Anda di halaman 1dari 27

GERBANGKERTOSUSILO

Abstrak
Wilayah Gerbangkertosusila merupakan kawasan andalan di Propinsi
Jawa Timur yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, dan
menjadi kawasan strategis nasional. Tingginya pertumbuhan ekonomi di wilayah
ini sejalan dengan fungsi dan peranannya sebagai pusat pertumbuhan wilayah di
Jawa Timur, bahkan pengaruhnya hingga wilayah Indonesia Timur. Dinamika
pertumbuhan ekonomi wilayah memberikan pengaruh terhadap perkembangan
kawasan perkotaan di wilayah Gerbangkertosusila, khususnya pada kawasan
perkotaan metropolitan. Perbedaan dalam tingkat pertumbuhan ekonomi antar
wilayah sebagai akibat kemampuan daya saing wilayah yang berbeda, baik dalam
keunggulan komparatifmaupun keunggulan kompetitif. Agar pengembangan
kawasan perkotaan dapat dilakukan secara optimal, maka diperlukan adanya
strategi pembangunan perkotaan yang berbasis pada penguatan daya saing
wilayah.

Definisi
Gerbangkertosusila mencakup 7 wilayah administrasi, 6 di antaranya
berada di Pulau Jawa, sedangkan satu di Pulau Madura

Kabupaten Gresik

Madura

Kabupaten Mojokerto

Kota Mojokerto

Kota Surabaya

Kabupaten Tuban

Kabupaten Sidoarjo

Kabupaten Lamongan

Demografi
Sebagai kawasan metropolitan terbesar kedua setelah Jabodetabek,
Gerbangkertosusila

juga

mempunyai

penduduk

paling

banyak

kedua

setelah Jabodetabek.
Daerah

Luas

Administratif

2010

(km) Jumlah penduduk Kepadatan


2010

(/km 2010)

1.177.042

987,45

1.144

906.761

792,62

835,93

1.025.443

1.226,71

Kota Mojokerto

16,46

120.196

7.302,3

Kota Surabaya

333,063

2.765.487

8.303,19

591,59

1.941.497

3.281,83

1.812,80

1.179.059

650,4

5.925,843

9.115.485

1,538.3

Kabupaten Gresik 1.192


Kabupaten
Bangkalan
Kabupaten
Mojokerto

Kabupaten
Sidoarjo
Kabupaten
Lamongan
Total

Tabel 1: Demografi Gerbangkertosusilo


Sumber: Statistics Indonesia

penduduk

Dinamika
Dengan perkembangan yang sangat pesat, yang meliputi jumlah
penduduk dan ekonomi, dari wilayah urban metropolitan Gerbangkertosusila,
maka munculah berbagai wacana untuk megembangankan wilayah sendiri
menjadi Daerah Khusus Metro Surabaya, setingkat dengan provinsi dan terpisah
dari wilayah Provinsi Jawa Timur, yang dipimpin oleh seorang gubernur.
Pemisahan

ini

bertujuan

untuk

mengurangi

kesenjangan

antara

Gerbangkertosusilo dengan daerah lainnya di Jawa Timur, terlebih telah


ditunjang

denganJembatan

Suramadu yang

menghubungkan Surabaya dengan Bangkalan (Madura), maka makin banyak pula


pihak yang menginginkan wilayah metropolitan Gerbangkertosusila sebagai
wilayah provinsi sendiri dengan segera. Namun, wacana ini masih banyak yang
memperdebatkannya, terutama di kalangan DPRD Jawa Timur, dikarenakan
belum pernah dilakukan penelitian yang mendalam dan akurat di bidang sosial
ekonomi dan kemasyarakatan yang membutuhkan dana yang sangat besar.
Maka, Pakde

Karwo sebagai

gubernurJawa

Timur periode

2009

2014

menganggap pemekaran wilayah tidak mempunyai alasan kuat dan hanya akan
menambah beban rakyat untuk biaya pemerintahan saja.
Dalam menyusun rencana tata ruang (RTR), pemerintah mendapatkan
bantuan dari pemerintah Jepang melalui JICA Study Team K. yang dipimpin oleh
Nagayama. Pada pertemuan untuk melakukan penyusunan rencana tata ruang
Gerbangkertosusila Deputi Kepala Bappenas bidang pengembangan regional dan
otonomi daerah, Max Pohan, mengemukakan betapa pentingnya melakukan
pembagian peran dan fungsi terhadap kota-kota satelit di Kawasan
Gerbangkertosusila

serta

perlu

dibuat

green

belt

antara

kota

inti

yaitu Surabaya dengan kota-kota satelitnya. Hal tersebut sangat penting agar
dapat mencegah konurbasi seperti yang sekarang terjadi di Jabodetabek. Dalam
melakukan pembagian peran dan fungsi, pemerintah tetap berusaha untuk
memperhatikan kesesuaian RTR Kawasan Gerbangkertosusila dengan RTRW

provinsi/kabupaten/kota yang ada wilayah tersebut, terutama yang telah


diperdakan, serta masalah kelembagaan. Seperti halnya Surabaya yang telah
menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, pendidikan kawasan Indonesia
Timur dan mempunyai rumah sakit rujukan sekawasan Indonesia Timur
yaitu RSUD dr. Soetomo. Kini, dalam menanggapi perubahan, perkembangan dan
tuntutan zaman, membuat pemerintah mulai memikirkan lagi kemampuan
kawasan Gerbangkertosusila dalam memenuhi tugas yang bertujuan pemerataan
pembangunan antar daerah khususnya di Jawa Timur dan umumnya kawasan
Indonesia Timur. Demi meningkatkan kemampuan kawasan tersebut, pada tahun
2011, pemerintah sedang dalam proses menggagas Gerbangkertosusila Plus (GKS
PLUS). Pemerintah memandang perlu adanya kawasan pendukung baru yaitu
GKS PLUS demi meningkatkan daya dukung atau menyokong kebutuhan dari kota
inti. Dalam usaha merealisaikan gagasan ini, maka proses penggagasan ini telah
dipublikasikan oleh Sistem Informasi Tata Ruang Jawa Timur.

Tranportasi

Tranportasi Udara : Bandara Internasional Juanda

Tranportasi

Laut : Pelabuhan

Ujung (Surabaya). Pelabuhan

Tanjung

Kamal (Bangkalan).

Perak, Pelabuhan
Pelabuhan

Gresik

(Gresik)

Tranportasi Darat :
Kereta Api: Surabaya memiliki 4 stasiun kereta api besar (Stasiun
Wonokromo, Stasiun Gubeng, Stasiun Surabaya Kota, dan Stasiun
Pasar Turi) dan terhubung dengan stasiun besar lainnya yang ada di
Gerbangkertosusila
Jalur Antar kota/daerah (Surabaya-Jakarta, dll.);
Jalur Komuter: Kereta api Surabaya-Lamongan (Sulam), Kereta api
Delta Ekspres (Susi), Kereta api Arek Surokerto (Sumo), dan Stasiun
Gubeng -Bandara Internasional Juanda (Under Construction)

Bus : Terminal Bus Purabaya atau lebih populer dengan nama


Terminal

Bungurasih, merupakan

terminal

bus

tersibuk

di

Indonesia (dengan jumlah penumpang hingga 120.000 per hari),


dan terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Terminal ini berada di
luar perbatasan Kota Surabaya dengan Kecamatan Waru, Sidoarjo.
Terminal ini melayani rute jarak dekat, menengah, dan jauh (AKAP).
Terminal Bus Tambak (Osowilangun) melayani angkutan jarak dekat
dan menengah lintas utara hingga ke Semarang.

Jalan

Tol: Jalan

Tol

Surabaya-Gempol, Jalan

Tol

Surabaya-

Gresik, Jembatan Suramadu, dan Jalan Tol Surabaya - Mojokerto Kertosono (Under Construction). Semua Jalan tol tersebut saling
terhubung antara yang satu dengan yang lainnya.
Jalan By Pass, Jalan Lingkar: Lingkar Timur dan Lingkar Barat (Under
Construction)

Peranan Ekonomi dan Daya Saing


Sebagaimana diketahui wilayah Gerbangkertosusila merupakan kawasan
andalan di Propinsi Jawa Timur yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang
sangat pesat, dan menjadi kawasan strategis nasional. Tingginya pertumbuhan
ekonomi di wilayah ini sejalan dengan fungsi dan perannya sebagai pusat
pertumbuhan wilayah di Jawa Timur, bahkan pengaruhnya hingga wilayah
Indonesia Timur.

Perekonomian Wilayah
Peran wilayah Gerbangkertosusila yang semakin meningkat sebagai
penggerak dan sekaligus kontributor pembangunan ekonomi di Jawa Timur, tidak
dapat

dilepaskan

dari

kinerja

pembangunan

ekonomi

masing-masing

kabupaten/kota. Wilayah ini terdiri dari 7 kabupaten/kota (Kota Surabaya, Kota


Mojokerto, Kab. Sidoarjo, Kab. Gresik, Kab. Lamongan, Kab. Mojokerto dan Kab.

Bangkalan) memberikan sumbangan PDRB terhadap Propinsi Jawa Timur pada


tahun 2000 sebesar 43,67 %, meningkat pada tahun 2005 menjadi 45,25 %, dan
tahun 2007 sebesar 44,57%. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa wilayah ini
berkembang semakin produktif dan sangat kompetitif dibandingkan wilayah
lainnya di Propinsi Jawa Timur.

Gambar 1: PDRB Kabupaten/Kota di Wilayah


Gerbangkertosusila Tahun 2007
Sumber: JICA GKS-ISP Study, 2009

Pendapatan Per Kapita


Tingkat kesejahteraan masyarakat
pendapatan

per

kapita.Kondisi

dapatdiukur dengan besarnya

pendapatan

per

kapita

di

wilayahGerbangkertosusila menempatkan KotaSurabaya pada posisi unggul, dan


diikuti olehKabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik.Sedangkan Kabupaten
Bangkalan danKabupaten Lamongan berada pada tingkatanbawah dalam
pendapatan

per

kapita.

Kondisiyang

sangat

menyolok

dimana

Kota

Surabayamampu menghasilkan pendapatan per kapitalima kali lebih tinggi


dibandingkan KabupatenBangkalan atau Kabupaten Lamongan.

Gambar 2: PDRB per Kapita di Wilayah


Gerbangkertosusila Tahun 2006 dan 2007
Sumber: JICA GKS-ISP Study, 2009

Adanya kesenjangan pendapatan perkapita yang tinggi antar daerah di


wilayahGerbangkertosusila menimbulkan mobilitaspenduduk antar daerah
akibat kekuatan daya tarik daerah yang mempunyai tingkat pendapatan tinggi.
Tingkatkesejahteraan yang lebih tinggi/baik menjadi salah satu faktor yang
mendorong peningkatan arus urbanisasi, khususnya ke Kota Surabaya.

Keunggulan dan Kelemahan Daya Saing Daerah


Faktor-faktor input yang terdiri dari perekonomian daerah, sumber daya
manusia dan ketenagakerjaan, lingkungan usaha produktif, infrastruktur, sumber
daya alam dan lingkungan, serta perbankan dan lembaga keuangan dinilai
berdasarkan keunggulan dan kelemahan daya saing daerah yang dimiliki pada
masing-masing daerah. Secara umum Kota Surabaya lebih unggul dibandingkan
kota/kabupaten lainnya di wilayah Gerbangkertosusila untuk semua faktor-faktor
input, selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Sidoarjo. Kabupaten Gresik masih
mempunyai keunggulan faktor-faktor input, kecuali dalam indikator lingkungan
usaha produktif masih belum kompetitif.
Sementara itu, Kabupaten Bangkalan masih jauh tertinggal dibandingkan
daerah lainnya dalam daya saing faktor inputnya. Kabupaten Mojokerto, dan
Kabupaten Lamongan meskipun masih belum kompetitif dalam faktor input,
namun masihmempunyai keunggulan dalam sumber daya manusia dan

ketenagakerjaan, serta perbankan dan lembaga keuangan. Demikian pula Kota


Mojokerto masih ada kelemahan dalam sumber daya manusia, infrastruktur, dan
perbankan dan lembaga keuangan.

Perekonomian daerah
Kota Surabaya masih mempunyai keunggulan dalam hal produktivitas

sektor tersier, dan besarnya investasi per kapita, yang tidak terdapat di daerah
yang lain. Keunggulan dalam potensi ekspor daerah,kemahalan daerah, dan
kepadatan industri selain Kota Surabaya, juga terdapat pada daerah-daerah
lainnya kecuali Kabupaten Bangkalan.
Kelemahan perekonomi daerah pada umumnya berkaitan dengan masih
rendahnya total pengeluaran pemerintah dibandingkan dengan PDRB kecuali
Kota Mojokerto. Selain itu, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bangkalan
menghadapi keterbatasan kapasitas fiskal daerah.

Sumber daya manusia dan ketenagakerjaan


Jumlah penduduk dan angkatan kerja, rasio ketergantungan, angka

harapan hidup, rata-rata lama sekolah penduduk dan tenaga kerja menjadi
keunggulan bagi Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo,
sedangkan

Kabupaten

Mojokerto,

KabupatenLamongan

dan

Kabupaten

Bangkalan hanya unggul dalam jumlah penduduk dan angkatan kerja.


Kota Mojokerto mempunyai masalah keterbatasan jumlah penduduk dan
angkatan kerja, sedangkan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bangkalan pada
rata-rata lama sekolah penduduk dan tenaga kerja. Kabupaten Bangkalan juga
menghadapi usia harapan hidup yang rendah.

Lingkungan usaha produktif


Sedikitnya jumlah Perda yang bermasalah menjadi keuunggulan , jumlah

sektor basis, penduduk dengan pendidikan perguruan tinggi lebih banyak


menjadi keunggulan Kabupaten Sidoarjo, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto,
Kabupaten Bangkalan. Sementara itu, jumlah penduduk yang berpendidikan

tinggi menjadi unggulan Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Mojokerto.


Jumlah sektor basis menjadi unggulan Kota Surabaya, dan Kota Mojokerto.
Banyaknya Perda bermasalah menjadi hambatan bagi Kota Surabaya dan
Kabupaten Gresik. Daerah yang mempunyai sektor basis sedikit adalah
Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Mojokerto.
Sedangkan Kabupaten Bangkalan menghadapi minimumnya belanja pelayanan
publik per kapita, minimnya penduduk dengan pendidikan perguruan tinggi, dan
tingginya tingkat kemiskinan.

Infrastruktur, SDA dan lingkungan


Kabupaten Sidoarjo mempunyai keunggulan dalam produktivitas sektor

pengangkutan, kondisi jalan, sambungan telepon, konsumsi dan produksi listrik,


konsumsi BBM, rasio luas lahan produktif, sumber daya air. Kabupaten Gresik,
Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto meskipun tidak seunggul Kabupaten
Sidoarjo, namun masih lebih baik dari Kabupaten Lamongan dan Kabupaten
Bangkalan yang hanya punya keunggulan kondisi jalan. Sedangkan Kota Surabaya
berada pada posisi netral, tidak mempunyai keunggulan maupun kelemahan
dalam infrastruktur, SDA dan lingkungan.
Kabupaten Lamongan mempunyai kelemahan dalam produktivitas sektor
pengangkutan, rasio luas lahan produktif. Kelemahan Kota Mojokerto dalam
kondisi jalan, Kabupaten Mojokerto dalam produktivitas sektor pengangkutan,
dan Kabupaten Gresik dalam rasio luas lahan produktif. Sedangkan Kabupaten
Sidoarjo dan Kabupaten Bangkalan mempunyai mempunyai posisi netral untuk
indikator lainnya.

Perbankan dan lembaga keuangan


Keunggulan faktor perbankan dan lembaga keuangan berkaitan dengan

kemampuan memfasilitasi kegiatan perekonomian . Sebaran jumlah kantor bank


menjadi unggulan di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten
Lamongan. Total kredit yang disalurkan perbankan unggul di Kabupaten Sidoarjo

dan Kabupaten Gresik. Kota Mojokerto unggul dalam produktivitas sektor


keuangan dan Kabupaten Gresik dalam produktivitas koperasi. Secara umum
tidak ada kelemahan yang cukup menonjol dalam faktor input ini. Namun
kelemahan dalam produktivitas sektor keuangan masih perlu diperhatikan oleh
Kabupaten Sidoarjo.

Konsep Pengembangan Perkotaan Gerbangkertosusila


Wilayah Gerbangkertosusila sebagaisatu entitas wilayah yang mencakup
sistemperkotaan dan sistem perdesaan yangsaling berinteraksi. Dalam konteks
sistemperkotaan telah terbentuk hubungan antarakota metropolitan, kota
besar/sedang dankota kecil, sesuai dengan perannya masingmasing(PKN, PKW,
dan PKL). Faktor jarakantara kota yang berdekatan, pertumbuhanpenduduk dan
ekonomi, perluasanpermukiman dan area terbangun kota menimbulkan
aglomerasi perkotaan diwilayah ini. Oleh karena peranan aglomerasiperkotaan
sedemikian besar dalam sistemperekonomian, kependudukan, sosial danbudaya
nasional yang tercipta melaluiproses panjang, maka wilayah inimenunjukkan
peranan dominasi dalamkonstelasi nasional (Yunus, 2006).
Konfigurasi

sistem

perkotaan

diwilayah

Gerbangkertosusila akan

selalutumbuh dan berkembang dengan arah danbesaran yang berbeda-beda.


Perbedaanfungsi dan peran masing-masing kotaseharusnya bukan menjadi
kompetitorterhadap kota lainnya, melainkan dapat salingmendukung dan
melengkapi satu kota terhadapkota lainnya. Menurut Yunus (2006), apabilakotakota

yang

bergabung

mempunyaikedudukan

yang

sejajar

baik

dari

segiperanannya dalam konstelasi perekonomianmaupun jumlah penduduk maka


dominasipusat-pusat kegiatan tidak akan tampak,namun apabila koalisi
perkotaan tercipta darigabungan kota besar utama dengan kota-kotayang lebih
kecil di sekitarnya, maka konstelasiperekonomian akan terlihat adanya
dominasiperan dari pusat kegiatan utama.

Berdasarkan konsepsi konfigurasi sistemperkotaan menurut


McGee (dalam Yunus,2006), ada beberapa tipologi perkotaan yangbisa
diidentifikasi dari sistem perkotaan diwilayah Gerbangkertosusila, yaitu
eksistensikota-kota besar, daerah peri-urban, daerahdesa-kota, dan kota-kota
kecil. Menurut Yunus(2006), intensitas transformasi keruangan(spasial) sangat
bervariasi, dimana makin dekatke kota dan/atau jalur jalan/transportasi
utamamaka proses transformasi akan berlangsungmakin intens. Fakta-fakta
empirik yang adamenunjukkan bahwa berkembangnya KotaSurabaya sebagai
kota utama di wilayahGerbangkertosusila, juga diikuti denganberkembangnya
daerah peri-urban akibatpengembangan permukiman baru, danberkembangnya
desa-kota pada koridorpergerakan antar kota. Perkembangantersebut tidak
lepas

dari

adanya

pertumbuhanperkotaan

yang

tidak

terkontrol

(urbansprawling), perpindahan penduduk ke kawasanperumahan baru di daerah


peri-urban dankonversi penggunaan lahan yang tidak sesuai(JICA ISP, 2009).
Konsep pengembangan perkotaan padawilayah Gerbangkertosusila
diarahkan denganpendekatan Polycentric Urban Region untukmengurangi
dominasi Kota Surabaya. Dalampendekatan ini, dipilih beberapa kawasan
perkotaan yang akan dikembangkan sebagaipusat pelayanan perkotaan
berdasarkanperanan dan fungsi tertentu. Pendekatanpolycentric ini diharapkan
dapat berperanmengurangi perkembangan perkotaan yangtidak terkendali
(urban sprawl). Beberapapandangan yang berkembang dalampendekatan
polycentrism

ini

berkaitan

dengankontribusinya

terhadap

daya

saing,keunggulannya bagi daerah pinggiran samaseperti daerah pusat,


menciptakanpemanfaatan potensi wilayah secara penuh,dan konektivitas untuk
keseluruhan wilayah(Faludi, 2005). Adanya beberapa pusatperkotaan akan dapat
menciptakan persaingandalam pemanfaatan potensi wilayah, tidakhanya
terbatas

pada

barang

dan

jasa

yangmempunyai

keunggulan

komparatif,melainkan juga mendorong terjadinyakeunggulan kompetitif.

Gambar 3 : Struktur Perkotaan di Wilayah GKS


Sumber: JICA GKS-ISP Study, 2009

Pusat-pusat perkotaan utama di wilayah Gerbangkertosusila ditetapkan


mempunyai peran dan fungsi yang berbedabeda. Menurut Porter (2000), lokasi
mempengaruhi

keunggulan

kompetitif

melalui

pengaruhnya

terhadap

produktivitas dan terutama pada pertumbuhan produktivitas, diantaranya


melaluipembentukan klaster-klaster ekonomi pada lokasi tertentu. Adanya
kawasan ekonomi khusus yang diintegrasikan dalam pengembangan perkotaan
dapat mendorong keunggulan kompetitif jika didukung dengan konsentrasi
keterampilan dan pengetahuan yang sangat khusus sebagai faktor inputnya.

Gambar 4 : Konsep Struktur Wilayah GKS


Sumber: JICA GKS-ISP Study, 2009

Strategi Pengembangan Daya Saing Perkotaan


Strategi pengembangan daya saing perkotaan dilakukan dengan tujuan
meningkatkan

produktivitas

dan

efisiensi

faktor-faktor

input

dalam

rangkamewujudkan polycentric urban region di wilayah Gerbangkertosusila.


Adanya
perbedaan peran dan fungsi perkotaan dapat menimbulkan kompetisi ataupun
kolaborasi antar kawasan perkotaan. Namun kompetisi yang sebenarnya jauh
berbeda. Kompetisi adalah bersifat dinamis dan bertumpu pada inovasi dan
mencari perbedaan strategis (Porter, 2000).
Strategi pengembangan perkotaan yang berdaya saing di wilayah
Gerbangkertosusila perlu mempertimbangkan spesialisasi daerah yang dibentuk
adanya resources endowment, keunggulan dan kelemahan daya saing daerah,
serta konsep perkotaan yang dikembangkan melalui pendekatan polycentric
urban region. Beberapa strategi pengembangan perkotaan yang dapat
diterapkan pada wilayah Gerbangkertosusila adalah:

Strategi berbasis pada inovasi perkotaanyang didukung peningkatan


kualitas

pelayanan

perkotaan,

ekonomi

berbasis

pengetahuan

(knowledge based economy), dan pemanfaatan ICT. Dalam hal ini Kota
Surabaya seharusnya tidak lagi bersaing dengan kota-kota sekunder di
sekitarnya, melainkan harus mampu bersaing dalam tataran global. Oleh
sebab itu, keunggulan kompetitif harus menjadi pendorong utama
pertumbuhan kota.

Strategi berbasis pada upaya peningkatan produktivitas daerah melalui


diversifikasi dan pengembangan sektor basis, peningkatan lingkungan
usaha, serta pengembangan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Strategi ini diarahkan pada perkotaan Sidoarjo dan Gresik dengan
meningkatan produktivitas lahan sesuai dengan rencana tata ruang,
mengoptimalkan aglomerasi ekonomi, dan mendorong regulasi yang
lebih ramah investasi.

Strategi berbasis pada optimalisasi peran dan fungsi perkotaan yang


didukung pengembangan sumber daya manusia, peningkalan kualitas
pelayanan perkotaan, dan pengembangan ekonomi kreatif. Strategi ini
diarahkan pada Kota Mojokerto yang mempunyai keterbatasan lahan
untuk

pengembangan

kota.

Keterbatasan

resources

endowment

mengharuskan Kota Mojokerto memanfaatkan pendekatan keunggulan


kompetitif sebagai pilihan untuk meningkatkan daya saing kotanya, salah
satunya dengan memanfaatkan posisi strategisnya sebagai outlet
pemasaran bagi wilayah sekitarnya.

Strategi

berbasis

pada

pengelolaan

sumber

daya

alam

dan

pengembangan ekonomi lokal. Strategi ini diarahkan pada Kabupaten


Mojokerto yang memiliki keunggulan dalam resources endowment.
Kawasan perkotaan Mojokerto seharus mampu memanfaatkan potensi
ini sebagai keunggulan komparatif dengan mengintegrasikan sektor

pertanian dengan kegiatan agroindustri, kegiatan agrobisnis, serta


kegiatan pemanfaatan jasa-jasa lingkungan.

Strategi

berbasis

pada

penguatanpotensi

ekonomi

lokal

melaluipengembangan lingkungan usahaproduktif. Strategi ini diarahkan


padaKabupaten Lamongan dan KabupatenBangkalan yang mempunyai
daya

saingdaerah

yang

rendah.

Pembangunaninfrastruktur

fisik,

pengembangansumber daya manusia, lingkunganusaha produktif untuk


mengatasiketertinggalan daya saing daerah. Tidakcukup mengejar
ketertinggalan hanyamelalui keunggulan komparatif, namundiperlukan
pula menciptakankeunggulan kompetitif di wilayahnya.Oleh sebab itu,
perlu dikembangkanleap frog development strategy untukmencapai
keunggulan

yang

lebih

tinggi.Adanya

strategi

pengembangan

perkotaanyang berbeda ini diharapkan dapatmendorong terjadinya


kolaborasi dan sinergiantar kawasan perkotaan, dan padaakhirnya
mampu meningkatkan daya saingwilayah secara berkelanjutan.

Perhitungan Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Tahun 2014 2024


TABEL JUMLAH PENDUDUK GERBANG KERTOSUSILO TAHUN 2010 & 2012
JUMLAH PENDUDUK
2010
(jatim.bps.go.id)

JUMLAH PENDUDUK
2012
(jatim.bps.go.id)

1.177.042

1.307.995

Kabupaten Bangkalan

906.761

1.178.952

Kabupaten Mojokerto

1.025.443

568.321

Kota Mojokerto

120.196

1.400.000

Kota Surabaya

2.765.487

2.791.761

Kabupaten Sidoarjo

1.941.497

2.053.467

Kabupaten Lamongan

1.179.059

1.284.379

JUMLAH

9.115.485

10.584.875

NAMA KAB/KOTA
Kabupaten Gresik

METODE BUNGA BERGANDA

Keterangan :
Pt

: Jumlah penduduk di daerah yang diselisiki pada tahun t.

(Pt + U)

: Jumlah Penduduk di daerah yang diselidiki pada tahun t+U

: Tingkat (prosentase) pertambahan penduduk rata-rata setiap


tahun (diperoleh dari data masa lalu)

: Tambahan tahun terhitung dari tahun dasar

1.

PERHITUNGAN JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2014 (BERDASARKAN METODE


BUNGA BERGANDA)
Diketahui :
(t + U)

= 2012 + 2 = 2014

Pt

= 10.584.875

=2

R (Pertumbuhan Penduduk Per 2 Tahun)


= selisih jumlah penduduk tahun 2012 2010 X 100%
Jumlah penduduk tahun 2010
= 10.584.875 - 9.115.485 X 100%
9.115.485
R = 0,16
(P2014) = 10.584.875 (1 + 0,16)2
= 10.584.875 X 1,3456
= 14.243.007,8
(P2014) = 14.243.008
Jadi, jumlah penduduk Gerbangkertosusilo pada tahun 2014 adalah
14.243.008jiwa.
2.

PERHITUNGAN JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2014 - 2019 (BERDASARKAN


METODE BUNGA BERGANDA)
Diketahui :
(t + U)

= 2014 + 5 = 2019

Pt

= 14.243.008

=5

= 0,16

(P2019) = 14.243.008 (1 + 0,16)5


= 10.584.875 X 2,1
= 22.228.237,5
(P2019) = 22.228.238
Jadi, jumlah penduduk Gerbangkertosusilo pada tahun 2019adalah
22.228.238jiwa.
3.

PERHITUNGAN JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2019 - 2024 (BERDASARKAN


METODE BUNGA BERGANDA)
Diketahui :
(t + U)

= 2019 + 5 = 2024

Pt

= 22.228.238

=5

= 0,16

(P2024) = 22.228.238 (1 + 0,16)5


= 22.228.238 X 2,1
= 46.679.299,8
(P2024) = 46.679.300
Jadi, jumlah penduduk Gerbangkertosusilo pada tahun 2024 adalah
46.679.300jiwa.
4.

KESIMPULAN
TABEL PERTUMBUHAN PENDUDUK TAHUN 2014 2024
GERBANGKERTOSUSILO

TAHUN

JUMLAH PENDUDUK

PRESENTASE
PERTUMBUHAN
PENDUDUK

2014 2019

22.228.238

0,56%

2019 - 2024

46.679.300

1,1%

Pertumbuhan penduduk dalam jangka waktu 5 tahun yaitu dari tahun


2014 2019 diperkirakan bertumbuh sebesar 0,56%. Dan pertumbuhan
penduduk pada tahun 2019 2024 diperkirakan bertumbuh sebesar 1,1%.

Perhitungan Kebutuhan Pola Hunian Berimbang Gerbangkertosusilo


JUMLAH KEPALA KELUARGA
Rumus Menghitung Jumlah Kepala Keluarga (KK):
Jumlah Kepala Keluarga = proyeksi populasi pada tahun tertentu
jumlah jiwa dalam satu keluarga
1.

JUMLAH KEPALA KELUARGA (KK) TAHUN 2014

Diketahui :
Jumlah Penduduk 2014

= 14.243.008

Asumsi Jumlah Jiwa 1 Keluarga

= 5 jiwa

Jumlah KK

14.243.008
5

= 2.848.601,6
= 2.848.602 KK
2.

JUMLAH KEPALA KELUARGA (KK) TAHUN 2019

Diketahui :
Jumlah Penduduk 2019

= 22.228.238

Asumsi Jumlah Jiwa 1 Keluarga

= 5 jiwa

Jumlah KK

22.228.238
5

= 4.445.647,6
= 4.445.648KK
3.

JUMLAH KEPALA KELUARGA (KK) TAHUN 2024

Diketahui :
Jumlah Penduduk 2024

= 46.679.300

Asumsi Jumlah Jiwa 1 Keluarga

= 5 jiwa

Jumlah KK

46.679.300
5

= 9.335.860KK

KEBUTUHAN HUNIAN BERIMBANG


Rumus Perhitungan Pola Hunian Berimbang :

Jumlah Kebutuhan Rumah MBT = Asumsi MBT X jumlah kepala keluarga


Jumlah Kebutuhan Rumah MBM = Asumsi MBM X jumlah kepala keluarga
Jumlah Kebutuhan Rumah MBR = Asumsi MBR X jumlah kepala keluarga

1.

JUMLAH KEBUTUHAN HUNIAN BERIMBANG TAHUN 2014

Diketahui :
Jumlah KK tahun 2014

= 2.848.602 KK

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Tinggi (MBT)

= 10%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Menengah (MBM)

= 30%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)

= 60%

Jumlah Kebutuhan Rumah MBT

= 10% X 2.848.602

= 284.860,2
= 284.860 unit

Jumlah Kebutuhan Rumah MBM

= 30% X 2.848.602
= 854.580,6
= 854.581 unit

Jumlah Kebutuhan Rumah MBR

= 60% X 2.848.602
= 1.709.161,2
= 1.709.161 unit

2.

JUMLAH KEBUTUHAN HUNIAN BERIMBANG TAHUN 2019

Diketahui :
Jumlah KK tahun 2019

= 4.445.648 KK

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Tinggi (MBT)

= 10%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Menengah (MBM)

= 30%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)

= 60%

Jumlah Kebutuhan Rumah MBT

= 10% X 4.445.648

= 444.564,8
= 444.565unit
Jumlah Kebutuhan Rumah MBM

= 30% X 4.445.648
= 1.333.694,4
= 1.333.694 unit

Jumlah Kebutuhan Rumah MBR

= 60% X 4.445.648
= 2.667.388,8
= 2.667.389 unit

3.

JUMLAH KEBUTUHAN HUNIAN BERIMBANG TAHUN 2024

Diketahui :
Jumlah KK tahun 2024

= 9.335.860 KK

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Tinggi (MBT)

= 10%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Menengah (MBM)

= 30%

Asumsi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)


Jumlah Kebutuhan Rumah MBT

= 60%

= 10% X 9.335.860

= 933.586 unit
Jumlah Kebutuhan Rumah MBM

= 30% X 9.335.860
= 2.800.758 unit

Jumlah Kebutuhan Rumah MBR

= 60% X 9.335.860
= 5.601.516 unit

4.

KESIMPULAN
TABEL KEBUTUHAN POLA HUNIAN BERIMBANG TAHUN 2014 2024
GERBANGKERTOSUSILO

TAHUN

JUMLAH KEBUTUHAN
RUMAH MEWAH
10%

JUMLAH KEBUTUHAN
RUMAH MENENGAH
30%

JUMLAH KEBUTUHAN
RUMAH SEDERHANA
60%

JUMLAH

2014

284.860 unit

854.581 unit

1.709.161 unit

2.848.602 unit

2019

444.565 unit

1.333.694 unit

2.667.389 unit

4.445.648 unit

2024

933.586 unit

2.800.758 unit

5.601.516 unit

9.335.860 unit

Jumlah kebutuhan rumah menurut pola hunian berimbang pada tahun


2014 untuk rumah mewah sebanyak 284.860 unit, rumah menengah 854.581
unit dan rumah sederhana sebanyak 1.709.161 unit. Untuk tahun 2019 untuk
rumah mewah sebanyak 444.565 unit, rumah menengah 1.333.694 unitdan
rumah sederhana sebanyak 2.667.389 unit. Sedangkan untuk tahun 2024rumah
mewah sebanyak 933.586 unit, rumah menengah 2.800.758 unit dan rumah
sederhana sebanyak 5.601.516 unit.

KEBUTUHAN LAHAN HUNIAN


Rumus Perhitungan Kebutuhan Lahan Hunian:
Kebutuhan Lahan = Asumsi Luas Rumah X Jumlah Kebutuhan Rumah

1.

JUMLAH LUAS KEBUTUHAN HUNIAN TAHUN 2014

Diketahui :
Jumlah kebutuhan rumah MBT TAHUN 2014

:284.860 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBM TAHUN 2014

: 854.581 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBR TAHUN 2014

: 1.709.161 unit

Asumsi luas rumah MBT

: 90 m2

Asumsi luas rumah MBM

: 54 m2

Asumsi luas rumah MBR

: 36 m2

Kebutuhan Lahan Rumah MBT

= 90 m2 x 284.860 unit
= 25.637.400 m2=2.563,74 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 54 m2 x 854.581unit
= 46.147.374 m2 = 4.614,74 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 36 m2 x 1.709.161 unit
= 61.529.796 m2 = 6.152,98 ha

2.

JUMLAH LUAS KEBUTUHAN HUNIAN TAHUN 2019

Diketahui :
Jumlah kebutuhan rumah MBT TAHUN 2019

: 444.565 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBM TAHUN 2019

: 1.333.694 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBR TAHUN 2019

: 2.667.389 unit

Asumsi luas rumah MBT

: 90 m2

Asumsi luas rumah MBM

: 54 m2

: 36 m2

Asumsi luas rumah MBR


Kebutuhan Lahan Rumah MBT

= 90 m2x 444.565 unit


= 40.010.850 m2 = 4.001,1 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 54 m2x 1.333.694 unit


= 72.019.476 m2 = 7.201,95 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 36 m2 x 2.667.389 unit
= 96.026.004 m2 = 9.602,26 ha

3.

JUMLAH LUAS KEBUTUHAN HUNIAN TAHUN 2024

Diketahui :
Jumlah kebutuhan rumah MBT TAHUN 2024

: 933.586 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBM TAHUN 2024

: 2.800.758 unit

Jumlah kebutuhan rumah MBR TAHUN 2024

: 5.601.516 unit

Asumsi luas rumah MBT

: 90 m2

Asumsi luas rumah MBM

: 54 m2

Asumsi luas rumah MBR

: 36 m2

Kebutuhan Lahan Rumah MBT

= 90 m2 x 933.586 unit
= 84.022.740 m2 = 8.402,27 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 54 m2 x 2.800.758 unit
= 151.240.932 m2 = 15.124,1 ha

Kebutuhan Lahan Rumah MBM

= 36 m2 x 5.601.516 unit
= 201.654.576 m2 = 20.165,46 ha

KEBUTUHAN LANTAI HUNIAN


http://jatim.bps.go.id/
Diketahu :
Luas Gerbangkertosusilo

: 5.925,843 km2 = 592.584,3 ha

Peruntukan perumahan

: 30%

= 592.584,3 ha x 30%
= 177.775,29 ha
Perbandingan pola berimbang = 1 Mewah : 3 Menengah : 6 Sederhana
10% x 177.775,29 ha = 17.777,53 ha untuk rumah mewah
30% x 177.775,29 ha = 53.332,59 ha untuk rumah menengah
60% x 177.775,29 ha = 106.665,17 ha untuk rumah sederhana
1.

JUMLAH KEBUTUHAN LANTAI HUNIAN TAHUN 2014

Kebutuhan Lantai Rumah Mewah

17.777,53 ha
2.563,74 ha

= 6.9 lantai = 7 lantai


Kebutuhan Lantai Rumah Menengah

53.332,59 ha
4.614,74 ha

= 11.5 lantai= 12 lantai


Kebutuhan Lantai Rumah Sederhana

106.665,17 ha
6.152,98 ha

= 17.3 lantai = 17 lantai

2.

JUMLAH KEBUTUHAN LANTAI HUNIAN TAHUN 2019

Kebutuhan Lantai Rumah Mewah

17.777,53 ha
4.001,1 ha

= 4.4lantai = 4 lantai
Kebutuhan Lantai Rumah Menengah

53.332,59 ha
7.201,95 ha

= 7.4 lantai = 7 lantai

Kebutuhan Lantai Rumah Sederhana

106.665,17 ha
9.602,26 ha

= 11.1 lantai = 11 lantai


3.

JUMLAH KEBUTUHAN LANTAI HUNIAN TAHUN 2024

Kebutuhan Lantai Rumah Mewah

17.777,53 ha
8.402,27 ha

= 2.1 lantai = 2 lantai


Kebutuhan Lantai Rumah Menengah

53.332,59 ha
15.124,1 ha

= 3.5 lantai = 4 lantai


Kebutuhan Lantai Rumah Sederhana

106.665,17 ha
20.165,46 ha

= 5.2 lantai = 5 lantai

Sumber :

Faludi, A. (2005). Polycentric territorial cohesion policy. Town Planning


Review.Vol. 76 (1): hal. 107 118.

JICA GKS-ISP Team (2009). JICA Study on Formulation of Spatial Planning


for Gerbangkertosusila Zone. Surabaya: JICA

Porter, M.E. (1996). Competitive Advantage, Agglomeration Economies,


and Regional Policy. International Regional Science Review. Vol. 19 (1 &2):
hal. 85 94.

Porter, M.E. (2000). Location, Competition, and Economic Development:


Local Clusters in a Global Economy, Economic DevelopmentQuarterly. Vol.
14, No. 1, February 2000: hal. 15 34.

Porter, M.E. (2003). The Economic Performance of Regions. Urban


Studies. Vol. 37, No. 6 & 7: hal. 549 578.

PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE Unpad (2008). Profil dan Pemetaan
Daya SaingEkonomi Daerah Kabupaten/Kota diIndonesia. Jakarta:
Rajawali Pers.

Rustiadi, E., S. Saefulhakim, dan D.R. Panuju (2009). Perencanaan dan


PengembanganWilayah. Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Obor
Indonesia.

Turok, Ivan (2004). Cities, Regions and Competitiveness. Regional Studies,


38 (9): hal. 1069 1083.

Webster, D. dan L. Muller (2000). Urban Competitiveness Assessment in


Developing Country Urban Regions: The Road Forward. Paper prepared
for UrbanGroup, INFUD. Washington, D.C.: TheWorld Bank.

Yunus, H.S. (2006). Megapolitan: Konsep, Problematika dan Prospek.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.