Anda di halaman 1dari 26

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Stroke
1. Definisi Stroke
Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak berupa
kelumpuhan saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke
otak. Menurut WHO stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak
fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih
dari 24 jam, akibat gangguan aliran darah otak (Junaidi, 2011).
2. Klasifikasi Stroke
National Stroke Association USA (NSA) menjelaskan bahwa
stroke dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu karena pendarahan mendadak
atau stroke hemoragik (hemoragic Stroke), stroke iskemik (Ischemic
Stroke) atau stroke non hemoragik. Stroke hemoragik disebabkan oleh
pecahnya pembuluh darah di otak, stroke hemoragik yang sangat
membahayakan manusia. Stroke iskemik dapat tejadi bila asupan darah
keotak berkurang atau terjadi penggumpalan darah. Lebih kurang 80 %
dari stroke adalah iskemik. Meskipun lebih jarang terjadi, stroke karena
perdarahan lebih berbahaya (Sutrisno, 2007).
a. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik disebabkan oleh adanya perdarahan. Stroke karena
pendarahan terjadi bila arteri diotak pecah, darah tumpah ke otak atau
ke rongga antara permukaan luar otak dan tenggorak. Stroke

haemoragik lebih besar kemungkinan untuk jadi fatal (Vitahealth,


2006).
b. Stroke Non Hemoragik
Stroke non hemoragik merupakan gangguan fungsi otak akibat suplai
darah ke sebagian otak berkurang, terjadinya iskemik dan sel-sel yang
kekurangan oksigen akan berfungsi secara tidak sempurna (Soeharto,
2002).
3. Skala Urutan Kecacatan Karena Stroke
Menurut Junaidi (2011) untuk menilai tingkat kecacatan stroke dapat
digunakan beberapa sistem, diantaranya dengan menggunakan Skala
Rankin yang dimodifikasi (The Modified Rankin Scale) dengan skala
sebagai berikut :
a. Kecacatan derajat 0
Tidak ada gangguan fungsi.
b. Kecacatan derajat 1
Hampir tidak ada gangguan fungsi aktivitas sehari hari dan pasien
mampu melakukan tugas dan kewajiban sehari hari.
c. Kecacatan derajat 2 (ringan)
Pasien tidak mampu melakukan beberapa aktivitas seperti sebelumnya,
tetapi dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

d. Kecacatan derajat 3 (sedang)

10

Pasien memerlukan bantuan orang lain tetapi masih mampu berjalan


tanpa bantuan orang lain, walaupun mungkin menggunakan tongkat.
e. Kecacatan derajat 4 (sedang - berat)
Pasien tidak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain dan perlu bantuan
orang lain untuk menyelesaikan sebagian aktivitas diri seperti mandi,
pergi ke toilet, merias diri, dan lain lain.
f. Kecacatan derajat 5 (berat)
Pasien terpaksa berbaring di tempat tidur dan buang air besar dan kecil
tidak terasa (inkontinensia), selalu memerlukan perawatan dan
perhatian.
4. Tanda dan Gejala Stroke
Stroke merupakan gangguan fungsi saraf pusat yang berkembang
sangat cepat baik menit maupun jam dengan perburukan ringan sampai
berat kemudian menetap atau bahkan membaik secara cepat atau perlahanlahan tergantung tingkat keparahan stroke dan cepat serta tepatnya
intervensi pengobatan. Karena setiap bagian otak memiliki fungsi-fungsi
tertentu, maka gejala dan tanda stroke pada setiap individu sangat
bervariasi, tergantung pembuluh darah mana yang terkena dan bagian otak
mana yang terganggu. (Yastroki, 2008). Berikut ini beberapa gejala stroke
yang lazim ditemukan:
a.

Kelemahan / kelumpuhan wajah dan atau anggota badan satu sisi atau
dua sisi yang timbul mendadak.

b.

Rasa baal pada wajah dan/atau anggota badan satu sisi atau dua sisi.

11

c.

Gangguan bicara : pelo (disartria), gangguan bahasa reseptif /


ekspresif (disfasia) atau keduanya.

d.

Gangguan daya ingat/memori baru (amnesia).

e.

Gangguan orientasi tempat, waktu dan orang.

f.

Gangguan penglihatan : dobel / kabur pada satu atau dua mata.

g.

Gangguan keseimbangan : vertigo, sempoyongan (ataksia).

h.

Gangguan menelan cairan dan/ atau makanan padat (disfagia).

i.

Nyeri kepala dan / atau disertai penurunan kesadaran somnolen


sampai koma (perdarahan otak).

j.

Mendadak lemas seluruh badan dan terkulai tanpa hilang kesadaran


(drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop).

5. Faktor Resiko
Faktor resiko suatu penyakit adalah faktor-faktor yang diyakini
meningkatkan resiko timbulnya penyakit yang bersangkutan. Adanya
beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mengalami stroke
menurut Junaidi (2011) yaitu :
a.

Faktor resiko yang tidak terkendali


1. Faktor Keturunan
Sampai sekarang faktor keturunan masih belum dapat di
pastikan gen mana penentu terjadinya stroke. Menurut Brass dkk
yang

meneliti

lebih

dari

1200

kasus

kembar

monozygot

dibandingkan 1100 kebar dizygot, berbeda bermakna antara 17,7%


dan 3,6%. Jenis stroke bawaan adalah cerebral autosomal dominant

12

arteriopathy

dengan

infark

subkortikal

dan

leukoenselopati

(CADADIL) telah diketahui lokasi gennya pada kromosom 19q12.


2. Umur
Insiden stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Setelah umur 55 tahun resiko stroke iskemik meningkat 2 kali lipat
tiap dekade. Menurut Schutz penderita yang berumur antar 70 79
tahun banyak menderita pendarahan intrakranial. Tetapi itu tidak
berarti bahwa stroke tidak hanya terjadi pada orang yang lanjut usia
karena stroke dapat menyerang semua kelompok umur.
3. Jenis kelamin
Laki laki lebih cenderung untuk terkena stroke lebih tinggi
dibandingkan wanita, dengan perbandingan 1,3 : 1, kecuali pada usia
lanjut laki laki dan wanita hampir tidak berbeda. Laki laki yang
berumur 45 tahun bila bertahan hidup sampai 85 tahun kemungkinan
terkena stroke 25%, sedangkan risiko bagi wanita hanya 20%. Pada
laki laki cenderung terkena stroke iskemik sedangkan wanita lebih
sering menderita perdarahan subarakhnoid dan kematian 2 kali lebih
tinggi dibandingkan laki laki.
4. Ras
Tingkat kejadian stroke di seluruh dunia tertinggi dialami
oleh orang jepang dan cina. Menurut Broderick dan kawan kawan
melaporkan orang negro Amerika cenderung beresiko 1,4 kali lebih
besar mengalami perdarahan intraserebral (dalam otak) dibanding

13

kulit putihnya. Orang jepang dan afrika - amerika cenderung


mengalami stroke pendarahan intrakranial. Sedang orang kulit putih
cenderung terkena stroke iskemik, akibat sumbatan ekstrakranial
lebih banyak.
b. Faktor Resiko Terkendali
1. Stress
Stress jika tidak dikontrol dengan baik akan menimbulkan
kesan pada tubuh adanya keadaan bahaya sehingga direspon oleh
tubuh secara berlebihan dengan mengeluarkan hormone-hormon
yang membuat tubuh waspada seperti kortisol, katekolamin,
epinefrin dan adrenalin, akan berefek pada peningkatan tekanan
darah dan denyut jantung. Selain itu, kecendrungan dari orang yang
sedang stress umumnya mendorong seseorang melakukan tindakan
yang merugikan diri seperti banyak minum minuman keras,
merokok, makan dan ngemil secara berlebihan.
2. Hipertensi
Hipertensi mempercepat pengerasan dinding pembuluh darah
arteri dan mengakibatkan penghancuran lemak pada sel otot polos
sehingga mempercepat proses aterosklerosis. Hipertensi berperan
dalam proses aterosklerosis melalui efek penekanan pada sel
endotel / lapisan dalam dinding arteri yang berakibat pembentukan
plak pembuluh darah semakin cepat. Seseorang dikatakan hipertensi
bila tekanan darahnya 140/90 mmHg atau lebih

14

3. Diabetes Mellitus
Kencing manis menyebabkan kadar lemak darah meningkat
karena konversi leamk tubuh yang terganggu. Bagi penderita
diabetes peningkatan kadar lemak darah sangat meningkatkan resiko
penyakit jantung dan stroke. Diabetes mempercepat terjadinya
aterosklerosis baik pada pembuluh darah kecil (mikroangiopati)
maupun pembuluh darah besar (makroangiopati) di seluruh
pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak dan jantung.
4. Kadar kolesterol darah
Kolesterol merupakan zat di dalam aliran darah dimana
makin tinggi kolesterol semakin besar kemungkinan dari kolesterol
tersebut tertimbun pada dinding pembuluh darah. Hal ini
menyebabkan saluran pembuluh darah menjadi sempit sehingga
mengganggu supali darah ke otak. Inilah yang menyebabkan terjadi
stroke non perdarahan (iskemik) atau penyempitan pada pembuluh
darah jantung menyebabkan penyakit jantung.
5. Merokok
Asap rokok mengandung nikotin yang memacu pengeluaran
zat-zat seperti adrenalin. Zat ini merangsang denyutan jantung dan
tekanan darah. Selain itu asap rokok mengandung karbonmonoksia
(CO) yang memiliki kemampuan jauh lebih kuat dari pada sel darah
merah

(haemoglobin)

dalam

menyerap

oksigen,

sehingga

menurunkan kapasitas darah merah tersebut untuk membawa O2 ke

15

jaringan, apabila darah arteri yang sudah ada plak, aliran darah
berkurang dan menambah parah terjadinya artherosclerosis.
6. Peminum Alkohol
Mengkonsumsi alkohol mempunyai dua sisi saling bertolak
belakang, yaitu efek yang menguntungkan dan merugikan. Apabila
minum sedikit alkohol secara merata setiap hari akan mengurang
kejadian stroke dengan jalan meningkatkan kadar HDL dalam darah.
Akan tetapi, bila minum banyak alkohol yaitu lebih dari 60 gram
sehari maka akan meningkatkan risiko stroke.
6. Perawatan Pasien Pasca Stroke di Rumah
Selama perawatan dirumah, keluarga berperan penting dalam
upaya meningkatkan kemampuan pasien untuk mandiri, meningkatkan
rasa percaya diri pasien, meminimalkan kecacatan menjadi seringan
mungkin, serta mencegah terjadinya serangan ulang stroke (Mulyatsih,
2008).
a. Prinsip Merawat Pasien Pasca Stroke di Rumah
1) Menjaga kesehatan punggung pengasuh atau keluarga
Pada waktu mengangkat pasien, keluarga atau pengasuh
harus mempertahankan posisi punggung tetap lurus untuk
mencegah pengasuh sakit punggung di kemudian hari. Yang harus
diperhatikan

pada

waktu

mengangkat

pasien

antara

lain;

pertahankan punggung tetap lurus, tekuk lutut, renggangkan kedua


kaki, dekatkan badan ke pasien, pegang punggung pasien serta

16

pastikan pasien mengetahui apa yang akan anda kerjakan dan bila
perlu berikan instruksi.
2) Mencegah terjadinya luka di kulit pasien akibat tekanan
Pengasuh harus merubah posisi tidur pasien setiap 2-3 jam
baik siang maupun malam. Perhatikan daerah yang berisiko terjadi
luka, seperti tumit, lutut, bokong, siku, punggung, telinga,
khususnya pada sisi tubuh yang mengalami kelemahan. Pada saat
merubah posisi pasien, cobalah untuk mengangkat pasien dan
jangan menggeser untuk menghindari terjadinya luka. Upaya lain
adalah oleskan pelembab atau minyak kelapa pada daerah yang
tertekan.
3) Mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi
Untuk mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi,
keluarga atau pengasuh dapat melakukan latihan gerak sendi lengan
dan tungkai secara pasif dan aktif bila memungkinkan minimal 2
kali sehari. Latihan gerak sendi lengan meliputi gerakan sendi
bahu, gerakan menekuk dan meluruskan siku dan gerakan memutar
pergelangan tangan. Latihan gerak sendi tungkai meliputi gerakan
menekuk dan meluruskan pangkal paha, gerakan menekuk dan
meluruskan lutut, gerakan menjauh dan mendekati badan, dan
gerakan memutar pergelangan kaki.
4) Mencegah terjadinya nyeri bahu (shoulder pain)
Hindari menarik lengan atau bahu yang lemah. Pada saat
mengangkat pasien, jangan meletakkan tangan pada ketiak pasien
tetapi letakkan kedua tangan penolong pada badan atau punggung
pasien. Gunakan penyangga bahu jika diperlukan.
5) Memulai latihan dengan mengaktifkan batang tubuh atau torso

17

Selain menggerakkan anggota gerak atas dan bawah, pasien


juga harus berlatih menggerakkan batang tubuh, atau dengan kata
lain menggerakkan sisi yang lemah dan sisi sehat secara bersamaan
(Mulyatsih, 2008).
b. Perawatan Pasien Pasca Stroke di Rumah
Menurut Mulyatsih (2008), masalah-masalah yang mungkin dialami
pasien pasca stroke dan cara keluarga mengatasinya.
1) Kelumpuhan / kelemahan
Aturlah posisi pasien senyaman mungkin, tidur terlentang
atau miring ke salah satu sisi, dengan memberi perhatian khusus
pada bagian lengan atau kaki yang lemah. Posisi tangan dan kaki
yang lemah sebaiknya diganjal dengan bantal, baik pada saat
berbaring atau duduk untuk memperlancar arus balik darah ke
jantung dan mencegah terjadinya bengkak edema pada tangan dan
kaki. Mencegah terjadinya kekakuan pada tangan dan kaki yang
lemah dengan melakukan latihan gerak sendi, serta membantu
pasien berlatih berjalan kembali dengan cara berdiri di sisi yang
lemah atau dibelakang pasien. Hindari penggunaan alat bantu jalan
kecuali bila sangat diperlukan sesuai anjuran fisioterapis.
2) Mengaktifkan tangan yang lemah
Anjurkan pasien makan, minum, mandi atau kegiatan harian
lain menggunakan tangan yang masih lemah dibawah pengawasan
pengasuh.

18

3) Gangguan sensibilitas (pasien mengalami rasa kebas atau baal)


Keluarga sebaiknya menghampiri dan berbicara dengan
pasien dari sisi tubuh yang lemah. Saat berkomunikasi, pengasuh
dapat menyentuh dan menggosok dengan lembut tangan yang
mengalami kelemahan. Keluarga dianjurkan memberikan motivasi
kepada pasien agar menggunakan tangan yang lemah sebanyak
atau sesering mungkin, terutama pada saat melakukan aktifitas
sehari-hari, seperti makan, minum, atau kegiatan harian lain.
Keluarga

dan

pengasuh

hendaknya

menjauhkan

dan

menghindarkan barang atau keadaan yang dapat membahayakan


keselamatan pasien.
4) Gangguan keseimbangan
a) Melatih keseimbangan duduk
Penolong duduk di sebelah sisi yang lemah. Bila diperlukan
penolong lainnya di sisi yang sehat bila diperlukan. Letakkan
lengan anda yang dekat dengan pasien dibelakang punggung
pasien, demikian pula tangan penolong satunya. Tarik bersamasama pasien ke arah duduk tegak. Bila pasien telah mampu
menjaga

keseimbangan

waktu

duduk,

letakkan

bantal

dibelakang kepala, leher dan bahu yang lemah, letakkan juga


satu bantal dibawah lengan yang lemah.
b) Melatih keseimbangan berdiri

19

Untuk

melatih

keseimbangan

berdiri,

keluarga

dapat

menyediakan cermin besar supaya pasien dapat melihat apakah


berdirinya

sudah

tegak

atau

belum.

Bila

keadaan

memungkinkan, beri kesempatan kepada pasien untuk berusaha


berdiri sendiri semaksimal mungkin. Keluarga atau pengasuh
dapat berdiri di samping sisi pasien yang lemah untuk
memberikan rasa aman.
5) Gangguan menelan
Untuk mengatasi masalah ini, bila memungkinkan pasien
harus duduk di kursi pada waktu makan atau minum. Bila terpaksa
harus makan di tempat tidur, pasien harus didudukkan tegak 60-90
derajat. Ketika pasien menelan, anjurkan pasien untuk menekuk
leher dan kepala untuk mempermudah menutupnya jalan nafas
ketika pasien menelan. Pada waktu pasien menelan anjurkan untuk
memutar kepala (menengok) ke sisi yang lemah. Pergunakan
sendok kecil dan tempatkan makanan pada sisi yang sehat.
Pastikan

bahwa

makanan

telah

tertelan

semua,

sebelum

memberikan suapan berikutnya. Pertahankan pasien tetap duduk


tegak setengah jam setelah makan. Pastikan mulut pasien telah
kosong sehabis makan, sehingga tidak tersisa makanan di mulut
pasien. Bersihkan gigi dan mulut sebelum dan setelah pasien
makan untuk menghindari terjadinya infeksi jamur dan gigi
berlubang.

20

6) Gangguan buang air kecil


Bagi pasien afasia yang mengalami inkontinensia, keluarga
dianjurkan menyediakan bel atau penanda lain yang mudah di
jangkau oleh pasien. Pada siang hari, berikan pasien minum satu
gelas setiap 2 jam dan hindari minum pada malam hari. Untuk
mengantisipasi agar pasien tidak mengompol, keluarga atau
pengasuh dapat menawarkan pasien untuk berkemih secara teratur
setiap dua atau tiga jam, atau sesuai dengan pola buang air kecil
pasien sebelumnya. Sebaiknya tersedia urinal yang mudah
dijangkau oleh pasien.
7) Gangguan buang air besar
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya konstipasi, antara
lain tirah baring lama, kurang aktifitas fisik, asupan kurang serat,
kurang air minum, dan efek samping obat. Keluarga dapat
membantu pasien agar tidak mengalami konstipasi dengan cara
memotivasi pasien untuk bergerak aktif, mengkonsumsi makanan
tinggi serat, minum air putih minimal 2 litar atau 8 gelas perhari,
dan membiasakan diri duduk di kloset secara teratur setiap pagi.
8) Kesulitan mengenakan pakaian
a. Cara mengenakan kemeja
1. Masukkan terlebih dahulu lengan yang lemah kedalam
lengan kemeja
2. Tarik lengan kemeja keatas sampai bahu

21

3. Putar kemeja ke lengan yang sehat dari belakang


4. Masukkan tangan yang sehat ke lengan kemeja satunya
5. Masukkan tangan yang sehat ke lengan kemeja satunya
b. Cara mengenakan celana
1. Masukkan kaki yang lemah terlebih dahulu kedalam celana
2. Setelah itu masukkan kaki yang sehat ke dalam celana
3. Jika keseimbangan berdiri pasien telah baik, celana
langsung ditarik keatas
4. Jika keseimbangan berdiri pasien belum baik, pasien
berbaring dahulu, baru celana ditarik keatas secara
bergantian.
9) Masalah Emosional
Masalah yang paling banyak terdapat pada penderita stroke adalah
masalah emosional, mulai dari stress sampai dengan depresi.
Mereka mengalami kesulitan untuk mengendalikan emosi mereka
atau juga untuk mengekspresikan emosi, tidak tepat dalam situasi
tertentu. Hampir 70 persen pasien pasca stroke mengalami masalah
emosional, misalnya sedih, mudah marah, mudah tersinggung,
murung atau depresi (Feigin, 2006). Menurut Handerson (2002)
cara terbaik untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan tetap
berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien.
B. Peran Keluarga
a. Peran

22

Seperangkat perilaku interpersonal, sifat dan kegiatan yang


berhubungan dengan individu dalam posisi dan satuan tertentu (Friedman,
1998). Dapat dikatakan bahwa peran merupakan sesuatu yang di harapkan
akan dilakukan seseorang yang kemudian akan memberikan pemenuhan
kebutuhan. Jika mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi
kebutuhan individu, keluarga merupakan lembaga utama yang dapat
memenuhi kebutuhan tersebut, melalui perawatan dan perlakuan yang
baik, memenuhi kebutuhan kebutuhan dasarnya, baik fisik, biologis,
maupun sosiopsikologisnya (Effendy, 1998)
b. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Peran
1. Faktor Internal
a.
Umur
Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang,
maka akan lebih matang seseoarng tersebut dalam berfikir dan
berkarya. Hal ini akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya
(Hurlock, 1998). Seseorang anggota keluarga dengan usia yang lebih
b.

tua cenderung lebih perhatian terhadap anggota keluarga uang lain.


Pendidikan
Makin tinggi pendidikan seseoarng makin mudah menerima
informasi sehinga banyak pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya
tingkat pendidikan yang rendah akan menghambat perkembangan

sikap seseorang terhadap nilai yang baru diperkenalkan.


c.
Pekerjaan
Pekerjaan merupakan kebutuhan yang harus dilakukan terutama
dalam menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Bekerja
pada umunya juga akan menyita waktu yang berpengaruh terhadap
kehidupan keluarga.

23

d.

Informasi
Informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi
rasa cemas. Menurut Friedman peran juga dipengaruhi oleh
kepribadian individu, kemampuan individu, temperamen, sikap
kebutuhan individu tersebut terhadap model model peran dan

karakteristik kepribadian individu.


2. Faktor Eksternal
a.
Lingkungan
Semua yang ada disekitar kita

dan

pengaruhnya

dapat

mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok


lingkungan yang merupakan bagian dari diri seseorang yaitu social
adaptif yang melibatkan baik social internal maupun eksternal.
b.

Kebudayaan
Merupakan keseluruhan yang komplek yang didalamnya tercantum
ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesenian moral, hokum adat istiadat,
kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai

anggota masyarakat.
c.
Kepercayaan
Merupakan keyakinan individu akan sesuatu kepercayaan yang
berhubungan antara manusia dengan tuhan, kepercayaan merupakan
d.

dasar individu untuk encari setiap informasi atau pengetahuan.


Ras
Merupakan kepribadian atau cirri kas yang terdapat dalam tubuh
individu. Ras berkaitan erat dengan kebudayaan dan kepercayaan

e.

dalam menerima informasi.


Sosial ekonomi
Faktor faktor lain yang mempengaruhi peran adalah social
ekonomi dengan pendapat yang dikemukakan oleh Effendi. Keadaan

24

social ekonomi yang rendah pada umunya karena ketidakmampuan


dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi, sebaliknya keadaan
social ekonomi yang tinggi akan efektf dan mudah untuk berbagi
usaha untuk masyarakat (Effendi, 1998).
Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan
merupakan perawatan utama bagi klien. Keluarga berperan dalam
menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien dirumah. Keberhasilan
perawatan di rumah sakit dapat sia sia jika tidak diteruskan di rumah yang
kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali. Peran serta keluarga
sejak awal asuhan di RS akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat
klien di rumah (Friedman, 1998).
4. Peran Keluarga Dalam Merawat Penderita Pasca Stroke
Health care activities, health beliefs, dan health values merupakan
bagian yang dipelajari dari keluarga. Sehat dan sakit merupakan bagian
dari kehidupan dan dapat dipelajari individu dari keluarga. Friedman
(1998) mengidentifikasi dengan jelas kepentingan pelayanan keperawatan
yang terpusat pada keluarga (family centered nursing care), yaitu :
1. Keluarga terdiri dari anggota yang saling ketergantungan satu sama
lainnya (interdependent) dan berpengaruh dengan yang lainnya. Jika
salah satu sakit maka anggota keluarga lain juga merupakan bagian
2.

dari sakit.
Adanya hubungan yang kuat antara keluarga dengan status kesehatan
anggotanya, maka anggota keluarga sangat penting peranannya dalam

3.

setiap pelayanan keperawatan.


Tingkat kesehatan anggota keluarga sangat signifikan dengan aktivitas
di dalam promosi kesehatan.

25

4.

Keadaan sakit pada salah satu anggota keluarga dapat sebagai indikasi
masalah yang sama pada anggota yang lain.
Pentingnya peran keluarga dalam perawatan penderita pasca stroke

dapat di pandang dari berbagai segi yaitu : keluarga merupakan tempat


dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya.
Jika keluarga di pandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi
pada salah satu anggota dapat mempengaruhi seluruh sistem, sebaliknya
disfungsi keluarga merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota
(Friedman, 1998).
a. Berperan sebagai perawat
1) Peran keluarga dalam merawat penderita stroke dirumah
secara umum
a) Perawatan pasien stroke sebaiknya lebih dari satu, agar
pekerjaan dapat dibagi.
b) Pilihlah kamar yang dekat dengan kamar mandi, ruang makan,
atau dapur, aturlah perabotan atau peralatan yang mudah
digunakan klien.
c) Pastikan tinggi ranjang sesuai dengan kegiatan perawatan
sehari hari, dan menggunakan lapisan anti bocor diantara
kasur dan seprai.
d) Ciptakan suasana

tenang

dan

menyenangkan.

Hindari

pembicaraan mengenai ketidakmampuan pasien. Jangan


memaksa pasien untuk melakukan sesuatu yang tidak bias
dilakukannya.
e) Bantu klien untuk mengurus dirinya sendiri sejauh mana yang
bisa dia kerjakan, dorong klien untuk bertanggung jawab atas
f)

aktivitas latihan yang dilakukan.


Puji setiap usaha yang dilakukan penderita

26

g) Jangan berasumsi bahwa dia tidak bisa menggunakan


pikirannya dan jagalah hubunngan sama seperti sebelumn dia
menderita stroke.
h) Bantulah klien untuk mempertahankan hubungan dengan dunia
luar dan orang lain dan sama seperti sebelum dia menderita
i)

stroke.
Berkonsultasi dengan dokter secara teratur dan dengarkan

j)

nasehat fisioterapi.
Sesering mungkin ajaklah klien untuk bangkit dari ranjangnya
dan kalau tidak mampu ajaklah duduk ketika menyantap

makanan.
k) Buatlah catatan dalam satu buku mengenai kemajuan gerakan,
l)

aktivitas, bicara, dan lain lain setiap minggunya.


Jika memungkinkan hindari menggendong klien dan bantu
klien bergerak dengan kemampuannya sendiri (Vitahealth,

2)

2006)
Peran Keluarga Dalam Membantu Aktifitas Fisik
Penderita stroke perlu melakukan kembali aktivitas seperti
sebelumnya. Jenis aktivitas yang mungkin dilakukan bergantung
pada efek stroke. Penderita stroke yang tidak banyak mengalami
masalah fisik dapat mencoba berjalan, menggunakan sepeda statis,
dan melakukan aktivitas lain yang biasa mereka lakukan. Penderita
stroke yang masalah fisiknya lebih berat, misalnya penderita stroke
dengan hemiplegia, akan membutuhkan bantuan keluarga atau
mungkin memerlukan bantuan ahli fisioterapi. Secara umum,
sebaiknya penderita stroke melakukan sekitar setengah jam

27

aktivitas yang menyebabkan pasien merasa hangat, sedikit


terengah-engah, dan sedikit berkeringat, tiga kali seminggu atau
lebih (Valery, 2006).
Penderita stroke dengan masalah orientasi ruang atau
apraksia sering membutuhkan bantuan untuk mengenakan busana
karena ketidakmampuan menggunakan kedua lengan dengan benar,
bahkan meskipun mereka tidak mengalami kelemahan yang nyata
pada anggota badan. Penderita stroke dengan masalah orientasi
ruang atau apraksia kadang-kadang mengenakan busana di bagian
yang salah dan sering tidak dapat memasukkan kancing. Penting
bagi keluarga yang merawat penderita untuk berhati-hati agar sendi
yang lumpuh tidak teregang, terutama sendi bahu (Graham, 2006).
b. Peran Keluarga Dalam Masalah Psikologis (Emosional)
Sebagian masalah emosional muncul segera setelah stroke,
sebagai akibat kerusakan di otak. Hampir 70% pasien stroke sedikit
banyak mengalami masalah emosional, misalnya reaksi sedih, mudah
tersinggung, tidak bahagia, murung, atau depresi. Terdapat bukti bahwa
orang yang menderita depresi pasca stroke memiliki kemungkinan tiga
kali lebih besar meninggal dalam 10 tahun dibandingkan dengan
penderita stroke tanpa depresi. Namun, jika penderita stroke dan orang
yang merawatnya menyadari masalah ini, biasanya ada hal-hal yang
dapat dikerjakan untuk mengatasi masalah tersebut (Lotta, 2006).
Ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan dirinya sendiri
akibat masalah bahasa dapat menimbulkan sikap mudah marah.

28

Masalah emosional lain timbul pada tahap lebih belakangan, misalnya


sewaktu pasien akhirnya menyadari dampak penuh stroke atas
kemandirian mereka (Feigin, 2006).
Menurut Handerson (2002) cara terbaik untuk mengatasi hal
tersebut adalah dengan tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan
pasien. Motivasi merupakan dorongan bertindak untuk memuaskan
suatu kebutuhan. Dorongan ini diwujudkan dalam tindakan atau
perilaku. Motivasi itu timbul karena adanya kebutuhan atau keinginan
yang harus dipenuhi, dan keinginan itu akan mendorong individu untuk
melakukan tindakan. Motivasi yang rendah biasanya menghasilkan
tindakan yang kurang kuat.
Keluarga memberi dorongan / dukungan agar penderita
mempunyai motivasi yang kuat untuk dapat segera memperoleh
pemulihan kesehatan dengan sebaik baikya. Memberi dorongan pada
saat latihan fisik yang merupakan hal yang cukup membuat penderita
merasa tidak nyaman, namun demikian penderita harus selalu di dorong
untuk berani berlatih. Selain itu keluarga juga harus meyakinkan pasien
bahwa mereka juga bagian penting, dibutuhkan dan diinginkan dalam
keluarga dan meyakinkan bahwa banyak orang yang berhasil pulih dari
stroke kemudian melakukan aktivitas secara normal. Kemudian
memberi dorongan untuk tetap aktif dalam kegiatan sehari hari di
tengah tengah keluarga dan masyarakat (Valery, 2006).
c. Berperan sebagai penghubung / Komunikasi
Keluarga mengadakan komunikasi efektif dengan penderita,
petugas kesehatan, sehingga terjalin hubungan kerjasama yang baik dan

29

tercipta suasana saling percaya dan keterbukaan antara pasien dan


keluarga dan petugas kesehatan. Hubungan yang saling percaya antara
pasien, keluarga dengan petugas kesehatan merupakan dasar utama
untuk

membantu

mengungkapkan

dan

mengenal

perasaannya,

mengidentifikasi kebutuhan dan masalahnya, mencari alternative


pemecahan masalah serta mengevaluasi hasilnya. Proses ini dilalui oleh
pasien dan keluarga sehingga keluarga dapat membantu pasien dengan
cara yang sama pada saat dirumah (Friedman, 1998)
d. Berperan Sebagai Pendidik
Dalam upaya belajar untuk hidup dengan kecacatan permanen,
pasien diajarkan program Aktivitas Kehidupan Sehari sehari (AKS)
agar penderita dapat melakukan aktifitas tanpa bantuan orang lain,
misalnya : tata cara makan, berpakaian, manti, tidur, juga melatih
penderita dalam mobilisasi, berkomunikasi, melakukan latihan anggota
gerak atas bawah secara pasif sampai penderita mampu menggerakkan
sendiri.
e. Berperan Sebagai Pengubah Lingkungan / Terapi Lingkungan
Menurut (Friedman, 1998) derajat kesehatan dipengaruhi oleh
lingkungan. Cara memodifikasikan lingkungan fisik terdiri dari
merubah lingkungan, pengaturan tata ruangan dan lantai rumah, agar
penderita mudah melakukan aktifitas secara efisien. Ciptakan ruangan
yang memberi ketenangan dan menyenangkan, suara tidak ribut /
berisik, adanya penerangan dan fentilasi yang baik dan jauhkan fasilitas
yang dapat mengakibatkan gangguan atau penyebab terjadinya cedera.
f. Berperan Sebagai Pengambil Keputusan

30

Dalam peran ini keluarga menentukan pencarian sumber


sumber yang penting. Keluarga mempunyai kontrol substansial
terhadap keputusan apakah keluarga yang sakit akan mendapat layanan
kuratif atau preventif. Dalam memelihara kesehatan keluarga sebagai
pasien, keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam
memelihara kesehatan anggota keluarganya (Friedman, 1998).
g. Berperan Sebagai Pencari Sumber Dana
Kelarga berperan mencari sumber dana untuk biaya pengobatan
penderita dan untuk menghindari ketiadaan dana untuk biaya
pengobatan anggota keluarga yang sakit (Friedman,1998).
C. Kualitas Hidup
1. Definisi Kualitas Hidup
Menurut WHO (1994) kualitas hidup didefenisikan sebagai
persepsi individu sebagai laki-laki ataupun perempuan dalam hidup,
ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, dan
hubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian
mereka. Hal ini terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik,
status psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, dan hubungan
kepada karakteristik lingkungan mereka.
Menurut Ware (1992) mengemukakan kualitas hidup sebagai
kemampuan fungsional akibat penyakit dan pegobatan yang diberikan
menurut

pandangan

atau

perasaan

pasien.

Kualitas

hidup

juga

menggambarkan kemampuan individu untuk memaksimalkan fungsi fisik,


sosial, psikologis dan pekerjaan yang merupakan indikator kesembuhan

31

atau kemampuan beradaptasi dengan penyakitnya (Taylor, 1999).


2. Komponen Kualitas Hidup
Sebuah konsep HRQoL (Health Related Quality of Life) yang
berpijak langsung pada pengertian sehat dari WHO dimana sehat diartikan
sebagai sesuatu yang utuh yang terdiri dari sehat fisik, mental dan perilaku
sosial, dan bebas dari penyakit atau kecacatan (Orsted, 2007). Terdapat
tiga komponen utama dari kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan
fisik, mental, dan sosial (Ware, 2000):
a. Kesejahteraan fisik yang terdiri dari status fungsional dan kesehatan
fisik.
1) Status fungsional didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk
melaksanankan aktivitas sehari-hari. Aktivitas ini termasuk mandi,
berpakaian, makan, berjalan, dan menyelesaikan tanggung jawab di
dalam dan di luar rumah, seperti membersihkan rumah, memasak,
berbelanja, dan bekerja.
2) Kesehatan fisik didefinisikan sebagai persepsi terhadap status
kesehatan secara umum atau gejala fisik yang berhubungan dengan
penyakit atau pengobatan.
b. Kesejahteraan mental termasuk kesehatan mental dan fungsi
emosional.
1) Kesehatan mental didefinisikan sebagai ada atau tidaknya
gangguan mental seperti gangguan kognitif, amnesia, dan depresi.
2) Fungsi emosional didefinisikan sebagai perasaan afektif yang
termasuk perasaan positif dan negatif. Efek positif mengacu pada
kepuasan

subjektif

dalam

kehidupan

sehari-hari,

seperti

kesenangan dan kebebasan dari distress. Efek negative mengacu

32

pada

ketidakpuasan

dengan

kehidupan

sehari-hari,

seperti

kebingungan, distress, maupun kehilangan harapan).


c. Kejahteraan sosial diwujudkan sebagai penilaian subjektif seseorang
terhadap fungsi sosial dan hubungan sosial.
1)Fungsi sosial terdiri dari kepedulian pribadi, fungsi peran (peran
dalam bekerja), dan perilaku sosial yang lebih luas ( aktivitas dan
peran lainnya).
2)Hubungan sosial adalah seperangkat peran sosial atau status sosial
dimana individu berhadapan dengan orang lain.
3. Pengukuran kualitas hidup
Instumen yang digunakan untuk mengkaji kulitas hidup pasien
pasca stroke adalah Short-Form 36 (SF-36). Dari Medical Outcome Study
(MOS), SF-36 dikembangkan oleh Fayers & Machim (2000) yang
merupakan instrument generik yang telah dipergunakan secara luas untuk
mengukur kuakitas hidup terkait kesehatan. Instrumen SF-36 merupakan
suatu isian berisi 36 pertanyaan yang disusun untuk melakukan survey
terhadap satatus kesehatan yang terdiri dari delapan subvariabel yaitu :
fungsi fisik, keterbatasan peran

fisik, nyeri tubuh, persepsi terhadap

kesehatan, vitalitas, fungsi sosial, peran emosional, dan kesehatan mental.


Dari tiap- tiap pertanyaan mempunyai bentuk tipe dan pilihan
jawaban yang berbeda dengan jumlah skor yang telah ditentukan yaitu (0100) diadopsi dari Short Form-36 Questionnaire Health Survey. Nilai
masing-masing berbeda menurut Short Form-36. Nilai terendah adalah 0
dan nilai tertinggi adalah 3600. Kemudian pertanyaan pada instrument ini

33

adalah membandingkan kesehatan pasien saat ini dengan 4 minggu yang


lalu (Ware, 2000).