Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Indera pendengaran merupakan salah satu panca indera manusia
yang vital dan berfungsi sebagai penerima informasi berupa getaran suara.
Apabila terjadi kehilangan fungsi pendengaran secara mendadak akan
menyebabkan ketakutan dan kekawatiran penderita sehingga tidak menutup
kemungkinan dapat menggangu aktivitas pasien sehari-hari. Untuk itu
dibutuhkan penanganan segera agar mencegah kelainan yang bersifat
menetap (Adams et all, 2007).
Tuli mendadak adalah kehilangan pendengaran secara tiba-tiba
yang bersifat sensorineural dimana tidak langsung diketahui penyebabnya
dan terjadi dalam kurun waktu tertentu yang dapat berlangsung selama
beberapa jam sampai beberapa hari. Tuli mendadak dapat bersifat unilateral
namun bisa juga bilateral. Kehilangan pendengaran pada tuli mendadak
dapat bersifat sementara atau kembali normal. Apabila tidak segera
ditangani lebih lanjut maka akan bersifat menetap (Ballenger, JJ, 2007).
Angka kejadian tuli mendadak di Amerika Serikat antara 5 sampai
20 per 100.000 per tahun. Tuli mendadak dapat menyerang siapa saja, tidak
mengenal usia, jenis kelamin dan latar belakang pekerjaan. Beberapa
penyebab tuli mendadak secara pasti sampai saat ini belum diketahui.
Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab tuli mendadak antara lain
gangguan vascular (penyakit hipertensi, thromboembolik dan gangguan
mikrosirkulasi), gangguan metabolik (penyakit diabetes, hiperlipidemia),
barotrauma yang dapat menyebabkan ruptur membran tympani, konsumsi
obat (ototoksik), trauma akustik, serta penyakit Meniere. Patofisiologi
terjadinya tuli mendadak disebabkan oleh kerusakan sel-sel rambut telinga
dalam (pembengkaan dan degenerasi) yang terjadi karena oklusi arteri dan
penurunan aliran darah yang menuju telinga. Terapi atau pengobatan pada
tuli

mendadak

didasarkan

pada

penyebab

penyakitnya,

penyebabnya belum diketahui secara pasti (Freeland AP, 2001).

meskipun

Pemberian vasodilator dan anti koagulan untuk mengobati oklusi


akibat tromboemboli dan untuk menurunkan viskositas darah serta
pemberian steroid yang bersifat anti-inflamasi untuk pengobatan infeksi
virus. Selain pengobatan standar tersebut, beberapa ilmuwan telah
melakukan penelitian dan merekomendasikan penggunaan terapi oksigen
hiperbarik

sebagai

terapi

tambahan

untuk

mempercepat

proses

penyembuhan. Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi yang


bersifat non invasif dengan pemberian oksigen bertekanan tinggi yang
dilaksanakan di dalam ruangan udara bertekanan tinggi (RUBT). Selain
digunakan sebagai terapi utama pada kasus-kasus penyelaman, hiperbarik
juga dapat digunakan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan beberapa
macam penyakit (Schuknecht HF, 2002).
Penggunaan HBOT pada kasus tuli mendadak di negara maju telah
banyak diterapkan. Menurut Jain KK pada penelitian yang dilakukan tahun
2003, pengobatan pasien tuli mendadak dengan HBOT memperoleh hasil
yang memuaskan. Lebih dari 90% pasien menunjukan perbaikan
pendengaran dan sebanyak 40% kembali normal. Di Indonesia, terapi
hiperbarik telah dikembangkan sejak tahun 1960 oleh TNI-AL namun hanya
sebatas untuk menangani kasus-kasus gangguan penyelaman. Penggunaan
HBOT untuk medis baru dikembangkan sepuluh tahun terakhir, dan
kegunaannya pun belum dikenal luas oleh masyarakat. Atas dasar inilah
yang membuat penulis ingin melakukan penelitian mengenai HBOT pada
penderita tuli mendadak (Jain KK, 2003) , (Sutarno dkk, 2000).
I.2

Rumusan Masalah
Dengan didasari latar belakang masalah yang telah diuraikan,
terdapat beberapa masalah yang perlu diteliti lebih lanjut yaitu :
a. Perubahan fungsi pendengaran pada pasien tuli mendadak sebelum
mendapatkan HBOT dan sesudah menggunakan HBOT ?
b. Bagaimana distribusi usia dan jenis kelamin penderita tuli mendadak di
Senter Hiperbarik RSAL Mintohardjo?
c. Bagaimana sifat tuli mendadak yang umumnya diderita oleh pasien?

d. Apakah terdapat hubungan antara usia kurang dari 40 tahun dengan lebih
dari 40 tahun dengan kesembuhan tuli mendadak yang menggunakan
terapi hiperbarik?
I.3

Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berbagai hal sebagai berikut:
1. Tujuan Umum.
Mengetahui hubungan antara pasien penderita tuli mendadak terhadap
kesembuhan pendengaran menggunakan terapi hiperbarik pengobatan di
Senter Hiperbarik RSAL Mintohardjo, Jakarta periode Januari Desember 2010.
2. Tujuan Khusus.
a. Mengetahui perubahan fungsi pendengaran pasien tuli mendadak
sebelum mendapatkan HBOT dengan pasien yang telah mendapatkan
HBOT.
b. Mengetahui tingkat perubahan pendengaran berdasarkan usia dan
jenis kelamin pada pasien tuli mendadak.
c.. Mengetahui distribusi sifat ketulian pada pasien tuli mendadak.

I.4

Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh beberapa manfaat,
sebagai berikut:
I.4.1 Bagi peneliti.
a)

Meningkatkan kemampuan berpikir analisis dan sistematis dalam


mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.

b) Mengetahui hubungan antara pasien tuli mendadak yang disertai


penyakit diabetes melitus terhadap kesembuhan pendengaran dengan
terapi hiperbarik di Senter Hiperbarik RSAL Mintohardjo, Jakarta
periode Januari-Desember 2010.

I.4.2 Bagi fakultas kedokteran UPN Veteran Jakarta.


Dapat memberikan informasi tentang pengaruh HBOT terhadap
penderita tuli mendadak dengan pengobatan di Senter Hiperbarik RSAL
Mintohardjo, Jakarta periode Januari-Desember 2010.
I.4.3 Bagi masyarakat Umum.
Memberikan pengetahuan atau informasi tentang penanganan
pasien tuli mendadak dengan menggunakan terapi oksigen hiperbarik
sebagai terapi tambahan yang berguna untuk mempercepat proses
penyembuhan ketulian.