungkapan atau perintah, anak
mendengarkan baik-baik kemudian anak melakuakn apa yang dikatakan pengajar.
3) Question and Answer
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan anak mulai bertanya dan memberi contoh
jawabanya. Kemudian siswa menirukan, setelah itu pengajar bertanya, dan
meminta anak menjawab.
4) Subtitution
Dalam teknik ini pengajar menghilangkan salah satu bagian kalimat dan meminta
anak untuk mengganti dengan kata lain yang sejenis. Salah satu teknik yang

sangat luwes adalah menggunakan ungkapan Lets.. yang merupakan


ajakan kepada anak untuk melakuakan sesuatu.
5) Draw and Colour
Pembelajaran bahasa Inggris dapat ditambah dengan kegiatan menggambar dan
mewarnai setelah mereka mengenal beberapa kata, benda, atau warna.
6) See differences
Kegiatan ini melatih anak melakukan observasi untuk menmukan persamaan atau
perbedaan dua benda atau gambar. Hal ini melatih ketelitian dan dapat
menyenangkan anak.
7) Kegiatan berpasangan
Kegiatan yang dilakuakan oleh siswa secara berpasangan atau berdua dapat
melatih anak berintarksi dan berkomunikasi. Kegiatan ini bisa juga bisa berupa
kegiatan question-answer.
8) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Anak dapat belajar dari temannya melalui cooperative learning. Kelompok dapat
bekerja sama untuk membuat laporan atau tugas yang diberikan pengajar, seperti
puzzle, teka-teki, dll.
9) Pemodelan dan Demonstrasi
Pemodelan merupakan strategi untuk memberi contoh kepada anak bagaiman
mereka melakukan, belajar, dan membuat sesuatu. Pemodelan di umumnya dapat
berupa pronunciation drill (latihan pengucapan).

10

10) Concept Mapping


Concept mapping biasanya digunakan untuk melatih anak mengaitkan suatu
konsep atau sesuatu yang sudah diketahui dengan konsep lain atau hal-hal lain
yang erat hubungannya.

3.4 Kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak Usia SD


Menurut Kasihani K.E. Suyanto (2008: 23), kegiatan anak (termasuk anak
usia SD) dalam pembelajaran mencakup semua kompetensi bahasa yang berupa
keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan
menulis (writing). Keterampilan bahasa ini disajikan secara terpadu, seperti apa
yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
1) Keterampilan menyimak (listening)
Bagi anak, menyimak adalah suatu kegiatan yang sulit karena kosa kata
mereka masih sangat terbatas. Kesulitan mereka akan terbantu jika apa yang
disampaikan diiringi dengan gerakan tangan, ekspresi wajah dan gerakan
tubuh. Hal ini akan membuat mereka termotivasi dari pada jika mereka
diminta mendengar.
2) Keterampilan berbicara (speaking)
Dari semua insting yang dimiliki anak sebagai pembelajar muda bahasa
Inggris, insting untuk berinteraksi dan berbicara adalah yang paling penting
untuk pembelajaran bahasa Inggris. Anak-anak biasanya ingin segera
menggunakan bahasa yang mereka pelajari untuk berkomunikasi.

11

3) Keterampilan membaca (reading)


Dalam melaksanakan kegiatan membaca, anak hendaknya paham tujuan dari
kegiatan tersebut, apakah mereka membaca untuk mengerti dari bacaan itu
atau mereka harus membaca untuk mendapatkan informasi tertentu saja. Anak
tidak harus mengerti arti kata perkata, yang penting mereka bisa mengerti
konteks dari suatu bacaan. Sebaiknya untuk kegiatan membaca dipilih topik
yang berhubungan dengan minat anak, sesuatu yang berhubungan dengan
lingkungannya, sesuatu yang menarik serta berhubungan dengan topik yang
dibahas saat itu. Pengetahuan umum dan perbendaharaan kata yang telah
dimiliki serta penggunaan gambar dapat membantu anak dalam mengerti suatu
bacaan.
4) Keterampilan Menulis (writing)
Keterampilan menulis merupakan kelanjutan dari kegiatan terdahulu. Kegiatan
itu hendaknya disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan siswa dalam
menggunakan bahasa Inggris. Writing merupakan keterampilan yang
kompleks karena memerlukan kemampuan mengeja, struktur, dan penggunaan
kosakata.
Kegiatan belajar bahasa Inggris pada anak usia dini (khususnya usia SD)
lebih dititik beratkan pada kegiatan listening dan speaking. Hal ini dikarenakan
untuk kemampuan-kemampuan seperti reading maupun writing belum bisa
dikuasai secara baik oleh anak, mengingat adanya perbedaan antara tulisan dan
pengucapan bahasa inggris, sehingga anak akan mengalami kesulitan, karena
belum sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya.

12

3.5 Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di SD/MI


1) Grammar Translation Method
Pada metode Grammar (the Grammar Method) siswa mempelajari kaidahkaidah gramatika bersama-sama dengan daftar atau kelompok-kelompok
kosakata. Kata-kata tersebut kemudian dijadikan frase atau kalimat berdasarkan
kaidah yang telah dipelajari. Pada metode ini penguasaan kaidah kaidah lebih
diutamakan daripada penerapannya. Keterampilan lisan, seperti pelafalan, tidak
dilakukan. Metode ini mudah penerapannya karena guru tidak harus fasih
berbicara bahasa yang harus dipelajari, sedangkan evaluasi dan pengawasannya
juga tidak sulit. Metode Translation (the Translation Method) berisi kegiatan
kegiatan penerjemahan teks yang dilakukan dari hal mudah ke hal yang sulit.
Pertama dari bahasa sasaran ke bahasa ibu dan sebaliknya. Penerjemahan teks
dilakukan dengan cara penerjemahan kata per kata maupun gagasan per gagasan
termasuk ungkapan ungkapan idiomatic. Perpaduan dua metode tersebut di atas
melahirkan metode Grammar-Translation (the Grammar Translation Method /
GTM) yang memiliki ciri ciri sebagai berikut:
a. Pengajaran dimulai dengan pemberian kaidah kaidah gramatika dan
mengacu pada kerangka gramatika formal. Kosakata yang diajarkan
bergantung pada teks yang dipilih sehingga tidak ada kesinambungan antara
kelompok atau daftar kosakata yang satu dengan yang lainnya.

13

b. Penghafalan dan penerjemahan merupakan ciri kegiatan yang menonjol, yaitu


menghafal dan menerjemahkan kosakata dan kaidah gramatika.
c. Pelafalan tidak diajarkan atau sangat dibatasi hanya pada beberapa aspek saja.
d. Lebih menekankan pada ketrampilan membaca dan menulis daripada
menyimak dan berbicara.
Dari uraian di atas, GTM dapat didefinisikan sebagai metode pengajaran bahasa
melalui analisis kaidah-kaidah bahasa secara rinci dan diikuti dengan penerapan
pengetahuan tentang kaidah kaidah tersebut untuk tujuan penerjemahan kalimatklimat dan teks-teks, baik dari bahasa sasaran ke bahasa ibu atau sebaliknya.
Teknik teknik dalam Grammar Translation Method:
a. Translation of a literary passage
b. Fill-in-the-blanks
c. Reading comprehension questions
d. Memorization
e. Antonyms/Synonyms
f. Use words in sentences
g. Cognates
h. Composition
i. Deductive application of rute

2) Pengajaran Langsung (Direct Method)


Pengajaran langsung merupakan revisi dari Grammar Translation Method
karena metode ini dianggap tidak dapat membuat anak dapat berkomunikasi

14

dengan menggunakan bahasa asing yang sedang dipelajari. Dalam proses


pembelajaran, penerjemahan dilarang digunakan. Proses pembelajaran dengan
DM, guru menyuruh sank untuk membaca nyaring. Kemudian, guru memberi
pertanyaan dalam bahasa yang sedang dipelajari. Selama proses pembelajaran
berlangsung, objek seperti peta atau benda yang sesungguhnya bisa dipergunakan.
Guru bisa menggambar atau mendemonstrasikan.
Teknik-teknik dalam Direct Method:
1. Reading aloud
2. Question and answer exercise
3. Getting students to self-correct
4. Conversation practice
5. Fill-in-the-blanks
6. Dictation
7. Map drawing
8. Paragraph writing

3) The Audio Lingual Method


Istilah audio-lingualisme pertama-tama dikemukakan oleh Prof. Nelson
Brooks pada tahun 1964. Metode ini menyatakan diri sebagai metode yang paling
efektif dan efisien dalam pembelajaran bahasa asing dan mengklaim sebagai
metode yang telah mengubah pengajaran bahasa dari hanya sebuah kiat ke sebuah
ilmu. Audio Lingual Method (ALM) merupakan hasil kombinasi pandangan dan

15

prinsip-prinsip Linguistik Struktural, Analisis Kontrastif, pendekatan Aural


Oral, dan psikologi Behavioristik.

Dasar pemikiran ALM mengenai bahasa, pengajaran, dan pembelajaran bahasa


adalah sebagai berikut:
a. Bahasa adalah lisan, bukan tulisan
b. Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
c. Ajarkan bahasa dan bukan tentang bahasa
d. Bahasa adalah seperti yang diucapkan oleh penutur asli
e. Bahasa satu dengan yang lainnya itu berbeda
f. Richards & Rodgers (1986;51) dan Prayogo (1998:9) menambahkan beberapa
prinsip pembelajaran yang telah menjadi dasar psikologi audio lingualisme
dan penerapannya sebagai berikut:
Pembelajaran bahasa asing pada dasarnya adalah suatu proses pembentukan
kebiasaan yang mekanistik bahasa sasaran disajikan dalam bentuk lisan sebelum
dilihat dalam bentuk tulis.
Bentuk bentuk analogi memberikan dasar yang lebih baik bagi
pembelajar bahasa daripada bentuk analisis, generalisasi, dan pembedaan
pembedaan lebih baik daripada penjelasan tentang kaidah-kaidah.

4) The Silent Way


Ahli-ahli

psikologi

kognitif

dan

bahasa

transformasi-generatif

beranggapan bahwa belajar bahasa tidak perlu melalui pengulangan. Mereka

16

percaya bahwa pembelajar dapat menciptakan ungkapan ungkapan yang belum


pernah didengar. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa pembelajaran bahasa
tidak hanya menirukan tapi aturan-aturan berbahasa dapat membantu mereka
menggunakan bahasa yang dipelajari.
Dalam proses pembelajarannya, guru hanya menunjuk ke suatu chart yang
berisi dengan vocal konsonan. Guru menunjuk beberapa kali dengan diam.
Setelah beberapa saat guru hanya memberi contoh cara pengucapannya.
Kemudian menunjuk siswa untuk melafalkan sampai benar. Dalam proses
pembelajaran guru banyak berdiam diri, dia hanya mengarahkan/menunjuk pada
materi pembelajaran.
Teknik-teknik The Silent Way:
a. Sound-Color Chart
b. Word Chart
c. Teachers Silence
d. Fidel Chart
e. Peer Correction
f. Structured Feedback
g. Rods
h. Self-Correction Gestures

5) Suggestopedia
Georgi Losanov percaya bahwa dalam proses pembelajaran ada kendala
psikologi. Suggestopedia merupakan aplikasi sugesti dalam pedagogi dimana

17

perasaan pembelajar mengalami kegagalan dapat dihilangkan. Dalam model


pembelajaran suggestopedia, kendala psikologi pembelajar dapat diatasi..

Dalam mengaplikasikan model pembelajaran ini, ruang kelas ditata


sedemikian rupa sehingga berbeda dengan kelas biasa. Siswa duduk di sofa dalam
bentuk setengah lingkaran dengan penerangan yang remang remang. Beberapa
poster yang berhubungan dengan materi pembelajaran dipasang di tembok. Guru
menyapa dalam bahasa ibu kemudian meyakinkan pembelajar kalau mereka tidak
perlu berusaha untuk belajar tapi pembelajaran akan berlangsung secara alami.
Guru memutar musik klasik kemudian mengarahkan pebelajar untuk rileks
dengan cara menarik nafas panjang. Selanjutnya guru mengajak pembelajar
berimajinasi tentang materi yang sedang dipelajari. Ketika mereka membuka
mata,

mereka

bermain

peran.

Setelah

itu,

guru

membaca

memperdengarkan musik. Guru tidak memberi pekerjaan rumah.


Teknik teknik dalam Suggestopedia:
a. Classroom Set-up
b. Role-Play
c. Peripheral Learning
d. First Concert
e. Positive Suggestion
f. Second Concert
g. Visualization
h. Primary Activation

18

sambil

i. Choose a New Identity


j. Secondary Activation

6) Community Language Learning


Metode ini mempercayai prinsip whole persons yang artinya guru tidak
hanya memperhatikan perasaan dan kepandaian siswa tapi juga hubungan dengan
sesama siswa. Menurut Curran (1986:89) siswa merasa tidak nyaman pada situasi
yang baru. Dengan memahami prasaan ketakutan dan sensitif siswa guru dapat
menghilangkan perasaan negatif siswa menjadi energi positif untuk belajar.
Kursi disusun melingkar dengan sebuah meja di tengah. Ada sebuah tape
recorder di atas meja. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru menyuruh
siswa membuat dialog dalam bahasa Inggris. Jika siswa tidak mengetahui guru
membantu. Percakapan siswa direkam. Kemudian, hasil rekaman di tulis dalam
bentuk transkrip dalam bahasa Inggris dan bahasa ibu. Setelah itu kaidah kaidah
kebahasaan didiskusikan.
Teknik teknik Community Language Learning:
a. Tape recording Student Conversation
b. Reflective Listening
c. Transcription
d. Human Computer
e. Reflection on Experience
f. Small Group Tasks

19

3.6 Implikasi Positif Pembelajaran Bahasa Inggris pada Anak Usia SD


Pembelajaran bahasa Ingrris pada anak usia SD memiliki implikasi positif
bagi kehidupan sehari-hari. Menurut Marcoz dalam Mulyadin (2012), terdapat
tiga implikasi positif pembelajaran bahasa Inggris yaitu meliputi aspek kognitif
(cognitive), kepribadian (personality), dan sosial (societal).
1) Aspek Kognitif
Melalui pembelajaran dan penguasaan bahasa asing (bahasa Inggris), anak
cenderung lebih kreatif dan mampu berpikir kompleks sehingga mereka dapat
memecahkan permasalahan yang rumit. Selain itu, kemampuan berbahasa
mereka yang makin terasah akan meningkatkan potensi kemampuan otak kiri.
Tentu saja, kemampuan lainnya yang berada di otak kiri, seperti matematik
dan rasional, akan ikut meningkat. Oleh karena itu, dengan kata lain
kemampuan anak berbahasa asing memberikan pengaruh positif pada
pelajaran lainnya.
2) Aspek kepribadian
Anak yang mampu berbahasa asing memiliki rasa percaya diri yang tinggi
karena mereka lebih berani untuk mengekspresikan dirinya. Disamping rasa
percaya diri, melalui pengajaran bahasa asing yang mencakup berbagai topik
di dalamnnya, rasa ingin tahu mereka terbentuk dan mereka akan lebih
termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang baru. Rasa percaya diri dan
motivasi belajar menjadi hal yang lebih menonjol pada mereka dibandingkan
dengan anak yang tidak memiliki kemampuan bahasa asing.
3) Aspek sosial

20

Anak yang terbiasa dengan bahasa asing akan lebih terbuka dengan perbedaan
dan memiliki kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi khususnya
dengan orang asing. Oleh karena itu, mereka akan mudah untuk bersosialisasi
terlebih dengan perkembangan teknologi komunikasi dan jejaring sosial yang
makin pesat anak dapat membuat pertemanan mereka lebih luas.

21

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pembelajaran bahasa Inggris sekarang ini sudah bukan hal asing lagi jika
diajarkan pada anak usia dini, khususnya anak usia SD (6-12) tahun. Penguasaan
bahasa Inggris rupanya sudah menjadi kebutuhan bagi pelajar bahkan di hampir
semua jenjang pendidikan. Pembelajaran bahasa Inggris dapat dilakukan dengan
berbagai pendekatan teoritis seperti pendekatan behavioristik, pendekatan
linguistik, pendekatan interaksi kognitif, dan pendekatan interaksi sosial.
Dalam mengajarkan bahasa Inggris pada anak usia SD, pengajar harus
terlebih dahulu mengetahui karakteristik anak yang diajarnya. Hal ini diperlukan
agar pengajar dapat menentukan metode belajar seperti apa yang sesuai jika
diterapkan pada anak usia SD, karena setiap jenjang usia memiliki karakteristik
yang berbeda-beda terlebih dalam aspek kognitifnya. Selain itu pembelajaran
bahasa Inggris pada anak usia SD juga harus memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi pembelajaran bahasa Inggris seperti bahasa ibu, bahan ajar,
interaksi sosial, latar belakang keluarga dan media pembelajaran.
Kegiatan belajar bahasa Inggris meliputi menyimak (listening), berbicara
(speaking), membaca (reading) dan menulis (writing). Namun, untuk anak usia
SD pembelajaran lebih ditekankan pada listening dan speaking. Tentunya
pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia SD ini memiliki implikasi positif, di
antaranya dapat dilihat dari aspek kognitif, kepribadian dan sosial.

22

4.2 Saran
Pembelajaran bahasa Inggris yang sudah menjadi kebutuhan hendaknya
tidak dijadikan beban. Sudah sepatutnya anak sudah dikenalkan dengan bahasa
Inggris sejak dini sebagai persiapan dalam menghadapi tantangan arus globalisasi
yang mengharuskan adanya penguasaan bahasa Inggris sebagai penunjang.
Namun, kita tidak boleh melupakan begitu saja bahasa bangsa sendiri yaitu bahasa
Indonesia.

23

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Bambang Yudi. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris. Malang: Penerit


IKIP Malang.
Suhartono. 2005. Pengembangan Keterampilan Bicara Anak Usia Dini. Jakarta:
Diknas.
Suyanto, Kasihani K.E. 2008. English For Young Learners. Jakarta: Bumi Aksara.
Milafaila. 2011. Pemanfaatan Media Audio Visual sebagai Upaya untuk
Meningkatkan Penguasaan Bahasa Inggris Anak Usia Dini. (Online)
http://failashofagmail.wordpress.com/2011/05/05/21/ . Diakses 11 Juni
2012.
Mulyadin, Taufik. 2012. Bahasa Inggris dan Pembentukan Karakter Anak Sejak
Dini. (Online) http://pojokkangadin.blogspot.com/2012/02/bahasainggris-dan-pembentukan-karakter.html . Diakses 14 Juni 2012.

24

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang dengan


rahmat dan inayah-Nya kami dapat menyelasaikan penyusunan makalah yang
berjudul Strategi dan Teknik Pengajaran Bahasa Inggris di SD/MI.
Makalah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pembelajaran Bahasa Inggris SD/MI. Sehubungan dengan pentingnya mengetahui
tentang teknik pengajaran Bahasa Inggris di SD, maka pembahasan yang kami
lakukan sangat perlu untuk dibincangkan. Pada dasarnya strategi dan teknik
pengajaran Bahasa Inggris di SD/MI sangat penting adanya untuk menambah
sebuah pengalaman dan pengetahuannya, dalam hal ini mata pelajaran Bahasa
Inggris.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan
baik pada teknik penulisan maupun materi. Oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir
kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita maupun masyarakat.

Suryalaya, November 2014

Penyusun

25i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ......................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ......................................................................... 3

BAB II

LANDASAN TEORI ........................................................................ 4


2.1. Pemerolehan Bahasa .................................................................... 4
2.2.1.Pemerolehan Bahasa Pertama............................................. 4
2.2.2.Pemerolehan Bahasa Kedua ............................................... 4
2.2.3.Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Kedua .............................. 5

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................... 6


3.1. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Inggris .................................. 6
3.2. Karakteristik Anak Usia SD Sebagai Pembelajar Bahasa ........... 6
3.3. Metode Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Anak SD ............. 9
3.4. Kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Anak SD ............ 11
3.5. Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris di SD ............................... 13
3.6. Implikasi Positif Pembelajaran Bahasa Inggris Pada Anak SD .. 19

BAB IV PENUTUP ........................................................................................ 22


4.1. Kesimpulan ................................................................................. 22
4.2. Saran ............................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 24

26
i