Anda di halaman 1dari 23

Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk

membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan


isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba
(Sutedjo,1996).
Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus
memenuhi syarat-syarat antara lain :
a.

Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba

b. Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan
mikroba yang ditumbuhkan
c.

Harus mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba

d.

Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang diinginkan dapat
tumbuh baik (Sutedjo,1996).
Macam-macam media
Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan kimianya, sifat wujudnya dan
fungsinya. Penggolongan media berdasarkan susunan kimia :

1. Media anorganik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik


2. Media organik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik
3.

Media sintetik (media buatan). Yaitu media yang susunan kimianya diketahui dengan pasti.
Media ini umumnya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan suatu mikroba

4.

Media non sintetik. Yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti.
Media ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba
(Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan sifat wujudnya

1. Media cair yaitu media yang berbentuk cair


2. Media padat. Yaitu media yang berbentuk padat. Media ini dapat berupa bahan organik alamiah,
misalnya yang dibuat dari kentang, wortel, dan lain-lain, atau dapat juga berupa bahan anorganik
misalnya silica gel
3.

Media padat yang dapat dicairkan, (semi solid), yaitu yang apabila dalam keadaan panas
berbentuk cair, sedangkan dalam keadaan dingin berbentuk padat, misalnya media agar
(Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan fungsinya

1.

Media diperkaya. Yaitu media yang ditambahi zat-zat tertentu misalnya serum darah ekstrak
tanaman dan lain sebagainya, sehinggan dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang
bersifat heterotrof.

2.

Media selektif. Yaitu media yang ditambahi zat kimia tertentu untuk mencegah pertumbuhan
mikroba lain (bersifat selektif). Misalnya media yang mengandung Kristal violet pada kadar
tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan
bakteri gram negative.

3.

Media diferensial. Yaitu media yang ditambahi zat kimia (bahan) tertentu yang menyebabkan
suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat

dibedakan tipe-tipenya. Misalnya media daerah agar dapat digunakan untuk membedakan bakteri
homolitik (pemecah darah) dan bakteri non hemolitik.
4. Media penguji. Yaitu media dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian vitamin.
Vitamin asam-asam amino, antibiotika dan lain sebagainya.
5.

Media untuk perhitungan jumlah mikroba. Yaitu media spesifik yang digunakan untuk
menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan.

6. Media khusus. Yaitu media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya
untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu (Sutedjo,1996).
Cara pembuatan media
Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan adalah sebagai berikut :
a.

Mencampur bahan-bahan : bahan-bahan yang dilarutkan dalam air suling. Kemudian dipanaskan
dalam pemanas air supaya larutannya homogeny.

b. Menyaring : beberapa jenis media kadang-kadang perlu disaring, dan sebagai penyaringan dapat
digunakan kertas saring, kapas atau kain. Untuk media agar atau gelatin penyaringan harus
dilakukan dalam keadaan panas.
c.

Menentukan dan mengatur pH : penentuan pH media dapat dilakukan dengan menggunakan


kertas pH, pH meter atau dengan komparator blok. Pengaturan pH media dapat dilakukan dengan
penambahan asam atau basa (organik atau anorganik).

d.

Memasukkan media ke dalam tempat tertentu : sebelum disterilakan, media dimasukkan ke


dalam tabung reaksi, Erlenmeyer atau wadah lain yang bersih, kemudian dibungkus kertas
sampul (kertas perkamen) supaya tidak basah sewaktu disterilkan.

e.

Sterilisasi : pada umumnya sterilisasi media dilakukan dengan uap panas di dalam autoclave,
pada suhu 121 C selama 15-30 menit (Sutedjo,1996).
Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan.
Media biak kompleks. Untuk banyak mikroorganisme bertuntutan tinggi belum dikenal
benar bahan-bahan makanan yang diperlukan. Orang membiakkannya dalam larutan biak yang
mengandung ekstrak ragi, otolisat ragi, pepton, atau ekstak daging. Untuk beberapa kelompok
organisme lazim juga digunakan : rempah-rempah, dekok rumput kering, sari buah prem, sari
buah wortel, santan dan untuk cendawan kupofil juga sari perasan tahi kuda. Mengingat biaya,
larutan-larutan baik tidak dibentuk dari senyawa-senyawa murni tetapi lebih disukai untuk
menggunakan zat-zat kompleks, seperti air didih, melaso, air rendaman jagung atau ekstrak

kedelei, yang sebagai produk sisa tersedia dengan harga murah. Media bak seperti ini disebut
media bak kompleks. (Schlegel, 1994).
Media biak padat. Untuk membuat bak padat pada larutan bak cair di tambahkan bahan
pemadat yang member konsistensi seperti selai pada larutan air. Hanya untuk keperluan tertentu
masih digunakan gelatin, karena sudah mencair pada suhu 26-300 C dan banyak mikroorganisme
mampu mencairkan gelatin.
Kadar ion hydrogen. Diantara semua ion, ion H+ dan OH- adalah ion-ion yang paling
mobil ; oleh sebab itu perubahan kadar yang kecil saja sudah menimbulkan pengaruh yang besar.
(Schlagel, 1994).
Karbondioksida, larun bak yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang
ototrof yang memfikasi CO2 biasanya ditambahi Na- bikarbonat dan diinkubasi dibawah atmosfir
yang mengandung CO2 dalam wadah tertutup (Schlagel, 1994).
Kadar air dan tekanan osmotik. Mikroorganisme menunjukkan perbedaan yang luas dari
segi tuntutan keperluan akan kadar air (Schlagel, 1994).
Suhu. Memilih tuntutan mengenai suhhu inkubasi miroorganisme berbeda-beda
prilakunya.
Aerasi untuk semua mikroorganisme aerob obligat, oksigen merupakan akseptor electron
yang sangat penting.
Biak anaerob. Untuk menumbuhkan jenis bakteri yang anaerob kuat penyingkiran O2
udara merupakan persyaratan yang amat perlu (Schlegel, 1994)
Zat hara yang ditambahkan ke dalam media.
Untuk pertumbuhan diperlukan zat hara. Berbagai zat hara yang diperlukan adalah :
Nitrogen :
Pada umumnya bakteri tidak dapat langsung menggunakan N2 bebas dari udara, sehingga
keperluannya diberikan dalam bentuk garam. Nitrogen diperlukan sebagai bahan dasar untuk
protein, asam nukleat dan vitamin. Dalam media bahan yang mengandung N ini berupa :
-

NH4Cl N inorganik

NaNO3

Pepton N organik

Karbon :

Sebagai sumber karbon digunakan bernagai gula, pati, glikogen. Gula yang dipakai
berupa 5C,6C, atau disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltose). Untuk dapat menggunakan
sumber karbon ini bakteri dapat menguraikannua menjadi molekul yang lebih kecil yang
kemudian digunakan untuk bahan dasar protein, polisakarida, lipida dan asam nukleat.
Vitamin dan Faktor pertumbuhan :
Berbagai vitamin yang diperlukan bakteri adalah thiamine, riboflavin, asam nikotinat,
asam pantotenas biotin. Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim atau bagian lain dari bahan dasar
sel (Hastowo,1992).

BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum kedua ini melakukan percobaan tentang media pertumbuhan mikroba yang
dilaksanakan pada hari Rabu, pada tanggal 16 Maret 2011 pukul 10.00-12.00 WITA. Bertempat
di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Mulawarman Samarinda.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat-alat
- Gelas kimia
- Gelas ukur
- Hot plate
- Autoclave
- Saringan
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Pipet volume
- Timbangan (neraca)
- Erlenmeyer
- Magnetic stirrer

- Batang pengambil magnetic stirerr


- Indicator pH
- Gelas beker
- Wadah (mangkuk)
- Pensil
- Inkubator
3.2.2 Bahan-bahan
- Ekstrak daging
- Ekstrak kentang
- Pepton
- Dextrose
- Agar-agar
- NaCl
- Aquades
- Chloramphenicol
- Alumunium foil
- Karet gelang
- Kertas
- Indikator pH / kertas lakmus
3.2 Cara Kerja
3.3.1 Media nutrient agar (NA)
1. Ditakar ekstrak daging sebanyak 250 ml menggunakan gelas ukur
2.

Dicampurkan ekstrak daging 250 ml dengan pepton sebanyak 1,25 gr dan agar-agar 3,75 gr
kedalam Erlenmeyer

3.

Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih sambil diaduk dengan magnetic stirrer sampai
larutan homogen

4. Diukur kadar keasaman (pH)


5. Dimasukkan ke dalam 2 buah Erlenmeyer masing-masing sebanyak 125 ml
6. Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil

7.

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterilkan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi
3.3.2 Media potato dextrose agar (PDA)

1. Ditakar ekstrak kentang sebanyak 250 ml menggunakan gelas ukur


2. Dicampurkan ekstrak kentang 250 ml dengan dextrose 2,5 gr dan agar-agar 3,75 gr ke dalam
Erlenmeyer
3.

Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih sambil diaduk dengan menggunakan magnetic
stirrer sampai homogen, lalu dibiarkan beberapa saat

4. Dilarutkan chloromphenicol dengan aquades sebanyak 10 ml ke dalam media ekstrak kentang


5. Dihomogenkan kemudian diukur kadar keasamannya (pH)
6. Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil, kemudian dibungkus dengan kertas
7.

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterilokan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi
3.3.3 Garam fisiologis

Ditakar 150 ml aquades dengan labu takar

Dicampurkan 1,275 gr NaCl dengan 150 ml aqudes kedalam Erlenmeyer

Dihogenkan menggunakan magnetic stirrer

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 9 ml

Ditutup mulut tabung reaksi menggunakan alumunium foil , kemudian dibungkus dengan kertas

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterikan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
4.1.1

Tabel hasi pengamatan media pertumbuhan bakteri


No.

Media

Keterangan

01.

Warna awal pengamatan, berwarna


kuning. Setelah pemanasan warna
media agak cokelat

Komposisi : kaldu daging 250 ml,


pepton 1,25 gr, dan agar 3,75 gr

4.1.2

pH = 7

Tabel hasil pengamatan media pertumbuhan jamur


No.
02.

Media

Keterangan
-

Warna awal pengamatan, sebelum


proses pemanasan berwarna keruh,
setelah pemanasan warna media agak
cokelat muda

Komposisi : kaldu kentang 250 ml,


dextrose 2,5 gr, dan agar 3,75 gr,
ditambah chloromphenicol

pH = 5,9

4.3 Pembahasan
Pada media NA digunakan ekstrak daging karena daging sebagai sumber vitamin B,
mengandung nitrogen organik, dan senyawa karbon. NA adalah nutrient agar. Pada media PDA
(potato dextrose agar) digunakan ekstrak kentang karena kentang sebagai sumber karbon
(karbohidrat), vitamin, dan energy. Dextrose sebagai sumber gula dan energy, dan agar berguna

untuk mendapatkan media PDA. Pepton sebagai sumber protein, karbohidrat, dan penghasil
nitrogen. Dan diberi agar sebanyak pemadat media NA.
Pembuatan media nutrient agar (NA) berasal dari bahan ekstrak daging sebanyak 250 ml,
lalu dicampurkan dengan pepton sebanyak 1,25 gr dan agar 3,75 gr. Dipanaskan diatas hot plate
hingga mendidih, wadah yang digunakan adalah Erlenmeyer. Campuran ini selama dipanaskan
juga diaduk menggunakan magnetic stirrer, setelah itu diuku pHnya, sesuai standarisasinya.
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna
untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam media dapat dilakukan
isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan juimlah mikroba
(schlegel,1994).
Tujuan dalam pembuatan media untuk wadah membiakkan mikroba, sehingga mikroba
dapat tumbuh baik dalam suatu media yang telah dibuat.
Chloromphrnicol adalah antibiotik yang diberikan pada media yang berfungsi untuk
membunuh mikroba-mikroba yang tidak diinginkan supaya mikroba yang akan kita buat tidak
terganggu atau dengan kata lain agar media tidak terkontaminasi (Sutedjo,1996).
Pada pembuatan media NA, ekstrak daging 250 ml, dicampurkan pepton 1,25 gr, dan
agar 3,75 gr.didapatkan pada awal pengamatan, berwarna kuning. Setelah pemanasan didapatkan
hasil warna media agak cokelat, dan diukur keasamannya (pH). pH yang ada pada NA sudah
sesuai dengan standarisasi pH 6,8-7,0 , pH NA adalah 7. Sehingga tidak harus diberi tambahan
NaCl. Kemudian pada pembuatan media potato dextrose agar dengan menggunakan bahan dasar
ekstrak kentang 250 ml, ditambah dextrose 2,5 gr, dan agar 3,75 gr ditambah chloramphenicol.
Didapatkan pada awal pengamatan, sebelum proses pemanasan berwarna keruh, setelah
dilakukan pemanasan didapatkan hasil warna media agak cokelat muda, kemudian diukur
keasamannya didapatkan pH 5,9.
Pada pembuatan larutan garam fisiologis aquades dan NaCl ditakar untuki membuat
larutan NaCl 0,85%, larutan distirer supaya larutan aquades dan NaCl tercampur. Mulut tabung
reaksi ditutup dengan menggunakan alumunium foil dan dibungkus dengan kertas, dilakukan ini
berfungsi untuk media tetap steril, tidak terkontaminasi terhadap mikroorganisme yang ada
diluar. Kemudian larutan disteril menggunakan autoclave, ini berfungsi untuk membunuh semua
mikroorganisme yang terdapat dalam larutan.

Dalam melakukan percobaan dilakukan beberapa perlakuan yaitu menakar ekstrak


kentang dan daging agar sesuai dengan komposisi yang ada. Memanaskan atau autoclave larutan
agar mikroorganisme yang lain mati. Menggunakan sstirer agar larutan menjadi larutan
homogen. Menutup mulut Erlenmeyer dengan alumunium foil agar tidak ada mikroorganisme
yang masuk.
Faktor kesalahan terjadi apabila pada saat pemanasan diatas hot plate tidak hati-hati
sehingga air mendidih dan berhamburan keluar dari Erlenmeyer.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum pada media pertumbuhan mikroba dapat disimpulkan bahwa :
-

Fungsi medium (NA) berdasrkan susunan kimianya merupakan medium non sintetik atau semi
ilmiah, berdasarkan konsistennya merupakan medium padat, untuk menumbuhkan bakteri,
(PDA) termasuk media padat, berdasarkan susunan kimianya termasuk sintetik untuk
menumbuhkan jamur.

Pembuatan media (NA) menggunakan bahan utama ekstrak daging 250 ml dengan komposisi
pepton sebanyak 1,25 gr dan agar 3,75 pada pembuatan media ini ditambahkan pepton agar
mikroba cepat tumbuh karena mengandung N2

Pembuatan medium (PDA) menggunakan bahan utama ekstrak kentang 250 ml dengan
komposisi dextrose 2,5 gr dan agar 3,75 gr. Pada media ini ditambahkan chlorainphericol sebagai
antibiotik sehingga mikroba yang tidak digunakan tidak tumbuh.

Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk
membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan
isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba
(Sutedjo,1996).
Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus
memenuhi syarat-syarat antara lain :
a.

Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba

b. Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan
mikroba yang ditumbuhkan
c.

Harus mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba

d.

Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang diinginkan dapat
tumbuh baik (Sutedjo,1996).
Macam-macam media
Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan kimianya, sifat wujudnya dan
fungsinya. Penggolongan media berdasarkan susunan kimia :

1. Media anorganik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik


2. Media organik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik
3.

Media sintetik (media buatan). Yaitu media yang susunan kimianya diketahui dengan pasti.
Media ini umumnya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan suatu mikroba

4.

Media non sintetik. Yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti.
Media ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba
(Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan sifat wujudnya

1. Media cair yaitu media yang berbentuk cair


2. Media padat. Yaitu media yang berbentuk padat. Media ini dapat berupa bahan organik alamiah,
misalnya yang dibuat dari kentang, wortel, dan lain-lain, atau dapat juga berupa bahan anorganik
misalnya silica gel
3.

Media padat yang dapat dicairkan, (semi solid), yaitu yang apabila dalam keadaan panas
berbentuk cair, sedangkan dalam keadaan dingin berbentuk padat, misalnya media agar
(Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan fungsinya

1.

Media diperkaya. Yaitu media yang ditambahi zat-zat tertentu misalnya serum darah ekstrak
tanaman dan lain sebagainya, sehinggan dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang
bersifat heterotrof.

2.

Media selektif. Yaitu media yang ditambahi zat kimia tertentu untuk mencegah pertumbuhan
mikroba lain (bersifat selektif). Misalnya media yang mengandung Kristal violet pada kadar
tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan
bakteri gram negative.

3.

Media diferensial. Yaitu media yang ditambahi zat kimia (bahan) tertentu yang menyebabkan
suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat
dibedakan tipe-tipenya. Misalnya media daerah agar dapat digunakan untuk membedakan bakteri
homolitik (pemecah darah) dan bakteri non hemolitik.

4. Media penguji. Yaitu media dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian vitamin.
Vitamin asam-asam amino, antibiotika dan lain sebagainya.
5.

Media untuk perhitungan jumlah mikroba. Yaitu media spesifik yang digunakan untuk
menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan.

6. Media khusus. Yaitu media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya
untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu (Sutedjo,1996).
Cara pembuatan media
Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan adalah sebagai berikut :
a.

Mencampur bahan-bahan : bahan-bahan yang dilarutkan dalam air suling. Kemudian dipanaskan
dalam pemanas air supaya larutannya homogeny.

b. Menyaring : beberapa jenis media kadang-kadang perlu disaring, dan sebagai penyaringan dapat
digunakan kertas saring, kapas atau kain. Untuk media agar atau gelatin penyaringan harus
dilakukan dalam keadaan panas.
c.

Menentukan dan mengatur pH : penentuan pH media dapat dilakukan dengan menggunakan


kertas pH, pH meter atau dengan komparator blok. Pengaturan pH media dapat dilakukan dengan
penambahan asam atau basa (organik atau anorganik).

d.

Memasukkan media ke dalam tempat tertentu : sebelum disterilakan, media dimasukkan ke


dalam tabung reaksi, Erlenmeyer atau wadah lain yang bersih, kemudian dibungkus kertas
sampul (kertas perkamen) supaya tidak basah sewaktu disterilkan.

e.

Sterilisasi : pada umumnya sterilisasi media dilakukan dengan uap panas di dalam autoclave,
pada suhu 121 C selama 15-30 menit (Sutedjo,1996).
Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan.
Media biak kompleks. Untuk banyak mikroorganisme bertuntutan tinggi belum dikenal
benar bahan-bahan makanan yang diperlukan. Orang membiakkannya dalam larutan biak yang
mengandung ekstrak ragi, otolisat ragi, pepton, atau ekstak daging. Untuk beberapa kelompok
organisme lazim juga digunakan : rempah-rempah, dekok rumput kering, sari buah prem, sari
buah wortel, santan dan untuk cendawan kupofil juga sari perasan tahi kuda. Mengingat biaya,
larutan-larutan baik tidak dibentuk dari senyawa-senyawa murni tetapi lebih disukai untuk
menggunakan zat-zat kompleks, seperti air didih, melaso, air rendaman jagung atau ekstrak
kedelei, yang sebagai produk sisa tersedia dengan harga murah. Media bak seperti ini disebut
media bak kompleks. (Schlegel, 1994).
Media biak padat. Untuk membuat bak padat pada larutan bak cair di tambahkan bahan
pemadat yang member konsistensi seperti selai pada larutan air. Hanya untuk keperluan tertentu
masih digunakan gelatin, karena sudah mencair pada suhu 26-300 C dan banyak mikroorganisme
mampu mencairkan gelatin.
Kadar ion hydrogen. Diantara semua ion, ion H+ dan OH- adalah ion-ion yang paling
mobil ; oleh sebab itu perubahan kadar yang kecil saja sudah menimbulkan pengaruh yang besar.
(Schlagel, 1994).
Karbondioksida, larun bak yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang
ototrof yang memfikasi CO2 biasanya ditambahi Na- bikarbonat dan diinkubasi dibawah atmosfir
yang mengandung CO2 dalam wadah tertutup (Schlagel, 1994).
Kadar air dan tekanan osmotik. Mikroorganisme menunjukkan perbedaan yang luas dari
segi tuntutan keperluan akan kadar air (Schlagel, 1994).
Suhu. Memilih tuntutan mengenai suhhu inkubasi miroorganisme berbeda-beda
prilakunya.
Aerasi untuk semua mikroorganisme aerob obligat, oksigen merupakan akseptor electron
yang sangat penting.
Biak anaerob. Untuk menumbuhkan jenis bakteri yang anaerob kuat penyingkiran O2
udara merupakan persyaratan yang amat perlu (Schlegel, 1994)
Zat hara yang ditambahkan ke dalam media.

Untuk pertumbuhan diperlukan zat hara. Berbagai zat hara yang diperlukan adalah :
Nitrogen :
Pada umumnya bakteri tidak dapat langsung menggunakan N2 bebas dari udara, sehingga
keperluannya diberikan dalam bentuk garam. Nitrogen diperlukan sebagai bahan dasar untuk
protein, asam nukleat dan vitamin. Dalam media bahan yang mengandung N ini berupa :
-

NH4Cl N inorganik

NaNO3

Pepton N organik

Karbon :
Sebagai sumber karbon digunakan bernagai gula, pati, glikogen. Gula yang dipakai
berupa 5C,6C, atau disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltose). Untuk dapat menggunakan
sumber karbon ini bakteri dapat menguraikannua menjadi molekul yang lebih kecil yang
kemudian digunakan untuk bahan dasar protein, polisakarida, lipida dan asam nukleat.
Vitamin dan Faktor pertumbuhan :
Berbagai vitamin yang diperlukan bakteri adalah thiamine, riboflavin, asam nikotinat,
asam pantotenas biotin. Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim atau bagian lain dari bahan dasar
sel (Hastowo,1992).

BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum kedua ini melakukan percobaan tentang media pertumbuhan mikroba yang
dilaksanakan pada hari Rabu, pada tanggal 16 Maret 2011 pukul 10.00-12.00 WITA. Bertempat
di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Mulawarman Samarinda.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat-alat
- Gelas kimia
- Gelas ukur

- Hot plate
- Autoclave
- Saringan
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Pipet volume
- Timbangan (neraca)
- Erlenmeyer
- Magnetic stirrer
- Batang pengambil magnetic stirerr
- Indicator pH
- Gelas beker
- Wadah (mangkuk)
- Pensil
- Inkubator
3.2.2 Bahan-bahan
- Ekstrak daging
- Ekstrak kentang
- Pepton
- Dextrose
- Agar-agar
- NaCl
- Aquades
- Chloramphenicol
- Alumunium foil
- Karet gelang
- Kertas
- Indikator pH / kertas lakmus
3.2 Cara Kerja

3.3.1 Media nutrient agar (NA)


1. Ditakar ekstrak daging sebanyak 250 ml menggunakan gelas ukur
2.

Dicampurkan ekstrak daging 250 ml dengan pepton sebanyak 1,25 gr dan agar-agar 3,75 gr
kedalam Erlenmeyer

3.

Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih sambil diaduk dengan magnetic stirrer sampai
larutan homogen

4. Diukur kadar keasaman (pH)


5. Dimasukkan ke dalam 2 buah Erlenmeyer masing-masing sebanyak 125 ml
6. Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil
7.

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterilkan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi
3.3.2 Media potato dextrose agar (PDA)

1. Ditakar ekstrak kentang sebanyak 250 ml menggunakan gelas ukur


2. Dicampurkan ekstrak kentang 250 ml dengan dextrose 2,5 gr dan agar-agar 3,75 gr ke dalam
Erlenmeyer
3.

Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih sambil diaduk dengan menggunakan magnetic
stirrer sampai homogen, lalu dibiarkan beberapa saat

4. Dilarutkan chloromphenicol dengan aquades sebanyak 10 ml ke dalam media ekstrak kentang


5. Dihomogenkan kemudian diukur kadar keasamannya (pH)
6. Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil, kemudian dibungkus dengan kertas
7.

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterilokan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi
3.3.3 Garam fisiologis

Ditakar 150 ml aquades dengan labu takar

Dicampurkan 1,275 gr NaCl dengan 150 ml aqudes kedalam Erlenmeyer

Dihogenkan menggunakan magnetic stirrer

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 9 ml

Ditutup mulut tabung reaksi menggunakan alumunium foil , kemudian dibungkus dengan kertas

Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterikan beserta alat-alat yang akan digunakan,
autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
4.1.1

Tabel hasi pengamatan media pertumbuhan bakteri


No.

Media

Keterangan
-

01.

Warna awal pengamatan, berwarna


kuning. Setelah pemanasan warna
media agak cokelat

Komposisi : kaldu daging 250 ml,


pepton 1,25 gr, dan agar 3,75 gr

4.1.2

pH = 7

Tabel hasil pengamatan media pertumbuhan jamur


No.
02.

Media

Keterangan
-

Warna awal pengamatan, sebelum


proses pemanasan berwarna keruh,
setelah pemanasan warna media agak
cokelat muda

Komposisi : kaldu kentang 250 ml,


dextrose 2,5 gr, dan agar 3,75 gr,
ditambah chloromphenicol

pH = 5,9

4.3 Pembahasan
Pada media NA digunakan ekstrak daging karena daging sebagai sumber vitamin B,
mengandung nitrogen organik, dan senyawa karbon. NA adalah nutrient agar. Pada media PDA
(potato dextrose agar) digunakan ekstrak kentang karena kentang sebagai sumber karbon
(karbohidrat), vitamin, dan energy. Dextrose sebagai sumber gula dan energy, dan agar berguna
untuk mendapatkan media PDA. Pepton sebagai sumber protein, karbohidrat, dan penghasil
nitrogen. Dan diberi agar sebanyak pemadat media NA.
Pembuatan media nutrient agar (NA) berasal dari bahan ekstrak daging sebanyak 250 ml,
lalu dicampurkan dengan pepton sebanyak 1,25 gr dan agar 3,75 gr. Dipanaskan diatas hot plate
hingga mendidih, wadah yang digunakan adalah Erlenmeyer. Campuran ini selama dipanaskan
juga diaduk menggunakan magnetic stirrer, setelah itu diuku pHnya, sesuai standarisasinya.
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna
untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam media dapat dilakukan
isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan juimlah mikroba
(schlegel,1994).
Tujuan dalam pembuatan media untuk wadah membiakkan mikroba, sehingga mikroba
dapat tumbuh baik dalam suatu media yang telah dibuat.
Chloromphrnicol adalah antibiotik yang diberikan pada media yang berfungsi untuk
membunuh mikroba-mikroba yang tidak diinginkan supaya mikroba yang akan kita buat tidak
terganggu atau dengan kata lain agar media tidak terkontaminasi (Sutedjo,1996).

Pada pembuatan media NA, ekstrak daging 250 ml, dicampurkan pepton 1,25 gr, dan
agar 3,75 gr.didapatkan pada awal pengamatan, berwarna kuning. Setelah pemanasan didapatkan
hasil warna media agak cokelat, dan diukur keasamannya (pH). pH yang ada pada NA sudah
sesuai dengan standarisasi pH 6,8-7,0 , pH NA adalah 7. Sehingga tidak harus diberi tambahan
NaCl. Kemudian pada pembuatan media potato dextrose agar dengan menggunakan bahan dasar
ekstrak kentang 250 ml, ditambah dextrose 2,5 gr, dan agar 3,75 gr ditambah chloramphenicol.
Didapatkan pada awal pengamatan, sebelum proses pemanasan berwarna keruh, setelah
dilakukan pemanasan didapatkan hasil warna media agak cokelat muda, kemudian diukur
keasamannya didapatkan pH 5,9.
Pada pembuatan larutan garam fisiologis aquades dan NaCl ditakar untuki membuat
larutan NaCl 0,85%, larutan distirer supaya larutan aquades dan NaCl tercampur. Mulut tabung
reaksi ditutup dengan menggunakan alumunium foil dan dibungkus dengan kertas, dilakukan ini
berfungsi untuk media tetap steril, tidak terkontaminasi terhadap mikroorganisme yang ada
diluar. Kemudian larutan disteril menggunakan autoclave, ini berfungsi untuk membunuh semua
mikroorganisme yang terdapat dalam larutan.
Dalam melakukan percobaan dilakukan beberapa perlakuan yaitu menakar ekstrak
kentang dan daging agar sesuai dengan komposisi yang ada. Memanaskan atau autoclave larutan
agar mikroorganisme yang lain mati. Menggunakan sstirer agar larutan menjadi larutan
homogen. Menutup mulut Erlenmeyer dengan alumunium foil agar tidak ada mikroorganisme
yang masuk.
Faktor kesalahan terjadi apabila pada saat pemanasan diatas hot plate tidak hati-hati
sehingga air mendidih dan berhamburan keluar dari Erlenmeyer.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum pada media pertumbuhan mikroba dapat disimpulkan bahwa :
-

Fungsi medium (NA) berdasrkan susunan kimianya merupakan medium non sintetik atau semi
ilmiah, berdasarkan konsistennya merupakan medium padat, untuk menumbuhkan bakteri,

(PDA) termasuk media padat, berdasarkan susunan kimianya termasuk sintetik untuk
menumbuhkan jamur.
-

Pembuatan media (NA) menggunakan bahan utama ekstrak daging 250 ml dengan komposisi
pepton sebanyak 1,25 gr dan agar 3,75 pada pembuatan media ini ditambahkan pepton agar
mikroba cepat tumbuh karena mengandung N2

Pembuatan medium (PDA) menggunakan bahan utama ekstrak kentang 250 ml dengan
komposisi dextrose 2,5 gr dan agar 3,75 gr. Pada media ini ditambahkan chlorainphericol sebagai
antibiotik sehingga mikroba yang tidak digunakan tidak tumbuh.