Anda di halaman 1dari 5

Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam

perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian


nasional dalam masa krisis ekonomi, serta menjadi dinamisator pertumbuhan
ekonomi pasca krisis. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997
telah membawa dampak yang buruk pada perekonomian Indonesia. Unit usaha
besar maupun menengah yang aktivitasnya terkait dengan bahan baku impor
banyak yang tidak mampu mengatasi gejolak ekonomi yang terjadi pada pada saat
krisis, sehingga banyak yang mengalami kebangkrutan. Pada kenyataannya, unit
usaha kecil seperti koperasi yang aktivitasnya lebih berorientasikan lokal atau
domestik masih bisa bertahan dalam masa krisis ekonomi (Darwin dkk, 2000)
Usaha kecil sebagai salah satu pelaku ekonomi terus mengalami
pertumbuhan dan dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi
pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan
Kementrian Koperasi dan UKM (2006) dijelaskan bahwa Usaha Kecil Menengah
(UKM) pada tahun 2006, jumlahnya mengalami pertumbuhan sebesar 3,9 persen
menjadi 48,9 juta unit. UKM juga memberikan kontribusi kepada Produk
Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 53,3 persen atau Rp 1778,75 triliun, dan
mengalami peningkatan sebesar 19,3 persen dibanding tahun 2005. Selain itu,
UKM juga memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,18
persen dengan menyerap 85,4 juta tenaga kerja, atau meningkat sebesar 2,6 persen
dibanding tahun 20051
Demikian pula dengan koperasi sebangai soko guru dari tata perekonomian
nasional memiliki peran dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi
ekonomi rakyat serta meredistribusikan aset secara merata pada masyarakat

Indonesia (Darwin dkk, 2000). Koperasi sebagai organisasi ekonomi rakyat yang
berwatak sosial dan beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang
merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan, seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian, terus mengalami perkembangan.
Pembangunan koperasi di Indonesia mengalami kemajuan, yang tercermin
dari peningkatan kinerja koperasi pada tahun 2004-2006. Hal tersebut terlihat dari
peningkatan beberapa variabel seperti jumlah koperasi dan jumlah anggota
koperasi.
Tabel 1. Perkembangan Jumlah Koperasi dan Jumlah Anggota Koperasi di
Indonesia Tahun 2004 dan 2006
Variabel
Jumlah Koperasi
(Unit)

Tahun
2004
130.730

2006
141.314

Pertumbuhan
(%)
8,10

27,52

27,91

1,40

Jumlah Anggota
(Juta Orang)

Sumber : Badan Pusat Statistik (2006)


Pada tahun 2004 jumlah koperasi yang ada di Indonesia adalah sebanyak
130.730 unit dan pada tahun 2006 meningkat sebesar 8,10 persen menjadi
141.314 unit. Selain itu, jumlah anggota koperasi yang ada di Indonesia pada
tahun 2006 juga mengalami sedikit peningkatan yaitu sebesar 1,40 persen jika
dibandingkan dengan tahun 2004. Lebih rendahnya pertumbuhan jumlah anggota
dibandingkan dengan jumlah koperasi yang ada di Indonesia pada tahun 2006
tersebut,

diduga

karena

kurangnya

apresiasi

dari

masyarakat

akibat

ketidakmampuan koperasi manjalankan fungsi sebagaimana yang dijanjikan,


khususnya dalam dalam memberikan layanan. Selain terjadi pertumbuhan pada

jumlah koperasi dan jumlah anggota koperasi, juga terjadi pertumbuhan pada
beberapa variabel lainnya, seperti modal sendiri, volume usaha dan SHU koperasi,
yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pertumbuhan Modal Sendiri, Volume Usaha dan SHU Koperasi di
Indonesia Tahun 2004-2006
Variabel
Modal Sendiri (Rp juta)
Volume Usaha (Rp juta)
Sisa Hasil Usaha (Rp juta)

Pertumbuhan Tahun 2004-2006


(%)
39,18
45,80
34,98

Seiring dengan peningkatan jumlah koperasi dan jumlah anggota koperasi di


Indonesia, modal sendiri koperasi juga mengalami peningkatan yang mencapai
39,18 persen. Dilihat dari sisi usaha, pada tahun 2006 volume usaha koperasi pun
mengalami peningkatan sebesar 45,80 persen. Dengan meningkatnya volume
usaha tersebut, maka terjadi kenaikan SHU yang dihasilkan oleh koperasi.
Peningkatan SHU pada tahun 2006 jika dibandingkan dengan tahun 2004 cukup
besar, yaitu mencapai 34,98 persen. Oleh sebab itu, pemberdayaan koperasi dan
UKM menjadi strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan
lapangan kerja yang lebih luas dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat.
Selain itu, koperasi dan UKM juga merupakan bagian penting yang
mencerminkan kemajuan kesejahteraan rakyat Indonesia, mengingat besarnya
potensi UKM maupun koperasi dengan kegiatan usaha yang mencakup hampir
semua lapangan usaha serta tersebar di seluruh tanah air.
Pada umumnya usaha kecil dan koperasi memiliki keunggulan dan bergerak
dalam bidang yang memanfaatkan sumberdaya alam seperti pertanian. Pertanian
merupakan sektor yang paling tangguh dalam menghadapi perubahan. Hal ini

disebabkan karena sektor pertanian mengandalkan potensi sumberdaya dalam


negeri sehingga ketergantungannya terhadap bahan-bahan yang berasal dari impor
sangat kecil. Sebagai basis kekuatan perekonomian nasional, sektor pertanian
memiliki peran yang cukup besar sehingga perlu untuk terus dikembangkan
(Hafsah, 2000).
KSP Trisula berada di jalur utama Cirebon Bandung kurang lebih 30 km
dari arah cirebon tepatnya di komplek KUD trisula jln. Raya Palasah Desa
Cisambeng kec. Palasah kab. Majalengka. Berawal dari salah satu unit
yang berada di KUD Trisula yang telah berdiri dari sejak tahun 1983
dengan jumlah anggota pada awal berdirinya sebanyak 42
orang,sekarang telah mencapai 3560 orang.
KSP Trisula kemudian berdiri sendiri sejak tahun 2004 tepatnya pada
tanggal 05 Agustus 2004 sesuai dengan Akte Pendirian dari Dinas
Koperasi Kabupaten Majalengka No.518/kep.58/kop.Ukm..Koperasi
Simpan Pinjam ( KSP ) Trisula mempunyai wilayah kerja se-Kabupaten
Majalengka yang terdiri dari 26 Kecama tan dan 331 Desa mempunyai
jumlah anggota 2000 orang dengan jumlah kelompok 24 kelompok yang
mayoritas usahanya adalah petani.
Untuk meningkatkan pendapatan petani, maka KSP Trisula
mengembangkan usaha pembiayaan di bidang pertanian,perikanan,
peternakan, sebagai sistem pola Pengembangan Agribisnis Terpadu. Hal
ini sesuai dengan visi dan misi kabupaten Majalengka sebagai
Kabupaten Agribisnis Termaju di Jawa Barat Tahun 2010 Berbaris
Masyarakat Agribisnis dan Partisipatif demi terwujudnya masyarakat
Sindang Kasih Sugih Mukti Majalengka Bagja Raharja, sekaligus dengan
rencana di bangunnya Bandara Internasional merupakan peluang dan
pangsa pasar yang besar bagi masyarakat agribisnis Majalengka.
Kehadiran KSP Trisula dalam situasi perekonomian yang tidak menentu
di tengah lonjakan Inplasi yang begitu tinggi telah menjadikan setetes air
di padang gersang. KSP Trisula yang ada sekarang ini telah punyai peran
dalam menyediakan pinjaman kepada anggota secara prosesional dan
terbukti membawa dampak kemajuan usaha para anggota.
Dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan anngota khususnya,
KSP telah bekerjasama dengan Kementrian Perumahan Rakyat
perihal Kredit Perumahan Rakyat Bersubsid, adapun tujuannya adalah
untuk perbaikan tempat tinggal yang layak huni. Oleh sebab itu dengan
adanya program ini merupakan suatu anugrah bagi masyarakat pada
umumnya dfan anggota pada khususnya
Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Trisula mempunyai wilayah kerja seKabupaten Majalengka yang terdiri dari 26 Kecamatan dan 331 Desa
mempunyai jumlah anggota 1.937 orang dengan jumlah kelompok 40
kelompok yang mayoritas usahanya adalah petani.

Jenis usaha yang dikembangkan oleh KSP Trisula adalah di bidang


simpan pinjam, produk pinjamannya diantaranya adalah pinjaman modal
kerja & pinjaman musiman untuk para petani yang pembayarannya
sekaligus setiap panen, sedangkan produk dari simpanan adalah
simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan simpanan wajib
pinjam. Dimana simpanan wajib pinjam dibebankan kepada para anggota
yang mendapatkan pinjaman mereka menyimpan dananya di KSP Trisula
sebanyak 5% dari jumlah pinjamannya dan bisa diambil ketika
pinjamannya sudah lunas.
Harapan untuk lebih baik di masa yang akan datang tak akan
pernah surut, agar kiranya KSP Trisula lebih dirasakan kehadirannya,
fungsi dan manfaatnya tersentuh bukan hanya oleh masyarakat
Kabupaten Majalengka saja tetapi menjangkau lingkup yang lebih luas
serta dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa batas
wilayah. Diharapkan agar dimulai penerapan teknologi dengan system online, namun memang hal ini memerlukan sosialisasi secara perlahan tapi
pasti agar masyarakat memahami lebih dulu system apa yang akan
diterapkan. Kami yakin konsep ini akan lebih mempermudah kepada
masyarakat dalam menggunakan jasa KSP Trisula di masa depan

Anggota KSP Trisula berada di wilayah kerja dan jumlahnya hampir sepertiga wilayah
kabupaten
Majalengka,dan
sebagian
besar
usaha
mereka
adalah
pertanian,perikanan,peternakan,dan usaha yang lainnya di setiap wilayah ada yang
namanya ketua kelompok,adapun fungsi kelompok yang utama adalah sebagai
perwakilan anggota di masing-masing wilayah,dan fungsi yang kedua adalah sebagai
pemberi rekomendasi bagi anggota saat akan menjadi anggota atau akan mengajukan
pinjaman kepada koperasi sehingga kelompok mempunyai tanggung jawab secara moral
terhadap koperasinya,jika ada masalah maka selaku ketua kelompok harus ikut
bertanggung jawab untuk menyelesaikannya,dan fungsi yang ketiga ketua kelompok juga
sebagai pembina bagi anggota dalam hal pengembangan usaha-usaha
anggotanya,ketua-ketua kelompok tersebut telah memiliki SK yang telah di sahkan oleh
pengurus KSP Trisula.
Bagi para ketua kelompok yang telah memiliki SK maka mereka memiliki hak dan
kewajiban sesuai dengan aturan yang ada, bagi anggota yang telah memperoleh
rekomendasi dari ketua kelompok bisa mengajukan pinjaman kepada koperasi untuk
modal kerja dalam rangka pengembangan usaha,dan hal ini koperasi juga akan melayani
anggota sebaik mungkin dan berharap kepada setiap anggota dengan masuknya mereka
menjadi anggota koperasi dalam setiap periode atau setiap kegiatan selayaknya selalu
mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Dan dengan adanya sistem kelompok
maka alhamdulillah sekarang banyak anggota yang usaha-usahanya sudah semakin
maju dan pemasaran produknya sudah sampai ke luar kabupaten,ini semua berkat kerja
sama yang baik antara anggota,ketua kelompok juga dengan koperasinya.