Anda di halaman 1dari 6

Daerah Bahaya Gunung Merbabu dalam Upaya Mitigasi

Bencana Erupsi
Mukhammad Nurdiansyah1
21100114120043
1

Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Abstract
Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang berada di provinsi Jawa Tengah. Secara administratif gunung ini berada di
wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan, Kota Salatiga dan
Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara. Berdasarkan data yang berasal dari situs web di i ternetdapat diketahui bahwa tahun
gunungapi Merbabu ini mengalami hanya satu kali erupsi sejak Tahun 1600, yakni pada 1797. Gunung Merbabu termasuk dalam tipe B
namun sewaktu-waktu dapat menjadi tipe A. Maka diperlukan pengetahuan tentang daerah bahaya di Gunung Merbabu guna
mengurangi resiko yang kemungkinan terjadi. Daerah bahaya Gunung Sinabung dibagi menjadi tiga, yaitu Daerah Bahaya Primer,
Daerah Bahaya Lontaran, dan Daerah Bahaya Sekunder.
Keywords : Gunung berapi; Gunung Merbabu; daerah bahaya; mitigasi bencana

Pendahuluan

Geologi Regional

Gunung Merbabu adalah gunung api yang


bertipe Strato yang terletak secara geografis pada
7,5 LS dan 110,4 BT. Secara administratif
gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang
di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di
lereng sebelah timur dan selatan, Kota Salatiga dan
Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara,
Provinsi Jawa Tengah. Latar belakang karena
meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Merbabu.
Tujuan untuk mengetahui daerah bahaya di
Gunung Merbabu dalam upaya mitigasi bencana..

Gunung Merbabu adalah gunung api yang


bertipe Strato yang terletak secara geografis pada
7,5 LS dan 110,4 BT. Secara administratif
gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang
di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di
lereng sebelah timur dan selatan, Kota Salatiga dan
Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara,
Provinsi Jawa Tengah. Gunung Merbabu
mempunyai ketinggian 3142 meter diatas
permukaan laut(dpl) serta terdapat tiga buah
puncak yakni puncak Antena (2800m dpl), puncak
Syarif (3119m dpl) dan puncak Kenteng Solo
(3142m dpl). Gunung Merbabu berbentuk dataran
tinggi yang lebar, berbukit-bukit dan terpisah
puncaknya akibat erosi bila dibandingkan Gunung
Merapi, Gunung Merbabu bentuknya besar sekali
dibanding gunungapi yang sangat ramping.Bagian
puncaknya dapat dibagi menjadi tiga satuan yang
merupakan sektor Graben Gunungapi, yakni:
Graben Sari dengan arah timur tenggara-barat barat
laut. Graben Guyangan dengan arah selatan
baratdaya- utar timur. Graben Sipendok dengan
arah barat laut-timur tenggara.

Tinjauan Pustaka
Para ahli sampai saat ini belum
mendapatkan kata sepakat mengenai batasan atau
istilah baku tentang definisi gunung api secara
jelas. Ilmu yang secara khusus mempelajari gunung
api adalah vulkanologi. Ada beberapa ahli yang
mendefinisikan gunung api, yaitu Koesoemadinata
(1977) menyatakan bahwa gunung api adalah
lubang atau saluran yang menghubungkan suatu
wadah berisi bahan yang disebut magma. Suatu
ketika bahan tersebut ditempatkan melalui saluran
bumi dan sering terhimpun di sekelilingnya
sehingga membangun suatu kerucut yang
dinamakan kerucut gunung api. Matahalemual
(1982) menyatakan bahwa gunung api (vulkan)
adalah suatu bentuk timbulan di muka bumi, pada
umunya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut
terpacung, kubah ataupun bukit yang diakibatkan
oleh penerobosan magma ke permukaan bumi.

Metodologi
Metodologi yang digunakan untuk
pengambilan data-data mengenai Gunung Merbabu
melalui media elektronik yaitu dari situs web
situs web di internet.
Deskripsi

Morfologi
Morfologi gunungapi Merbabu dapat
dibagi menjadi beberapa satuan berdasarkan
penampilan bentuk rupa bumi pada peta
topografi (Hamidi.S dkk 1988), yaitu : Satuan
morfologi sisa graben (daerah sekitar puncak),
satuan morfologi ini terdiri dari 3(tiga) bagian
yakni Graben Sari, Graben Guyangan dan
Graben Sipendok. Ketiga graben tersebut
diperkirakan adalah hasil kegiatan volkano
tektonik dimana kegiatan tektonik berupa sesar
diikuti oleh kegiatan erupsi dan kemudian
diikuti pula oleh kegiatan erupsi samping yang
membentuk kerucut erupsi samping. Satuan
morfologi aliran lava Kopeng, satuan morfologi
aliran lava ini jelas dapat dilihat di lapangan
yang membentuk punggung lava yang sangat
menonjol, dimana batuan yang mengalasi
berupa aliran lava. Satuan morfologi Kerucut
Watutulis, satuan morfologi ini merupakan
kerucut erupsi samping (flank eruption) yang
banyak menghasilkan aliran lava yang bersifat
andesitis basaltis dan piroklastika, baik aliran
maupun jatuhan. Satuan morfologi Kerucut
Gunung Pregodalem, keadaan satuan ini sama
dengan satuan morfologi kerucut Gunung
Watutulis,
dimana
kerucut
ini
dapat
dipertimbangkan sebagai sumber bahaya
apabila terjadi peningkatan letusan. Satuan
morofologi titik-titik erupsi samping, satuan
morfologi ini sangat banyak terdapat didaerah
gunung Merbabu, berdasarkan peta rupa bumi
daerah yang terkait, satuan morfologi ini
membentuk suatu kelurusan rupa bumi yang
ber-arah utara baratlaut timur tenggara,
bentuk kelurusan rupa bumi ini dapat
mencerminkan adanya bentuk struktur sesar
yang melalui daerah puncak gunungapi
Merbabu.
Petrologi
Sifat letusan dari pada gunungapi ini
diantaranya adalah eksplosif, disamping itu
bersamaan dengan sifat efusif yang dapat
dibuktikan dengan adanya aliran lava, baik yang
berasal dari pada kegiatan erupsi pusat maupun
erupsi samping. Sifat eksplosif dapat dibuktikan
dari banyaknya endapan piroklastika yang tebal.
Secara umum gunungapi Merbabu terdiri atas
aliran piroklastika, aliran lava, endapan banjir
bandang pada Th 1985 dan endapan longsoran

(Hamidi,1988).
Aliran
piroklastika,
ini
menyebar di seluruh bagian tubuh gunungapi
Merbabu, sifat singkapan tertentu dengan warna
abu-abu kekuningan, berbutir halus hingga
kasar, kadang kala ditemukan lapisan semu
(surge), lokasi singkapan dapat dilihat di
sekitar Jrakah ditemukan lapisan sebanyak lebih
dari 12 lapisan piroklastika aliran dengan tanah
hasil pelapukan yang sangat tebal. Aliran lava,
gunungapi Merbabu secara umum mengisi
bagian lembah sungai yang terdapat di sekitar
gunungapi tersebut, ber-umur paling muda
menurut urutan umur stratigrafi. Akan tetapi di
daerah Selo Redjo ditemukan aliran lava tua
dengan sifat pelapukan yang sudah lanjut. Di
daerah Kopeng aliran lava membentuk suatu
pematang aliran lava yang sangat tinggi dan
membentuk lidah lava. Endapan banjir bandang
di daerah gunungapi Merbabu di temukan
didaerah Kaponan, pada dasar sungai Soting,
dimana menurut keterangan penduduk setempat
pada Th.1985 telah terjadi banjir bandang yang
telah merusak jembatan penghubung antara
Kaponan dengan daerah lainnya, sifat endapan
banjir bandang ini seperti endapan sungai,
terdiri dari bongkah-bongkah lava andesitis
sampai basaltis, pasir sangat kasar, masih segar
dan mudah lepas. Endapan longsoran (debris
avalanche) dapat ditemukan didaerah Salatiga,
dimana bukaan yang sangat besar dengan arah
ke utara timurlaut, yakni daerah wilayah
Salatiga.
Pembahasan
Gunung Merbabu adalah gunung api yang
bertipe Strato yang terletak secara geografis
pada 7,5 LS dan 110,4 BT dengan ketinggian
sekitar 3145 m dari muka air laut. Secara
administratif gunung ini berada di wilayah
Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat
dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur
dan selatan, Kota Salatiga dan Kabupaten
Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa
Tengah. Merbabu merupakan gunung api
kategori tipe B. Gunungapi kategori B berarti
gunung tersebut merupakan gunung api yang
tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Namun
masih
memperlihatkan
gejala
kegiatan
vulkanik. Menurut catatan sejarah letusannya,
gunungapi Merbabu ini mengalami hanya satu
kali erupsi sejak Tahun 1600, yakni pada 1797.
Letusan tersebut tidak banyak diketahui oleh

para ahli waktu itu (tidak ada laporan terinci


mengenai kegiatan letusannya). Letusannya
diperkirakan dengan letusan central yang
bersifat explosif (Tom Simkin dan Lee Siebert,
1994).
Karakter
letusannya
dominan
explosifnya berupa aliran dan jatuhan
piroklastika, berselang-seling efusiva lava.
Perioda letusannya belum diketahui secara
rinci, oleh karena terbatasnya data-data literatur,
maupun laporan-laporan terdahulu.
Walaupun Gunung Merbabu belum pernah
meletus kembali sejak tahun 1797 namun
Gunung Merbabu belakangan ini menarik
perhatian publik setelah diberitakan terjadi
gempa di kawasan lereng gunung setempat pada
17 Februari 2014 lalu. Sebelumnya, gempa
bumi yang mengguncang Dusun Piji dan
Krajan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan,
Kabupaten Semarang, pada Senin pagi 17
Februari 2014. Sedikitnya 17 rumah warga
rusak sedang dan puluhan rumah lainnya rusak
ringan di lereng Merbabu. Tampak kilat
bersahutan dari arah Gunung Merbabu disertai
dengan suara ledakan yang sangat keras dan
disusul gempa yang cukup kuat. Akibatnya atap
puluhan rumah warga langsung rusak dan
banyak tembok yang retak. Sementara ribuan
warga panik dan berhamburan ke luar rumah
untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan
genting dan anternit yang ambrol. Tidak ada
korban jiwa dalam kejadian ini, hanya kerugian
material yang diderita puluhan warga akibat
gempa ini ditaksir mencapai puluhan juta
rupiah. BPPTK telah mengkaji aktivitas
Gunung Merbabu yang dalam beberapa periode
silam berstatus aktif tipe A, lalu tenang, namun
belum menjadi jaminan tidak akan meletus lagi.
Status aktif tipe B periode letusannya puluhan
hingga ratusan tahun sekali. Sehingga
ketenangan pascaaktifnya Merbabu beberapa
tahun silam belum menjadi jaminan bahwa
Merbabu benar-benar sudah tidak aktif lagi atau
mati
sebagai
gunung
berapi.
Hal itu merujuk fenomena gunung berapi di
Filipina yang kondisinya nyaris seperti
Merbabu dan disangkakan telah mati namun
secara mengejutkan terjadi letusan.
Pemantauan aktivitas gunungapi Merbabu
dilakukan secara Visual dari Pos Pengamatan
yang terdekat (G.Merapi). Daerah Bahaya
Gunungapi Merbabu yang dilakukan oleh
Hamidi.S dkk, 1988, dapat dibagi menjadi 3
(tiga) kategori, diantaranya adalah : Daerah

Referensi

Bahaya Primer, daerah bahaya ini meliputi


daerah puncak dan sekitarnya dengan radius
sekitar 4-5 Km dari titik pusat erupsi, selain itu
mempertimbangkan pula adanya titik-titik
erupsi samping yang menempati zona pelurusan
topografi dengan arah baratlaut tenggara.
Daerah yang termasuk kedalam daerah bahaya
primer
ini
tidak
selayaknya
untuk
dikembangkan apabila kegiatan gunungapi
Merbabu menunjukkan peningkatan kegiatan
yang nyata, baik erupsi normal atapun erupsi
samping. Daerah Bahaya Lontaran, dapat dibagi
menjadi
2(dua)
bagian
masing-masing
berbentuk lingkaran yang mempunyai radius
antara 5 dan 6 Km dari titik erupsi (puncak),
daerah ini kemungkinan besar dilanda oleh
bahan-bahan jatuhan piroklastika (efflata
maupun tefra), daerah ini dapat juga disebut
sebagai daerah Waspada terhadap lontaran.
Bahaya yang mungkin melanda daerah waspada
terhadap lontaran ini tidak bergantung pada
topografi, sehingga apabila terjadi kegiatan
gunungapi yang berupa letusan yang
menghasilkan jatuhan piroklastika, tindakan
yang tepat adalah mencari perlindungan yang
kuat atau meninggalkan tempat pemukimannya.
Daerah Bahaya Sekunder, daerah bahaya ini
kemungkinan dilanda oleh lahar hujan. Daerah
ini
meliputi
morfologi
rendah
yang
memungkinkan untuk dilanda oleh aliran lahar
sekunder, sehingga daerah bahayanyapun
terdapat disekitar daerah aliran sungai yang
berhulu dari daerah puncak gunungapi
Merbabu.
Kesimpulan
Gunung Merbabu memiliki potensi untuk
meletus kembali seperti Gunung Sinabung yang
semula dikatagorikan dalam gunung api tipe.
Walau sudah "tidur" ratusan tahun, Gunung
Sinabung akhirnya aktif kembali sejak 2010 dan
meletus besar pada 2014. Oleh karena itu perlu
diketahui daerah bahaya yang terdapat di
Gunung Merbabu dalam upaya mitigasi
bencana. Daerah bahaya Gunung Sinabung
dibagi menjadi tiga, yaitu Daerah Bahaya
Primer, Daerah Bahaya Lontaran, dan yang
terakhir adalah daerah bahaya sekunder.

[1] http://nefosnews.com/post/lingkungan/ada-kemungkinangunung-merbabu-meletus-kembali (Diakses pada Sabtu,


tanggal 8 November 2014 pukul 10.30 WIB)
[2] http://pasains.blogspot.com/2006/08/merbabu-jawatengah_30.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8 November
2014 pukul 10.55 WIB)
[3] http://rickyblog21.blogspot.com/2011/01/gunung-merbabupotensial-meletus.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8
November 2014 Pukul 11.00 WIB)
[4] http://sutrisno-budiharto.blogspot.com/2014/03/gunungmerbabu-bisa-meletus-seperti.html (Diakses pada Sabtu,
tanggal 8 November 2014 pukul 11.02 WIB)

Lampiran

Gambar 1. Gunung Merbabu

http://pasains.blogspot.com/2006/08/merbabu-jawa-tengah_30.html
http://rickyblog21.blogspot.com/2011/01/gunung-merbabu-potensial-meletus.html
http://sutrisno-budiharto.blogspot.com/2014/03/gunung-merbabu-bisa-meletus-seperti.html
http://nefosnews.com/post/lingkungan/ada-kemungkinan-gunung-merbabu-meletus-kembali
http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2009/08/mengenal-lebih-jauh-gunung-merbabu.html
Secara fisiografis, daerah Jawa Tengah oleh Van Bemmelen, (1949) dibagi menjadi 6 zona fisiografi, yaitu:
Dataran Aluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarter, Antiklinorium Bogor Serayu Utara Kendeng, Deperesi
Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan, dan Pegunungan Selatan Jawa. Dataran Aluvial Jawa Utara,
mempunyai lebar maksimum 40 km kearah selatan. Semakin ke arah timur, lebarnya menyempit hingga 20
km.Gunungapi Kuarter di Jawa Tengah antara lain G. Slamet, G. Dieng, G. Sundoro, G.Sumbing, G. Ungaran,
G. Merapi, G. Merbabu, dan G. Muria. Zona Serayu Utara memiliki lebar 30 -50 km. Di selatan tegal, zona ini
tertutupi oleh produk gunungapi kwarter dari G. Slamet. Di bagian tengah ditutupi oleh produk volkanik kwarter
G. Rogojembangan, G.Ungaran, dan G.Dieng. Zona ini menerus ke Jawa Barat menjadi Zona Bogor dengan
batas antara keduanya terletak di sekitar Prupuk, Bumiayu hingga Ajibarang, persis di sebelah barat G. Slamet,
sedangkan ke arah timur membentuk Zona Kendeng. Zona Antiklinorium Bogor terletak di selatan Dataran
Aluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan Neogen yang terlipat kuat dan terintrusi. Zona Kendeng
meliputi daerah yang terbatas antara Gunung Ungaran hingga daerah sekitar Purwodadi dengan singkapan
batuan tertua berumur Oligosen. Miosen Bawah yang diwakili oleh Formasi Pelang.Zona Depresi Jawa Tengah
menempati bagian tengah hingga selatan. Sebagian merupakan dataran pantai dengan lebar 10-25 km. Morfologi
pantai ini cukup kontras dengan pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur yang relatif lebih terjal.Pegunungan
Selatan Jawa memanjang di sepanjang pantai selatan Jawa membentuk morfologi pantai yang terjal. Namun di
Jawa Tengah, zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah.Pegunungan Serayu Selatan terletak di antara Zona
Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah dan punggungan. Di bagian barat dari Pegunungan Serayu
Selatan yang berarah barat - timur dicirikan oleh bentuk antiklonorium yang berakhir di timur pada suatu
singkapan batuan tertua terbesar di Pulau Jawa, yaitu daerah Luk Ulo, Kebumen.
[1]http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197901012005011NANDI/geologi%20lingkungan/VULKANISME.pdf__suplemen_Geologi_Lingkungan.pdf (Diakses pada Sabtu, tanggal 8
November 2014 pukul 10.23 WIB)
[2] http://nefosnews.com/post/lingkungan/ada-kemungkinan-gunung-merbabu-meletus-kembali (Diakses pada Sabtu, tanggal 8
November 2014 pukul 10.30 WIB)
[3] http://pasains.blogspot.com/2006/08/merbabu-jawa-tengah_30.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8 November 2014 pukul
10.55 WIB)
[4] http://rickyblog21.blogspot.com/2011/01/gunung-merbabu-potensial-meletus.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8 November 2014
Pukul 11.00 WIB)
[5] http://sutrisno-budiharto.blogspot.com/2014/03/gunung-merbabu-bisa-meletus-seperti.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8
November 2014 pukul 11.02 WIB)
[6] http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2009/08/mengenal-lebih-jauh-gunung-merbabu.html (Diakses pada Sabtu, tanggal 8
November 2014 pukul 11.11 WIB)