Anda di halaman 1dari 22

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

KESALAHAN PENGUKURAN
Kesalahan pada sistem pengukuran atau disebut juga eror dapat dibagi menjadi dua,
yaitu eror yang muncul selama proses pengukuran dan eror yang muncul kemudian akibat
sinyal pengukuran dipengaruhi gangguan atau noise selama pengiriman sinyal dari titik
pengukuran ke beberapa tempat lain.
Reduksi eror seminimum mungkin dan menyatakan eror maksimum yang masih
terjadi pada pembacaan output instrumen adalah kegiatan yang sangat penting dilakukan.
Pada beberapa kasus, output akhir sistem pengukuran dihitung dengan menggabungkan
dua atau lebih pengukuran variabel fisik, sehingga perhitungan eror pada setiap
pengukuran harus digabungkan untuk memberikan nilai perkiraan terbaik eror dari
besaran yang dihitung.
Langkah awal dalam rangka mereduksi terjadinya eror yang muncul selama proses
pengukuran adalah dengan melakukan analisis detil seluruh sumber eror pada sistem.
Setiap sumber eror kemudian ditinjau untuk mencari cara bagaimana mengeliminasi atau
setidaknya mereduksi besarnya eror. Eror yang muncul selama proses pengukuran dapat
dibagi ke dalam dua kelompok, dikenal sebagai eror sistematik dan eror acak.
Eror sistematik mendeskripsikan eror pada pembacaan output sistem pengukuran
yang secara konsisten ada pada satu sisi pembacaan yang benar, yaitu seluruh eror adalah
positif (lebih besar dari nilai benar pembacaan) atau seluruh eror adalah negatif (lebih
kecil dari nilai benar pembacaan). Dua sumber utama eror sistematik adalah gangguan
sistem selama pengukuran dan efek perubahan lingkungan seperti yang dijelaskan pada
bagian Karakteristik Statik. Sumber eror sistematik yang lain termasuk pembengkokan
jarum alat ukur, penggunaan instrumen yang tidak dikalibrasi, penyimpangan pada
karakteristik instrumen dan pengkabelan yang jelek. Meskipun eror sistematik akibat
faktor-faktor tersebut di atas telah direduksi atau dieliminasi, eror masih tetap muncul
yang merupakan bawaan dari pembuatan instrumen. Eror ini dikuantifikasi sebagai
akurasi yang dikutip pada spesifikasi instrumen (data sheet instrumen).

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Eror acak adalah penyimpangan pengukuran di kedua sisi nilai benar yang
disebabkan oleh efek acak dan tak dapat diprediksi, sedemikian hingga eror positif dan
eror negatif terjadi dalam jumlah yang hampir sama untuk sederetan pengukuran satu
besaran yang sama. Penyimpangan tersebut umumnya kecil, namun penyimpangan besar
terjadi dari waktu ke waktu tanpa dapat diprediksi. Eror acak sering kali muncul ketika
pengukuran dilakukan oleh pengamatan manusia pada alat ukur analog, terutama saat
melibatkan interpolasi antar titik skala pembacaan. Noise listrik dapat juga merupakan
sumber eror acak. Untuk tingkat yang besar, eror acak dapat diatasi dengan mengambil
pengukuran beberapa kali dan mengekstrak nilai dengan teknik statistik. Namun
demikian, kuantifikasi nilai pengukuran dan pernyataan rentang eror tetap merupakan
besaran statistik. Karena sifat alami eror acak dan fakta bahwa penyimpangan yang besar
pada besaran terukur terjadi dari waktu ke waktu, cara terbaik yang dapat dilakukan
adalah menyatakan pengukuran dalam istilah statistik: misalkan menyatakakan 95% atau
99% tingkat kepercayaan bahwa pengukuran berada pada nilai tertentu di dalam rentang
eror, katakanlah, 1%.
Sumber eror pada sistem pengukuran harus ditinjau secara hati-hati untuk
menentukan jenis kesalahan apa yang muncul, sistematik atau acak, dan selanjutnya
menerapkan perlakukan yang tepat. Pada kasus pengukuran data secara manual, seorang
pengamat dapat melakukan beberapa kali pengamatan pada setiap pengukuran, namun
sering kali masuk akal untuk mengasumsikan bahwa eror acak dan bahwa mean
pembacaan nampak dekat dengan nilai benar. Namun, hal ini hanya berlaku sepanjang
pengamat tidak melakukan eror sistematik yang dipengaruhi paralaks sebagai akibat
pembacaan yang awas akan posisi jarum terhadap skala alat ukur analog dilakukan dari
satu sisi, bukan dari langsung di atas alat. Pada kasus tersebut, koreksi seharusnya dibuat
untuk eror sistematik ini (bias) sebelum teknik statistik diterapkan untuk mereduksi efek
eror acak.
1. Kesalahan Sistematik

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

1.1 Sumber Eror Sistematik


Eror sistematik pada output beberapa instrumen adalah akibat faktor bawaan pada
pembuatan instrumen yang keluar dari toleransi komponen instrumen. Eror sistematik
juga dapat disebabkan karena pengausan komponen instrumen. Pada kasus lain, eror
sistematik disebabkan oleh efek gangguan lingkungan maupun gangguan pengukuran
yang muncul akibat aksi pengukuran. Sumber eror sistematik yang beragam tersebut, dan
cara bagaimana magnitudo eror dapat direduksi, didiskusikan berikut.
Gangguan Sistem Selama Pengukuran
Gangguan sistem pengukuran akibat aksi pengukuran adalah sumber eror sistematik
yang umum. Prinsip yang berlaku di sini adalah bahwa di hampir seluruh situasi
pengukuran, proses pengukuran mengganggu sistem dan mengubah nilai besaran yang
diukur. Sebagai contoh adalah pada pengukuran temperatur dengan termometer merkuri.
Saat awal, termometer berada pada temperatur ruang, dan kemudian dicelupkan pada air
panas dalam sebuah wadah. Pada saat itu, perpindahan panas terjadi antara air dengan
termometer sehingga menyebabkan temperatur air menurun. Penurunan temperatur air
seharusnya sekecil mungkin sehingga tidak dapat dideteksi oleh termometer tersebut
(akibat keterbatasan resolusi). Contoh lain adalah prosedur pengukuran laju aliran dengan
menggunakan plat orifice, yang menimbulkan rugi-rugi tekanan permanen pada fluida
yang mengalir.
Secara umum, proses pengukuran selalu mengganggu sistem yang diukur. Besarnya
gangguan bervariasi dari satu sistem pengukuran ke berikutnya dan dipengaruhi sebagian
oleh jenis instrumen yang digunakan. Cara untuk meminimumkan gangguan dari sistem
yang diukur merupakan persoalan penting dalam desain instrumen. Sebuah pembacaan
yang akurat atas mekanisme gangguan sistem merupakan sebuah prasyarat.
Pengukuran dalam rangkaian listrik
Dalam menganalisis gangguan sistem selama pengukuran dengan rangakain listrik,
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

teorema Thevenin sering kali sangat membantu. Misalkan, ditinjau rangkaian yang
ditunjukkan pada Gambar 1.(a) dimana tegangan sepanjang resistor R 5 diukur dengan
voltmeter beresistansi Rm. Di sini, Rm bertindak sebagai resistansi yang paralel dengan
R5, mengurangi resistansi antara titik AB dan juga mengganggu rangkaian. Karena itu,
tegangan Em yang terukur oleh alat ukur bukan merupakan nilai tegangan E o yang timbul
akibat pengukuran. Tingkat gangguan dapat dinilai dengan menghitung tegangan
rangkaian-terbuka atau open-circuit Eo dan membandingkannya dengan Em.

Gambar 1. Analisis pembebanan rangkaian: (a) Rangkaian dimana tegangan pada R5


diukur, (b) Rangkaian ekivalen dengan teorema Thevenin, (c) Rangkaian yang digunakan
untuk menemukan resistansi ekivalen

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Berdasarkan teorema Thevenin, rangkaian Gambar 1 memiliki rangkaian ekivalen


yang terdiri atas sebuah sumber tegangan (menggantikan dua sumber tegangan asal) dan
sebuah resistor (menggantikan lima resistor asal) yang terhubung seri, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1 (b). Resistor tersebut dihitung dengan cara seluruh sumber
tegangan hanya direpresentasikan oleh hambatan dalam, yang dapat dianggap bernilai
nol, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 (c). Analisis dimulai dengan menghitung
resistansi ekivalen di CD atau RCD, yaitu rangkaian di sebelah kiri CD yang terdiri atas
pasangan seri resistor R1 dan R2, paralel dengan R3. Selanjutnya resistansi AB atau RAB
dihitung, yaitu rangkaian di sebelah kiri AB terdiri atas dua resistor RAB dan R4 yang
terhubung seri, paralel dengan R5.
Dengan mendefinisikan I sebagai arus yang mengalir pada rangkaian saat instrumen
pengukuran dihubungkan, diperoleh:
(1)
dan tegangan terukur kemudian diberikan oleh persamaan:
(2)
Tanpa instrumen pengukuran dan resistansinya, Rm, menyebabkan tegangan
sepanjang AB sama dengan sumber tegangan rangkaian ekivalen yang memiliki nilai E 0.
Efek pengukuran karenanya mereduksi tegangan sepanjang AB dengan rasio diberikan
oleh:

(3)
Dengan demikian, jika Rm lebih besar, rasio Em/E0 menjadi semakin mendekati satu,
menunjukkan bahwa strategi desain seharusnya membuat R m sebesar mungkin untuk
meminimumkan gangguan dari sistem yang diukur. (Ingat bahwa nilai E 0 tidak dihitung
karena tidak diperlukan dalam menentukan efek Rm).
Contoh:
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Untuk rangkaian gambar 1, diketahui R1= 400 ; R2 = 600 ; R3 = 1000 ; R4 = 500 ; R5 =


1000. Tegangan di sepanjang AB diukur dengan voltmeter yang memiliki hambatan
dalam 9500 . Berapakah eror pengukuran yang disebabkan oleh hambatan dalam
voltmeter?

RAB = 500
Eror pengukuran diberikan oleh persamaan:

(4)

Jadi eror pada nilai yang diukur adalah sebesar 5%.


Pada kasus ini, konstrain atau batasan yang muncul perlu ditentukan saat percobaan
mendesain voltmeter moving-coil, yaitu seberapa tinggi hambatan dalam yang mungkin
digunakan. Cara terbaik untuk menambah impedansi input (resistansi) alat ukur adalah
menambah jumlah lilitan koil atau menggunakan bahan koil beresistansi tinggi. Namun
hal ini dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas alat ukur. Masalah ini dapat diatasi
dengan mengganti pegas instrumen sedemikian hingga semakin kecil torsi yang
dibutuhkan untuk menggerakkan jarum penunjuk. Namun hal ini dapat mengurangi
kekasaran instrumen dan juga memerlukan desain poros yang lebih baik untuk
mengurangi gesekan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa: sembarang usaha
untuk memperbaiki performansi sebuah instrumen pada satu aspek umumnya mengurangi
performansi pada beberapa aspek lain. Fakta ini tidak dapat dihindari pada instrumen
pasif seperti voltmeter, dan seringkali menjadi alasan untuk menggunakan instrumen aktif
seperti voltmeter digital yang melibatkan daya tambahan untuk meningkatkan
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

performansi.
Efek Pembebanan
Secara umum, ilustrasi di atas dikenal sebagai efek pembebanan, yang tidak hanya
terjadi pada rangkaian listrik saja. Sebagai contoh adalah sistem pengukuran temperatur
menggunakan termokopel seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Persamaan yang
berlaku adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Ekivalen Thevenin terhadap sistem pengukuran temperatur


Eror akibat input lingkungan
Input lingkungan didefinisikan sebagai masukan untuk sistem pengukuran yang
disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan di sekitar sistem pengukuran. Fakta
bahwa karakteristik statik dan dinamik ditentukan hanya berlaku untuk kondisi
lingkungan tertentu telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Kondisi tertentu ini harus
diciptakan ulang semirip mungkin selama pengujian kalibrasi karena penyimpangan dari
kondisi kalibrasi yang ditentukan, akan menyebabkan perubahan karakteristik instrumen
dan pada gilirannya menyebabkan eror pengukuran. Besarnya variasi lingkungan
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

dikuantifikasi dengan dua konstanta yang dikenal sebagai penyimpangan sensitivitas


(atau modifying input) dan penyimpangan zero (atau interferying input). Keduanya
umumnya dikutip pada spesifikasi alat. Besarnya perubahan input lingkungan harus
diukur sebelum nilai besaran yang diukur (input sebenarnya) ditentukan dari pembacaan
instrumen.
Pada sembarang situasi pengukuran yang umum, sangat sulit menghindari input
lingkungan, karena ia tidak berguna ataupun tidak mungkin mengontrol kondisi
lingkungan. Perancang sistem pengukuran digaji dengan tugas mereduksi kelemahan
instrumen terhadap input lingkungan, atau mengkuantifikasi efek dari input lingkungan
dan mengoreksinya pada pembacaan output instrumen.
Keausan komponen instrumen
Eror sistematik seringkali dapat muncul sepanjang periode waktu tertentu akibat
keausan pada komponen instrumen pengukuran. Kalibrasi ulang dapat mengatasi
permasalahan ini.
Kabel penghubung
Saat menghubungkan bersama komponen dari suatu sistem pengukuran, sumber
kesalahan yang umum adalah kegagalan untuk memperhitungkan dengan tepat resistansi
kabel penghubung (atau pipa dalam kasus sistem pengukuran pneumatik atau hidrolik).
Misalnya, dalam aplikasi termometer hambatan, umum ditemukan bahwa termometer
dipisahkan dari bagian lain sistem pengukuran dengan jarak, misalkan, 100 meter.
Hambatan dari kabel tembaga dengan panjang 20 m adalah 7 , dan lebih lanjut
merupakan problem saat kawat tersebut memiliki koefisien suhu 1m / C.
Oleh karena itu, perlu pertimbangan yang matang dalam memilih kawat penghubung.
Tidak hanya mereka harus berluas penampang yang memadai sehingga resistansinya
minimum, mereka juga harus dijaga dari medan listrik atau medan magnet yang dapat
menyebabkan noise induksi.

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

1.2 Reduksi Eror Sistematik


Prasyarat untuk mereduksi eror sistematik adalah berupa sebuah analisis lengkap terhadap
sistem pengukuran yang mengidentifikasi seluruh sumber eror. Kerusakan sederhana pada
sebuah sistem, seperti jarum bengkok dan pengabelan yang buruk, biasanya dapat mudah
dan murah diperbaiki setelah mereka diidentifikasi. Namun, sumber-sumber kesalahan
yang lain memerlukan analisis dan penanganan yang lebih rinci. Berbagai pendekatan
untuk mereduksi eror dijelaskan berikut.
Desain instrumen secara teliti
Desain instrumen secara teliti merupakan senjata yang paling berguna dalam
melawan input lingkungan, dengan mereduksi sensitivitas instrumen terhadap input
lingkungan ke tingkat yang serendah mungkin. Misalkan, pada perancangan strain gauge,
elemen tersebut harus dibangun dari material yang memiliki resistansi dengan koefisien
temperatur serendah mungkin (yaitu variasi resitansi terhadap temperatur sangat kecil).
Namun eror dengan menggunakan cara ini tidak selalu mudah diperbaiki, dan pilihan
sering kali harus dibuat antara biaya desain ulang yang mahal atau menerima akurasi
pengukuran yang direduksi tanpa desain ulang.
Metode melawan input
Metode melawan input mengkompensasi efek input lingkungan pada sistem
pengukuran dengan menggunakan input lingkungan yang sama namun berlawanan tanda
(mengurangkan) sehingga menjadi saling menghilangkan. Satu contoh bagaimana teknik
ini diterapkan adalah pada jenis milivoltmeter yang ditunjukkan pada Gambar 3. Sistem
ini terdiri atas koil yang diletakkan pada medan magnet tetap dari magnet permanen. Jika
tegangan yang tak diketahui diterapkan ke koil, medan magnet akibat arus berinteraksi
dengan medan magnet tetap dan menyebabkan koil (dan jarum penunjuk yang tertempel
di koil) bergerak. Jika resistansi koil Rkoil sensitif terhadap temperatur, maka perubahan
temperatur lingkungan yang merupakan masukan bagi sistem ini akan mengubah nilai
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

arus koil untuk tegangan yang diterapkan dan sehingga mengubah pembacaan output
jarum penunjuk. Kompensasi untuk hal ini dilakukan dengan menggunakan resistor
pengkompensasi Rkomp ke dalam rangkaian, dimana Rkomp memiliki koefisien temperatur
yang sama besarnya namun berlawanan tanda dengan Rkoil. Jadi, dalam merespon
penambahan temperatur lingkungan, Rkoil bertambah namun Rkomp berkurang, sehingga
resistansi total tetap pada nilai yang hampir sama dengan awalnya.

Gambar 3. Milivoltmeter

Umpan balik berpenguatan tinggi


Keuntungan menambahkan umpan balik berpenguatan tinggi ke beberapa sistem
instrumen digambarkan dengan meninjau kasus instrumen pengukuran tegangan yang
memiliki diagram blok seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Pada sistem ini,
tegangan yang tak diketahui Ei diterapkan pada sebuah motor bertorsi konstan Km, dan
torsi yangdiinduksi menggerakkan jarum penunjuk melawan aksi regangan ulang dari
pegas dengan konstanta pegas Ks. Efek input lingkungan pada motor dan konstanta pegas
direpresentasikan oleh variable Dm dan Ds. Pada saat kondisi input lingkungan tidak ada,
pergerakan jarum penunjuk X0 diberikan oleh:
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

10

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

X0 = Km Ks Ei

(5)

Gambar 4. Diagram blok instrumen pengukur tegangan


Saat kondisi input lingkungan ada, baik Km maupun Ks berubah, dan hubungan antara
X0 dan Ei dapat sangat terpengaruhi. Karena itu, menjadi sulit atau tak mungkin untuk
menghitung Ei dari nilai terukur X0. Tinjau sekarang apa yang terjadi jika sistem diubah
ke bentuk lup tertutup berpenguatan tinggi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5,
dengan menambahkan sebuah amplifier berpenguatan kostan Ka dan perangkat umpan
balik berpenguatan konstan Kf. Juga diasumsikan efek input lingkungan pada nilai Ka dan
Kf diwakili oleh Da dan Df. Perangkat umpan balik mengumpanbalikkan tegangan E0 yang
proporsional dengan pergerakan jarum penunjuk X0. Tegangan ini selanjutnya
dibandingkan dengan tegangan yang diukur Ei menggunakan komparator dan eror
selanjutnya dikuatkan. Persamaan yang berlaku adalah sebagai berikut:
E0 = Kf X0
X0 = (Ei - E0) Ka Km Ks = (Ei - Kf X0) Ka Km Ks
Sehingga
Ei Ka Km Ks = (1 + Kf Ka Km Ks) X0
(6)

Gambar 5. Diagram blokinstrumen pengukur tegangan dengan umpan balik berpenguatan


tinggi
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

11

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Karena Ka sangat besar (amplifier berpenguatan tinggi), Kf Ka Km Ks 1, dan


persamaan (6) tereduksi menjadi:
X0 = Ei / Kf

(7)

Ini merupakan hasil yang sangat berarti karena hubungan antara X0 dan Ei menjadi
persamaan yang hanya melibatkan Kf. Sensitivitas dari konstanta penguatan Ka, Km, dan Ks
terhadap input lingkungan Da, Dm, dan Ds karenanya dibuat tidak berhubungan, dan hanya
input lingkungan Df yang harus diperhatikan. Untungnya, merancang perangkat umpan
balik yang tidak sensitif terhadap input lingkungan biasanya mudah. Sehingga, teknik
umpan balik berpenguatan tinggi sering kali merupakan cara yang sangat efektif untuk
mereduksi sensitivitas sistem pengukuran terhadap input lingkungan. Namun, satu
masalah potensial yang harus dipecahkan adalah bahwa adanya kemungkinan umpan
balik berpenguatan tinggi akan menyebabkan ketidakstabilan sistem. Karena itu,
sembarang aplikasi dari metode ini harus melibatkan analisis kestabilan sistem.
Kalibrasi
Kalibrasi instrumen merupakan hal yang sangat penting pada sistem pengukuran.
Semua instrumen mengalami penyimpangan pada karakteristiknya, dan tingkat dimana
penyimpangan ini terjadi bergantung pada banyak faktor, sperti kondisi lingkungan dan
frekuensi penggunaan. Jadi, eror yang berhubungan dengan tidak sesuainya performansi
sistem dengan kondisi kalibrasi biasanya dapat diralat dengan penambahan frekuensi
kalibrasi ulang. Konsep dan prosedur kalibrasi dibahas pada materi selanjutnya.
Koreksi manual pembacaan output
Pada kasus eror disebabkan oleh gangguan sistem selama pengukuran ataupun
perubahan kondisi lingkungan, seorang teknisi pengukuran dapat mereduksi eror pada
output sistem pengukuran dengan menghitung efek dari eror sistematik dan membuat
koreksi yang sesuai untuk pembacaan instrumen. Hal ini bukan tugas yang mudah, dan
membutuhkan kuantifikasi seluruh gangguan pada sistem pengukuran. Prosedur ini
dilakukan secara otomatis dengan instrumen cerdas.
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

12

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Instrumen cerdas melibatkan tambahan sensor yang digunakan untuk mengukur nilai
input lingkungan dan secara otomatis mengkompensasi nilai pembacaan output. Mereka
memiiki kemampuan untuk mengatasi secara sangat efekif eror sistematis pada sistem
pengukuran, dan eror dapat dilemahkan ke tingkat yang sangat rendah pada banyak kasus.
1.3 Kuantifikasi Eror Sistematik
Jika semua langkah perbaikan untuk megeliminasi atau mereduksi besarnya eror
sistematik telah dilakukan, langkah berikutnya adalah memperkirakan eror maksimum
yang tetap muncul pada pengukuran akibat eror sistematik. Sayangnya, tidak selalu
memungkinkan untuk mengkuantifikasi nilai pasti dari eror sistematik, terutama jika
pengukuran dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang tidak dapat diprediksi. Cara
penanganan yang biasa dilakukan adalah mengasumsikan kondisi lingkungan berada pada
titik-tengah dan menentukan eror pengukuran maksimum sebagai x% dari pembacaan
output untuk mengijinkan deviasi maksimum saat kondisi lingkungan berubah dari titiktengah. Data sheet atau lembar data yang disediakan oleh pabrik instrumen biasanya
mengkuantifikasi eror sistematik dengan cara ini, dan angka ini mewakili seluruh eror
sistematik yang mungkin ada pada pembacaan output dari instrumen.

2. Eror Acak
Eror acak pada pengukuran disebabkan oleh variasi sistem pengukuran yang tidak
dapat diprediksi. Mereka biasanya diamati sebagai gangguan kecil pengukuran di kedua
sisi nilai benar, yaitu jumlah eror positif dan jumlah eror negatif hampir sama untuk
serangkaian pengukuran yang dibuat untuk besaran input konstan yang sama. Oleh karena
itu, eror acak dapat dielimiasi dengan menghitung rata-rata dari sejumlah pengukuran
berulang, membuktikan bahwa besaran yang diukur tetap konstan selama proses
pengukuran berulang. Perata-rataan ini dapat dilakukan secara otomatis oleh instrumen
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

13

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

cerdas. Tingkat kepercayaan pada nilai mean perhitungan dapat dikuantifikasi dengan
menghitung simpangan baku atau variansi data, ini menjadi parameter yang
mendeskripsikan bagaimana pegukuran terdistribusi di sekitar nilai mean.
2.1 Analisis Statistik Eror Acak
Perhitungan nilai mean dan simpangan baku dari sebuah data pengukuran berulang
telah dijelaskan pada bagian karakteristik statistik (presisi). Beberapa hal yang perlu
dicatat adalah:
-

Semakin kecil sebaran data pengukuran, semakin percaya kebenaran akan nilai
mean yang dihitung

Jika simpangan baku berkurang, maka semakin besar kepercayaan bahwa nilai
mean perhitungan dekat dengan nilai benar, yaitu proses perata-rataan telah
mereduksi eror acak mendekati nilai nol.

Kepercayaan pada nilai mean bertambah jika jumlah data pengukuran bertambah.

Eror acak dapat direduksi dengan mengambil rata-rata sejumlah pengukuran. Namun,
meskipun nilai mean dekat dengan nilai benar (dengan asumsi tidak ada eror sistematik),
nilai mean akan benar-benar sama dengan nilai benar hanya jika perata-rataan dilakukan
pada pengukuran yang tak terbatas banyaknya. Tentu saja tidak mungkin dilakukan
pengukuran yang tak terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, nilai rata-rata akan masih
memiliki eror. Eror ini dapat dikuantifikasi sebagai eror baku dari mean.
Berdasarkan teorema limit pusat, jika beberapa himpunan bagian data yang diambil
dari populasi data tak terbatas, maka mean dari himpunan bagian tersebut akan
terdistribusi di sekitar nilai mean dari himpunan data tak terbatas. Eror antara mean dari
himpunan data terbatas dengan nilai benar (mean dari himpunan data tak terbatas)
didefinisikan sebagai eror baku dari mean, :
(8)
dengan adalah simpangan baku data pengukuran (himpunan data yang terbatas)
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

14

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

n adalah jumlah data pengukuran


Nilai cenderung nol jika jumlah data pengukuran menuju tak terhingga. Nilai
pengukuran yang diperoleh dari himpunan n pengukuran, x1, x2, xn, dapat dinyatakan
dalam :
x = xmean

(9)

2.2 Estimasi eror acak pada pengukuran tunggal


Pada banyak situasi dimana pengukuran dipengaruhi oleh eror acak, tidak praktis
melakukan pengukuran secara berulang untuk menemukan nilai rata-rata. Selain itu,
proses perata-rataan menjadi tidak benar jika besaran yang diukur tidak tetap pada satu
nilai konstan, seperti biasa terjadi pada saat variabel proses sedang diukur. Jadi, jika
hanya satu pengukuran yang dilakukan, beberapa nilai mean yang memperkirakan
besarnya eror dibutuhkan.
Pendekatan normal untuk masalah di atas adalah menghitung eror di dalam tingkat
kepercayaan 95%, yaitu menghitung nilai deviasi D sedemikian hingga 95% luasan di
bawah kurva probabilitas (Gaussian) terletak pada batas D. Batas ini berkaitan dengan
deviasi 1,96. Oleh karena itu, perlu membuat besaran yang diukur tetap berada pada
satu nilai konstan sementara sejumlah pengukuran dilakukan dalam rangka membuat
sebuah himpunan pengukuran referensi untuk menghitung nilai . Selanjutnya, deviasi
maksimum yang mungkin pada sebuah pengukuran tunggal dapat dinyatakan :
deviasi = 1,96

(10)

Namun, ini hanya menyatakan deviasi maksimum yang mungkin dari mean yang
dihitung menggunakan himpunan pengukuran referensi, bukan merupakan nilai benar
teramati. Sehingga nilai perhitungan untuk eror baku dari mean harus ditambahkan ke
persamaan (10). Dengan demikian, eror maksimum yang mungkin dari sebuah
pengukuran tunggal dapat dinyatakan:
Eror = (1,96 + )
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

(11)
15

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Contoh:
Misalkan sebuah massa standar diukur 30 kali dengan instrumen yang sama untuk
membuat himpunan data referensi, dan dihitung nilai dan adalah = 0,43 dan =
0,08. Jika instrumen kemudian digunakan untuk mengukur massa yang tidak diketahui
dan pembacaan menunjukkan 105,6 kg, bagaimana seharusnya nilai massa tersebut
dinyatakan?
Jawab:
Menggunaan persamaan (11), 1,96 + = 0,92. Gunakan satu digit di belakang koma
karena pembacaan massa yang tidak diketahui tersebut juga satu digit di belakang koma.
Nilai massa seharusnya dinyatakan dalam:
105,6 0,9 kg.
Perlu diingat bahwa eror maksimum untuk sebuah pengukuran hanya ditentukan
untuk batas kepercayaan yang didefinisikan. Jika eror maksimum ditentukan sebagai 1%
dengan tingkat kepercayaan 95%, hal ini berarti masih terdapat 1 kesempatan dalam 20
kejadian dimana eror akan melampaui 1%.

3. Noise
Pada bagian sebelumnya telah diberikan analisis rinci sumber eror yang timbul
selama proses pengukuran dalam mengindera nilai variabel fisik dan menghasilkan sinyal
output. Namun, kesalahan lain sering dibuat dalam sistem pengukuran ketika sinyal listrik
dari sensor pengukuran dan transduser dirusak oleh noise yang teriduksi. Noise ini
muncul baik di dalam rangkaian pengukuran itu sendiri maupun selama transmisi sinyal
pengukuran ke tempat pengendali. Tujuan saat merancang sistem pengukuran adalah
untuk selalu mengurangi tingkat noise tersebut sebesar mungkin. Namun, biasanya tidak
mungkin menghilangkan semua noise tersebut, dan pemrosesan sinyal harus diterapkan

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

16

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

untuk menangani setiap noise yang tersisa.


Tegangan noise dapat muncul baik dalam bentuk mode serial ataupun bentuk mode
bersama (common mode). Tegangan noise mode serial bertindak secara seri dengan
tegangan output dari sensor pengukuran atau transduser, yang dapat menyebabkan
kesalahan yang sangat signifikan pada sinyal pengukuran output. Sejauh mana noise
mode seri merusak sinyal pengukuran diukur dengan kuantitas yang dikenal sebagai rasio
signal-to-noise (SNR), dengan definisi:

(12)
dengan Vs adalah nilai mean tegangan dari sinyal dan Vn adalah nilai mean tegangan dari
noise. Pada kasus tegangan noise a.c., nilai akar kuadrat mean digunakan sebagai mean.
Tegangan noise mode bersama kurang berpengaruh, karena mereka menyebabkan
potensial di kedua sisi rangkaian sinyal dengan level yang sama, dan karenanya level
sinyal pengukuran output tidak berubah. Namun, tegangan mode bersama harus ditinjau
secara teliti karena mereka dapat diubah ke dalam mode seri dengan cara tertentu.
Ilustrasi tentang efek noise mode seri dan mode bersama pada sistem transmisi
tegangan dan arus ditunjukkan pada gambar 6. Persamaan SNR untuk kasus ini adalah:

(13)
3.1 Sumber Noise
Noise dapat dihasilkan dari sumber eksternal dan internal sistem pengukuran. Noise
induksi dari sumber eksternal muncul dalam sistem pengukuran karena beberapa alasan
yang mencakup kedekatan alat ukur dengan peralatan dan kabel listrik (menyebabkan
noise di frekuensi listrik), kedekatannya dengan sirkuit lampu neon (menyebabkan noise
di dua kali frekuensi listrik), kedekatannya dengan peralatan yang beroperasi di frekuensi
audio dan frekuensi radio (menyebabkan noise di frekuensi yang terkait), peralihan dari
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

17

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

rangkaian d.c. dan a.c. terdekat, dan pembuangan korona (dua yang terakhir
menyebabkan induksi spike dan transien). Noise internal meliputi potensi termoelektrik,
noise shot dan tegangan potensial akibat aksi elektrokimia.
Kopling Induktif
Mekanisme primer dengan mana perangkat eksternal seperti kabel dan peralatan
listrik, lampu neon dan rangkaian yang beroperasi pada frekuensi audio atau radio
menghasilkan noise adalah melalui kopling induktif. Jika kabel pembawa sinyal dekat
dengan kabel atau peralatan eksternal terebut, induktansi nersama M dapat muncul secara
signifikan di antara mereka, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7 (a), dan hal ini
dapat menghasilkan tegangan noise mode seri beberapa milivolt diberikan oleh
persamaan:
Vn = M I

(13)

dengan I adalah laju perubahan arus pada rangkaian listrik.

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

18

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Gambar 6. Efek noise pada rangkaian pengukuran: (a) transmisi tegangan noise mode
seri, (b) transmisi arus noise mode seri, (c) transmisi tegangan noise mode bersama

Kopling Kapasitif (Elektrostatik)


Kopling kapasitif, juga dikenal sebagai kopling elektrostatik, dapat juga terjadi antara
kabel sinyal pada rangkaian pengukuran dengan konduktor pembawa listrik terdekat.
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

19

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Besarnya

kapasitansi

antara

setiap

kabel

sinyal

dengan

konduktor

listrik

direpresentasikan dengan besaran C1 dan C2 pada Gambar 7 (b). Kapasitansi dapat juga
muncul antara kabel sinyal dengan tanah, direpresentasikan dengan C3 dan C4. Dapat
ditunjukkan bahwa tegangan noise mode seri adalah nol jika kapasitansi kopling
disetimbangkan secara sempurna, yaitu jika C1 = C2 dan C3 = C4. Namun, kesetimbangan
yang pasti tidak mungkin terjadi, karena kabel sinyal tidak tepat lurus, sehingga
menyebabkan pemisahan dan karenanya kapasitansi pada kabel listrik dan tanah berubah.
Jadi, beberapa noise mode seri yang diinduksikan oleh kopling kapasitif biasanya terjadi.

Gambar 7. Noise yang diinduksi melalui kopling: (a) kopling induktif, (b) kopling
kapasitif (elektrostatik)
Noise akibat peng-ground-an jamak
Sebisa mungkin, rangkaian sinyal pengukuran diisolasi dengan tanah (ground).
Namun, jalur yang bocor seringkali terjadi antara kabel sinyal pengukuran dengan
ground, baik di bagian akhir sumber (sensor) maupun di bagian akhir beban (instrumen
pengukur). Hal ini tidak menyebabkan masalah selama tegangan potensial ground pada
kedua bagian tersebut sama. Namun, seringkali terjadi mesin atau peralatan lain
membawa arus besar dan dikoneksikan ke ground pada daerah yang sama. Hal ini dapat
menyebabkan tegangan potensial berubah antara titik-titik ground tersebut. Situasi ini,
yang dikenal sebagai multiple earth, dapat menyebabkan tegangan noise mode seri pada
rangkaian pengukuran.
Noise dalam bentuk transien tegangan
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

20

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Ketika motor dan peralatan listrik lainnya (baik ac dan dc) sedang dinyalakan dan
dimatikan, perubahan besar konsumsi daya tiba-tiba terjadi dalam sistem pasokan listrik.
Hal ini dapat menyebabkan transien tegangan ('spike') dalam rangkaian pengukuran yang
terhubung ke catu daya yang sama. Tegangan noise tersebut nilainya besar namun durasi
waktunya singkat. Pelepasan korona juga dapat menyebabkan transien tegangan pada
catu daya listrik. Hal ini terjadi ketika udara di sekitar rangkaian dc tegangan tinggi
menjadi terionisasi dan dilepas ke tanah secara acak.
Noise shot
Noise shot terjadi pada transistor, rangkaian terpadu atau IC dan perangkat
semikonduktor lainnya. Noise ini terdiri atas fluktuasi acak pada laju transfer elektron
pembawa atau carrier sepanjang sambungan di dalam perangkat tersebut.
Tegangan potensial elektrokimia
Ini merupakan tegangan potensial yang muncul di dalam sistem pengukuran akibat
aksi elektrokima. Sambungan solder yang buruk umumnya merupakan sumber penyebab.

3.2 Teknik Reduksi Noise


Pencegahan selalu lebih baik dari pada perbaikan, dan banyak hal yang dapat
dilakukan untuk mengurangi level noise pengukuran dengan mengambil langkah-langkah
yang sesuai saat merancang sistem pengukuran. Beberapa diantaranya adalah:
Peletakan dan perancangan kabel sinyal (contoh ditunjukkan pada Gambar 8)
Grounding
Pelindung atau shielding, baik pelindung elektromagnetik maupun elektrostatik
Penggunaan differential amplifier
Penapisan atau filtering
Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

21

Sistem Pengukuran & Kalibrasi (TF 091332)

Modulasi
Rangkaian perata-rata atau averaging
Analisis autokorelasi

Gambar 8. Penghilangan noise induksi dengan cara pengkabelan twisted pair

Program Studi S1 Teknik Fisika ITS

22