Anda di halaman 1dari 28

SAFETY VALVE (KATUP PENGAMAN).

1.

INTRODUCTION.

Pressure reliefing devices atau biasa kita sebut katup pengaman ialah suatu
peralatan yang di design untuk melindungi suatu peralatan lain dari Internal
Pressure yang di akibatkan suatu kondisi yang tidak normal.
Katup pengaman didesign untuk membuka sendiri bila ia mendapat tekanan
sebesar tekanan yang telah diset/ ditulis pada rapture disk (set pressure).
Kondisi overpressure dapat terjadi didalam satu dari dua cara :

Kenaikan tekanan secara gradual disebabkan oleh pengoperasian yang


tidak tepat atau malfunction dari peralatan.

Kenaikan tekanan secara cepat dan tiba2 yang disebabkan oleh


tertutupnya aliran.

1.1.

Data Safety Valve.

SAFETY VALVE DATA

Set Pressure (bar)

Minimum Capacity (kg/ hr)

LP Drum #1

9.0

37, 404

LP Drum #2

9.3

38, 556

TOTAL

75, 960

HPSH Outlet

92.0

75, 564

HP Drum #1

99.0

102, 204

HP Drum #2

102.0

105, 012

TOTAL

282, 780

Valves didesain untuk beroperasi tanpa chatering dan untuk mencapai


pengangkatan penuh pada tidak lebih dari 3% diatas setting pressurenya.

Valves menutup dalam batas 4% dari setting tekanannya, tetapi tidak kurang dari
2% dari Setting Pressurenya
Code Boiler dan Bejana Bertekanan yang terdapat di American Soceiety of
Mechanical Engineers (ASME), menyatakan bahwa semua bejana tekan dan
boiler yang termasuk dalam ruang lingkup standar baik SII, ASME dan lain-lain
harus dilengkapi dengan piranti pelindung atau katup pengaman (dalam SII
disebut katup pembebas tekanan) apapun jenisnya asalkan sesuai.
Code Boiler dan Bejana Bertekanan juga menghendaki agar safety valve
mempunyai kapasitas pengamanan atau pembebasan terhadap tekanan lebih
setidak tidaknya sama dengan aliran uap pada rated full load boilernya.
Jumlah safety valve yang dipasang tergantung dari disain boilernya. Suatu contoh
pada suatu Boiler ada yang seperti berikut :
Aliran uap pada saat Full Load untuk Boiler yang didesain dengan Natural Gas
pada sisi HP adalah 213.500 kg/ jam (59.3 kg/s) pada tekanan 80.2 bar dan aliran
uap disisi LP adalah 62.640 kg/ jam (17.4 kg/ s) pada tekanan 5.5 bar.

1.2.

Lokasi Pemasangan Safety Valve.

Safety valve type spring didatangkan bersamaan dengan boiler dipasang pada
drums dan pada feed water (air pengisi) dan steam lines.
Contoh ini yang terdapat pada HRSG di suatu pembangkit :

1 safety valve (HAC15AA009) terpasang pada down stream dari Low


Pressure (LP) Economizer No.1.

Ada dua drum safety valves (HAD10 AA001/ AA002) terpasang langsung
pada LP. Steam Drum.

Ada dua drum safety valves (HAD50 AA001/ AA002) terpasang langsung
pada HP. Steam Drum.

Ada satu Superhaeat Safety Valve (LBA50 AA001) terpasang langsung


pada HP Superheater Outlet.

1.3. Urutan Pembukaan (Opening Sequence).

Tekanan pembukaan safety valve atau pelepasan tekanan diatur untuk mencegah
semua safety valve dari terjadinya letupan (popping) dalam waktu yang
bersamaan (Lihat data 1).
Pengaman Superheater, atau HP Steam outlet Safety Valve, diset dengan
tekanan lebih rendah dari Drum Safety Valves. Hal ini menjamin bahwa aliran uap
dipertahankan menuju superheater jika terjadi kondisi over pressure. (Gbr. 2).

HP Steam Outlet Safety Valve (LBA50 AA001) diset untuk mengangkat


pada tekanan 92. bar untuk membuat kapasitas pelepasan tekanan 75,
564 kg uap/ jam (20.99 kg/s).

Dengan adanya kenaikkan tekanan pada drum, drum safety valve diset untuk
membuka pada urutan setelah superheater outlet safety valve.

LP Drum Safety Valve yang pertama (HAD10 AA001) diset untuk


mengangkat pada tekanan 9.0 bar untuk membuat kapasitas pelepasan
tekanan 37, 404 kg uap/ jam (10.39 kg/s).

LP Drum Safety Valve yang kedua (HAD10 AA002) diset untuk


mengangkat pada tekanan 9.3 bar untuk membuat kapasitas pelepasan
tekanan 38, 556 kg uap/ jam (10.71 kg/ s).

LP Economicer 1 Safety Valve (HAC15 AA009) diset untuk mengangkat


pada tekanan 21.0 bar untuk membuat kapasitas pelepasan tekanan 24,
228 kg uap/ jam (6.73 kg/ s).

HP Drum Safety Valve yang pertama (HAD50 AA001) diset untuk


mengangkat pada tekanan 99.0 bar untuk membuat kapasitas pelepasan
tekanan 102, 204 kg uap/ jam (28.39 kg/ s).

HP Drum Safety Valve yang kedua (HAD50 AA002) diset untuk


mengangkat pada tekanan 102.0 bar untuk membuat kapasitas pelepasan
tekanan 105, 012 kg uap/jam (29.17 kg/s).

Gbr. 1 Cordinasi Setting Savety Valve

2.

BAGIAN- BAGIAN DARI KATUP PENGAMAN (SAFETY VALVE).

Safety Valve terdiri dari sebuah disc dan seat, yang membentuk seating surface.
Disc ini terpasang pada valve stem, yang seluruhnya pasangan ini disebut
spindle. Spindle terpasang langsung pada valve body.

Pergerakan Spindle untuk membuka penuh katup dengan pengangkatan


disc dari seating surface. Spindle tersebut mempunyai sebuah stopper
yang membatasi jarak pembukaan.

Sejumlah kecil dari total pergerakan adalah keseluruhan yang diharapkan


untuk mendapatkan jarak yang sesuai sehingga spindle harus begerak dari
keadaan posisi menutup keposisi membuka penuh.

.
Gbr. 2 Bagian-bagian Dari Safety Valve.

Safety valve terdiri dari sebuah pegas, baut penekan, valve body, pengunci, dan
peralatan pengangkat secara manual.
Pegas berfungsi untuk mengkontrol tekanan pada saat valve membuka, dan juga
dimaksudkan untuk mengembalikan disc kepada posisi menutup.

Ketika pegas menekan untuk memberikan daya yang diperlukan untuk


mendorong disc agar tetap menyentuh seat sampai tekanan uap yang
berada dibawah disc mendorong valve untuk membuka.
Tekanan pegas atau tekanan pembukaan dapat diatur dengan pertahanan
tekanan dari baut tekan pada settingnya.
Valve diperlengkapi dengan batang pengungkit (lever) untuk dapat
membuka secara manual dari jarak yang aman Pengungkit ini tidak perlu
dipergunakan kecuali untuk keperluan pengetesan dan oleh orang yang
qualified.
Valve Body terpasang pada areal drum, steam line, pada discharge piping
yang akan membuang uapnya ke atmosphere. Didalam valve body ada
upper dan lower adjustment rings dan bagian pembuangan untuk
menghilangkan tekanan uap.

Discharge piping merupakan bagian yang terpisah dari safety valve tetapi fungsi
kegunaannya untuk memberikan laluan discharge dari uap yang dilepaskan.
3. FUNGSI SAFETY, RERIEF VALVE.
3.1.

Safety Valve

Safety valve adalah suatu alat pelepas tekan yang bekerja secara otomatis
yang diakibatkan oleh tekanan static pada valve dan biasanya digunakan
untuk gas dan uap (steam system). Safety valve tidak digunakan pada
daerah-daerah korosif, cairan dan peralatan yang bersifat korosif. Mulai
bekerja / membuka pada posisi 60 80 % dan terbuka penuh pada saat
tekanan mencapai setting (menutup dibawah setting).
Pada safety valve terdapat 2 (dua) ring pengatur, Yaitu :
Ring untuk blowdown.
Ring untuk poping.
3.2.

Relief Valve
Relief valve adalah suatu alat pelepas tekanan yang bekerja secara
otomatis yang diakibatkan oleh tekanan static pada valve. Relief valve
biasanya digunakan untuk pelayanan cairan dan biasanya tidak
digunakan untuk pelayanan steam gas. Karakteristiknya ialah bahwa
seat pada valve membuka secara proporsional sesuai dengan kenaikan

tekanan diatas setting pressure. Membuka karena tekanan melebihi


setting dan menutup pada saat tekanan sama dengan setting.
3.3.

Safety Relief Valve


Safety relief valve adalah suatu alat pelepas tekanan yang bekerja
secara otomatic yang diakibatkan oleh tekanan static pada valve.
Safety relief valve dapat digunakan sebagai safety valve ataupun
sebagai relief valve.
Safety relief valve biasanya digunakan pada :
1) Peralatan dengan service yang korosif.
2) Bila discharge (lubang pelepas tekanan) berada cukup jauh darai alat.
Tetapi safety valve tidak dapat digunakan untuk perlatan dengan service
steam boiler atau super heater.

4. JENIS-JENIS SAVETY VALVE.

Gbr. 3 Reverse Buckling Disc Assembly dan Wing Guide Safety Valve.

Gbr. 4 Convensional Safety Relief ValveWith Adjusting Ring


For Blow Down Control

Gbr.5 Balanced Bellows Safety Relief Valve

Gbr. 6 Safety Relief Valve With O Ring Seal

Gbr. 7 Pilot Operated Valve

Gbr. 8 High Presure, Pilot Operated Vallve


With Optional Dual Outlets

Gbr. 9 Typical O-Ring Seat Seal Safety-Relief Valve.

Gbr 10. Cara Bekerjanya Katup.

5 PEMERIKSAAN

5.1 Pemeriksaan Saat Baru


Seluruh jenis katup pengaman harus diinspeksi dan ditest sebelum
dipasang pada peralatan yang akan diamankan. Pemeriksaan ini
dimaksudkan untuk memeriksa kemungkinan adanya kerusakan akibat
transportasi.
5.2 Pemeriksaan Tak Terencana
Inspeksi ini biasanya dilakukan saat peralatan beroperasi (onstream),
dikarenakan terjadi over pressure tetapi pada saat kondisi tekanan normal
kembali katup pengaman tidak menutup kembali dengan benar atau juga
jika katup pengaman tidak mau membuka padahal set pressure-nya
sudah terpenuhi.
Tindakan pencegahan yang harus segera dilakukan adalah :
a. Hystorical card dan seluruh dokumen harus diteliti ulang terlebih
dahulu.
b. Hubungannya dengan rencana shutdown.
c. Pelaksanaan inspeksi harus dikoordinasikan dengan bagian operasi.
d. Dilakukan oleh petugas yang berwenang.
5.3 Pemeriksaan Saat Shutdown
Inilah saat yang paling ideal untuk melakukan inspeksi. Pada saat
shutdown ini, terutama pada katup pengaman yang tidak dilengkapi block
valve harus di periksa dan ditest, untuk mengurangi / menghindari resiko
kegagalan pada saat peralatan beroperasi.
5.4 Pemeriksaan Setelah Shutdown Yang Panjang.
Bila terjadi shutdown yang panjang maka pada katup pengaman yang
sudah terpasang, sebelum peralatan dioperasikan harus diperiksa,
terlebih dahulu, terutama pada katup pengaman yang tertinggal pada
peralatan yang
saat pengujiannya belum sampai. Inspeksi ini
dimaksudkan antara lain untuk memeriksa kondisi katup pengaman dari
keadaan karat dll.
5.5 Pemeriksaan Saat Peralatan Proteksi Ditest Ataupun Stand-by
Inspeksi ini dilakukan untuk memeriksa kebenaran :
a. Apakah katup pengaman telah dipasang dengan benar.
b. Tag number.
c. Tidak ada blind valve dan block valve pada posisi terbuka penuh.
d. Penyegelan katup pengaman telah benar.
e. Discharge ataupun ventnya telah benar.
f. Bila ada lifting apakah gerak posisinya benar.

5.6 Pemeriksaan Visual Pada Saat Onstream.


Visual inspeksi saat peralatan onstream pelaksanannya semacam survey
untuk mengetahui kebenaran.
a. Katup pengaman sudah terpasang dengan benar.
b. Identitasnya jelas
c. Segel-segel tidak putus.
d. Block valve posisinya terbuka penuh.
e. Tidak terdapat kebocoran.
f. Tidak terdapat kerusakan maupun korosi.
g. Vent / dischargenya sudah benar.
h. Lifting gear posisinya benar.
i. Bila ada rupture disk diantara katup pengaman dan outlet nozzle,
harus dalam keadaan tidak bertekanan.
6. KEGAGALAN KATUP PENGAMAN
Katup pengaman yang terpasang sering mengalami gangguan atau kegagalan
beroperasi, banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan atau kerusakan,
antara lain disebabkan oleh :
6.1. Korosi
Korosi adalah jenis penyebab yang paling banyak menyebabkan katup
pengaman tidak berfungsi dengan baik. Korosi dapat menyebabkan pitting
pada bagian dari katup pengaman bahkan dapat menyebabkan bagianbagian tersebut patah.
6.2. Permukaan Dudukan Katup (Permukaan seat)
Bagian ini harus benar-benar presisi, sedikit saja terjadi perubahan atau
kerusakan dapat mengakibatkan terjadinya kebocoran.
Beberapa penyebab kerusakan pada permukaan seating ini antara lain
oleh :
a. Korosi.
b. Material asing, seperti kotoran, kerak las, corrosive deposit, dan lainlain yang masuk ke dalam katup pengaman saat katup pengaman
dalam posisi buka.
c. Hammering saat terjadi tekanan lebih yang menyebabkan katup
pengaman membuka dan pada saat katup pengaman tersebut melepas
tekanan yang lebih, media ikut terbawa keluar dan katup pengaman
segera menutup kembali yang menyebabkan hammering action dan
membuat kerusakan pada seating surface.

d. Kelalaian penanganan saat katup pengaman diperbaiki seperti jatuh,


terbentur atau tergores pada bagian katup pengaman.
e. Kebocoran pada seating surface setelah katup pengaman terpasang
akibat mis alignment dari bagian katup.
6.3. Pegas Katup Patah
Patah pegas/spring hampir pasti disebabkan oleh karena korosi, yaitu :
- General corrosion
- Stress corrosion
a. Pengesetan Yang Tidak Benar.
b. Pengesetan yang tidak benar kebanyakan disebabkan oleh
kelalaian personnel pada saat testing / perbaikan atau kurang
mengertinya personnel tersebut di dalam melakukan setting antara
lain merubah set pressure melebih toleransi.
c. Penyetelan setting yang melebihi toleransi dapat menyebabkan
dudukan pegas menjadi tidak benar atau dapat menyebabkan strres
corrosion cracking pada spring akibat tekanan yang berlebihan.
6.4. Plugging dan Sticking.
d. Plugging dan sticking ialah penyumbatan pada saluran inlet atau
outlet dari katup pengaman yang diakibatkan media naik pada
permukaan katup, sementara media tersebut mengandung material
zat padat juga disebabkan adanya korosi.
6.5. Material Katup Tidak Sesuai.
e. Material yang tidak sesuai, bisa menyebabkan katup tidak berfungsi
dengan baik.

Contoh jenis material yang berhubungan dengan temperature.

Bodi
Carbon steel
Carbon steel
Carbon molysteel

Spring
Carbon steel
Higth temp. alloy
Higth temp. alloy

Temperature
-20F s.d 450F
451F s.d 800F
801F s.d 1000F

3 Nickel steel
3 Nickel steel
Austentic stainless
steel

Carbon steel
Austentic stainless steel
Austentic stainless steel

-21F s.d -75F


-76F s.d -150F
-151F s.d-150F

Dalam beberapa kasus dikarenakan faktor operasi yang sangat fluktuative


maka sering kali terjadi kenaikan tekanan meskipun belum sampai pada
tekanan buka penuh dari katup pengaman, tetapi katup pengaman
tersebut sudah mulai bergerak.. Hal ini dapat berakibat misalignment pada
valve dan akan menyebabkan terjadi kebocoran pada tekanan
operasionalnya.

6.6 Identitas Yang Tidak Sesuai


Salah pemasangan antara lain disebabkan identitas katup pengaman
yang tidak jelas.
6.7 Penanganan Yang Tidak Hati Hati.
Katup pengaman adalah barang dengan presisi tinggi, penanganan yang
tidak hati-hati dapat menyebabkan katup pengaman tersebut tidak
berfungdi sebagaimana mestinya. Penanganan yang tidak hati-hati dapat
terjadi pada saat perjalanan atau saat maintenance.
Saat Shipment/perjalanan
Akibat pengepakan yang kurang rapat sehingga kotoran-kotoran dari
luar dapat msauk, atau kurang kuat pengepakan sehingga pecah dan
terbentur yang menyebabkan perubahan pada bagian dalam katup
pengaman, atau malah terjadi kerusakan mekanik.
Saat Pemeliharaan /Maintenance
Kerusakan yang terjadi pada saat maintenance/pemeliharaan,
disebabkan oleh ketidaktahuan atau kecerobohan personel, seperti
resetting yang melebihi tolerance, salah pada saat lapping, salah
penggantian suku cadang dan lain-lain.
6.8 Selisih Setting Pressure Dengan Tekanan Kerja.
Selisih setting pressure dengan tekanan kerja harus cukup, sehingga pasti
saat katup dapat merapat dengan baik. Selisih antara setting pressure
dengan tekanan kerja yang kecil, bisa menyebabkan terjadinya kebocoran
uap yang menyebabkan terjadinya erosi.

7. PERAWATAN / PERBAIKAN KATUP

7.1 Pemeriksaan Secara Visual.


Hal hal yang harus dicatat saat melakukan visual inspection :
a. Name plate dan informasi penting lain,
b. Periksa segel
c. Periksa bonnet untuk mengetahui apakah type venting atau bellow.
d. Periksa kondisi-kondisi yang tidak biasa dan bagian-bagian yang
hilang.
e. Catat nomor identifikasi (dengan nomor).
7.2 Pembongkaran katup
a. Buka cap dan Lever.
b. Buka release nut.
c. Longgarkan jam nut pada adjusting screw.
d. Lepaskan bonnet atau yoke.
e. Lepaskan spring dan washers.
f. Lepaskan spindle dan disk
g. Lepaskan ring pin.
h. Catat adjusting rings, nozzle guide seperlunya.
7.3 Pembersihan Bagian Bagian Katup
a. Satukan (ikat) seluruh bagian-bagian yang kecil.
b. Jangan dibersihkan dengan bahan-bahan kimia kecuali dengan system
yang benar
c. Lindungi setting surface dan name plates saat pembersihan

d. Periksa spring dari kerusakan-kerusakan seperti erosi, kororsi, retak


dan lain-lain.
e. Periksa nozzle dari cacat atau kelainan (bila perlu dengan NDT)
f. Periksa disk dari retak atau kondisi tidak biasa (Bila perlu dengan NDT)
g. Periksa spindle, bearing areas, kondisi thread (tapak).
h. Periksa guide.
i. Periksa adjusting ring.

j. Periksa ring pins.


k. Periksa bellows (Bila ada)
l. Periksa flange

7.4 Machining.
Machining nozzle dan disk seperlunya jangan melampui grafik penunjukan
dimensi kritis (critical dimension chart).
7.5 Lapping.
Lapping secara manual atau dengan mesin pada disk maupun nozzle
untuk memastikan kerapatan/kerataan (flateness).
7.6 Adjusting Ring.
Kembalikan lower ring dan guide ring pada posisi asal.
7.7 Borrings Points.
Bubut dan periksa kebulatannya.
7.8 Testing.
Lakukan test sesuai dengan rekomendasi oleh pabrik pembuat atau
sesuai dengan standar.
7.9. Sealing
Setelah pengetesan dinyatakan berhasil dilakukan penyegelan oleh
badan / inspector /orang yang berwenang.
7.10.Name Plate
Pilih name plate dan tulis bila terjadi perubahan-perubahan.

Gbr. 11. Cara Lapping Disc dan Seat Pada Safety Valve.

8. SETTING / PENYETELAN
8.1 Persiapan.
1) Peralatan / tools, pembersih abu dan benda asing lainnya didalam
katup.
2) Pembersih instalasi dan perangkat keras lainnya
3) Persiapan braging untuk hydraulic test.
4) Bersihkan cat yang melekat pada permukaan dari kotoran didalam
bagian katup.
8.2 Pembongkaran
1) Buka lever pin, lepas lever, buka cap secrew dan buka cap.
2) Buka tutup spring.
3) Buka mur spindle.
4) Beri tanda pada kepala baut sampai ke top bonnet ukur dan catat
hasil pengukuran tersebut, maksudnya untuk mencocokan pada saat
dirakit / reassemble.
5) Buka baut adjust dan lock nut.
6) Buka baut-baut bonnet pada body.
7) Buka spindle, disc (holder dan insert), guide, (adjust) ring, bersihkan
dan periksa.
8) Beri tanda lokasi guide ring untuk setting gerakan katup.
9) Buka set screw nozzle ring dan beri tanda agar posisinya tidak
tertukar.
8.3 Pemeriksaan Kerusakan.

Pemeriksaan pada seat.


Akibat benda asing yang mengganjal pada seat dan disc, pada aliran
uap yang mengakibatkan seat ring tergores.

Pengencangan lifting gear.


Toleransi antara fork dan lifting nut, jika katup dibuka penuh dan
berhubungan dengan lifting mekanis seat akan tertekan hal ini akan
menyebabkan katup bocor, agar diusahakan toleransi seat / disc tidak
melebihi () 1/16.

9.

Distortion.
Rusak akibat pengembangan yang tidak normal, karena
berkembangnya atau beratnya pipa itu sendiri terhadap katup, juga
ketidak lurusan dari bagian katup menjadi besar.

Impruper ring adjustment.


Ketika ring adjust dikendorkan keluar, katup akan bocor karena
membuka. Pada saat katup bergerak kearah menutup jadi kurang
tepat, maka ring harus diadjust lagi agar tidak terjadi pembukaan
blowdown yang lama.

Wrong operating pressure


Jika tekanan operasi dan set tekanan katup rendah maka akan terjadi
fluktuasi didalam aliran uap, getaran dan sebagainya, biasanya juga
terjadi kebocoran.

Perbaikan.

Seat Nozzle
Letakan laping block yang diberi pasta yang kasar (gride 320) pada
bagian atas seat nozzle dan lakukan gesekan pada nozzle tersebut
secara merata dan ganti pasta dengan yang lebih halus dan
seterusnya lebih halus sampai kontak 100%.

Pengencangan lifting gear.


Agar tidak terjadi kebocoran gerakan lifting gear pada saat full open
lifting nut akan menyentuh seat nozzle, untuk menghindari hal tersebut
lifting nut diadjust (dikendorkan) agar tidak melebihi kontak dengan
seat nozzle tersebut.

10. Pemasangan Kembali.


Apabila bagian bagian yang rusak sudah diperbaiki / sudah di lapping,
semua sudah siap maka kita rakit sebagai berikut :
1) Seat nozzle ring agar dipasang kembali sesuai tanda pada waktu
membongkar.
2) Nozzle dan disc seat dibersihkan dengan majun, guide ring dan
spindle telah dibaut pada body katup, guide ring posisinya disamakan
pada waktu dibongkar.
3) Memasukan spindle assy kedalam rumah katup dengan hati-hati dan
periksa kelurusannya agar tidak terjadi misalignment.
4) Pasang spring spindle posisi bebas.
5) Pasang baut-baut bonnet dan adjust antara baut adjust sampai top
bonnet sesuai tanda yang sudah diberikan pada saat membongkar.
6) Kencangkan Guide (adjust) dan nozzle ring.

11. Pengetesan Dengan Safety Valve Test Gag.

Gbr. 12 Safety Valve test Gag.


1. Lepas lifting gear, jangan sampai katupnya ikut membuka, kemudian

pasang Gag dan kencangkan dengan jari (lihat gambar berikut)


Setelah Gag terpasang dalam kondisi operasi penuh.
Kita set pressure 3 %, kemudian katup akan membuka untuk poping
sampai blowdown, setelah itu katup diset lagi 4 %.
Untuk ketepatan pembukaan katup sequen terus menerus ada 2 tingkat,
yaitu :
a. Bila tekanan uap di bawah disc melebihi set point dari tekanan adjust /
set katup, maka disc akan mendorong spring naik keatas perlahanlahan dan membuka katup untuk popping, dengan tekanan rendah
sebagian uap melewati nozzle ring (lihat gambar).

Gbr.13. Guide (Adjusting) Ring.


b. Uap masuk dibawah disc langsung mengangkat disc sehingga
pembukaannya tinggi, karena posisinya sudah di adjust 3 % diatas
tekanan set pointnya dan katup akan menutup cepat setelah diset 4 %
tekanan dibawah settingnya (lihat gambar).
Dua Cara Pengujian Katup Pengaman :
a. Di tempat artinya pengujian dilakukan dilokasi katup terpasang, caranya
Buka lifting gear.
Buka cup.
Pasang cage.
Pasang sarana hydraulic test ke katup, set pressure pada katup
sesuai yang diinginkan.
Catat data-datanya.
b. Di bongkar artinya pengetesan dilakukan pada saat overhaul (katup
dibawa kebengkel) :
Setelah katup diadakan pekerjaan repair dan perbaikan serta ganti
parts siapkan hydraulic test.
Pasang / katup yang akan di test.
Sambung slang hydraulic pada sisi suction katup, pompa sampai
tekanannya sesuai set point katup yang dikehendaki. Bila pada set point
katup membuka maka dinyatakan baik, tapi bila set pointnya tidak bisa
membuka / kerja maka harus dilakukan overhaul lagi.

12. PERALATAN UJI TREVITEST

Kini telah di kembangkan jenis perabotan pengujian yang tidak menggunakan


test drum, tetapi dapat dipakai untuk mengetes katup pengaman saat inline
(unit dalam keadaan operasi atau diistilahkan Hot testing). Alat tersebut juga
dapat digunakan saat unit shut off/down atau diistilahkan dengan cold testing.
Kedua jenis tersebut hot / cold trevitest.
Adapun prinsip kerja trevitest ialah dengan menggunakan kekuatan spindle
katup untuk mengatasi tekanan dari spring / pegas katup. Ini dapat dicapai
dengan digunakannya sebuah hydrostatic power peak yang dirangkai dengan
sebuah electronic force tranducer yang disambungkan dengan recorder yang
mencatat kekuatan yang digunakan.
Keuntungannya antara lain :
1. Beroperasinya unit tidak terganggu saat katup pengaman di test.
2. Lebih mudah dan relative lebih cepat sebab katup pengaman tidak perlu
dilepas.
3. Adanya recorder yang mencatat grafik performance katup pengaman.
4. Tidak bising.
Kelemahannya antara lain :
1. Bila lokasi katup berada pada platform dimana peralatan dipasang
bertingkat, alat tidak bisa dipasang.
2. Tidak dapat digunakan untuk test kebocoran tightness testing (buble test).
3. Bila katup pengaman dipasang pada peralatan yang medianya korosif atau
beracun.

13. POWER CONTROL (ELECTROMATIC) RELIEF VALVE.

Relief Valve ini diset untuk mengangkat sebelum safety valve pertama
superheater mengangkat.

Katup ini membatasi safety valves dari pembukaan pada kelebihan


tekanan yang kecil, tetapi tidak mencegah safety valves dari over pressure
yang besar.

HP ERV diset pada 92 bar pada 46, 440 kg/ jam (12.9 kg/ s).

Katup ini dapat dioperasikan secara automatic dengan menggunakan


sebuah controller yang menerima input signal dari pressure switch yang
terpasang pada steam line. Katup ini pun dapat dioperasikan oleh operator

dari control room dengan menggunakan sebuah switch 3 posisi yang


lokasinya di control panel.

Gbr. 14 ERV Piping Arrangement.

Gbr. 15 Penampang Melintang ERV.

==US==

DAFTAR ISI

NO

DESCRIPTION

HAL

INTRODUCTION....

1.1

Data Safety Valve..

1.2

Lokasi Pemasangan Safety Valve .

1.3

Urutan Pembukaan (Opening Sequen).

Bagian-bagian Dari Katup Pengaman (Safety Valve)

FUNGSI SAFETY, RELIEF VALVE..

3.1

Safety Valve ..

3.2

Relief Valve ..

3.3

Safety Relief Valve ..

JENIS-JENIS SAFETY VALVE.

PEMERIKSAAN.

11

5.1

Pemeriksaan Pada Saat Baru

12

5.2

Pemeriksaan Tak Berencana .

12

5.3

Pemeriksaan Pada Saat Shut Down .

12

5.4

Pemeriksaan Pada Saat Shut Down Yang Panjang ..

12

5.5

Pemeriksaan Pada Saat Peralatan Proteksi Ditest


Ataupun Stanbay ..

12

5.6

Pemeriksaan Pada Saat On Stream .

13

KEGAGALAN KATUP PENGAMAN.

13

6.1

Korosif .

13

6.2

Permukaan Dudukan Katup

13

6.3

Pegas Katup Patah ..

14

6.4

Plugging dan Sticking..

14

6.5

Material Katup Tidak Sesuai ...

14

6.6

Indentitas yang Tidak Sesuai .

15

6.7

Penanganan Yang Tidak Hati-hati.

15

6.8

Selisih Setting Pressure Dengan Tekanan Kerja

16

PERBAIKAN/ PERAWATAN KATUP.

16

7.1

Pemeriksaan Secara Visual

16

7.2

Pembongkaran Katup ..

16

7.3

Pembersihan Bagian-bagian Katup ..

16

7.4

Machining ..

17

7.5

Lapping ..

17

7.6

Adjusting Ring ..

17

7.7

Boring Point ..

17

7.8

Testing

17

7.9

Sealing

17

7.10

Name Plate

17

SETTING

18

8.1

Persiapan ..

18

8.2

Pembongkaran .

19

8.3

Pemeriksaan kerusakan..

19

PERBAIKAN

20

10

PEMASANGAN KEMBALI ..

20

11

PENGETESAN DENGAN SAFETY VALVE TEST GAG.

20

12

PERALATAN UJI TREVITEST

22

13

POWER CONTROL (ELECTROMATIC) RELIEF VALVE

23

==US==
PRE / FINAL TEST
1. Sebutkan jenis2 katup yang anda ketahui? (min 5 bh).
2. Sebutkan fungsi dari Safety Valve dan Reliev Valve.
3. Sebutkan jenis2 katup yang digunakan sebagai pengaman pada pressure
vessel atau boiler (3 macam).
4. Jelaskan apa perbedaan yang prinsif dalam pengoperasiannya antara
Savety Valve dan Relief Valve.
5. Sebutkan Komponent2 utama dari sebuah savety valve? (min 5 bh).

6. Umumnya ada 4 tahapan didalam pemeliharaan safety valve yang dimulai


dengan pembongkaran dan diakhiri dengan testing, sebutkan keempat
tahapan tersebut.
7. Data apa saja yang ada pada name plate suatu safety valve? (min 3).
8. Sebutkan dimana saja terpasang safety valve pada HRSG?
9. Kegagalan2 apa saja yang terjadi pada safety valve? (min 5 bh).
10. Peralatan2 apa saja yang digunakan pada saat pengetesan safety valve
(min 5 bh).
11. Perbedaan apakah yang prinsif antara Safety- Relief Valve yang
konvensional dengan ERV (Electromatic Relief Valve).
12. Dapatkah Gate Valve dijadikan katup pengatur? Jelaskan.
13. Dapatkah boiler tetap beroperasi jika ERV system electriknya tidak
berfungsi.
14. Dapatkah Trevitest digunakan untuk Cold dan Hot test?
15. Apakah kelemahanya menggunakan Alat Uji dengan Trevitest.?
16. Jenis katup apakah yang sesuai digunakan untuk katup pengatur?
17. Apakah bedanya yang prinsif antara Nedle Valve dan Non Return Valve
jika ditinjau dari arah aliran.
18. Institusi atau instansi dari manakah yang diberi wewenang untuk
memberikan penyegelan terhadap Safety Valve.
19. Berikan penjelasan bagaimana melakukan lapping yang baik?
20. Apa yang terjadi bila tekanan spring kita rendahkan dari tekanan setting
pressurenya.
==US==