Anda di halaman 1dari 34

Tugas Kelompok

LAPORAN PBL
MODUL 1 (B ERAT BADAN MENURUN)
SISTEM ENDOKRINOLOGI DAN METABOLISME

DI SUSUN OLEH : KELOMPOK VII

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
2012

KATA PENGANTAR

Tugas Kelompok

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Tutorial Modul 1
yang berjudul BB MENURUN. Laporan ini berisikan tentang berbagai pertanyaan dan
jawaban yang timbul pada pada modul 1. Diharapkan dalam laporan ini khususnya kami
dapat mengerti dan mengaplikasikan hasil tutorial kami di masyarakat.
Mungkin dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Sehingga kami
masihmemerlukan masukan dan kritikan yang membangun bagi kelompok kami.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan laporan ini. Besar harapan kami laporan ini berguna khususnya bagi
kami sendiri, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Allah SWT.

Makassar, 22 Mei 2012

Tugas Kelompok
SKENARIO 1
Seorang laki-laki umur 50 tahun, mengunjungi dokter oleh karena berat badan
menurun yang dialami sejak 3 bulan terakhir. Penderita juga mengeluh akhir-akhir ini selalu
merasa lemas, lelah dan selalu mengantuk.
KATA SULIT
Tidak ditemukan kata sulit dalam skenario ini.

KALIMAT KUNCI
1. Laki-laki umur 50 tahun
2. Berat badan menurun sejak 3 bulan terakhir
3. Perasaan lemas, lelah, dan selalu mengantuk

PERTANYAAN
1. Hormon-hormon yang berperan dalam regulasi Berat Badan !
2. Jelaskan etiologi berat menurun dan keterkaitannya dengan semua semua gejala !
3. Apa differensial diagnosa pada skenario tersebut?

Tugas Kelompok
1. Hormon-hormon yang berperan dalam regulasi BB
a. Hormon Tiroid dari Kelenjar Tiroid
Anatomi dan histologi

Kelenjar tiroid terdiri dari lobus kanan dan kiri dimana kedua lobus tersebut
dihubungkan oleh isthimus. Kelenjar ini terdapat pada bagian anterior trakea dan
beratnya diperkirakan 15-20 gram. Lobus kanan biasanya lebih besar dan lebih vaskular
dibandingkan lobus kiri. Kelenjar ini kaya akan pembuluh darah dengan aliran darah 46 ml/menit/gram. Pada keadaan hipertiroid, aliran darah dapat meningkat sampai 1
liter/menit sehingga dapat didengar dengan menggunakan stetoskop yang disebut bruit.
Tiroid mendapat persarafan dari adrenegik dan kholinergik yang berasal dari
ganglia servikal dan saraf vagus. Kedua sistem saraf ini mempengaruhi aliran darah
pada kelenjar tiroid yang akan mempengaruhi penghantaran berbagai bahan-bahan yang
dapat mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid,seperti TSH dan iodide. Selain itu, serabut
saraf adrenergik mencapai daerah folikel sehingga persarafan adrenergik diduga
mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid secara langsung melalui persarafannya pada
folikel.

Tugas Kelompok
Folikel atau acini yang berisi koloid merupakan unit fungsional dari
kelenjar tiroid. Dinding folikel dilapisi oleh sel kuboid yang merupakan sel tiroid
dengan ukuran yang bervariasi tergantung dari tingkat stimulasi pada kelenjar. Sel akan
berbentuk kolumner bila dalam keadaan aktif, dan berbentuk kuboid bila dalam
keadaan tidak aktif. Setiap 20-40 folikel dibatasi oleh jaringan ikat yang disebut septa
yang akan membentuk lobulus. Disekitar folikel terdapat sel parafolikuler atau sel C
yang menghasilkan hormon kalsitonin.
Didalam lumen folikel terdapat koloid dimana tiroglobulin yang merupakan
suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh sel tiroid akan disimpan. Koloid mampu
menyimpan bahan untuk sintesa hormon tiroid yang cukup untuk 100 hari.

Efek hormon tiroid pada metabolisme


Hormon tiroid merangsang hampir semua aktivitas metabolisme karbohidrat,
seperti

uptake

glukosa

oleh

sel,

meningkatkan

glikolisis,

meningkatkan

glukoneogenesis, meningkatkan absorbsi karbohidrat dari saluran cerna, dan


meningkatkan sekresi insulin yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi
metabolisme karbohidrat. Semua efek fisiologis ini kemungkinan disebabkan oleh
meningkatnya aktifitas enzim yang disebabkan oleh hormon tiroid.
Seperti halnya metabolisme karbohidrat, metabolisme lemak juga dipengaruhi
oleh hormon tirod. Lemak akan dimobilisasi dari jaringan lemak, sehingga
meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas dalam plasma; dan selain itu, oksidasi
asam lemak bebas dalam sel juga sangat meningkat. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan lemak dalam tubuh akan berkurang. Konsentrasi kolesterol, fosfolipid, dan
trigliserida plasma juga menurun. Berkurangnya hormon tiroid akan menyebabkan
peningkatan kolesterol, fosfolipid, dan trigliserida sehingga terjadi deposit lemak yang

Tugas Kelompok
berlebihan dihati. Hal ini yang menyebabkan sering terjadinya arteriosklerosis pada
penderita hipotiroidisme.
Metabolisme vitamin juga dipengaruhi oleh hormon tiroid. Oleh karena
hormon tiroid meningkatkan jumlah berbagai enzim yang berbeda dan oleh karena
vitamin merupakan bagian yang penting dari enzim atau koenzim, maka hormon tiroid
meningkatkan kebutuhan akan vitamin. Dengan demikian, kekurangan vitamin juga
dapat terjadi pada keadaan hipertiroidisme bila tidak disertai dengan suplementasi
vitamin.
Oleh karena hormon tiroid meningkatkan aktivitas metabolisme hampir semua
jaringan didalam tubuh, maka peningkatan konsentrasi hormon tiroid akan
meningkatkan kecepatan metabolisme basal dan konsumsi oksigen. Hormon tiroid
meningkatkan konsumsi oksigen pada semua jaringan kecuali otak, limpa, dan testis.
Peningkatan konsentrasi hormon tiroid dapat menyebabkan menurunnya berat
badan, dan penurunan konsentrasi tiroid dapat menyebabkan peningkatan berat badan.
Hal ini kemungkinan akibat pengaruh hormon tiroid terhadap metabolisme. Namun, hal
ini selalu terjadi oleh karena pada keadaan hormon tiroid meningkat, nafsu makan juga
meningkat dan hal ini menyebabkan terjadinya keseimbangan antara energi yang masuk
dan yang dipergunakan.

Tugas Kelompok
b. Hormon dari Kelenjar Adrenal
Anatomi dan Histologi

Anatomi kelenjar adrenal pertama kali dijelaskan oleh Bartholomeo


Eustachius pada tahun 1563. Kelenjar ini sepasang, masing-masing terletak pada bagian
atas atau posteromedial kedua ginjal (adrenal0 dengan bentuk seperti piramid. Kelenjar
adrenal mempunyai panjang berkisar 4-6 cm dan lebar 2-3 cm dengan tebal kurang
lebih 1 cm. Kelenjar adrenal mulai terbentuk pada usia kehamilan 2 bulan. Pada orang
dewasa 90 % terdiri dari korteks adrenal dan 10 % merupakan medulla adrenal.
Oleh karena fungsinya yang sangat penting, kelenjar adrenal sangat kaya akan
pembuluh darah (11 Atau 12 pembuluh darah kecil) yang berasal dari cabang-cabang
aoarta, a.renalis dan a.phrenicus. Darah arteri masuk ke korteks, mengalir melalui
kapiler yang mempunyai fenestra lalu masuk kedalam medulla membentuk suatu
pleksus. Pada medulla, darah akan masuk ke v.sentralis, selanjutnya ke v.adrenal dan
kemudian ke v.cava inferior. Pada kelenjar adrenal kiri, aliran darah vena akan masuk
ke v.renalis kiri. Struktur vaskularisasi ini penting diketahui untuk pengambilan darah
atau penyuntikan bahan radiografi ke kelenjar adrenal untuk diagnosa berbagai kelainan
pada kelenjar adrenal.

Tugas Kelompok
Persarafan kelenjar adrenal dilakukan oleh serabut eferen simpatis dari pleksus
torasikus bagian bawah dan pleksus lumbal bagian atas, serta serabut eferen
parasimpatis dari cabang saraf vagus. Serabut saraf yang berakhir pada sel glomerulosa
mengandung katekolamin, neuropeptida Y dan vasoactive intestinal poeptide (VIP).
Hal ini menyebabkan -agonis dan VIP dapat mempengaruhi sekresi kortisol dan
aldosteron. Juga terdapat jalur aferen antara kelenjar adrenal dan hipotalamus yang
memungkinkan stres dapat merangsang sekresi ACTH.
Secara histologis, korteks adrenal terdiri dari tiga zona : bagian luar adalah
zona glomerulosa (15%), bagian tengah zona fasiculata (75%), dan bagian dalam zona
retikularis (10 %). Namun, secara fungsional, nampaknya zona fasiculata dan zona
retikularis merupakan satu kesatuan fungsional oleh karena keduanya mengahasilkan
hormon kortisol dan hormon androgen, sedangkan zona gromerulosa menghasilkan
aldosteron. Perkembangan dari zona fasiculata dan zona retikularis dipengaruhi oleh
ACTH; dimana kelebihan ACTH akan menyebabkan hiperplasi dan hipertropi dari
kedua zona ini, sedangkan kekurangan ACTH akan menyebabkan atropi pada kedua
zona ini. Zona fasiculata memberi jawaban terhadap stimulasi akut dari ACTH untuk
meningkatkan produksi kortisol, sedangkan zona retikularis memberi respons terhadap
stimulasi kronik oleh ACTH dan mempertahankan sekresi basal kortisol.
Medulla adrenal mengandung sel-sel kromaffin yang bentuknya tidak teratur.
Sel-sel ini dinamakan sel kromaffin oleh karena pada pemeriksaan histopatologis selsel ini mempunyai afinitas terhadap garam chromium. Sel-sel katekolamin ini berfungsi
untuk sintesa dan sekresi katekolamin. Sel-sel kromaffin ini mengandung granula yang
penting untuk penyimpanan katekolamin, dimana pada manusia, 85% merupakan
epinefrin. Selain pada medulla adrenal, sel-sel kromafin juga terdapat diluar kelenjar

Tugas Kelompok
adrenal (extra-adrenal chromaffin), seperti diganglia simpatis. Fungsi sel-sel kromaffin
ekstra adrenal ini sampai sekarang belum jelas.
Efek Fisiologis Hormon Kortisol Terhadap Proses Metabolisme
Pada proses metabolisme karbohidrat, kortisol mempunyai dua efek, yaitu :
1.

Meningkatkan proses glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari protein atau


sumber lain selain karbohidrat) di hati, dan

2.

Mengurangi penggunaan glukosa oleh sel.


Proses glukoneogenesis terjadi akibat dua mekanisme. Pertama, meningkatnya

enzin-enzim yang mengubah asam amino menjadi glukosa dihati oleh efek kortisol
terhadap proses transkipsi DNA pada inti sel hati. Kedua, kortisol meningkatkan
mobilisasi asam amino dari jaringan ekstrahepatik, terutama dati otot. Akibatnya, lebih
banyak asam amino dalam plasma yang siap mengalami proses glukoneogenesis.
Kortisol juga meningkatkan respon hati terhadap hormon glukagon dan katekolamin
yang merupakan hormon glukoneogenetik. Oleh karena efeknya terhadap metabolisme
glukosa ini, kortisol juga disebut hormon glukokortikoid. Kortisol meningkatkan
sintesa dan penyimpanan glikogen hati dengan meningkatkan aktifitas glikogen sintase
dan dengan menghambat pemecahan glikogen. Efek ini tergantung pada hormon
insulin. Kelebihan hormon kortisol akan meningkatkan konsentrasi gula darah dan
mengurangi sensitifitas terhadap hormon insulin.
Pada proses metabolisme protein, kortisol mengurangi penggunaan jumlah
asam amino untuk pembentukan protein pada semua sel, kecuali di hati. Hal ini
disebabkan oleh berkurangnya sintesa protein dan meningkatnya katabolisme protein.
Kedua efek ini menyebabkan transport asam amino ke jaringan ekstrahepatik
berkurang.

Tugas Kelompok
Pada hati, asam amino ditransport ke dalam sel hati dimana akan dipergunakan
untuk proses glukoneogenesis, pembentukan glikogen dan sintesa protein. Peningkatan
sintesa protein di hati akan dilepaskan kesirkulasi sehingga konsentrasi protein akan
meningkat. Glukoneogenesis dari asam amino sangat penting peranannya dalam
keadaan puasa yang lama, oleh karena glukosa dalam sirkulasi dan glikogen dihati akan
dipergunakan dalam waktu kurang dari 24 jam. Kelebihan kortisol akan menyebabkan
kehilangan protein dalam jumlah besar, atropi dan kelemahan otot, kulit menjadi tipis
dan massa tulang akan berkurang.
Pada proses metabolisme lemak, kortisol meningkatkan mobilisasi asam
lemak dan gliserol dari jaringan adiposa dan hati melalui proses lipolisis. Hal ini akan
menyebabkan meningkatnya konsentrasi asam lemak dan gliserol dalam darah untuk
dipergunakan pada proses glukoneogenesis. Walaupun kortisol bersifat lipolitik,
kelebihan kortisol akan menyebabkan deposisi lemak. Hal ini disebabkan oleh karena
kortisol meningkatkan nafsu makan akibat hiperinsulnemia yang terjadi akibat
kelebihan kortisol. Pada keadaan ini, lemak umumnya terdistribusi pada wajah, daerah
servikal, badan dan abdomen. Wajah menjadi bulat sehingga disebut moon face.
Mengapa distribusi ini hanya pada lokasi-lokasi tersebut mekanismenya masih belum
jelas.

Efek Fisiologis Hormon Katekolamin Terhadap Proses Metabolisme


Katekolakomin meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas. Epek ini
nampaknya melalui aktifasi reseptor . Katekolamin menyebabkan glikogenolisis
(pembentukan glukosa dari glikogen) di hati dan otot melalui proses fosforilase, serta
mobilisasi lemak dari penyimpanannya. Hal ini menyebabkan tersedianya karbohidrat
dan lemak untuk dipergunakan sebagai sumber energi.

Tugas Kelompok
Perangsangan jaringan lemak menyebabkan terjadinya lipolisis dan pelepasan
asam lemak bebas dan gliserol kedalam sirkulasi untuk dipergukan oleh jaringan lain.
Hasil dari efek kalorigenik ini ialah meningkatnya kecepatan metabolisme.
Meningkatnya kecepatan metabolisme kemungkinan disebabkan oleh vasokonstriksi
pembuluh darah kulit, sehingga pelepasan panas berkurang sehingga suhu tubuh
meningkat. Kemungkinan lain adalah meningkatnya aktifitas otot akibat oksidasi asam
laktat di hati.
c. Hormon Kelenjar Pankreas
Anatomi dan Histologi

Pada manusia, pankreas terletak pada dinding posterior abdomen bagian atas
dengan berat sekitar 80 gram. Sebagian besar merupakan kelenjar yang terdiri dari selsel asinus yang menghasilkan enzizm-enzim pencernaan yang akan memasuki duktus
pankreatik menuju ke duodenum. Komponen endokrin pankreas terdiri dari kurang
lebih 0,7 sampai 1 juta sel endokrin yang dikenal sebagai islet of Langerhans atau
pulau-pulau Langerhans yang menyebar diantara komponen eksokrin. Pulau-pulau
Langerhans ini merupakan 1-1,5 % dari seluruh berat pankreas.

Tugas Kelompok
Terdapat 4 jenis sel pada pulau-pulau Langerhans, masing-masing sel A (sel
), sel B (sel ), sel D (sel ) dan sel F (sel PP). Sel B yang merupakan 70-80 % dari
semua sel-sel yang terdapat pada pulau-pulau Langerhans menghasilkan hormon
insulin. Sel A yang menghasilkan glukagon sekitar 20%, sel D yang menghasilkan
somatostatin 3-5%, dan sisanya merupakan sel F yang menghasilkan pancreatic
polipeptide. Secara fungsional, satu jenis sel dengan jenis sel lainnya pada pulau-pulau
Langerhans ini mempunyai hubungan, sehingga memungkinkan sekresi dari satu
hormon dapat mempengaruhi sekresi dari hormon lainnya. Misalnya, insulin
menghambat sekresi glukagon, dan somatostatin menghambat sekresi insulin dan
glukagon.

Jenis sel dan hormon yang dihasilkan oleh pulau-pulau Langerhans


Jenis sel
Sel A

Hormon yang dihasilkan


Glukagon,

glucagon-like

peptide,

proglukagon

Sel B

Insulin, proinsulin, GABA,peptide C

Sel D

Somatostatin

Sel F

Pancreatic polipeptide

1. Efek insulin terhadap metabolisme karbohidrat di hati

Tugas Kelompok
Di hati, insulin meningkatkan sintesa dan penyimpanan glikogen, dan pada
saat yang sama menghambat pemecahan glikogen. Diantara dua waktu makan dimana
konsentrasi glukosa menurun glikogen hati akan dipecah kembali menjadi glukosa dan
dilepaskan ke sirkulasi untuk menjaga agar konsentrasi gula darah tetap normal.
Mekanisme bagaimana insulin meningkatkan uptake dan penyimpanan glukosa di hati
dilakukan dengan jalan :
1.

Menghambat enzim fosforilase di hati yang menyebabkan glikogen dipecah


menjadi glukosa.

2.

Meningkatkan uptake glukosa dari darah ke sel hati. Hal ini dilakukan dengan
meningkatkan aktifitas enzim glukokinase yang menyebabkan awal proses
fosforilase glukosa sesudah terjadi difusi ke dalam sel hati. Setelah mengalami
fosforilase, glukosa akan disimpan sementara didalam sel hati oleh karena glukosa
yang telah mengalami fosforilase tidak dapat berdifusi kembali melalui membran
sel.

3.

Meningkatkan aktifitas enzim yang meningkatkan sintesa glikogen, seperti


fosfofruktokinase, yang merupakan enzim yang berperan dalam tahad kedua
fosforilase glukosa dan enzim glikogen sintase, yang berfungsi untuk polimerisasi
monosakarida membentuk molekul glikogen.
Diantara waktu makan, konsentrasi glukosa akan menurun dan hati akan

melepaskan glukosa kembali kedalam sirkulasi. Beberapa peristiwa yang terjadi pada
proses ini adalah sebagai berikut :
1.

Berkurangnya konsentrasi glukosa menyebabkan pankreas mengurangi sekresi


insulin.

Tugas Kelompok
2.

Berkurangnya insulin menyebabkan sintesa glikogen di hati akan berhenti dan


mencegah uptake glukosa oleh hati.

3.

Berkurangnya insulin mengaktifkan enzim fosforilase yang akan mengubah


glikogen menjadi glukosa fosfat.

4.

Enzim glukosa fosfatase yang tadinya dihambat oleh insulin, sekarang menjadi
aktif akibat berkurangnya insulin dan menyebabkan radikal fosfat akan lepas dari
molekul glukosa; sehingga glukosa akan berdifusi secara bebas kembali ke
sirkulasi.
Bila jumlah glukosa yang memasuki sel hati melebihi kapasitas penyimpanan,

maka insulin akan mengubah kelebihan glukosa tersebut menjadi asam lemak (fatty
acids). Asam lemak ini akan disimpan sebagai trigliserida dalam very low density
lipoprotein (VLDL) dan di transport ke jaringan lemak kemudian disimpan sebagai
lemak.
Insulin juga menghambat glukoneogenesis terutama dengan jalan mengurangi
jumlah dan aktifitas dari enzim-enzim di hati yang dibutuhkan untuk glukoneogenesis.
Namun, selain itu terhambatnya glukoneogenesis juga disebabkan oleh efek insulin
yang mengurangi pelepasan asam amino dari otot dan jaringan ekstrahepatik lainnya.
Dengan demikian mengurangi tersedianya bahan untuk proses glukoneogenesis.
Otak merupakan jaringan dimana insulin kurang mempunyai pengaruh
terhadap uptake dan penggunaan glukosa. Hal ini disebabkan oleh karena sel otak
permeabel otak terhadap glukosa walaupun tanpa insulin. Sel otak hanya menggunakan
glukosa sebagai sumber energi. Dengan demikian, sangat penting untuk menjaga
konsentrasi glukosa darah selalu dalam keadaan normal. Bila kadar glukosa turun

Tugas Kelompok
terlalu rendah, antara 20-50 mg/dl, maka akan timbul gejala-gejala syok hipoglikemik,
seperti menurunnya kesadaran, kejang-kejang dan bahkan koma.
Pengaruh Insulin Terhadap Metabolisme Lemak di Hati
Lemak, dalam bentuk trigliserida merupakan cara penyimpanan energi yang
paling efisien. Energi untuk setiap gram lemak adalah 9 kkal, lebih tinggi bila
dibandingkan dengan karbohidrat dan protein yang hanya berkisar 4 kkal/gram.
Peranan insulin yang meningkatkan penggunaan glukosa pada hampir semua jaringan
tubuh akan menyebabkan penggunaan lemak akan berkurang. Insulin juga merangsang
sintesa asam lemak (fatty acid) dan penggabungan asam lemak menjadi trigliserida di
hati dan jaringan lemak.
Meningkatnya sintesa asam lemak di hati disebabkan oleh :
1. Meningkatnya transport glukosa kedalam sel hati oleh insulin. Glukosa kemudian
akan dipecah menjadi piruvat melalui jalur glikolitik, dan selanjutnya piruvat akan
diubah menjadi asetil-CoA, yang merupakan bahan untuk sintesa asam lemak.
2. Bila banyak glukosa yang dipergunakan untuk energi akan menyebabkan
pembentukan sitrat dan isositrat melalui siklus asam sitrat. Sitrat dan isositrat ini
mempunyai pengaruh langsung terhadap aktifasi enzim asetil-CoA karboksilasi
yang akan membentuk malonil-CoA, yang merupakan tahap pertama sintesa asam
lemak.
Efek insulin terhadap metabolisme lemak di jaringan lemak
Insulin meningkatkan penyimpanan trigliserida pada jaringan lemak dengan
jalan :

Tugas Kelompok
1. Mengaktifkan lipoprotein lipase yang terdapat pada dinding kapiler dan sel endothel
jaringan lemak, yang akan menyebabkan hidrolisis trigliserida pada sirkulasi
menjadi asam lemak sehingga mudah untuk diabsorbsi kedalam jaringan lemak,
dimana asam lemak diubah kembali menjadi trigliserida dan disimpan.
2. Meningkatkan transport glukosa kedalam sel lemak yang akan dipergunakan untuk
sintesa asam lemak. Selain itu, insulin meningkatkan pembentukan gliserolfosfat,
suatu bahan yang dipergunakan untuk esterifikasi asam lemak menjadi trigliserida.
3. Menghambat lipolisis intraseluler dari trigliserida yang tersimpan dengan jalan
menghambat lipase intraseluler (hormone sensitive lipase).
Pemecahan dan penggunaan lemak untuk energi akan sangat meningkat bila
konsentrasi insulin sangat rendah, misalnya pada penderita diabetes mellitus. Dalam
keadaan tanpa insulin, terjadi aktifasi lipase intraselluler pada jaringan lemak yang
akan menyebabkan hidrolisis trigliserida, sehingga terjadi pelepasan asam lemak dan
gliserol kedalam sirkulasi. Hal ini akan menyebabkan peningkatan asam lemak bebas
dalam darah dalam beberapa menit untuk dipergunakan sebagai sumber energi utama
untuk semua jaringan tubuh.
Kelebihan asam lemak akibat tidak adanya insulin akan menyebabkan
perubahan asam lemak menjadi fosfolipid dan kolesterol di hati. Kelebihan fosfolipid,
kolesterol dan trigliserida di hati akan dikeluarkan ke sirkulasi secara bersamaan.
Peningkatan konsentrasi lemak yang tinggi ini terutama kolesterol akan menyebabkan
pembentukan arterosklerosis pada penderita diabetes yang berat, dan dapat
menyebabkan penyakit jantung koroner dan stroke.
Kekurangan insulin juga dapat menyebabkan berlebihnya asam asetoasetik
yang terbentuk di hati. Asam asetoasetik ini sebagian akan diubah menjadi asam

Tugas Kelompok
hidroksibutirit dan aseton. Kedua substansi ini dikenal sebagai benda keton.
Meningkatnya konsentrasi benda keton didalam darah disebut sebagai ketosis. Pada
penderita diabetes yang berat, kedua substansi tersebut dapat menyebabkan
ketoasidosis dan koma yang dapat menyebabkan kematian.
Pengaruh insulin terhadap metabolisme protein
Dalam metabolisme protein, insulin mempunyai efek terhadap sintesa,
penyimpanan protein, dan transport asam melalui membran sel. Jadi, efek insulin pada
metabolisme protein adalah meningkatkan pembentukan dan mencegah degradasi
protein.
Insulin meningkatkan sintesa protein dengan jalan meningkatkan translasi
mRNA pada ribosom. Dalam jangka panjang, insulin meningkatkan transkripsi DNA
pada inti sel sehingga banyak terbentuk mRNA. Insulin juga menghambat katabolisme
protein, jadi mengurangi pelepasan asam amino dari sel, terutama dari sel otot.
Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kemampuan insulin untuk menghambat
degradasi normal protein oleh enzim lisosom.
Insulin juga menghambat proses glukoneogenesis dengan jalan mengurangi
aktifitas enzim yang mengaktifkan glukoneogenesis. Oleh karena bahan untuk
glukoneogenesis

adalah

asam

amino

dalam

plasma,

maka

penghambatan

glukoneogenesis dapat tersimpan dalam tubuh.


Insulin meningkatkan transport asam amino kedalam sel. Diantara asam amino
yang paling kuat ditransport adalah valin, leusin, isoleusin, tirosin dan fenilalanin. Jadi
insulin

bersama

hormon

pertumbuhan

secara

sinergis

mempercepat

proses

Tugas Kelompok
pertumbuhan dengan jalan meningkatkan uptake asam amino kedalam sel. Namun,
asam amino yang dipengaruhi oleh kedua hormon ini mungkin berbeda.
2. Efek Fisiologi Glukagon Pada metabolisme
Efek glukagon pada metabolisme glukosa ialah :
1. Pemecahan glikogen di hati (glikogenolisis).
2. Meningkatkan glukoneogenesis pada hati.
Kedua efek ini meningkatkan penyediaan glukosa untuk kebutuhan jaringan.
Glukagon juga meningkatkan lipolisis pada jaringan lemak sehingga tersedia asam
lemak bebas dalam jumlah besar untuk dipergunakan sebagai sumber energi.
Glukagon juga mengambat penyimpanan trigliserida pada hati yang mencegah hati
untuk mengambil asam lemak dari darah. Glukagon juga mempunyai efek ketogenik.
Glukagon konsentrasi tinggi mempunyai efek inotropik pada jantung dengan
jalan meningkatkan cAMP yang selanjutnya akan memfosforilase Ca channel pada
membran sel otot jantung. Glukagon juga meningkatkan sekresi empedu dan
menghambat sekresi asam lambung.

d. Hormon GH dari Kelenjar Anterior Hipophysis

GH mempunyai efek metabolisme, seperti :


1. Meningkatkan kecepatan sintesa protein pada semua jaringan;

Tugas Kelompok
2. Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adiposa dan penggunaan asam
lemak untuk energi; dan
3. Mengurangi penggunaan glukosa oleh jaringan.
GH, melalui IGF-1, meningkatkan sintesa protein dengan jalan :
1. Meningkatkan transport asam amino melalui membran sel ;
2. Meningkatkan transkipsi DNA menjadi mRNA pada inti sel ;dan
3. Meningkatkan translasi mRNA menjadi protein pada ribosom.
Selain itu, GH juga mengurangi katabolisme protein dan asam amino dengan
jalan mobilisasi lemak secara lebih efisien sebagai sumber energi.
GH menyebabkan pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa sehingga
meningkatkan konsentrasi asam lemak dalam darah. Pada jaringan lainnya, GH
meningkatkan perubahan asam lemak menjadi asetilkoenzim A yang selanjutnya
dipergunakan sebagai sumber energi. Dengan demikian, dibawah pengaruh GH,
penggunaan lemak sebagai sumber energi lebih banyak dibandingkan karbohidrat dan
protein. Namun, mobilisasi lemak oleh GH memerlukan waktu beberapa jam,
sedangkan pengaruh GH terhadap sintesa protein dapat berlangsung dalam beberapa
menit. Bila terjadi sekresi GH yang berlebihan, mobilisasi lemak dari jaringan adiposa
dapat menyebabkan pembentukan asam asetoasetat oleh hati, sehingga terjadi ketosis.
Kelebihan GH juga dapat menyebabkan perlemakan hati (fatty liver).
Efek GH terhadap metabolisme karbohidrat terdiri dari :
1. Mengurangi penggunaan glukosa untuk sebagai sumber energi.
2. Meningkatkan deposisi glikogen sel
3. Mengurangi uptake glukosa oleh sel
4. Meningkatkan sekresi insulin dan mengurangi sensitifitas jaringan terhadap
insulin.

Tugas Kelompok
Berkurangnya penggunaan glukosa sebagai sumber energi kemungkinan
disebabkan oleh meningkatnya mobilisasi dan penggunaan asam lemak
sebagai sumber energi sehingga terjadi pembentukan asetil-CoA dalam jumlah besar
yang selanjutnya akan memberi efek umpan balik yang menghambat pemecahan
glukosa dan glikogen untuk sumber energi. Oleh karena glukosa dan glikogen tidak
mudah digunakan sebagai sumber energi, glukosa yang masuk kedalam sel dengan
cepat akan mengalami polimerisasi menjadi glikogen dan di deposisi. Dengan
demikian, sel dengan cepat akan mengalami saturasi terhadap glikogen dan
selanjutnya tidak dapat lagi menyimpannya. Meningkatnya konsentrasi glukosa oleh
GH, akan merangsang sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. Selain itu,
GH juga mempunyai efek secara langsung terhadap sel-sel beta pankreas. Kedua efek
ini akan menyebabkan sekresi insulin yang sangat berlebihan sehingga insulin akan
habis. Bila ini terjadi, dapat terjadi diabetes mellitus. Berdasarkan hal tersebut, GH
disebut mempunyai efek diabetogenik.
Dalam menjalankan fungsinya, GH memerlukan insulin dan karbohidrat. Pada
binatang coba, GH tidak dapat merangsang pertumbuhan bila pankreas diangkat, atau
tidak terdapat karbohidrat didalam diet. Jadi, aktifitas insulin yang cukup dan
tersedianya karbohidrat dalam makanan sangat diperlukan agar GH dapat berfungsi
secara optimal. Peranan insulin dan karbohidrat ialah menyediakan energi untuk
metabolisme pertumbuhan, selain itu insulin diperlukan untuk transport asam amino
dan glukosa kedalam sel.

Tugas Kelompok
2. Jelaskan etiologi berat menurun dan keterkaitannya dengan semua semua
gejala !
a. Berat Badan menurun
Hilangnya lemak, air/elektrolit, dan protein dapat mengakibatkan terjadinya
penurunan berat badan/ massa tubuh. Protein dan lemak merupakan sumber energi
cadangan tubuh yang disintesa oleh tubuh pada keadaan dimana energi utama
(glukosa) tidak atau sedikit dalam menghasilkan energi.
Kurang atau tidak adanya energi yang dihasilkan melalui glukosa dapat
diakibatkan oleh adanya gangguan metabolisme, gangguan absorpsi sel, atau
gangguan uptake makanan.
Gangguan

metabolisme

seperti

hiperglikemia

atau

hipertiroid

dapat

menyebabkan terjadinya penurunan berat badan.


1) Hiperglikemia adalah suatu keadaan dimana terjadi kelebihan glukosa dalam
darah. Oleh karena gangguan kerja insulin (DM tipe 2) atau gangguan sekresi
insulin (DM tipe 1). Karena insulin yang merupakan pintu masuk glukosa ke
dalam sel mengalami gangguan maka sel tubuh menggunakan energi cadangan.
Pertama, tubuh menggunakan jaringan adiposa sebagai konpensator atau
kurangnya glukosa melalui proses lipolisis, glukoneogenesis dari gliserol.
Pada keadaan hiperglikemia kronik, sel tubuh akan tetap mengalami kelaparan
sehingga tidak hanya lemak yang dilisiskan, bahkan protein sebagai pembentuk
otot akan dilisiskan pula untuk memenuhi kebutuhan energi sel. Berkurangnya
lemak dan protein tubuh akan menyebabkan penurunan massa tubuh.
2) Pada keadaan hipertiroid terjadi peningkatan metabolisme basal 60-100% diatas
normal sehingga lemak dan protein yang digunakan pada keadaan basal akan
mengalami lisis yang terjadi sangat cepat.

Tugas Kelompok
3) Gangguan uptake makanan seperti pada keadaan anorexia membuat tubuh
kehilangan asupan energi dan nutrisi khusus glukosa. Jika terjadi kekurangan, sel
dalam tubuh akan mengalami kelaparan, disamping itu tidak dapat disintesis
lemak dan protein sebagai cadangan energi. Dengan kata lain, pada keadaan ini
selain protein dan lemak tidak disintesa, keduanya juga digunakan sebagai energi
alternatif, sehingga terjadi penurunan massa tubuh yang cukup berarti.
Pengaruh Hormon Insulin
Hormon insulin berperan dalam metabolisme glukosa dalam sel. Apabila ada
gangguan pada sekresi dan kerja insulin, misalnya hiposekresi dan resistensi insulin,
maka akan menimbulkan hambatan dalam utilisasi glukosa serta peningkatan kadar
glukosa darah (hiperglikemia). Hiposekresi insulin disebabkan oleh rusaknya sel beta
pankreas sedangkan resistensi insulin disebabkan tidak adanya atau tidak sensitifnya
reseptor insulin yang berada di permukaan sel. Hiposekresi dan resistensi insulin
menyebabkan glukosa tidak masuk ke dalam sel sehingga tidak dihasilkan energi.
Akibatnya, terjadi penguraian glikogen dalam otot dan pemecahan protein sehingga
menyebabkan penurunan berat badan.
Pengaruh Hormon Tiroid
Hormon tiroid berperan dalam metabolisme yang terjadi dalam tubuh. Kelebihan
hormon tiroid menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme basal yang terjadi
dalam tubuh. Apabila glukosa tidak mampu mencukupi kebutuhan metabolisme
tubuh, maka tubuh menggunakan glikogen dan protein sebagai bahan bakar
penggantinya.Akibatnya, massa otot menurun dan berat badan pun menurun.
Pengaruh Hormon Kortisol
Salah satu hormon yang mengatur regulasi berat badan adalah kortisol. Apabila terjadi
penurunan kortisol, akan berakibat pada menurunnya metabolisme dalam tubuh.

Tugas Kelompok
Penurunan kortisol ini sendiri dapat disebabkan oleh destruksi korteks adrenal.
Penurunan metabolisme dalam tubuh akan mengakibatkan penurunan jumlah energi
yang diperoleh (ATP menurun). Penurunan produksi ATP menyebabkan otottidak
mendapatkan cukup energi untuk bekerja. Hal ini memicu terjadinya pemecahan di
dalam otot sendiri, sehingga massa otot berkurang. Penurunan massa otot ini pada
akhirnya akan menyebabkan penurunan berat badan.

b. Lemas, lelah (malaise) dan mudah mengantuk


Lemah dan lelah disebabkan oleh penurunan utilisasi glukosa oleh jaringan
(kekurangan energi) dan terjadi peningkatan metabolisme anaerob yang menghasilkan
energi lebih sedikit serta penumpukan asam laktat. Dapat pula disebabkan oleh ketosis
yang kemudian menyebabkan asidosis metabolik, penurunan massa otot akibat
penguraian

protein,

glikogen

danosmosis

akibat

hiperglikemia.

Mengantuk

disebabkan oleh menurunnya suplai oksigen pada otak. Hal ini disebabkan karena
penurunan insulin yang menyebabkan tingginya kadar glukosa dalam darah.
Tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) akan mengakibatkan viskositas
darah meningkat. Peningkatan viskositas darah akan menyebabkan penurunan volume
plasma. Penurunan volume plasma ini juga berarti bahwa volume darah yang dipompa
oleh jantung menurun. Hal ini berdampak pada kurangnya transpor darah ke otak
sehingga otak tidak mendapatkan cukup oksigen. Hal inilah yang menyebabkan
timbulnya rasa kantuk.

Tugas Kelompok
3. Apa differensial diagnosa pada skenario tersebut?
a. Dibetes Melitus Tipe 2
Definisi
Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya.
Secara epidemiologik diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset
adalah 7 tahun setelah diagnosis ditegakkan sehingga morbiditas dan mortalitas
dini terjadi pada kasus tidak terdeteksi ini.

Etiologi
Non Insulin Inpendent Diabetes Mellitus (NIDDM)

atau Diabetes

Melitus Tidak Tergantung Insulin disebabkan karena kegagalan relatif sel


dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin
untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel

tidak mampu mengimbangi

resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin.


Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada
rangsangan glukosa, namun pada rangsangan glukosa bersama bahan
perangsangsekresi insulin lain. Berarti sel pankreas mengalami desensitisasi
terhadap glukosa.
Patogenesis DM tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua

masalah utama yaitu yang

berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi

Tugas Kelompok
insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada
permukaan sel sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut,terjadi
sel resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intra
sel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan.Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah,harus

terdapat peningkatan

jumlah insulin yang disekresikan pada penderita toleransi glukosa terganggu,


keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa
akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa
akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Pada DM tipe II, kelainan terletak
di beberapa tempat : Sekresi insulin oleh pancreas mungkin cukup, tetapi
terdapat keterlambatan, sehingga glukosa sudah diabsorpsi masuk darah tapi
insulin belum memadai, Jumlah reseptor di jaringan perifer kurang (antara
20.000 30.000), pada obesitas bahkan hanya sekitar 20.000, Jumlah reseptor
cukup, tetapi kualitas reseptor jelek,sehingga insulin tidak efektif. Terdapat
kelainan di pasca reseptor, sehingga proses glikolisis intra seluler terganggu.
Adanya kelainan campuran di antara no 1,2,3 dan 4.
Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak
tetapi reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel kurang. Reseptor
insulin ini diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk kedalam sel. Pada
keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun
anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor)
kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan
kekurangan glukosa dan glukosa di dalam darah akan meningkat. Dengan

Tugas Kelompok
demikian keadaan ini sama dengan pada DM Tipe 1. Perbedaanya adalah DM
Tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi, juga kadar insulin tinggi atau normal.
Keadaan ini disebut resistensi insulin. Faktor-faktor yang banyak berperan
sebagai penyebab resistensi insulin :
1. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)
2. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
3. Kurang gerak badan
4. Faktor keturunan (herediter)
Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 mempunyai dua efek fisiologis. Sekresi insulin
abnormal dan resistensi terhadap kerja insulin pada jaringan sasaran. Ada tiga fase
normalitas. Pertama glukosa plasma tetap normal meskipun terlihat resistensi urin
karena kadar insulin

meningkat. Kedua, resistensi insulin cenderung menurun

sehingga meskipun konsentrasi insulin meningkat, tampak intoleransi glukosa bentuk


hiperglikemia. Pada diabetes mellitus tipe 2, jumlah insulin normal, malah mungkin
banyak, tetapi jumlah reseptor pada permukaan sel yang kurang. Dengan demikian,
pada DM tipe 2 selain kadar glukosa yang tinggi, terdapat kadar insulin yang tinggi
atau normal.

Keadaan ini disebut sebagai resistensi insulin. Penyebab resistensi

insulin sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor berikut ini turut berperan baik pada
DM tipe 1 atau2, jika kadar glukosa dalam darah melebihi ambang batas ginjal, maka
glukosa itu akan keluar melalui urine.

Manifestasi klinis
Manifestasi Klinik DM :
Poliuria
Polidipsia

Tugas Kelompok
Polifagia
Penurunan berat badan
Lemah
Kesemutan
Gatal
Mata kabur
Disfungsi ereksi pada pria
Pruritus vulvae pada wanita.

Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan glukosa darah sewaktu

Kadar glukosa darah puasa

Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Diagnosis
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu
> 200 mg/dl atau glukosa darah puasa 126 mg/dl sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM. Bila hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan,
pemeriksaan TTGO diperlukan untuk memastikan diagnosis DM . Untuk
diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2
jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2
kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM pada hari yang lain atau TTGO
yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan khas hiperglikemia
dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan yang
menurun cepat.

Tugas Kelompok
Penatalaksanaan
1. Perencanaan makan
Pada consensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) telah ditetapkan
bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan dengan komposisi seimbang berupa
karbohidrat (60-70%), protein (10-15%) dan lemak (20-25%)
2. Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani teratur, 3-4 kali seminggu selama 30 menit yang sifatnya
sesuai CRIPE (Continous, Rhytmical, Interval, Progressive,Endurance training)
3. Obat hipoglikemik oral
a. Sulfonilurea
Obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara:
-

Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan

Menurunkan ambang sekresi insulin

Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.

b. Biguanid
Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai dibawah normal.
c. Inhibitor glukosidase
Menurunkan

penyerapan

glukosa

dan

menurunkan

kadar

hiperglikemia

pascaprandial.
d. Insulin sensitizing agent
Dapat mengatasi masalah resistensi insulin dan berbagai masalah akibat resistensi
inslin dan berbagai masalah akibar resistensi inslin tanpa menyebabkan
hipoglikemia.s

Tugas Kelompok
Epidemiologi
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh
dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya
terus meningkatdengan cepat, dan diperkirakan pada tahun

2030,

angka ini akan

bertambah menjadi 366 juta atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh
dunia, namun lebih sering(terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan
prevalens terbesar terjadi di Asiadan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan
perubahan gaya hidup, seperti pola makan Western style yang tidak sehat. Di Indonesia
sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417
responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar
glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberiglukosa oral 75 gram).
Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2%mengalami
Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM maupun TGT lebih banyak ditemukan
pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada golongan dengan tingkat
pendidikan dan status sosial rendah. Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi
yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia
penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%.

Beberapa hal yang

dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral), hipertensi, kurangnya


aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.

b. Hipertiroidisme
Definisi
Hipertiroidisme merupakan tirotoksikosis sebagai akibat dari hiperaktif
kelenjar tiroid.

Tugas Kelompok

Etiologi
Lebih dari 90% hipertiroidisme adalah penyakit Graves dan nodul
tiroid toksik.

Patogenesis
Pada penyakit Graves, limfosit T mengalami perangsangan terhadap
antigen yang berada didalam kelenjar tiroid yang selanjutnya akan
merangsang limfosit B untuk mensintesis antibodi terhadap antigen tersebut.
Antibodi yang disintesis akan bereaksi dengan reseptor TSH didalam
membran sel tiroid sehingga akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel
tiroid, dikenal dengan TSH-R antibody. Adanya antibodi didalam sirkulasi
darah mempunyai korelasi yang erat dengan aktivitas dan kekambuhan
penyakit.

Mekanisme

otoimunitas

merupakan

faktor

penting

dalam

patogenesis terjadinya hipertiroidisme, oftalmopati, dan dermopati pada


penyakit graves.
Sampai saat ini dikenal ada 3 autoantigen utama terhadap kelenjar
tiroid yaitu tiroglobulin (Tg), thyroidal peroxidase (TPO) dan reseptor TSH
(TSH-R). Disamping itu terdapat pula suatu protein dengan BM 64 kiloDalton
pada permukaan membran sel tiroid dan sel-sel orbita yang diduga berperan
dalam proses terjadinya perubahan kandungan orbita dan kelenjar tiroid
penderita

penyakitgraves.

Sel-sel tiroid mempunyai kemampuan bereaksi dengan antigen diatas


dan bila terangsang oleh pengaruh sitokin (seperti interferon gamma) akan

Tugas Kelompok
mengekspresikan molekul-molekul permukaan sel kelas II (MHC kelas II,
seperti DR4) untuk mempresentasikan antigen pada limfosit T.
Faktor genetik berperan penting dalam proses autoimun, antara lain
HLA-B8 dan HLA-DR3 pada ras Kaukasus, HLA-Bw46 dan HLA-B5 pada
ras Cina dan HLA-B17 pada orang kulit hitam. Faktor lingkungan juga ikut
berperan dalam patogenesis penyakit tiroid otoimun seperti penyakit Graves.
Virus yang menginfeksi sel-sel tiroid manusia akan merangsang ekspresi DR4
pada permukaan sel-sel folikel tiroid, diduga sebagai akibat pengaruh sitokin
(terutama interferon alfa). Infeksi basil gram negatif Yersinia enterocolitica,
yang menyebabkan enterocolitis kronis, diduga mempunyai reaksi silang
dengan otoantigen kelenjar tiroid. Antibodi terhadap Yersinia enterocolitica
terbukti dapat bereaksi silang dengan TSH-R antibody pada membran sel
tiroid yang dapat mencetuskan episode akut penyakit Graves. Asupan yodium
yang tinggi dapat meningkatkan kadar iodinated immunoglobulin yang
bersifat lebih imunogenik sehingga meningkatkan kecenderungan untuk
terjadinya penyakit tiroid otoimun. Dosis terapeutik dari lithium yang sering
digunakan

dalam

pengobatan

psikosa

manik

depresif,

dapat

pula

mempengaruhi fungsi sel limfosit T suppressor sehingga dapat menimbulkan


penyakit tiroid otoimun. Faktor stres juga diduga dapat mencetuskan episode
akut penyakit Graves, namun sampai saat ini belum ada hipotesis yang
memperkuat dugaan tersebut. Terjadinya oftalmopati Graves melibatkan
limfosit sitotoksik (killer cells) dan antibodi sitotoksik lain yang terangsang
akibat adanya antigen yang berhubungan dengan tiroglobulin atau TSH-R
pada fibroblast, otot-otot bola mata dan jaringan tiroid. Sitokin yang terbentuk
dari limfosit akan menyebabkan inflamasi fibroblast dan miositis orbita,

Tugas Kelompok
sehingga menyebabkan pembengkakan otot-otot bola mata, proptosis dan
diplopia. Dermopati Graves (miksedema pretibial) juga terjadi akibat stimulasi
sitokin didalam jaringan fibroblast didaerah pretibial yang akan menyebabkan
terjadinya akumulasi glikosaminoglikans

Manifestasi klinis
-

Penurunan berat badan

Kelelahan

Tremor

Gugup

Berkeringar banyak

Tidak tahan panas

Palpitasi

Pembesaran tiroid

Pemeriksaan penunjang
1. Kadar total tyroksin triyodotironin serum
2. Tiroksin bebas
3. Kadar TSH serum
4. Ambilan yodium radioisotope

Tugas Kelompok

Komplikasi
a. Fibrilasi atrium
b. Periode paralisis akibat hypokalemia
c. Hiperkalsemia
d. Nefrokalsinosis
e. Impotensi
f. Ginekomastia

Penatalaksanaan
1. Pengobatan jangka panjang dengan obat-obat antitiroid seperti
propiltiourasil atau metimazol.
2. Penyekat Beta seperti propanol diberikan bersamaan dengan obatobat anitiroid.
3. Pembadahan tiroidektomi subtotal sesudah terapi propiltirourasil
prabedah.
4. Pengobatan dengan yodium radioaktif (RAI)

Tugas Kelompok

Daftar Pustaka
John. E. Hall. Guyton & Hall. Buku Saku Fisiologi Kedokteran Edisi 11. EGC. Jakarta: 2010.
Hal: 933
Setiyohadi, Bambang, dkk. 2006. Buku Ajar IlmuPenyakitDalamJilid III Edisi IV. Jakarta;
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-UI.
Robbins, Stanley L, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 7 Volume 2. Jakart; EGC
Price, Sylvia Anderson and Lorraine McCarty Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.