Anda di halaman 1dari 2

Kisah ini sudah lama.

Sangat lama ingin dibagikan (mungkin sudah ada yang pernah


mendengarnya/membacanya?)
Akhirnya, hari ini, terdorong oleh cerita padang gurun yang barusan didengar tad
i, akhirnya kisah ini di posting juga :)
__________________________________________________________
Mulanya adalah air.
Air itu mengalir keluar dari pancaran mata air di suatu Gunung nan tinggi dan ja
uh di sana.
Air itu mengalir dan mengalir terus (disebut Sungai, red). Sungai sudah melalui
banyak hal: pegunungan, hutan, bebatuan, rerumputan, dsb. Semua sudah ia lalui.
Pada akhirnya sampailah dia di padang gurun pasir.
Air itu telah melewati banyak hal yang merintanginya: pegunungan, hutan, bebatua
n, rerumputan, dsb. Semua berhasil dia lalui. Tapi kali ini BERBEDA. Setiap kali
dia berusaha melalui padang pasir, air itu hilang, lenyap dihisap oleh pasir.
"Sial! Kok begini? Bagaimanapun juga aku harus melalui padang gurun ini!! Itu ad
alah takdirku." Air itu mantap dengan keyakinannya. Tapi apa gunanya keyakinan i
tu? Segala cara yang telah dilakukan air sia-sia. Belok ke kiri, belok ke kanan,
semua hampa tiada guna. Setiap kali menyentuh pasir, Air langsung terhisap oleh
Pasir. Lenyap tak berbekas. Seolah tak ada harapan.
Namun, serta merta, terdengar suara. Suatu bisikan lebih tepatnya. Bisikan yang
begitu halus, bisa dibilang nyaris mustahil untuk mendengarnya. Bisikan siapakah
itu? Rupanya bisikan sang Padang Gurun. Ya Gurun itu sendiri berucap, begini ka
tanya:
"Angin melewati aku (padang gurun), begitu pula kamu (air sungai) bisa melewati
aku (padang gurun)."
Mendengar bisikan itu, Air berkilah: "Ngomong apa kamu hei !? Kamu gak lihat? Ti
ap kali aku melintasi kamu, aku tehisap, lenyap tak berbekas. Lagipula angin kan
terbang di angkasa. Tentu saja Angin bisa melewati kamu."
Padang Gurun membalas: "Kamu sudah mencobanya berapa kali? Dengan caramu ini kam
u gak akan pernah bisa melewatiku. Hanya ada
dua pilihan untukmu.
Pilihan pertama: kamu terhisap habis olehku dan hilang tak berbekas.
Pilihan kedua: kamu terbang di angkasa sebagai Uap Air, dan biarkan Angin membaw
a ke tempat takdirmu berada."
"Menjadi Uap Air? Bagaimana itu mungkin?" Air merasa ragu. Dia heran dengan perk
ataan Gurun. Dia berkata begitu karena memang dia tidak menyadari adanya kemungk
inan itu.
"Kamu menjadi Uap Air dengan membiarkan dirimu diserap oleh sang Angin," jawab s
ang Gurun.
"Hmmmmm....." Air berpikir. Sulit untuk menerima pilihan itu. Baik pilihan perta
ma maupun kedua tampak sama saja:
Air harus hilang, entah dihisap oleh Pasir, atau diserap oleh Angin. "Kalau aku
(air) hilang menjadi Uap Air, apakah benar bahwa aku akan kembali lagi (menjadi
air Sungai) nanti?" Air bertanya-tanya.
Melihat kegelisahan sang Air, Gurun berkata lagi: "Hei! Dengar! Angin memang mem
iliki tugas itu. Angin menyerap Air, lalu membawanya melewati Padang Gurun, lalu
menjatuhkannya kembali sebagai Air hujan. Kemudian Air kembali menjadi Sungai."
"Bagaimana kamu tahu bahwa itu benar akan terjadi?" Air masih belum yakin. Dia r
agu. Air takut dibohongi oleh Gurun.

"Memang begitulah kenyataannya. Percaya atau tidak, itulah kebenarannya. Setelah


turun sebagai Air Hujan, kamu bisa saja nanti hanya menjadi endapan air . Dan
itu bisa memakan waktu yang sangaaat lamaaa, bisa sampai bertahun-tahun sebelum
akhirnya kamu kembali menjadi Sungai. Dan bila pada waktunya kamu kembali lagi m
enjadi Sungai, tentunya kamu tidak akan menjadi Sungai yang sama lagi."
"Artinya aku takkan pernah bisa menjadi sama lagi ?! Bila aku dihisap Pasir, aku
hilang lenyap. Bila aku diserap Angin, aku juga tetap tak sama lagi." Air nyari
s menjerit panik.
"Benar. Apapun pilihanmu, kamu takkan bisa sama lagi. Dirimu yang sejati itulah
yang dibawa oleh Angin, dan diri sejati itu juga yang akan kembali membentuk Sun
gai lagi. Kamu menyebut dirimu Sungai karena kamu belum mengetahui jati dirimu y
ang esensial."
Mendengar bisikan itu, Air mulai teringat. Samar-samar memang. Tapi ingatan itu
nyata. Dia mulai ingat....
pada suatu waktu....
dia.... atau mungkin sebagian dirinya (ingatanya tak begitu jelas)...
pernah dibawa oleh Angin.
Dan dia pun teringat - bahwa itulah dirinya yang sebenarnya, bukan yang saat ini
tampak jelas (sebagai Sungai).
Ingatan itu meyakinkan Air. Ya, akhirnya Air merelakan dirinya "dalam genggaman"
sang Angin yang mengangkatnya dengan lembut
dan perlahan ke atas dan maju terus melalui Padang Gurun Pasir. Kemudian pada wa
ktunya, Angin melepaskan perlahan Air itu lagi saat mereka telah sampai di punca
k Gunung, bermil-mil jauh jaraknya dari Gurun.
Dan karena ada keraguannya itulah, Air kini memiliki ingatan yang lebih kuat men
genai rincian pengalamannya itu:
diangkat oleh Angin, dibawa melalui Padang Gurun, dan akhirnya turun kembali seb
agai Air Hujan. "Ya, sekarang aku tahu diriku yang sejati."
Air Sungai itu telah belajar. Namun bermil-mil jaraknya, jauh dari Gunung itu, t
erdengar lagi bisikan Gurun,
"Kami gurun pasir tahu, karena kami melihat peristiwa itu hari demi hari. Selain
itu, kami (Pasir) ada di setiap tepi sungai, hutan, rerumputan, bebatuan, dll b
ahkan di gunung sekalipun."
Itulah mengapa orang-orang bilang bahwa kisah kehidupan Sungai tertulis di atas
Pasir.