Anda di halaman 1dari 16

TUGAS TEKNIK IRIGASI

(Analisis Kebutuhan Air Tanaman dan Penjadwalan Irigasi Tanaman


Jagung Manis)

Oleh :
Kelompok

: 5 (lima)

Nama dan NPM

: 1. Dadan Hamdani (240110110023)


2. Sonia Melody C (240110110054)
3. Yanuar Nursalam (240110110067)

Dosen

4. Rifki Adi P

(240110110077)

5. Valentina Purba

(240110110102)

: Sophia Dwiratna, NP.,STP.,MT

DEPARTEMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan pertanian merupakan suatu kegiatan yang sangat penting untuk
memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya banyak sekali
aspek yang menunjang proses berjalannya kegiatan ini, salah satu aspek yang
berperan dalam kegiatan pertanian adalah sistem pengairan atau irigasi. Irigasi
secara umum didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan
penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman-tanaman.
Ketersediaan air irigasi di lahan pertanian sangat berpengaruh sekali terhadap
hasil produksi dari tanaman yang dibudidayakan. Ketersediaan air untuk
keperluan irigasi sering menjadi kendala di daerah beriklim basah dimana air
hujan yang berlebihan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, karena sebagian
besar air mengalir sebagai aliran permukaan serta sering terjadi cekaman air,
terutama pada periode kritis pertumbuhan tanaman.
Kebutuhan air irigasi setiap tanaman tidak sama setiap saat, hal ini
dipengaruhi oleh umur tanaman, suhu udara dan cuaca. Selain kebutuhan air
irigasi interval pemberian air irigasi sangat penting peranannya dalam pengelolaan
air secara efisien dalam proses produksi pertanian.Interval pemberian air irigasi
dan berapa banyak penggunaannya sangat dipengaruhi oleh dimana dan kapan air
diambil dari tanah oleh akar-akar tanaman. Interval pemberian air irigasi berarti
perencanaan waktu dan jumlah pemberian air sesuai dengan kebutuhan air
tanaman. Oleh sebab itulah sangat penting untuk menghitung kebutuhan air
tanaman serta interval pemberian air irigasi untuk tanaman jagung untuk tiga
kalimusim tanam sehingga hasil produks dari tanamam mencapai hasil yang
tinggi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menghitung jumlah jumlah kebutuhan air irigasi untuk tanaman jagung.
2. Mengkaji interval pemberian air irigasi yang sesuai untuk tanaman jagung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Irigasi Tanaman


Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pemberian air untuk
menunjang tanaman, meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa. Irigasi berfungsi untuk mendukung produktifitas tanaman
yang dilakukan dengan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi serta
ditentukan oleh keandalan air irigasi, keandalan prasarana irigasi dan faktor
lainnya.

2.2 Kebutuhan Air Tanaman


Kebutuhan air pada tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang
diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (ET)dari
tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan yang luas dengan kondisi tanah
yang tidak mempunyai kendala (kendala lengas tanah dan kesuburan tanah) dan
mencapai potensi produksi penuh pada kondisi lingkungan tumbuh tertentu.
Kebutuhan air tanaman (ET) dapat dikukur melalui perkalian antara koefisien
evapotranspirasi tumbuhan dengan nilai evapotranspirasi standar. Terdapat
beberapa metode yang digunakan dalam menentukan ET tanaman (Ahmad, 2010).
Dengan mengetahui nilai Evaporasi atau kebutuhan air yang hilang pada tanaman,
maka pihak yang terkait dengan pertanian dapat mengetahui metode dan saat yang
tepat untuk melakukan pengairan. Hal tersebut perlu dilakukan dikarenakan air
merupakan komponen yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
Penghitungan ET dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama yaitu pencarian
ETo

terlebih

dahulu.

ETo

(evaporasi

tanaman

referensi)

yaitu

laju

evapotranspirasi dari permukaan berumput luas setinggi 8-15 cm, rumput hijau
yang tingginya seragam, tumbuh aktif, secara lengkap menaungi permukaan
tanah dan tidak kekurangan air. Empat metode yang dapat digunakan adalah
Blaney-Criddle, Radiasi, Penman dan Evaporasi Panci, dimodifikasi untuk
menghitung ETo dengan menggunakan data iklim harian selama periode 10 atau

30 hari. Tahap kedua setelah pengukuran ETo adalah pencarian Kc. Kc


merupakan koefosien tanaman yang menyatakan hubungan antara Eto dan ET
tanaman. Nilai Kc beragam sesuai dengan jenis tanaman, fase pertumbuan dan
kondisis cuaca yang ada. Sehingga jumlah konsumtif kebutuhan air tanaman yang
digunakan untuk penguapan (ET) adalah nilai dari perkalian Kc dan ETo. Kc
merupakan koefisien tanaman dan Eto merupakan evaporasi tanaman referensi.

2.3 Tanaman Jagung


Pada pengelolaan air untuk tanaman jagung khususnya di Indonesia, dimana
jagung banyak dibudidayakan di lahan kering dan tadah hujan, pengelolaan air
penting untuk diperhatikan. Hubungan jumlah pemberian air dengan hasil jagung
ketepatan pemberian air sesuai dengan tingkat pertumbuhan tanaman jagung
sangat berpengaruh terhadap produksi biji jagung. Ditinjau dari aspek pemberian
air, periode pertumbuhan tanaman yang mana membutuhkan adanya pengairan
dibagi menjadi 5 fase yaitu fase pertumbuhan awal (selama 15-25 hari), fase
vegetatif (25-40 hari), fase pembungaan (15-20 hari), fase pengisian biji (35-45
hari) dan fase pematangan (10-25 hari). Pengairan tanaman dalam kondisi
berkecukupan air jagung setelah ditanam sebaiknya disiram sesuai kebutuhan air
jagung pada fase-fase pertumbuhannya (Shatomedia, 2011) dengan kata lain pada
saat lengas tanah diantara titik layu permanen dan kapasitas lapang.

2.4 Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah merupakan gabungan dari penguapan air secara
bebas (evaporasi) dan penguapan melalui tanaman (transpirasi) yang dapat
digunakan. Evapotranspirasi potensial atau disebut juga evapotranspirasi acuan
(ETo) adalah besarnya evapotranspirasi dari tanaman hipotetik (teoritis) dengan
ciri ketinggian 12 cm, tahanan dedaunan yang telah ditetapkan 70 detik/m dan
albedo (pantulan radiasi) 0.23, mirip dengan evapotranspirasi pada tanaman
rumput hijau luas dengan ketinggian yang seragam, tumbuh subur, menutup tanah
dengan sepenuhnya dan tak kekurangan air. ETo diantaranya dapat dihitung
dengan data meteorologi. Perhitungan evapotranspirasi potensial (ETo) dapat
dilakukan dengan menggunakan aplikasi "CROPWAT 8.0".

2.5 Software CROPWAT 8.0


CROPWAT 8.0 adalah program berbasis windows di versi DOS sebelumnya.
Selain itu user interface sepenuhnya didesain ulang, CROPWAT 8.0 untuk
windows termasuk dalam fitur baru dan diperbaharui, dikembangkan dengan
menggunakan Visual Delphi 4.0 dan berjalan dengan flatform Windows
(Shatomedia, 2010). Program yang dipakai melalui perintah DOS untuk
menghitung evapotranspirasi Penman Monteith, kebutuhan air untuk tanaman dan
kebutuhan air irigasi berdasarkan data iklim, tanah dan tanaman. CROPWAT 8.0
juga digunakan untuk menghitung jadwal pemberian air irigasi untuk macammacam kondisi pengelolaan dan suplai air untuk seluruh air untuk seluruh daerah
irigasi dengan bermacam-macam pola tanam tertentu. Program CROPWAT 8.0
memungkinkan pengembangan jadwal irigasi untuk kondisi manajemen yang
berbeda dan perhitungan pasokan air untuk berbagai skema pola tanam
(Shatomedia, 2011). CROPWAT 8.0 juga dapat digunakan untuk mengevaluasi
praktek-praktek irigasi petani dan memprakirakan kinerja tanaman di bawah
kedua kondisi tadah hujan dan hujan. Untuk perhitungan tersebut, dibutuhkan
data-data iklim dan data-data lainnya, misalnya data tanaman, data pola tanam dan
data tanah. Prosedur yang digunakan dalam CROPWAT 8.0 didasarkan pada dua
publikasi FAO Seri Irigasi dan Drainase, yaitu No. 56 :"Evapotranspirasi
Tanaman Panduanuntuk Komputasi Kebutuhan Air Tanaman " dan No. 33
:"Respon Panen terhadap Air".

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
1. Evapotranspirasi (ETo)

Gambar 1. Hasil perhitungan ETo pada Tanaman Jagung Manis

2. Curah Hujan Efektif

Gambar 2. Hasil Perhitungan Curah Hujan untuk Tanaman Jagung


Manis

3. Data Tanaman

Gambar 3. Data Crop dan Hasil Crop untuk Tanaman Jagung Manis

4. Data Soil (Tanah)

Gambar 4. Data Tanah untuk tanaman Jagung Manis

5. Kebutuhan Air dan Kebutuhan Air Irigasi

Gambar 5. Kebutuhan Air dan Kebutuhan Air Irigasi Tanaman Jagung

6. Jadwal Irigasi Musim Tanam Pertama (Maret-Mei)

Gambar 6. Jadwal irigasi Musim Tanam Pertama

7. Musim Tanam Kedua (Juni-Agustus)

Gambar 7. Hasil musim Tanam Kedua Tanaman Jagung Manis

Gambar 8. Jadwal Irigasi Musim Tanam Kedua

8. Musim Tanam Ketiga (Oktober-Januari)

Gambar 9. Data Tanaman Jagung Manis Musim Tanam Ketiga

Gambar 10. Kebutuhan Air Irigasi Musim Tanaman Jagung Manis

9. Jadwal Irigasi Musim Tanam Ketiga

Gambar 11. Jadwal Irigasi Musim Tanam Ketiga

3.2 Pembahasan
Dari perhitungan yang telah dikerjakan pada stasiun klimatologi dapat
diketahui bahwa Evapotranspirasi (ETo) memiliki rata-rata sebesar 4.04 mm/hari.
Nilai ETo paling besar terdapat pada bulan September sedangkan yang paling
kecil terdapat pada bulan Juni (Data dapat dilihat pada gambar 1). Curah hujan
tahunan yang diperoleh untuk tanaman jagung manis yaitu 1879.6 mm. Nilai
curah hujan tersebut digunakan untuk menentukan besarnya curah hujan efektif
dimana hasil tertinggi diperoleh pada bulan Januari sebesar 154.8 mm dan
terendah 19.55 mm yang diperoleh pada bulan Agustus. Untuk tanaman jagung
manis dilakukan 3 (tiga) kali penanaman yaitu pada periode Maret-Mei, JuniAgustus dan Oktober-Januari. Untuk perhitungan ketiga yaitu crop dan hasil crop
tanaman dapat kita hitung dengan crop

pada aplikasi cropwat dengan

menginputkan nilai Kc valuesnya, dari situ kita dapat mengetahui berapa lama
tanaman itu dapat di panen. Selanjutnya kita buka menu CWR untuk mengetahui
berapa hasil kabutuhan air dan banyak kebutuhan air irigasi yang diperlukan bagi
tanaman. Data yang dimasukkan antara lain tanggal penanaman, durasi waktu
untuk setiap fase tanaman, kedalaman akar, tinggi tanaman, respon tanaman, dan
penipisan kritis.
Koefisien tanaman sebesar 0.30 untuk tanaman jagung manis dengan
kedalaman perakaran 0.8 m. Kedalaman perakaran ini sesuai dengan kedalaman
perakaran jagung yang dibutuhkan yaitu antara 0.8 1.2 m sehingga dapat
diketahui kekurangan air yang harus dipenuhi khususnya pada saat pergantian
musim tanam. Apabila disesuaikan dengan jenis tanah yang digunakan yaitu
lempung maka air tersedia (AST) diperoleh 290 mm/m yang sama nilainya
dengan jumlah air tersedia pada awal pertumbuhan. Kebutuhan air tanaman
periode musim tanam pertama ialah 15.3 mm/dec, untuk periode musim tanam
kedua ialah 169.4 mm/dec dan pada periode musim tanam ketiga sebesar 0
mm/dec. Perubahan kebutuhan air setiap periode dipengaruhi oleh beberapa
faktor, faktor faktor tersebut antara lain intensitas radiasi matahari, kecepatan
angin, kelembaban, dan ketersediaan air pada tanah maupun evapotranspirasi yang
diperoleh sebelumnya. Semakin besar intensitas matahari dan kecepatan angin
yang berada pada lingkungan tumbuh tanaman, maka proses evapotranspirasi atau

kebutuhan air tanaman akan bertambah pula. Selain kecepatan angin dan
matahari, kelembapan juga mempengaruhi proses evapotranspirasi. Ketika kondisi
lingkungan tumbuh tanaman adalah lembab, maka proses evapotranspirasi
menjadi terhambat. Adanya angin dapat memindahkan udara jenuh dari
lingkungan tumbuh tanaman dan menggantikannya dengan udara kering. Udara
kering mampu meningkatkan laju evapotranspirasi. Hal ini dapat dilihat dari hasil
periode musim tanam pertama dimana curah hujan mulai menurun sehingga
kebutuhan air menjadi lebih banyak.
Kondisi cuaca musiman jaga mempengaruhi evapotranspirasi. Proses
evapotranspirasi terendah terjadi pada saat musim dengan cuaca terdingin. Pada
cuaca tersebut stomata pada permukaan daun menutup sehingga menghambat
proses transpirasi. Karena tidak semua air hujan yang turun dapat digunakan oleh
tanaman, untuk data curah hujan yang dibutuhkan atau curah hujan efektif dapat
kita peroleh pada perhitungan tabel yang kedua yaitu pada menu rain di aplikasi
cropwat dan dari data hujan yang diinputkan. Metode yang digunakan untuk
mencari curah hujan efektif pada penggunaan CROPWAT ini adalah USDA S.C.
Method. Dari hasil yang diperoleh, nilai ETo yang diperoleh sebesar 244.8
mm/dec. Nilai curah hujan efektif (Effective Rain) 343.6 mm/dec. yang terkecil
sebesar 16.4 mm/bulan terjadi pada Agustus, sedangkan yang terbesar terjadi
pada bulan Desember sebesar 158 mm/bulan.
Nilai ETo dalam satuan mm/hari tidak dapat digunakan untuk menduga
kebutuhan air untuk tanaman dalam pot atau polybag di rumah kaca. Hal ini
disebabkan oleh data-data yang digunakan untuk menentukan nilai ETo diperoleh
dari lingkungan luar seperti kecepatan angin dan penyinaran matahari. Nilai ETo
biasanya digunakan untuk tanaman-tanaman pertanian (crops) seperti tanaman
jagung

yang ditanam di lahan terbuka. Sedangkan satuan yang cocok untuk

menunjukkan kebutuhan air tanaman dalam polybag adalah mm/dt. Dari hasil
perhitungan dapat dilihat dari nilai ETo, nilai curah hujan untuk tanaman, waktu
dan hasil panen. Untuk mendapatkan nilai evapotrasnpirasi tanaman dibawah
keadaan normal, faktor yang mempengaruhinya adalah evapotranspirasi acuan
(ET0) dan koefisien tanaman (Kc). Faktor-faktor tersebut memiliki hubungan
sebagai berikut.

ETc = ET0 x Kc
Nilai ETc ini yang akan digunakan untuk melihat kebutuhan air tanaman pada
tanaman tersebut. Setiap tanaman memiliki Kc yang berbeda-beda maka nilai ETc
akan bervariasi. Total air irigasi untuk tanaman jagung manis adalah 34 mm.
Berdasarkan keseluruhan hasil yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa efisiensi
dari pemberian air irigasi untuk tanaman jagung manis ini baik dikarenakan
kehilangan curah hujan yang diperoleh tidak terlalu besar . Pemberian air yang
berlebihan pada saat pengairan selain kurang berguna dapat merusak tanaman
karena akan menyebabkan akar dan batang bagian bawah yang tergenang akan
menjadi busuk.
Manfaat dari adanya aplikasi CROPWAT ini sangat membantu pada
penjadwalan tanam pada lahan. Air hujan yang dapat dimanfaatkan akan sangat
dapat membantu bagi petani yang memiliki masalah dalam pengairan. Adapun
kelemahan pada aplikasi ini adalah adanya ketergantungan pada data klimatologi,
yang pada kenyataannya saat ini adalah iklim merupakan suatu faktor abiotik yang
terkadang sulit untuk dikendalikan. Perubahan iklim yang tidak menentu pada
setiap daerah dapat merubah data yang telah diperoleh sehingga akan terjadinya
kesalahan pada saat penjadwalan. Dalam penggunaan aplikasi ini, seperti untuk
beberapa laptop tidak dapat menggunakan tanda titik (.), atau juga tidak dapat
menginputkan tanggal. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian software dengan
kapasitas laptop, atau karena memang karena aplikasi yang digunakan versi lama
dan tidak asli sehingga aplikasi ini tidak dapat bekerja sesuai dengan kinerjanya.

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan dari pemberian kebutuhan air irigasi tanaman jagung ini yaitu:
1) Untuk menghitung ETo dengan CROPWAT diperlukan data-data diantaranya
suhu, RH, lama penyinaran matahari dan kecepatan angin yang dirata-rata
selama beberapa periode.
2) Perubahan kebutuhan air setiap periode dipengaruhi oleh beberapa faktor,
faktor faktor tersebut antara lain intensitas radiasi matahari, kecepatan angin,
kelembaban, dan ketersediaan air pada tanah maupun evapotranspirasi yang
diperoleh sebelumnya.
3) Semakin besar intensitas matahari dan kecepatan angin yang berada pada
lingkungan tumbuh tanaman, maka proses evapotranspirasi atau kebutuhan
air tanaman akan bertambah pula.
4) Untuk mendapatkan nilai evapotrasnpirasi tanaman dibawah keadaan normal,
faktor yang mempengaruhinya adalah evapotranspirasi acuan (ET0) dan
koefisien tanaman (Kc).
5) Setiap tanaman memiliki Kc yang berbeda-beda maka nilai ETc akan
bervariasi.
6) Curah hujan tahunan yang diperoleh untuk tanaman jagung manis yaitu
1879.6 mm dengan nilai curah hujan menentukan besarnya curah hujan
efektif dimana hasil tertinggi diperoleh pada bulan Januari sebesar 154.8 mm
dan terendah 19.55 mm yang diperoleh pada bulan Agustus.
7) Untuk tanaman jagung manis dilakukan 3 (tiga) kali penanaman yaitu pada
periode Maret-Mei, Juni-Agustus dan Oktober-Januari.
8) Untuk menghitung ETcrop tergantung dari ETo dan kc (koefisien crops).
9) Software CROPWAT dapat digunakan untuk pedoman dasar dalam
manajemen sumberdaya air.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad.

2010.

Kebutuhan

Air

Untuk

Tanaman

http://yanessipil.wordpress.com/2010/03/28/kebutuhan-air-untuktanaman/. (Diakses tanggal 04 Oktober 2014 pukul 19.08 WIB).


Shatomedia.

2011.

Cropwat.

Terdapat

pada

http://shatomedia.blogspot.com/2011/12/cropwat. html. (Diakses tanggal


04 Oktober 2014, pukul 18.39 WIB).
Shatomedia.

2011.

Laporan

http://shatomedia.blogspot.com/2011/02/

Kalender

Tanam.

laporan-kalender-tanam.html.

(Diakses tanggal 04 Oktober 2014, pukul 19.01 WIB).