Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Dewasa ini polimer adalah merupakan bahan komersil yang sangat

bermanfaat bagi keperluan manusia. Melalui reaksi polimerisasi akan menghasilkan


bahan polimer baru dan kemajuan ini terus berkembang dari waktu kewaktu.
Umumnya reaksi dengan monomer tertentu akan menghasilkan sifat mekanis yang
sesuai dengan keperluan seperti polistirena (Cowd MA, 1991).
Polistirena merupakan bahan termoplastik yang keras, jernih, (kecuali jika
ditambahkan pewarna atau pengisi), mudah dibentuk tetapi agak rapuh dan melunak
pada suhu sekitar 100C. Polistirena adalah polimer non polar tahan terhadap asam,
basa dan zat korosif lainnya, tetapi mudah larut dalam hidrokarbon aromatik.
Polistirena banyak digunakan untuk membuat lembaran, penutup dan barang
pencetak. Polistirena berbusa dipengaruhi dari pemanasan polistirena yang berisi
bahan penghasil gas, dengan uap air, untuk memberikan massa jenis rendah bagi
busa. Sistem yang sering dipakai adalah butiran polistirena yang menyerap
hidrokarbon atsiri, saat dipanasi oleh uap, butiran akan melunak, dan penguapan
hidrokarbon bersama-sama dengan difusi uap kedalam butiran akan menyebabkan
butiran mengembang. Polistirena busa digunakan secara besar-besaran sebagai bahan
isolator barang dan pengemas barang halus (Cowd,1991).
Oleh karena itu, polistirena merupakan bahan termoplastik yang penting
diketahui karena banyaknya pemanfaatan polistirena dalam kehidupan sehari-hari .

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah perkembangan polistirena?
2. Apa pengertian dari polistirena?

3. Jenis apa saja yang terdapat dalam polistirena?


4. Bagaimana struktur dan sifat dari polistirena?
5. Bagaimana proses pembuatan polistirena?
6. Apa kegunaan dari polistirena?
7. Keunggulan dan kelemahan apa yang terdapat dalam polistirena?
8. Bagaimana dampak yang diberikan polistirena terhadap kesehatan dan
lingkungan?

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan polistirena
2. Untuk mengetahui pengertian dari polistirena
3. Untuk mengetahui jenis-jenis yang terdapat dalam polistirena
4. Untuk mengetahui struktur dan sifat dari polistirena
5. Untuk mengetahui proses pembuatan polistirena
6. Untuk mengetahui kegunaan dari polistirena
7. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan yang terdapat dalam
polistirena
8. Untuk mengetahui dampak yang diberikan polistirena terhadap kesehatan
dan lingkungan

1.4

Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dari makalah ini yaitu sebagai bahan masukan

pembaca tentang pengertian polistirena, khususnya bagi mahasiswa Jurusan Teknik


Kimia FT.UNTIRTA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Sejarah Polistirena
Polistirena pertama kali dibuat pada tahun 1839 oleh Eduard Simon, seorang

apoteker Jerman, melalui isolasi dari resin alami. Seorang kimiawan organik Jerman
lainnya, Hermann Staudiner, menemukan bahwa polistirena tersebut terdiri dari rantai
panjang molekul stirena. Polistirena mula mula berkembang pada tahun 1930-an
dan dikenal dalam dunia perdagangan sebagai bahan isolator listrik yang sangat baik,
kemudian dalam perkembangannya polistirena merupakan bahan plastik yang
komersial dan dapat digunakan dalam berbagai aplikasi misalnya tempat
penyimpanan makanan, pengepakan dan lain lain.
Produk polistirena yang pertama kali diproduksi untuk dikomersialkan adalah
homopolimer stirena yang juga dikenal sebagai polistirena kristal. Polistirena kristal
ini juga dikenal sebagai General Purpose Polystyrene (GPP), yang lebih tahan panas
daripada produk polimer thermoplastik lainnya. Perkembangan lebih lanjut dari
polistirena ini adalah Expanable Polystyrene (EP). Produk polistirena lain yang tak
kalah pentingnya adalah polistirena dengan modifikasi karet atau High Impact
Polystyrene (HIP). Produk HIP ini bersifat tidak tembus cahaya, lebih keras dan lebih
mudah dalam pembuatannya dibandingkan dengan produk polimer thermoplastik
lainnya. Kegunaan dari HIP ini cukup luas, antara lain untuk isolasi atau bahan
pelapis pada kawat/kabel, peralatan rumah tangga dari plastik, botol, furniture,
mainan anak-anak, bagian dari refrigerasi, radio, televisi, AC, bahan pembuat
kontainer, tempat baterai dan sebagainya. ( U.S. Patent, 1983)

2.2

Pengertian Polistirena
Polistirena adalah salah satu contoh polimer adisi yang disintesis dari

monomer stiren. Pada suhu ruangan, polistirena biasanya bersifat termoplastik padat
dan dapat mencair pada suhu yang lebih tinggi sehingga dapat dimolding atau
extrusion, kemudian kembali menjadi padat. Polistirena merupakan polimer sintetik
yang transparan dengan sifat fisik dan sifat termal yang baik, dan relative tahan
terhadap degradasi baik oleh mikroorganisme di dalam tanah maupun oleh sinar
matahari.

2.3

Jenis jenis Polistirena


Dari perkembangan produksi untuk dikomersialkan,

polistirena terbagi

kedalam beberapa jenis yaitu:


a. General Purpose Polystyrene
b. High Impact Polystyrene
c. Expandable Polystyrene

2.4

Struktur dan Sifat- sifat Polistirena


Polistirena merupakan polimer yang mempunyai sifat transparan, kaku dan

getas dan memiliki kestabilan dimensional yang baik sehingga polistirena sangat sulit
mengalami perubahan bentuk. Disamping itu juga polistirena memiliki absorbsi yang
sangat rendah terhadap uap air, asam, basa, alkohol dan detergen. Polistirena yang
bebas dari aditif bersifat non-toksis serta tidak menunjang terjadinya pertumbuhan
jamur dan bakteri. Stirena tergolong senyawa aromatik. Polistirena memiliki
shrinkage yang rendah dan sangat mudah terbakar.

Sifat dari suatu polimer ditentukan oleh struktur polimer dan susunan
rantainya, jika struktur rantai polimer tersusun secara acak, maka polimer tersebut
digolongkan sebagai polimer ataktik dan polimer ataktik biasanya dibuat dengan
metode polimerisasi radikal bebas. Jika polistirena disintesis dengan menggunakan
katalis Ziegler-Natta maka dihasilkan polistirena yang bersifat isotaktik. Pada
umumnya polistirena yang dihasilkan bersifat amorf dan semikristalin. Berikut ini
merupakan struktur dari polistirena.

2.1 Gambar struktur polistirena

2.1 Tabel sifat-sifat fisik polistirena.

2.5 Proses Pembuatan Polistirena


Polystyrene terbentuk dengan suatu reaksi polimerisasi adisi terhadap molekul
stirena sebagai monomer dengan melibatkan partikel cis 1-4 polibutadiena, melalui
suatu mekanisme yang disebut grafting. Grafting adalah mekanisme dimana rantai
polistirena terikat secara kimia terhadap rangka polibutadiena. Polimer yang
dihasilkan berwujud padatan yang berwarna putih dan bersifat thermoplastik.
Reaksi:

Gambar 2.2 Reaksi Polistirena

2.5.1

Macam macam Proses Pembuatan Polistirena


Secara umum, polistirena dapat diproduksi dengan tiga macam proses,

yaitu :
a.

Polimerisasi bulk (larutan)


Dalam

industri

umunya,

polimerisasi

bulk

(larutan)

disebut

polimerisasi massa. Sebagian besar polistirena yang diproduksi sekarang ini


menggunakan proses ini. Pada proses ini menggunakan sejumlah solvent yang
biasanya adalah monomer stirena itu sendiri dan Etil Benzena. Ada 2 jenis
polimerisasi bulk, yaitu :

Polimerisasi bulk batch


Beberapa produsen polistirena masih menggunakan proses ini, dimana

proses ini terdiri dari unit polimerisasi yang didalamnya terdapat tangki
polimerisasi berpengaduk dengan konversi di atas 80%. Larutan polimer
kemudian dipompa ke bagian finishing untuk devolatilisasi ataupun proses
polimerisasi akhir dan grinding.

Gambar 2.3 Diagram alir proses bulk batch polistirena

Polimerisasi bulk continuous


Proses ini merupakan proses pembuatan polistirena yang paling

banyak digunakan. Ada beberapa jenis desain dimana beberapa diantaranya


sudah mendapatkan lisensi. Secara umum proses ini terdiri dari satu atau lebih
reaktor tangki berpengaduk (CSTR). CSTR ini biasanya diikuti oleh satu atau

lebih reaktor yang didesain untuk menangani larutan yang kental (viskositas
tinggi).
Reaktor ini didesain untuk memindahkan panas baik secara langsung
melalui koil maupun pendingin uap. Dengan menggunakan proses ini,
konversi monomer stirena menjadi polistirena dapat mencapai lebih dari 85%
berat. Polimerisasi diikuti terjadinya devolatilisasi yang terus menerus.
Devolatilisasi ini dapat terjadi melalui preheating dan vacuum flash
chambers, devoitizing extruders atau peralatan yang sesuai. Tingkat volatilitas
dari 500 ppm stirena atau kurang dapat tercapai dengan peralatan khusus,
meskipun polistirena yang umum dikomersialkan mempunyai tingkat
volatilitas sekitar 2000 ppm stirena.

Gambar 2.4 Diagram alir proses bulk continous polistirena

b.

Polimerisasi Suspensi
Polimerisasi suspensi adalah sistem batch yang sangat popular untuk

tahapan khusus pembuatan polistirena. Proses ini dapat digunakan untuk


memproduksi kristal maupun HIP. Untuk memperoduksi HIP, stirena dan
larutan karet diolah dengan bulk polymerized melalui fase inverse. Kemudian
disuspensikan ke dalam air untuk mendapatkan suspense air dan minyak
dengan menggunakan sabun atau zat pesuspensi. Kemudian butiran suspense
ini dipolimerisasi lagi sampai selesai dengan menggunakan inisiator dan
pemanasan bertahap. Fase air digunakan sebagai heat sink dan media
perpindahan panas terhadap jaket yang dikontrol suhunya.

c.

Polimerisasi Emulsi
Polimerisasi emulsi biasanya digunakan pada proses kopolimerisasi

stirena dengan monomer atau polimer lain. Proses ini merupakan metode
komersial yang jarang digunakan untuk memproduksi polistirena kristal atau
HIP. Proses ini mempunyai persamaan dengan proses polimerisasi suspense
kecuali bahwa butiran monomer yang digunakan dalam polimerisasi emulsi
ini dalam ukuran mikroskopis. Air digunakan sebagai carrier dengan agen
pengemulsi untuk memberikan partikel yang sangat kecil dan aktalis untuk
mempercepat kecepatan reaksi.

2.5.2

Deskripsi Proses
Kelebihan dan kekurangan berbagai proses produksi High Impact
Polystyrene yaitu:

No
1

Jenis Proses Produksi


Polimerisasi Bulk Batch

Kelebihan

Prosesnya mudah

Kemurnian
produk tinggi

Kekurangan

Sangat
eksotermis

Alat yang

Waktu
pengerjaan lama

digunakan
sederhana
Polimerisasi Bulk

Continous

Polimerisasi Suspensi

Polimerisasi Emulsi

Produk yang
dihasilkan lebih
seragam.
Kemurnian
produk tinggi.
Pengontrolan
suhu lebih
mudah.

Membutuhkan
pengadukan dan
alat recycle.

Tidak ada
kesulitan dengan
panas
polimerisasi.
Ketel untuk
proses
polimerisasi
sederhana.
Volatilitas dapat
dikurangi sampai
pada tingkat yang
rendah dengan
pemilihan katalis
dan suhu yang
tepat.

Dimungkinkan
adanya
kontaminasi dari
air dengan agen
penstabil.

Prosesnya cepat
dan tidak ada
kesulitan dengan
panas polimeriasi.
Beberapa proses
polimerisasi yang
tidak mungkin

Dimungkinkan
terjadinya
kontaminasi
polimer dengan
air dan agen
pengemulsi.
Berat molekul

2.5.3

dilakukan dengan
teknik lain tapi
dengan mudah
dilakukan dengan
proses ini.
Dapat diterapkan
untuk polimeriasi
secara kontinyu.

polimer tinggi
untuk proses
pembentukan
yang cepat
dengan
menggunakan
injeksi.

Sintesis Polistirena
Polistirena dapat dibuat dengan cara polimerisasi larutan, emulsi,

suspensi, dan polimerisasi ruah. Polistirena dengan struktur ataktik dapat


dibuat dengan polimerisasi radikal bebas dengan menggunakan inisiator
senyawa peroksidaseperti benzoil peroksida (BPO). Polimerisasi dengan
menggunakan katalis Zielger Ntta akan menghasilkan polistirena dengan
struktur isotaktik. Mekanisme reaksi pembentukan polistirena dangan inisiator
BPO adalah sebagai berikut :
a.

Tahap Inisiasi
Tahap ini melibatkan adanya pembentukan radikal bebas. Dekomposisi

secara termal senyawa peroksida dapat menhasilkan radikal bebas, yakni


radikal benzoiloksi seperti reaksi berikut :

Gambar 2.5 Tahap Inisiasi


b.

Tahap Propagasi
Setelah radikal bebas terbentuk maka akan bereaksi dengan monomer

menghasilkan spesi pusat aktif. Selanjutnya penambahan monomer akan


terjadi pada spesi pusat aktif secara bertahap. Reaksi sederhana dapat
dituliskan sebagai berikut :

Gambar 2.6 Tahap Propagasi

c.

Tahap Terminasi
Pada tahap terminasi ini spesi pusat aktif akan habis bereaksi sehingga

perpanjangan rantai akan terhenti.

Gambar 2.7 Tahap terminasi


2.6

Kegunaan Polistirena
Polistirena digunakan untuk bahan pembuatan foam, bahan packaging pada

industry makanan, bahan pengerat pada kertas, bahan pembuatan piringan CD.
Polistirena adalah kimia nonreaktif dan karenanya digunakan untuk membuat wadah
untuk bahan kimia lain, pelarut dan bahkan makanan. Transformasi ikatan karbonkarbon ganda menjadi obligasi tunggal kurang reaktif dalam polistiren adalah alasan
utama untuk stabilitas kimia. Polistirena adalah fleksibel dan bisa dibuat menjadi

moldable padatan kental padat atau tebal. Hal ini terutama karena kekuatan Van der
Wall's tarik-menarik, yang ada antara rantai hidrokarbon panjang. Namun, bila panas
diterapkan, rantai dapat meluncur satu sama lain. Properti kelemahan antarmolekul
bersama dengan kekuatan intramolekul, karena tulang punggung hidrokarbon yang
kuat, memungkinkan polistiren untuk menjadi fleksibel dan elastis. Polistirena dapat
larut dalam pelarut yang mengandung aseton, seperti kebanyakan semprotan cat
aerosol dan perekatcyanoacrylate.

2.7

Keunggulan dan Kelemahan Polistirena


Keunggulan polistirena adalah mempunyai ketahanan yang baik terhadap

panas, memiliki temperatur transisi gelas berkisar 100C dan titik lelehnya 230240C. Polistirena tahan terhadap cahaya, akan tetapi bersifat rapuh bila diradiasi
dengan sinar UV setelah 350 jam. Walaupun terjadi pemutusan rantai makromolekul
akibat radiasi sinar UV, akan tetapi distribusi berat molekulnya tidak berubah. Pada
umumnya sifat dari polistirena adalah larut dalam pelarut hidrokarbon baik alifatik
maupun aromatik, sehingga polistirena harus dihindarkan dari beberapa bahan
makanan seperti mentega dan minyak kelapa yang berperan sebagai pelarut organik
karena polistirena merupakan polimer yang bersifat non polar, dan pelarut yang
terklorinasi juga akan merusak permukaan polistirena.

2.8

Polistirena Terhadap Kesehatan dan Lingkungan


Buangan polistirena tidak terurai selama ratusan tahun dan tahan

terhadap fotolisis . Saat

ini,

tempat

pembuangan

biodegrades

sangat

direkayasa. Karena degradasi material menciptakan adanya kandungan berbahaya


baik dalam fase cair maupun gas yang bisa mencemari air tanah dan udara. Landfill
saat ini didesain untuk meminimalkan kontak dengan udara dan air yang dibutuhkan

untuk degradasi, sehingga praktis menghilangkan degradasi limbah. Busa Polistirena


adalah komponen utama dari puing-puing plastik di laut, di mana polistirena menjadi
racun bagi kehidupan laut. Stirena dengan cepat dipecah di udara, menguap dengan
cepat di tanah dangkal dan air, dan yang masih terdapat dalam tanah dan air dapat
lebih lanjut dipecah oleh bakteri dan mikroorganisme.
Busa Polistirena diproduksi menggunakan blow agent yang membentuk dan
memperluas

gelembung

busa. Dalam

polistirena

biasanya

hidrokarbon

seperti pentana dapat menimbulkan bahaya mudah terbakar di bidang manufaktur


atau penyimpanan bahan baru dibuat, tetapi memiliki dampak lingkungan yang relatif
ringan. Namun,

polistiren

diekstrusi

biasanya

dibuat

dengan

hydrochlorofluorocarbons (HCFC) yang memiliki efek pada penipisan ozon dan


pemanasan global. Potensi yang menyebabkan penipisan ozon dapat berkurang relatif
dengan adanya chlorofluorocarbon (CFC) yang sebelumnya digunakan, tetapi
chlorofluorocarbon berpotensi menyebabkan pemanasan global dan berada pada
urutan 1000 atau lebih, berarti telah 1000 kali lebih besar berpengaruh pada
pemanasan global daripada karbon dioksida.
Adanya industri polistirena berdampak langsung terhadap pemanasan
global. Industri polistirena menyumbangkan sebagain besar rumah kaca emisi gas
dibandingkan dengan industri lainnya seperti kilang minyak dan mobil. Pada tanggal
21 September 2007, sekitar 200 negara sepakat untuk mempercepat penghapusan
hydrochlorofluorocarbons seluruhnya pada tahun 2020 dalam pertemuan puncak
PBB. Negara-negara berkembang diberikan batas waktu penghapusan unsur ini
hingga tahun 2030. Pada akhirnya, hidrofluorokarbon (HFC) akan digantikan dengan
HCFC dengan alasan untuk meminimalisir perusakan ozon.
Dampak yang lainnya adalah bagi kesehatan manusia, kandungan yang
terdapat pada produk polistirena seperti styrofoam terdapat benzen, karsinogen, dan
stirena akan bereaksi dengan cepat begitu makanan dimasukkan kedalam styrofoam.

Uap panas dari makanan akan memicu rekasi kimia ini terjadi lebih cepat, misalnya
saja zat benzen yang bila sudah bereaksi dan masuk kedalam tubuh dan masuk
kedalam jaringan darah dan terakumulasi selama bertahun tahun akan menimbulkan
kerusakan pada sum-sum tulang belakang, menimbulkan anemia dan bahkan
mengurangi produksi sel darah merah yang sangat dibutuhkan tubuh untuk
mengangkut saripati makanan dan oksigen ke seluruh tubuh. Bila jumlah sel darah
merah kita semakin berkurang akibat dari reaksi styrofoam ini maka tubuh kita akan
mengalmai beberapa gejala yang kurang wajar.
Zat yang tidak kalah bahayanya adalah karsinogen yang dapat mengakibatkan
kanker, karsinogen akan lebih berbahaya bila pemakai wadah styrofoam atau plastik
digunakan berulang ulang karena karsinogen mudah larut. Stirena pada penelitian di
New Jersey ditemukan 75% ASI (air susu ibu) terkontaminasi stirena. Hal ini terjadi
akibat si ibu menggunakan wadah styrofoam saat mengonsumsi makanan. Penelitian
yang sama juga menyebutkan bahwa stirena bisa bermigrasi ke janin melalui plasenta
pada ibu-ibu yang sedang mengandung. Terpapar dalam jangka panjang, tentu akan
menyebabkan penumpukan stirena dalam tubuh. Akibatnya bisa muncul gejala saraf,
seperti kelelahan, gelisah, sulit tidur, dan anemia.
Pada tahun 2007, Eben Bayer, seorang mahasiswa di Rensselaer Polytechnic
Institute , menemukan kemasan yang ramah lingkungan sebagai pengganti
polystyrene,

yaitu

mengandung limbah

menggunakan
pertanian

mineral perlit terikat


yang

rusak

oleh

dengan

jamur,

Ecocradle. Simbol daur ulang polistiren adalah sebagai berikut.

lignin

yang

yang

disebutnya

Gambar 2.8 simbol daur ulang polistiren

Jika polistiren benar dibakar pada suhu tinggi, hanya bahan kimia yang
dihasilkan adalah air, karbon dioksida, beberapa senyawa yang mudah menguap, dan
jelaga karbon. Menurut American Chemistry Council , ketika polistiren yang dibakar
di fasilitas modern, volume akhir adalah 1 % dari volume awal, sebagian besar
polistiren akan diubah menjadi karbon dioksida, uap air, dan panas. Karena jumlah
panas

yang

dilepaskan,

kadang-kadang

digunakan

sebagai

sumber

daya

untuk uap atau pembangkit listrik .


Ketika polistiren dibakar pada temperatur 800-900 C (kisaran khas dari
insinerator modern), produk pembakaran terdiri dari campuran kompleks dari
hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dari benzenes alkil ke benzoperylene. Lebih
dari 90 senyawa yang berbeda diidentifikasi dalam efluen pembakaran dari polistiren.
Ketika dibakar tanpa oksigen yang cukup atau pada suhu rendah (seperti
dalam

api

unggun

menghasilkan hidrokarbon

atau

perapian

aromatik

monoksida , serta monomer stirena.

rumah

tangga),

polisiklik , karbon

polistiren
hitam ,

dapat

dan karbon

DAFTAR PUSTAKA
Bandrup, J.,Immergut,E.H. 1975.Polymer Handbook . Second Edition. Interscience
Publisher. NewYork.: John Wiley and Sons.
Harper, Charles A. (2003). "Plastics Materials and Processes: A Concise
Encyclopedia". John Wiley& Sons, Inc.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19835/4/Chapter%20II.pdf.
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-31518
9.NIM.409210005.BAB%20I.pdf.
https://id.scribd.com/doc/172553212/Polystyrene