Anda di halaman 1dari 17

SEPSIS NEONATORUM

Fetus dan neonatus sangat rentan terhadap infeksi. Sekitar 1-2 bayi dari 1000
kelahiran mengalami infeksi. Ada tiga jalur utama terjadinya infeksi perinatal:
1. Infeksi transplasental (misalnya: cytomegalovirus, rubella, syphilis)
2. Infeksi asendens dengan disertai rusaknya barier plasenta (misalnya: infeksi
bakteri setelah 12-18 jam selaput amnion pecah)
3. Infeksi yang didapat oleh bayi saat melewati jalan lahir yang telah terinfeksi
atau terpapar darah ibu yang infeksius (misalnya: herpes simplex, hepatitis
B, infeksi bakteri lainnya).
Blanc (1961) membagi menjadi 3 golongan :
1. Infeksi antenatal melalui sirkulasi plasenta

Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini :


-

Virus : rubella, poliomyelitis, coxsackie, variola, vaccinia, CMV (paling


sering)

Spirokaeta : Treponema palidum (lues)

Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. Coli dan listeria
monocytogenes

Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta. Fokus pada


plasenta pecah ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat tuberkulosis
melalui inhalasi cairan amnion tersebut.
2. Infeksi intranatal
Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi. Mikroorganisme masuk melalui
rongga amnion setelah ketuban pecah (biasanya pada KPD > 8 jam)
Infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan kuman yang
berasal dari vagina misalnya blenorea (kuman gram negatif) dan oral trush
3. Infeksi pascanatal
Terjadi setelah bayi lahir lengkap akibat kontaminasi alat & perawatan yang
tidak steril.

Menurut berat ringannya, dibagi 2 golongan :


1. Infeksi berat (major infection)
Sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare epidemik, pielonefritis,
osteitis akut, tetanus neonatorum
2. Infeksi ringan (minor infection)
Infeksi pada kulit, oftalmia neonatorum, infeksi umbilikus (omfalitis),
moniliasis
Beberapa faktor resiko klinis sepsis neonatorum:
A. Faktor Ibu
1. Infeksi ibu Intrapartum
- Purulent / foul smelling liquor amnii
- Fever (>380C)
- Leucocytosis (WBC >18000 / mm3)
2. Ketuban pecah dini > 8 hours
3. ISK

B. Faktor Neonatus
1. BBLR
2. Asfiksia
3. Kelahiran prematur < 37 minggu
Sepsis neonatorum dapat dikategorikan sebagai onset dini atau onset
lanjut.Sekaitar 85% neonatus dengan infeksi onset dini mengalami sepsis dalam 24
jam pertama kehidupannya, 5% antara 24-48 jam, dan sejumlah kecil terjadi setelah
48 jam pertama kehidupan. Organisme penyebab infeksi, dan lokasi primer infeksi
bervariasi tergantung dari waktu terjadinya (onset) serta tempat di mana bayi
mendapatkan infeksi tersebut, apakah di rumah atau di rumah sakit. Onset terjadi
lebih cepat lagi pada bayi-bayi prematur.

Sepsis onset dini umumnya disebabkan oleh mikroorganisme yang


diperoleh dari ibunya. Organisme yang sering menyebabkan infeksi onset dini ini
antara

lain;

group

B Streptococcus (GBS), Escherichia

coli,

Haemophilus

influenzae, dan Listeria monocytogenes Beberapa kondisi perinatal berhubungan


dengan meningkatnya resiko sepsis onset dini. Sepsis onset dini umumnya sering
terjadi pada prematuritas, gemelli, kelainan kongenital, asfiksia perinatal, dan jenis
kelamin laki-laki.
Sindrom sepsis onset lanjut terjadi pada hari ke-7-90 kehidupan dan
umumnya didapatkan dari lingkungan. Organisme penyebab antara lain coagulasenegative staphylococci, Staphylococcus aureus, E coli, Klebsiella, Pseudomonas,
Enterobacter, Candida, GBS, Serratia, Acinetobacter, dan anaerob. Organismeorganisme ini umumnya membentuk koloni pada kulit bayi, traktur respiratorius,
konjungtiva, traktus gastrointestinal, dan umbilicus.
Pneumonia yang ditandai dengan distress pernafasan sering terjadi pada
sepsis onset dini, sementara meningitis umumnya sering terjadi pada sepsis onset
lanjut ( 85% disebabkan oleh GBS dan L. monocytogenes). Faktor resiko ibu
mencakup kolonisasi streptokokus pada vagina, demam intrapartum, ketuban yang
lambat pecah (>18-24 jam), kala 2 memanjang, serta chorioamnionitis atau ada
riwayat infeksi saluran kemih.Bayi-bayi prematur dan bayi-bayi sakit memiliki
kerentanan yang tinggi terhadap sepsis dan umumnya tidak serta merta tampak jelas;
karena itu kelompok ini membutuhkan perhatian lebih sehingga ancaman sepsis
dapat diidentifikasi secara dini dan mendapat terapi yang efektif.

Tanda-tanda Klinis pada Sepsis Neonatorum


Onset dini

Onset lanjut
bayi tampak tidak sehat

Merintih

temperatur tidak stabil

Tachypnea

tidak mau minum

Cyanosis

mengisap lemah

Perfusi buruk

muntah/residu gaster

Hipotonus

distensi abdomen

letargi/apnoe

letargi/apnoe

ikterus(<24jam)

fontanel tegang/konvulsi

Syok

syok

Etiologi sepsis neonatorum


Agen-agen infeksius penyebab sepsis neonstorum telah banyak berubah
dalam 50 tahun terakhir. Di Amerika Serikat, S. aureus dan E. coli merupakan
penyebab infeksi yang tersering serta membahayakan pada kejadian sepsis
neonatorum di era tahun 1950an. Setelah itu, GBS kemudian menggantikan S.
aureus sebagai agen Gram-positif yang tersering yang menyebabkan sepsis onset
dini pada dekade selanjutnya.Selama tahun 1990an, GBS dan E. coli tetap
dihubungkan sebagai penyebab utama sepsis. Beberapa organisme yang lain yang
juga diidentifikasi dalam kejadian sepsis neonatorum antara lain: coagulasenegative S aureus, L monocytogenes, Chlamydia pneumonia, Haemophilus
influenzae,

Enterobacter

aerogenes, dan

speciesBacteroides serta Clostridium . Meningoencephalitis

dan

sindrom

sepsis

neonatal dapat pula disebabkan karena infeksi oleh adenovirus, enterovirus, atau
coxsackievirus.Selain itu, penyakit menular seksual dan penyakit infeksi virus,
seperti gonorrhea, syphilis, herpes simplex virus (HSV), cytomegalovirus (CMV),
hepatitis, HIV, rubella, toxoplasmosis, Trichomonas vaginalis, dan Candida species
juga sering ditemukan berkaitan dengan sepsis neonatorum. Bakteri-bakteri dengan
resistensi yang tinggi terhadap antibiotik juga sangat berbahaya serta selanjutnya
akan menyulitkan penanganan sepsis neonatorum ini.

Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)


Manifestasi klinis infeksi tergantung pada virulensi organisme yang terkena
serta respon inflamasi tubuh terhadap agen infeksi. Istilah SIRS sering digunakan
untuk

menjelaskan

keunikan

proses

infeksi

serta

respon

sistemik

yang

mengikutinya. Selain infeksi, SIRS juga dapat dihasilkan dari trauma, syok
hemoragic, penyebab-penyebab iskemia yang lain, serta pankreatitis.
Pasien-pasien dengan SIRS memiliki spektrum gejala klinis yang
menampakkan proses patologis yang progresif. Batasan SIRS ialah respon inflamasi

sistemik terhadap gangguan/kerusakan klinis yang ditandai dengan adanya dua atau
lebih hal-hal berikut:
1. Temperatur tubuh yang tidak stabil (<35>38,5 C),
2. Disfungsi respirasi (tachipnoe atau hipoksemia)
3. Disfungsi Cardiac (tachicardia, delayed capillary refill >3 detik, hipotensi)
4. Abnormalitas perfusi (oliguria, asidosis laktat, perubahan status mental).
Meningkatnya permeabilitas vaskuler menyebabkan kebocoran kapiler pada
jaringan perifer dan paru-paru yang mengakibatkan terjadinya udem perifer dan
udem paru-paru. Kerusakan jaringan pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan
multiorgan dan kematian.

Tanda-tanda Sepsis Neonatorum


Diagnosis dini umumnya dilaksanakan ketika ada kecurigaan ke arah
sepsis.Biasanya,

tanda-tanda

sepsis

dini

agak

sukar

ditentukan

dan

nonspesifik. Tanda awal yang paling umum adalah bayi ampak tidak sehat, serta
tidak dapat minum susu atau adanya intoleransi terhadap makanan yang masuk,
rewel atau lethargy, serta temperatur tubuh yang tidak stabil. Jika didapatkan
beberapa manifestasi yang jelas secara bersamaan, maka akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas. Infeksi transplasetal (CMV, T. Pallidum, T. gondii,
rubella, parvovirus B19, dll) dapat asimtomatis saat lahir.
Gejala-gejala dan tanda tidak membantu untuk menegakkan diagnosis
etiologi, namun meningkatkan kecurigaan terhadap infeksi intrauterin serta
membantu membedakan infeksi ini dengan infeksi bakteria akut yang yang terjadi
selama proses persalinan.Beberapa gejala dan tanda antara lain: pertumbuhan
intrauterin yang terbatas, mikrosefalus atau hidrosefalus, kalsifikasi intrakranial,
korioretinitis,

katarak,

miokarditis,

pneumonia,

hepatosplenomegali,

hiperbilirubinemia, anemia, trombositopenia, hydrops fetalis, serta manifestasi kulit


seperti; petechiae, purpura, dan vesikel. Kebanyakan agen ini menyebabkan gejala
sisa, walaupun bayi asimtomatis saat lahir. Beberapa gejala tambahan lainnya ialah

gangguan pendengaran sensorineural, kejang, dan abnormalitas perkembangan


sistem saraf.
Neonatus dengan sepsis bakterialis dapat disertai dengan gejala-gejala
nonspesifik atau tanda-tanda fokal infeksi antara lain; temperatur yang tidak stabil,
hipotensi, perfusi buruk (pucat dan atau berbercak-bercak), asidosis metabolik,
takikardi atau bradikadi, apnoe, distres pernafasan, merintih, sianosis, irritable,
letargi, kejang, intoleransi makanan, distensi abdomen, ikterus, petechiae, purpura,
dan perdarahan. Manifestasi awal biasanya terbatas pada gejala pada satu sistem
organ saja seperti apnoe saja atau takipnu dengan retraksi atau takikardi. Tetapi dapat
pula langsung bermanifestasi berat dengan disfungsi multiorgan. Bayi harus direevaluasi secara berkala untuk menilai apakah gejala telah berkembang dari ringan
menjadi berat. Komplikasi lanjut dari sepsis meliputi gagal nafas, hipertensi
pulmonal, gagal jantung, syok, gagal ginjal, disfungsi hepar, udem serebral atau
trombosis, perdarahan atau insufisiensi adrenal, disfungsi sum-sum tulang
(neutropenia, trombositopenia, anemia), dan DIC.

Tanda-tanda dan Gejala infeksi Neonatus pada beberapa sistem organ


UMUM

CVS

Demam, temperatur tidak

Pucat, bercak-bercak, dingin, clammy

stabil

skin
Bayi tampak tidak sehat

Tachycardia

Tidak mau minum

Hipotensi

Edema

Bradikardi

GI SYSTEM

CNS

Distensi abdomen

Irritable, letargi

Muntah

tremor, kejang

Diare

hiporefleks, hipotonus

Hepatomegali

Refleks Moro abnormal


Respirasi ireguler

SISTEM PERNAPASAN

Fontanel tegang

Apnoe, dyspnoe

high-pitched cry

Tachipnoe, retraksi

PCH, merintih

SISTEM HEMATOLOGI

Cyanosis

Ikterus
Splenomegali

SISTEM RENAL

Pucat

Oliguria

Petechiae, purpura
Perdarahan

Karena manifestasi awal dari sepsis tidak spesifik, diagnosis dini terhadap
sepsis sukar dilakukan. Sepsis bakterialis memiliki progresifitas yang sangat cepat
sehingga klinisi harus awas terhadap gejala-gejala dan tanda infeksi yang mungkin
ada dan melakukan reevaluasi diagnosis serta pemberian terapi antimikroba
empiris. Sebagian besar klinisi merekomendasikan untuk mulai memberikan terapi
antibiotic pada neonatus yang mengalami distress pernafasan yang membutuhkan
oksigen atau bantuan ventilator, khususnya pada bayi dengan usia kehamilan di atas
34 minggu.

Pemeriksaan Penunjang Sepsis


Dalam menentukan diagnosis sepsis, riwayat perinatal, pemeriksaan fisik,
serta perjalanan penyakit harus dievaluasi dengan cermat. Pemeriksaan darah rutin
dan hitung jenis leukosit umumnya bermanfaat walaupun tidak spesifik untuk
sepsis. Adanya leukopenia< 0,2, mengindikasikan prediksi yang mengarah kepada
sepsis. Bila hal-hal tersebut tidak ditemukan, maka kemungkinan sepsis adalah
minim. Akurasi prediksi ini penting untuk dibuktikan dengan reevaluasi dalam 8-24
jam. Trombositopenia, granul toksik, vakuolisasi, dan badan Dhle merupakan
perubahan

lain

yang

dapat

membantu

menyingkirkan

kemungkinan

sepsis. Leukositosis dan neutrophilia bukan indikator yang baik untuk kemungkinan
sepsis.
Tes aglutinasi latex terhadap adanya antigen GBS umumnya dilakukan pada
urin.Namun demikian, positif palsu terjadi pada lebih dari 10% kasus.
Pengukuranmikrosedimentation

rate, C-reactive

protein,

haptoglobin memiliki akurasi dan spesifisitas yang rendah.

fibronectin,

dan

Pemeriksaan yang lebih lengkap mencakup radiografi thorax dan biakan


darah. Pada bayi dengan resiko tinggi, kurang dari 72 jam, dan asimtomatik, biakan
urin dan spinal tap juga perlu dilakukan. Bayi-bayi pada keadaan di atas biasanya
tidak mungkin menderita meningitits tanpa adanya hasil positif pada biakan
darah. Meskipun demikian, walaupun biakan darah sudah memberi hasil positif, LCS
juga harus tetap diperiksa.Bila LCS positif atau bila ada tanda yang jelas akan
adanya meningitis walaupun dengan hasil biakan negatif, pemberian terapi antibiotik
harus diperpanjang. Setelah 72 jam pertama post partum atau ketika ada kecurigaan
kuat terhadap sepsis, aspirasi suprapubik dan LCS sebaiknya dilakukan. Beberapa
bayi dalam keadaan kritis, terutama bayi BBLR, dapat diberikan antibiotik sebelum
spinal tap dilakukan. Bila antibiotik sudah mulai diberikan, biakan harus
diinkubasikan selam 72 jam untuk menyediakan cukup waktu bagi organisme untuk
berkembang biak sebelum biakan dinyatakan negatif dan terapi antibiotik intravena
dihentikan. Hanya sekitar 82-90% biakan darah sensitif pada neonatus. Karena itu,
dengan adanya kecurigaan klinik yang cukup kuat terhadap sepsis serta jumlah
leukosit yang abnormal, bayi harus diterapi lengkap dengan antibiotikwalaupun
dengan hasil biakan yang negatif .
Pemeriksaan cairan serebrospinal umumnya sukar diinterpretasikan pada
neonatus.LCS normal dapat mengandung sampai 32 leukosit per mikroliter, dengan
60% sel PMN. Kadar glukosa LCS bervariasi pada neonatus, namun secara umum
40% lebih tinggi dari kadar glukosa dalam plasma. Protein dapat mencapai
180mg/dL atau lebih tinggi pada bayi prematur. Organisme sebaiknya dilihat dengan
pewarnaan Gram.

Penatalaksanaan Sepsis
Bila sepsis kecurigaan sudah cukup kuat ke arah sepsis, maka beberap tes
harus dilakukan segera dan pemberian antibiotic perlu dilakukan segera. Antibiotik
dilanjutkan sampai hasil ada hasil biakan dan respon klinis terhadap intervensi
dievaluasi. Mula-mula, infeksi diterapi empiris dengan antibiotik spektrum luas
seperti penisilin dan aminoglikosida untuk mencakup organisme-organisme Gram-

positif dan Gram-negatif.Ketika organisme penyebab telah diidentifikasi, antibiotik


tadi mungkin perlu diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai.
Beberapa golongan antibiotik yang biasanya dipakai untuk sindrom sepsis
neonatorum antara lain adalah: ampicillin, gentamicin, cefotaxime, vancomycin,
metronidazole, erythromycin, dan piperacillin. Pilihan antibiotik harus didasarkan
pada organisme yang bersangkutan dengan sepsis tersebut, sensitifitas agen bakterial,
serta harus mencegah tren infeksi naosokomial pada bayi. Perlu diingat bahwa
infeksi virus juga dapat menyerupai infeksi bakteri.

TORCH

Infeksi Torch pada kehamilan berbahaya bagi janin. TORCH adalah istilah
untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu
Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi
ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.
Kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah
pemeriksaan secara imunologis.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang
spesifik terhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap
adanya benda asing (kuman). Antibodi yang terbentuk dapat berupa Imunoglobulin
M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).

TOXOPLASMA
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma
gondi. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik.
Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip
gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak
menimbulkan masalah.
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada
orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien
transpalasi

organ

yang

mendapatkan

obat

penekan

respon

imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah
abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita
Toxoplasmosis bawaan. Pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah
dewasa, misalnya kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan
ensefalitis.
Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejalagejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh
karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan
diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma
IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan tersebut perlu

dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau
selama masa hamil (bila hasilnya negatif perlu diulang sebulan sekali khususnya
pada trimester pertama, selanjutnya tiap trimester), serta bayi baru lahir dari ibu yang
terinfeksi Toxoplasma.

RUBELLA
Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan
pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat
menyerang anak-anak dan dewasa muda.
Infeksi Rubella berbahaya bila terjadi pada wanita hamil muda, karena dapat
menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama
kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi terjadi
trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of
Obstetrician and Gynecologists, 1981).
Tanda-tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap
individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah
tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan
dengan bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang
dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Antirubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum
hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.
Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis
infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.

CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini termasuk
golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV
dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab
infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi
terjadi saat ibu sedang hamil. Jika ibu hamil terinfeksi maka janin yang dikandung

mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati,


kuning,

pekapuran

otak,

ketulian,

retardasi

mental,

dan

lain-lain.

Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau


infeksi berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta
Aviditas Anti-CMV IgG.

HERPES SIMPLEKS TIPE II


Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes
Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar
melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam di ganglion sistem syaraf otonom.
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh
pada kulit, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui.
Infeksi HSV II pada bayi yang barn lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50
kasus).
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan IgM sangat penting
untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II
dan mencegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapat membahayakan janin yang
dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan
dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi
gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis.
Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu
mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi
yang tepat.

Panel TORCH
Anti Toxoplasma IgG dan IgM
Anti Rubella IgG dan IgM

Anti CMV IgG dan IgM


Anti HSV II IgG dan IgM

TETANUS NEONATORUM

Penyebab Tetanus Neonatorum adalah Clostridiun tetani, yang masuk


melalui tali pusat

sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk

disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh
penggunaan alat yang telah terkontaminasi dengan spora Clostridium tetani, maupun
penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang juga telah terkontaminasi. Kebiasaan
menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisionil yang tidak steril,
merupakan faktor yang utama dalam terjadinya Tetanus neonatorum.
Masa inkubasi berkisar antara 3-14 hari, tapi bisa lebih pendek ataupun
lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya masa
inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek.
Diagnosa tetanus neonatorum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan klinis. Gejala klinik yang karakteristik berupa:

Malas minum, mudah terangsang dan anak menangis terus menerus.

Tidak sanggup mengisap dan belakangan bayi berhenti menangis karena


rahang sukar dibuka disebabkan terjadinya kekakuan.

Kemudian diikuti kekakuan pada seluruh tubuh disertai kejang yang


tersentak (intermittent jerking spasm), terutama hal Individu yang imun
tetapi sensitif terhadap bahan toxin akan menimbulkan reaksi terhadap
keduanya, toxin dan toxoid. Reaksi kulit yang terjadi umumnya maksimal
pacta 48-72 jam, dan kemudian mulai menyusut dan menghilang.

Mulut mencucu, dan bila bayi menangis suara tangisan tidak jelas, terdengar
seperti mendesis

I. Perawatan Umum
A. Tindakan pertama pada saat penderita masuk ke rumah sakit

Atasi kejang dengan pemberian anti-convulsan, seperti diazepam dengan


dosis 2 -10 mg I.V. ataupun secara I.M.

Bila kejang sudah teratasi pasang nasa-gastric tube dan beri cairan intra-vena
Dextrose-NaCl untuk mengatasi kebutuhan cairan dan elektrolit, dan juga
untuk jalan pemberian obat.

Kalau memungkinkan hindari pemberian obat secara I.M. karena ini akan
merangsang
terjadinya muscular spasm.

B. Perawatan
1. Tempatkan bayi dalam inkubator untuk menghindari rangsangan dari luar.
2. Usahakan agar temperatur ruangan tetap.
3. Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya
rangsangan.
4.

Catat dan awasi denyut jantung, pols, pernafasan, temperatur bayi dan
temperatur inkubator, frekuensi dan beratnya muscular spasm.

5. Bersihkan mulut, nasofaring dari sekresi cairan yang menumpuk dengan cara
melakukan pengisapan lendir secara berulang, teratur dan hati-hati.
6. Catat pengeluaran kencing dan tinja, bila dijumpai gumpalan tinja.
7. Buat daftar cairan yang masuk dan keluar.
8. Lakukan perobahan posisi bayi setiap 2 jam.
9. Berikan salep antibiotik pada mata.
Pada setiap tindakan yang dilakukan terhadap bayi yang dirawat dengan
tetanus neonatorum harus dilakukan dengan seksama dan hati-hati, oleh karena
semua tindakan ini dapat merangsang terjadinya spasme dan kejang.
C. Perawatan tali pusat
Bila tali pusat masih ada bersihkan dengan hydrogen peroxide dan bila perlu
dilakukan tindakan bedah.

II. Antibiotika, Tetanus anti-toxin dan Toxoid


A. Antibiotika
Crystalline penicillin diberikan dengan dosis 100.000 unit/kg BB/hari dibagi
dalam 4 dosis dan diberikan secara intra vena untuk selama 7 hari, atau bila ini
tidak ada dapat digunakan Penicllin procaine 100.000 unit/kg BB/hari, diberikan
secara I.M. Bila dijumpai adanya komplikasi, broad spektrum anti biotika dapat
ditambahkan pemakaian broad spektrum anti biotika ini harus segera dipikirkan,

mengingat bahwa Tetanus neonatorum ini adalah termasuk penyakit yang berat
(tetanus yang berat).

B. Pemberian Anti-toxin
Pemberian anti-toxin bertujuan hanya untuk mengikat toxin yang masih beredar
dalam darah, ataupun toxin yang belum terikat dengan kuat. A.T.S dengan dosis
10.000 units dapat diberikan secara I.V. , ataupun dengan pemberian tetanus
immune globulin 500 units secara I.M. berupa dosis tunggal.

C. Tetanus toxoid
Tetanus toxoid harus diberikan, karena penderita yang sembuh dari tetanus
neonatorum tidak membentuk daya kebal terhadap tetanus (no convert of
immunity), sehingga kemungkinan untuk mendapat infeksi dengan tetanus pada
waktu mendatang akan tetap ada. Pada tetanus neonatorum pemberian tetanus
toxoid ini sebaiknya diberikan setelah penderita sembuh dan diberikan pada saat
bayi berumur 2 bulan atau lebih, bersamaan dengan pemberian imunisasi yang
lain. Berbeda dengan pemberian BCG, Polio dan hepatitis, dimana pemberian
vaksin ini dapat diberikan sesudah bayi lahir, sedang untuk pemberian tetanus
toxoid hal ini tidak dianjurkan sebelum bayi berusia diatas 6 minggu.

III. Kontrol Terhadap Kejang


Penyebab utama kematian pada Tetanus neonatorum adalah kejang klonik
yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikasinya. Dengan
penggunaan obat-obat sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang ini dapat diatasi.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman R. E., Kliegman R.M.,

Jenson

H.B. 2003. Nelson

textbook of

pediatrics.17th ed. China: Saunders.


Hay Jr W.W., Hayward A. R., Levin M. J., Sondheimer J.M. 2003. A LANGE
medical book CURRENT pediatric diagnosis & treatment. 16th ed. Boston:
McGRAW-HILL.
http://www.emedicine.com Neonatal Sepsis. 2004