Anda di halaman 1dari 4

Pengertian dan Ciri-ciri Konsentrasi Belajar

1. Pengertian Konsentrasi Belajar

Kosentrasi belajar berasal dari kata konsentrasi dan belajar. Hornby dan Siswoyo
(1993:69) mendefinisikan konsentrasi (concentration) adalah pemusatan atau pengerahan
(perhatiannya ke pekerjaannya atau aktivitasnya). Hamalik (1995:36) mendefinisikan
belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut
pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu
hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu,
yakni mengalami. Sejalan dengan perumusan itu, berarti pula belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Tabrani dkk. (1989:8) menambahkan definisi belajar dalam arti luas ialah proses
perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan
penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar
yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau, lebih luas lagi, dalam berbagai aspek
kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi. Belajar selalu menunjukkan suatu proses
perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi belajar adalah


pemusatan perhatian dalam proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai,
pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi.

2. Ciri-ciri Siswa yang Dapat Berkonsentrasi Belajar

Ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar berkaitan dengan perilaku belajar
yang meliputi perilaku kognitif, perilaku afektif, dan perilaku psikomotor. Karena belajar
merupakan aktivitas yang berbeda-beda pada berbagai bahan pelajaran, maka perilaku
konsentrasi belajar tidak sama pada perilaku belajar tersebut. Engkoswara dalam Tabrani
(1989:10) menjelaskan klasifikasi perilaku belajar yang dapat digunakan untuk
mengetahui ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar sebagai berikut.

a. Perilaku kognitif, yaitu perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan
masalah kecakapan intelektual. Pada perilaku kognitif ini, siswa yang memiliki
konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan: (1) kesiapan pengetahuan yang dapat
segera muncul bila diperlukan, (2) komprehensif dalam penafsiran informasi, (3)
mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh, (4) mampu mengadakan analisis dan
sintesis pengetahuan yang diperoleh.

b. Perilaku afektif, yaitu perilaku yang berupa sikap dan apersepsi. Pada perilaku ini,
siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai: (1) adanya penerimaan,
yaitu tingkat perhatian tertentu, (2) respon, yaitu keinginan untuk mereaksi bahan
yang diajarkan, (3) mengemukakan suatu pandangan atau keputusan sebagai integrasi
dari suatu keyakinan, ide dan sikap seseorang.

c. Perilaku psikomotor. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat

ditengarai: (1) adanya gerakan anggota badan yang tepat atau sesuai dengan petunjuk
guru, (2) komunikasi non verbal seperti ekspresi muka dan gerakan-gerakan yang
penuh arti.

d. Perilaku berbahasa. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat
ditengarai adanya aktivitas berbahasa yang terkoordinasi dengan baik dan benar.

Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri siswa yang dapat
berkonsentrasi belajar tampak pada perhatiannya yang terfokus pada hal yang diterangkan
guru atau pelajaran yang sedang dipelajari..

Diposkan oleh Abu Daud di 08:25


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: konsentrasi belajar
2 komentar:

1.
Agus Fadilla Sandi2 Oktober 2012 21:16
mas mbak article nya bagus. boleh tahu judul bukunya Tabrani yang dijadikan
referensi apa?
Balas
Balasan

1.
Abu Daud24 November 2012 20:29

Tabrani Rusyan, 1998, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung:


CV Remaja Karya

1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah Ini dengan menyebut nama Allah. setiap pekerjaan yang
baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan
sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak
membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu
nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar
Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan dia
selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.