Anda di halaman 1dari 3

Rekaman Wawancara I: Bapak Donan Satria Yudha, M.Sc.

(Dosen Fakultas Biologi FH


UGM)
Hari Selasa, 25 Agustus 2014

Konservasi penyu di Pantai Trisik terancam oleh penambangan pasir di pesisir pantai.
Beberapa tambak di daerah Dlingo memang ilegal dan tidak berizin.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta terdiri dari Seksi
Konservasi Wilayah I dan Seksi Konservasi Wilayah II. Seksi Konservasi Wilayah II
menangani dan membidangi permasalahan konservasi di wilayah Kabupaten Bantul
dan Gunungkidul. Masalah konservasi penyu di Pantai Samas menjadi tanggungan
Seksi Konservasi Wilayah II. Forum Konservasi Penyu Bantul dibentuk oleh Seksi
Konservasi Wilayah II BKSDA Yogya.
Secara alami, Pantai Samas merupakan pantai yang ideal bagi penyu untuk mendarat
dan bertelur karena kontur pantainya yang landai.
Penelitian Pak Donan Satria mengenai perbedaan sarang alami dan sarang semi-alami
penyu.
a. Sarang alami = Kelebihan dari sarang alami untuk penyu ini adalah karena sarang
ini alami buatan dari penyu itu sendiri, sehingga bagus untuk penyu-penyu karena
ketika nanti penyu-penyu yang lahir dari telur-telur di sarang tersebut sudah besar,
mereka sudah langsung tahu pantai di mana dulu ia lahir dan di mana ia harus
kembali untuk bertelur. Kelemahannya adalah karena sarang ini merupakan sarang
alami, sehingga sangat mudah untuk dijarah oleh para pencuri telur penyu
dan/atau dirusak oleh para predator yang mengincar telur penyu.
b. Sarang semi alami = Kelebihan dari sarang semi alami ini adalah sarang ini lebih
aman dan melindungi kelangsungan dan keselematan telur-telur penyu, karena
sarang semi alami ini dijaga oleh masyarakat yang tergabung dalam Forum
Konservasi Penyu Bantul. Selain kelebihan dari segi keamanan, sarang semi
alami ini juga dapat dijadikan ekowisata bagi pengunjung pantai. Dengan
membayar sejumlah Rp5.000,00, pengunjung Pantai Samas dapat melepaskan
tukik (anak penyu) yang sudah siap dilepas kembali ke laut. Uang hasil ekowisata
penyu ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan konservasi penyu itu sendiri.
Tetapi dari segi ilmu biologi, karena sarang semi-alami ini merupakan buatan
manusia dan terletak di lokasi berbeda dari sarang alami yang dibuat oleh induk
penyu yang bertelur, kelemahannya adalah bagi penyu yang menetas di sarang
semi alami ini ada kemungkinan berdampak tidak baik untuk pertumbuhannya
setelah besar nanti, karena penyu menghafalkan butiran pasir pantai tempatnya dia
mendarat, suhu dan kelembapan pantai dia mendarat dan pantai tempatnya dia
mendarat berdasarkan rasi bintang. Ada kemungkinan penyu-penyu yang menetas
di sarang semi-alami tidak kembali ke pantai tempat asalnya bertelur karena
pengaruh-pengaruh tersebut. Tetapi menurut Pak Donan Satria, dalam kurun
waktu lima tahun terakhir tidak terjadi perubahan signifikan terhadap jumlah

penyu yang datang bertelur, karena Forum Konservasi Bantul yang bertugas
memindahkan telur-telur dari sarang alami ke sarang semi alami juga telah
memiliki SOP untuk meminimalisir risiko-risiko di atas.
Spesies penyu yang paling banyak mendarat dan bertelur di Pantai Samas adalah
Penyu Lekang dan Penyu Hijau. Beberapa Penyu Belimbing juga tercatat bertelur di
pesisir Pantai Samas tapi tidak sebanyak Penyu Lekang dan Penyu Hijau ini.
a. Siklus pendaratan penyu untuk bertelur
Penyu Belimbing dan Penyu Sisik = bulan Januari, Februari, dan Maret.
Penyu Hijau dan Penyu Lekang = bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus.

HAMBATAN:

Menurut Pak Donan, dalam kurun lima waktu terakhir ini kesadaran masyarakat
sekitar pantai-pantai di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta terkait konservasi
penyu sudah jauh lebih baik. Pencurian terhadap telur penyu justru dilakukan oleh
orang luar daerah pantai tersebut. Di pasar-pasar ikan sekitar Pantai Samas dan
pantai-pantai lain di daerah pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta juga sudah
tidak ditemukan telur penyu yang dijual. Pencuri-pencuri telur penyu dari luar daerah
tersebut biasanya menjual telur-telur tersebut di pasar-pasar gelap di luar daerah
Pantai Samas. Selain itu, pencuri-pencuri telur penyu tersebut juga sudah mengetahui
siklus bertelur penyu di Pantai Samas. Penduduk sekitar Pantai Samas sudah sadar
akan pentingnya konservasi terhadap telur-telur penyu. Jika mereka menemukan
sarang penyu baru, mereka akan melaporkan penemuan tersebut ke Dinas Kelautan
dan Perikanan (DKP) dan/atau BKSDA, yang kemudian telur-telur dari sarang
tersebut tersebut akan dipindahkan ke sarang semi alami yang terdapat di rumah Pak
Rudjito sebagai pengelola Forum Konservasi Penyu Bantul. DKP dan BKSDA
memberikan kompensasi bagi warga yang melaporkan penemuan sarang penyu baru.
Selain masalah pencurian, kendala lain yang dihadapi dalam upaya konservasi penyu
di Pantai Samas ini adalah masalah abrasi. Menurut Pak Donan, wajar jika suatu
pantai mengalami abrasi atau perubahan kontur patai, tetapi untuk tahun ini Pantai
Samas mengalami abrasi yang cukup parah karena adanya erupsi dari Merapi yang
terbawa dari Sungai Opak yang hilirnya berada cukup dekat dengan Pantai Samas.
Untuk mengatasi abrasi ini, BKSDA sudah melakukan upaya preventif berupa
penanaman cemara laut. Berdasarkan pengamatan Pak Donan, 80% cemara laut yang
ditanam untuk mengatasi abrasi ini tumbuh hidup, dengan 20% yang lainnya mati
kering. Cemara laut ini diharapkan nantinya dapat mengurangi dampak abrasi
terhadap Pantai Samas, terutama ketika ada banjir dari hulu Sungai Opak dan Sungai
Progo.
Sampah juga menjadi ancaman utama dalam upaya konservasi penyu. Menurut Pak
Donan, sangat banyak sampah-sampah dari kota yang terbawa dalam arus Sungai
Opak dan Sungai Progo yang mengapit Pantai Samas, mengakibatkan sampah-sampah
tersebut terbawa dan mencemari laut. Sampah yang masuk ke laut tersebut terbawa
oleh ombak ke pantai sehingga mengotori pantai. Pantai yang kotor akan

menyebabkan penyu enggan untuk singgah dan bertelur di pantai tersebut. Selain itu,
anak-anak penyu yang baru menetas juga akan mati jika kondisi pantai tempatnya
bertelur kotor.
BKSDA kekurangan staff untuk polisi hutan. Staff yang ada dengan luas wilayah
yang harus diawasi kurang seimbang.
Belum ada koordinasi yang bagus antara BKSDA dengan DKP, sehingga sering ada
overlap kebijakan antara BKSDA dan DKP. Masyarakat setempat sering bingung
ingin mengikuti kebijakan yang mana. Berdasarkan pendapat Pak Donan, kedua
instansi pemerintahan tersebut memiliki kebijakan yang sama-sama baik, hanya
alangkah akan lebih bagusnya jika kebijakan tersebut lebih dikoordinasikan sehingga
lebih efektif.

Menurut Pak Donan, BKSDA sudah berhasil dalam mengubah pola pikir penduduk
sekitar pesisir pantai untuk peduli terhadap masalah konservasi penyu. Hanya saja,
masih terdapat hambatan dan ancaman lain yang berupa banjir dari hulu yang
mengakibatkan abrasi dan membawa sampah, serta pencuri-pencuri telur penyu dari
luar daerah yang mengincar sarang-sarang penyu alami di Pantai Samas.
Setiap ada kegiatan mengenai penyu di Pantai Samas, misalnya seperti penemuan
sarang penyu baru, pelepasan tukik atau anak penyu, dan pembangunan sarang nonalami, BKSDA pasti akan diberitahu oleh masyarakat dan BKSDA datang untuk
memantau dan mendampingi masyarakat secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan
dengan penyu tersebut. BKSDA aktif berkoordinasi dengan masyarakat setempat
Pantai Samas.
Klarifikasi dari berita yang kita jadiin ide untuk makalah:
a. Kolam yang rusak karena abrasi sudah dibangun kembali, untuk yang kemarin
rusak memasukkan proposal CSR ke perusahan-perusahaan, dan dapat bantuan
dari Pertamina wilayah Semarang. Penanganan terhadap sarang-sarang semi alami
penyu yang rusak juga cepat dengan koordinasi dari Forum Konservasi Penyu
Bantul, BKSDA, dan bantuan dari pihak akademisi seperti Pak Donan.
b. Untuk masalah dana aman (tidak seperti yang diberitakan di berita kekurangan
dana dsb.).
- Saat awal pembentukan Forum Konservasi Penyu Bantul, diinisiasi dengan
dana stimulan dari DKP dan BKSDA
- Untuk masalah dana sekarang sudah mandiri. Forum Konservasi Penyu Bantul
sering mengirimkan proposal CSR ke perusahan-perusahaan dan proposalproposal tersebut sering diterima.
- BKSDA mendampingi Forum Konservasi Penyu Bantul dalam membuat
proposal untuk diajukan ke perusahaan-perusahaan tersebut.
Populasi penyu yang mendarat dan jumlah penyu yang berhasil menetas di Pantai
Samas stabil jumlahnya, menurut pendapat Pak Donan usaha konservasi penyu yang
dilakukan oleh Forum Konservasi Penyu Bantul dan BKSDA sudah cukup berhasil.