Anda di halaman 1dari 21

TUGAS FILSAFAT DAN ETIKA BISNIS

ISLAM SEBAGAI DASAR ETIKA BISNIS

Disusun Oleh :
Bakti Amrinul Hakim

20141020001

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


FAKULTAS MAGISTER MENEJEMEN
TAHUN AJARAN 2014 / 2015

BAB 1
PENDAHULUAN

Dalam Era Globalisasi dewasa ini, perkembangan perekonomian dunia begitu


pesat, seiring dengan berkembang dan meningkatnya kebutuhan manusia akan sandang,
pangan, dan teknologi. Kebutuhan tersebut meningkat sebagai akibat jumlah penduduk
yang setiap tahun terus bertambah, sehingga menimbulkan persaingan bisnis makin
tinggi. Hal ini terlihat dari upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup. Akibat lebih lanjut dari perkembangan tersebut
meningkatkan hubungan antara masyarakat, tidak saja antara penduduk dalam satu
negara, akan tetapi antara warga negara di dunia. Wujud dari hubungan tersebut
terbentuknya organisasi-organisasi bisnis, seperti AFTA, NAFTA, APEC, dan lembaga
perdangan dunia World Trade Organization (WTO). Pembentukan organisasi tersebut,
pada prinsipnya bertujuan agar jalinan kerjasama di bidang bisnis antar negara adanya
kesamaan visi dan misi. Namun demikian, dalam praktek tidak demikian, karena
peluang untuk terjadi penyimpangan yang mengakibatkan kerugian sesama manusia
dan masyarakat dunia masih terjadi. Dalam jurnal ekonomi, Ichsan Zulkarnain
mengatakan bahwa perekonomian dunia dewasa ini masih dibayangi oleh ketidak
pastian terhadap kesinambungan perekonomian Amerika Serikat untuk terus menerus
sebagai penggerak ekonomi dunia. Di Indonesia, sejak timbulnya krisis ekonomi yang
dipicu oleh krisis moneter pada pertengahan tahun 1997, pertumbuhan ekonomi terhenti
dan laju inflasi meningkat pesat yang berakibat taraf hidup rakyat Indonesia merosot
tajam. Di mana-mana banyak terjadi pemutusan hubungan kerja, pengangguran
bertambah dan daya beli masyarakatnyapun menjadi berkurang. Perekonomian nasional
tahun 2002 diperkirakan membaik, meskipun masih terdapat berbagai ketidak pastian
yang dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi. Lebih jauh, prioritas pembangunan
nasional bidang ekonomi sesuai dengan UU No. 25 tahun 2000 tentang Program
Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000-2004 adalah mempercepat
pemulihan dan memperkuat landasan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan
berkeadilan berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan. Sistem ekonomi Islam yang
dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang dapat diamati berjalan dalam masyarakatmasyarakat kecil di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Namun dalam perekonomian yang sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis
Islam sering terpaksa menerapkan praktek-praktek bisnis non Islam. Misalnya,
perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang memisahkan kepemilikan dan
pengelolaan, dalam proses meningkatkan pasar modal (bursa efek), sering terpaksa
menerima asas-asas sistem kapitalisme yang tidak Islam.
Disejajarkan dengan sosialisme, Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara,
yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai
tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme. Akhirnya ajaran
ekonomi kesejahteraan (Welfare State), yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme
dan sosialisme, memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah bahwa dalam
Islam etika benar-benar dijadikan pedoman perilaku bisnis sedangkan dalam welfare
state tidak demikian, karena etika welfarestate adalah sekuler yang tidak mengarahkan
pada integrasi vertical antara aspirasi materi dan spiritual.
Demikian dapat disimpulkan bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materiil
dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh negara,
meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter. Di Indonesia, meskipun Islam merupakan
agama mayoritas, sistem ekonomi Islam secara penuh sulit diterapkan, tetapi sistem
ekonomi Pancasila yang dapat mencakup warga non Islam dapat dikembangkan.
Merujuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sistem ekonomi Pancasila
menekankan pada moral Pancasila yang menjunjung tinggi asas keadilan ekonomi dan
asas keadilan sosial seperti halnya sistem ekonomi Islam.
Tujuan sistem ekonomi Pancasila maupun sistem ekonomi Islam adalah
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang diwujudkan melalui dasar-dasar
kemanusiaan dengan cara-cara yang nasionalistik dan demokratis. Sistem ekonomi
Indonesia adalah aturan main yang mengatur seluruh warga bangsa untuk tunduk pada
pembatasan-pembatasan perilaku sosial-ekonomi setiap orang demi tercapainya tujuan
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Aturan main perekonomian Indonesia
berasas kekeluargaan dan berdasarkan demokrasi ekonomi, yaitu produksi dikerjakan
oleh semua untuk semua di bawah pimpinan dan pemilikan anggota-anggota
masyarakat. Dalam sistem ekonomi Indonesia yang demokratis kemakmuran
masyarakat lebih diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang. Setiap warga negara
berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai harkat dan martabat
kemanusiaan, sehingga dapat dihindari kondisi kefakiran dan kemiskinan.

Etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral


khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari
ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi Barat
menunjuk pada kitab Injil (Bible), dan etika ekonomi Yahudi menunjuk pada Taurat.
Demikian pula etika ekonomi Islam termuat dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang
dimuat dalam Al-Quran. Namun, jika etika agama Kristen-Protestan telah melahirkan
semangat (spirit) kapitalisme, maka etika agama Islam tidak mengarah pada kapitalisme
maupun sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus,
yaitu : (1) Kesatuan (unity), (2) Keseimbangan (equilibrium), (3) Kebebasan (free will),
dan (4) Tanggungjawab (responsibility). Manusia sebagai khalifah didunia tidak
mungkin bersifat individualistis, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah
milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Karena etika
dijadikan pedoman dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, maka etika bisnis merupakan
ajaran Islam juga dapat digali langsung dari Al-Quran dan Hadis Nabi. Misalnya
karena adanya larangan riba, maka pemilik modal selalu terlibat langsung dan
bertanggung jawab terhadap jalannya perusahaan miliknya, bahkan terhadap buruh
yang tidak diperkerjakannya. Perusahaan dalam sistem ekonomi Islam adalah
perusahaan keluarga bukan Perseroan Terbatas yang pemegang sahamnnya dapat
menyerahkan pengelolaan perusahaan begitu saja kepada direktur atau manager yang
digaji. Memang dalam sistem yang demikian tidak ada perusahaan yang menjadi sangat
besar, seperti di dunia kapitalis Barat, tetapi juga tidak ada perusahaan yang tiba-tiba
bangkrut atau dibangkrutkan. Etika bisnis Islam menjunjung tinggi semangat saling
percaya, kejujuran, dan keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan
berkembang semangat kekeluargaan (brotherhood). Misalnya dalam perusahaan yang
Islam gaji karyawannya dapat diturunkan jika perusahaan benar-benar merugi dan
karyawan juga mendapat bonus jika keuntungan perusahaan meningkat. Buruh muda
yang tinggal dengan orang tuanya dapat dibayar lebih rendah, sedangkan yang sudah
berkeluarga dan mempunyai anak, dapat dibayar lebih tinggi dibanding rekan-rekannya
yang muda. Ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia
makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia
beragama Islam, tetapi karena makin jelas ajaran moral ini sangat sering tidak dipatuhi.
Dengan perkataan lain penyimpangan demi penyimpangan dalam Islam jelas
merupakan sumber berbagai permasalahan ekonomi nasional. Manusia dalam

hubungannya dengan bisnis dalam rangka menjalankan suatu usaha adalah satu hal
yang sangat penting ialah etika. Di mana etika ini memegang peranan yang sangat
penting dalam mencapai tujuan usaha yang lebih besar.
Kurangnya pemahaman dari warga masyarakat terhadap etika bisnis menurut
kaidah dan tata cara Islam baik itu dalam tatanan skala usaha besar, skala menengah
maupun dalam skala usaha kecil adalah suatu hal yang tidak dapat ditutupi. Hal ini jelas
terlihat dari sedikitnya bahkan tidak terlihatnya penerapan etika Islam dalam
menjalankan usahanya. Bentuk konkritnya dapat dilihat dari ulah pengusaha itu sendiri
dalam kesehariannya dalam berusaha untuk mendapatkan maksud dan tujuannya
menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam aturan Islam mengenai kaidah
berusaha yang menghalalkan semua cara, padahal dalam ajaran Islam ada iman dan
moral yang harus dipedomani.

BAB 2
ISLAM SEBAGAI DASAR ETIKA
1. Pengertian Etika Islam
Istilah etika secara etimologi berasal bahasa Yunani ethos yang berarti watak
kesusilaan atau adat. Dan dari kata Latin : Ethic (us),dalam bahasa Gerik : Ethikos = a
body of moral principles or values. Ethic= arti sebenarnya ialah kebiasaan, habit,
custom. Jadi dalam pengertian aslinya, apa yang disebut baik itu ialah yang sesuai
dengan kebiasaan masyarakat. Lambat laun pengertian etika itu berubah, seperti
pengertian sekarang : Etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan
atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana jahat.
Menurut Ah. Amin, Etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang
harus dituju oleh manusia dan di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Istilah lain dari etika, biasanya digunakan kata : moral, susila, budi pekerti,
akhlak, sebagaimana dijelaskan oleh Hasbullah Bakri, bahwa etika dalam bahasa Arab
disebut budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi'at.
Menurut Rachmat Jatnika, kata etika sering disebut (sinonim) dengan kata
akhlak dan moral. Sedangkan menurut Asmaran AS, walaupun etika sering disamakan
dengan kata akhlak dan moral, ketiga istilah tersebut sebenarnya mempunyai perbedaan
dan persamaan. Menurutnya, persamaannya diantaranya terletak pada obyeknya yaitu
ketiganya sama-sama membahas baik-buruk tingkah laku manusia. Sedangkan
perbedaannya terletak pada parameter masing-masing. Akhlak menilai perbuatan
manusia menggunakan parameter agama, sedangkan etika menggunakan pertimbangan
akal pikiran, sementara moral menggunakan adat kebiasaan yang umum di masyarakat.
Dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral, susila dan
akhlak adalah sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang
dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut samasama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai dan
tenteram sehingga sejahtera batiniyah dan lahiriyah. Tetapi ada perbedaan antara etika,
moral, dan susila dengan akhlak, yaitu terletak pada sumber yang dijadikan patokan
untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan
pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku

umum di masyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan
baik dan buruk adalah Al-Qur'an dan Al-Hadits
Akhlak berasal dari bahasa arab, bentuk jama dari khuluqun ( )yang
menurut lughat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Adapun
pengertian akhlak menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Menurut Yunahar Ilyas
Akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan
muncul secara spontan bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau
pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
b. Menurut Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga
Akhlak adalah tindakan-tindakan seseorang yang dapat diberikan nilai
baik/buruknya, yaitu perkataan dan perbuatan yang termasuk ke dalam ketegori
perbuatan akhlak.
c. Menurut Ibnu Asyif
Menurut Ibnu Asyif dari buku An-Nihayah sebagaiman dikutip oleh Humaidi
Tatapangarsa, diterangkan lima hakikat makna khuluq itu adalah gambaran batin
manusia yang tepat yaitu (jiwa dan sifat-sifatnya). Sedangkan akhlak menurut
gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendah tubuhnya dan lain
sebagainya).
d. Menurut Ah. Amin
Akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka
kebiasaan itu disebut akhlak.
e. Menurut Al-Ghazali
Menurut Imam Ghozali yang dikutip kembali oleh HA. Mustafa dalam
bukunya Akhlak dan Tasawuf mengemukakan defenisi akhlak sebagai berikut ;



.
Artinya : Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak mempertimbangkan pikiran
(lebih dahulu).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa etika Islam -yang dikenal
dengan akhlak- adalah perbuatan yang dilakukan sebagai aktualisasi dari Nas yaitu AlQuran dan As-Sunnah Nabi Muhammad SAW.

BAB 3
BISNIS DAN ETIKA BISNIS DALAM PANDANGAN ISLAM

A. Bisnis dalam pandangan islam

A.1 Konsep Bisnis dalam Islam


A.1.1 Pengertian Bisnis
Secara umum bisnis diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh
manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rizki dalam rangka
memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya
ekonomi secara efektif dan efisien. Skinner mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran
barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Menurut
Anoraga Dan Soegiastuti, bisnis memiliki makna dasar sebagai the buying and selling
of goods and services. Adapun dalam pandangan Straub dan Attner, bisnis taka lain
adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barangbarang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit.
Adapun dalam Islam bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam
berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya
(barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan
pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram). Pengertian di atas dapat
dijelaskan bahwa Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki
tanggungan untuk bekerja. Bekerja merupakan salah satu sebab pokok yang
memungkinkan manusia memiliki harta kekayaan. Untuk memungkinkan manusia
berusaha mencari nafkah, Allah Swt melapangkan bumi serta menyediakan berbagai
fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mencari rizki. Dialah yang menjadikan bumi
ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya Dan makanlah sebagian
dari rizki Nya.... Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan
kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber-sumber) penghidupan...

A.1.2 Bisnis dalam Al-Quran

Ada beberapa terma dalam al-Quran yang berkaitan dengan konsep bisnis.
Diantaranya adalah kata : al Tijarah, al-baiu, tadayantum, Dan isytara.25 Terma
tijarah, berawal dari kata dasar t-j-r, tajara, tajran wa tijaratan, yang bermakna
berdagang, berniaga. At-tijaratun walmutjar; perdagangan atau perniagaan, attijariyyu
wal mutjariyyu; yang berarti mengenai perdagangan atau perniagaan.26 Dalam alQuran terma tijarah ditemui sebanyak delapan kali Dan tijaratuhum sebanyak satu
kali. Bentuk tijarah terdapat dalam surat al- Baqarah (2): 282, an-Nisa (4): 29, atTaubah (9): 24, an-Nur (24): 37, Fatir (35): 29, as-Shaff (61): 10, pada surat al-Jumah
(62): 11 (disebut kali). Adapun Tijaratuhum pada surat al-Baqarah (2): 16.27 Dalam
penggunaan kata tijarah pada ayat-ayat di atas terdapat dua macam pemahaman.
Pertama, dipahami dengan perdagangan yaitu pada surat al-Baqarah (2): 282. Kedua,
dipahami dengan perniagaan dalam pengertian umum. Hal ini menarik dalam
pengertian-pengertian ini, dihubungkan dengan konteksnya masing-masing adalah
pengertian perniagaan tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang bersifat material
atau kuantitas, tetapi perniagaan juga ditujukan kepada hal yang bersifat immaterial
kualitatif. Al-Quran menjelaskan: Katakanlah jika Bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatirkan kerugiannya Dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di
jalan Allah maka tungguhlah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orangorang fasiq.28 Wahai orang-orang yang beriman
sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari
azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di
jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang labih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya.
A.1.3 Orientasi Bisnis dalam Islam
Bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama: (1) target hasil:
profit-materi dan benefit-nonmateri, (2) pertumbuhan, (3) keberlangsungan, (4)
keberkahan.56 Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri, artinya bahwa bisnis
tidak hanya untuk mencari profit (qimah madiyah atau nilai materi) setinggi-tingginya,
tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat)
nonmateri kepada internal organisasi perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti
terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya. Benefit, yang

dimaksudkan tidaklah semata memberikan manfaat kebendaan, tetapi juga dapat


bersifat nonmateri. Islam memandang bahwa tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya
berorientasi pada qimah madiyah. Masih ada tiga orientasi lainnya, yakni qimah
insaniyah, qimah khuluqiyah, dan qimah ruhiyah. Dengan qimah insaniyah, berartin
pengelola berusaha memberikan manfaat yang bersifat kemanusiaan melalui
kesempatan kerja, bantuan sosial (sedekah), dan bantuan lainnya. Qimah khuluqiyah,
mengandung pengertian bahwa nilai-nilai akhlak mulian menjadi suatu kemestian yang
harus muncul dalam setiap aktivitas bisnis sehingga tercipta hubungan persaudaraan
yang Islami, bukan sekedar hubungan fungsional atau profesional. Sementara itu qimah
ruhiyah berarti aktivitas dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT.
Pertumbuhan, jika profit materi dan profit non materi telah diraih, perusahaan harus
berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat. Upaya peningkatan ini juga
harus selalu dalam koridor syariah, bukan menghalalkan segala cara. Keberlangsungan,
target yang telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga
keberlangsungannya agar perusahaan dapat exis dalam kurun waktu yang lama.
Keberkahan, semua tujuan yang telah tercapai tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada
keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islam menempatkan berkah sebagai tujuan inti,
karena ia merupakan bentuk dari diterimanya segala aktivitas manusia. Keberkahan ini
menjadi bukti bahwa bisnis yang dilakukan oleh pengusaha muslim telah mendapat
ridla dari Allah Swt., dan bernilai ibadah.
B. Etika bisnis dalam pandangan islam

Kata bisnis dalam Al-Quran yaitu al-tijarah dan dalam bahasa arab tijaraha,
berawal dari kata dasar t-j-r, tajara, tajran wa tijarata, yang bermakna berdagang atau
berniaga. At-tijaratun walmutjar yaitu perdagangan, perniagaan (menurut kamus almunawwir).
Menurut ar-Raghib al-Asfahani dalam al-mufradat fi gharib al-Quran , at-Tijarah
bermakna pengelolaan harta benda untuk mencari keuntungan.
Etika bisnis dalam Islam, Sudarsono dalam bukunya yang berjudul Etika Islam
tentang Kenakalan Remaja, mengatakan bahwa, etika Islam adalah doktrin etis yang

berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam yang terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah
Nabi Muhammad Saw., yang di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur dan sifat-sifat yang
terpuji (mahmudah). Dalam agama Islam, etika ataupun perilaku serta tindak tanduk
dari manusia telah diatur sedemikian rupa sehingga jelas mana perbuatan atau tindakan
yang dikatakan dengan perbuatan atau tindakan asusila dan mana tindakan atau
perbuatan yang disebut bermoral atau sesuai dengan arturan agama.
Berkaitan dengan nilai-nilai lihur yang tercakup dalam Etika Islam dalam kaitannya
dengan sifat yang baik dari perbuatan atau perlakuan yang patut dan dianjurkan untuk
dilakukan sebagai sifat terpuji, lebih jauh Sudarsono menyebutkan, antara lain :
Berlaku jujur (Al Amanah), berbuat baik kepada kedua orang tua (Birrul Waalidaini),
memelihara kesucian diri (Al Iffah), kasih sayang (Ar Rahman dan Al Barry), berlaku
hemat (Al Iqtishad), menerima apa adanya dan sederhana (Qonaah dan Zuhud),
perikelakuan baik (Ihsan), kebenaran (Shiddiq), pemaaf (Afu), keadilan (Adl),
keberanian (Syajaah), malu (Haya), kesabaran (Shabr), berterima kasih (Syukur),
penyantun (Hindun), rasa sepenanggungan (Muwastt), kuat (Quwwah).

Ayat Bisnis Dalam Al-Quran


Al-Baqarah : 282
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang di
antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk
menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia
menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia
bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun
daripadanya. Jika orang yang berutang itu orang kurang akalnya atau lemah
(keadaanya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya
mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di
antara kamu. Jika tidak ada saksi dua orang laki-laki, maka boleh seorang laki-laki
dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi

yang ada, agar jika ada yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya.
Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan
menuliskannya, untuk batas waktunya baik utang itu kecil maupun besar. Yang
demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dekat menguatkan kesaksian, dan lebih
mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan
tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu
tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah
penulis dipersulit dari begitu juga saksi. Jika kamu lakukan yang demikian, maka
sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah
memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".
An-Nisaa : 29
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang bathil kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka
sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah
Maha Penyayang kepadamu".
Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin memakan harta sesamanya
dengan cara yang bathil dan cara mencari keuntungan yang tidak sah dan melanggar
syari'at seperti riba, perjudian dan yang serupa dengan itu dari macam-macam tipu daya
yang tampak seakan-akan sesuai dengan hukum syari'at tetapi Allah mengetahui bahwa
apa yang dilakukan itu hanya suatu tipu muslihat dari sipelaku untuk menghindari
ketentuan hokum yang telah digariskan oleh syari'at Allah. Allah mengecualikan dari
larangan ini pencaharian harta dengan jalan perdagangan (perniagaan) yang dilakukan
atas dasar suka sama suka oleh kedua belah pihak yang bersangkutan.
At-Taubah : 24
"Katakanlah jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan
kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu
cintai dari pada Allah dan Rasulnya dan dari berjihad di jalan Allah maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik"

Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin menjauhi orang-orang kafir,


walaupun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, atau saudara-saudara mereka sendiri, dan
melarang untuk berkasih saying kepada mereka yang masih lebih mengutamakan
kekafiran mereka daripada beriman.
An-Nur : 37
"Bertasbih dan bertahmidlah Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak
pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari membayar zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang"
Allah SWT berfirman menceritakan tentang hamba-hamba-Nya dan memperoleh
pancaran nur iman dan takwa di dada mereka, bahwa mereka itu tekun dalam
ibadahnya, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan selalu beri'tikaf di dalam
masjidbertasbih, bertahmid dan bertahlil. Mereka sekali-kali tidak tergoda dan tidak
akan dilalaikan dari ibadah itu, kegiatan yang mereka lakukan untuk mencari nafkah,
berusaha dan berdagang (berniaga). Mereka itu benar-benar cakap membagi waktu di
antara kewajiban ukhrawi dan kewajiban duniawi, sehingga tidak sedikitpun tergesr
amal dan kewajiban ukhrawi mereka oleh usaha duniawi mereka.
Fatir : 29
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat
dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi"
Allah SWT berfirman tentang hamba-hamba-Nya yang mukmin yang selalu membaca
kitab Allah dengan tekunnya, beriman bahwasanya kitab itu adalah wahyu dari sisi-Nya
kepada Rasul-Nya dan mengerjakan apa yang terkandung di dalamnya seperti perintah
shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah karuniakan kepadanya untuk
tujuan-tujuan yang baik yang membawa ridha Allah dan restu-Nya, menafkahkan secara
diam-diam tidak diketahui orang lain atau secara terang-terangan, mereka itulah dapat
mengharapkan perdagangan (perniagaan) yang tidak akan merugi dan akan
disempurnakanlah oleh Allah pahala mereka serta akan ditambah bagi mereka karunia-

Nya berlipat ganda. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Mensyukuri amal-amal baik hamba-hamba-Nya yang sekecil-kecilnya pun.
As-Shaff : 10
"Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan
yang dapat menyelamatkan kamu dari azab pedih?"
Al-Jumah : 11
"Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju
kepadanya dan mereka tinggallah engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah).
Katakanlah , "Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan
perdagangan," dan Allah pemberi rezeki yang terbaik".
Dalam etika Islam, ukuran kebaikan dan ketidak baikan bersifat mutlak, yang
berpedoman kepada Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Dipandang dari segi
ajaran yang mendasar, etika Islam tergolong Etika Theologis. Menurut Hamzah Yaqub,
bahwa yang menjadi ukuran etika theologis adalah baik buruknya perbuatan manusia
didasarkan atas ajaran Tuhan. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan itulah yang
baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itulah perbuatan yang buruk, yang
sudah dijelaskan dalam kitab suci. Etika Islam mengajarkan manusia untuk menjalain
kerjasama, tolong menolong, dan menjauhkan sikap iri, dengki dan dendam.
Mempelajari etika ekonomi menurut Al-Quran adalah bahagian normatif dari ilmu
ekonomi,

bahagian

ilmu

positifnya

akan

lahir

apabila

telah

dilakukan

penyelidikanpenyelidikan empiris mengenai yang sesungguhnya terjadi, sesuai atau


tidak sesuai dengan garis Islam. Ekonomi merupakan bagian dari kehiupan. Namun, ia
bukan pondasi bangunannya dan bukan tujuan risalah Islam. Ekonomi juga bukan
lambang peradaban suatu umat. Ekonomi Islam adalah bertitik tolak dari Tuhan dan
memiliki tujuan akhir pada Tuhan. Tujuan ekonomi ini membantu manusia untuk
menyembah

Tuhannya

yang

telah

memberi

makan

kepada

mereka

untuk

menghilangkan lapar serta mengamankan mereka dari ketakutan. Juga untuk


menyelamatkan manusia dari kemiskinan yang bisa mengkafirkan Dan kelaparan yang
bisa mendatangkan dosa. Juga untuk merendahkan suara orang zalim di atas suara
orang-orang beriman.

Manusia muslim, individu maupun kelompok dalam lapangan ekonomi atau


bisnis, di satu sisi diberi kebebasan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Namun di sisi lain, ia terikat dengan iman dan etika (moral) sehingga ia tidak bebas
mutlak dalam menginvestasikan modalnya atau membelanjakan hartanya. Ia harus
melakukan kegiatan usahanya sesuai dengan prinsip-prinsip nilai-nilai kejujuran,
keadilan, dan kebenaran, serta kemanfaatan bagi usahanya. Di samping itu, ia harus
mepedomani norma-norma, kaidahkaidah yang berlaku dan terdapat dalam sistem
hukum Islam secara umum.
Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil, sehingga
seluruh bentuk transaksi yang menimbulkan ketidakadilan dilarang, yaitu:
1. Talaqqi rukban dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota
akan memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari daerah pinggiran
atau kampung akan harga yang berlaku di kota. Mencegah masuknya pedagang
desa ke kota ini (entry barrier), akan menimbulkan pasar yang tidak kompetitif.
2. Mengurangi timbangan atau sukatan dilarang, karena barang dijual dengan harga
yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit.
3. Menyembunyikan barang cacat karena penjual mendapatkan harga yang baik
untuk kualitas yang buruk.
4. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang, karena takaran kurma basah
ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar tersebut.
5. Menukar satu takaran kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas
sedang dilarang, karena setiap kualitas kurma mempunyai harga pasarnya.
6. Transaksi Najasy dilarang, karena si penjual menyuruh orang lain memuji
barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik.
7. Ikhtikar dilarang, karena bermaksud mengambil keuntungan di atas keuntungan
normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.
8. Ghaban Fahisy dilarang, karena menjual di atas harga pasar.

BAB 4
PEMBAHASAN
Etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia
dan di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang
seharusnya diperbuat.
Jika dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral, susila
dan akhlak adalah sama, yaitu menentukan nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan
manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama
menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai dan
tenteram sehingga sejahtera batiniyah dan lahiriyah. Tetapi ada perbedaan antara etika,
moral, dan susila dengan akhlak, yaitu terletak pada sumber yang dijadikan patokan
untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan
pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku
umum di masyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan
baik dan buruk adalah Al-Qur'an dan Al-Hadits
Etika agama Islam tidak mengarah pada kapitalisme maupun sosialisme pada
kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus, yaitu : (1) Kesatuan
(unity), (2) Keseimbangan (equilibrium), (3) Kebebasan (free will), dan (4)
Tanggungjawab (responsibility). Manusia sebagai khalifah didunia tidak mungkin
bersifat individualistis, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah
semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Karena etika dijadikan pedoman
dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, maka etika bisnis merupakan ajaran Islam juga
dapat digali langsung dari Al-Quran dan Hadis Nabi.
Di dalam dunia bisnis etika islam sudah digunakan sebagai landasan dalam
melakukan bisnis, Bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama:
(1) target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri,
(2) pertumbuhan,
(3) keberlangsungan,
(4) keberkahan.

Target yang berarti bahwa bisnis tidak hanya untuk mencari profit (qimah
madiyah atau nilai materi) setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan
memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal organisasi
perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana persaudaraan,
kepedulian sosial dan sebagainya. Benefit, yang dimaksudkan tidaklah semata
memberikan manfaat kebendaan, tetapi juga dapat bersifat nonmateri. Islam
memandang bahwa tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya berorientasi pada qimah
madiyah. Masih ada tiga orientasi lainnya, yakni qimah insaniyah, qimah khuluqiyah,
dan qimah ruhiyah. Dengan qimah insaniyah, berartin pengelola berusaha memberikan
manfaat yang bersifat kemanusiaan melalui kesempatan kerja, bantuan sosial (sedekah),
dan bantuan lainnya. Qimah khuluqiyah, mengandung pengertian bahwa nilai-nilai
akhlak mulian menjadi suatu kemestian yang harus muncul dalam setiap aktivitas bisnis
sehingga tercipta hubungan persaudaraan yang Islami, bukan sekedar hubungan
fungsional atau profesional. Sementara itu qimah ruhiyah berarti aktivitas dijadikan
sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pertumbuhan, jika profit materi dan profit non materi telah diraih, perusahaan harus
berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat. Upaya peningkatan ini juga
harus selalu dalam koridor syariah, bukan menghalalkan segala cara. Keberlangsungan,
target yang telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga
keberlangsungannya agar perusahaan dapat exis dalam kurun waktu yang lama.
Keberkahan, semua tujuan yang telah tercapai tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada
keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islam menempatkan berkah sebagai tujuan inti,
karena ia merupakan bentuk dari diterimanya segala aktivitas manusia. Keberkahan ini
menjadi bukti bahwa bisnis yang dilakukan oleh pengusaha muslim telah mendapat
ridla dari Allah Swt., dan bernilai ibadah.
Dalam fiman-Nya yang terkandung dalam beberapa surat di Al-Quran Islam
mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil, sehingga seluruh bentuk
transaksi yang menimbulkan ketidakadilan dilarang, yaitu:
1. Talaqqi rukban dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota
akan memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari daerah pinggiran
atau kampung akan harga yang berlaku di kota. Mencegah masuknya pedagang
desa ke kota ini (entry barrier), akan menimbulkan pasar yang tidak kompetitif.
2. Mengurangi timbangan atau sukatan dilarang, karena barang dijual dengan harga
yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit.

3. Menyembunyikan barang cacat karena penjual mendapatkan harga yang baik


untuk kualitas yang buruk.
4. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang, karena takaran kurma
basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar
tersebut.
5. Menukar satu takaran kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas
sedang dilarang, karena setiap kualitas kurma mempunyai harga pasarnya.
6. Transaksi Najasy dilarang, karena si penjual menyuruh orang lain memuji
barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik.
7. Ikhtikar dilarang, karena bermaksud mengambil keuntungan di atas keuntungan
normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.
8. Ghaban Fahisy dilarang, karena menjual di atas harga pasar.

BAB V
KESIMPULAN
Agama merupakan aturan-aturan atau perundang-undangan yang datangnya dari
Tuhan diturunkan kepada manusia sebagai pedoman hidup di dunia akherat agar
memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat kelak. Agama juga sebagai tatanan hidup
meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan, dari mulai masalah ritual sampai kepada
masalah mumalah termasuk masalah sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik,
bahkan sampai kepada masalah kenegaraan. Seseorang yang mengaku muslim atau
menganut agama Islam harus mengikuti tatanan hidup Islam secara kffah ; integratif
dan komprehensif apapun resikonya.
1. Etika merupakan perbuatan manusia yang dilakukan tanpa dorongan dari luar
(orang lain atau yang lainnya) dan dilakukan dengan penuh nilai baik dan buruk,
baik menyangkut perkataan maupun perbuatan manusia. Sedangkan antara etika,
moral dan akhlak, adalah sama, namun yang menjadi perbedaan adalah etika
menggunakan pertimbangan akal pikiran, moral menggunakan adat kebiasaan yang
umum di masyarakat, dan akhlak dari parameter agama. Dasar etika Islam adalah
Al-Quran dan Hadits. Sedangkan tujuan akhlak pada pokoknya adalah agar setiap
manusia berbudi pekerti (berakhlak), bertingkah laku (tabiat), berperangai atau
beradat istiadat yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Ditinjau dari perbuatan
manusia, etika dibedakan menjadi dua, yaitu akhlak madzmumah (etika tercela) dan
akhlak mahmudah (etika terpuji). Akhlak mahmudah meliputi etika terhadap orang
tua, etika terhadap guru, etika terhadap teman sebaya dan etika terhadap masyarakat
pada umumnya.
2. Hubungan antara agama dan etika Islam
Islam sangat memperhatikan keberadaan akhlak, bahkan menjadikan akhlak
sebagai penyempurna aqidah sebelum diwajibkan hukum amaliyah bagi umat islam.
Dalam keseluruhan ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan yang sangat
penting.
Islam sangat memperhatikan keberadaan akhlak, bahkan menjadikan akhlak
sebagai penyempurna aqidah -sebagai dasar agama- sebelum diwajibkan hukum
amaliyah bagi umat Islam.
Keberadaan etika atau akhlak dalam Islam merupakan suatu hal yang sangat
penting dan fundamental dalam Islam, karena dengan akhlak yang baik manusia

akan siap dalam melaksanakan syariat, mentaati perintah, dan mentaati peraturanperaturan yang wajib ditaati.
Dengan demikian, berarti ada hubungan yang erat antara agama dengan akhlak
atau etika Islam karena akhlak merupakan bagian dari ajaran agama Islam dan
sebagai penyempurna bagi dasar agama Islam.
3. Hubungan etika dengan bisnis dalam pandangan islam
Di dalam dunia bisnis etika islam sudah digunakan sebagai landasan dalam
melakukan bisnis, Bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama:
(1) target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri, (2) pertumbuhan, (3)
keberlangsungan, dan (4) keberkahan. Tidak lupa islam melarang dalam bisnis
Talaqqi rukban, Mengurangi timbangan, Menyembunyikan barang cacat , Menukar
kurma kering dengan kurma basah dilarang,, Transaksi Najasy , Ikhtikar dilarang,
Ghaban Fahisy

DAFTAR PUSTAKA
Ichsan Zulkarnain, 2003, Perkembangan Ekonomi Mikro Hingga Triwulan III Tahun
2002 dan Prospek Ekonomi Indonesia Tahun 2002 dan 2004, Jurnal Ekonomi.
Iwan Kurniawan, Chanif, Achmad Zairi, Prosedur Pemilihan Kepala Daerah dan
Pengangkatan/Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil serta Program
Pembangunan Tahun 2000-2004, LembagaPengembangan Informasi Indonesia
(LEPIN), Jakarta,
Fuad Abdul Baqi, 1981 Mujam al-Mufahrasy, Darul Fikr, Kairo.
Mubyarto, 2002, Etika Agama dan Sistem Ekonomi, Artikel
Mohammad Daud Ali, 2002, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia,
Sudarsono, 1989 Etika Islam tentang Kenakalan Remaja, Jakarta : Bina Aksara.
Sukarmi, 2007/2008, Bahan Kuliah Hukum Ekonomi, Program Doktoral Fakultas
Hukum Universitas Brawijaya-Fakultas Hukum Universitas Bengkulu.
Swastha Basu, Ibnu Sukotjo, 1988, Pengantar Bisnis Modern (Pengantar Ekonomi
Perusahaan Modern), Liberty, Yogyakarta.
Republik Indonesia, 2000 UU No. 25 tentang Program Pembangunan Nasional
(PROPENAS), Setneg, Jakarta.
Yahya Harahap, 1986, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung.
Yusuf Qordhawi, 1997, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Gema Insani, Jakarta.

Sumber lain :
Pasal 27 ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kamus al-Munawwir, Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1984.
QS. At-Taubah : 24
QS. As-Shaff : 10-11
QS.Al-Baqarah : 282
QS. An-Nisaa : 29
QS.An-Nur : 37
QS. Fatir : 29
QS. Al-Jumah : 11