Anda di halaman 1dari 17

Muhammadiyah Sebagai

Gerakan Sosial

NAMA KELOMPOK :
1. ALFAN FANANI

(12322034)
2. ANA EFA ROSYIDAH (12322038)

Latar belakang
Refleksi kritis terhadap realitas sosial yang terjadi dan kemudian

mencarikan solusi yang tepat untuk mengentaskannya inilah


yang belakangan menjadi sebuah semangat baru dalam ilmu
sosial. Sehingga teori sosial kritis yang belakangan ini banyak
diintrodusir, dianggap perlu dipertimbangkan sebagai sebuah
pendekatan baru dalam metode tafsir sosial Muhammadiyah.
Muhammadiyah masa awal. tidak seorangpun yang bisa
membantah kenyataan bahwa Muhammadiyah lahir dengan
pemihakan yang luar biasa terhadap realitas sosial yang
terwujud dalam kemiskinan, ketertindasan, kurang atau
rendahnya pendidikan. Selama bertahun-tahun lamanya
semangat ini menjadi spirit utama gerakan Muhammadiyah,
sehingga kehadiran Muhammadiyah sebagai sebuah mesin yang
mampu melakukan transformasi sosial mendapatkan apresiasi
yang luar biasa dari berbagai kalangan.

Lanjutan
Gerakan Muhammadiyah juga sejak awal dikenal

luas sebagai gerakan sosial keagamaan yang


didirikan untuk mengadaptasikan Islam dengan
situasi modern Indonesia, karena gerakan ini
menegaskan diri sebagai gerakan pembaruan yang
peduli dan konsen (care and concern) terhadap
kemajuan Islam dan umat Islam, dan menyebabkan
kebangkitan kembali kaum Muslimin di Indonesia.

Teologi Al Maun
Teologi al-Maun merupakan suatu konsep yang diambil

dari Surat al-Maun. Dalam surat ini, terdapat


pembelajaran yang sangat berharga, sebagai upaya
membangun etos moralitas-spritualitas disatu sisi
dengan berkaca terhadap fakta realitas keagamaan dan
sosial-budaya dengan melihat fakta ketidakadilan
sosial dalam kerangka makro dengan harapan dan
tujuan memberdayakan kembali prinsip-prinsip utama
umat Islam umumnya dan warga Muhammadiyah dalam
menciptakan tatanan yang seimbang dalam persoalanpersoalan politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya.

Lanjutan ...,
Surat

ini
berdasarkan
Asbabun
Nuzulnya
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mudzir adalah
berkenaan degan orang-orang munafik yang
memamerkan shalat kepada orang yang beriman.
Mereka melakukan shalat dengan riya, dan
meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya,
serta menolak memberikan bantuan kepada orang
miskin dan anak yatim.

Isi Pokok Surat Al Maun


Surat al-Maun paling tidak berisi empat hal pokok,
yakni:
Pertama, perintah berbuat kebaikan kepada
sesama manusia, terutama kepada anak-anak yatim
dan fakir miskin yang merupakan kelompok orangorang yang tertindas (mustadhafin).
Kedua, jangan lupa atau lalai mendirikan shalat.
Ketiga, jangan riya (pamer) dalam beribadah.
Keempat, jangan kikir (pelit) untuk beramal dan
berbagi dengan sesama.

Dalam konteks Muhammadiyah, surat al-Maun memiliki

arti yang sangat penting sebab menjadi landasan dasar


dan spirit bagi lahirnya gerakan dakwah Muhammadiyah
dengan berbagai amal sosialnya berupa rumah sakit,
panti asuhan, panti jompo, rumah miskin, lembaga
pendidikan, dan lainnya.
Pemahaman tafsir al-Maun tersebut mengkristal dalam
bentuk teologi sosial Muhammadiyah dan tauhid sosial.
Dari tafsir ke teologi kemudian kepada fikih al-Maun.
Amanat Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang
tahun 2005 yang meminta Majelis Tarjih menyusun
konsep Teologi al-Maun diterima dan disahkan menjadi
keputusan

Penafsiran yang bermuara pada hasil amal sosial

berarti pula terus menumbuhkan gerak dakwah


Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan
gerakan sosial kemasyarakatan yang bercita-cita
untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenarbenarnya, yaitu masyarakat utama adil makmur
yang diridhai Allah Subhanahu Wataala (Baldatun
Thayyibatun wa Rabbun Ghafur).

Gerakan Sosial Keagamaan


Muhammadiyah
Sebagai

organisasi
sosial
keagamaan,
Muhammadiyah didukung oleh usaha ekonomi
sebagai penguat organisasi
Urusan sosial keagamaan lingkup Muhammadiyah
juga telah menetapkan beberapa pola gerakan. Mulai
dari tuntunan hidup bermasyarakat, berorganisasi,
mengelolah amal usaha, berbisnis, mengembangkan
profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan
lingkungan, mengembangkan ilmu pengatahuan dan
teknologi, serta tuntunan hidup bermasyarakat
dalam ruang seni dan budaya.

Gerakan

sosial keagamaan Muhammadiyah telah


menetapkan prinsip bahwa setiap Islam harus menjalin
persaudaraan dan kebaikan sesama, seperti tetangga
maupun anggota masyarakat lainnya masing-masing
dengan memelihara hak dan kehormatan, baik dengan
sesama Muslim maupun dengan non Muslim, dalam
hubungan ketetanggaan.
Sebagai organisasi Islam di Indonesia, Muhammadiyah
menuntun warganya untuk memelihara alam dengan
sebaik-baiknya, yaitu mengelolah dan memanfaatkan
alam secara wajar dan tetap mempertimbangkan
kelestarian alam.Hal tersebut dipraktekkan oleh
kalangan

Muhammadiyah

yang juga untuk didakwahkan


sebagai
suatu
amalan
sosial
yang
mulia.Muhammadiyah juga memiliki gerakan sosial
yang sangat potensial untuk mengembangkan misi
dakwahnya. Melalui lembaga pelayanan sosial
hingga lembaga pendidikan yang dimilikinya, antara
lain : terdapat 24 universitas di Seluruh Indonesia, 5
Institut, 52 Sekolah Tinggi , 34 Akademi dan 3
politeknik Disamping itu, juga didukung oleh
beberapa lembaga semi otonom dibawa koordinasi
Pimpinan Muhammadiyah Pusat dan Daerah

Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah


Bidang Sosial Keagamaan
Dilihat dari segi perkembangan, memang Muhammadiyah telah

berkembang dengan pesat sampai tahun 1967, walaupun semula


hanya
bergerak
di
sekitar
Yogyakarta.
Perkembangan
Muhammadiyah sejak tahun 1912 sampai masa kemerdekaan (Orde
Lama/1967) sesuai dengan semangat dan cita-cita pembaharuan
Muhammadiyah telah mengembangkan sayapnya ke seluruh
Nusantara dengan amal-amal usahanya di bidang sosial
kemasyarakatan dan pendidikan.
Amal usaha bidang sosial yaitu membangun dua buah klinik dengan
12.000 pasien.Pada Kongres tahun 1929 tercatat 19.000 oanggota
Muhammadiyah.Pada Kongres 1930 yang bertempat di Bukittinggi
tercatat 112 Cabang dengan jumlah anggota 24.000 orang. Pada
tahun 1935 meningkat menjadi 43.000 dengan 710 Cabang, dan
pada tahun 1938 jumlah Cabang menjadi 852 dengan 250.000
anggota. Jumlah mesjid dan langgar 834, perpustakaan Jumlah
muballigh atau propagandis 5.516 laki-laki dan 2.114 wanita

tahun 1967 yaitu akhir masa Orde Lama amal usaha

Muhammadiyah bidang sosial kemasyarakatan, melalui


Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) telah
mendirikan rumah sakit, poliklinik, Balai Kesejahteraan
Ibu dan Anak, Rumah Sakit 9 buah, BKIA dan Poliklinik
50 buah, Panti Asuhan dan rumah miskin 200 buah,
jumlah 259 buah.
walaupun Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berada
dalam penjajahan Belanda, Jepang dan awal
kemerdekaan dengan segala tantangannya, namun
Muhamadiyah
tetap
berperan
dan
berkiprah
membangun bangsa dan umat Islam

Kritik dan Kelemahan-kelemahan


terhadap Gerakan Sosial Muhammadiyah
Muhammadiyah sering menuai kritik sebagai gerakan

sosial yang mulai terjangkit penyakit elitisme.


Perkembangan Muhammadiyah yang kian pesat dari hari
ke hari dalam banyak hal menyebabkan terjadinya
pergeseran orientasi, termasuk orientasi gerakan
sosialnya.
Jika
pada
mulanya,
amal
usaha
Muhammadiyah, khususnya dalam bidang sosial lebih
banyak berbicara pada bidang-bidang sosial yang
berorientasi voulentaire, kini hampir bisa dipastikan
bahwa seluruh amal usaha Muhammadiyah berorientasi
pada persoalan ekonomi dan sampai batas-batas tertentu
cenderung profit oriented.

Kelemahan Muhammadiyah dalam bidang gerakan

sosial lainnya adalah pendasaran pembinaan sosial


pada jenis kelamin dan usia yang pada gilirannya
menjadikan Muhammadiyah seolah-olah tidak
peduli dengan interest group, seperti petani, buruh,
nelayan kalangan proletar lainnya. Akibatnya,
Muhammadiyah seolah-olah membiarkan warganya
yang menjadi buruh berbondong-bondong ke
organisasi lain yang dirasa lebih aspiratif dengan
kepentingannya, seperti APSI, atau petani yang ke
HKTI dan sebagainya.

Sekian Terima Kasih


Bila Ada Pertanyaan Silahkan !!!

KESIMPULAN
Perkembangan amal usaha Muhammadiyah bidang

sosial antara lain, mendirikan panti asuhan dan


asuhan keluarga, mendirikan poliklinik, balai
kesehatan dan rumah sakit. Bidang ekonomi,
Muhammadiyah mendirikan Baituttamwil, koperasi,
perusahan-perusahan terbatas (PT) dan di bidang
ibadah, Muhammdiyah mendirikan mesjid dan
mushalla. Guna meningkatkan ilmu pengetahuan,
kesadaran berbangsa dan bernegara dan beragama