Anda di halaman 1dari 14

MATERI DASAR

POKOK BAHASAN 3

KOMPETENSI BIDANG
MENURUT PERMENKES NO. 971 TAHUN 2009

Kompetensi bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009


1) Orientasi pada pelayanan
Bila kita melihat tugas utama pemerintah adalah memberikan pelayanan dalam
rangka memenuhi kebutuhan yang diinginkan masyarakat. Maka dalam era
masyarakat yang terus berkembang saat ini, para pimpinan instansi pemerintah harus
mampu mengenal tuntutan dan aspirasi masyarakat yang meningkat terus. Sehingga
pegawai pemeritah harus mampu berperan sebagai civil servant atau public servant
yaitu mampu menjadi pelayan publik. Oleh karena itu, para pimpinan institusi
pemerintah harus mampu menggerakan organisasinya dan stafnya untuk mampu
memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Karena
kenyataan betapa pentingnya pelayanan publik yang diberikan pemerintah untuk
masyarakat, maka sering dijadikan indikator keberhasilan suatu rejim pemerintahan.
Demikian pula dengan program reformasi nasional, tidak akan ada artinya apa-apa
manakala pelayanan publik masih dirasakan buruk. Apalagi dalam rangka
perwujudan good governance, dimana akuntabilitas menjadi salah satu prinsip yang
harus dikedepankan dalam penyelenggaraan pemerintah, maka pelayan publik yang
akuntable menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda lagi.
Pelayanan mengandung arti melayani dan pelayanan. Melayani adalah membantu
menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang sedangkan Pelayanan
adalah usaha melayani kebutuhan orang lain (kamus besar Bahasa Indonesia,
1995). Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh organisasi
atau perorangan kepada konsumen (customer/ yang dilayani). Menurut Norman
(1991) bahwa pelayanan merupakan tindakan nyata dan merupakan pengaruh yang
sifatnya tindakan sosial. Sedangkan Daviddow dan Utal (1989) menyatakan bahwa
pelayanan merupakan usaha apa saja yang mempertinggi kepuasan pelanggan
(whatever enhances customer satisfaction). Keputusan Menteri Negara
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 63 tahun 2003 menetapkan bahwa


Pelayanan Publik yaitu segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh
penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima
pelayanan maupun upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun
pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan fungsi pemerintah dalam melakukan pelayanan umum (publik) terdapat
tiga fungsi pelayanan, yaitu enviromental service, development service, dan
protective service. Pelayanan yang diberikan pemerintah dibedakan juga
berdasarkan sasarannya baik secara individu, kelompok atau kolektif / masyarakat.
Oleh karena itu, konsep barang layanan pada dasarnya terdiri dari jenis barang
layanan privat (private goods) dan barang layanan yang dinikmati secara kolektif
(public goods).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab untuk menciptakan
pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerjanya memberikan kepuasan kepada
masyarakat, sehingga kesehatan masyarakat dapat tercipta. Oleh karena itu, agar
pelayanan kesehatan di wilayah kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat, maka pimpinannya harus memiliki orientasi terhadap
pelayanan, bagaimana menggerakkan organisasi puskesmas, rumah sakit, klinik dan
institusi lain yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk
senantiasa dapat memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat. Pemimpin Dinas Kesehatan harus sensitif terhadap nilai dan budaya
masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan nilai masyarakat.
Selalu mengevaluasi dan memonitor kepuasan masyarakat sebagai pelanggan yang
menggunakan pelayanan Puskesmas.
2) Orientasi pada kualitas
Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan kabupaten /kota telah di tetapkan oleh
Menteri kesehatan Republik Indonesia. Oleh karena itu, pemimpin dinas kesehatan
kabupaten/kota harus berupaya mencapai SPM kesehatan dalam rangka mewujudkan
derajat kesehatan masyarakat bagi seluruh penduduk yang ada diwilayahnya.
Standar pelayanan merupakan ukuran yang telah ditentukan sebagai suatu
pembakuan pelayanan yang baik, dalam standar pelayanan ini juga terdapat baku
mutu pelayanan. Menurut Goestch dan Davis (1994) pengertian mutu adalah kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan pihak yang menginginkannya.
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

Pelayanan prima juga merupakan tuntutan masyarakat sekaligus merupakan produk


yang harus di berikan oleh institusi pelayanan kesehatan, pelayanan prima akan
bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas pelayanan pemerintah kepada
masyarakat sebagai pelanggan dan sebagai acuan untuk pengembangan penyusunan
standar pelayanan untuk pelayan, pelanggan atau stakeholder dalam kegiatan
pelayanan. Untuk mencapai kualitas pelayanan diatas, maka pimpinan dinas
kesehatan harus sensitif dan memiliki acuan mengenai mengapa, kapan, dengan
siapa, dimana dan bagaimana pelayanan mesti dilakukan. Untuk menciptakan
pelayanan yang berkualitas maka harus mampu memberdayakan segala sumber daya
yang ada pada organisasinya, termasuk kekuatan masyarakat, sektor swasta, dan
tokoh yang ada diwilayah kerjanya. Semua ini sekaligus akan membangun
kepercayaan masyarakat kepada pemerintah khususnya di bidang kesehatan.
Gerakan perbaikan mutu manajemen yang terkenal dengan pendekatan Total Quality
Managemennt (TQM) mengenalkan budaya pelayanan yang bertitik tolak pada
norma- norma:

Fokus kepada pelanggan


Mengenal pelanggan, mengetahui kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan,
mengembangkan proses pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat

Melibatkan semua orang


Kualitas pelayanan adalah tanggung jawab semua warga organisasi, sehingga
pemimpin harus mendorong dan mendukung perbaikan oleh siapa saja. Warga
organisasi perlu diberi kemerdekaan untuk memperbaiki mutu pelayanan kapan
saja.

Memenuhi standar
Memfasilitasi penyusunan standar pelayanan, mengukur penyimpangan, dan
memperbaiki kekurangan.

Perbaikan berkesinambungan
Mempercepat siklus pekerjaan, menerima umpan balik, dan mengantisipasi
perkembangan kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan.

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

3) Berfikir analitis
Dalam menghadapi permasalahan yang kompleks ini, maka kepala dinas kesehatan
sebagai penggerak dan pimpinan di wilayah kabupaten/kota harus mampu berfikir
kritis, logis dan strategis, karena dengan cara yang analitis ini akan membuat
pemimpin mampu menyelesaikan segala persoalan dengan dengan cermat dan bijak.
Kemudian mampu menentukan sikap demi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
4) Berfikir konseptual
Berpikir konseptual adalah proses berpikir yang melibatkan pemikiran kreatif, dan
juga suatu cara mencari ide-ide untuk memecahkan masalah. Tidak hanya melihat
dari skala masalah yang kecil, tetapi juga termasuk masalah yang besar. Disatu pihak
berfikir konseptual (kreatif) berarti mencari gambaran besar, sedangkan berpikir
analitis melihat gambaran yang lebih kecil. Kedua jenis pemikiran ini diperlukan dan
saling melengkapi satu sama lain. Kreativitas dapat dikembangkan melalui
peningkatan jumlah dan ragam masukan ke otak, terutama tentang hal yang baru,
dengan memanfaatkan daya ingat, daya khayal dan daya serap dari otak akan dapat
ditumbuhkan berbagai ide baru menuju kreativitas.
Kreativitas adalah karya yang merupakan hasil pemikiran dan gagasan. Ada
rangkaian proses yang panjang dan harus digarap terlebih dahulu sebelum suatu
gagasan menjadi suatu karya. Rangkaian tersebut antara lain meliputi fiksasi
(pengikatan, pemantapan) dan formulasi gagasan, penyusunan rencana, dan program
tindakan nyata yang harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun
untuk mewujudkan gagasan tersebut. Kreativitas merupakan sebuah proses yang
dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Namun, kemampuan ini berbeda dari satu
orang terhadap orang lainnya. Kemampuan dan bakat merupakan dasarnya, tetapi
pengetahuan dari lingkungannya dapat juga mempengaruhi kreativitas seseorang.
Selama ini ada anggapan yang salah mengenai orang yang kreatif. Ada yang
mengatakan hanya orang jenius/pintar saja yang memiliki kreativitas. Kreativitas
bukanlah suatu bakat misterius yang diperuntukkan hanya bagi segelintir orang.
Mengingat kreativitas merupakan suatu cara pandang yang sering kali justru
dilakukan secara tidak logis. Proses ini melibatkan hubungan antar banyak hal di
mana orang lain kadang-kadang tidak atau belum memikirkannya.
Yang dimaksud dengan kreativitas dalam hal ini adalah menghadirkan suatu gagasan
baru. Kreativitas itu merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

ditingkatkan. Anda harus mengetahui bahwa kreativitas tiap-tiap orang berbedabeda, kemampuan seseorang dalam bakat, pengetahuan, dan lingkungan juga dapat
mempengaruhi kreativitas. Kreativitas merupakan sumber yang penting dari
kekuatan persaingan karena adanya perubahan lingkungan. Kreativitas adalah
kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam kehidupan.
Pendapat lain menyebutkan kreativitas itu adalah kemampuan untuk menciptakan
suatu produk baru yakni:
a) Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi atau
melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, variabel, yang sudah
ada sebelumnya.
b) Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang
baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan
apa yang telah ada sebelumnya. Conny Semiawan (1984).
De Bono, berpendapat bahwa pola pemikiran yang kreatif merupakan motivator
yang sangat besar, karena membuat orang sangat tertarik akan pekerjaannya.
Pemikiran kreatif juga memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk mencapai
sesuatu tujuan.
Randsepp, menyebutkan ciri-ciri tentang pemikiran kreatif sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

sensitif terhadap masalah-masalah,


mampu menghasilkan sejumlah ide besar,
fleksibel,
keaslian,
mau mendengarkan perasaan,
keterbukaan pada gejala bawah sadar, mempunyai motivasi,
bebas dari rasa takut gagal,
mampu berkonsentrasi, dan
mempunyai kemampuan memilih.

Karena dengan kreativitas seorang pemimpin dapat :


a) meningkatkan efisiensi kerja,
b) meningkatkan inisiatif,
c) meningkatkan penampilan,
d) meningkatkan mutu produk, dan
e) meningkatkan keuntungan.
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

Untuk memacu kreativitas yang tinggi ada 4 tahapan menurut Edward de Bono
(1970) dalam proses kreatif, yaitu:
a) Latar Belakang atau Akumulasi Pengetahuan
Kreasi yang baik biasanya didahului oleh penyelidikan dan pengumpulan
informasi. Hal ini meliputi membaca, berbicara dengan orang lain, menghadiri
pertemuan profesional dan penyerapan informasi sehubungan dengan masalah
yang tengah digeluti. Sebagai tambahan dapat juga menerjuni lahan yang
berbeda dengan masalah kita karena hal ini dapat memperluas wawasan dan
memberikan sudut pandang yang berbeda-beda.
b) Proses Inkubasi
Dalam tahap ini seseorang tidak selalu harus terus menerus memikirkan masalah
yang tengah dihadapinya, tetapi ia dapat sambil melakukan kegiatan lain, yang
biasa, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah. Akan tetapi,
ada waktu-waktu tertentu di mana ia harus menyempatkan diri memikirkan
masalah ini untuk pemecahannya.
c) Melahirkan Ide
Ide atau solusi yang seirama ini dicari-cari mulai ditemukan. Terkadang ide
muncul pada saat yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang ada. Ia bisa
muncul tiba-tiba. Di sini ia harus dapat dengan cepat dan tanggap menangkap
dan memformulasikan baik ide maupun pemecahan masalah lanjutan dari ide
tersebut.
d) Evaluasi dan Implementasi
Tahap ini merupakan tahap tersulit dalam tahapan-tahapan proses kreativitas
karena dalam tahap ini seseorang harus lebih serius, disiplin, dan benar-benar
berkonsentrasi. Pemimpin yang sukses dapat mengidentifikasi ide-ide yang
mungkin dapat dikerjakan dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.
Lebih penting lagi, ia tidak menyerah begitu saja bila menghadapi hambatan.
Bahkan biasanya ia baru akan berhasil mengembangkan ide-ide setelah beberapa
kali mencoba. Hal penting lain dalam tahapan ini adalah di mana pemimpin
mencoba-coba kembali ide-ide sampai menemukan bentuk finalnya karena ide
yang muncul pada tahap III (c) tadi biasanya dalam bentuk yang tidak sempurna.
Jadi, masih perlu dimodifikasi dan diuji untuk mendapatkan bentuk yang baku
dan matang dari ide tersebut. (lihat gambar pada halaman berikut)
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

Inkubasi

Akumulasi
Pengetahuan

Proses
Kreatif

Gagasan

Evaluasi
dan
Implementasi
Gambar 1. Proses Sikap Pemikiran Kreatif

5) Keahlian teknikal, manajerial dan profesional


a) Keahlian Teknikal
Diharapkan seorang pemimpin harus kompeten dalam tugas yang diberikan
kepadanya. Dan karyawan menginginkan pimpinannya mengetahui dan
memahami apa yang mereka lakukan setidaknya, pemahaman dasar tentang
bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan. Minimal, pemimpin harus akrab
dengan tugas yang diamanatkan kepadanya. Bahkan lebih baik lagi, bila
memiliki kemampuan dalam beberapa hal terkait dengan tugas dan
pekerjaannya.
Para karyawan dari semua tingkatan tentunya menginginkan akan pentingnya
kompetensi teknis dalam diri pemimpin mereka. Karyawan merasa yakin bahwa
bila pemimpin mereka tidak tahu apa yang dilakukan dan bagaimana
melakukannya, maka dia tidak akan mampu membuat keputusan yang tepat
tentang cara efektif mempekerjakan mereka, menerapkan perubahan yang

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

berdampak positif terhadap kinerja, dan meningkatkan kemampuan tim untuk


memanfaatkan peluang masa depan.
Bahkan lebih penting adalah kesediaan pemimpin untuk mengakui ketika ia tidak
tahu bagaimana melakukan sesuatu.
Karyawan yang melakukan tugasnya sehari-hari tidak terlalu mengharapkan
pemimpin mereka menjadi ahli pada tugas yang biasa mereka lakukan secara
rutin. Namun mereka mengharapkan pemimpin mereka paham dan mengambil
peranan penting di dalamnya. Ketika atasan memberikan pertanyaan tentang apa
yang karyawan lakukan dan tulus mendengarkan jawabannya, maka dia telah
menetapkan hubungan yang positif dengan karyawannya. Ketika Anda, sebagai
pemimpin, peduli terhadap karyawan dan apa yang dikerjakan oleh mereka maka
hal ini cenderung untuk direspon dengan loyalitas dan dedikasi yang tinggi.
Pemimpin yang sukses mengetahui dan memahami pekerjaan apa yang mereka
kerjakan. Mereka mampu membuat keputusan berdasarkan pengetahuan dalam
meningkatkan kredibilitas mereka. Organisasi yang sukses akan mengakui
keterampilan baru dan tanggung jawab yang diperlukan untuk selalu sukses di
tingkatan yang lebih tinggi, dan mereka bekerja dengan menempatkan orangorang yang memenuhi syarat pada posisi-posisi dengan dampak dan tanggung
jawab yang lebih besar.
Kompetensi juga memungkinkan para pemimpin untuk mengetahui cara
mendeteksi ketika mereka tidak diberitahu secara keseluruhan. Masalah
kompetensi teknis vs keahlian teknis sangat penting. Namun, itu adalah salah
satu yang banyak pemimpin gagal untuk memahaminya. Para pemimpin yang
paling efektif mampu menyeimbangkan pendekatan ini.
b) Keahlian Manajerial
Manajemen adalah proses mengarahkan pada perkembangan, perbaikan, dan
alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer adalah orangorang yang bertanggung jawab bagi perkembangan dan dalam melaksanakan
proses manajemen. Kegiatan utama dari fungsi manajer adalah merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengontrol. Dengan menggunakan empat
fungsi tersebut, manajer akan bekerja untuk meningkatkan efisiensi dan
keefektifan pegawai mereka, proses, proyek, dan organisasi secara keseluruhan.

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

Perencanaan adalah menentukan apa yang dibutuhkan untuk dilakukan,


mengidentifikasi kapan dan bagaimana rencana dijalankan, dan menentukan
siapa yang harus melakukannya. Manajer menggunakan empat macam tipe
perencanaan: strategis, taktikal, operasional, dan perencanaan berkelanjutan.
a. Perencanaan strategis terkait penciptaan perencanaan jangka panjang (1-5
tahun), tujuan ke luar, dan menentukan kebutuhan-kebutuhan sumber daya
untuk mencapai tujuan.
b. Perencanaan taktikal adalah memiliki jangka waktu yang lebih pendek
(kurang dari setahun) dan tujuannya lebih objektif yang mendukung tujuan
strategis yang lebih strategis.
c. Perencanaan operasional menciptakan standar spesifik, metode, kebijakan,
dan prosedur yang digunakan dalam area fungsional yang spesifik
organisasi.
d. Perencanaan berkelanjutan mengidentifikasi tindakan alternatif dari situasi
yang tidak biasa atau krisis.
Lalu apakah fungsi utama manajer dalam sebuah organisasi? Organisasi terkait
mengkoordinasi dan mengalokasi sebuah sumber daya organisasi untuk
melaksanakan perencanaan. Di dalamnya meliputi pengembangan sturktur bagi
orang-orang, posisi, departemen, dan aktivitas dari orfanisasi. Fungsi ini
terpenuhi dengan memisahkan/ menentukan tugas divisi pekerja/staff,
mengelompokkan pekerjaan, dan pegawai.
Manajer memiliki beberapa tipe kepemimpinan dalam sebuah organisasi yang
mana sikapnya berisi nilai, dan standar perilaku yang mana bisa dibedakan dari
satu organisasi dengan organisasi lainnya. dalam peran sebagai informal,
manajer juga berperan sebagai pengumpul informasi, distributor informasi, atau
juru bicara perusahaan. Sebuah peran interpersonal manajer adalah berdasar pada
beragam interaksi dengan orang-orang. Pada beberapa situasi, manajer bahkan
dibutuhkan untuk berperan sebagai sosok pemimpin dalam sebuah perusahaan.
Keahlian dalam manajerial dapat dipisahkan dalam tiga kategori dasar: teknikal,
hubungan antarmanusia, dan keahlian konseptual. Area pengetahuan yang
terspesialisasi, terkuasai, dan kemampuan untuk mengetahui bagaimana suatu
berjalan adalah keahlian teknikal. Keahlian hubungan antarmanusia di dalamnya
termasuk keahlian untuk memahami tingkah laku manusia, berkomunikasi secara
efektif, dan memotivasi orang lain agar berhasil mencapai tujuan tertentu.
Keahlian konseptual adalah kemampuan untuk melihat organisasi secara
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

keseluruhan, memahami bagaimana setiap bagian dalam perusahaan saling


bergantung satu sama lainnya, dan mengerti bagaimana organisasi berhubungan
dengan lingkungan eksternalnya.
c) Profesional
Suatu pekerjaan yang bersifat profesional akan mempergunakan teknik serta
prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual, yang secara sengaja harus
dipelajari dan kemudian secara langsung dapat digunakan bagi kemaslahatan
orang lain. Faktor penting dalam hal ini adalah intelektualitas yang di dalamnya
tercakup satu atau beberapa keahlian kerja yang dianggap mampu menjamin
proses pekerjaan dan hasil kerja yang profesional, atau tercapainya nilai-nilai
tertentu yang dianggap ideal menurut pihak yang menikmatinya.
Soedijarto (1990:57) mendefinisikan profesionalisme sebagai perangkat atributatribut yang diperlukan guna menunjang suatu tugas agar sesuai dengan standar
kerja yang diinginkan. Dari pendapat ini, sebutan standar kerja merupakan faktor
pengukuran atas bekerjanya seorang atau kelompok orang dalam melaksanakan
tugas.
Sementara itu Philips (1991:43) memberikan definisi profesionalisme sebagai
individu yang bekerja sesuai dengan standar moral dan etika yang ditentukan
oleh pekerjaan tersebut.
Berdasarkan kedua pendapat diatas, terdapat sejumlah faktor dominan dalam
mempersoalkan profesionalisme dikalangan pegawai. Pertama, kapasitas
intelektual pegawai yang relevan dengan jenis dan sifat pekerjaannya. Kapasitas
intelektual ini tentu berhubungan dengan jenis dan tingkat pendidikan yang
menjadi karakteristik pengetahuan dan keahlian seseorang dalam bekerja. Kedua,
standar kerja yang sekurang-kurangnya mencakup prosedur, tata cara dan hasil
akhir pekerjaan. Ketiga, standar moral dan etika dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut. Hal ketiga inilah yang sulit dirumuskan dan dinyatakan secara utuh,
karena proses aktualisasinya tidak hanya ditentukan oleh sifat dan watak
seseorang, tetapi ditentukan juga oleh sistem nilai yang berlaku dalam suatu
lingkungan kerja. Sebagai contoh, seseorang yang berwatak jujur dapat berubah
menjadi pribadi yang korup, karena sistem nilai yang berlaku.

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

10

6) Inovasi
Beberapa orang kalah bertindak karena terlalu lama berpikir atau terlalu banyak
teori. Sebaliknya seseorang yang sukses umumnya tanggap, berpikir praktis, dan
cepat mengambil keputusan untuk bertidak. Keterlambatan bertindak dapat berarti
kerugian yang tidak ternilai, hal ini berlaku bagi semua orang yang ingin maju.
Waktu, momentum, dan kesempatan benar-benar sangat penting dan menentukan
perjalanan seseorang. Kegagalan sering dialami oleh seseorang atau instansi karena
ketika usul diajukan momennya telah berubah akibat keterlambatan. Oleh karena itu,
kecakapan sangat diperlukan dalam keadaan yang mendesak.
Menurut Peter Drucker yang dimuat dalam bukunya innovation dan
entrepreneurship (1985), adalah mereka yang selalu mencari perubahan, berusaha
mengikuti dan menyesuaikan pada perubahan itu, serta memanfaatkannya sebagai
peluang serta mampu memilih dan mengambil keputusan alternatif yang paling
tinggi memberikan produktivitas.
Inovasi-inovasi yang berhasil adalah yang sederhana dan terfokuskan. Inovasi
produk dan pelayanan harus terarah secara spesifik, jelas, dan memiliki desain yang
dapat diterapkan dengan kebaradaan inovasi itu sendiri.
Yang dijadikan dasar untuk meningkatkan kemampuan inovasi di bidang produk dan
pelayanan adalah sebagai berikut:
a. Mulailah belajar berinovasi dari pengalaman,
b. Menghargai karyawan yang memiliki gagasan inovasi,
c. Berorientasi kepada tindakan untuk berinovasi,
d. Menentukan tujuan dalam berinovasi,
e. Buatlah produk dengan penuh inovasi dengan proses secara sederhana,
f. Mulailah membuat produk dengan inovasi yang terkecil,
g. Menjalankan uji coba dan merevisinya,
h. Mengikuti jadwal yang sudah ditentukan di dalam berinovasi,
i. Bekerja dengan semangat, mempunyai keyakinan dan dengan penuh
inovasi dan resiko.
Dalam prosesnya, penerapan kemampuan berinovasi, menurut Kuratko (1955) ada
empat jenis inovasi yaitu:
a. Penemuan (Invensi),
b. Pengembangan (Eksistensi),
c. Penggandaan (Duplikasi), dan
d. Sintesis.
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

11

Untuk sekedar memperjelas dibawah ini terdapat tabel dari jenis-jenis penerapan
kemampuan inovasi dalam praktek berikut ini:
No.

Jenis

Keterangan

Contoh

1.

Penemuan (invensi)

Produk, jasa atau Wright, bersaudara (pesawat


proses yang benar- terbang)
benar baru
Alexander Graham Bell
(pesawat telepon)
Thomas Alfa Edison (lampu
pijar)

2.

Pengembangan
(Eksistensi)

Pemanfaatan
atau Raynoc (Mc Donalds)
penerapan lain pada
produk, jasa, atau
proses yang ada.

3.

Penggandaan
(Duplikasi)

Refleksi kreatif atau Walmart


konsep yang telah ada (Department store)

4.

Sintesis

Kombinasi
atas
konsep dan faktorfaktor yang telah ada
di dalam penggunaan
atau formula si baru.

Fred Smith
(Federal Express)
Merrill Lyuch
(Lembaga Keuangan)

Beberapa faktor yang dapat mendukung tercapainya keberhasilan penerapan


kemampuan inovasi-inovasi menurut James Brian Quinn (1955) adalah sebagai
berikut:
a. Iklim inovasi dan visi. Perusahaan yang inovasi mempunyai visi yang
singkat dan jelas serta memberi dukungan nyata untuk terwujudnya
suasana inovasi.
b. Orientasi pasar. Perusahaan yang inovasi melAndaskan visi mereka yang
ada pada pasar.
c. Organisasi yang tetap datar dan kecil. Kebanyakan perusahaan yang
inovasi berusaha menjaga keseluruhan perusahaan tetap datar serta tim
proyek yang kecil.
d. Proses belajar interaktif. Di dalam suatu lingkungan yang inovasi, proses
belajar dan penelitian ide-ide mengabaikan garis fungsi tradisional dalam
suatu perusahaan.
Tahap-tahap inovasi dapat dikelompokkan menjadi dua fase:
a. Penciptaan inovasi, adalah kreasi gagasan dan pemecahan masalah bagi
produk atau solusi produk.
Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

12

b. Adopsi inovasi, adalah akuisisi atau implementasi inovasi yang


menjadikan sumber peluang dari inovasi itu.
Beberapa hal yang menjadi sumber penerapan kemampuan inovasi (Howel dan
Heggins, 1990) sebagai berikut:
a. Kejadian yang tidak diharapkan
b. Ketidakharmonisan
c. Proses sesuai dengan kebutuhan.
d. Perubahan pada industri dan pasar.
e. Perubahan demografi.
f. Perubahan persepsi.
g. Konsep pengetahuan dasar.
Konsepsi penemuan dan pemanfaatan adalah elemen-elemen yang ada di dalam
inovasi. Inovasi hampir selalu melibatkan pertarungan antara banyak orang dan
dibutuhkan stamina serta kepercayaan diri yang tinggi untuk dapat menjadi
pemenang. Inovasi merupakan suatu proses mengubah peluang menjadi gagasan
yang dapat diperjualbelikan.
Jenis, bentuk dan motif apa pun apakah inovasi itu sederhana atau radikal
merupakan sebuah bentuk kesadaran. Sebagian besar gagasan inovasi muncul lewat
analisis peluang yang sistematis dan bertujuan. Dalam upaya mempertahankan
identitas dan kelangsungan hidup inovasi itu memerlukan pengetahuan, kemurnian,
keteguhan, dan kerja keras.
Dimensi tipe-tipe inovasi, tahapan-tahapan inovasi, dan level analisisnya adalah
sebagai berikut:
a. Inovasi produk, adalah hasil dari organisasi perusahaan.
b. Inovasi administrasi, adalah inovasi yang terkait dengan manajemen, serta
berorientasi dengan proses struktur, manajemen sumber daya manusia
(SDM), dan sistem akuntansi.
c. Inovasi kontinum, adalah sebagai inkremental ke radikal menurut tingkat
perubahan yang diinginkan untuk melaksanakan
d. Inovasi proses, adalah upaya untuk menghasilkan produk atau pelayanan
yang baik.
e. Inovasi teknik, adalah inovasi yang terkait langsung dengan produksi
produk.

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

13

Inovasi merupakan proses yang terus menerus dan tidak pernah berakhir sebab
selalu ada potensi pengembangan.

Sebagai dasar dari pembentukan sebuah inovasi adalah sebagai berikut:


a. Berorientasilah pada tindakan,
b. Buatlah produk, proses dan jasa secara sederhana dan dapat dipahami,
c. Mulailah dengan yang kecil,
d. Tujuan yang besar,
e. Jalankan konsep uji-coba-revisi,
f. Belajar dari kegagalan,
g. Ikuti jadwal utama,
h. Hargai aktivitas yang memiliki nilai khusus,
i. Kerjakan
Pekerjaan-pekerjaan besar bukanlah dilakukan oleh tarikan otot atau keterampilan
jasmani, melainkan oleh pengalaman, kekuatan watak dan keyakinan. Berusaha dan
bekerja keras sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW, kita tidak boleh berpangku
tangan, mengharapkan rizki hanya berdoa saja. Berdoa tanpa usaha tidak ada
gunanya. Gagasan analisis akan muncul lewat analisis peluang yang sistematis dan
bertujuan, serta memerlukan pengetahuan kemurnian, keteguhan, dan kerja keras.

Materi Dasar
Pokok Bahasan 3.
Kompetensi Bidang menurut Permenkes No. 971 Tahun 2009

14