Anda di halaman 1dari 7

Neuroleptika

(Anti Skizoprenik, Anti Psikotik, Tranquilizer Mayor)


1. Penggunaan Obat
- Keadaan eksitasi, agitasi, dan cemas
- Anti muntah / Anti emetikum
- Psikosis/Skizoprenia, Mania
- Gangguan tingkah laku dan watak
- Potensiasi dengan analgetik
2. Skizofrenia
Suatu gangguan mental yang disebabkan oleh disfungsi otak dengan sifat menonjol
seperti delusi, halusinasi ( sering dalam bentuk suara) dan gangguan pemikiran atau
bicara. Skozoprenia adalah jenis psikosis dengan berbagai gangguan kepribadiaan
disertai perubahan cara berfikir, perasaannya dan hubungannya dengan
lingkungannya. Biasanya gangguan mental ini terjadi disebabkan disfungsi otak yang
diwariskan.
Gejala dasar pada gangguan skizoprenia adalah berfikir (kacau, lupa tiba2, perubahan
urutan berfikir), acuh tak acuh, mudah terangsang, hilangnya kontak dengan
lingkungan, merasa asing sendiri, terpecahnya kepribadiaan. Selain gejala dasar
adapula gejala tambahan yaitu, halusinasi, gila (rasa diikuti, rasa seperti keracunan,
gila seks), tidak mau melakukan aktivitas, ungkapan2 aneh, pembentukan istilah2
baru, pengulangan terus menerus. Setiap gangguan kejiwaan diamati dari gejala2 yang
ditimbulkan dan dialami oleh penderita, sehingga dapat membedakan gangguan
kejiwaan satu dengan gangguang kejiwaan yang lainnya.
Penyebab skizoprenia secara farmakologis adalah peningkatan aktivitas neuron
dopaminergik pada otak (SSP), sehingga golongan obat yang digunakan untuk
pengobatan skizoprenia adalah menurunkan aktivitas neuron dopamin.
3. Penggolongan Obat
Golongan Obat antiskizoprenia (neuroleptik, antipsikotik, transkuilizer mayor)
Terdapat 5 (lima) golongan obat antiskizoprenia yaitu :
1. Golongan Fenotiazin yaitu, Klorpromazin, Flupenazin, Proklorperazin, Promazin,
Prometazin, Tioridazin.
2. Golongan Butirofenon yaitu, haloperidol.
3. Golongan Benzisoksazol yaitu, Risperidon.
4. Golongan Tioxanti yaitu, Tiotiksen.
5. Golongan Dibenzodiazepin yaitu, Klozapin.

Golongan Umum Obat Skizoprenia antara lain:


1. Golongan Antipsikotik Tipikal:
Antipsikotik tipikal disebut juga antipsikotik generasi pertama, konvensional, dopamine
receptor ontagonist (DA). Terdiri dari:
Antipsikotik tipikal berpotensi rendah (afinitas terhadap reseptor dopamine rendah),
contoh:
Klorpromazin
Tioridazin
Sulpirid
Antipsikotik tipikal berpotensi tinggi, contoh:
Haloperidol
Perfenazin
Flufenazin
Trifluperazin
Pimozid
Petunjuk umum cara pemberian obat antipsikotik tipikal:
Antipsikotik tipikal bila diberikan per orol rata-rata akan mencapai konsentrasi plasma
puncak dalam 1 4 jam; bila diberikan melaluisuntikan intra-muskular dalam 30 - 60 menit.
Kadar tetap (steady state) dicapai dalam 3 - 5 hari dan waktu paruh rata-rata adalah 24 jam.
Rokok, kopi, obat antasida umumnya dapat mengganggu absorbsi obat antipsikotik tipikal.
Berikan dosis awal antipsikotik dengan dosis minimal yang ditingkatkan secara bertahap
(stort low go slow). Penggunaan sediaan antipsikotik tipikal suntikan intra-muskular
diindikasikan terutama untuk mengatasi gejala agitasi (gaduh gelisah) pada gangguan
psikotik akut, skizofrenia dengan eksaserbasi akut, gangguan putus zat dengan gejala psikotik
akut dan delirium.
Suntikan intra-muskular antipsikotik tipikal sediaan de.po (suntikan jangka panjang) seperti
flufenazin dekanoat atau haloperidol dekanoat diberikan secara berkala tiap 2 - 4 minggu.
Efek samping antipsikotik, khususnya pada golongan tipikal meliputi efek samping jangka
pendek: gejala-gejala gangguan ekstra-piramidal seperti drug-induced parkinsonion
symptoms, akhatisia, distonia akut. Efek samping jangka panjang adalah tardif diskinesia.
Efek samping ekstra-piramidal pada pemberian antipsikotik dapat diatasi dengan mengurangi
dosis antipsikotik, atau dengan mengganti antipsikotik tipikal dengan antipsikotik golongan
atipikal. Dapat juga diberikan obat anti-parkinsonian, obat anti-kolinergik:
Trihexvphenidyl 2 mg tablet, diberikan 2 - 3 kali PO per hari
Diphenhydramine 50 mg PO atau suntikan lM

2.

Golongan Antipsikotik Atiprikal:

Antipsikotik atipikal disebut juga antipsikotik generasi kedua, novel antipsychotics,


serotonine-dopamine receptor ontagonist (SDA), antara lain:
Clozapine

Risperidone

Olanzapine
Quetiapine
Aripiprazole
Beberapa jenis antipsikotik menurut potensi, efek ekstrapiramidal, efek sedatif dan efek
menimbulkan hipotensi
2.1.4.
1.

Perhatian Dalam Penggunaan Antipsikotik


Pada penderita gangguan hati

makin parah gangguan pada hati maka makin besar risiko toksisitas dan sensitifitas
terhadap efek samping, sehingga dosis awal harus rendah.
start low go slow
monitor pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT) secara berkala (mingguan)
2.

Pada penderita gangguan ginjal

hati-hati dengan obat antipsikotik yang metabolit aktifnya diekskresikan melalui ginjal
start low go slow
efek samping cenderung lebih sering terjadi
monitor pemeriksaan fungsiginjalsecara berkala (ureum dan kreatinin)
3.

Pada kondisi hamildan menyusui

tidak ada kontra indikasi absolut pemberian antipsikotik bagi ibu hamil dan menyusui
diupayakan untuk tidak memberikan antipsikotik terhadap tbu hamil terutama pada
trimester pertama, kecuali pada kondisi gangguan jiwa ibu berat
obat-obat psikotropika hendaknya dikurangi atau dihentikan beberapa minggu sebelum
perkiraan partus
semua psikotropika diekskresikan melaluiASl karena itu selalu ada risiko
efek samping biasanya terkait dengan dosis yang dipakai, karena itu gunakan dosis efektif
minimal
4.

Pada anak-anak

pemberian obat antipsikotik pada anak sebagian besar adalah "off-label pottern". Diberikan
harus atas indikasi yang tepat dengan pengawasan penggunaan obat yang ketat
penggunaan antipsikotik pada anak tidak selalu menguntungkan karena anak sedang dalam
perkembangan yang cepat dalam aspek biologi otak, fisiologik, kognitif, emosional dan
sosial.

5.

Pada lanjut usia

Perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lanjut usia meningkatkan sensitivitas


terhadap obat antipsikotik, lebih mudah mengalami efek samping (terutama efek kardiak),
lebih lambat memetabolisme dan mengekresi obat
start low go slow
hindari pemakaian obat antipsikotik yang menyebabkan hipotensi dan sedasi
Dilema etik adalah kapasitas lansia dengan penurunan fungsi kognitif dalam memberi
informed consent.
4. Indikasi Obat
Indikasi neuroleptika (antiskizorenia) adalah,
A. sebagai antipsikotik/antiskizoprenia : mengurangi halusinasi dan agitasi dengan
cara menghambat reseptor dopamin di otak. Efek menenangkan dan mengurangi
gerakan spontan. Berbeda dengan depresan SSP lain, golongan neuroleptik tidak
menekan fungsi intelektual.
B. sebagai pencegahan mual dan muntah (pada peristiwa mual muntah juga terjadi
peningkatan pelepasan dopamin)
Telah dikatakan bahwa mual muntah juga diakibatkan karena peningkatan dopamin,
maka penggunaan neuroleptika dapat juga diberikan untuk kasus mual muntah selain
sebagai antiskizoprenia, dibawah ini penggunaan neuroleptika untuk gejala mual
muntah sesuai penyebabnya (lebih spesifik).
- Obat Meklizin, dimenhidrinat digunakan untuk antiemetik karena vertigo.
- Obat Skopolamin, Prometazin, digunakan sebagai antiemetik pada mabuk jalan.
- Obat Domperidon,metoklorpramid, digunakan untuk antiEmetik pada kemoterapi
kanker
- Obat Tietilperazin,domperidon adalah antiemetik pada terapi radiasi
Kerja obat neuroleptik menghambat dopamin dan atau serotonin, selain itu banyak
obat2 neuroleptik yang menghambat reseptor kolinergik, adrenergik, histamin dengan
berbagai efek samping, diantaranya efek antimuskarinik seperti kabur, mulut kering,
sedasi, bingung, kontipasi, retensi urin. Efek anti adrenergik seperti hipotensi,
pusing
Semua obat neuroleptika bekerja menghambat dopamin sehingga hampir semuan
mempunyai efek antiemetik (seperti diterangkan diatas)

EPILEPSI
Epilepsi adalah suatu kelainan kejang kambuhan yang berbeda -beda yang memiliki
persamaan yaitu lepasan saraf otak yang mendadak, berlebihan dan tidak normal.
Lepasan neuron yang mendadak ini menyebabkan gerakan - gerakan atau persepsi
yang abnormal yang berlagsung singkat tetapi cenderung berulang.
Perbedaan tempat lepasan listrik yang terjadi menentukan perbedaan gejala yang
timbul, misal epilepsi yang menyebabkan kejang kejang jika motor korteks yang
terlibat. Tetapi jika korteks parietal atau oksipital yang terlibat, gejala serangan
halusinasi penglihatan, pendengaran atau penciuman yang timbul.
Etiologi epilepsi primer terjadi bila tidak ada penyebab anatomik yang spesifik untuk
kejang, seperti trauma. Kejang2 ditimbulkan karena abnormalitas turunan dalam SSP.
Biasanya pasien diobati dengan obat antiepileptik.
Sementara etiologi epilepsi sekunder disebabkan oleh sejumlah gangguan yang
reversibel, seperti tumor, luka kepala, hipoglikemik, infeksi meningen atau
penghentian alkohol secara cepat pada peminum.
Klasifikasi Epilepsi terdapat 2 (dua) jenis yaitu yang bersifat parsial dan generalisata.
Parsial (fokal)
A. Parsial sederhana, dimana selama kejang kesadaran tidak terganggu.
B. Parsial kompleks, dimana selama kejang kesadaran terganggu.
Generalisata :
A. Tonik-klonik (gran mal), bila kejang diawali fase tonik adalah kontraksi kuat dan
kaku otot lengan dan tungkai. Lalu diikuti fase klonik yaitu kontraksi dan relaksasi
ritmik otot, menyebabkan hilangnya kesadaran.kebingungan dan kelelahan.
B. Absence (petit mal ), bila kehilangan kesadaran yang pendek dan sembuh sendiri.
Memandang dan berkedip2 cepat selama 3-5 detik.
C. Mioklonik, bila terjadi kontraksi otot yang singkat berulang2 dalam beberapa
menit, serangan ini jarang terjadi bagi semua umur.
D. Kejang demam yaitu terjadi kejang pada anak 3 bulan sampai 5 tahun disertai
demam tinggi, biasanya kejang tonik-klonik yang berlangsung singkat.
E. Status epileptikus yaitu serangan serangan epilepsi yang berlangsung secara
cepat.
Golongan Obat Antiepilepsi
1. Fenitoin
2. Karbamazepin
3. Fenobarbital
4. Asam valproat
5. Benzodiazepin
6. Gabapentin, Lamotrigen

Mekanisme Kerja Obat Antiepilepsi secara umum adalah menghambat lepasan listrik
dari area fokal atau mencegah meluasnya lepasan listrik abnormal ke daerah
disekililing otak.
Fenitoin
Untuk serangan tonik-klonik dan parsial (fokal) untuk pasien dewasa. Interaksi obat
terjadi bila fenitoin diberikan bersamaan dengan kloramfenikol, dikumarol, cimetidin,
sulfonamid. INH, karena obat obat tersebut dapat menghambat metabolisme
fenitoin, sehingga konsentrasi fenitoin meningkat dalam plasma. Sebaliknya apabila
diberikan bersamaan dengan karbamazepin akan memperkuat metabolisme fenitoin.

Karbamazepin
Karbamazepin efektif untuk serangan epilepsi parsial (sederhana dan kompleks),
Merupakan obat pilihan pertama. Dapat juga digunakan untuk terapi manik depresi
dalam memperbaiki gejala manik depresi.
Interaksi obat terjadi bila diberikan bersamaan dengan simetidin, diltiazem,
eritromisin, INH, profoksifen karena obat obat tersebut, akan menghambat
metabolit karbamazepin sehingga konsentrasi karbamazepin meningkat dalam plasma.
Fenobarbital
Beberapa indikasi Fenobarbital, yaitu digunakan untuk serangan kejang parsial
sederhana, kurang efektif untuk serangan parsial kompleks, Status epileptikus pada
anak - anak, Serangan kejang demam pada anak - anak, serangan tonik-klonik
kambuhan bila tidak responsif terhadap kombinasi diazepam dan fenitoin.
Dapat juda dipakai sebagai sedatip ringan untuk menghilangkan ansietas ketegangan
mental dan insomnia, walaupun benzodiazepin lebih baik.
Asam valproat
Asam valproat digunajan pada serangan mioklonik, petit mal, tonik-klonik. Asam
valproat juga digunakan untuk pengobatan bipolar pada fase manik. Interaksi obat
akan terjadi bila dgunakan bersamaan dengan fenobarbital, karena asam valproat akan
menghambat metabolisme fenobarbital.
Benzodiazepam
Golongan benzodiazepam yang digunakan untuk epilepsi kronik adalah klonazepam,
klorazepat. Sedangkan untuk gejala epilepsi akut digunakan diazepam. Golongan
Benzodiazepam paling aman dan sedikit sekali memberikan efek samping. Tapi
kekurangannya dapat menimbulkan sedatif atau mengantuk.
Gabapentin
Gabapentin merupakan kelas obat baru pada penyakit epilepsi. Dapat digunakan pada
serangan parsial sederhana dan kompleks, serangan generalisata tonik-klonik.