Anda di halaman 1dari 14

A.

Public Private Partnership (PPP)


1. Pengertian Public Private Partnership (PPP)
Public Private Partnership (PPP) atau Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS)
dapat diterjemahkan sebagai:
Sebuah perjanjian kontrak antara swasta dan pemerintah, yang keduanya
bergabung bersama dalam sebuah kerjasama untuk menggunakan keahlian dan
kemampuan masing-masing untuk meningkatkan pelayanan kepada publik di
mana kerjasama tersebut dibentuk untuk menyediakan kualitas pelayanan
terbaik dengan biaya yang optimal untuk publik (Americas National Council on
Public Private Partnership, 2010).
Dalam PPP, meskipun aktor swasta seringkali memiliki tanggung jawab
utama untuk melakukan manajemen operasional sehari-hari, sektor publik terus
berperan pada pengelolaan korporasi dan tingkat manajemen harian. Dalam
melakukan kerjasama ini, resiko dan manfaat potensial dalam menyediakan pelayanan
ataupun fasilitas dipilah/dibagi kepada pemerintah dan swasta. Sinergi tersebut secara
sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Pemerintah
pusat/pemda

Loan
Bank

Desain

Special Purpose
Company

Kontruksi

Pemeliharaan

Pelayanan
Publik

Operasional

Gambar 6.4 Sinergi dalam Public Private Partnership (PPP)


Sumber: Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 12, No. 3, 2010
Dalam pengertian lain, PPP merupakan kemitraan antara pemerintah dan
swasta yang melibatkan investasi yang besar. Untuk menciptakan sebuah
hubungan/kerjasama yang sukses maka sangat penting untuk memahami tujuan dan
kepentingan dari masing-masing pelaku dalam PPP. Dalam PPP, sedikitnya terdapat 7

faktor yang merupakan kesatuan proses dari model PPP yang merupakan pendukung
keberhasilan program PPP, diantaranya adalah:
-

Networking

Cooperation/collaboration

Coordination

Willingness

Trust

Capability

A conductive environment.
Sementara berdasarkan kajian yang pernah dilakukan oleh Pusat Kajian

Strategis Pelayanan Jasa Perhubungan (PKSPJP) tentang Kajian Percepatan


Pembangunan Infrastruktur Transportasi Melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta,
sedikitnya terdapat 5 (lima) aspek atau variabel yang dapat dijadikan tolak ukur
keberhasilan penerapan PPP di daerah, yaitu: Kebijakan, Sumber Daya, Karakteristik
Pelaku, Komunikasi, dan Kecenderungan Lembaga Pelaksana (Kurniawan dkk,
2009). Sehingga dengan mendasarkan pada teori-teori tersebut di atas, ditentukan
variabel dan sub variabel penelitian yang digunakan sebagai instrumen pengukuran
tingkat potensi penerapan kebijakan PPP dalam pengembangan infrastruktur
transpotasi padat modal dimana sektor swasta membiayai, membangun, dan
mengelola prasarana dan sarana, sedangkan pemerintah sebagai mitra yang menangani
pengaturan pelayanan, dalam hal ini tetap sebagai pemilik asset dan pengendali
pelaksanaan kerjasama.
Bentuk hubungan PPP meliputi kegiatan umum negara dengan kompetisi
sektor swasta melalui kerjasama antara publik dan sektor swasta untuk usaha investasi
dalam pengadaan infrastruktur, contoh yang paling mudah adalah jalan tol. Dalam
kerjasama tersebut melibatkan perusahaan swasta untuk tujuan tertentu, sedangkan
risiko ditanggung bersama-sama. Singkatnya, fitur kunci dari PPP dapat dicirikan
sebagai kemitraan antara sektor publik dan swasta yang biasanya melibatkan sektor
swasta untuk melakukan investasi proyek-proyek yang secara telah dilaksanakan dan
dimiliki oleh sektor publik.
2. Perkembangan PPP di Indonesia
Di Indonesia, sejatinya konsep PPP ini dipilih sebagai alternatif oleh
pemerintah semenjak pembangunan infrastruktur mulai agak tersendat karena
datangnya krisis moneter pada tahun 1998. Begitu kondisi Indonesia semakin terpuruk

karena krisis, saat itu Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor
7 Tahun 1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam
Pembangunan dan/atau Pengelolaan Infrastruktur. Namun, upaya ini tidak
membuahkan hasil. Apalagi, kondisi moneter dalam negeri saat itu belum stabil
sehingga terjadi capital flight yang cukup besar.
Hingga pada tahun 2005, Pemerintah mulai serius untuk menerapkan konsep
PPP. Diawali dengan diselenggarakannya Indonesia Infrastructure Summit I pada
pertengahan Januari 2005. Saat itu, ada sebanyak 91 proyek yang ditawarkan
pemerintah kepada investor swasta untuk menjadi proyek kerjasama PemerintahSwasta. Sedangkan pada Indonesia Infrastructure Summit II (Indonesia Infrastructure
Conference and Exhibition 2006) pemerintah menawarkan 111 proyek (termasuk 10
model proyek yang diunggulkan). Ternyata, untuk mengawal proyek-proyek
tersebut supaya layak dikerjasamakan membutuhkan kerja super keras pemerintah.
Banyak hal yang harus diperbaiki atau dibentuk. Secara garis besar, terdapat
tiga hal yang harus segera diselesaikan pemerintah. Pertama, membentuk
kelembagaan

baru

yang

mendukung

pelaksanaan

PPP;

kedua,

melakukan

harmonisasi, reformasi dan revisi terhadap berbagai aturan yang bertentangan dan
yang menghambat masuknya investasi; dan ketiga, meningkatkan kualitas sumber
daya manusia. Untuk tugas pertama, pemerintah telah membentuk apa yang disebut
dengan Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) yang
diketuai oleh Menteri Koordinator Perekonomian pada Mei 2005. Selain KKPPI,
beberapa institusi pendukung dalam rangka PPP juga sedang dan telah dibentuk
seperti :
-

Departemen Keuangan telah membentuk Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal (Risk


Management Unit) dan Badan Investasi Pemerintah.

Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Energi


dan Sumber Daya Mineral masing-masing telah membentuk Simpul PPP (PPP
Node).

Pemerintah juga membentuk Pusat Pengembangan PPP

Pada intinya, pelaksanaan PPP akan semakin baik ketika pemerintah mampu
menyediakan iklim kondusif yang mampu mendukung PPP. Situasi yang kondusif
untuk PPP antara lain:
-

Peraturan yang mendukung

Kerangka kebijakan yang berpihak

Prosedur yang jelas, dan terinci

Budaya kompetisi yang sehat

Transparansi dalamsetiap transaksi

Pasar modal yang baik

Pemerintah yang cukup paham tentang PPP


Dalam 3 dan 5 tahun kedepan sejumlah kota-kota Metropolitan di Indonesia

seperti, Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar dan Banjarmasin berpandangan sama


bagaimana mengatasi masalah terbatasnya penyediaan infrastruktur bagi daerahnya,
dengan terbatas pula dari sisi pembiayaan pemeintah daerah. Hal tersebut tentunya
dapat diupayakan secara komperhensif dengan memobilisasi pendekatan pembiayaan
investasi dari swasta melalui PPP, yang akan didukung oleh peraturan dan aturan yang
ada. Sekalipun nantinya swasta akan memperoleh kesempatan bekerjasama dalam
pembangunan infrastruktur yang merupakan utilitas umum perlu dikendalikan oleh
pemerintah, maka rambu-rambu bagi penyelenggaraan kerjasama pun perlu diatur
agar tidak merugikan kedua belah pihak, serta tidak mengurangi hak-hak penguasaan
Pemerintah dalam penyelenggaraan kepentingan bagi harkat hidup orang banyak.
Pola kerjasama dalam PPP dapat dicari setelah dilakukan kajian terhadap
pengalaman beberapa negara dalam melakukan kerjasama pembangunan dengan
pihak swasta, yaitu dapat berupa BOT (Built, Operate, Transfer) yang dipandang
cocok diterapkan dalam investasi jangka panjang, selama masa konsesinya dengan
membiayai, membangun dan mengoperasikan. Bentuk badan usaha yang melakukan
kerjasama tersebut bisa dilakukan dalam bentuk joint venture (usaha patungan) atau
joint operation (kerjasama operasi gabungan). Biaya pengadaan tanah lahan yang
dibutuhkan ditanggung oleh Pemerintah atau sekaligus oleh pihak Swasta yang akan
diperhitungkan dalam masa konsesi, hal tersebut telah dilakukan sejak tahun 1994
karena terbatasnya dana APBN/APBD.
3. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam PPP
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan kerjasama antara pemerintah
dan swasta antara lain adalah (Kurniawan dkk, 2009):
-

Penting bagi semua pihak untuk saling memahami, misi, fungsi dan tugas, hak,
kewajiban masing-masing sebagai pelaku pembangunan.

Melakukan persepsi dalam negoisasi kegiatan kemitraan, sangat diperlukan


keterbuakaan, komitmen dari para pelaku pembangunan dengan dicapainya hasil
yang saling menguntungkan.

Perlunya keterlibatan langsung seluruh pihak, terutama Pemerintah Daerah,


DPRD, masyarakat, karyawan dll.

Keberadaan dan akses data yang relevan, mudah, benar dan konsisten.

Dukungan yang jelas dan benar kepada pemberi keputusan baik tingkat Pusat,
Propinsi ataupun Daerah (Kabupaten/Kota).

Kriteria persyaratan lelang/negoisasi yang jelas, transparan dan konsisten.

Struktur dan tugas tim negoisasi yang jelas dan kemampuan dalam penguasaan
materi bidang Hukum, Teknis dan Keuangan.

4. Landasan Hukum Pelaksanaan PPP di Indonesia


PPP unit atau Badan yang bertugas secara aktif untuk memfasilitasi
Kerjasama pemerintah dan swasta saat ini adalah BAPPENAS, direktorat
Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta (PKPS). Adapun peraturanperaturan yang mendasari KPS dapat dilihat di PP No. 1 Tahun 2008 tentang
Investasi Pemerintah, juga terutama di Perpres No. 67 Tahun 2005 tentang
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Perpres ini telah diperbaiki menjadi Perpres No. 13 Tahun 2010. Salah satu aspek
penting dalam perpres ini adalah apresiasi terhadap ide atau inovasi dari pihak swasta
dalam proposal yang diajukan, dalam bentuk nilai atau score tambahan bila proposal
tersebut dilelangkan. Hal ini tentunya juga perlu direspons sebelumnya dengan
siapnya grand strategy dari pemerintah agar ide-ide yang akan dilaksanakan tidak
menyimpang dari grand strategy. Untuk lebih jelas, berikut merupakan beberapa
peraturan sebagai landasan hokum PPP:

Tabel di bawah ini memberikan gambaran peraturan terkait pelaksanaan PPP di


Indonesia:

Tabel 6.1
Landasan Hukum Pelaksanaan PPP/KPS di Indonesia
Sumber: BAPPENAS, 2013
Peraturan
Terkait NonKPS

Peraturan KPS

Peraturan Lintas
Sektor
Perpres 13/2010
Perpres 67/2005
Perpres 42/2005
(KKPPI)
PMK 38/2006
tentang (dukungan
pemerintah)
Permenko 3/2006
(Tata Cara
Penyusunan Daftar
Prioritas Proyek)
Permenko 4/2006
(Tata Cara Evaluasi
Proyek yang
Membutuhkan duk.
Pem)

Peraturan Sektor

Peraturan Terkait Lain

- Jalan Tol (PP 15/2005)


- Kereta Api (UU
23/2007)
- SPAM (PP 16/2005)
- Listrik (UU 15/1985)
- Pelabuhan (UU
17/2008 tentang
Pelayanan)
- Telekomunikasi (UU
36/1999)
- Bandara (UU 1/2009)

- PP 6/2006
(Pengelolaan BMN/D)
- PP 50/2007 (Tata Cara
Pelaksanaan
Kerjasama Daerah)
- PP 1/2008 (Investasi
Pemerintah)
- PP 38/2007
(Pembagian Urusan
Pemerintahan)
- Perpres 38/2005
diubah oleh perpres
65/2006 dan Per Ka
BPN 3/2007
(Pengadaan Tanah)
- Permendagri 22/2009
(Juknis Tata Cara
Kerjasama Daerah)

Peraturan KPS

Peraturan Lintas
Sektor
Perpres 13/2010
Perpres 67/2005
Perpres 42/2005
(KKPPI)
PMK 38/2006
tentang (dukungan
pemerintah)
Permenko 3/2006
(Tata Cara
Penyusunan Daftar
Prioritas Proyek)
Permenko 4/2006
(Tata Cara Evaluasi
Proyek yang
Membutuhkan duk.
Pem)

Peraturan Sektor

Peraturan Terkait Lain

- Jalan Tol (PP 15/2005)


- Kereta Api (UU
23/2007)
- SPAM (PP 16/2005)
- Listrik (UU 15/1985)
- Pelabuhan (UU
17/2008 tentang
Pelayanan)
- Telekomunikasi (UU
36/1999)
- Bandara (UU 1/2009)

- PP 6/2006
(Pengelolaan BMN/D)
- PP 50/2007 (Tata Cara
Pelaksanaan
Kerjasama Daerah)
- PP 1/2008 (Investasi
Pemerintah)
- PP 38/2007
(Pembagian Urusan
Pemerintahan)
- Perpres 38/2005
diubah oleh perpres
65/2006 dan Per Ka
BPN 3/2007
(Pengadaan Tanah)
- Permendagri 22/2009
(Juknis Tata Cara
Kerjasama Daerah)

Perpres 54/2010
tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
Keppres 80/2003
tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
UU
17/2003
tentang Keuangan
Negara
UU
25/2007
tentang
Penanaman
Modal
Peraturan
Terkait NonKPS

Perpres 54/2010
tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
Keppres 80/2003
tentang
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah
UU
17/2003
tentang Keuangan
Negara
UU
25/2007
tentang
Penanaman
Modal

Dalam praktek PPP di Indonesia, banyak terdapat pembangunan fisik


diperuntukkan untuk fasilitas publik, yang dalam pengerjaannya menggunakan pola
PPP. Berbagai kendala juga terjadi selama implementasi kerjasama, antara lain
investor tidak mendapat profit seperti yang diharapkan, yang disebabkan tidak
stabilnya kondisi perekonomian di Indonesia. Terjadinya pemutusan kontrak oleh
investor sebelumnya yang telah menjalani masa konsesi selama jangka waktu tertentu,
dengan alasan tidak tercapainya tujuan investor juga terjadi. Namun hal itu belum
tercakup dalam klausul perjanjian kerjasama, sehingga aturan tambahan jika hal-hal
seperti tersebut diatas terjadi, belum ada klausul yang mengatur dan memerlukan
perjanjian tambahan. Dari fenomena tersebut, maka perlu kiranya diidentifikasi
faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pada pelaksanaan PPP sehingga dapat
menjadi pedoman bagi kontrak PPP selanjutnya.
5. Prinsip, Manfaat, dan Tujuan pelaksanaan PPP
Pelaksanaan PPP dilakukan diantaranya berdasarkan prinsip: adil, terbuka,
transparan, dan bersaing. Dengan adanya pengadaan yang mengedepankan
transparansi dan persaingan, manfaat yang dapat diraih adalah:
-

Meningkatkan penerimaan publik terhadap proyek PPP.

Mendorong kesanggupan lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan


tanpa sovereign guarantees.

Mengurangi risiko kegagalan proyek.

Dapat membantu tertariknya bidders yang sangat berpengalaman dan berkualitas


tinggi.

Mencegah aparat pemerintah dari praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Jaminan harga pasar, tol, retribusi, dan sebagainya yang terendah.

Memperbaiki kemungkinan diterimanya proyek tersebut oleh masyarakat umum.

Meningkatkan kesediaan lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan,


sedapat mungkin tanpa jaminan pemerintah.

Menurunkan biaya pendanaan.

Mengurangi resiko kegagalan proyek.

Meningkatkan kemudahan memperoleh perijinan untuk proyek.

Membantu

untuk

menarik

pihak

swasta

yang

lebih

berkualitas

berpengalaman.
-

Melindungi pejabat pemerintah dari tuduhan melakukan KKN.

dan

Meningkatkan

investasi

dalam

proyek

infrastruktur

dan

menciptakan

pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, tujuan pelaksanaan PPP adalah untuk:


-

Mencukupi kebutuhan pendanaaan secara berkelanjutan melalui pengerahan dana


swasta.

Meningkatkan kuantitas, kualitas dan efisiensi pelayanan melalui persaingan


sehat.

Meningkatkan kualitas pengelolaan dan pemeliharaan dalam penyediaan


infrastruktur.

Mendorong dipakainya prinsip pengguna membayar pelayanan yang diterima,


atau dalam hal tertentu mempertimbangkan daya beli pengguna.

6. Bentuk Kerjasama dalam PPP


Menurut NCPPP (2013), bentuk-bentuk kerjasama dalam PPP adalah:
a.

Build, Operate, Transfer (BOT) atau Build, Transfer, Operate (BTO)


Bentuk ini merupakan bentuk kerjasama P3 dimana pihak swasta membangun
fasilitas sesuai dengan perjanjian tertentu dengan pemerintah, mengoperasikan
selama periode tertentu berdasarkan kontrak, dan kemudian mengembalikan
fasilitas tersebut kepada pemerintah. Pada banyak kasus yang lain, swasta selalu
menyediakan sebagian atau seluruh dana pembiayaan pembangunannya sehingga
pada periode kontrak harus sesuai dengan perhitungan dalam pengembalian
investasi melalui pengguna fasilitas

tersebut. Pada akhir kontrak, pihak

pemerintah dapat menilai tanggung jawab pengoperasian, memperpanjang masa


kontrak dengan pihak yang sama, atau mencari pihak (swasta) baru sebagai mitra
untuk mengoperasikan atau memelihara.

BTO hampir sama dengan BOT.

Perbedaannya terletak pada waktu pengembalian atau penyerahan fasilitas. Kalau


BOT dari pihak swasta mengembalikan setelah memiliki dalam jangka waktu
tertentu, sebaliknya, pada BTO, pihak swasta menyerahkan fasilitas kepada
pemerintah setelah proyek pembangunan selesai.
b. Build, Own, Operate (BOO)
BOO merupakan bentuk kerjasama PPP dimana konstraktor swasta membangun
dan mengoperasikan fasilitas tanpa harus mengembalikan kepemilikan kepada
pemerintah. Dengan kata lain, dari pemerintah menyerahkan hak dan tanggung
jawabnya atas suatu prasarana publik kepada mitra privat untuk membiayai,

membangun, memiliki dan mengoperasikan suatu prasarana publik baru tersebut


selama-lamanya. Transaksi BOO dapat berstatus bebas pajak apabila semua
persyaratan kantor pajak terpenuhi.
c.

Buy, Build, Operate (BBO)


BBO merupakan sebuah bentuk penjualan aset yang mencakup proses rehabilitasi
atau pengembangan dari fasilitas yang sudah ada. Pemerintah menjual aset
kepada swasta dan kemudian swasta melakukan upaya peningkatan yang
dibutuhkan fasilitas tersebut untuk menghasilkan keuntungan dengan mekanisme
yang menguntungkan pula.

d. Contract Services
- Operations and Maintanance
Mitra publik (pemerintah negara bagian, badan-badan/instansi pemerintah
lokal) melakukan kontrak/perjanjian kerjasama dengan swasta untuk
menyediakan dan/atau memelihara jasa atau layanan tertentu. Berdasarkan
pada pilihan operasi dan pemeliharaan yang telah diberikan kepada swasta,
mitra publik mempertahankan kepemilikan dan seluruh manajemen fasilitas
umum atau sistem.
- Operations, Maintanance, Management
Mitra

publik

melakukan

kontak

kerjasama

dengan

swasta

untuk

mengoperasikan, memelihara, dan mengelola fasilitas atau sistem untuk


meningkatkan pelayanan. Berdasarkan kontrak/perjanjian ini, mitra publik
mempertahankan kepemilikan tetapi pihak swasta boleh menginvestasikan
modalnya pada fasilitas atau sistem tersebut. Swasta manapun sangat
berhatihati dalam memperhitungkan investasi pada setiap kerjasama dengan
sistem operasional yang efisien dan tabungan selama waktu kontrak. Dengan
kontrak yang rata-rata lebih lama, pihak swasta memiliki kesempatan besar
untuk memperoleh keuntungan dan pengembalian yang sesuai. Pemerintah di
Amerika Serikat biasanya menggunakan bentuk kerjasama ini untuk pelayanan
perawatan sampah cair.
e.

Design, Build (DB)


DB merupakan bentuk kerjasama dimana pihak swasta menyediakan desain dan
membangun sesuai desain proyek yang memenuhi persyaratan yang standard dan
kinerja yang dibutuhkan yang ditetapkan oleh pemerintah. Bentuk kerjasama ini
dapat menghemat waktu, dana, jaminan yang lebih jelas, dan membebankan

risiko tambahan kepada swasta. Selain itu bentuk ini juga dapat mengurangi
konflik karena pembagian tanggung jawab yang jelas dan sederhana.
f.

Design, Build, Maintain (DBM)


Bentuk DBM merupakan bentuk kerjasama yang hampir sama dengan DB dengan
pengecualian pada pemeliharaan fasilitasnya selama beberapa waktu dalam
perjanjian menjadi tanggung jawab pihak swasta. Keuntungan juga hampir sama
dengan DB dengan risiko selama pemeliharaan dibebankan kepada mitra swasta
ditambah dengan garansi selama periode pemeliharaan juga oleh swasta.

g.

Design, Build, Operate (DBO)


DBO merupakan bentuk kerjasama dimana kontrak tunggal diberikan untuk
mendesain,

membangun,

dan

mengoperasikan.

Kepemilikan

fasilitas

dipertahankan untuk sektor publik kecuali jika proyek tersebut berupa design,
build, operate, transfer

atau

design, build, own, operate. Metode kontrak

kerjasama ini sangat berbeda dengan pendekatan yang biasanya digunakan di


Amerika Serikat. Metode ini melibatkan satu kontrak dengan seorang arsitek atau
insinyur, diikuti dengan kontrak yang berbeda dengan pemborong, kemudian
diikuti pengambil-alihan oleh pemilik dan mengoperasikannya.
h. Concession
Konsesi memberikan peluang tanggung jawab yang lebih besar kepada privat
tidak hanya untuk mengoperasikan dan memelihara aset tersebut namun juga
berinvestasi. Kepemilikan aset masih berada ditangan pemerintah, tetapi
keseluruhan hak guna berada ditangan privat hingga berakhirnya kontak
(biasanya 25-30 tahun). Konsesi biasanya ditawarkan melalui lelang dengan
penawaran terendah akan keluar sebagai pemenang. Konsesi diatur dengan
kontrak yang mencakup kondisi seperti target kinerja (kualitas), standar kinerja,
perjanjian investasi modal, mekanisme penyelarasan tarif, dan penyelesaian
arbritase atau peselisihan yang berpotensi muncul. Keuntungan bentuk konsesi
adalah seluruh pengelolaan dan investasi dilakukan oleh private untuk tujuan
efisiensi. Konsesi sesuai untuk menarik investasi dalam skala besar.
i.

Enhanced Use Leasing (EUL)


EUL di Amerika merupakan pengelolaan aset-aset pada Departemen Urusan
Veteran (Veterans Affairs-VA) yang meliputi beberapa perjanjian sewa-menyewa
(seperti lease, develop, operate, atau build, develop, operate). EUL juga
memungkinkan pada departemen ini mengontrol sewa properti dalam jangka

panjang dengan pihak swasta atau instansi pemerintah untuk keperluan di luar
Departemen Urusan Veteran.
j.

Lease, Develop, Operate (LDO) atau Build, Develop, Operate (BDO)


LDO atau BDO merupakan kerjasama swasta menyewa atau membeli prasarana
publik dari pemerintah, dan mengembangkannya serta melengkapinya, lalu
mengoperasikan berdasarkan kontrak dalam waktu tertentu. Selama kontrak
berlangsung, pihak swasta dapat mengembangkan prasarana yang ada dan
mengoperasikannya sesuai dengan perjanjian kontrak.

k. Lease/Purchase
Bentuk kerjasama ini terjadi ketika pemerintah membuat kontrak dengan swasta
untuk merancang dan membiayai serta membangun prasarana

publik, tetapi

setelah selesai dibangun prasarana tersebut menjadi milik pemerintah. Lalu pihak
swasta tersebut menyewa prasarana tersebut kepada pemerintah untuk
dioperasikan dalam periode waktu tersebut sesuai dengan perjanjian. Berdasarkan
perjanjian ini pengoperasian fasilitas dapat dilakukan oleh kedua belah pihak
(pemerintah-swasta) selama masa sewa. Lease/purchase sudah digunakan pada
General Service Administration pada pembangunan gedung kantor pemerintah
negara bagian dan pembangun gedung-gedung penjara di Amerika Serikat.
l.

Sale/Leaseback
Sale/leaseback merupakan bentuk kerjasama pengaturan keuangan dimana
pemilik fasilitas menjual kepada pihak lain, dan setelah itu menyewa kembali dari
pemilik baru tersebut. Baik pemerintah maupun swasta dibolehkan ikut masuk
didalam pengaturan sale/leaseback meskipun dengan banyak pertimbangan.
Inovasi penggunaan bentuk kerjasama ini adalah penjualan fasilitas umum kepada
sektor publik atau perusahaan swasta dengan pertimbangan pembatasan
kewajiban dari pemerintah. Berdasarkan dari kesepakatan tersebut, pemerintah
yang menjual fasilitas menyewanya kembali dan melanjutkan pengoperasiannya.

m. Tax, Exempt Lease/Turnkey


Turnkey merupakan bentuk kerjasama dimana pemerintah membiyai suatu proyek
dan pihak swasta melaksanakan perancangan, pembangunan dan pengoperasian
dalam waktu yang telah disepakati bersama. Persyaratan standard dan untuk
Kinerja ditetapkan oleh pemerintah dan kepemilikan tetap ditangan pemerintah.

Bentuk-bentuk kerjasama PPP di atas dapat dibedakan antara satu dengan


yang lainnya dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:
-

Kepemilikan aset. Kepemilikan aset merupakan hak atas kepemilikan terhadap


aset yang dikerjasamakan, apakah aset itu berada ditangan pemerintah atau
swasta, selama jangka waktu tertentu. Semakin besar keterlibatan pihak swasta
dalam

kepemilikan

aset

maka

akan

semakin

menarik

minat

mereka

bekerjasama/berinvestasi. Kepemilikan aset dapat dibedakan apakah menjadi


milik pemerintah, milik swasta, atau milik pemerintah dan swasta (kepemilikan
bersama).
-

Operasional dan pengelolaan asset. Operasional dan pengelolaan aset merupakan


kriteria yang mengindentifikasikan pendelegasian tanggung jawab untuk
mengelola aset yang dikerjasamakan selama kurun waktu tertentu. Pihak yang
mengelola berpeluang untuk memperoleh pendapatan dari aset kerjasama.
Operasional dan kepemilikan aset dapat dibedakan menjadi tanggung jawab
pemerintah, swasta, atau tanggung jawab bersama.

Investasi modal atau penanam modal. Investasi modal merupakan kriteria


berkaitan dengan siapa yang akan menanamkan modal tersebut pada aset yang
akan dikerjasamakan. Investasi modal dapat dibedakan menjadi investasi
pemerintah, swasta, atau investasi dengan modal bersama.

Resiko-resiko yang akan terjadi. Risiko komersial merupakan kriteria yang


berhubungan siapa yang akan dibebani dengan risiko-risiko komersial tersebut
yang nanti akan muncul selama pembangunan dan pengelolaan aset yang
dikerjasamakan. Risiko komersial yang akan terjadi dapat dibebankan kepada
pemerintah, swasta, atau menjadi beban bersama.

Durasi kerjasama
Durasi kerjasama merupakan kriteria yang berkaitan dengan jangka waktu
kerjasama yang disepakati. Semakin lama jangka waktu kerjasama akan
memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembalian. Durasi kerjasama
dapat dibedakan menjadi jangka pendek, jangka menengah, atau jangka

Dari keseluruhan bentuk kerjasama PPP diatas, tidak semua bentuk kerjasama
dilakukan di Indonesia, berikut adalah kerjasama yang dilakukan di Indonesia:
a.

BOT (Build, Operate, Transfer)

Swasta membangun, mengoperasikan fasilitas dan mengembalikannya ke


pemerintah setelah masa konsesi/kontrak berakhir.
- Jalan Tol
- Terminal Udara (Airports)
- Bendungan&bulk water supply
- Instalasi Pengolahan Air (water/wastewater treatment plant)
- Pelabuhan Laut (Sea Ports)
- Fasilitas IT (Information Technology)
- Pembangkit Listrik (Independent Power Producer/IPP)
b. BTO (Build, Transfer, Operate)
Swasta membangun, menyerahkan asetnya kepemerintah dan mengoperasikan
fasilitas sampai masa konsesi/kontrak berakhir.
c.

ROT (Rehabilitate, Operate, Transfer)


Swasta memperbaiki, mengoperasikan fasilitas dan mengembalikannya ke
pemerintah setelah masa konsesi/kontrak berakhir.

d. BOO (Build, Own, Operate)


Swasta membangun dan memiliki fasilitas serta mengoperasikannya. Beberapa
contoh BOO adalah:
- Pelabuhan Udara (keseluruhan atau sebagian)
- Jalan Tol
- Pelabuhan Laut
- Penyediaan dan distribusi air bersih
- Rumah Sakit
- Fasilitas olahraga

e.

O & M (Operation and Maintenance)


Berlaku untuk kasus khusus, pemerintah membangun, swasta mengoperasikan
dan memelihara.
Terdapat masa kontrak untuk bentuk BOT dan BTO, dan jika masa kontrak

telah berakhir maka proyek harus diserahkan ke pemerintah dan selanjutnya


pemerintah bisa mengelola sendiriatau ditenderkan lagi. PPP di Indonesia sebenarnya
sudah dilaksanakan sejak tahun 1974 yaitu sejak adanya Undang-Undang yang
mengatur tentang pembangunan jalan tol. Sampai saat ini,pelaksanaan PPP ini masih
fokus

pada

pembangunan

infrastruktur

yang

ditangani

oleh

pemerintah

pusat.Persiapan yang perlu dilakukan dalam proses PPP biasanya meliputi Pra Sudi
Kelayakan, Desain Awal, AMDAL, Sosialisasi, Kelayakan Keuangan, Pengadaan/
Pelelangan. Sedangkan kriteria yang dipergunakan dalam proses pengadaan/tender
adalah: biaya, tarif, desain, dan proses pemeliharaan. Setelah infrastruktur tersebut
terbangun, kinerja dari KPS ini pun bisa dilihat berdasarkan: (1) revenue atau
pendapatan yang diperoleh, (2) efisiensi yang dihasilkan, (3) penanganan resiko, dan
(4) inovasi yang dihasilkan.
7. Syarat Proyek PPP
Agar suatu proyek dapat dibiayai oleh PPP, proyek yang dibiayai oleh kerjasama
Pemerintah dan Swasta, maka proyek tersebut harus merupakan proyek seperti yang
tercantum pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010
Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 Tentang
Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur,
seperti dibawah ini
-

Infrastruktur transportasi, meliputi pelayanan jasa kebandarudaraan, penyediaan


dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan, sarana dan prasarana perkeretaapian.

Infrastruktur jalan, meliputi jalan tol dan jembatan tol.

Infrastruktur pengairan, meliputi saluran pembawa air baku.

- Infrastruktur air minum yang meliputi bangunan pengambilan air baku, jaringan
transmisi, jaringan distribusi, instalasi pengolahan air minum.
- Infrastruktur air limbah yang meliputi instalasi pengolah air limbah, jaringan
pengumpul dan jaringan utama, dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut
dan tempat pembuangan.
- Infrastruktur telekomunikasi dan informatika, meliputi jaringan telekomunikasi dan
infrastruktur e-government.
- Infrastruktur ketenagalistrikan, meliputi pembangkit, termasuk pengembangan tenaga
listrik yang berasal dari panas bumi, transmisi, atau distribusi tenaga listrik.
- Infrastruktur minyak dan gas bumi, meliputi transmisi dan/atau distribusi minyak dan
gas bumi.
Infrastruktur-infrastruktur tersebut, dikerjasamakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di sektor bersangkutan. Syarat lainnya agar PPP dapat terlaksana
yaitu, dari segi ekonomis semua pihak (pemerintah dan swasta) memperoleh keuntungan.