Anda di halaman 1dari 14

pembahasan

2.1 Sinopsis
Dua anak kecil tampak berjalan diselaras rumah sakit tampak menuju ke
arahku. Salah seorang dari mereka membawa satu kantong plastik besar di
tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang nasi bungkus, badanya
kurus kecil dengan warna kulit hitam seolah terbakar matahri. Anak kecil
satunya berbadan genmpal sambiul membawa termos besar dan beberapa
bungkus kopi yang tergantung di pundaknya. Kedua anak itu tampak
bersemangat meski lelah tergambar begitu jelas di wajah mereka yang masih
polos itu. Sesekali anak yang membawa nasi bungkus menawarkan daganganya
ke beberapa orang yang sedang duduk di tepi selasar. Anak kecil itu tetap
tersenyum meski orang-orang yang ditawari nasi bungkusnya itu menolak un
tuk membeli.
Anak kecil itupun menawarkan daganganya kepadaku, kemudian aku
memesan untuk di buatkan secangkir kopi saja. Anak kecil tersebut kemudian
membuatkanku secangkir kopi dan memberikanya kepadaku. Kemudian aku
pun bertanya apakah kalian tidak sekolah, anak kecvil tersebut kemudian
menjawab kami berdua tidak bisa melanjutkan sekolah , karena tidak ada biaya
makanya kami lebih memilih untuk membantu orang tua kami. ya, itulah
jawaban yang selalu kudengar dari anak-anak yang tidak bisa melanjutkan
sekolahnya. Mungkin ini jawaban yang sama yang akan diberikan oleh anakanak lainya yang belum aku temui, dan aku sendiri pernah melakukanya,
menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama seperti itu.
Kemudian setelah aku meminum secangkir kopi yang dibuatkan anak
tersebut, aku kemudian memberikanya uang lima puluh ribu rupiah. Terpancar
wajah bingung dari anak tersebut karena tidak ada uang untuk kembalianya.
Kemudian aku berkata tidak apa-apa, amnil saja kembalianya untuk kalian.
Uang itu kalian tabung, jangan untuk jajan dulu. Siapa tahu kelak bisa
menambah biaya sekolah.

Meski kutahu kalau uang itu tidak cukup untuk biaya sekolah, tapi aku
juga tidak ingin mereka akan menjadi orang yang selalu berharap pada
kebaikan setiap orang yang di temuinya. Bapakku dulu selalu mengajarkanku
untuk berjuang, bukan bergantung pada orang lain. Nilai inilah yang akan aku
tanamakan kelak kepada anak-anakku.
Kedua anak itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum
mereka melangkah pergi. Dua anak kecil yhang seharusnya masih bisa
menikmati masa anak-anak mereka, kini malah harus bekerja untuk
menyambung hidup keluarganya. Dua anak itu mengingatkanku pada masa
kecil yang penuh likuan hidup. Aku yakin, kelak mereka akan memahami arti
sebuah perjuangan hidup untuk meraih impian. Lamunanku terbang
menerobos lorong waktu, kembali pada masa kecilku 14 tahun yang lalu
Namaku kastrimo, anak pertama dari dua bersaudara. Bapakku bekerja
di tempat abah tarno sebagai pencuci bulu angsa yang akan dijadikan
shuttlecock, sedangkan ibuku menjual kue hasil olahan dari tetangga. Aku
memiliki seorang adik perempuan yang bernama Irna. Aku kelas 6 SD,
sedangkan adikku baru kelas 4 SD di SD Inpres Lawatan. Aku mempunyai
seorang sahabat yang bernama Herman, ia sangat ahli dalam bermain bulu
tangkis. Ia bercita-cita ingin menjadi juara All England di Inggris.
Pernah pada suatu hari Herman bermain bulu tangkis bersama Bambang.
Dan Herman pun memenangkan pertandingan tersebut, padahal raket
Bambang lebih bagus di banding punya Herman. Kemudian setelah bermain
dari bulu tangkis aku menceritakan semuanya kepada Ibuku. Dan ibu
menjawab kemenagan tidak bergantung pada seberapa bagus raketnya, tpi
seberapa pintar orang yang memainkanya. Herman pasti akan menjadi pemain
buliu tangkis yang hebat seperti omnya dulu. Om Atang adalah pemain bulu
tangkis yang ditakuti orang dalam bermain bulu tangkis, bukan hanya di desa
ini tapi sampai di kabupaten.
Wahh, aku jadi semakin yakin kalau Herman kelak akan menjadi juara
dunia, seperti Susi Susanti, karena dia punya darah juara. Kemudian ibu
bertanya, kalau aku sendiri ingin menjadi apa, kemudian aku menjawab aku
ingin menjadi seorang tukang becak saja, dan dapat uang yang banyak. Ibu
pun heran melihat tingkahku yang hanya bercita-cita sebagai tukang becak saja,

dan ibu bertanya apakah kamu ingin menjadi orang miskin. Aku kemudian
menjawab Ibu kalau aku menjadi tukang becak dan bisa dapat pelanggan yang
banyak, kan nantinya juga dapat uang dapat uang yang banyak.
Sejak dulu aku selalu bingung kalau ditanya tentang cita-citaku. Bahkan
di kelas, aku selalu ditertawakan teman-temanku karena menjawab
pertanyaan Bu Tarsini wali kelasku sebagai seorang tuakng becak. Saat ia
bertanya inginn menjadi apa kamu kelak, Herman yang selalu ingin menjadi
juara dunia, Bambang yang selalu ingin menjadi seorang pilot, Trisno yang ingin
menjadi seorang polisi dan Tono temanku yang bergigi tonggos yang ingin
menjadi persiden. Aku tak suka menjadi polisi, pilot atau apapun. Aku hanya
ingin menjadi tukang becak, mengantar orang dan langsung dapat uang.
Ibu kemudian hanya tersenyum meliat cita-citaku yang konyol tersebut.
Kemudian ibu menyuruhku untuk mengantar rantang ke Bapak, dan setelah
pulang dari mengantar rantang aku disuruh untuk bertanya ke Bu Wasilah
apakah ada kue yang mau dititipkan. Bu Wasilah adalah pembuat kue yang
biasanya menitipkan dagangan ke ibuku. Sebenarnya Bu Wasila juga
mempunyai toko kue di pasar, tetapi ia mau membantu Ibu untuk menjajalkan
kuenya. Biasanya kami selalu di kasih kue yang tak habis dijual, makanya aku
bersemangat tiap kali disuruh mengambil kue ke rumahnya. Aku sangat
menyukai kue cucur, apem dan juga dadar gulung buatan Bu Wasila, karena
rasanya sangat enak.
Aku berjalan cepat dibawah terik matahari, tangan kananku
menggenggam erat rantang untuk Bapak sementara tangan kiiriku kadang
membetulkan posisi celana yang melorot karena kebesaran. Beberapa ornag
masih tampak sibuk membicarakan kemenagan Susi Susanti di warung kopi
kecil milik pak Hasan yang ada dipinggir jalan dekat balai desa, mereka terlihat
bersemangat. Jarak rumahku dengan rumah Abah Tarno cukup jauh, sekitar
satu kilometer, belum lagi melewati jembatan kecil yang sudah mulai rusak.
Tapi aku sudah terbiasa berjalan kaki seperti ini setiap hari. Sepulang sekolah
aku pasti mengantar kiriman nasi untuk bapak. Sedangkan irna akan ikut
membantu ibu berjualan kue keliling.
Matahari makin terasa panas menyengat kulitku yang hitam. Jalanan
beraspal hanya sampai diujung desa tepat di perbatasan. Kata bapak, desa

tetangga sudah termasuk kota sedangkan desaku masih kabupaten jadi jalanan
yang ada di desaku tidak termasuk yang di aspal. Oh iya, nama desaku adalah
Lawatan, terletak di sebelah utara pulau jawa dan menurut bapak termasuk ke
dalam wilayah kabupaten Tegal. Desaku termasuk sebagai daerah perbatasan
anatara kota tegal dan kabupaten tegal, kalau hujan turun jalanan di desaku
akan becek dan terkadang banjir. Apalagi rumahku yang ada di pinggir sungai.
Tiap kali musim hujan datang pasti akan terendam air sungai yang kotor dan
hitam itu.
Aku masih ingat saat terakhir kali hujan deras turun dan desaku banjir.
Jalanan yang aku lewati ini tak kelitan seperti sungai yang penuh air. Tapi aku
mneyukainya, biasanya aku dan teman-teman akan berenang di sepanjang
jalan dan kebun yang terendam air itu. Di desaku banyak terdapat kebunkebun yang ditanami pohon pisang, tiap kali banjir aku dan herman akan
membuat rakit dari batang pisang tentu saja herman akan membawa raket
kesayanganya yang kadang dijadikanya mirip dayung.
Herman adalah teman yang paling baik, dia tak pernah mengejekku.
Bahkan dia selalu mengajariku apa-apa yang tidak aku ketahui. Seperti
bagaimana caranya membuat perahu dari daun bambu dan arang-arang
kambang dari tanah liat. Kami akan berlomba arang-arang kambang yang kami
buat itu di air yang mengalir deras, setelah melepasnya di tempat yang
disepakati sebagai awal makan kami akan berlari mengiringi arang-arang
kambang ke tempat akhir sambil berteriak agar agrang-aramh kambang buatan
masing-masing anak yang yang menang. Bentuknya mirip dengan mangkuk,
tapi ditangkup di kedua sisinya hingga seperti ada rongga di dalamnya. Meski
terbuat dari tanah liat, ia tak tenggelam saat ditaruh di air. Kadang kami juga
menaruh sumbu api di atasnya, karena itu pula kadang kami di marahi orang
tua yang khawatir arang-arang kambang yang kami buat itu akan
menyebabkan kebakaran.
Tak terasa aku sudah smapai di halaman rumah abah tarno. Meja
berukir itu masih ada di depan rumah, puntung rokok juga masih berserakan.
Sepertinya setelah menonton pertandingan bulu tangkis di televisi tadi,
halaman rumah ini belum dibersihkan. Aku melangkah ke bagian belakang
rumah disana ada sebuah bangunan tempat usaha shuttlecock. Beberapa tikar
tampak terhampar di halaman samping berisi bulu-bulu yang sedang di jemur.

kemudian pak kardi pun bertanya apakah itu rantang untuk bapakmu.
Ya pak kardi, seorang yang sangat baik. Ia hidup seorang diri, istrinya sudah
meninggal dan anak perempuan satunya kini ikut neneknya di Semarang. Pak
kardi pasti sangat kesepian hidup sendirian di rumahnya. Ia segeera
menyuruhku menaruh rantang tersebut di sebuah meja kecil. Kemudian ia
menjelaskan kalu bapak sedang mengambil bulu di pengepul. Mungkin satu
atau dua jam lagi baru kembali ke sini. Aku kasihan kepada bapak, ia harus
bolak-balik mengambil bulu ke pengepul yang jauh di kota. Bapak hanya
memiliki sepeda ontel yang sudah karatan. Pasti akan sangat terasa
melelahkan pergi sejauh itu dengan sepeda dan beberapa keranjang bulu.
Meski sekedar bulu, tapi kalau dibawa dengan keranjang akan terasa berat
juga.
Aku pernah menemani bapak mengambil bulu di kota, saat itu hari
minggu. Bapak mengayuh sepeda ontel dengan cepat bahkan kadang akau
harus memeluk erat pinggangnya agar tak terjatuh. Jalanan yang belum di
aspal membuatku seperti naik kuda tiap kali di bonceng bapak dengan sepeda
ontelnya itu. Badanku akan naik turun hingga pantatku terasa pegal.
Ada sebuah jembatan yang menghubungkan desaku dengan kota, aku
sangat senang setiap kali melewati jembatan besar di perbatasan itu.
Jembatanya sangat panjang dibawahnya mengalir air yang deras, meski tak
terlalu dalam dan batu-batu kali tampak kokoh menetap di dasar sungai. Dario
jembatan itu aku bisa melihat sawah yang bewarna hijau terhampar
membentang luas memebuhi pandangan mataku. Kata herman, beras yang
ada di rumah itu hasil dari padi yang ada di sawah ini. Jalanan dari jembatan
hingga ke gerbang perbatasan sangat indah, sudah beraspal dan pohon-pohon
yang besr tumbuh di sepanjang sisi jalan. Aku seperti masuk kje gua tiap kali
melewati jalan itu. Apalagi kalau sedang musim bunga, jalanan itu akan penuh
dengan kupu-kupu dan warna-warni bunga. Entah kapan tapi aku ingin ikut
bapak lagi.
Kemudian setelah selesai menaruh rantang di atas meja tersebut aku
kemudian kembali. Tiba-tiba pak kardi memanggilku, ini, pak kardi punya
hadiah untukmu, smabil berjalan ke arahku dan meraih saku di celananya.
Seperti ada tali tapi entah apa itu. Ternyata sebuah kalung yang terbuat dari
rajutan daun enceng gondok yang telah di pilin. Bukan itu yang menarik

matakau melainkan bandul yang terpasang di kalung itu. Sebuah bulu bewarna
hitam kelam tapi mengkilat sangat indah.
Aku kemudian mengambil kalung yang diberikan pak kardi dan segera
memakainya. Pak kardi kemudian berkata, kemarin ada bulu angsa hitam yang
bagus dan sempurna, bulu ini sangat jarang ditemukan karena angsa hitam
juga jarang ada disini bahkan mungkin sudah tidak ada. Bulu itu tak akan patah
bila di bengkokkan. Ingat Trimo, seberat apapun kelak masalah yang ada dalam
hidupmu tetaplah seperti bulu itu yang terbang ringan. Kelak jika kau sudah
merasa mampu untuk berjalan sendiri menjelajahi hidup, atau kau sudah
menemukan seseorang yang kau anggap layak untuk kalung itu, maka kau
dapat memberikan kalung itu kepada orang lain yang kau anggap layak.
Sekarang kau jaga baik-baik kalung tersebut, jangan sampai hilang.
Kali ini langkahku terasa ringan, kalung pemberian Pak Kardi langsung
aku pakai di leher, dalam otakku sudah terbayang lezatnya kue apem buatan
Bu Wasilah, bahkan sudah bisa kucium baunya. Rumah Bu wasilah tidak terlalu
jauh dari abah tarno, hanya sekitar dua ratus meter di halaman depan rumah
abah tarno, tampaknya siti sedang menyapu sampah. Beberapa helai bulu
beterbangan. Siti adalah anak bungsu pak tarno, wajahnya cantik dan selalu di
jadikan rebutan tiap kali kami bermain. Herman, bambang, trisno dan agung
selalu ingin bersama siti kalau kami sedang bermain pengantin-pengantinan.
Aku selalu menjadi pengawal, itupun sudah beruntung. Biasanya agung akan
memintaku menjadi telik sandi yang tugasnya hanya mengantarkan surat dan
disuruh-suruh layaknya seorang pembantu.Aku setengah berlari menuju
rumah bu wasilah yang suadah terlihat harum kue sudah tercium sejak aku
menginjakkan kaki di halaman rumah sederhana itu.
Aku kemudian mengetok pintu depan rumah bu wasilah. sepi,tak ada
sahutan. mungkin bu wasilah sedang sibuk membuat kue di belakang rumah.
Benar saja, bu wasilah tampak sedang mengaduk adonan kue, sememntara
rina sibuk mencetak hasil adonan di sebuah loyang besar, sepertinya ia sedang
membuat kue cucur. Kemudian aku bertanya kepada bu wasilah, tadi ibu
menyuruh trimo kesini , barangkali ibu wasilah mau menitip kue untuk dijajah
kan. Buk wasilah kemudian menjawab, oh iya, sudah ibu siapin rin tolong
ambilkan loyang kue di atas meja itu. Bu wasilah menunjuk sebuah loyang yang
berisi kue di atas meja. Rina kemudian beranjak mengambiil loyang kue itu,

menghitung jumlah kue kemudian memasukkan kue-kue itu ke plastik.


Kemudian bu wasilah berkata, Trimo bilang ke ibumu kalau kue yang di
kantong plastik hitam untuk ibu, nah yang di kantong putih ini yang dijual.
Sepanjang perjalanan aku tersenyum. Aku merasa menjadi anak yang
beruntung, bu wasilah sangat baik aku senang mendapat kue, dan juga kalung
baru ! Cihuyyyy.......
Pada malam harinya, aku mulai belajar untuk tes minggu depan. Aku tak
mau nilaiku jelek meski bapak tak pernah marah tapi aku tahu dia pasti sedih
kalau nilaiku jelek. Irna anak yang pintar, dia menjadi juara kelas sejak kelas
satu, sedangkan aku paling bagus mendapat peringkat 5 di kelas.tapi kata
bapak itu hanya awal dari sebuah impian, aku harus terus berjuang. Lam,pu
gemblok mulai redup minyak di dalam botol lampu sepertinya mulai habis. Aku
berjalan meraih lampu kemudian mengisinya dengan minyak.
Pagi yang cerah untuk memulai kegiatan. Aku sibuk mencuci baju,
sedangkan bapak dan ibu mengobrol di kamar. Sejak kelas empat, aku selalu
mencuci baju-bajuke sendiri, juga baju irna. Aku tak pernah mengeluh, karena
ini memang sudah menjadi tugasku. Kadang aku mencuci baju milik bapak dan
ibu.
Saat mengambil keranjang cucian, aku sempat mendengar pembicaraan
bapak dan ibu di kamar.
Bu, sekarang semua harga sudah naik kebutuhan makin banyak. Bayaran
bapak di tempat abah tarno hanya cukup untuk membeli makanan. Mungkin
salah satu anak kita tak bisa melanjutkan sekolah.
Ibu kemudian berkata, pak rejeki selalu ada. Jangan menyerah seperti ini.
Dulu bapak selalu bilang, Allah akan bersama orang-orang yang bersabar.
Bapak pun berkata, benar bu, tapi kita juga harus sadar dengan
kemampuan kita. Bapak ingin anak-anak melanjutkan sekolah, tapi kondisinya
tak memungkinkan. Kalaupun memang harus terjadi biar bapak yang bicara
dengan anak-anak.
Aku berjalan pelan. Langkahku terasa berat dan otot-ototku terasa
lemah. Pikiranku mulai tak karuan membayangkan aku atau irna akan putus

sekolah. Aku ingin melanjutkan sekolah ke smp atau pondok pesantren seperti
Herman.
Malam itu aku kembali tak bisa tidur nyenyak. Perb incangan bapak dan
ibu masih terngiang jelas di kepalaku. Aku meras malu seandainya tak
melanjutkan sekolah, aku bsudah kelas enam SD, sebentar lagi ujian kelulusan
dan aku yakin bisa lulus, tapi memang kondisi orang tuaku tak seperti orang
lain. Kami tak punya uang.
Keesokan harinya saat disekolah tampak anak-anak saling bercanda. Tiap
hari penerimaan rapot biasanya ada lomba di sekolahku, dan herman pasti
akan menjadi juara bulu tangkis. Aku hanya terdiam di ruang kelas memikirkan
nilai rapotku. Seandainya benar bapak memintaku untuk tidak melanjutkan
sekolah setidaknya nilai rapotku kali ini tak mengecewakan bapak dan ibu.
Jam setengah sepuluh, orang tua murid mulai berdatangan. Abah tarno
tampak datang, masih lengkap dengan kopiah miring dan rokok keretek di
bibirnya. Orang tua herman juga terlihat sudah datang, duduk di meja
belakang bersama pak sobri. Bapakku belum datang, mungkin masih dalam
perjalanan.
Bu tarsini masuk ke dalam kelas sambil membawa tumpukan buku rapot
bersampul biru. Jantungku mulai berdeguk kencang lagi. Semoga saja namaku
ada di papan tulis. Ya, setiap penerimaan rapot akan ditulis sepuluh nama
anakyang masuk peringkat sepuluh besar. Bu tarsini memanggil siti untuk
menuliskan nama-nama yang ada di kertas putih. Dalam hati aku terus berdoa
semoga namaku ada di papan itu.
Siti mulai menuliskan nama anak-anak yang masuk sepuluh besar. Aku
tak berani melihat papn tulis aku tertunduk dan terus berdoa semogha namaku
ada di situ. Setidaknya masuk sepuluh besar jika tidak menjadi juara kelas.
Bu tarsini kemudian membacakan nama-nama yang tertulis di papan.
Samar kudengar namaku disebut, tapi tak tahu di peringkat berapa. Perlahan
kuberanikan melihat papan tulis, semoga saja benar tadi namaku di sebut. Ya,
namaku memang ada di papan tulis. Aku peringakat kedua, dan herman
peringkat sembilan. Aku benar-benar senang meski bukan peringkat satu.
Bapak pasti akan bangga melihat namaku tertulis disana.

Orang-orang mulai mengambil rapoy sesuai dengan absensi anaknya.


Bapak belum juga datang, aku mulai cemas. Aku keluar kelas dan mencari
sepeda ontel milik bapak di parkira.
Tak berapa lama kemudian, bapak pun tiba mengendarai sepeda
ontelnya. Kemudian bapak ke ruang kelasku, kelas enam yang terletak di pojok
sekolah. Aku sudah tak sabar melihat bapak yang akan tersenyum, melihat
namaku ada di papan tulis.
Kemudian bu tarsini berkata, trimo mengalami kemajuan yang luar biasa,
tes kali ini ia rangking dua. Semoga nanti nilainya bisa ditingkatkan atau dijaga.
Kemudian bapak menjawab, terima kasih bu, oh iya berapa tunggakan yang
harus dibayar bu? Maaf kalau anak saya jadi sering menunggak uang sekolah.
Bu tarsini kemudian mengambil sebuah buku catatan yang ada di laci
mejanya, setelah itu ia kemudian merinci besarnya tunggakan uang sekolahku.
Bapak membuka sebuah amplop yang diambil dari saku celana yang lusuhnya
itu. Setelah membayar dan menerima rapotku, bapak kemudian berpamitan
kepada bu tarsini.
Aku sedikit sedih melihat uang sekolah yang dibayarkan bapak entah
dari m,ana bapak mendapatkan uang iotu, tapi aku tahu bapak orang yang
bertanggung jhawab, mungkin ia meminjam dari abah tarno atau pak kardi.
Tapi aku juga senang saat melihnat bapak tersenyum, hal yang ingin aku
lakukan adalah membuat bapak tersenyum karena ia jarang sekali tersenyum.
Akhirnya kami pulang, irna duduk di depan dan aku duduk di belakang sambil
memangku keranjang yang penuh bulu itu.
Sudah seminggu sejak penerimaan rapot. Aku masih terus berharap
bapak dan ibu tak akan pernah lagi membicarakan masalah kelan jutanj
sekolahku atau irna. Mungkn dengan pprestasi kami, bapoak dsan ibu
mengurungkan nmiatnya. Aku selalu berdoa tiap malam agar kami diberi rejeki,
aku benar-benar ingin melanjutkan sekolah hingga suatu malam bapak
memanggilku untuk bicara.
Mo, bapak ingin bicara sebentar, kata bapak.
Ia pak, jawabku.

Meski sebenarnya aku sudah menduga apa yang ingin b apak bicarakan
jantungku sudah bertedak cepat.
Bapak tahu kau ingin terus melanjutkan sekolah. Tapi kau sudah beswr
dan tahu kondisi keluarga, kata bapak.
Mendengar kalimat itu aku langsung lemas, bapak memang tak pernah
bicara panjang lebar tentang suatuhal, tapi langsung ke inti pembicaraan.
Trimo tahu pak, trimo juga ikhlas kalu memang trimo tak bisa lagi
melanjutkan sekolah. Trimo akan menerimanya dengan hati lapang. Jawabku
sambil menangis.
Bapak tahu kau anak yang hebat, apapun yang terjadi kau pasty mampu
melewatinya. Janhgan hentikan impianmu hanya kerena keadaan ini. Bapak
masih akan terus berusaha agar kau bisa melanjutkan seklah. Bapak berusaha
menghiburku. Ia tak memeluk atau melarangku menangis, ini yang
memebuatku yakin bahwa keputusan bapak pasti yang terbaik untuk keluarga,
juga untukku.
Aku kemudian branjak ke kmar, mecari ibu. Sepertinya ibu sudah tahu, ia
langsung memlukku. Mengusap rambut dan mengecup keningku.
Maapkan bapak dan ibu yah nak. Tak seharusnya kau ikut dalam masalah
keluarga seperti ini. Tapi ib u juga yakin kau mamapuu melewati semua ini. Ibu
dan bapak bangga kepadamu. Kami pasti akan terus berusaha agar kau bisa
melanjuytkan sekolah. Impianmu tak boleh ikut terhenti, apapun itu, terus;ah
mengejarnya. Ibu berusaha memnenangkan isak tangisku, tapi aku makin
derass menangis. Sementara irna yang dari tadi sibukj menggambar di kertas
gambarnya kini ikut menangis sambil memeluk ibu. Malam itu aku benar-benar
sedih. Aku menanhgis semalaman hingga tertidur di pangkuan ibuku.
Esok harinya, aku mencoba tegar meski bayang teman-teman sekolahku
terus saj hadir. Dua hari lagi seharusnya jadi hari pertama masuk sekolah.
Biasanya hari pertama itu teman-temanku akan bercerita tentang libuyran
mereka. Aku ingat herman, dia bilang akan ke rumah kakeknya di batu raden,
disana banyak sekali tempat bermain. Herman pernah mengajakku ke goa lawa,
tapi bapak nmelarang karena waktu itu irna sedang sakit, jadi aku ahrus
dirumah menemaninya.

Kemudian bapak dan ibu pergi ke rumah pakde bambang, aku tahu
tujuan bapak ke rumah pakde bam,abng, pastiu akan meminjam uang agar aku
tetep bisa melanjutkan sekolah. Aku tak ingin bapak sampai meminjam atau
meminta uang ke orang lain, aku sendiri sudah ikhlas tak melanjutkan sekolah,
mungkin aku bisa ikut bekerja di tempat abah tarno bersama bapak meski
sekedar mencuci bulu.
Tak berapa lama adzan m,agrib pun terdengar, aku pun sholat di rumnah
setelah itu menyalakan lampu obor dihalaman depan. Tetengga yang lain juga
mulai menyalakan lampu obor mereka.bulan terlihat begitu terasng, mungkin
malam ini akan purnama total. Suara burung kedasi terdengar mengiris hati.
Aku sangat takut dengan suara burung kedasi, kata orang-orang kalau
terdengar suaru burung kedasi makan akan ada orang yang meninggal.
Sambil menunggu bapak dan ibu, aku merapikan buku-buku pelajaranku.
Aku senang melihat tumpukan buku-buku itu meski kini aku tak akan lagi
memakainya. Setidaknya itu bisa berguna buat irna kelak. Sudah jam delapan
dan mereka belum juga pulang, aku mulai takut dan cemas gara-gara burung
kedasi itu.
Sayup kudengar suara ketukan dan ornag memanggil namaku.
Sepertinya suara bapak dan ibu, mereka sudah pulang. Aku terbnagun dan
langsung membuka pintu. Benar saja, bapak dan ibu pulang, irna tampak
tertidur lelap di gendongan ibu. Setelah mengunci pintgu, aku kembali tertidur
di kursi panjang ruang tengah.
Keesokan harinya aku tahu kalau pakde bambang tidak bisa
meminjamkan uang ke bapak. Pakde bambang terkenal dengan pelit dan tak
mau menolong saudara-saudaranya. Dulu waktu ibu menikah dengan bapak
pakdae bambang tidak menyetujui karena bapak orang miskin. Tapi ibu tetap
memilih menikah dengan bapak, akata ibu, rejeki akan selalu ada untuk
mereka karena sudah diatur oleh Allah.
Kini aku makin memahami bagaimana kesulitan bapak ibu, bayaran
bapak di tempat baah tarnoi tak seberapa dan kue yang dijual ibu pun muali
sedikit yang laku. Aku kini benar-benar ingin membantu mereka. Aku harus
bekerja. Keinginanku ini sebenarnya pernah aku sampaikan kepada bapak saat

aku masih kelas empat, tapi akta bapak bioar aku serius sekolah dulu. Kini,
setelah bapak memintaku tak melanjutkan sekolah mungkin akan berbeda.

Penutup
3.1. Kesimpulan
Trimo seorang anak yang terlahir di keluarga yang kurang mampu harus
menerima kenyataan tak bisa melanjutkan sekolahnya. Ayahnya yang hanya
seorang pembersih bulu angsa di sebuah industri shuttlecock tak mampu
membiayai sekolahnya. Begitu juga ibunya yang hanya ibu rumah tangga biasa
yang cuma bisa membantu jualan seadanya.
Lahir di sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai
buruh dalam industri shuttlecock membuat Trimo kecil terbiasa bermain
dengan kok. Saat itu indonesia sedang tenar olahraga bulu tangkis. Dimana
susi susanti menjadi idola di seluruh nusantara. Kehidupan yang sederhana,
penuh kepolosan dan permainan yang erat hubunganya dengan tradisi serta
budaya lokalitas di daerah Tegal, Jawa Tengah. Membuat Trimo tumbuh
menjadi anak yang tak kenal menyerah.
Trimo kecil juga jatuh cinta pada anak seorang anak juragan shuttlecock
di kampungnya. Benih cinta mereka akhirnya kandas karena Trimo hanyalah
anak pembuat shuttlecock tak sepadan dengan agung. Anak lurah yang punya
banyak harta. Tekat Trimo makin bulat untuk mengubah hidupnya juga
keluarganya.
Hari-hari trimo kecil penuh dengan sifat polos, seorang bocah desa yang
menikmati alam, berenang di sungai, mencuri di sawah hingga petualanganya
saat pertama kali pergi ke kota, pengalaman unik saat harus menonton tv yang
saat itu masih menggunakan aki, ketiduran di pedati yang membawa bambu
untuk dijual di kota sampai dikejar preman mabuk yang seenaknya sendiri
mengendarai motor. Kisah trimo penuh dengan gambaran alam yang saat itu
masih sangat sejuk rindang pepohonan di area sawah dan perkampungan.

Ia kemudian mulai aktif membantu bapaknya sebagai pembersih bulubulu angsa.Hingga pada suatu hari, ada pengurangan jumlah karyawan, dam
akhirnya ia dan bapaknya pun tekena phk dan akhirnya ia dan bapaknya pun
berhenti dari perusahaan industri tersebut. Hingga akhirnya Ia mendapatkan
ide agar bulu-bulu angsa yang terbuang dan tak terpakai itu bisa dimanfaatkan.
Sebuah hal yang tak terfikir oleh orang lain di kampungnya, namun untuk
mengwujudkan ide itu ayah trimo harus menyerahkan sertifikat tanah kepada
bank agar bisa memberinya modal.
Perjuangan trimo untuk membantu keluarga sangat berat, namun ia tak
menyerah, harus mengayuh sepeda dari kampungnya ke kampung lain di
pesisir pantai yang jaraknya cukup jauh tak menjadi halangan buatnya. Ketika
anak-anak lain pergi bermain bulu tangkis dan bercita-cita sebagai bulu tangkis
kelas dunia, Trimo kecil hanya bisa menonton mereka dari pinggir lapangan
karena tak mampu membeli raket.
Berkat perjuangan yg tidak mengenal lelah.trimo akhirnyapun sukses
menjadi seorang pengusaha shuttlecock,bahkan produknya di pakai di
kejuaraan sampai ke luar negeri di mana produk shuttlecocknya di pakai di
kejuaraan all England yg sangat terkenal.cita citanya yang sederhana saat
semua teman ingin menjadi pemain dunia kini tercapai,ya, ia hanya ingin
menjadi pembuat shuttlecock untuk para juara itu.

3.2. Saran
Buku ini sangat bermanfaat untuk pembaca. Karena, di dalam buku ini
pembaca akan diajak untuk percaya akan nasib, percaya akan cinta, percaya
akan mimpi dan pengorbanan, seta percaya akan kekuasaan Tuhan Yang Maha
Esa. Selain itu, pembaca akan mengetahui nilai-nilai yang terkjandung daslam
novel ini.