Anda di halaman 1dari 26

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS HUKUM

TUGAS MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


KELOMPOK SEMBILAN
Tema : Sistem Ekonomi Islam

DISUSUN OLEH
Muhammad Ryan Kurniawan

(13/345446/HK/19443)

Masud Raihan Ramadhani

(13/345495/HK/19491)

Della Ernandyanti

(13/345531/HK/19527)

Surya Indah Tunjung Ayu

(13/345551/HK/19547)

Laras Qisthina Putri

(13/348899/HK/19574)

Mohammad Ganda Arbeta Putra

(13/345924/HK/19599)

Firdaus Himawan

(13/348926/HK/19601)

Hasnul Namira

(13/348951/HK/19625)

YOGYAKARTA
2013

I.

Pengertian, Tujuan dan Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam


Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi
kehidupan manusia dan alam semesta.Kegiatan perekonomian manusia juga diatur
dalam Islam dengan prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya
bukan milik manusia, melainkan hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan
sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan
kembali kepada Allah swt. untuk dipertanggungjawabkan.
a. Pengertian Ekonomi Islam
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia
yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan
tauhid

sebagaimana

dirangkum

dalam

rukun

iman

dan

rukun

Islam.

Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya,


sebagaimana

firman-Nya

dalam

surat

At

Taubahayat

105:

Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
yang beriman akan melihat pekerjaan itu. Karena kerja membawa pada
keampunan, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw: Barang siapa di
waktu sore nya kelelahan karena kerjatangannya, maka di waktu sore itu ia
mendapat ampunan (HR.ThabranidanBaihaqi).
b. Tujuan Ekonomi Islam
Segala aturan yang diturunkan Allah swt. dalam sistem Islam mengarah pada
tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan,
kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya.Demikian pula dalam hal
ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia
dan di akhirat. Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah
mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam
diturunkan

sebagai

rahmat

bagi

seluruh

umat

manusia,

yaitu:

1. Penyucian jiwa
agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan
lingkungannya.
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat.
Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan
muamalah.

3. Tercapainyamaslahah (merupakanpuncaknya).
Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjadi
puncak
sasaran
di
atas
mencakup
lima

jaminan

dasar:

keselamatan keyakinan agama ( al din)


kesalamatan jiwa (al nafs)
keselamata nakal (al aql)
keselamatankeluargadanketurunan (al nasl)
keselamatanhartabenda (al mal)
Untuk dapat mengerti tujuan ekonomi Islam, maka prlu memahami acuan-acuan
yang tersurat pada Al-Quran al karim, diantaranya:
1) Al-Qashas (28):77; Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan.
2) Al-Mukmin (40):79-80 Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk
kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.
Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu
dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan
mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatangbinatang itu dan dengan mengendarai bahtera.
3) An-Nahl (16):14 Dan Dia yang menundukkan lautan agar kamu dapat
memakan darinya daging yang segar dan kamu mengeluarkan adrinya
perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan
agar kamu (bersungguh-sungguh) mencari (keuntungan) dari karuniaNya dan
supaya kalian bersyukur.
4) At-Taubat (9):103 Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat
itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi
mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
5) An-Nisaa (4):29 Wahai orang-orang yang beriman, janagnlah kalian
memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali

dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian


membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang
kepada kalian.
6) Al-Israa (17):26-27 Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat
akan haknya ; kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan
janganlah kamu menhamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat
ingkar kepada tuhannya.
7) Hud (11):15 Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
8) Al-Alaq (96):6-7 Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.
Karena Dia melihat dirinya serba cukup.
9) At-Takaasur (102):1 Kamu dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak
(kekayaan).
10) Al-Hadid (57):7 Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan
nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu
menguasainya
11) Al-Fathir (35):39 Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka
bumi. Al-Jatsiyah (45):13 Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
12) Sabda Rasulullah SAW; Cinta harta dan kemudian itu menumbuhkan nifaq
(sifat orang munafiq) dalam hati, sebagaimana air menumbuhkan sayuran
(Kata Al Zaqi, ia tidak pernah menjumpai hadist ini, dengan bunyi demikian)
13) Sabda Rasulullah SAW; Tidaklah dua ekor serigala yang buas yang
dilepaskan dari kandang lebih banyak merusakkan, dibanding dengan cinta
harga dan kemegahan dari agama seorang muslim. (Diriwayatkan oleh AtTarmizi dan An-Nasai dari Ka-ab bin Malik, Hasan Shohih).
14) Sabda Rasulullah SAW; Tiga perkara membinasakan yaitu: kikir yang diikuti
orang, hawa nafsu yang dituruti orang dan orang yang kagum akan dirinya
sendiri (berlaku ujub.)
15) Hadist Nabi Riwayat Muslim dari Abu Said al khudri r.a; Sesunggunya
dunia ini manis dan menyenangkan. Allahlah yang memberi kuasa kepadamu
di dalamnya. Oleh karena itu Dia selalu mengawasi bagaimana kamu berbuat
atas dunia yang dikuasakan atas kamu itu.

Dengan kata lain yaitu ekonomi yang mampu membawa nikmat barokah dan
nikmat bagi manusia sehingga terwujud kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

c. Prinsip-Prinsip Ekonomi dalam Islam


Secara

garis

besar

ekonomi

Islam

memiliki

beberapa

prinsip

dasar:

1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt.
kepada manusia.
2. Islam

mengakui

3. Kekuatan

pemilikan

penggerak

utama

pribadi
ekonomi

dalam
Islam

batas-batas
adalah

tertentu.
kerjasama.

4. Ekonomi Islam menolakterjadinyaakumulasikekayaan yang dikuasai oleh


segelintir orang saja.
5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya
direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
6. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat
nanti.
7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).
8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

II.

Profit Menurut Islam


Allah swt. memerintahkan umat Islam untuk berbisnis, seperti firmanNya
dalam surat An-Nisaa ayat 29:
4:29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu
[287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Aktifitas berbisnis berprinsip profit. Dalam hal ini, agama Islam tidak
melarang dan dibenarkan oleh syariat. Namun Islam melarang pengambilan profit

melalui cara-cara yang merugikan orang lain dan tidak sesuai syariah. Adapun
pengambilan profit dan bisnis yang dilarang dalam Islam adalah:
1. Keuntungan dari bisnis barang dan jasa haram
Bisnis yang tergolong dilarang oleh Islam adalah bisnis minuman
keras, narkoba, jasa kemaksiatan, perjudian dan praktek riba serta makanan
dan minuman yang merusakkan rohani dan jasmani. Hal ini tertuang pada
hadits yang diriwayatkan Jabir r.s. Nabi Muhammad Saw bersabda:
Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli minuman keras, bangkai, babi
dan patung. (HR. Jamaah, periksa al Albani dalam Irwa Gholil 1290).
2. Jual beli secara curang dan manipulasi
Hasil dari jual beli dengan curang dan manipulasi akan menimbulkan
ketidaklangsungan dalam berbisnis serta akan membuat pembeli menjadi tidak
rela. Islam melarang jual beli dengan cara seperti tersebut, hal ini berdasar
sabda Nabi Muhammad Saw: Barang siapa mencurangi kami maka bukanlah
bagian dari golongan kami (HR. al Jamaah kecuali Bukhori dan Nasai).
Orang muslim itu adalah saudara orang muslim lainnya, tidak halal bagi
seorang muslim menjual kepada saudaranya suatu yang ada cacatnya
melainkan harus dijelaskan kepadanya. (HR. Ahmad dan Ibnu majah).
3. Jual beli dengan cara harga aktual
Rasulullah saw. telah melarang Talaqqi Rukban yakni menghadang
kafilah dagang di tengah jalan dan membeli barang-barangnya dengan
berbohong mengenai harga aktual dan beliau juga melarang permainan
bisnis Najasy (Insider Trading) yakni cara bisnis menaikkan penawaran
harga dengan permainan orang dalam. (Pelarangan itu terdapat pada riwayat
hadits

Muttafaq

Alaih

dari

Abu

Hurairah,

Lihat

al-Ghozali

dalam Ihya II/72).


4. Profit dengan cara menimbun dan spekulatif
Ihtihar (menimbun) adalah menahan barang-barang dagangan lebihlebih bahan pokok dengan spekulasi untuk menaikkan harga yang
membahayakan kepentingan umum. Praktik dagang seperti ini adalah sistem
bisnis kapitalisme yang bertumpu pada riba dan penimbunan. Rasulullah
bersabda:

Tidaklah

menimbun

kecuali

orang-orang

berbuat

dosa.

Barangsiapa yang menimbun bahan makanan selama 40 hari maka sungguh

ia telah berlepas dari Allah dan Allah berlepas darinya. (HR. Ahmad dan
Hakim).
Dapat disimpulkan bahwa dalam Islam, profit dalam berbisnis tidak dibatasi,
sedang bisnis yang dilarang oleh Islam adalah bisnis yang tercampuri dengan
barang-barang yang haram, kecurangan tanpa transparan serta profit yang didapat
dari penimbunan barang keperluan umum serta aqad yang tidak jelas.

III.

Mekanisme Pasar dalam Sistem Ekonomi Islam


Konsep mekanisme pasar dalam Islam dapat dirujuk kepada hadits Rasululllah
Saw sebagaimana disampaikan oleh Anas R.A, sehubungan dengan adanya
kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dengan hadits ini terlihat dengan
jelas bahwa Islam jauh lebih dahulu (lebih 1160 tahun) mengajarkan konsep
mekanisme pasar daripada Adam Smith. Dalam hadits tersebut diriwayatkan
sebagai berikut :
:

( )
Harga melambung padazamanRasulullah SAW. Orang-orang ketika itu
mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: ya Rasulullah hendaklah
engkau menetukan harga. Rasulullah SAW. berkata: Sesungguhnya Allah-lah
yang menetukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki.
Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak
seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun
harta.
Inilah teori ekonomi Islam mengenai harga. Rasulullah SAW dalam hadits
tersebut tidak menentukan harga. Ini menunjukkan bahwa ketentuan harga itu
diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah impersonal. Rasulullah
menolak tawaran itu dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditetapkan,
karena Allah-lah yang menentukannya.

Sungguh menakjubkan, teori Nabi tentang harga dan pasar. Kekaguman ini
dikarenakan, ucapan Nabi Saw itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu
sesuai dengan kehendak Allah yang sunnatullah atau hokum supply and demand.
Menurut pakar ekonomi Islam kontemporer, teori inilah yang diadopsi oleh Bapak
Ekonomi Barat, Adam Smith dengan nama teori invisible hands.Menurut teori ini,
pasar akan diatur oleh tangan-tangan tidak terlihat (invisible hands). Bukankah
teori invisible hands itu lebih tepat dikatakan God Hands (tangan-tangan Allah).
Oleh karena harga sesuai dengan kekuatan penawaran dan permintaan di pasar,
maka harga barang tidak boleh ditetapkan pemerintah, karena ketentuan harga
tergantung pada hokum supply and demand.

IV.

Lembaga Keuangan atau Permodalan dalam Sistem Ekonomi Islam


A. Konsep Lembaga Keuangan Syariah
Lembaga keuangan adalah Badan usaha yang kekayaannya terutama
berbentuk aset keuangan atau tagihan (claims); yang fungsinya sebagai lembaga
intermediasi keuangan antara unit defisit dengan unit surplus dan menawarkan
secara luas berbagai jasa keuangan (mis: simpanan, kredit, proteksi asuransi,
penyediaan mekanisme pembayaran & transfer dana) dan merupakan bagian dari
sistem keuangan dalam ekonomi modern dalam melayani masyarakat.
Sedangkan lembaga keuangan syariah adalah lembaga keuangan yang
menjalankan kegiatannya dengan berlandaskan prinsip syariah Islam. Lembaga
Keuangan Syariah terdiri dari Bank dan non Bank (Asuransi, Pegadaian, Reksa
Dana, Pasar Modal, BPRS, dan BMT).
B.

Karakter dan Prinsip Lembaga Keuangan Syariah


Dalam operasionalnya, Lembaga Keuangan Syariah berada dalam koridor-

koridor
prinsip-prinsip:
1)

Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai

kontribusi dan resiko masing-masing pihak

2)

Kemitraan, yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan

pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha
yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan
3)

Transparansi, lembaga keuangan Syariah akan memberikan laporan

keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat


mengetahui kondisi dananya
4)

Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan

dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Ciri-ciri sebuah Lembaga Keuangan Syariah dapat dilihat dari hal-hal sebagai
berikut:
1.

Dalam menerima titipan dan investasi, Lembaga Keuangan Syariah harus

sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.


2.

Hubungan antara investor (penyimpan dana), pengguna dana, dan Lembaga

Keuangan Syariah sebagai intermediary institution, berdasarkan kemitraan, bukan


hubungan debitur-kreditur.
3.

Bisnis Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya berdasarkan profit orianted,

tetapi juga falah orianted, yakni kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
4.

Konsep yang digunakan dalam transaksi Lembaga Syariah berdasarkan

prinsip kemitraan bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa guna transaksi
komersial, dan pinjam-meminjam (qardh/ kredit) guna transaksi sosial.
5.

Lembaga Keuangan Syariah hanya melakukan investasi yang halal dan tidak

menimbulkan kemudharatan serta tidak merugikan syiar Islam.


Adapun prinsip-prinsip yang dirujuk adalah:
1.
2.

Larangan menerapkan bunga pada semua bentuk dan jenis transaksi


Menjalankan aktivitas bisnis dan perdagangan berdasarkan pada kewajaran

dan keuntungan yang halal.


3.
Mengeluarkan zakat dari hasil kegiatannya.
4.
Larangan menjalankan monopoli.
5.
Bekerja sama dalam membangun masyarakat, melalui aktivitas bisnis dan
perdagangan yang tidak dilarang oleh Islam.
C.

Peranan Lembaga Keuangan


Peranan lembaga keuangan dalam proses intermediasi keungan dapat dibagi

dalam empat hal yaitu :

1.

PENGALIHAN ASET (Assets Transmutation)


Lembaga Keuangan memiliki aset dalam bentuk pinjaman kepada pihak lain

dalam jangka waktu tertentu, dana kepada pihak lain dalam jangka waktu
tertentu, dana pembiayaan aset tersebut diperoleh dari tabungan masyarakat
2.

LIKUIDITAS (Liquidity)
Likuiditas berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh uang tunai pada

saat dibutuhkan
3.

REALOKASI PENDAPATAN (Income Reallocation)


Lembaga Keuangan sebagai tempat realokasi pendapatan untuk persiapan di

masa yang akan datang


4.

TRANSAKSI (Transaction)
Lembaga Keuangan menyediakan jasa untuk mempermudah transaksi

moneter.
D.
1)

Tujuan Berdirinya Lembaga Keuangan Syariah


Mengembangkan lembaga keuangan syariah (bank dan non bank syariah)
yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan,serta mampu meningkatkan
partisipasi masyarakat banyak sehingga menggalakkan usaha-usaha ekonomi
rakyat,antara lain memperluas jaringan lembaga keuangan syariah ke daerah-

2)

daerah terpencil.
Meningkatkan kualitas kehidupan social ekonomi masyarakat bangsa
Indonesia,sehingga dapat mengurangi kesenjangan social ekonomi. Dengan

demikian akan melestarikan pembangunan nasional yang antara lain melalui:


Meningkatkan kualitas dan kuantitas usaha
Meningkatkan kesempatan kerja
Meningkatkan penghasilan masyarakat banyak
3)
Meningkatkan partisipasi
masyarakat
banyak
dalam proses
pembangunan,terutama dalam bidang ekonomi keuangan yang selama ini
diketahui masih banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank
ataupun lembaga keuangan lainnya,karena menganggap bahwa bunga adalah
riba.
4)
Mendidik

dan

membimbing

masyarakat

untuk

berpikir

ekonomi,berperilaku bisnis dan meningkatkan kualitas hidup mereka.


E.

Jenis-jenis Lembaga Keuangan Syariah

1.

Lembaga Keuangan Syariah Berbentuk Bank


a. Bank Umum Syariah / Perbankan Syariah

secara

Perbankan Syariah adalah Badan Usaha yang menjalankan fungsi


menghimpun dana dari pihak yang surplus dana kemudian menyalurkan
kepada pihak yang defisit dana dan menyediakan jasa keuangan lainnya
berdasarkan prinsip syariah Islam.
Secara garis besar produk perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga
yaitu Produk penyaluran dana ( Murabahah, As_salam, Istishna,Ijarah,
Musyarakah, dan Mudharabah) produk penghimpunan dana (Prinsip Wadiah
dan Prisip Mudharabah), dan produk jasa yang diberikan bank kepada
nasabahnya seperti Sharf (Jual Beli Valuta Asing).
b. Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)
Menurut undang-undang (UU) Perbankan No. 7 tahun 1992, BPR
adalah lembaga keuangan yang menerima simpanan uang hanya dalam bentuk
deposito berjangka tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan
dalam bentuk itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Pada UU
Perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adlah lemabaga
keuangan bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional
atau berdasarkan prinsip syariah.
Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip syariah
tertuang pada surat Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/tentang Bank
Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 12 Mei 1999. Dalam
hal ini pada teknisnya BPR syariah beroperasi layaknya BPR konvensional
namun menggunakan prinsip syariah.
Usaha-usaha BPR Syariah:
UU BPR Syariah kemudian dipertegas dalam kegiatan operasional
BPR Syariah dalam pasal 27 SIK DIR. BI 32/36/1999, sebagai berikut:
a)
Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang
meliputi:
Tabungan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.
Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah.
Bentuk lain yang menggunakan prinsip wadiah atau mudharabah.
b)
Melakukan penyaluran dana melalui:
Transaksi jual beli melalui prinsip murabahah, istishna, salam,
ijarah, dan jual beli lainnya.
Pembiayaan
bagi
hasil

berdasarkan

prinsip mudharabah,

musyarakah, dan bagi hasil lainnya.


Pembiayaan lain berdasarkan prinsip rahn dan qardh.
c)
Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan BPR Syariah sepanjang
disetujui oleh Dewan Syariah Nasional.

2.

Lembaga Keuangan Syariah Non Bank

a.

BMT atau Baitul Mal Wa Tamwil


BMT terdiri dari dua istilah, yaitu baitul mal dan baitut tamwil. Baitul
maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana
yang non profit, seperti zakat, infak dan shodaqoh. Sedangkan baitut
tamwilsebagai usaha pengumpulan dan dan penyaluran dana komersial.
Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu,
adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil,
menumbuh kembangkan derajat dan martabat serta membela kepentingan
kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokohtokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada system ekonomi yang
salam.
BMT berfungsi sebagai:
Penghimpun dan penyalur dana, dengan menyimpan uang di BMT, uang
tersebut dapat ditingkatkan utilitasnya, sehingga timbul unit surplus (pihak
yang memiliki dana berlebih) dan unit defisit (pihak yang kekurangan
dana).
Pencipta dan pemberi likuiditas, dapat menciptakan alat pembayaran yang
sah yang mampu memberikan kemampuan untuk memenuhi kewajiban
suatu lembaga/perorangan.
Sumber pendapatan, BMT dapat menciptakan lapangan kerja dan memberi
pendapatan kepada para pegawainya.
Pemberi informasi, memberi informasi kepada masyarakat mengenai risiko
keuntungan dan peluang yang ada pada lembaga tersebut.
Mekanisme kerja BMT:
Cara kerja BMT adalah sebagai berikut :
1)

Pendamping atau beberapa pemrakarsa yang mengetahui tentang BMT,


menyampaikan dan menjelaskan idea tau gagasan ini kepada rekanrekannya sebagai upaya untuk menarik beberapa orang sebagai

pemrakarsa awal hingga mencapai lebih dari 20 orang.


2)
Dua puluh orang atau lebih tersebut kemudian menyepakati pendirian
BMT di desa, kecamatan,

pasar, atau masjid

dan bersepakat

mengumpulkan modal awal pendirian BMT.


3)
Modal awal kemudian ditentukan sesuai dengan kesepakata bersama
(tidak harus sama jumlahnya antara pemrakarsa, hingga mencapai jumlah
yang telah ditentukan untuk pendirian sebuah BMT).

4)
5)

Pemrakarsa membuat rapat untuk memilih pengurus BMT.


Pengurus BMT kemudian merapatkan dan merekrut pengelola/
manajemen BMT dari lingkungan tersebut yang memiliki sifat sidiq,
amanah, fathanah dan benar-benar menguasai visi, misi, tujuan dan usahausaha BMT, serta memiliki keinginan keras dan dengan sepenuh hati

untuk mengembangkan BMT.


6)
Penggurus BMT menghubungi PINBUK setempat untuk memberikan
pelatihan kepada calon pengelola/manajemen BMT tersebut(umumnya 2
minggu pelatihan dan magang).
7)
Pengelola yang telah diberi pelatihan kemudian membuka kantor dan
menjalankan BMT, dengan giat menggalakan simpanan masyarakat dan
memberikan pembiayaan pada usaha mikro dan kecil di sekitarnya.
8)
Pembiayaan pada usaha mikro dilakukan dengan menerapkan system
9)

bagi hasil yang disampaikan sesuai dengan akad yang telah disepakati.
Hasil dari bagi hasil ini kemudian digunakan oleh para pengelola untuk
membayar honor para pengelola dan membayar kegiatan operasional

BMT.
10) Hasil dari bagi hasil juga digunakan untuk membayar bagi hasil kepada
penyimpanan data, diupayakan agar nilai bagi hasil yang diperoleh para
penyimpan dana bias lebih besar dari bunga bank konvensional.
b.

Asuransi Syariah
Kata asuransi berasal dari bahasa inggris, insurance. Dalam bahasa arab
istilah asuransi biasa diungkapkan dengan kata at-tamin yang secara bahasa
berarti tuma ninatun nafsi wa zawalul khauf, tenangnya jiwa dan hilangnya rasa
takut.
Asuransi menurut UU RI No.2 th. 1992 tentang usaha perasuransian, yang
dimaksud dengan asuransi yaitu perjanjian antara dua belah pihak atau lebih,
dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri dengan pihak tertanggung,
dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada
tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin
diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tak pasti atau untuk
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seeseorang yang dipertanggungkan.
Sedangkan pengertian asuransi syariah menurut fatwa DSN-MUI adalah
usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak

melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru memberikan pola
pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan
syariah.
Pendapat Ulama Tentang Asuransi: Pada awalnya para ulama berbeda
pendapat dalam menentukan keabsahan praktek hukum asuransi, disanalah
menjadi kontroversial, dari masalah ini dapat dipilah menjadi dua kelompok
yaitu; adanya ulama yang mengharamkan asuransi, dan ada juga yang
memperbolehkan asuransi.
Asuransi syariah haram karena:
Gharar : Terlihat dari unsur ketidakpastian tentang sumber dana yang
digunakan untuk menutupi klaim dan hak pemegang polis.
Maysir adalah Yaitu unsur judi yang gambarkan dengan kemungkinan adanya
pihak yang dirugikan di atas keuntungan pihak yang lain,
Riba adalah Asuransi
Asuaransi obyek bisnisnya digantungkan pada hidup matinya seseorang, yang
berarti mendahului takdir Allah SWT
Argumentasi ulama dalam memperbolehkan asuransi, adalah :

Tidak terdapat nash Al-Quran atau Hadist yang melarang asuransi


Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak
Asuransi menguntungkan kedua belah pihak
Asuransi mengandung unsur kepentingan umum, sebab premi-premi yang

dapat diinvestasikan dalam kegiatan pembangunan


Asuransi termasuk akad mudharobah antara pemegang polis dengan
perusahaan asuransi
Asuransi termasuk syirikah at-taawuniyah, usaha bersama yang didasarkan
pada prinsip tolong-menolong.
Prinsip-prinsip Asuransi Syariah antara lain :
a.

Saling Membantu dan Bekerjasama Dan tolong-menolonglah kamu


dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al-Maidah:2) Allah senantiasa
menolong hamba-Nya selama ia menolong sesamanya. (HR. Abu Daud)
Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi

b.

kebutuhannya. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)


Saling melindungi dari berbagai macam kesusahan dan kesulitan Seperti
membiarkan uang menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang
bermanfaat bagi masyarakat umum. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali

dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara
kamu (QS. 4 :29)
c.
Saling bertanggung jawab
d.
Menghindari unsur gharar, maysir dan riba Islam menekankan aspek
keadilan, suka sama suka dan kebersamaan menghadapi resiko dalam setiap
usaha dan investasi yang dirintis. Aspek inilah yang menjadi tawaran konsep
untuk menggantikan gharar, maysir dan riba yang selama ini terjadi di
lembaga konvensional.
c.

Pegadaian Syariah
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1150, gadai adalah suatu
hak yang diperoleh pihak yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak.
Barang bergerak tersebut diserahkan oleh pihak yang berutang kepada pihak yang
berpiutang. Pihak yang berutang memberikan kekuasaan kepada pihak yang
mempunyai piutang untuk memiliki barang yang bergerak tersebut apabila pihak
yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat berakhirnya waktu
pinjaman.
Mekanisme Operasional Pegadaian Syariah: Sesuai dengan landasan konsep
di atas, pada dasarnya Pegadaian Syariah berjalan di atas dua akad transaksi
Syariah yaitu.
1.

Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam
sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan
memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian
piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian menahan barang bergerak sebagai
jaminan atas utang nasabah.

2. Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
atas barangnya sendri. Melalui akad ini dimungkinkan bagi Pegadaian untuk
menarik sewa atas penyimpanan barang bergerak milik nasabah yang telah
melakukan akad.
Rukun dari akad transaksi tersebut meliputi :
a. Orang yang berakad : 1) Yang berhutang (rahin) dan 2) Yang berpiutang
(murtahin).
b. Sighat ( ijab qabul)
c. Harta yang dirahnkan (marhun)

d. Pinjaman (marhun bih)


Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian
Syariah dapat digambarkan sebagai berikut : Melalui akad rahn, nasabah
menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan
merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Akibat yang timbul
dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai
investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan proses
kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa
kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak.
Pegadaian Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat
yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang
diperhitungkan dari uang pinjaman.. Sehingga di sini dapat dikatakan proses
pinjam meminjam uang hanya sebagai lipstick yang akan menarik minat
konsumen untuk menyimpan barangnya di Pegadaian.
Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut meliputi :
1. Akad. Akad tidak mengandung syarat fasik/bathil seperti murtahin
mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas.
2. Marhun Bih ( Pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan
kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut.
Serta, pinjaman itu jelas dan tertentu.
3. Marhun (barang yang dirahnkan). Marhun bisa dijual dan nilainya seimbang
dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya,milik sah penuh dari rahin,
tidak terkait dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi maupun
manfaatnya.
4. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta
jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.
5. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya asuransi,biaya
penyimpanan,biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi.
Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah, masyarakat hanya
cukup menyerahkan harta geraknya ( emas, berlian, kendaraan, dan lain-lain)
untuk dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal. Kemudian staf Penaksir

akan menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan
sebagai patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon
uang pinjaman yang dapat diberikan. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai
intrinsik dan harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. Maksimum
uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai taksiran
barang.
Setelah melalui tahapan ini, Pegadaian Syariah dan nasabah melakukan akad
dengan kesepakatan :
1. Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama
maksimum empat bulan .
2. Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90,- ( sembilan puluh
rupiah ) dari kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar
bersamaan pada saat melunasi pinjaman.
3. Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada
saat pencairan uang pinjaman.
Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk;
melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka
waktu empat bulan,
mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa simpan
yang sudah berjalan ditambah bea administrasi,
atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dahulu jika pada saat jatuh
tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman uangnya.
Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar jasa
simpan, maka Pegadaian Syarian melakukan eksekusi barang jaminan dengan
cara dijual, selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan
dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberi
kesempatan selama satu tahun untuk mengambil Uang kelebihan, dan jika dalam
satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, Pegadaian Syariah
akan menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS.
d.

Reksa Dana Syariah

Reksadana adalah sebuah wadah dimana masyarakat dapat menginvestasikan


dananya dan oleh pengurusnya (manajer investasi) dana itu diinvestasikan ke
portfolio efek. Reksadana merupakan jalan keluar bagi para pemodal kecil yang
ingin ikut serta dalam pasar modal dengan modal minimal yang relatif kecil dan
kemampuan menanggung resiko yang sedikit. Pada reksadana syariah sudah tentu
dana akan disalurkan kepada saham syariah dan surat berharga syariah seperti
sukuk.
Saham syariah adalah kepemilikan atas usaha tertentu dimana usaha tersebut
harus sesuai dengan prinsip syariah Islam. Sedangkan kegiatan transaksi saham
syariah tidak berbeda jauh dengan saham konvensional. Oleh sebab itu, sudah
menjadi kewajiban pejuang ekonomi syariah untuk terus mengkaji saham syariah
lebih syari dalam transaksinya. Akad antara investor dengan lembaga hendaknya
dilakukan dengan sistem mudharabah/qiradh.
Sukuk adalah surat berharga yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah
sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset surat berharga syariah, yang
dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen penjual dengan volume
minimum yang telah ditentukan. Tujuan penerbitan sukuk adalah membiayai
anggaran perusahaan, divesifikasi sumber pembiayaan, memperluas basis
investor, mengelola portofolio pembiayaan. Dalam melakukan transaksi
Reksadana Syariah tidak diperbolehkan melakukan tindakan spekulasi, yang
didalamnya mengandung gharar seperti najsy (penawaran palsu).
Perbedaan Reksa dana Syariah dan Konvensional
Ada beberapa hal yang membedakan antara reksa dana konvensional dan reksa
dana syariah. Dan tentunya ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam
investasi syariah ini.
a.

Kelembagaan
Dalam syariah islam belum dikenal lembaga badan hukum seperti sekarang.
Tapi lembaga badan hukum ini sebenarnya mencerminkan kepemilkikan
saham dari perusahaan yang secara syariah diakui. Namun demikian, dalam
hal reksa dana syariah, keputusan tertinggi dalam hal keabsahan produk
adalah Dewan Pengawas syariah yang beranggotakan beberapa alim ulama
dan ahli ekonomi syariah yang direkomendasikan oleh Dewan Pengawas
Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Dengan begitu proses didalam

akan terus diikuti perkembangannya agar tidak keluar dari jalur syariah yang
b.

menjadi prinsip investasinya.


Hubungan Investor dan Perusahaan
Akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem
mudharabah. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerjasama usaha
antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh (100%) modal,
sedangkan

pihak

lainnya

menjadi

pengelola.

Keuntungan

secara

mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak,


sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian
tersebut bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian tersebut
karena kecurangan atau kelalaian pengelola maka pengelola harus
bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Dalam hal ini transaksi jual beli,
saham-saham dalam reksa dana syariah dapat diperjual belikan. Sahamsaham dalam reksa dana syariah merupakan yang harta (mal) yang
dibolehkan untuk diperjual belikan dalam syariah. Tidak adanya unsur
penipuan (gharar) dalam transaksi saham karena nilai saham jelas. Harga
saham terbentuk dengan adanya hukum supply and demand. Semua saham
yang dikeluarkan reksa dana tercatat dalam administrasi yang rapih dan
c.

penyebutan harga harus dilakukan dengan jelas.


Kegiatan Investasi Reksa Dana
Dalam melakukan kegiatan investasi reksa dana syariah dapat melakukan apa
saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariah, diantara investasi tidak
halal yang tidak boleh dilakukan adalah investasi dalam bidang perjudian,
pelacuran, pornografi, makanan dan minuman yang diharamkan, lembaga
keuangan ribawi dan lain-lain yang ditentukan oleh Dewan Pengawas
Syariah. Dalam kaitannya dengan saham-saham yang diperjual belikan
dibursa saham, BEJ sudah mengeluarkan daftar perusahaan yang tercantum
dalam bursa yang sesuai dengan syariah Islam atau saham-saham yang
tercatat di Jakarta Islamic Index (JII). Dimana saham-saham yang tercantum
didalam indeks ini sudah ditentukan oleh Dewan Syariah.
Dalam melakukan transaksi reksa dana syariah tidak diperbolehkan
melakukan tindakan spekulasi, yang didalamnya mengandung gharar seperti
penawaran palsu dan tindakan spekulasi lainnya.

e.

Obligasi Syariah

Obligasi syariah di dunia internasional dikenal dengan sukuk. Sukuk berasal


dari bahasa Arab sak (tunggal) dan sukuk (jamak) yang memiliki arti mirip
dengan sertifikat atau note. Dalam pemahaman praktisnya, sukuk merupakan
bukti (claim) kepemilikan. Sebuah sukuk mewakili kepentingan, baik penuh
maupun proporsional dalam sebuah atau sekumpulan aset.
Jika ditinjau dari aspek akad, obligasi dapat dimodifikasi ke pelbagai jenis
seperti obligasi saham, istisna, murabahah, musyarakah, mudharabah ataupun
ijarah, namun yang lebih populer dalam perkembangan obligasi syariah di
Indonesia hingga saat ini adalah obligasi mudharabah dan ijarah.
Obligasi syariah di Indonesia mulai diterbitkan pada paruh akhir tahun 2002,
yakni dengan disahkannya Obligasi Indosat obligasi yang diterbitkan ini
berdasarkan prinsip mudharabah. Obligasi mudharabah mulai diterbitkan setelah
fatwa tentang obligasi syariah (Fatwa DSN-MUI No.32/DSN-MUI/ /2002)dan
obligasi syariah mudharabah (Fatwa DSN-MUI No.33/DSN-MUI/ /2002).
Sedangkan obligasi syariah ijarah pertama kali diterbitkan pada tahun 2004
setelah dikeluarkannya fatwa tentang obligasi syariah ijarah (Fatwa DSN-MUI
No.41/DSN-MUI/ /2003).
Penerapan mudharabah dalam obligasi cukup sederhana. Emiten bertindak
selaku mudharib, pengelola dana dan investor bertindak sebagai shahibul mal,
alias pemilik modal. Keuntungan yang diperoleh investor merupakan bagian
proporsional keuntungan dari pengelolaan dana oleh investor.
Perbedaan Obligasi Syariah dan Obligasi Konvensional
1)

Dari sisi orientasi, obligasi konvensional hanya memperhitungkan


keuntungannya semata. Tidak demikian pada obligasi syariah, disamping
memperhatikan keuntungan, obligasi syariah harus memperhatikan pula sisi
halal-haram, artinya setiap investasi yang diharamkan dalam obligasi pada

produk-produk yang sesuai dengan prinsip syariah.


2)
Obligasi konvensional, keuntungannya di dapat dari besaran bunga yang
ditetapkan, sedangkan obligasi syariah keuntungan akan diterima dari
besarnya margin/fee yang ditetapkan ataupun dengan sistem bagi hasil yang
didasakan atas aset dan prooduksi.
3)
Obligasi syariah disetiap transaksinya ditetapkan berdasarkan akad.
Diantaranya adalah akad mudharabah, musyarakah, murabahah, salam,
istisna,dan ijarah. Dana yang dihimpun tidak dapat diinvestasikan kepasar

uang dan atau spekulasi di lantai bursa. Sedangkan untuk obligasi


konvensional tidak terdapat akad disetiap transaksinya.
f.

Koperasi Syariah
Koperasi sebagai sebuah istilah yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia
dari kata Cooperation (Inggris). Secara semantic koperasi berarti kerja sama.
Kata koperasi mempunyai padanan makna dengan kata syirkah dalam bahasa
Arab. Syirkah ini merupakan wadah kemitraan, kerjasama, kekeluargaan,
kebersamaan usaha yang sehat baik dan halal yang sangat terpuji dalam islam.
Menurut Row Ewell Paul koperasi merupakan wadah perkumpulan (asosiasi)
sekelompok orang untuk tujuan kerja sama dalam bidang bisnis yang saling
menguntungkan diantara anggota perkumpulan.
Bung Hatta dalam buku Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun
mengkategorikan delapan nilai sebagai spirit koperasi yaitu:
1)
Kebenaran untuk menggerakan kepercayaan (trust)
2)
Keadilan dalam usaha bersama
3)
Kebaikan dan kejujuran mencapai perbaikan
4)
Tanggung jawab dalam individualitas dan solidaritas
5)
Paham yang sehat, cerdas dan tegas
6)
Kemauan menolong diri sendiri
7)
Menggerakan keswasembadaan dan otoaktif
8)
Kesetiaan dalam kekeluargaan.
Dalam implementasinya tujuh nilai yang menjiwai koperasi versi Hatta,
dituangkan dalam tujuh prinsip operasional koperasi secara internal dan
eksternal,yaitu:
1)
Keanggotaan sukarela dan terbuka
2)
Pengendalian oleh anggota secara demokratis
3)
Partisipasi ekonomis anggota
4)
Otonomi dan kebebasan
5)
Pendidikan, pelatihan dan informasi
6)
Kerjasama antarkoperasi
7)
Kepedulian terhadap komunitas.

g.

Pasar Modal Syariah


Istilah sekuritas (securities) seringkali disebut juga dengan efek, yakni sebuah
nama kolektif untuk macam-macam surat berharga, misalnya saham, obilgasi,
surat hipotik, dan jenis surat lain yang membuktikan hak milik atas sesuatu
barang. Dengan istilah yang hampir sama, sekuritas juga dapat dipahami sebagai
promissory notes/commercial bank notes yang menjadi bukti bahwa satu pihak
mempunyai tagihanpada pihak lain. Adapun,yang dimaksud dengan sekuritas
syariah atau efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan

perundang-undangan di bidang pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan,


maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah.
Diantara bank-bank islam yang ada, terdapat dua pendapat yang berbeda
dalam menyikapi surat berharga. Pertama, mayoritas bank islam menolak
perdagangan surat berharga. Kedua, bank islam di Malaysia, dalam beberapa
kondisi termasuk juga bank islam di Indonesia, menerima transaksi surat
berharga.
Alasan penyangkalan mereka yang enolak surat berharga adalah karena di
dalamnya terkandung bai ad-dyn (jual beli utang). Sementara itu islam secara
tegas telah engharamkan jual beli utang. Reaksi yang berbeda dikemukakan oleh
pendapat kedua, yakni mereka yang mengabsahkan transaksi surat berharga.
Umumnya mereka menyandarkan pada prinsip bahwa surat berharga tersebut
haruslah di endors(dijamin) oleh pihak penerbit, kemudian surat berharga tersebut
haruslah timbul dari aktivatas yang tidak bertentangan dengan syariah. Jadi,
selama kedua hal ini tidak dilanggar, tarnsaksi surat berharga menjadi sah
karenanya.
Sehubungan dengan pembahasan sekuritas syariah ini, ada tiga kategori
sekuritas. Pertama, segala jenis sekuritas yang menawarkan predetermined fixed
income tidak diperbolehkan dalam islam, karena termasuk kategori riba. Dengan
demikian, interest bearing security baik long term maupun short term. Akan
masuk daftar instrument investasi yang tidak sah. Saham preferen (preference
stock), debenture, treasury securities and consul, dan commercial papers masuk
dalam kategori ini.
Kategori kedua, sekuritas- sekuritas yang berbeda dalam grey area (questionable)
karena dicurigai sarat dengan gharar, meliputi produk-produk derivates, seperti
forward, future dan juga options.
Kategori ketiga, yakni sekuritas yang diperbolehkan, baik secara penuh maupun
dengan catatan-catatan meliputi, saham, dan islmic bonds, profit loss sharing
based, government securities, penggunaan institusi pasar sekunder dan
mekanismenya semisal margin trading. Karena sering seklai catatan-catatannya
begitu dominan.
h.

Modal Ventura Syariah


Modal Ventura Syariah adalah suatu pembiayaan dalam penyertaan modal
dalam suatu perusahaan pasangan usaha yang ingin mengembangkan usahanya
untuk jangka waktu tertentu (bersifat sementara). Modal ventura merupakan

bentuk penyertaan modal dari perusahaan pembiayan kepada perusahaan yang


membutuhkan dana untuk jangka waktu tertentu. Perusahaan yang diberi modal
sering disebut sebagai investee, sedangkan perusahaan pembiayaan yang memberi
dana disebut sebagai venture capitalist atau pihak investor.
Penghasilan modal ventura sama seperti penghasilan saham biasa, yaitu dari
dividen (kalau dibagikan) dan dari apresiasi nilai saham dipegang (capital gain).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Modal Ventura Syariah yakni
penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan Syariah untuk jangka waktu
tertentu, dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau
menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan.
Lahirnya perusahaan Modal Ventura telah memberi bantuan nyata kepada
usaha kecilmenengah dan koperasi. Namun dalam upaya membina usaha
khususnya pada para pengusahamasih banyak berbagai permasalahan yang
ditemui diantaranya:
1)
Arah bisnis yang belum jelas, terutama untuk jangka panjang karena
kebanyakan dari Perusahaan Pasangan Usaha masih berpatokan pada
pengalaman masa lalu.
Modal kerja yang minim, sehingga perkembangan usahan menjadi lamban,

2)

disamping kurangnya pengetahuan tentang seluk beluk perkreditan maupun


pembiayaan.
Manajemen yang belum profesional, adanya monitoring yang dilakukan

3)

oleh Perusahaan Modal Ventura selalu dicurigai.


4)
Kurangnya tenaga kerja yang terampil, berakibat pada produk yang
dihasilkan tidak kompetitif.
Prospek pasar yang belum jelas (berorientasi produk).
Pemasaran kurang gencar dan cenderung cepat puas dengan pasar yang

5)
6)

dimiliki.
7)
Biaya produk tinggi, akibat kuantitas produk reatif kecil akibat daya serap
8)
9)
10)

pasar yang terbatas.


Mutu produk yang masih rendah.
Tidak teguh dan kurang ulet dalam menjalankan usaha.
Pemanfaatan waktu yang kurang efisien dan kurang efektif.

Solusi Perusahaan modal ventura dalam menghadapi permasalahan yang ada


antara lain:
1)

Mengidentifikasi kebutuhan.

2)

Membantu permodalan.

3)

Memberi tenaga pendamping yang profesional dari Perusahaan Modal


Ventura.

4)

Memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan usaha.

5)

Membentuk kemitraan sesama pengusaha.

6)

Membentuk jejaring (Net Working) diantara para pengusaha.

7)

Memberikan teknologi yang tepat guna.


Adapun konsep perusahaan Modal Ventura Syariah adalah sebagai berikut:

a.

Mekanisme pembiayaan dalam Modal Ventura dilakukan dalam bentuk


penyertaan modal.

b.

Metode pengambilan keuntungan dalam Modal Ventura dilakukan melalui


bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh kegiatan usaha yang dibiayai.

c.

Produk pembiayaan Modal Ventura dikeluarkan oleh lembaga keuangan


bukan bank, yaitu perusahaan pembiayaan Modal Ventura.

d.

Jaminan dalam pembiayaan Modal Ventura tidak diperlukan, karena sifat


pembiayaannya lebih condong ke sebuah bentuk investasi.

e.

Sumber dana untuk pembiayaan Modal Ventura bisa berasal dari


perusahaan Modal Ventura sendiri dan juga berasal dari pihak lain.

f.

Upaya penyelesaian apabila terjadi wanprestasi dalam pembiayaan Modal


Ventura, baik yang dilakukan oleh perusahaan Modal Ventura maupun
perusahaan pasangan usaha, maka upaya penyelesaiaannya dapat dilakukan
melalui upaya damai, pengadilan negeri, dan lembaga arbitrase.

V.

Rizki Menurut Islam


Sumber dari rizki adalah Allah SWT yang Maha Kuasa. Kalau kita mengolah
tanah pertanian, tanah yang kita olah dan air hujan yang diperlukan bagi hidupnya
tanaman, merupakan bagian dari alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Demikian
juga kalau kita mengusahakan yang pertambangan, tambang yang kita eksploitasi
merupakan isi dari pada bumi yang juga diciptakan oleh Allah SWT. Jadi jelaslah
bahwa semua rizki yang diperoleh oleh umat manusia, semuanya berasal dari
Allah SWT Yang Maha Kuasa.
Sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut Dialah yang menjadikan
bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah
rizky Nya. Hanya kepada Nyalah kamu di bangkitkan. (Q.S. Al-MULK (67) : 15)
Ada banyak jalan memperoleh rizki, namun kita bisa mengelompokkan
menjadi 2 saja, yaitu :
Pemberian dari pihak lain
Berusaha atau bekerja sendiri

Walaupun manusia dilahirkan sama, namun dalam pembagian rizki manusia


bisa berbeda, tergantung pada bakat, kesempatan, lingkungan dan sebagainya.
Allah SWT telah memberikan rizki kepada manusia berbeda-beda. Ini mempunyai
maksud agar manusia selalu berusaha, berpikir, dan berdoa kepada Allah SWT.

VI.

Sesi Tanya Jawab


1. Penanya
Pertanyaan
Jawaban

2. Penanya
Pertanyaan
Jawaban

: Jatmiko
: Bagaimana cara mempertahankan ekonomi Islam di tengahtengah sistem perekonomian global yang kapitalis?
: Cara mempertahankan ekonomi Islam di tengah-tengah sistem
Perekonomian global yang kapitalis adalah dengan menjaga
misi dan fungsi lembaga-lembaga ekonomi Islam dan
prakteknya di lapangan agar selalu sesuai dengan prinsip
prinsip syariah. Bank syariah sudah terbukti lebih tahan
terhadap krisis ekonomi, dan dengan ini perlahan-lahan bank
syariah akan bertambah banyak pula peminatnya.
: Laksmi Amrita
: Bagaimana pandangan Islam mengenai masyarakat Indonesia
yang beragama Islam tetapi masih belum menggunakan bank
syariah dan tetap memakai jasa bank konvensional?
: Menurut diskusi kelompok sembilan, sistem perbankan
konvensional salah, tetapi selama nasabah yang bersangkutan
tidak merasa dirugikan, hal itu tidak apa-apa. Banyak faktor
yang menyebabkan masih sedikitnya minat muslim Indonesia
terhadap bank syariah, antara lain karena banyaknya promosi
dan undian berhadiah yang menarik dari bank konvensional
serta masih minimnya sosialisasi mengenai bank syariah.
Mengenai riba, setelah dipotong oleh berbagai operational
cost yang dikenakan oleh bank, sebenarnya nasabah bank
konvensional justru rugi dan pada akhirnya tidak menikmati
riba itu sendiri sehingga tidak apa-apa.

DAFTAR PUSTAKA
I.

Buku dan Kamus


Tim Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Gadjah Mada. 2005. Pendidikan
Agama Islam: Buku Teks untuk Perguruan Tinggi Umum Berdasarkan Kurikulum
Tahun 2002. Yogyakarta. Badan Penerbitan Filsafat UGM.

II.

Publikasi Elektronik
Setiawan Budi Utomo, 2009, Batasan Tingkat Keuntungan dalam Syariah dan
Kebijakan

Pricing

Pemerintah,

http://www.dakwatuna.com/2009/10/19/4342/batasan-tingkat-keuntungan-dalamEko

syariah-dan-kebijakan-pricing-pemerintah/#axzz2fR0tOQ1L.
Budiawan,
2013,
Konsep
Lembaga
Keuangan

Syariah,

http://lorong2ilmu.blogspot.com/2013/07/konsep-lembaga-keuangansyariah.html.
Agustianto, 2011,

Mekanisme

Pasar

dalam

Perspektif

Ekonomi

Islam,

http://shariaeconomics.wordpress.com/tag/mekanisme-pasar-dalam-perspektifekonomi-islam/#_ftn5.