Anda di halaman 1dari 26

Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebrata dan Invertebrata

Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebrata


Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ paru-paru, kulit, ginjal,
dan hati. Namun yang terpenting dari keempat organ tersebut adalah ginjal.
1. Sistem ekskresi pada mamalia
Sistem Ekskresi pada mamalia hampir sama dengan manusia tetapi sedikit berbeda karena
mamalia dipengaruhi/disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya.
Paru-paru mamalia mempunyai permukaan ber spon (spongy texture) dan dipenuhi liang
epitelium dengan itu mempunyai luas permukaan per isipadu yang lebih luas berbanding luas
permukaan paru-paru. Paru-paru manusia adalah contoh biasa bagi paru-paru jenis ini.
Paru-paru terletak di dalam rongga dada (thoracic cavity), dilindungi oleh struktur bertulang
tulang selangka dan diselaputi karung dwi dinding dikenali sebagai pleura. Lapisan karung
dalam melekat pada permukaan luar paru-paru dan lapisan karung luar melekat pada dinding
rongga dada. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan udara yang dikenali sebagai rongga
pleural yang berisi cecair pleural ini membenarkan lapisan luar dan dalam berselisih sesama
sendiri, dan menghalang ia daripada terpisah dengan mudah.
Bernafas kebanyakannya dilakukan oleh diafragma di bawah, otot yang mengucup menyebabkan
rongga di mana paru-paru berada mengembang. Sangkar selangka juga boleh mengembang dan
mengucup sedikit.
Ini menyebabkan udara tetarik ke dalam dan keluar dari paru-paru melalui trakea dan salur
bronkus (bronkhial tubes) yang bercabang dan mempunyai alveolus di ujung yaitu karung kecil
dikelilingi oleh kapilari yang dipenuhi darah. Di sini oksigen meresap masuk ke dalam darah, di
mana oksigen akan d angkut melalui hemoglobin.
Darah tanpa oksigen dari jantung memasuki paru-paru melalui pembuluh pulmonari dan lepas
dioksigenkan, kembali ke jantung melalui salur pulmonari.

2.Sistem ekskresi pada ikan


Ikan mempunyai system ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut
urogenital.Lubang urogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran ginjal dan saluran
kelamin yang berada tepat dibelakang anus.
Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus yang jumlahnya lebih
banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glomelurus sehingga
penyaringan sisa hasil metabolisme berjalan lambat.
3.Sistem ekskresi pada amfibi
Saluran ekskresi pada katak yaitu ginjal, paru-paru,dan kulit. Saluran ekskresi pada katak jantan
& betina memiliki perbedaan, pada katak jantan saluran kelamin & saluran urin bersatu dengan
ginjal, sedangkan pada katak betina kedua saluran itu terpisah. Walaupun begitu alat lainnya
bermuara pada satu saluran dan lubang pengeluaran yang disebut kloaka.
4.Sistem ekskresi pada reptil
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satusatunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme.Reptil yang hidup di darat sisa
hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat
berwarna putih.
SISTEM EKSKRESI
PADA HEWAN INVERTEBRATA
Sistem ekskresi invertebrata berbeda dengan sistem ekskresi pada vertebrata. Invertebrata belum
memiliki ginjal yang berstruktur sempurna seperti pada vertebrata. Pada umumnya, invertebrata
memiliki sistem ekskresi yang sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu
dengan invertebrata lainnya.
Alat ekskresinya ada yang berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Nefridium adalah
tipe yang umum dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata. Berikut ini akan dibahas sistem
ekskresi pada cacing pipih (Planaria), cacing gilig (Annellida), dan belalang.

1. Sistem Ekskresi pada Cacing Pipih


Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut sebagai protonefridium. Protonefridium
tersusun dari tabung dengan ujung membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium
terdapat sel api yang dilengkapi dengan silia.
Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti gerakan api lilin. Air dan
beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus dan
menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran
bercabang menjadi pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh
(nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini.
Sebagian besar sisa nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke
sistem pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi secara langsung
dari sel ke air.
2. Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska
Anelida dan molluska mempunyai organ nefridium yang disebut metanefridium. Pada cacing
tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang
metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir.
Metanefridium memiliki dua lubang. Lubang yang pertama berupa corong, disebut nefrostom (di
bagian anterior) dan terletak pada segmen yang lain. Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga
tubuh (pseudoselom). Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong
(nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya.
Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung. Kemudian
gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan lubang
(corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke
nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium,
bahan-bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel
tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi.
Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar.

Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan


substansi yang berguna ke sistem sirkulasi.
Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada dua
bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena cacing tanah
hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di
dalam tanah tetapi ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi.
3.Alat ekskresi pada Belalang (Insekta)
Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi
seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus yang berwarna
putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di samping pembuluh
Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang
berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam
tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut
asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut.
Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat
pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan
yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam
diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke
usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus
bersama dengan feses.

SISTEM EKSKRESI : SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN SISTEM EKSKRESI PADA


MANUSIA 1 2 SISTEM EKSKRESI

Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata : Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata Title in
here

EKSKRESI PADA CACING PIPIH : EKSKRESI PADA CACING PIPIH Platyhelminthes


Cacing pipih memiliki alat pengeluaran zat-zat sisa berupa protonefridium yang mengandung sel
api berflagel (flame cell). Flagel pada sel api berperan untuk menggerakan air agar masuk ke
dalam sel api. Air akan dikeluarkan kembali melalui lubang nefridiofor. Title in here Title in here
Title in here Title in here Title in here BACK

EKSKRESI PADA CACING TANAH : EKSKRESI PADA CACING TANAH Alat ekskresi
pada cacing tanah berupa sepasang metanefridium yang terdapat pada setiap segmen tubuhnya,
kecuali pada segmen tiga terakhir. Metanefridium memiliki dua lubang, nefrostom merupakan
ujung yang terdapat dalam segmn, terbuka, dan berbentuk corong bersilia, sedangkan ujung
lainnya yang bermuara keluar tubuh disebut nefridiofor. BACK

EKSKRESI PADA BELALANG (Insekta) : EKSKRESI PADA BELALANG (Insekta) Pada


belalang, terdapat organ ekskresi yang disebut pembuluh malpighi. Pembuluh malpighi
merupakan penjuluran usus. Pembuluh tersebut menimbun buangan nitrogen, garam-garam, dan
air yang berasal dari cairan soelom. Garam-garam dan air diserap kembali melalui epitel rektum,
sedangkan buangan nitrogen kering dikeluarkan bersama feses. next

SISTEM EKSKRESI HEWAN VERTEBRATA : SISTEM EKSKRESI IKAN SISTEM


EKSKRESI AMFIBI SISTEM EKSKRESI REPTIL SISTEM EKSKRESI BURUNG (AVES)
SISTEM EKSKRESI HEWAN VERTEBRATA

EKSKRESI PADA IKAN : EKSKRESI PADA IKAN Ikan merupakan hewan vertebrata yang
kedudukannya paling rendah dibandingkan dengan hewan vertebrata lainnya. Alat pengeluaran
utama pada ikan yaitu ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut urogenital. back
EKSKRESI PADA AMFIBI : EKSKRESI PADA AMFIBI Salah satu hewan yang sering
digunakan untuk mempelajari sistem ekskresi pada Amfibi adalah katak. Alat ekskresi pada
katak terdiri atas ginjal, paru-paru, dan kulit. Saluran zat-zat sisa hasil metabolisme akan
dikeluarkan melalui kloaka. back
EKSKRESI PADA REPTIL : EKSKRESI PADA REPTIL Sistem ekskresi pada Reptil (kadal)
memiliki alat-alat pengeluaran berupa ginjal, paru-paru, kulit dan kloaka. Kloaka merupakan
satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme dari dalam tubuh hewan
reptil. back
EKSKRESI PADA BURUNG (AVES) : EKSKRESI PADA BURUNG (AVES) Burung memiliki
alat pengeluaran berupa ginjal, usus, dan saluran pembuangan yang bermuara pada kloaka. Zatzat sisa hasil metabolisme nitrogen berupa asam urat yang berasal dari ginjal dikeluarkan melalui
kloaka. Back

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Semua hewan pasti mempunyai system ekskresi
masing-masing dan tentunya berbeda-beda pula, yaitu Sistem ekskresi invertebrata berbeda
dengan sistem ekskresi pada vertebrata. Invertebrata belum memiliki ginjal yang berstruktur
sempurna seperti pada vertebrata. Pada umumnya, invertebrata memiliki sistem ekskresi yang
sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan invertebrata lainnya.
alat pengeluaran pada hewan invertebrata berupa nefridium, sel api, atau buluh Malphigi.
Sedangkan Alat ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya berupa ginjal, paru-paru, kulit, dan
hati. Organ nefridium yang disebut sebagai protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung
dengan ujung membesar mengandung silia. Pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang
berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Ekskresi berarti pengeluaran zat buangan atau zat sisa
hasil metabolisme yang berlangsung dalam tubuh organisme. Zat sisa metabolisme dikeluarkan
dari tubuh oleh alat ekskresi. Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga
cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi
sebagian besar penyusun cairan tubuh. 2. Tujuan Untuk mengetahui system ekskresi pada hewan
dan manusia. 3. Batasan masalah Makalah ini hanya membahas masalah system ekskresi saja
yang ada pada hewan invertebrate, hewan vertebrata dan pada manusia. BAB II PEMBAHASAN
A. Sistem Ekskresi Pada Invertebrata 1. Hewan Beresel Satu (Protozoa) Belum mempunyai alat
ekskresi khusus. Zat sisa di keluarkan melalui vakoula kontraktil (rongga berdenyut) yang
berfungsi untuk mengatur kadar airt dalam sel sehingga nilai osmosis isi sel tetap terpelihara. 2.
Sistem Ekskresi pada Cacing Pipih Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut
sebagai protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung membesar
mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang dilengkapi dengan silia. Tiap
sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti gerakan api lilin. Air dan beberapa
zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus dan menggerakan
air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi
pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh (nefridiofora). Air
dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini. Gbr. Struktur alat ekskresi pada casing pipih Sebagian
besar sisa nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke sistem
pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi secara langsung dari sel
ke air. Intinya, sel api yang dilengkapi ole silia itu bergetar yang menyebabkan cairan terdorong
ke saluran pengumpul yang pada akhirnya bermuara di saluran pengeluaran. 3. Cacing tanah

cacing tanah memiliki alat ekskresi yaitu Nefridium, setiap nefridium memiliki corong yang
terbuka dan bersilia yang disebut Nefrostom. Mekanismenya : Nefrostom yang terdapat di dalam
rongga tubuh dan terisi penuh dengan cairan, cairan yang diambil oleh nefrostom tersebut
kemudian masuk ke dalam nefridia, di dalam nefridia terjadi Reabsorpsi atau penyerapan
kembali cairan yang masih bermanfaat. Cairan yang sudah tidak bermanfaat lagi akan di
keluarkan melalui Nefridiofor. 4. Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska Anelida dan
molluska mempunyai organ nefridium yang disebut metanefridium. Pada cacing tanah yang
merupakan anggota anelida,

setiap segmen

dalam tubuhnya

mengandung

sepasang

metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir. Metanefridium memiliki dua
lubang. Lubang yang pertama berupa corong, disebut nefrostom (di bagian anterior) dan terletak
pada segmen yang lain. Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga tubuh (pseudoselom).
Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong (nefrostom) akan berlanjut pada
saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya. Gbr. Sistem ekskresi pada anelida Bagian
akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung. Kemudian gelembung
ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan lubang (corong) yang
kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh
gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-bahan
yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel tertentu dari
tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen
dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar. Metanefridium berlaku
seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan substansi yang berguna ke
sistem sirkulasi. Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat
sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena
cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang lembab, anelida mendifusikan sisa
amonianya di dalam tanah tetapi ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi. 5. Alat Ekskresi
pada Belalang Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran
yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus
yang berwarna putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di
samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa
hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam

tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut
asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut. Pembuluh Malpighi terletak di antara
usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak
lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan
sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis
dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi.
Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses. Gbr. Sistem Ekskresi
pada belalang 2. Sistem Ekskresi Pada Vertebrata 1. Sistem ekskresi pada ikan Ikan mempunyai
system ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut urogenital. Lubang
urogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran ginjal dan saluran kelamin yang berada tepat
dibelakang anus. Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus yang
jumlahnya lebih banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glomelurus
sehingga penyaringan sisa hasil metabolisme berjalan lambat. Perbedaan proses ekskresi pada
ikan air tawar dan ikan air laut. Organ ekskresi ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang
disebut, opistonefros , ginjal tipe ini bekerja keras sepanjang waktu untuk menyaring kelabihan
air dari darah, dan menghasilkan urine yang diekskresikan sepanjang waktu. Pada ikan air tawar,
mereka meakukan adaptasi dengan tidak pernah minum atau dengan sangat sedikit minum. Air
laut memiliki kadar garam yang sangat tinggi, bila dibandingkan kadar garam dalam tubuh ikan
itu sendiri. Akibatnya, tubuh ikan air laut sangat mudah mengalami dehidrasi [karena air
cenderung mengalir keluar ke lingkungan melalui proses osmosis]. untuk mengatasinya: ikan
air laut tidak memiliki glomerulus, akibatnya: mekanisme filtrasi tidak terjadi dan reabsorbsi
pada tubulus terjadi pada skala kecil. ikan air laut, beradaptasi dengan cara meminum banyak
air laut dan sedikit mengeluarkan urine. ikan air laut, menghilangkan kadar garam berlebih
dalam tubuhnya melalui proses desalinasi bagaimana dengan penanganan sampah organik dalam
tubuh berbentuk Nitrogen. pada hewan akuatik, sampah nitrogen dikeluarkan dalam bentuk
Amonia. Ekskresi amonia dilakukan secara difusi melaui insang 2. Sistem ekskresi pada amfibi
Saluran ekskresi pada katak yaitu ginjal, paru-paru,dan kulit. Saluran ekskresi pada katak jantan
& betina memiliki perbedaan, pada katak jantan saluran kelamin & saluran urin bersatu dengan
ginjal, sedangkan pada katak betina kedua saluran itu terpisah. Walaupun begitu alat lainnya
bermuara pada satu saluran dan lubang pengeluaran yang disebut kloaka. 3. Sistem ekskresi pada
reptil Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan

satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat
sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah
padat berwarna putih. Proses Ekskresi Urine pada Serangga Darah [air, garam, nitrogen] ketika
melewati pembuluh Malpighi maka bahan yang mengandung Nitrogen diendapkan sebagai asam
urat, sementara sisa air dan garam diserap kembali secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat
dan sisa air masuk ke usus halus, dan air akan diserap kembali. Kristal asam urat diekskresikan
lewat anus bersama dengan feses. 4. Sistem ekskresi pada mamalia Sistem Ekskresi pada
mamalia

hampir

sama

dengan

manusia

tetapi

sedikit

berbeda

karena

mamalia

dipengaruhi/disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya. Paru-paru mamalia mempunyai


permukaan ber spon (spongy texture) dan dipenuhi liang epitelium dengan itu mempunyai luas
permukaan per isipadu yang lebih luas berbanding luas permukaan paru-paru. Paru-paru manusia
adalah contoh biasa bagi paru-paru jenis ini. Paru-paru terletak di dalam rongga dada (thoracic
cavity), dilindungi oleh struktur bertulang tulang selangka dan diselaputi karung dwi dinding
dikenali sebagai pleura. Lapisan karung dalam melekat pada permukaan luar paru-paru dan
lapisan karung luar melekat pada dinding rongga dada. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan
udara yang dikenali sebagai rongga pleural yang berisi cecair pleural ini membenarkan lapisan
luar dan dalam berselisih sesama sendiri, dan menghalang ia daripada terpisah dengan mudah.
Bernafas kebanyakannya dilakukan oleh diafragma di bawah, otot yang mengucup menyebabkan
rongga di mana paru-paru berada mengembang. Sangkar selangka juga boleh mengembang dan
mengucup sedikit. Ini menyebabkan udara tetarik ke dalam dan keluar dari paru-paru melalui
trakea dan salur bronkus (bronkhial tubes) yang bercabang dan mempunyai alveolus di ujung
yaitu karung kecil dikelilingi oleh kapilari yang dipenuhi darah. Di sini oksigen meresap masuk
ke dalam darah, di mana oksigen akan d angkut melalui hemoglobin. Darah tanpa oksigen dari
jantung memasuki paru-paru melalui pembuluh pulmonari dan lepas dioksigenkan, kembali ke
jantung melalui salur pulmonari. 3. Sistem Ekskresi Pada Manusia Manusia memiliki organ atau
alat-alat ekskresi yang berfungsi membuang zat sisa hasil metabolisme. Zat sisa hasil
metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air
(H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak
berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan
penyakit. Organ atau alat-alat ekskresi pada manusia terdiri dari: 1. Paru-paru, 2. Hati, 3. Kulit,
dan 4. Ginjal. A. PARU-PARU Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan

dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paruparu kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru kiri memiliki dua gelambir. Paru-paru
sebenarnya merupakan kumpulan gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut
selaput pleura. Fungsi Paru-Paru Fungsi utama paru-paru adalah sebagai alat pernapasan. Akan
tetapi, karma mengekskresikan zat Sisa metabolisme maka dibahas pula dalam sistem ekskresi.
Karbon dioksida dan air hash metabolisme di jaringan diangkut oleh darah lewat vena untuk
dibawa ke jantung, dan dari jantung akan dipompakan ke paru-paru untuk berdifusi di alveolus.
Selanjutnya, H2O dan CO2 dapat berdifusi atau dapat dieksresikan di alveolus paru-paru karena
pada alveolus bermuara banyak kapiler yang mempunyai selaput tipis. Karbon dioksida dari
jaringan sebagian besar (75%) diangkut oleh plasma darah dalam bentuk senyawa HC03,
sedangkan sekitar 25% lagi diikat oleh Hb yang membentuk karboksi hemoglobin (HbC02).
Kelainan-Kelainan Pada Paru-Paru Kelainan-kelainan pada paru-paru, diantaranya adalah: 1.
Asma atau sesak nafas, yaitu kelainan yang disebabkan oleh penyumbatan saluran pernafasan
yang diantaranya disebabkan oleh alergi terhadap rambut, bulu, debu atau tekanan psikologis. 2.
Kanker Paru-Paru, yaitu gangguan paru-paru yang disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Penyebab lain adalah terlalu banyak menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum dan
radiasi ionisasi. Kelainan ini mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru. 3. Emphysema, adalah
penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya terisi udara. Cara Mengatasi
Kelainan Pada Paru-Paru Upaya menghindari dan mengatasi kelainan-kelainan pada paru-paru
adalah dengan menjalankan pola hidup sehat, diantaranya: 1. Mengatur pola makan dengan
mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur 2. Berolah raga dengan teratur 3.
Istirahat minimal 6 jam per hari 4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan
narkoba 5. Hindari Stress B. HATI (HEPAR) Hati merupakan organ homeostasis yang
memainkan peranan penting dalam proses metabolisme dalam manusia dan hewan. Hati
mempunyai berbagai fungsi termasuk menyimpan glikogen, mensintesis protein plasma, dan
menyahtoksik darah. Ia menghasilkan empedu yang penting bagi penetralan racun. Ia
melaksanakan dan mengawal berbagai fungsi biokimia dalam jumlah besar yang memerlukan
tisu khas. Istilah perobatan yang berkaitan dengan hati sering kali bermula dari perkataan Greek
bagi hati iatu hepar, menjadi hepato atau hepatic. Hati berwarna perang kemerahan dan terletak
di bawah diafragma iatu di dalam rongga abdomen.Hati menerima makanan terlarut dalam darah
apabila makanan ini tercerna dan diserap di usus. a. Sanarai kandungan 1. Permukaan inferior

Hati manusia dewasa mempunyai berat antara 1.3 3.0 kilogram. Hati adalah organ lembut
berwarna perang kemerahan. Hati merupakan organ kedua terbesar manusia (organ terbesar
adalah kulit dan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia. Hati terletak di bawah diafragma di
sebelah kanan badan manusia. Sebagian besar permukaan hati terletak di dalam sangkar toraks
bagi melindunginya daripada kecederaan.Hati juga menjadi alas bagi pundi empedu yang
menyimpan cairan hempedu. Secara anatomi, hati dapat dibagikan kepada empat lobus yaitu
lobus kanan (right lobe), lobus kiri (left lobe), caudate lobe, dan quadrate lobe. 2. Mikrostruktur
Hati terdiri daripada koleksi unit-unit mikroskopik yang dipanggil lobul (jangan dikelirukan
dengan lobus di atas) yang setiapnya berbentuk heksagon (secara kasar). Lobul-lobul ini
merupakan pusat pemprosesan utama bagi hati. Disinilah hati menjalankan fungsi-fungsinya
seperti menyahtoksik darah dan menghasilkan cairan hempedu. Berikut adalah salur-salur yang
berhubung dengan setiap lobul hati: Portal triad yang terdiri daripada 3 salur yaitu: a. Hepatic
portal capilarry atau kapilari portal hati. Hati membawa darah dari ke vena portal hepar lobul
hati. b. Arteri hati yang membekalkan darah beroksigen kepada lobul-lobul hati. c. Duktus
hempedu yang membawa cecair hempedu dari lobul ke pundi hempedu untuk disimpan. d. Vena
hati yang membawa darah terdeoksigen dari hati,Terdapat dua vena hati iaitu vena hati kanan dan
vena hati kiri. Kedua vena ini bersambung terus dengan vena kava inferior. b. Peredaran Darah
Hati menerima darah melalui arteri hati dan vena portal hepar. Arteri hati membawa darah
beroksigen dari jantung untuk dibekalkan kepada sel-sel hati. Vena portal hepar pula membawa
darah dari usus untuk dinyahtoksik. Darah dari kedua-dua salur darah ini dibawa keluar dari hati
melalui vena hati ke dalam vena kava inferior untuk dibawa balik ke jantung. Selain darah,
hempedu juga dialirkan keluar dari hati. Duktus hempedu membawa hempedu ke pundi hempedu
untuk disimpan dan dipekatkan sebelum dirembes ke dalam duodenum. c. Fungsi Hati Berikut
adalah fungsi-fungsi hati: a. Mengawal aras glukosa darah dengan menyimpan glikogen di dalam
hati. b. Menyimpan vitamin dan garam mineral tertentu. c. Mengatur metabolisme karbohidrat,
lipid dan asid amino. d. Menghasilkan hempedu yang akan disimpan di dalam pundi hempedu. e.
Menghasilkan protein-protein plasma tertentu seperti albumin. f. Menghasilkan faktor-faktor
pembekuan darah I (fibrinogen), II (protrombin), V, VII, IX, X and XI g. Menyahtoksik bahanbahan beracun terutama darah dan bahan-bahan bernitrogen seperti ammonia h. Sebagai tempat
penghasilan sel-sel darah merah fetus. i. Menguraikan molekul hemoglobin tua. j.
Menyingkirkan hormon-hormon berlebihan. Hati disebut juga sebagai alat ekskresi di samping

berfungsi sebagai kelenjar dalam sistem pencernaan. Hati menjadi bagian dari sistem ekskresi
karma menghasilkan empedu. Hati juga berfungsi merombak hemoglobin menjadi bilirubin dap
biliverdin, dap setelah mengalami oksidasi akan berubah jadi urobilin yang memberi warna pada
feses menjadi kekuningan. Demikian juga kreatinin hash pemecahan protein, pembuangannya
diatur oleh hati kemudian diangkut oleh darah ke ginjal. Jika saluran empedu tersumbat karena
adanya endapan kolesterol maka cairan empedu akan masuk dalam sistem peredaran darah
sehingga cairan darah menjadi lebih kuning. Penderitanya disebut mengalami sakit kuning. C.
KULIT Seluruh permukaan tubuh kita terbungkus oleh lapisan tipis yang sering kita sebut kulit.
Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota
tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar. a. Fungsi Kulit
Fungsi kulit antara lain sebagai berikut: - mengeluarkan keringat - pelindung tubuh - menyimpan
kelebihan lemak - mengatur suhu tubuh, dan - tempat pembuatan vitamin D dari pro vitamin D
dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet b. Proses Pembentukan Keringat
Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi, pembuluh-pembuluh
darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah yang mengalir ke daerah
tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan pembuluh darah maka terjadilah
penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar keringat. Kemudian air bersama larutannya
keluar melalui pori-pori yang merupakan ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar
membawa panas tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal.
Kelainan pada kulit yang banyak dialami oleh para remaja adalah jerawat. Ada tiga tipe jerawat,
yaitu: 1. Komedo 2. Jerawat biasa 3. Cystic Acne (Jerawat Batu/Jerawat Jagung) Banyak jenis
obat dan perawatan yang ditawarkan untuk menghilangkan jerawat. Namun, sesungguhnya alam
sudah menyediakan aneka tanaman yang mampu menghilangkan jerawat. Tanaman-tanaman itu
antara lain tomat, jeruk nipis, belimbing wuluh, mentimun, dan temulawak. c. Mengatasi
Kelainan Pada Kulit Kulit perlu mendapat perawatan yang tepat agar senantiasa sehat. Berikut 4
langkah perawatan kulit yang sangat mendasar: 1. Makan Makanan Yang Mengandung Nutrisi 2.
Minum Air Putih Minimal 8 Gelas Setiap Hari 3. Berolahraga Dengan Teratur 4. Mandi Untuk
Membersihkan Badan D. GINJAL Dunia kedokteran biasa menyebutnya ren (renal/kidney).
Bentuknya seperti kacang merah, berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang.
Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Struktur ginjal terdiri dari:
kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula) dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal

terdapat jutaan nefron yang berfungsi sebagai penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari
Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh
Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya terdapat Glomerolus. a. Fungsi Ginjal 1.
Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh 2. Mengeksresikan zat
yang jumlahnya berlebihan 3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang
dilakukan oleh bagian tubulus ginjal 4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh
manusia 5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah
merah (SDM) di sumsum tulang b. Proses Pembentukan Urine Ginjal berperan dalam proses
pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan
kembali dan augmentasi. 1. Penyaringan (filtrasi) Proses pembentukan urin diawali dengan
penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori
(podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses
penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah,
keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam
plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat
melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut
filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan
garam-garam lainnya 2. Penyerapan kembali (reabsorbsi) Bahan-bahan yang masih diperlukan di
dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus
kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini
melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui
peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi
yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia,
obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama
urin. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang
masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme
yang bersifat racun bertambah, misalnya urea. 3. Augmentasi Augmentasi adalah proses
penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulustububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui
saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan
sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang

dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen
empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin. d. Kelainan Pada Ginjal Kelainankelainan pada ginjal diantaranya adalah gagal ginjal dan batu ginjal. Gagal ginjal merupakan
kelainan pada ginjal dimana ginjal sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya yaitu
menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme. Penyebab terjadinya gagal
ginjal antara lain disebabkan oleh: 1. Makan makanan berlemak 2. Kolesterol dalam darah yang
tinggi 3. Kurang berolahraga 4. Merokok, dan 5. Minum minuman beralkohol. d. Mengatasi
Gagal Ginjal Penggantian fungsi ginjal dikenal dengan Renal Replacement Therapy (RRT) atau
Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Ada dua cara TPG, yakni transplantasi/cangkok ginjal dan
dialisis/cuci darah . Urine banyak mengandung mineral dan berbagai bahan kimiawi. Urin belum
tentu dapat melarutkan semua itu. Apabila kita kurang minum atau sering menahan kencing,
mineral-mineral tersebut dapat mengendap dan membentuk batu ginjal. Batu ginjal merupakan
kristal yang terlihat seperti batu yang terbentuk di ginjal. Kristal-kristal tersebut akan berkumpul
dan saling berlekatan untuk membentuk formasi batu. Apabila batu tersebut menyumbat
saluran kemih antara ginjal dan kandung kemih, saluran kemih manusia yang mirip selang akan
teregang kuat karena menahan air seni yang tidak bisa keluar. Hal itu tentu menimbulkan rasa
sakit yang hebat. BAB III KESIMPULAN Ekskresi berarti pengeluaran zat buangan atau zat sisa
hasil metabolisme yang berlangsung dalam tubuh organisme. Zat sisa metabolisme dikeluarkan
dari tubuh oleh alat ekskresi. Alat ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya berupa ginjal,
paru-paru, kulit, dan hati, sedangkan alat pengeluaran pada hewan invertebrata berupa nefridium,
sel api, atau buluh Malphigi. Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga
cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi
sebagian besar penyusun cairan tubuh. Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat
makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa
metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna empedu, dan asam urat. Karbon dioksida
dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat,
lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan.
Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga
kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan,
misalnya sebagai pelarut. Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan
zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun

demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat
yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan
sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang
akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat
merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai
daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah.

Make Money at : http://bit.ly/copy_win

SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN


INVERTEBRATA DAN VERTEBRATA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Sistem Ekresi
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat
warna empedu dan asam urat, selain itu ekskresi juga dapat diartikan sebagai proses
pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna lainnya. Ekskresi merupakan proses
yang ada pada semua bentuk kehidupan. Pada organisme bersel satu, produk buangan
dikeluarkan secara langsung melalui permukaan sel. Sisa metabolisme yang mengandung
nitrogen ialah amonia (NH3), urea dan asam urat. Bahan tersebut berasal dari hasil perombakan
protein, purin, dan pirimidin. Amonia dihasilkan dari proses deaminiasi asam amino. Amonia
merupakan bahan yan sangat racun dan merusak sel. Hewan- hewan yang mengekskresikan
amonia disebut amonotelik.
Bagi hewan yang hidup di darat amonia menjadi masalah untuk kelangsungan hidupnya jika di
timbun dalam tubuhnya. Karena itu pada hewan yang hidup di darat amonia segera di rubah di
dalam hati menjadi persenyawaan yang kurang berbahaya bagi tubuhnya yaitu dalam bentuk
urea dan asam urat. Kebanyakan mamalia, amphibi dan ikan mengekskresikan urea dan hewanhewan tersebut dapat disebut ureotelik. Urea mudah larut dalam air dan diekskresikan dalam
cairan yang disebut urine. Pada burung, reptil, keong darat, dan serangga asam urat yang
diekskresikan berbentuk padat bersama kotoran. Air dalam urine pada hewan-hewaan tersebut
diabsorbsi oleh tubuh untuk penghematan. Meskipun cara hidup dan habitat mempunyai oeran
penting pada ekskresi sisa metabolisme yang mengandung nitrogen.
Organisme multiselular memiliki proses ekskresi yang lebih kompleks. Alat ekskresi pada manusia
dan vertebrata lainnya berupa ginjal, paru-paru, kulit, dan hati, sedangkan alat pengeluaran pada
hewan invertebrata berupa nefridium, sel api, atau buluh Malphigi. Sistem ekskresi membantu
memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa
metabolisme, dan mengatur konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh. Zat sisa
metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini
sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna
empedu, dan asam urat.
Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang
berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila

kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai
sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk
berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut. Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan
protein, merupakan zat yang beracun bagi sel.
Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara
disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam
bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang
dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi
urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat merupakan sisa
metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun
lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah. Tugas pokok alat
ekskresi ialah membuang sisa metabolisme tersebut di atas walaupun alat pengeluarannya
berbeda-beda.
Fungsi sistem ekskresi, antara lain:
1. Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh
2. Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi)
3. Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi)
4. Homeostasis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Ekskresi Pada Hewan Invertebrata
Sistem ekskresi pada hewan rendah biasanya sesuai dengan habitatnya. Berbagai habitat tempat
hidup hewan seperti laut, air tawar dan daratan. Berbagai alat ekskresi telah berkembang untuk
mengeluarkan sampah metabolisme, untuk mengatur keseimbangan air tubuh dan
keseimbangan ion. Hewan tingkat rendah belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna
seperti pada vertebrata. Pada umumnya, hewan tingkat rendah memiliki sistem ekskresi yang
sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan invertebrata lainnya.
Alat ekskresinya ada yang berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Nefridium adalah tipe
yang umum dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata. Berikut ini akan dibahas sistem
ekskresi pada cacing pipih (Planaria), cacing gilig (Annellida), dan belalang.
2.1.1 Ekskresi Pada Amuba
Amuba dan banyak organisme bersel tunggal lainnya hidup dalam lingkungan berair dan
membuang limbah metaboliknya secara difusi sama seperti yang dilakukan tumbuhan air. Bagi
kebanyakan, produk akhir yang utama metabolisme protein adalah amonia, zat ini mudah

terdifusi keluar dari selnya sebelum selesai dari konsentrasi yang membahayakan. Akan tetapi,
dengan cara tersebut organisme tidak dapat melakukan apa-apa terhadap berlebih, karena tidak
dilengkapi dengan sel dinding yang kaku, binatang ini tidak dapat melawan masuknya air secara
terus menerus. Masalah ini dapat teratasi dengan vakoula kontraktil (rongga berdenyut) yang
berfungsi untuk mengatur kadar airt dalam sel sehingga nilai osmosis isi sel tetap terpelihara.
Energi digunakan untuk memaksa air untuk keluar lagi dari selnya dan kedalam air disekitarnya.
Bolehjadi vakuola kontratil tidak memainkan peranan yang penting dalam ekskresi substansi lainlain.
2.1.2 Sistem Ekskresi Pada Cacing Pipih
Gambar: Sistem eksresi cacing pipih
Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih. Platyhelminthes memiliki
tubuh, lunak, dan epidermis bersilia. Cacing pipih merupakan hewan tripoblastik yang tidak
mempunyai rongga tubuh (acoelomata). Hidup biasanya di air tawar, air laut, dan tanah lembab.
Ada pula yang hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Cacing parasit ini mempunyai
lapisan kutikula dan silia yang hilang setelah dewasa. Hewan ini mempunyai alat pengisap yang
mungkin disertai dengan kait untuk menempel. Cacing pipih belum mempunyai sistem peredaran
darah dan sistem pernafasan. Sedangkan sistem pencernaannya tidak sempurna, tanpa anus.
Platyhelminthes terbagi dalam 3 kelas, yaitu Kelas Turbellaria, Kelas Trematoda dan kelas
Cestoda.
Pada cacing pipih (Platyhelmintes) alat eksresi berupa protonefridium yang mempunyai sel api
(flame cel) berflagel. Flagel berfungsi menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran
ekskresi. Air dan zat sisa masuk ke dalam sel api yang selanjutnya dikeluarkan melalui lobang
nefridiofor. Sebagian sisa nitrogen tidak masuk ke saluran ekskresi tetapi masuk ke sistem
pencernaan yang selanjutnya diekskresikan melalui mulut. Cacing pipih juga mempunyai organ
nefridium yang disebut sebagai protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan
ujung membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang dilengkapi
dengan silia. Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti gerakan api lilin.
Air dan beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus
dan menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi.
Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai
lubang di permukaan tubuh (nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini. Sebagian
besar sisa nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke sistem
pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi secara langsung dari sel
ke air.

Gambar: Struktur alat ekskresi pada casing pipih


2.1.1 Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska
Alat ekskresi pada annelida ialah nefridium. Ada beberapa macam nefridia misalnya protonefridia
yang memepunyai solonosit (sel api) yang serupa dengan alat ekskresi pada cacing pipih. Macam
nefridia yang lain terdapat pada annelida yang hidup di darat yang disebut metanefridia. Pada
cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam tubuhnya mengandung
sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir. Metanefridium
terdapat sepasang pada tiap segmen kecuali segmen terakhir. Metanefridium memiliki dua
lobang saluran yaitu nefrostom di anterior dan nefrostom di posterior. Cairan tubuh mengalir
melalui nefridium, zat yang diperlukan tubuh seperti air, zat makanan dan ion-ion diserap dan
diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran dan zat sisa (sampah nitrogen )
diekskresikan melalui nefridioifor.
Gambar: Sistem ekskresi pada anelida
Nefrostom ada di dalam rongga tubuh, yang penuh dengan cairan yang terutama merupakan
sistem limfa tersaring dari sistem peredaran tertutup. Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem
pencernaan. Corong (nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen
berikutnya. Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung.
Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan
lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk
ke nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang
nefridium, bahan-bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh
sel-sel tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan
lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar.
Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan
substansi yang berguna ke sistem sirkulasi. Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah
mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang
kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan
yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum diekskresikan
lewat sistem ekskresi.
Pada mollusca alat ekskresinya disebut ginjal yang merupakan kumpulan dari nefridia. Ginjal
berhubungan dengan coulum dan kaya akan pembuluh darah. Terjadi filtrasi sisa-sisa
metabolisme dari darah melalui pembuluh kapiler ke saluran nefridia.
2.1.2 Alat Ekskresi pada Belalang

Gambar: Sistem Ekskresi pada belalang


Pada belalang alat ekskresinya adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi
seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi merupakan pembuluh-pembuluh buntu yang
bermuara pada sistem pencernaan makanan antara saluran pencernaan tengah atau lambung
dengan usus. Hampir semua serangga mempunyai pembuluh Malpighi. Jumlah pembuluh antara
2-250 buah. Pembuluh Malphigi mengasorbsi sisa metabolisme darah pada rongga tubuh. Di
samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa
hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.
Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam
tubuhnya.
Gambar: Pembuluh Malpighi pada belalang
Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut asam urat.
Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut. Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah
dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian
proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat,
sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif.
Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat
dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses.
2.2 Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebtara
Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ paru-paru, kulit, ginjal,
dan hati. Namun yang terpenting dari keempat organ tersebut adalah ginjal.
2.2.1 Ginjal
Dunia kedokteran biasa menyebutnya ren (renal/kidney). Bentuknya seperti kacang merah,
berjumlah sepasang dan terletak di daerah pinggang. Ukurannya kira-kira 11x 6x 3 cm. Beratnya
antara 120-170 gram. Struktur ginjal terdiri dari: kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula)
dan rongga ginjal (pelvis). Pada bagian kulit ginjal terdapat jutaan nefron yang berfungsi sebagai
penyaring darah. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (Tubula) yang
bergelung. Badan Malpighi tersusun oleh Simpai Bowman (Kapsula Bowman) yang didalamnya
terdapat Glomerolus. Ginjal vertebrata mengalami perkembangan baik secara evolusi atau
sejalan dengan perkembangan embrio. Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan zat-zat sisa
metabolisme yang mengandung nitrogen misalnya amonia. Amonia adalah hasil pemecahan
protein dan bermacam-macam garam, melalui proses deaminasi atau proses pembusukan
mikroba dalam usus. Selain itu, ginjal juga berfungsi mengeksresikan zat yang jumlahnya
berlebihan, misalnya vitamin yang larut dalam air mempertahankan cairan ekstraselular dengan

jalan mengeluarkan air bila berlebihan serta mempertahankan keseimbangan asam dan basa.
Sekresi dari ginjal berupa urin.
Struktur Ginjal
Bentuk ginjal seperti kacang merah, jumlahnya sepasang dan terletak di dorsal kiri dan kanan
tulang belakang di daerah pinggang. Berat ginjal diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan
panjangnya 10 cm. Setiap menit 20-25% darah dipompa oleh jantung yang mengalir menuju
ginjal.
Ginjal terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
a. korteks (bagian luar)
b. medulla (sumsum ginjal)
c. pelvis renalis (rongga ginjal).
Bagian korteks ginjal mengandung banyak sekali nefron 100 juta sehingga permukaan kapiler
ginjal menjadi luas, akibatnya perembesan zat buangan menjadi banyak. Setiap nefron terdiri
atas badan Malphigi dan tubulus (saluran) yang panjang. Pada badan Malphigi terdapat kapsul
Bowman yang bentuknya seperti mangkuk atau piala yang berupa selaput sel pipih. Kapsul
Bowman membungkus glomerulus. Glomerulus berbentuk jalinan kapiler arterial. Tubulus pada
badan Malphigi adalah tubulus proksimal yang bergulung dekat kapsul Bowman yang pada
dinding sel terdapat banyak sekali mitokondria. Tubulus yang kedua adalah tubulus distal. Pada
rongga ginjal bermuara pembuluh pengumpul. Rongga ginjal dihubungkan oleh ureter (berupa
saluran) ke kandung kencing (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai tempat penampungan
sementara urin sebelum keluar tubuh. Dari kandung kencing menuju luar tubuh urin melewati
saluran yang disebut uretra.
Proses-proses di dalam Ginjal. Di dalam ginjal terjadi rangkaian prows filtrasi, reabsorbsi, dan
augmentasi.
Penyaringan (filtrasi)
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel
endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan.
Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan
permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula
pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahanbahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida,
bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya
serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat
ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garamgaram lainnya.

Penyerapan kembali (Reabsorbsi)


Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus
akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat
sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa
sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung
ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari
zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan
urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat
yang masi.
2.2.2 Kulit
Merupakan lapisan terluar dari tubuh kita, yang tediri dari 2 lapisan yaitu lapisan epidermis (luar)
dan dermis (dalam).
Epidermis,terdiri :
- stratum korneum, merupakan lapisan zat tanduk, mati dan selalu mengelupas.
- stratum lusidium, merupakan lapisan zat tanduk
- stratum granulosum, mengandung pigmen
- stratum germonativum, selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar
Dermis (korium), terdiri :
- akar rambut
- pembuluh darah
- syaraf
- kelenjar minyak (glandula sebasea)
- kelenjar keringat (glandula sudorifera)
- lapisan lemak, terdapat di bawah dermis yang berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh suhu
luar
2.2.3 Paru-paru (pulmo)
Penguraian karbohidrat (glukosa) dan lemak kecuali menghasilkan energi akan menghasilkan zat
sisa berupa CO2 dan H2O yang akan dikeluarkan lewat paru-paru.
Seseorang yang berada dalam daerah dingin waktu ekspirasi akan tampak menghembuskan uap.
Uap tersebut sebenarnya merupakan carbondioksisa dan uap air yang dikeluarkan saat terjadi
pernafasan.
2.2.4 Hati (hepar)
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, terdapat di rongga perut sebelah kanan atas,

berwarna kecoklatan. Hati mendapat suplai darah dari pembuluh nadi (arteri hepatica) dan
pembuluh gerbang (vena porta) dari usus. Hati dibungkus oleh selaput hati (capsula hepatica).
Hati terdapat pembuluh darah dan empedu yang dipersatukan selaput jaringan ikat (capsula
glison). Hati juga terdapat sel-sel perombak sel darah merah yan gtelah tua disebut histiosit.
Sebagai alat eksresi hati menghasilkan empedu yang merupakan cairan jernih kehijauan, di
dalamnya mengandung zat warna empedu (bilirubin), garam empedu, kolesterol dan juga bacteri
serta obat-obatan. Zatr warna empedu terbentuk dari rombakan eritrosit yang telah tua atau
rusak akan ditangkap histiosit selanjutnya dirombak dan haeglobinnya dilepas.
Fungsi hati :
- menyimpan kelebihan gula dalam bentuk glikogen (gula otot)
- merombak kelebihan asam amino (deaminasi)
- menawarkan racun
- membentuk protombin dan fibrinogen
- membentuk albumin dan globulin
- mengubah provitamin A menjadi vitamin A
- tempat pembentukan urea
- menghasilkan empedu
- tempat pembentukan dan penghancuran eritrosit yang telah tua
Sistem ekskresi pada mamalia
Sistem Ekskresi pada mamalia hampir sama dengan manusia tetapi sedikit berbeda karena
mamalia dipengaruhi/disebabkan oleh lingkungan tempat tinggalnya. Paru-paru mamalia
mempunyai permukaan ber spon (spongy texture) dan dipenuhi liang epitelium dengan itu
mempunyai luas permukaan per isipadu yang lebih luas berbanding luas permukaan paru-paru.
Paru-paru manusia adalah contoh biasa bagi paru-paru jenis ini.
Paru-paru terletak di dalam rongga dada (thoracic cavity), dilindungi oleh struktur bertulang
tulang selangka dan diselaputi karung dua dinding dikenali sebagai pleura. Lapisan karung dalam
melekat pada permukaan luar paru-paru dan lapisan karung luar melekat pada dinding rongga
dada. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan udara yang dikenali sebagai rongga pleural yang
berisi cecair pleural ini membenarkan lapisan luar dan dalam berselisih sesama sendiri, dan
menghalang ia daripada terpisah dengan mudah.
Bernafas kebanyakannya dilakukan oleh diafragma di bawah, otot yang mengucup menyebabkan
rongga di mana paru-paru berada mengembang. Sangkar selangka juga boleh mengembang dan
mengucup sedikit. Ini menyebabkan udara tetarik ke dalam dan keluar dari paru-paru melalui
trakea dan salur bronkus (bronkhial tubes) yang bercabang dan mempunyai alveolus di ujung
yaitu karung kecil dikelilingi oleh kapilari yang dipenuhi darah. Di sini oksigen meresap masuk ke
dalam darah, di mana oksigen akan d angkut melalui hemoglobin. Darah tanpa oksigen dari

jantung memasuki paru-paru melalui pembuluh pulmonari dan lepas dioksigenkan, kembali ke
jantung melalui salur pulmonari.
Sistem Ekskresi Pada Ikan
Ikan air tawar, sebagaimana hewan air tawar . Ikan mempunyai system ekskresi berupa ginjal
dan suatu lubang pengeluaran yang disebut urogenital.Lubang urogenital ialah lubang tempat
bermuaranya saluran ginjal dan saluran kelamin yang berada tepat dibelakang anus.
Ginjal pada umumnya terletak antara columna vertebralis dan gas bladder. Ginjal terdiri dari dua
bagian yaitu caput renalis anterior yang tersusun atas jaringan hemapoeitik, limfoid dan endokrin
serta trunkus renalis posterior yang tersusun atas nefron-nefron dikelilingi jaringan limfoid
interstitial. Sisi kanan dan kiri dari trunkus renalis berfusi dan membentuk lengkungan yang
mengisi ruangan diantara kedua gas bladder. Di bagian posterior dari lengkungan ini trunkus
renalis menipis menyesuaikan lekukan pada gas bladder. Caput renalis terpisah atas bagian kana
dan kiri, terletak di anterior dari lengkungan tersebut memasuki daerah cranium.
Cairan tubuh dari ikan air tawar memiliki konsentrasi ion yang lebih tinggi dibanding dengan
lingkungan sekitarnya, kondisi ini disebut dengan hiperosmotik. Untuk mempertahankan gradient
konsentrasi tersebut dibutuhkan system pembuangan dan konserbasi dari ion-ion disamping
adanya proses ekskresi air yang telah difiltrasi oleh ginjal. Proses filtrasi ini dilakukan ginjal yaitu
pada bagian nefron glomerulus yang terdiri dari corpus renalis dan tubulus renalis. Corpus renalis
terdiri atas glomerulus-glomerulus yang diselubungi oleh capsula Bowman. Epitelia parietalis dan
visceralis membentuk Bowmans space yang memisahkan glomerulus dengan bagian-bagian
lain dari ginjal. Glomeruli berukuran kecil dan avasculer dengan tubuli renalis yang mempunyai 6
regio sitologis yang berbeda.
1. N yang mengisolasi glomerulus. Neck region memiliki lumen yang dikelillingi oleh sel-sel epitel
kuboid bersilia sampai kolumner pendek. Sitoplas,a dari sel-sel ini tercat basofilik tipis.
2. Tubulus proximalis primer diselubungi oleh epitel-epitel kolumner tinggi dengan nuclei basalis
dan sitoplasma yang tercat eosinofilic tipis. Microvilli dengan puncak berbentuk tepi sikat
menjulur kelumen.
3. Tubulus proximalis sekunder masih tersusun atas sel-sel epitel kolumner tinggi dengan nuclei
yang terletak lebih central dan tepi-tepi sikat yang berkembang lebih baik. Adanya bangunan
mitokondria dalam jumlah yang besar menyebabkan sitoplasma tercat eosinofilik.
4. Tubulus intermedius memiliki lumen yang sempit dikelilingi oleh sel-sel epitel kuboid sampai
kolumner pendek dengan tepi-tepi sikat yang tidak jelas.Sel-sel ini tercat eosinofilik kuat.
5. Tubulus distalis tersusun atas sel-sel epitel kolumner yang besar. Nucleus terletak di tengah
sedangkan tepi-tepi sikat mereduksi atau tidak ada.
6. Tubulus conectivus berukuran lebih besar daripada tubulus distalis. Sel-sel epitel kolumner

tercat eosinofilik lemah dengan nucleus terletak di basal dan tidak adanya tepi-tepi sikat. Tubulus
ini terus membesar sampai muaranya dengan adanya perubahan sel-sel epitel dari kolumner
menjadi epitel pseudostratified yang mempunyai sel-sel goblet. Tubulus-tubulus yang lebih besar
bergabung dengan lapisan otot polos dan jaringan pengikat. Rodlet cells dan intercalated cells
(leukosit) biasa dijumpai pada epithelium ductus colectivus. eck region merupakan lanjutan dari
epitelia parietalis dan visceralis dari capsula Bowman.
Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus yang jumlahnya lebih
banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glomelurus sehingga penyaringan
sisa hasil metabolisme berjalan lambat.
Sistem Ekskresi Pada Amfibi
Ginjal amphibi sama denga ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang
berlebvih. Karea kulit katak permeable terhadap air, maka pada saat ia berada di air, banyak iar
masuk ke tubuh katak secara osmosis. Pada saat ia berada di darat harus melakukan konservasi
air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai dengan
lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus, sistem portal
renal berfungsi untuk membuang bahan bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa
aliran darah melalui glomerulus dibatasi. Katak juga menggunkan kantung kemih untuk
konserfadsi air. Apabila sedang berada dia air, kantung kemih terisi urin ynag encer. Pada saat
berada di daarat air diserap kembali ke dalam darah menggantikan air yang hilang melalui
evaporasi kulit. Hormon yang mengendalikan adalah hormon yang sama dengan ADH.
Saluran ekskresi pada katak yaitu ginjal, paru-paru,dan kulit. Saluran ekskresi pada katak jantan
& betina memiliki perbedaan, pada katak jantan saluran kelamin & saluran urin bersatu dengan
ginjal, sedangkan pada katak betina kedua saluran itu terpisah. Walaupun begitu alat lainnya
bermuara pada satu saluran dan lubang pengeluaran yang disebut kloaka.
Sistem Ekskresi Pada Reptil
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satusatunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme.Reptil yang hidup di darat sisa
hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat
berwarna putih