Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Fisika Dasar 1

Analisis Kereta Luncur


Dosen Pengasuh : Jumingin, S.Si.

Disusun Oleh :
Opin Grasela
(13221057)

Asisten Praktikum :
Nur Hasanah

Program Studi Tadris Matematika


Fakultas Tarbiyah
Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang
2013
Daftar Isi
1.

Daftar Isi
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang............................................................................... 1
1.2. Tujuan............................................................................................ 1

2. Tinjauan Pustaka................................................................................... 1
3. Alat dan Bahan
3.1. Alat................................................................................................ 5
4. Prosedur Praktikum............................................................................... 5
5. Hasil dan Pembahasan
5.1. Hasil............................................................................................... 6
5.2.Pembahasan..................................................................................... 10
5. Kesimpulan........................................................................................... 11
Lampiran
Daftar Pustaka

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Hukum gerak Newton adalah hukum sains yang ditentukan oleh Sir Isaac Newton
mengenai sifat gerak benda. Hukum gerak Newton itu sendiri merupakan hukum yang
fundamental. Artinya, pertama hukum ini tidak dapat dibuktikan dari prinsip-prinsip lain, kedua
hukum ini memungkinkan kita agar dapat memahami jenis gerak yang paling umum yang
merupakan dasar mekanika klasik.
Dalam kehidupan sehari-hari, gaya merupakan tarikan atau dorongan. Misalnya, pada
waktu kita mendorong atau menarik suatu benda atau kita menendang bola, dikatakan bahwa kita
mengerjakan suatu gaya dorong pada mobil mainan. Pada umumnya benda yang dikenakan gaya
mengalami perubahan-perubahan lokasi atau berpindah tempat.

Dalam fisika kita mengenal yang namanya hukum newton 1, 2 dan 3. Akan tetapi, apakah
kita tau apa Pengertiannya, fungsinya dalam kehidupan sehari hari? Oleh karena itu diadakanlah
suatu praktikum tentang analisis kereta luncur ini, karena berkaitan dengan hukum-hukum
newton.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Memahami hubungan sudut kemiringan dengan percepatan yang dialami benda
2. Memahami pengaruh gaya gesekan terhadap kecepatan kereta luncur
2. Tinjauan Pustaka
2.1. Hukum Newton Pertama
Galileo melakukan pengamatan mengenai benda-benda jatuh bebas. Ia menyimpulkan
dari penamatan-pengamatan yang dia lakukan bahwa benda-benda berat jatuh dengan cara yang
sama dengan benda-benda ringan. Tiga puluh rahun kemudian, Robert Boyle, dalam sederetan
eksperimen yang dimungkinkan oleh pompa vakum barunya, menunjukan bahwa pengamatan ini
tepat benar utuk benda-benda jatuh tanpa adanya hambataan dari gesekan udara. Galileo
mengetahui bahwa ada pengaruh hambatan udara pada gerak jatuh.akan tetapi, pernyataanya
masih cukup sesuai dengan hasil pengukuran dan pengamatannya walaupun mengabaikan
hambatan udara dibanding dengan kepercayaan orangpaa saat itu (tetapi tidak diuji dengan
eksperimen), yakni kesimpulan Aristotelesyang menyatakan bahwa, benda yang beratnya
sepuluh kali dari benda lain akan sampai ke tanah seper sepuluh waktu dari waktu benda yang
lebih ringan. Pada tahun 1678 Sir Isaac Newton menyatakan hukum pertamanya tentang gerak,
yang sekarang dikenal sebagai Hukum I Newton, yang berbunyi sebuah benda akan berada
dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan apabila resultan yang bekerja pada benda
sama dengan nol (Jumingin, 2013).
Secara matematis, persamaan Hukum I Newton yaitu : F = 0
Hukum diatas menyatakan bahwa jika suatu benda yang mulanya diam maka selamanya
benda akan diam. Benda hanya akan bergerak jika pada suatu benda itu diberi gaya luar.
Sebaliknya benda yang sedang bergerak selamanya akan bergerak, kecuali jika ada yang
menghentikannya (Jumingin, 2013).
2.2. Hukum Newton Kedua
Bunyi hukum II Newton yaitu jika suatu gaya luar total bekerja pada sebuah benda,
maka benda akan mengalami percepatan. Arah percepatan tersebut sama dengan arah gaya total.
Vektor gaya total sama dengan massa benda dikalikan dengan percepatan benda (Young 2002).
Makna dari hukum kedua newton ini adalah jika ada gaya yang tidak berimbang terjadi
pada sebuah benda (ada gaya netto), maka benda yang mula-mula diam akan bergerak dengan

kecepatan tertentu atau bisa juga disebut kecepatan nol, bertambah kecepatan atau melambat
karena karena dipengaruhi gaya luar tadi yang secara matematis dapat ditunjukkan dengan
persamaan :
F = m .a
atau dalam bentuk diferensial
F = m dv/dtm = m d2r/dt2
Dari persamaan F = m .a, maka Hukum Newton II juga berlaku jika a merupakan
percepatan gravitasi bumi (g) dapat diperoleh :
W = m.g (Ishaq, 2007).
2.2.1. Gesekan
Jika seandainya kita mendorong sebuah kotak besar yang diam diatas lantai dengan
sebuah gaya horizontal yang kecil, maka kotak akan bergerak. Hal ini dikarenakan lantai
melakukan gaya horizontal yang dinamakan dengan gaya gesekan statif. Gaya gesekan
disebabkan oleh ikatan molekul-molekul kotak dan lantai di tempat-tempat terjadinya kontak
yang sangat erat antara kedua permukaan yang berlawanan arah dengan gaya luar yang
dikerjakan. Gaya gesekan statif hampir mirip dengan gaya pendukung yang dapat menyesuaikan
dari nol sampai suatu gaya maksimum yang bergantung pada seberapa kuat suatu dorongan. Jika
cukup kuat, kotak akan meluncur di atas lantai dan jika kotak meluncur, ikatan molekuler secara
terus menerus dibentuk dan dipecah, sehingga potongan-potongan kecil permukaan berpecahan.
Hasilnya sebuah gaya gesekan kinetik (gesekan hancuran) yang melawan gerakan untuk
mempertahankan kotak agar meluncur dengan kecepatan konstan (Tipler, 1998).
2.2.2. Gaya-gaya Hambat
Ketika sebuah benda bergerak melalui fluida seperti udara maka fluida melakukan gaya
hambat atau gaya yang memperlambat yang cendrung mengurangi kelajuan benda. Gaya hambat
bergantung pada bentuk benda. Pada sifat fluida dan kelajuan benda relatif terhdap fluida.
Seperti gaya gesekan, gaya hambat sangat rumit. Tidak seperti pada gaya gesekan bisasa, gaya
hambat bertambah bila kelajuan benda bertambah. Untuk kelajuan yang kecil, gaya hambat
hampir sebanding dengan kelajuan benda. Untuk kelajuan yang lebih tinggi, gaya ini lebih
mendekati sebanding dengan kuadrat kelajuan (Tipler, 1998).
2.2.3. Gaya-gaya Pseudo
Hukum-hukum newton hanya berlaku dalam keragka acuan inersi, jika percepatan salah
satu benda diukur relatif terhadap kerangka acuan yang dipercepat relatif terhadap suatu
kerangka inersia. Gaya pseudo seperti gaya sentrifugal hanya muncul dalam kerangka acuan
yang dipercepat. Perhatikan sebuah gerbong kereta api yang bergerak menurut garis lurus
sepanjang rel horizontal dengan kecepatan konstan ac relatif terhadap rel yang kita

ansumsikandalam kerangka acuan inersial. Jika benda dijatuhkan dalam gerbong, benda itu tidak
akan jatuh lurus ke bawah, tetapi agak kearah belakang gerbong. Relatif terhadap gerbong, benda
mempunyai percepatan pertikal g dan percepatan horizontal ac. jika menggunakan
Hukum Kedua Newton dalam kerangka acuan gerbong, maka didapat sebuah gaya pseudo FP= m.ac yang bekerja pada sembarang benda bermassa m (Tipler, 1998).
2.3. Hukum Newton Ketiga
Hukum III Newton berbunyi setiap gaya (gaya aksi) yang mengenai sebuah benda
kedua, maka benda kedua tersebut akan menghasilkan gaya (gaya reaksi) yang sama besar dan
berlawanan arah pada benda pertama (Ishaq, 2007).
Gaya yang bekerja pada benda selalu merupakan hail interaksi dengan benda lain,
sehingga gaya selalu berpasangan. Gaya yang diberikan pada tiap-tiap benda yang bersentuhan
akan selalu memiliki besar yang sama dan arah yang berlawanan. Aksi dan reaksi meupakan dua
gaya yang berlawanan yang kadang dihubungkan sebagai pasangan aksi reaksi (action reaction
pair). Gaya aksi dan reaksi adalah gaya kontak yang terjadi jika kedua benda bersentuhan.
Tetapi, hukum ketiga newton juga berlaku untuk gaya jarak jauh yang tidak harus terjadi
sentuhan pada benda, seperti gaya tarik gravitasi (Young 2002).

3. Alat dan Bahan


3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Papan lucur/Rel lintasan, berfungsi untuk rel yang akan dilewati oleh kereta luncur.
2. penyangga, berfungsi untuk menyangga papan luncur.
3. Mistar, berfungsi sebagai rel lintasan.
4. Busur derajat, berfungsi mengukur sudut papan luncur.
5. Kereta luncur, berfungsi kereta yang akan meluncur di papan luncur.
6. Stopwatch, berfungsi untuk menghitung waktu yang dicapai kereta luncur ketika meluncur di
papan luncur.
4.
1.
2.
3.
4.

Prosedur Praktikum
Prosedur atau langkah kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
Membaca Bismillah sebelum memulai eksperimen.
Menyiapkan peralatan yang akan digunakan.
Menyusun peralatan seperti pada gambar berikut.
Mengukur panjang lintasan sebesar 50 cm dengan mistar.

5. Mengatur sudut pada papan luncur sebesar 100 dengan bususr derajat, kemudian meletakkan
kereta luncur pada bagian ujung atas lintasan (ulangi sebanyak 5 kali).
6. Melepaskan kereta luncur tanpa kecepatan awal, mencatat waktu yang diperlukan untuk
mencapai ujung papan luncur dengan stopwatch.
7. Mengulangi langkah 5 dan 6 untuk sudut 200, 300, 400, 500 dan 600.
8. Memasukkan data hasil pengukuran pada tabel berikut :
S = ... cm
waktu (t)
No
Sudut (0)
t1
t2
t3
t4
t5
1
2
3
4
5
9. Mengakhiri dengan Alhamdulillah.
5. Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil
Diketahui : s = 50 cm = 0,5 m
= 100
jarak (s)
No
(m)
1
0,5
2
0,5
3
0,5
4
0,5
5
0,5
jumlah

waktu (t)
(s)
1
1
1
0,9
1
4,9

t2
1
1
1
0,81
1
4,81

= 2,13

Diketahui

: s = 50 cm = 0,5 m
= 200
jarak (s)
No
(m)
1
0,5
2
0,5
3
0,5
4
0,5
5
0,5
jumlah

waktu (t)
(s)
0,5
0,5
0,5
0,5
0,6
2,6

t2
0,25
0,25
0,25
0,25
0,36
1,36

= 0,0004
=0,96

Diketahui

: s = 50 cm = 0,5 m
= 300
jarak (s)
No
(m)
1
0,5
2
0,5
3
0,5
4
0,5
5
0,5

waktu (t)
(s)
0,4
0,4
0,4
0,3
0,4

t2
0,16
0,16
0,16
0,09
0,16

jumlah

1,9

0,73

: s = 50 cm = 0,5 m
= 400
jarak (s)
No
(m)
1
0,5
2
0,5
3
0,5
4
0,5
5
0,5
jumlah

waktu (t)
(s)
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
1,5

t2
0,09
0,09
0,09
0,09
0,09
0,45

: s = 50 cm = 0,5 m
= 500
No
jarak (s)

waktu (t)

t2

=0,6855

Diketahui

=0

Diketahui

(m)
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
Jumlah

(s)
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
1,0

: s = 50 cm = 0,5 m
= 600
jarak (s)
No
(m)
1
0,5
2
0,5
3
0,5
4
0,5
5
0,5
Jumlah

waktu (t)
(s)
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,5

1
2
3
4
5

0,04
0,04
0,04
0,04
0,04
0,2

=0

Diketahui

t2
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,05

=0

3.2. Pembahasan
Besar Kecepatan sudut diperolah dengan membagi kecepatan tangensial
jari lintasan

dengan jari-

Arah kecepatan linier dalam GMB selalu menyinggung lintasan, yang berarti arahnya
sama dengan arah kecepatan tangensial
.
Tetapnya nilai kecepatan
akibat konsekuensi dari tetapnya nilai . Selain itu terdapat
pula percepatan radial
yang besarnya tetap dengan arah yang berubah. Percepatan ini disebut
sebagai percepatan sentripetal, di mana arahnya selalu menunjuk ke pusat lingkaran.

Bila T adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu putaran penuh dalam
lintasan lingkaran
, maka dapat pula dituliskan

6.

Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa percepatan benda
berbanding lurus dengan tangen dari sudut kemiringan lintasan. Sedangkan pengaruh gaya
gesekan terhadap kecepatan kereta luncur, yakni semakin besar gaya gesekan maka kecepatan
kereta luncur semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah gaya gesekan maka semakin tinggi
kecepatan kereta luncur.

Lampiran
Evaluasi
1. Coba temukan hubungan matematis antara percepatan benda dengan kemiringan lintasan
() ?

Jawab :
Secara matematis, hubungan antara percepatan benda (v) dengan kemiringan lintasan ()
dirumuskan dalam persamaan :
v = tan
Jadi, percepatan benda berbanding lurus dengan tangen dari kemiringan lintasan.
2. Dapatkan persamaan matematis hubungan antara kecepatan benda yang menikung pada
jalan miring yang kasar dengan sudut kemiringan dan kekasaran permukaan?
Jawab :
Secara matematis, hubungan kecepatan dengan sudut kemiringan yakni :
a = tan
jadi, kecepatan juga berbanding lurus dengan tangen dari sudut kemiringan.