Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul :
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN FARINGITIS DAN LARINGITIS.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa
(i) dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Pontianak, 27 Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI..

BABI PENDAHULUAN..

A. Latar Belakang...
B. Rumusan Masalah......................................................................................................
C. Tujuan.... 4

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................. 5
A. Faringitis....................................................................................................................
B. Laringitis....................................................................................................................

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan. 19
2. Saran ... 19
DAFTAR PUSTAKA....

20

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di
bagian atas dan sempit di bagian bawah serta terletak pada bagian anterior kolum vertebra
(Arjun S Joshi, 2011). Adalah peradangan pada mukosa faring. (Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT,
2000). Faringitis kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. Faringitis-Viral (Faringitis
karena Virus) adalah peradangan pharynx (bagian tenggorokan antara amandel dan pangkal
tenggorokan) yang disebabkan oleh virus. Selain virus, bakteri juga dapat menyebabkan
perdadangan. Namun yang paling umum penyebab peradangan adalah virus. Ketika di
tenggorokan tidak ditemukan bakteri penyebab gejala, kemungkinan besar faringitis
disebabkan virus. Peradangan ini mengkibatkan sakit tenggorokan. Faringitis dapat terjadi
sebagai bagian dari infeksi virus yang juga melibatkan sistem organ lain, seperti paru-paru
atau usus.
Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi
yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di
bawah 1 tahun. Insidensinya meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi
tetap berlanjut sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian yang
diakibatkan faringitis jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi penyakit
ini. Laring adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Fungsi
utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melinduni jalan
nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut
sebagai kontak suara yang terdiri atas:
1. Epiglotis daun katup kartilago yang menutupi ostium kearah laring selama menelan
2. Glotis Ostium antara pita suara dalam laring
3.

Kartilago tiroid Kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk
jakun (adams apple)

4.

Kartilago krikoid Satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam faring (terletak
dibawah kartilago tiroid)

5. Kartilago aritenoid Digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
6. pita suara Ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara, pita
suara melekat pada lumen laring
3

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang akan kami bahas dalam makalah kami ini yaitu:
1. FARINGITIS
A. DEFINISI
B. KLASIFIKASI
C. GEJALA
D. ETIOLOGI
E. PATOFISIOLOGI
F. GEJALA
G. KOMPLIKASI
H. PENATALAKSANAAN
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
J. PROGNOSIS
K. ASUHAN KEPERAWATAN FARINGITIS
2. LARINGITIS
A. DEFINISI
B. KLASIFIKASI
C. GEJALA
D. ETIOLOGI
E. PATOFISIOLOGI
F. MANIFESTASI KLINIS
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
H. PENDIDIKAN PASIEN LARINGITIS
I. KOMPLIKASI
J. PROGNOSIS
K. ASUHAN KEPERAWATAN LARINGITIS

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ada dua yaitu secara umum dan secara
khusus:
Secara umum kami akan menyampaikan tentang faringitis yang meliputi; definisi,
klasifikasi,gejala, etiologi,

patofisiologi,

komplikasi,penatalaksanaan,dan pemeriksaan

penunjang;

laringitis

yang

meliputi;

definisi,etiologi,patofisiologi,manifestasi

klinis,penatalaksanaan medis,pendidikankan pasien laringitis,dan komplikasi.


Secara khusus kami akan menyampaikan tantang asuhan keperawatan pada klien faringitis
dan larigitis.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
FARINGITIS

A.

DEFINISI
Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring).Faringitis (dalam bahasa
Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring.
Kadang juga disebut sebagai radang tenggorokan.
Radang tenggorokan berarti dinding tenggorokan menebal atau bengkak, berwarna lebih
merah, ada bintik-bintik putih dan terasa sakit bila menelan makanan.

B.

KLASIFIKASI
Secara umum faringitis dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

1.

Faringitis Akut
Faringitis virus atau bakterialis akut adalah penyakit yang sangat penting. Beberapa usaha
dilakukan pada klasifikasi peradangan akut yang mengenai dinding faring. Yang paling logis
untuk mengelompokkan sejumlah infeksi-infeksi ini dibawah judul yang relatif sederhana
Faringitis Akut. Disini termasuk faringitis akut yang terjadi pada pilek biasa sebagai akibat
penyakit infeksi akut seperti eksantema atau influenza dan dari berbagai penyebab yang tidak
biasa seperti manifestasi herpesdan sariawan.

2.

Faringitis Kronis

a.

Faringitis Kronis Hiperflasi


Pada faringitis kronis hiperflasi terjadi perubahan mukosa dinding posterior. Tampak mukosa
menebal serta hipertofi kelenjar limfe di bawahnya dan di belakang arkus faring posterior
(lateral band). Dengan demikian tampak mukosa dinding posterior tidak rata yang disebut
granuler.
5

b.

Faringitis Kronis Atrofi (Faringitis sika)


Faring kronis atrofi sering timbul bersama dengan rinitis atrofi.Pada rinitis atrofi udara
pernapasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga menimbulkan rangsangan serta
infeksi faring.

c.

Faringitis Spesifik

1)

Faringitis Luetika

a)

Stadium Primer
Kelainan pada stadium ini terdapat pada lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding faring
posterior.Kelainan ini berbentuk bercak keputihan di tempat tersebut.

b)

Stadium Sekunder
Stadium ini jarang ditemukan.Pada stadium ini terdapat pada dinding faring yang menjalar ke
arah laring.

c)

Stadium Tersier
Pada stadium ini terdapat guma.Tonsil dan pallatum merupakan tempat predileksi untuk
tumuhnya guma.Jarang ditemukan guma di dinding faring posterior.

3)

Faringitis Tuberkulosa
Kuman tahan asam dapat menyerang mukosa palatum mole, tonsil, palatum durum, dasar
lidah dan epiglotis. Biasanya infeksi di daerah faring merupakan proses sekunder dari
tuberkulosis paru, kecuali bila terjadi infeksi kuman tahan asam jenis bovinum, dapat timbul
tuberkulosis faring primer.

C.

GEJALA
Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri tenggorokan dan
nyeri menelan. Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan
dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. Gejala lainnya
adalah:
1.

Demam

2.

Pembesaran kelenjar getah bening di leher

3.

Peningkatan jumlah sel darah putih.


Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih

merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.


Kenali gejala umum radang tenggorokan akibat infeksi virus sebagai berikut:
1.

Rasa pedih atau gatal dan kering.


6

2.

Batuk dan bersin.

3.

Sedikit demam atau tanpa demam.

4.

Suara serak atau parau.

5.

Hidung meler dan adanya cairan di belakang hidung.

D.

ETIOLOGI

1.

Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh

virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV.
Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium,
arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
2.

Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam .

3.

Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.

4.

Virus coxsackie (hand, foot, and mouth disease).

5.

Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis

(menetap).
6.

Bakteri streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan

di laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala klasik
dari kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat bintik-bintik putih, muntah
muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya, disertai pembesaran kelenjar amandel.

E.

PATOFISIOLOGI
Organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang

menyebabkan edema dan bahkan ulserasi dapat mengakibatkan faringitis.Pada stadium awal,
terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat.Eksudat mula-mula serosa
tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan kemudian cenderung menjadi kering dan
dapat melekat pada dinding faring.
Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan
yang berwarna putih, kuning atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak
adanya tonsilia, perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak bahwa folikel limfoid
atau bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral, menjadi
meradang dan membengkak. Tekanan dinding lateral jika tersendiri disebut faringitis lateral.
Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsilia, hanya faring saja yang terkena.

F.

KOMPLIKASI

1.

Otitis media purulenta bakterialis


Daerah telinga tengah normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tube eustacius akibat
kontaminasi sekresi dalam nasofaring.

2.

Abses Peritonsiler
Sumber infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil.

3.

Glomerulus Akut
Infeksi Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal. Proses
autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh meimbulkan bahan autoimun
yang merusak glomerulus.

4.

Demam Reumatik
Infeksi streptoceal yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan
peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama pada katup
mitral dan aorta.

5.

Sinusitis
Sinusitis adalah radang sinus yang ada disekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris /
frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas
(salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga campuran seperti streptokokus, pneumokokus,
hemophilus influenza dan kleb siella pneumoniae.
8

6.

Meningitis
Infeksi bakteri padadaerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke
meningen dapat menyebabkan meningitis. Akan tetapi komplikasi meningitis akibat faringitis
jarang terjadi.

G. PETALAKSANAAN
1.

Antibiotik golongan penicilin atau sulfanomida

a.

Faringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin (125-250 mg penisilin V
tiga kali sehari selama 10 hari)

b.

Bila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (125 mg/6 jam untuk usia 0-2 tahun dan 250
mg/6 jam untuk usia 2-8 tahun) atau klindamisin.

2.

Tirah Baring

3.

Pemberian cairan yang adekuat

4.

Diet ringan

5.

Obat kumur hangat.


Berkumur dengan 3 gelas air hangat. Gelas pertama berupa air hangat sehingga penderita
dapat menahan cairan dngan rasa enak. Gelas kedua dan ketiga dapae diberikan air yang
lebihhangat.Anjurkan setiap 2 jam. Obatnya yaitu:

a.

Cairan saline isotonik ( sendok teh garam dalam 8 oncesair hangat)

b.

Bubuk sodium perbonat (1 sendok teh bubuk dalam 8 ounces air hangat). Hal ini terutama
berguna pada infeksi vincent atau penyakit mulut. (1 ounce = 28 g)

6.

Pendidikan Kesehatan.

a.

Instruksikan pasien menghindari kontak dengan orang lain sampai demam hilang. Hindari
penggunaan alkohol, asap rokok, tembakau dan polutan lain.

b.

Anjurkan pasien banyak minum. Berkumur dengan larutan normal salin dan pelega
tenggorokan bila perlu.

H.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.

Pada pemeriksaan dengan mempergunakan spatel lidah, tampak tonsil membengkak,


hiperemis, terdapat detritus, berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar
submandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.

2.

Pemeriksaan Biopsi
Contoh jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar faring)
dengan menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop
untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.

3.

Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam diagnosis
etiologi penyakit.Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang berharga.

4.

Pemeriksaan Laboratorium

a.

Sel darah putih (SDP)


Peningkatan komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi.

b.

Analisa Gas Darah


Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal diluar paru
seperti distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi.

I.

PROGNOSIS
Prognosis untuk faringitis akut sangat baik pada sebagian besar kasus. Biasanya
faringitis akut sembuh dalam waktu 10 hari, namun harus berhati-hati dengan komplikasi
yang berpotensi terjadi (John R. Acerra, 2013).

10

ASUHAN KEPERAWATAN FARINGITIS

A.

PENGKAJIAN

1.

Riwayat Kesehatan

2.

a.

Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya: batuk, pilek, demam.

b.

Riwayat alergi dalam keluarga

c.

Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi

d.

Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan

e.

Ada/tidak riwayat merokok

Pemeriksaan Fisik
a.

Pernapasan

Pernapasan dangkal, dipneu, takipneu, tanda bunyi napas ronchi halus dan melemah,
wajah pucat atau sianosis bibir atau kulit
b.

Aktivitas atau Istirahat

Kelelahan, malaise, insomnia, penurunan toleransi aktivitas, sirkulasi takikardi, dan


pucat
c.

Makanan dan cairan

Gejala :

Kehilangan nafsu makan, disfagia, mual dan muntah.

Tanda :

Hiperaktivitas bunyi usus, distensi abdomen, turgor kulit buruk.

d.

Observasi

1)

Adanya retraksi atau pernapasan cuping hidung

2)

Adanya kepucatan atau sianosis warna kulit

3)

Adanya suara serak, stridor, dan batuk

4)

Perilaku: gelisah, takut

5)

Adanya sakit tenggorok, adanya pembesaran tiroid, pengeluaran sekret, kesulitan

menelan.
6)

Tanda-tanda: nyeri dada, nyeri abdomen, dyspnea


11

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN.

1.

Peningkatan suhu tubuh berhubungandengan adanya peradangan

2.

Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada tenggorokan

3.

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan secret

4.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan

menelan

C.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa

Intervensi

Rasional

1. Ukur tanda-tanda vital

1. Untuk mengetahui keadaan pasien

2. Monitor temperature tubuh secara


2. Mengetahui perkembangan suhu tubuh.
DX-1

teratur
3.

Identifikasi

3.
adanya

Mengetahui adanya dehidrasi dan

dehidrasi, tingkat
4. Membantu dalam proses penyembuhan

peradangan

4. Kolaborasi pemberian antibiotik,


antipiretik
1. Kaji ulang tingkat nyeri
DX-2

1. Agar tepat dalam memilih tindakan


untuk mengatasi nyeri

2. Ajarkan teknik relaksasi


2.

3. Kaji TTV
4.

Kolaborasi
analgetik

dalam

pemberian
3.

Meningkatkan

relaksasi

dan

mengurangi nyeri
Untuk mengetahui keaadaan umum
pasien

1. Kaji intake makanan pasien


DX-3

2.

4. Untukmenguranginyeri
1. Untuk mengetahui adanya peningkatan

Anjurkan pasien untuk makan nafsu makan


12

makanan yang tinggi kalori dan2.


serat
1.
DX-4

Identifikasi

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi


pasien

kualitas

atau1.

kedalaman nafas pasien.

Untuk mengetahui keadaan nafas


pasien.

2. Anjurkan untuk minum air hangat.2. Untuk mencairkan secret agar mudah
3. Ajari pasien untuk batuk efektif.

keluar.

4. Kolaborasi untuk pemberian terapi3. Untuk melegakan saluran nafas.


4. Untuk mengencerkan dahak.

13

BAB II
TINJAUAN TEORI
LARINGITIS
A. DEFINISI
Laringitis adalah peradangan pada laring yang terjadi karena banyak sebab. Inflamasi
laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan terhadap
debu, bahan kimiawi, asap, dan polutan lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran
nafas atas. Kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi yang terisolasi yang hanya mengenai
pita suara. (KMB, Alfi Syahar Yakub S.Kp, Laringitis 2003)
Laringitis adalah peradangan kotak suara (laring) karena terlalu banyak digunakan,
iritasi atau infeksi. Di dalam kotak suara terdapat pita suara - dua lipatan selaput lendir yang
membungkus otot dan tulang rawan.

B. ETIOLOGI
Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan suara,
pemanjaan terhadap debu, bahan kimiawi , asap rokok, dan polutan lainnya, atau sebagai
bagian dari infeksi saluran nafas atas.
Penyebab inflamsi ini hamper selalu karena virus . Invasi bakteri mungkin
sekunder. Laringitis biasanya berkaitan dengan ringitis atau nasofaring. Awitan infeksi
mungkin berkaitan dengan pemanjaan terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet,
malnutrisi, dan tidak ada imunitas.
C. GEJALA
a. Laringitis akut
Suara serak
Afonia
Batuk berat
Tenggorokan nyeri dan gatal
b. Laringitis kronik
Suara serak yang persisten
14

Nyeri tenggorok memburuk pada pagi dan malam hari


Batuk kering dan keras

D. PATOFISIOLOGI
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin
sekunder. Laringitis biasanya disertai rinitis atau nasofaring. Awitan infeksi mungkin
berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi,
dan tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan.
Ini terjadi seiring Dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang
meningkat. Laringitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian
atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang
kelenjar mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran
nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan
iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut.
Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran mediator kimia darah yang
jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu tubuh.

E. GEJALA
Tanda dan gejala laringitis akut termasuk suara serak atau tidak dapat
mengeluarkan suara sama sekali dan batuk berat. Laringitis kronis ditandai oleh suara serak
yang persisten. Laringitis mungkin sebagai komplikasi sinusitis kronis dan bronkhitis kronis.

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan laringitis akut termasuk mengistirahatkan suara, menghindari
merokok, istirahat di tempat tidur, dan menghirup uap dingin atau aerosol. Jika laringitis
merupakan bagian dari infeksi pernafasan yang lebih luas akibat organisme bakteri atau jika
lebih parah, terapi antibiotik yang tepat perlu diberikan. Sebagian besar pasien dapat sembuh
dengan pengobatan konservatif, namun laringitis cenderung lebih parah pada pasien lansia
dan dapat diperburuk oleh pneumonia.
Untuk laringitis kronis, pengobatannya termasuk mengistirahatkan suara,
menghilangkan setiap infeksi traktus respiratorius primer yang mungkin ada, dan membatasi
merokok .

15

Penggunaan kortikosteroid topikal, seperti inhalsi beklometason dipropinate (


Vanceril), dapa juga digunakan.
Preparat ini tidak mempunyai efek sistemik atau kerja lama dan dapat mengurangi reaksi
inflamsi lokal.

G. INTERVENSI KEPERAWATAN / PENDIDIKAN PASIEN


Pasien diinstruksikan untuk mengistirahatkan suara dan mempertahankan
kelembaban lingkungan. Jika terjadi sekresi larinngeal selam periode akut, disarankan
penggunaan ekspektoran sejalan dengan pemasukan cairan harian 3 L untuk mengencerkan
sekresi.

H. KOMPLIKASI
1. Sepsis
2. Abses peritonsilar
3. Otitis media
4. Sinusitis

I. PROGNOSIS
Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama
satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat menyebabkan
udem laring dan udem subglotis sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas dan bila hal
ini terjadi dapat dilakukan pemasangan endotrakeal atau trakeostomiaik

ASUHAN KEPERAWATAN LARINGITIS

A.PENGKAJIAN
Riwayat pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda dan gejala
sakit kepala, sakit tenggorokan, dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi hidung, kesulitan
menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat, dan rasa tidak nyaman umum dan
keletihan. Menetapkan kapan gejala mulai timbul, apa yang menjadi pencetusnya, apa jika
ada yang dapat menghilangkan atau meringankan gejala tersebut dan apa yang memperburuk

16

gejala tersebut adalah bagian dari pengkajian, jika mengidentifikasi riwayat alergi atau adnya
penyakit yang timbul bersamaan.
Inspeksi menunjukkan pembengkakan, lesi, atau asimetris hidung juga perdarahan
atau rabas. Mukosa hidung diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warna kemerahan,
pembengkakan, atau eksudat, dan polip hidung yang mungkin terjadi dalan ritinitis kronis.
Sinus frontal dan maksilaris dipalpasi terhadap nyeri tekan, yang menunjukkan
inflamasi. Tenggorokan diamati dengan meminta klien membuka mulutnya lebar-lebar dan
nafas dalam. Tonsil dan faring diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warna
kemerahan, asimetris, atau adanya drainase, ulserasi, atau perbesaran
Trakea di palpasi terhadap posisi garis tengah dalam leher juga dipalpasi terhadap
pembesaran dan nyeri tekan yang berkaitan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan Dengan sekresi berlebihan sekunder akibat
proses inflamasi
2. Nyeri yang berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : sakit kepala, nyeri otot dan sendi, perilaku
distraksi,gelisah.
3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan napas atas
sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.
4. Defisit kekurangan cairan yang berhungan dengan peningkatan kekurangan cairan
sekunderakibat diaphoresis yang berkaitan dengan demam.

C. IMPLEMENTASI
Tujuan :
pasien dapat mencakup pemeriksaan potensi jalan nafas,menghilangkan nyeri,pemeliharaan
efektif komunikasi, tidak terjadi deficit volume cairan

D. INTERVENSI
1. Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan Dengan sekresi berlebihan sekunder akibat
proses inflamasi
17

Intervensi
Kaji frekwensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
R/: Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena
ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau cairan paru.
Auskultasi area paru, catat area penurunan, atau tak ada aliran udara dan bunyi nafas
adventisius, mis: krekels, mengi.
R/: Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi Dengan cairan.
Bunyi nafas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi.
Krekels, ronkhi, dan mengi terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respon terhadap
pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan nafas/ obstuksi.
Bantu pasien latihan nafas sering, tunjukkan atau Bantu pasien mempelajari, melakukan
batuk, mis: menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
R/: Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil.
Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk
mempertahankan jalan nafas paten. Penekana menurunkan ketidaknyamanan badan dan
posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.

Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesic.
R/: Alat untuk menurunkan spasme bronkus Dengan mobilisasi secret.
Analgesik diberikan untuk memperbaiki batuk Dengan menurunkan ketidaknyamanan
tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk atau
menekanpernafasan.

2. Nyeri yang berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.


Kemungkinan dibuktikan oleh : sakit kepala, nyeri otot dan sendi, perilaku distraksi,gelisah.
Intervensi :
Berikan tindakan nyaman mis : pijitan punggung, perubahan posisi, perbincangan,
relaksasi/latihannafas.
R/: Tindakan non analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan
ketidaknyamanan dan memeperbesar efek terapi analgetik.
Tawarkan pembersihan mulut dengan sering
18

R/: Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran
mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
Kolaborasi
Berikananalgesikdanantitusif sesuai indikasi.
R/: Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/paroksismal atau
menurunkan mukosa berlebihan,meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.

3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan napas atas sekunder
akibat infeksi atau pembengkakan.

Intervensi:
Berikan pilihan cara komunikasi yang lain seperti papan dan pencil
R/: Cara komunikasi yang lain dapat mengistirahatkan laring untuk berkomunikasi secara
verbal sehingga dapat meminimalkan penggunaan pita suara.
Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik, antisipasi kebutuhan.
R/: Sentuhan diyakini untuk memberikan peristiwa kompleks biokimia Dengan kemungkinan
pengeluaran endokrin yang menurunkan ansietas.
4. Defisit kekurangan cairan yang berhungan dengan peningkatan kekurangan cairan
sekunderakibat diaphoresis yang berkaitan dengan demam.
Intervensi
Berikan cairan sedikitnya 2500 mL /hari (kecuali kontraindikasi) Tawarkan air hangat, atau
dingin.
R/: untuk dapat memenuhi cairan tubuh yang keluar akibat demam (khusus cairan yang
hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.

E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1. Mempertahankan jalan nafas tetap paten dengan mengatasi sekresi

Melaporkan penurunan kongesti

Mengambil posisi terbaik untuk memudahkan drainase sekresi

2. Melaporkan perasaan lebih nyaman

Mengikuti tindakan untuk mencapai kenyamanan analgesic, kumur, istirahat

Mempertahankan hygiene mulut yang adekuat


19

3. Menunjukkan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan,keinginan dan tingkat


kenyamanan
4. Mempertahankan masukan cairan yang adekuat
5. Mengidentifikasi strategi untuk mencegah infeksi jalan nafas atas dan reaksi alergi
6. Menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup dan melkukan perawatan diri secara adekuat

20

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Faringitis kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. Faringitis-Viral (Faringitis
karena Virus) adalah peradangan pharynx (bagian tenggorokan antara amandel dan
pangkal tenggorokan) yang disebabkan oleh virus. Selain virus, bakteri juga dapat
menyebabkan perdadangan. Namun yang paling umum penyebab peradangan adalah
virus. Ketika di tenggorokan tidak ditemukan bakteri penyebab gejala, kemungkinan
besar faringitis disebabkan virus. Peradangan ini mengkibatkan sakit tenggorokan.
Faringitis dapat terjadi sebagai bagian dari infeksi virus yang juga melibatkan sistem
organ lain, seperti paru-paru atau usus.
Laringitis adalah peradangan pada laring yang terjadi karena banyak sebab. Inflamasi
laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan
terhadap debu, bahan kimiawi, asap, dan polutan lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi
saluran nafas atas. Kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi yang terisolasi yang
hanya mengenai pita suara.
Penatalaksanaan laringitis akut termasuk mengistirahatkan suara, menghindari
merokok, istirahat di tempat tidur, dan menghirup uap dingin atau aerosol. Jika laringitis
merupakan bagian dari infeksi pernafasan yang lebih luas akibat organisme bakteri atau
jika lebih parah, terapi antibiotic yang tepat perlu diberikan. Sebagian besar pasien dapat
sembuh Dengan pengobatan konservatif; namun laringitis cenderung lebih parah pada
pasien lansia dan dapat diperburuk oleh pneumonia. Untuk laringits kronis,
pengobatannya termasuk mengistirahatkan suara, menghilangkan setiap infeksi traktus
respiratorius primer yang mungkun ada, dan membatasi merokok. Penggunaan
kortikosteroid topical, seperti inhalasi beklometason dipropionate (vanceril), dapat
digunakan. Preparat ini tidak mempunyai efek sistemik atau kerja lama dan dapat
megurangi reaksi inflamasi local.

B. Saran
Saran kami kepada pembaca agar kiranya memahami lebih lanjut mengenai materi
yang kami sampaikan ini, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari
makalah ini jadi kami mengharapkan kritik yang bersifat membangun.

21

DAFTAR PUSTAKA

Suzanne C. Smeltzert & Brenda G. Bare 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta : EGC

Hermani B. Kartosudiro S. & Absdurrahman B. 2003. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung dan Tenggorok Kepala leher. Jakarta : FKUI

Abdurrahman MH. 2003 Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak edisi ke 2. Jakarta :FKUI

Cody R Thane. Kwern B Lungene Pearson W Bruce. 1991 Buku Penyakit Telinga Hidung
dan Tenggorokan. Jakarta : EGC

Arief mansjoer. Suprohaita. Wahyu Ika Wardhani. & Wiwiek Setiowulan.2000 Kapita
Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : FKUI

http://www.jevuska.com

22