Anda di halaman 1dari 18

UBI KAYU(SINGKONG)

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Anggribisnis

Dosen :

Disusun Oleh :

Bunga Pertiwi

1211060036

Erliana Yuniar

1211060201

Nani Anggreini

1211060036

Nurma Yunita

1211060070

Kelas / Semester : Biologi C /5 (Lima)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah
AGRIBISNIS Singkong
Kami menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kami
menjadikan keterbatasan kami pula untuk memberikan penjabaran yang lebih
men-dalam tentang masalah ini, kiranya mohon dimaklumi apabila masih terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini.oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal hinggai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Aamiin.

Bandar Lampung, November 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii


DAFTAR ISI .............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2 Tujuan ...........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Budidaya singkong .........................................................................................
2.2 Hasil panen dan harga Ubi Kayu ..................................................................
2.3 Permintaan pasar dan prospek masyarakat terhadap singkong ...............................
2.4 Pengolahan singkong ...............................................................................................

2.5 Masalah Dalam Aspek Pasca Panen dan Pengolahan Ubi Kayu ...................

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan ................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Singkong merupakan Produk Pertanian yang cocok untuk di jadikan unit bisnis
karena manfaat yang di peroleh komoditi tersebut cukup banyak dan bermanfaat
melihat pangsa pasar yang cukup menggiurkan atas bahan baku singkong. Singkong
yang di kenal juga Ktela pohon atau Umbi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan
subtropika dari keluarga Euphorbiaceae Umbinya di kenal luas sebagai makanan
pokok penghasil Karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.Keberadaan Singkong
pada awalnya banyak ditemukan tumbuh liar di hutan, kebun sendiri, bahkan tumbuh
disembarang tempat. Sejalan dengan permintaan pasar yang terus meningkat, maka
beberapa singkong dibudidayakan di Indonesia. Budidaya singkong ini sangat mudah
karena tanah di Indonesia juga mendukung pertumbuhan singkong, yaitu tanah yang
cukup subur, dan didukung juga cara mendapatkan bibit dan media tanamnya juga
sangat mudah dengan harga murah. prospek pengembangan usaha singkong di
Indonesia cukup menjanjikan. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat
dalam mengonsumsi singkong juga semakin meningkat dan terus meningkat dari
tahun ke tahun . Hal ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang
semakin memilih gaya hidup sehat secara vegetarian. Dari segi bisnis, usaha
singkong sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan waktu panen singkong yang
Relatif singkat yakni 1 bulan. Peluang pasar singkong tidak terbatas pada singkong
segar saja, tetapi meliputi produk olahan seperti singkong siap saji, kripik singkong,
dan lain sebagainya.

1.2 Tujuan Makalah

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Budidaya Singkong


a. Bibit
Gunakan

varietas

unggul

yang

mempunyai

potensi

hasil

tinggi,

disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas


unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan
pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan
hara P yang terikat oleh Al dan Ca. Ketela pohon berasal dari tanaman induk
yang cukup tua (10-12 bulan). Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya
yang normal dan sehat serta seragam Batang telah berkayu dan berdiameter
2,5 cm lurus. Belum tumbuh tunas-tunas baru.
b.

Pengolahan media tanam


1. Persiapan.
Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :

Pengukuran PH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus,


pH meter dan atau cairan pH tester.

Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan
ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan
organik.

Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal
ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan
dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat
memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.

Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap


petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga

diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat


panen dan pasar.

2. Pembukaan dan pembersihan lahan.

Pembukaan lahan pada intinya adalah merupakan pembersihan lahan


dari segala gulma (Tumbuhan pengganggu) dan akar tanaman
sebelumnya.

Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman


berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan
penyakit yang memungkinkan ada.

3. Pembentukan Bedengan (Guludan).

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahan penyelesaian.
Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman
sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.

Pembentukan bedengan untuk memudahkan pemeliharaan tanaman,


seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan
tanaman itu sendiri.

4. Pengapuran (bila diperlukan).

Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat


asam/tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang
digunakan adalah Kalsit/Kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan
adalah 1 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu
pembajakan atau pada saat pembentukan Bedengan kasar bersamaan
dengan pemberian pupuk kandang.

c. Cara Penanaman singkong

Cangkullah tanah hingga gembur


Tanah dibuat menjadi gundukan atau bedengan.

Siapkanlah bibit berupa stek batang sepanjang 25-30 centi meter (cm)
Runcingkan bagian bawah stek

Tancapkan stek ke dalam tanah sedalam8-9 Cm

2.2 Hasil Panen dan Harga Panen Singkong

Sejumlah petani di Provinsi Lampung beralih menanam singkong menyusul


makin tingginya harga jual komoditas ini. Lampung merupakan produsen
singkong terbesar di Indonesia dengan produksi hingga 9 juta ton per tahun.
Selain cepat dipanen, yaitu hanya delapan bulan, singkong banyak dipilih
petani karena modalnya tidak terlalu besar jika dibandingkan komoditas lain.
Modal untuk tanaman singkong per hektar adalah sekitar Rp 4 juta.
Sementara, petani bisa mendapatkan keuntungan setidaknya Rp 15
juta."Harga singkong sekarang lagi bagus, bisa mencapai Rp 950 per kg.
Beberapa bulan lalu, masih Rp 750 per kg, umur singkong yang cocok
dipanen berkisar antara 10-14 bulan setelah tanam, hasil rata-rata per Ha,
dengan asumsi d
Tiap batang menghasilkan antara 2,5-4,0 kg maka akan diperoleh hasil bersih
30-40 ton per Ha.

2.3 Permintaan pasar dan prospek masyarakat terhadap singkong

Ubi kayu dipasar domestic terus meningkat baik dalam bentuk konsumsi segar
maupun

olahan

sebagai

akibat

peningkatan

jumlah

penduduk

dan

berkembangnya teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan berbahan


baku ubi. Dimasa yang akan dating diperkirakan permintaan ubi meningkat
seiring dengan upaya pengembangan pangan local, dalam hal ini tepung
serealia dan umbi-umbian local menjadi subtitusi terigu dan tepung beras
sampai 20-50 persen untuk pembuatan aneka kue,mie,cake,roti tawar, Dilihat

dari semakin meningkatnya permintaan komoditas singkong, baik dari dalam


maupun luar negri, prospek usaha dibidang produksi singkong di masa
mendatang sungguh sangat menjanjikan keuntungan. Selain itu

secra

agroklimat dan ketersedian lahan, proses produksi singkong di Indonesia juga


sangat mendukung.

2.4 Pengolahan singkong


Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang
memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain
yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum,
keripik singkong, dan lain-lain.

1. Gaplek
Salah satu cara pengawetan singkong adalah dengan cara pengeringan,
hasilnya disebut gaplek. Cara-cara pengeringan di berbagai negara berbedabeda. Di beberapa daerah dilakukan dengan cara dibelah dua atau dengan
sistem gelondongan. Cara pengeringan ini dapat memakan waktu dari 1
sampai 3 minggu, tergantung dari keadaan cuaca. Karena kadar airnya masih
lebih tinggi dari 20 persen, biasanya gaplek mengalami penjamuran. Gaplek
yang berjamur ini pada umumya mempunyai mutu pasar yang rendah. Namun
demikian di daerah-daerah seperti Karang Anyar (Jawa Tengah), pembuatan
gaplek berjamur kadang-kadang sengaja dibuat terutama dalam usaha
pembuatan gatot atau disebut juga gambleh. Pembuatan gaplek yang bermutu
tinggi telah dicoba diberbagai daerah dengan menggunakan sistem chipping,
maksudnya untuk mempercepat proses pengeringan. Berbagai alat chipper
telah dikembangkan di beberapa negara dengan berbagai kapasitas. Pada
umumnya alat-alat tersebut digerakkan dengan mesin. Singkong-singkong
untuk konsumsi manusia dianjurkan untuk dikupas terlebih dahulu dan
dibebaskan dari tanah dan batu. Singkong yang ditanam pada tanah yang

berpasir lebih mudah dibersihkan daripada yang ditanam di tanah liat.


Singkong untuk makanan ternak tidak perlu dikupas terlebih dahulu. Gaplek
yang dibuat dari singkong yang tidak dikupas mengandung banyak silikat (Si)
dan serat-serat kasar yang tinggi, karena itu nilai gaplek sebagai bahan ekspor
tidak begitu tinggi. Untuk menurunkan kadar air singkong dari 65 menjadi 35
persen tidaklah sukar, dan hal ini dapat dilakukan dengan pengeringan sinar
matahari biasa dalam waktu 4 sampai 6 jam. Masalah yang masih harus
dihadapi adalah pengurangan kadar air dari 35 menajdi 14 persen atau lebih
rendah dari 14 persen. Pengeringan pada tahap akhir ini memerlukan separuh
dari seluruh waktu pengeringan sendiri disebabkan karena kecepatan
pengeringan menjadi semakin menurun. Khususnya bila panen dilakukan
pada musim hujan, adanya alat-alat pengeringmekanik sangat diperlukan
untuk membantu pengeringan dengan sinar matahari tersebut. Alat
pengeringan ini dapat dibuat semurah mungkin dengan menggunakan bahan
bakar
kerosin.

2. Tepung dan patih singkong


Tepung tapioka juga sering disebut tepung aci atau tepung kanji. Tepung
tapioka pada umumnya dibagi menjadi dua, yaitu tapioka halus dan tapioka
kasar. Pembuatan tepung tapioka halus biasanya dari tapioka kasar yang
mengalami penggilingan kembali. Pabrik tepung tapioka kasar sebagai bahan
mentah yang dibeli dari pedagang-pedagang kecil dari desa-desa. Pembuatan
tepung tapioka kasar dilakukan dengan memarut singkong yang telah dikupas
dan dicuci. Dengan air yang mengalir, parutan singkong diperas melalui
saringan. Filtrat ditampung dan pemerasan diakhiri bila filtrat yang ke luar
sudah jernih dan larutan dibiarkan mengendap. Endapan dicuci dengan air dan
air pencuci dibuang sampai bersih. Endapan dikeringkan di atas tampi sampai
kering sedangkan ampas singkong yang telah tersangkut di atas seringan

tersebut disebut onggok. Tepung tapioka yang dibuat dari ubi kayu
mempunyai banyak peggunaan, antara lin sebagai bahan pembantu dalam
berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung, kentang dan gandum
atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik sehingga
memungkinkan untuk penggunaan yang lebih luas. Misalnya dalam industri
tekstil dipakai untuk menambah kekuatan benang sehingga mengurangi
kerusakan tenun, juga digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih.
Tapioka yang diolah menjadi sirup glukosa dan destrin sangat diperlukan oleh
berbagai industri, antara lain industri kembang gula, pengalengan buahbuahan, pengolahan es krim, minuman dan industri peragian. Tapioka juga
banyak digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi dan bahan pengikat
dalam industri makanan, seperti dalam pembuatan puding, sop, makanan bayi,
es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi dan lain-lain. Ampas
tapioka banyak dipakai sebagai campuran makanan ternak.

3. Tiwul
Tiwul adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari singkong. Tiwul
sangat dikenal khususnya oleh masyarakat Jawa sejak dulu. Pada masa
paceklik tiwul seringkali dijadikan sebagai makanan pengganti nasi. Pada saat
ini tiwul masih banyak di jual di pasar-pasar tradisional sebagai makanan
jajanan, tetapi sudah jarang dijadikan sebagai pengganti makanan pokok
seiring dengan kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat. Proses pembuatan
tiwul secara tradisional sangat sederhana sekali. Tahaptahapnya adalah (1)
kulit singkong dikupas; (2) singkong kupas dipotong dan dibelah menjadi
bentuk persegi panjang; (3) singkong belah dijemur hingga kering (disebut
gaplek); (4) gaplek ditumbuk hingga menjadi tepung; (5) tepung diletakkan di
atas tampah, kemudian diperciki air, selanjutnya tampah digoyang-goyang

sampai terbentuk butiran-butiran kecil (disebut tiwul); (6) tiwul dikukus untuk
menghasilkan tiwul yang
siap untuk dikonsumsi.Tiwul yang dibuat secara tradisional mempunyai
kapasitas yang kecil, selain itu mutu yang rendah baik dari segi kualitas,
higiene maupun nilai gizinya. Untuk mengangkat status tiwul dari makanan
tradisional biasa menjadi makanan yang bermutu perlu ada perbaikanperbaikan dalam proses pembuatannya. Singkong harus dipilih yang
berkualitas baik, karena untuk menghasilkan suatu produk yang bermutu
harus berasal dari bahan baku yang bermutu pula. Singkong yang telah
dikupas selanjutnya direndam dalam bak-bak perendaman dengan tujuan
untuk pencucian. Kemudian singkong yang telah bersih dipotong-potong
dengan menggunakan alat pemotong agar dihasilkan bentuk yang seragam,
sehingga dalam proses pengeringan akan dihasilkan singkong yang
mempunyai derajat kekeringan yang merata. Singkong yang telah kering
digiling dengan hammer mill untuk menghasilkan tepung singkong. Tiwul
yang akan dibuat berasal dari tepung singkong ini. Dengan menambahkan air
pada tepung singkong akan dihasilkan butiran-butiran menyerupai beras.
Proses berlangsung dengan menggunakan mesin pembutiran yang dirancang
khusus. Butiran-butiran yang
dihasilkan selanjutnya dikeringkan agar mempunyai daya simpan yang lama.
Selanjutnya tiwul kering siap untuk dikemas. Dari perbaikan proses
pembuatan tiwul ini diharapkan dapat dihasilkan tiwul yang mempunyai mutu
dan tingkat higiene yang lebih baik dibandingkan proses pembuatan secara
tradisional. Selain itu dengan dikemas secara khusus tiwul diharapkan dapat
dinikmati oleh masyarakat luas yang menyukainya. Untuk mengingkatkan
nilai gizi tiwul dapat dilakukan proses nutrifikasi yaitu suatu proses
penambahan zat gizi ke dalam bahan pangan agar memiliki nilai gizi yang
lebih baik dari asalnya.

4. Keripik singkong

Keripik singkong adalah makanan ringan yang dibuat dari irisan tipis umbi
singkong, digoreng, dengan diberi bumbu tertentu atau hanya diberi garam.
Pada pembuatannya singkong dikupas, dicuci bersih, kemudian diiris tipistipis (dapat menggunakan alat pemotong atau slicer). Irisan singkong
kemudian direndam dalam larutan Natrium bisulfit 2000 ppm, atau dalam air
garam. Kemudian singkong digoreng dalam minyak yang panas. Setelah
ditiriskan keripik singkong dapat langsung dikemas.
Untuk membuat keripik singkong yang renyah dan gurih dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut : satu kg singkong dikupas, dicuci dan diiris tipistipis. Kemudian irisan singkong direndam dalam air kapur sirih selama
semalam. Paginya dicuci, lalu direndam dengan air larutan soda kue ( setiap 3
liter air diberi 1 sendok the soda kue),
lama perendaman 2,5 jam. Setelah itu ditiriskan, lalu diberi bumbu sesuai
selera dan digoreng sampai matang.

5. Enyek-enyek
Makanan ringan atau snack telah berkembang dengan pesat, baik jenisnya,
citarasa maupun kemasannya. Kini semakin banya jenis makanan ringan yang
muncul di pasaran
dengan berbagai bahan baku. Salah satu jenis makanan ringan yang cukup
berhasil di pasaran adalah keripik. Jenis keripik terdiri atas keripik biasa dan
keripik simulasi. Keripik biasa adalah makanan ringan dan renyah yang dibuat
melalui pengupasan dan pembersihan, pengirisan tipis dan penggorengan.
Sedangkan keripik simulasi adalah keripik yang dibuat dengan tepung dari
bahan baku, pengadonan tepung, pembuatan lembaran tipis, pencetakan
lembaran sesuai bentuk yang diinginkan dan penggorengan. Bentuk keripik
simulasi yang dihasilkan beragam dan mempunyai penampakan yang
seragam. Pada awalnya cara pembuatan keripik simulasi ini digunakan untuk

pembuatan keripik simulasi dari kentang. Keripik ubi jalar dan ubi kayu
simulasi adalah keripik dari
bahan baku ubi jalar dan ubi kayu dapat juga menggantikan kentang.
Dibandingkan dengan jenis keripik biasa, keripik simulasi mempunyai
beberapa keuntungan, antara lain
1. Keripik simulasi dapat dicetak dengan bentuk dan ukuran sesuai selera.
2. Bentuk dan ukuran keripik simulasi dapat dibuat seragam
3. Aplikasi bumbu dan pencinta rasa lainya lebih mudah
4. Rendemen hasilnya tinggi.
Perbedaan mendasar dalam proses produksi keripik biasa atau konvensional
dan keripik simulasi adalah diterapkan tahap pembuatan adonan diikuti
pembentukan lembaran tipis dan pencetakan. Contoh produk keripik simulasi
dari ubi kayu yang ada di pasaran adalah : cassava crackers (enyek-enyek),
gethuk goreng, slondhok, emping singkong, dsb. Sedangkan keripik simulasi
dari ubi jalar masih belum banyak diproduksi.
Enyek-enyek (cassava crackers) adalah makanan olahan kering tradisional
dengan bahan baku ubi kayu dan penambahan bumbu seperti cabe merah dan
daun bawang. Proses pengolahan enyek-enyak meliputi pengupasan,
pencucian, pamarutan, penambahan bumbu, pengukusan, pengeringan,
pemotongan, penggorengan dan pengemasan. Prinsip dasar pembuatan enyekenyek adalah proses pengukusan, penjemuran dan penggorengan. Tujuan
pengukusan singkong yang telah dihancurkan adalah untuk memperoleh
kondisi gelatinisasi sehinga enyek-enyek dapat mengembang saat digoreng.
Penjemuran enyek-enyek untuk menurunkan kadar air yang meningkat selama
pengukusan, sehingga enyek-enyek tidak cepat rusak dan renyah ketika
digoreng. Penggorengan enyek-enyek bertujuan menambah cita rasa dan
kerenyahan, karena enyekenyek akan mengembang selama penggorengan.

10

6. Tape singkong
Pada hakekatnya semua makanan yang mengandung karbohidrat diolah
adalah ketan dan ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu
(berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu yang berdaging kuning
lebih enak daripada yang berwarna putih, karena ubi kayu kuning dagingnya
lebih halus tanpa ada serat-serat yang kasar. Ubi kayu yang bagus untuk
dibuat tapai adalah yang umurnya 6 bulan 1 tahun, baru saja dicabut dari
kebun dan langsung dikukus. Selama ini orang berpendapat bahwa tapai dan
peuyeum adalah sama, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat
mendasar. Tapai dari Jawa Tengah tidak tahan disimpan lama karena cepat
sekali berair, sedangkan peuyeum dari Jawa Barat lebih tahan disimpan
karena tidak berair. Bahan baku pembuatan tape adalah ubi kayu, untuk
pembuatan tape ubi kayu/tape
singkong; mula-mula ubi kayu dikupas, dicuci dengan air bersih, kemudian
dipotongpotong kira-kira 10 cm atau menurut kesukaan, dan dikukus hingga
matang ( 30 menit). Setelah ubi kayu, dimasukkan dalam keranjang atau
wadah lainnya, dan ditaburi bubuk ragi tape sebanyak 5 10 gram untuk
setiap kg bahan. Wadah kemudian ditutup, dibiarkan selama 3 hari, dan
akhirnya tape siap dimakan atau dipasarkan. Pada proses pembuatan tapai,
karbohidrat mengalami proses peragian oleh mikroba atau jasad renik tertentu,
sehingga sifat-sifat bahan berubah menjadi lebih enak dan sekaligus mudah
dicerna.

2.5 Masalah Dalam Aspek Pasca Panen dan Pengolahan Ubi Kayu
Pada umumnya industri pengolahan ubi kayu skala perdesaan seperti
ITTARA masih menerapkan metoda tradisional dengan teknologi sederhana,
yakni dengan menggunakan peralatan pengolahan yang sederhana dan proses

11

pengolahan hasil yang belum sesuai standard GHP (Good Handling Practices)
dan GMP (Good Manufacturing Practices) dan tidak efisien. Oleh karenanya
mutu produk yang dihasilkan masih rendah dan sangat bervariasi. Beberapa
kondisi yang mendasar dan harus diperbaiki untuk dapat menerapkan persyaratan
standard tersebut antara lain: (1) kemampuan teknis dan manajemen petani
(penanganan pasca panen dan proses pengolahan ubi kayu berlangsung tanpa
memperhatikan persyaratan mutu), (2) kurangnya informasi tentang teknologi
pasca panen dan pengolahan yang mampu menjaga mutu dan kebersihan produk,
(3) terbatasnya peralatan dan mesin pasca panen dan pengolahan ubi kayu yang
sederhana tetapi mampu menghasilkan produk bermutu, dan (4) terbatasnya
modal usaha sehingga petani tidak mampu menerapkan teknologi dan peralatan
mesin dalam menangani pasca panen dan pengolahan ubi kayu. Di sisi lain,
industri pengolahan ubi kayu skala besar masih sangat terbatas, sedangkan
industri pengolahan makanan dan minuman maupun non pangan berbahan baku
olahan ubi kayu cukup berkembang. Kondisi ini telah berdampak pada
meningkatnya impor olahan ubi kayu seperti starch untuk memenuhi kebutuhan
industri kertas dan industri makanan lainnya yang ada di Indonesia. Jumlah
kebutuhan industri tersebut tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri karena di
samping jumlah industri yang mengolah ubi kayu menjadi produk olahan yang
terbatas, juga karena pada banyak kasus industri pengolahan ubi kayu cenderung
memasarkannya langsung ke pasar luar negeri. Kondisi kawasan industri yang
terpadu dan berbasis kemitraan, mulai dari sisi produksi (tingkat petani) ke
industri pengolahan ubi kayu, ke industri makanan/minuman dan non pangan
berbahan baku olahan ubi kayu belum terbangun dengan baik di Indonesia. Untuk
memperbaiki kondisi tersebut di atas, maka diperlukan program pengembangan
pengolahan ubi kayu secara terintegrasi dengan sub sistem produksi dan sub
sistem pemasaran dalam suatu manajemen rantai pasokan (SCM) yang melibatkan
semua stakeholder.
Di samping itu, semua aspek yang terkait dengan pengembangan pengolahan
ubi kayu, mulai dari aspek sumberdaya manusia, teknologi hingga revitalisasi

12

peralatan dan mesin pengolahan ubi kayu, harus pula ditingkatkan kemampuan
dan kualitasnya. untuk itu, diperlukan program yang terencana baik yang
menyangkut perbaikan jaringan kerjasama dengan sub sistem produksi dan sub
sistem pemasaran maupun yang terkait dengan semua aspek di dalam sub sistem
pengolahan itu sendiri.

13

BAB III
KESIMPULAN

14

DAFTAR PUSTAKA

Danarti dan Sri Najiyati. 1998. Palawija, Budidaya dan Analisis Usaha Tani.jakarta:
Penerbit Swadaya.
Oka, Nyoman. 2011. Kebijakan dan Program Pengembangan Agroindustri Ubi
Kayu. Jakarta: Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Pinus Lingga. Dkk. 1989. Bertanam Ubi-Ubian.jakarta: Penebar Swadaya.

Compas.com, petani dilampung beralih ke singkong [online], tersedia:


http://regional.kompas.com/read/2013/04/17/20124551/Petani.di.Lampung.Beralih.ke
.Singkong

15