Anda di halaman 1dari 66

TUBERKULOSIS

(TBC)
Kelas B / Kelompok 3
Helen Ismaya, S.Farm
Hillery Christiani, S.Farm
Idha Yunita Rizki, S.Farm
Iis Parwati, S.Farm
Inas Sharfina H, S.Farm

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular
langsung
yang
disebabkan
oleh
Mycobacterium tuberculosis.

M. Tuberculosis termasuk basil gram positif,


umumnya bakteri ini menyerang paru dan
sebagian kecil organ lain (tulang, kulit, usus,
ginjal,dll) dan mempunyai sifat khusus yaitu
tahan terhadap asam pada pewarnaan
sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam
(BTA).

M. Tuberculosis ditransmisikan dari orang ke


orang melalui batuk dan bersin. Kontak yang
terlalu dekat dengan penderita TB akan
memperbesar kemungkinan penularan.

HIV adalah faktor paling tinggi pada TB aktif,


terutama pada umur sekitar 25-44 tahun.
Penderita yang terinfeksi HIV dengan infeksi
tuberculosis, akan berkembang menjadi
penyakit yang aktif 100 kali lebih besar
dibandingkan dengan penderita yang tidak
terinfeksi dengan HIV.

KLASIFIKASI TBC
Berdasarkan tempat/organ yang diserang oleh
kuman maka tuberkulosisi dibedakan menjadi,
tuberkulosis paru dan tuberkulosisi ekstra paru.
Tuberkulosis paru : menyerang jaringan parenkim
paru yang tidak termasuk plura atau selaput paru.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB paru
dibagi dalam :
1) Tuberkulosis paru BTA positif
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Tuberkulosis ekstra paru : menyerang organ tubuh
lain selain paru, co : plura, selaput otak, selaput
jantung (perikardium), dll.

EPIDEMIOLOGI
Indonesia menduduki urutan ketiga dengan
10% dalam jumlah penderita tuberkulosis
terbesar setelah India (30%) dan China (15%).
Resiko penularan setiap tahun di Indonesia
dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 13 %.
Masalah lain yang muncul dalam pengobatan
TB adalah adanya resistensi dari kuman yang
disebabkan oleh obat (multidrug resistent
organism). Kuman yang resisten terhadap
banyak obat semakin meningkat.

MANIFESTASI KLINIK

Pemeriksaan Fisik
Suara khas pada perkusi dada
Bunyi dada
Peningkatan suara yang bergetar

Pemeriksaan Laboratorium,
terjadi peningkatan sel darah putih dengan
dominasi limfosit, sampel : sputum,bilasan
bronkus,jaringan paru,cairan pleura.

Radiografi Dada,
- Infiltrasi nodus pada
daerah apikal di lobus
bagian
atas
dan
bagian superior dari
lobus bagian paling
bawah.
- Kavitasi
yang
menunjukkan kadar
udara-air
sebagai
tanda perkembangan
infeksi.

PRINSIP PENGOBATAN
Menghindari penggunaan monoterapi. Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan dalam
bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai
dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk
mencegah timbulnya kekebalan (resistensi)
terhadap obat.
Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam
menelan obat, pengobatan dilakukan dengan
pengawasan langsung (DOT = Directly
Observed Treatmen) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).

Pengobatan TB diberikan, dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif


dan lanjutan.
1. Tahap Intensif :
- Penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
- Bila pengobatan tahap intensif itu diberikan secara tepat,
biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam
kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif
dalam 2 bulan.
2. Tahap Lanjutan :
- Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama.
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister
(dorman) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

KATEGORI
TB

KASUS
(Pasien TB)

FASE
INTENSIF
(AWAL)

FASE
LANJUTAN

Kasus baru TB positif BTA (+) Kasus baru TB 2HRZE


paru BTA (-) dg kerusakan parenkim yg luas,
Kasus baru dgn kerusakan yg berat pada TB
ekstra pulmoner

4H3R3
4HR
6HE

II

TB paru BTA (+) dengan riwayat


pengobatan sebelumnya: kambuh,
kegagalan pengobatan, dan pengobatan
tdk selesai

2HRZES + 1
HRZE

5H3R3
E3
5RHE

III

Kasus baru TB paru dengan BTA (-) (diluar


katagori I), kasus baru yg berat dg TB
ekstra pulmoner

2HRZ

4H3R3
4HR
6HE

Sisipan

BTA masih positif pada akhir fase awal,


pada pasien kategori I dan II

1HRZE

Rujuk ke
dokter
spesialis
paru

H = Isoniasid
R = Rifampisin
E = Etambutol
Z = Pirazinamid
S = Streptomisin
4H3R3 = selama 4 bulan minum R dan H tiga kali per
minggu
4HR = setiap hari selama 4 bulan minum R dan H
Kelompok obat sekunder (lini kedua) : antibiotik
golongan
fluorokuinolon
(siprofloksasin,
ofloksasin, levofloksasin), sikloserin, etionamid,
amikasin,
kanamisin,
kapreomisin,
dan
paraaminosalisilat.

MEKANISME KERJA OBAT


Isoniazid : bekerja dengan menghambat sintesis
asam mikolat pada dinding sel bakteri.
Rifampisin : menghambat pertumbuhan bakteri
gram positif dan gram negatif.
Pirazinamid : asam pirazinoat dari hasil hidroslisis
pirozinamid di dalam tubuh oleh enzim
pirazinamidase aktif sbg tuberkulostatik hanya
pada media yg bersifat asam.
Etambutol : menghambat sintesis metabolit sel.
Streptomisin : menghambat sintesis protein
bakteri (bakterisid dan bakteristatik).

MDR (Multi Drug Resistent)

PENYEBAB MDR

YANG BERESIKO TERKENA TB MDR

DIAGNOSIS

PENGOBATAN

PENCEGAHAN

MDR MENURUT WHO


Temuan tentang resistensi terhadap INH dan Rifampisin,
yang cukup tinggi seperti yang dilaporkan WHO,
menuntut penggunaan obat anti tuberkulosis generasi
kedua ( Second lines anti-tuberculosis drugs)
WHO menganjurkan penggunaan obat obatan berikut
dan diawasi langsung oleh para ahli, yaitu :

OBAT TBC

Directly Observed Treatment Short


Course (DOTS)
DOTs Merupakan strategi penanggulangan Tuberkulosis
di Rumah Sakit melalui pengobatan jangka pendek
dengan pengawasan langsung. Khusus bagi pelayanan
pasien tuberkulosis di Rumah Sakit dilakukan dengan
strategi DOTS.
Penanggulangan Tuberkulosis merupakan program
nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit
Pelayanan Kesehatan termasuk Rumah Sakit. Khusus
bagi pelayanan pasien tuberkulosis di Rumah Sakit
dilakukan dengan strategi DOTS. Hal ini memerlukan
pengelolaan yang lebih spesifik, karena dibutuhkan
kedisplinan dalam penerapan semua standar prosedur
operasional yang ditetapkan, disamping itu perlu
adanya koordinasi antar unit pelayanan dalam bentuk
jejaring serta penerapan standar diagnosa dan terapi
yang benar, dan dukungan yang kuat dari jajaran direksi
rumah sakit berupa komitmen dalam pengelolaan
penanggulangan TB.

Tujuan dari pelaksanaan DOTS adalah menjamin


kesembuhan bagi penderita, mencegah
penularan,
mencegah
resistensi
obat,
mencegah putus berobat dan segera mengatasi
efek samping obat jika timbul, yang pada
akhirnya dapat menurunkan angka kesakitan
dan kematian akibat tuberkulosis di dunia
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan
penyembuhan pasien, prioritas diberikan
kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan
memutuskan penularan TB dan dengan
demikian menurunkan insidens TB di
masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan
pasien merupakan cara terbaik dalam upaya
pencegahan penularan TB.

Upaya penanggulangan TB dimulai pada awal


tahun 1990-an WHO dan IUALTD (International
Union Against Tb and Lung Diseases) telah
mengembangkan strategi penanggulangan TB
yang dikenal sebagai strategi DOTS, dan telah
terbukti sebagai strategi penanggulangan yang
secara ekonomis paling efektif (cost efective).
WHO telah merekomendasikan strategi DOTS
sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak
tahun 1995. Bank dunia menyatakan strategi
DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan
yang paling efektif. Integrasi ke dalam
pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan
demi efisiensi dan efektifitasnya.

STRATEGI DOTS
Strategi yang diperkenalkan oleh WHO terdiri, yaitu :
1. Dukungan politik dari lingkungan wilayah, sehingga
program ini menjadi salah satu prioritas, sehingga
akan tersedia dana.
2. Mikroskop sebagai komponen utama dalam
mendiagnosa TBC melalui pemeriksaan sputum secara
langsung pada pasien tersangka dengan penemuan
secara pasif.
3. Adanya pengawasan minum obat, yaitu orang yang
dikenal baik dan dipercaya oleh pasien, sehingga obat
betul-betul diminum oleh penderita.
4. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar
sebagai bagian dari surveilans penyakit ini, sehingga
pemantauan pasien dapat berjalan.
5. Panduan obat TBC jangka pendek yang benar,
termasuk dosis dan jangka waktu yang tepat.

Strategi DOTS tersebut telah dikembangkan oleh


kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop
TB partnership) dengan memperluas strategi DOTS
sebagai berikut:
1. Mencapai,
mengoptimalkan
dan
mempertahankan mutu DOTS
2. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan
tantangan lainnya
3. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan
baik pemerintah maupun swasta
5. Memberdayakan pasien dan masyarakat
6. Melaksanakan dan mengembangkan riset.

TATA LAKSANA PASIEN TB DI DOTS


1. Penemuan tersangka TB
Pasien dengan gejala utama pasien TB paru:
batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih
dianggap sebagai seorang tersangka pasien TB,
dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis langsung.
Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB,
terutama mereka yang BTA positif dan pada
keluarga anak yang menderita TB yang
menunjukkan gejala sama, harus diperiksa
dahaknya

2. Diagnosis TB
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak
dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu-pagisewaktu (SPS).
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa
ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
melalui pemeriksaan dahak :BTA. Pemeriksaan
lain seperti foto thoraks, biakan dan uji
kepekaan dapat juga sebagai penunjang
diagnosis.

3. Pengobatan TB
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan
pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan,
memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT (obat anti tuberkulosis).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap
awal (intensif) dan lanjutan.
Tahap Awal
Pada tahap awal ini pasien mendapatkan obat setiap
hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah
terjadinya resistensi obat, bila pengobatan tahap awal
ini diberikan secara tepat biasanya pasien menular
menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu,
sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif dalam 2 bulan.
Tahap Lanjutan
Pasien mendapat obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama (kurang lebih4 -6 bulan),
tahap lanjutan ini penting untuk membunuh
kumanpersister sehingga mencegah kekambuhan.

4. Rujukan
Melakukan rujukan ke UPK lain bagi pasien yang ingin
pindah dengan menggunakan formulir rujukan yang
ada.
Formulir Pencatatan dan Pelaporan TB di DOTS :
Formulir TB.01 : Kartu Pengobatan Pasien TB
Formulir TB.02 : Kartu Identitas Pasien
Formulir TB.03 : Register TB Kabupaten
Formulir TB.04 : Register Laboratorium TBC
Formulir TB.05 : Formulir PermohonanLaboratorium
TBC Untuk Pemeriksaan Dahak
Formulir TB.06 : Daftar Suspek Yang Diperiksa Dahak
SPS
Formulir TB.09 : Formulir Rujukan/Pindah pasien TB
Formulir TB.10 : Formulir Hasil Akhir Pengobatan Dari
Pasien TB Pindahan

DOTS PLUS
DOTS Plus merupakan sistem strategi
penanggulangan tuberculosis yang resisten
terhadap berbagai macam obat/MDR (Multi
Drug Resistant).
Resistensi terhadap pengobatan muncul
sebagai akibat penggunaan antibiotika yang
tidak tepat, termasuk di dalamnya pengaturan
pemberian obat yang kurang baik oleh petugas
kesehatan dan lemahnya sistem kontrol
terhadap penderita.

Pada tahun 1998, WHO dan beberapa


organisasi lain di seluruh dunia meluncurkan
DOTS Plus, suatu strategi yang terus
dikembangkan dan diuji dalam menangani
MDR-TB.
Pada strategi DOTS Plus upaya pengobatan
untuk menyembuhkan tuberkulosis dengan
resistensi terhadap obat anti tuberkulosis
(MDR-TB) adalah dengan menggunakan anti
tuberkulosis second-line

STUDI KASUS
Nama pasien

G.H

Jenis kelamin

laki laki

Umur

75 tahun (lansia)

Keadaan fisik

-Pikun
- Tidak Nafsu Makan

- Memiliki batuk produktif


- Kurus
- Mengalami kesulitas pernapfasan ringan

Dari hasil laboratorium, secara keseluruhan


menunjukan hasil yang normal, kecuali
terjadi sedikit peningkatan pada :
Keterangan

Hasil lab

Nilai normal

BUN (Blood Urea


Nitrogen)

25mg/dL

7 20 mg/dL

Kadar serum kreatinin

1,3 mg/dL

0,5 1,2 mg/dL

Radiografi paru-paru

pada lobus kanan bawah tidak


terjadi penyaringan udara ; dia
memiliki sejarah kegagalan
jantung kognesif dimana
terkontrol dengan baik

Hasil pewarnaan Gram


(pemeriksaan awal)

menunjukan hasil yang negatif


(tidak terjadi perubahan
warna).

Karena pada perawatan di panti jompo


sebelumya sudah terjadi 2 kasus TB aktif,
maka diperlukan tes kulit PPD ( Purified
Protein Derivative ) dan sputum smear untuk
AFB( Acid Fast Bacillus ).
Keterangan

Hasil

pemeriksaan kulit PPD

penebalan kulit sebesar 16 mm


dimana pada pemeriksaan awal
hasil menunjukkan hasil negatif

pemeriksaan sputum

menunjukan hasil positif.

PEMBAHASAN

DATA KLINIS
Gejala
- Disorientasi
- Tidak nafsu makan
- Batuk produktif
- Kesulitas pernafasan ringan
Dari gejala-gejala yang dialami oleh pasien, terdapat
indikasi pasien menderita TB.

Pemeriksaan laboratorium
TES

HASIL

KESIMPULAN

25mg/dL

Di atas Normal indikasi


penurunan fungsi ginjal

1,3 mg/dL

Di atas Normal indikasi


penurunan fungsi ginjal

pada lobus kanan bawah


tidak terjadi penyaringan
udara

Indikasi terjadi infeksi


pernafasan

Pemeriksaan kulit PPD

Penebalan kulit sebesar 16


mm

Indikasi adanya infeksi


M. Tuberculosis

Pemeriksaan sputum

Positif BTA (Basil Tahan


Asam)

Positif TB

BUN (Blood Urea Nitrogen)

Kadar serum kreatinin

Radiografi paru-paru

TERAPI PENGOBATAN
Pada dasarnya, pengobatan TB pada pasien
usia lanjut sama dengan pasien pada
umumnya.

Ada 3 kemungkinan terapi pengobatan yang


mungkin dilakukan:

1. INH 300 mg + Rifampisin 600 mg +


pyrazinamide 20-25 mg/kg + Etambutol 15-20
mg/kg sehari sekali selama 8 minggu. Dilanjutkan
dengan INH + Rifampisin 1-3 kali seminggu
selama 16 minggu
2. INH + Rifampisin + Pyrazinamide + Etambutol
sehari sekali selama 2 minggu. Dilanjutkan 2 kali
seminggu selama 6 minggu. Dilanjutkan INH +
Rifampisin 2 kali seminggu selama 16 minggu.
3. INH + Rifamspisin selama 9 bulan. Dan dapat
ditambahkan Piridoksin 10-50 mg .

INTERAKSI OBAT
1. INH + Rifampin mula kerja obat pada saat
dikombinasi lebih cepat namun dapat menyebabkan
meningkatnya insiden hepatotoksik
2. INH + Etambutol etambutol tidak mempengaruhi
level serum inh tetapi ada beberapa kejadian yang
menyebutkan optik neuropatin karena etambutol
meningkat jika diberi bersamaan dengan INH
(Stockley 2008)
3. INH + Piridoksin jika digunakan tunggal
menyebabkan hilangnya B6 dari tubuh sehingga
dikombinasi dengan b6 suplemen
4. Pirazinamid anoreksia, mual kemerahan pada kulit
5. Etambutol tunggal mempunyai efek bakteriostatik,
bila dikombinasikan dengan INH dan Rifampisin bisa
mencegah terjadinya resistensi obat

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Klinik, Ditjen
Bina Farmasi & Alkes. 2005. Pharmaceutical care
untuk penyakit tuberculosis. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI.
Koda-Kimble MA, et al. 2009. Applied therapeutics
the clinical use of drugs 8th edition. United States
of America : Lippincott Williams & Wilkins
WHO. Guidelines for the programmatic
management of drug-resistents tuberculosis.
http://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detil_berita/6
02-apa-itu-program-dots-untuk-tb

TERIMA KASIH

CONTOH SOAL UKAI 1


Seorang wanita berumur 25 tahun dengan berat
badan 65 kg, melakukan tes uji basil tahan asam
(BTA) dan hasilnya menunjukkan positif. Pasien
mengkonsumsi obat TBC yaitu INH, Rifampisin,
Etambutol dan Pirazinamid. Pasien mengeluhkan
kesemutan dan rasa terbakar di kaki akibat
penggunaan obat tersebut. Hal tersebut dapat di
atasi dengan pemberian?
a. Vitamin B1
b. Vitamin B2
c. Vitamin B6
d. Vitamin B12
e. Vitamin D

CONTOH SOAL UKAI 2


Seorang pria berumur 23 tahun dengan berat
badan 65kg, melakukan tes uji basil tahan asam
(BTA) dan hasilnya menunjukkan positif. Pasien
telah mengonsumsi obat TBC selama 3 bulan. Dan
pada 2 bulan pertama pasien mengalami gangguan
pendengaran
dengan
tanda-tanda
telinga
mendenging (tinitus), pusing dan hilang
keseimbangan. Berdasarkan keluhan tersebut,
pasien mengonsumsi obat:
a. Rifampisin
b. Isoniazid
c. Etambutol
d. Pirazinamid
e. Streptomisin

CONTOH SOAL UKAI 3


Tn XY, umur 50 tahun pergi ke dokter dengan keluhan
batuk berdahak selama 3 minggu yang disertai dengan
sesak nafas dan nyeri dada. Gambaran radiologik
menunjukkan adanya bayangan berawan/nodular di
segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah. Hasil uji BTA sputum
menunjukkan hasil positif (+). Tn XY belum pernah
mendapatkan pengobatan Tuberkulosis sebelumnya.
Menurut anda sebagai apoteker, obat apakah yang
tepat untuk diberikan kepada Tn XY ?
a. Etambutol
b. Rifampisin dan INH
c. Rifampisin dan Pirazinamid
d. 2 HRZE dengan fase lanjutan 4 HR
e. 2 HRZES dengan fase lanjutan 5 HRE

CONTOH SOAL UKAI 4


Ny. ZW dengan umur 45 tahun adalah penderita
TBC dan sedang menjalani terapi menggunakan
obat TBC. Penggunaan obat TBC seringkali
menimbulkan efek samping seperti anemia dan
dapat diatasi melalui pemberian kombinasi dengan
Vitamin B6.
Obat TBC yang dapat menimbulkan efek samping
tersebut adalah ?
a. INH
b. Etambutol
c. Rifampisin
d. Pirazinamid
e. Streptomisin

CONTOH SOAL UKAI 5


Seorang wanita berumur 30 tahun mengeluhkan batuk
kronis, demam, berkeringat pada malam hari, malaise,
keluhan pernafasan, letih, hilang nafsu makan, dan rasa
nyeri di dada. Dahak penderita mengandung darah.
Hasil tea uji basil tahan asam menunjukkan hasil positif.
Lalu pasien tersebut melakukan pengobatan dengan
obat anti TBC (OAT) . Setelah meminum obat tersebut,
pasien mengeluhkan bahwa ia mendapati warna
kemerahan pada urinnya. Obat yang di maksud adalah?
a. Rifampisin
b. Etambutol
c. Isoniazid
d. Pirazinamid
e. Streptomisin

CONTOH SOAL UKAI 6


Pasien berusia 28 tahun yang menderita TBC
mendapatkan terapi obat Anti TBC (OAT) antara lain
dengan
Isoniazid,
Etambutol,
Pirazinamid,
Rifampisin, serta Piridoksin Setelah beberapa bulan
melakukan terapi OAT pasien mengeluhkan
terjadinya
gangguan
penglihatan
dimana
berkurangnya ketajaman penglihatan. Obat
manakah yang di konsumsi pasien yang
menyebabkan efek samping tersebut?
a. Isoniazid
b. Etambutol
c. Pirazinamid
d. Rifampisin
e. Piridoksin

THE END

FARMAKOLOGI LAIN
Nama obat

Dosis

Indikasi

Efek samping

Isoniazid

Dewasa : 300mg 1x
sehari ; anak-anak:
10-300 mg/BB 1x
sehari

Terapi untuk semua


bentuk tuberkolosis
aktif
yang
disebabkan kuman
yang peka dan
untuk
profilaksis
orang berisiko tinggi
mendapatkan
infeksi.

Hepatitis
dan
neuropati perifer,
kemerahan dikulit,
anemia, kejang.

Rifampisin

Dewasa : 600mg 1x
sehari atau 600mg
2-3x
seminggu.
Anak-anak : 7,515mg /BB 2-3x
seminggu

Obat
antituberkolosis
yang
dikombinasikan
dengan
antituberkolosis
yang lain untuk
terapi
awal
maupun ulang.

Gangguan
gastrointestina;,
hepatitis,
kemerahan
pada
kulit,
anemia
hemolitik,
trombositopenia,
imunosupresi

Nama obat

Dosis

Indikasi

Efek samping

Pirazinamida

Dewasa dan anak


sebanyak 15-30
mg/BB 1x sehari
atau 50-70 mg/BB
2-3x seminggu

Obat
antituberkolosis
yang
dikombinasikan
dengan
antituberkolosis
yang lain untuk
terapi awal maupun
ulang.

Hepatotoksik,
Hiperurisemia,
mual, muntah,
anemia.

Ethambutol

Dewasa : 15-25
mg/BB 1x sehari.
Tidak diberikan
pada anak dibawah
13 tahun dan bayi.

Etambutol
digunakan sebagai
terapi kombinasi
tuberkolosis dengan
obat lain, sesuai
regimen pengobatan
jika diduga ada
resistensi

Neuritis optik,
hiperurisemia,mual,
muntah dan sakit
perut.
(Bila terjadi
gangguan
penglihatan, harus
segera dihentikan
agar fungsi
penglihatan pulih).

Haruskah pasien lain yang berada dekat sekitar


G.H menerima terapi INH?
Jawab :
Perlu, bila pada hasil tes kulit awal positif.
Jika, hasil tes kulit awal negatif, tes tersebut perlu
diulang sebulan kemudian. Jika setelah sebulan, hasil
tes kulit menunjukkan positif maka perlu terapi INH,
tetapi jika hasilnya negatif maka perlu pemantauan dan
pemeriksaan lebih lanjut.

PEMBAHASAN
Kasus-kasus baru pada infeksi TB telah meningkat pada kalangan lansia yang tinggal di
panti jompo. Kasusnya meningkat 39,2 / 100000 lebih besar dibanding dari lansia yang
tinggal di rumah ( 18,7 / 100000). Walaupun penyakit Tb aktif pada lansia berkaitan
dengan menurunnya sistem imun yang diikuti oleh reaktivasi dari infeksi awal ,
penyakit TB aktif adalah hal yang umum terjadi pada kasus infeksi endemik di panti
jompo yang pada penghuninya belum diberikan kekebalan imun ( hasil tes kulitnya
negatif pada M.tubercolosis). Kasus tes kulit positif meningkat setelah pasien tinggal
dalam panti jompo lebih dari 1 bulan. Kemudian semua pasien yang masuk panti
jompo harus dites dengan 5 TU PPD. Jika tes awal menunjukan hasil negatif dan
sumber penyakit berasal dari panti jompo ( seperti yang digambarkan dalam kasus ini)
maka tes ini harus diulang setelah 1 bulan. Perubahan hasil tes kulit tuberculin (
negatif menjadi positif) pada populasi ini sekitar 5%. Jika para penghuni panti jompo
yang mengalami perubahan tersebut tidak diterapi dengan INH, sekitar 8% wanita dan
12% pria akan meningkatkan kemungkinan perubahan dari infeksi menajdi penyakit
aktif dalam waktu 2 tahun.

DIAGNOSIS

Diagnosis TB aktif pada pasien usia lanjut mungkin sangat


sulit karena gejala umum TBC seperti batuk, demam,
berkeringat di malam hari, penurunan berat badan sering
tidak terlihat, dan pasien usia lanjut mungkin
menggambarkan gejala mereka dengan buruk. radiograf
paru-paru dan tes kulit PPD mungkin hanya satu-satunya
petunjuk yang menunjukkan infeksi TB. Seringkali, radiograf
paru-paru bersifat atipikal, menyerupai radang paru-paru
atau gagal jantung yang memburuk. radiograf paru-paru
pada pasien usia lanjut cenderung kurang memiliki
kemampuan filtrasi pada lobus atas tetapi lebih sering
terjadi infiltrasi yang luas pada kedua paru-paru.

Jika penyakit pasien secara klinis disebabkan oleh kerusakan


granuloma (Reaktivasi), radiograf paru-paru sering menunjukkan
apikal infiltrat atau nodul. Namun, jika penyakit ini berkembang
dari infeksi awal, seperti dalam kasus G.H, mungkin dapat terjadi
infiltrasi pada lobus bawah. Penderita TB pada keadaan
ini,secara klinis menunjukkan perubahan dalam aktifitas seharihari, kelelahan kronis, kerusakan kognitif, anoreksia, atau demam
ringan yang tidak diketahui penyebabnya. Tanda non-Spesifik
dan gejala yang meningkat dari subakut menjadi kronis dan
terjadi selama berminggu-minggu menjadi berbulan-bulan,
dokter harus mengantisipasi kemungkinan adanya TB yang tidak
terdeteksi. Tes dahak pada M. tuberculosis dan AFB smear serta
kultur bakteri harus dilakukan pada semua pasien, termasuk
pasien usia lanjut.

PENGOBATAN TB AKTIF PADA PASIEN USIA LANJUT

Pada dasarnya, pengobatan TB pada pasien usia lanjut sama


dengan pasien pada umumnya. Karena GH memiliki gejala klinik
yai: infeksi pernafasan, hasil positif pada AFB smear dan tes kulit
PPD, aka pasien harus diobati dengan 4 regimen obat untuk
penyakit TB aktif. Sebagian besar kasus TB pada pasien usia lanjut
disebabkan oleh obat yang rentan terhadap M.tuberculosis,
kecuali harus dilakukan untuk pasen usia lanjut dan berasal dari
pedesaan atau wilayah dimana tingkat strain resisten obatnya
tinggi, pada pasien yang tidak dirawat secara memadai
sebelumnya atau pasien yang terkena infeksi secara kontak
langsung pada penderita TB mereka diketahui dengan resisten
terhadap M.tuberculosis.

Aturan penggunaan obat G.H, dapat meliputi INH 300 mg, rifampisin
500 mg, pirazinamid 20-25mg per kg dan etambutol 15-20mg per kg
setiap hari selama 8 minggu diikuti dengan INH dan rifampisin setiap
sehari atau 2 atau 3 kali seminggu selama 16 minggu. G.H juga dapat
menerima INH, rifampisin, pirazinamid, etambutol setiap hari selama
dua minggu, diikuti dengan dua kali seminggu selama enam minggu,
kemudian INH dengan rifampisin dua kali seminggu selama 16 minggu.
Beberapa dokter, lebih memilih pengobatan lansia dengan aturan
penggunaan obat INH dan rifampisin selama sembilan bulan. G.H juga
sebaiknya menerima piridoksin 10-50 mg dengan dosis tunggal.

EFEK INTERAKSI OBAT


Meskipun ada laporan mengenai kasus hepatitis yang
lebih tinggi pada pasien usia lanjut yang mendapatkan
INH, INH dan rifampisin secara umum dapat ditoleransi
dengan baik untuk kelompok usia ini, dengan efek
samping hematologi atau abnormalitas hepar yang
terjadi pada 3-4% pasien. Karena itu, serum
aminotransferase sebaiknya ditentukan dari awal dan G.H
sebaiknya dipantau setiap bulan untuk gejala klinis dari
hepatitis. Serum aminotransferase dapat dipantau setiap
bulan, meskipun bertentangan karena bersifat sementara
yaitu asimtomatik (tidak menunjukkan gejala) yang sering
terjadi pada usia lanjut.

Meskipun penggunaan rifampisin pada dosis 600mg


tidak lazim, rifampisin yang diberikan dua kali seminggu
ini dapat menyebabkan flu dimana flu merupakan salah
satu gejala TB karena interaksi obat potensial dengan
INH dan rifampisin mungkin terjadi, penggunaan obat
tambahan pada pasien, sebaiknya dievaluasi secara
hati-hati. Etambutol dapat menyebabkan neuritis optic,
meskipun pada dosis rendah, dan dapat terjadi
penurunan fungsi ginjal pada pasien usia lanjut. G.H
memiliki serum kreatinin yang meningkat dan
sebaiknya dimonitor secara hati-hati

PENGOBATAN INFEKSI LATEN PADA LANSIA


Pengobatan pada pasien usia lanjut dengan tes kulit
tuberklin positif dan bukan TB aktif dengan INH 300
mg setiap hari selama 6-9 bulan adalah penting jika
kasus tesebut berasal dari perawatan di panti jompo.
Hanya satu kasus pasien TB latent yang sudah
menerima pengobatan menggunakan INH lalu
berubah menjadi TB aktif dibandingkan dengan 69
kasus pasien yang tidak menerima pengobatan TB
latent lalu berubah menjadi aktif.