Anda di halaman 1dari 4

Energi Baru dan Terbarukan

Fahmy Munawar Cholil 2413105005

ANALISIS PEMBANGUNAN PLTN DI INDONESIA

Dalam pembangunan PLTN, ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan. Hal-hal
tersebut diantaranya:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Potensi atau ketersediaan sumber nuklir (lihat Potensi Energi Nuklir)


Kemampuan sumber daya manusia
Kesiapan teknologi dan ilmu pengetahuan
Sistem keamanan dan keselamatan
Faktor Keekonomian
Faktor sosial budaya masyarakat

Analisis Keekonomian Pembangungan PLTN


Perhitungan ekonomi sangat diperlukan untuk mengetahui obyektifitas dari biaya pembangkit
listrik. Model perhitungan yang digunakan dalam menghitung keekonomian pembangkit listrik
adalah model yang dikeluarkan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency) dalam bentuk
spreadsheet yaitu model Mini G4Econs yang dirilis tahun 2008. Model ini digunakan untuk
menghitung biaya investasi, biaya bahan bakar, operasional dan perawatan.
Asumsi dan Data untuk Biaya Pembangkitan Listrik PLTN

Biaya investasi PLTN biasanya disebut biaya sesaat (overnight cost), yaitu biaya yang belum
memasukkan tingkat suku bunga selama konstruksi atau Interest During Construction (IDC). Biaya
ini terdiri dari biaya EPC (Engineering Procurement Construction), biaya pengembangan
(development costs) dan biaya lain-lain (other costs) serta biaya contigency. Komposisi biaya
kapital untuk EPC terdiri atas biaya nuclear island, conventional island, balance of plant,
construction dan erection work, design dan engineering. Lingkup pekerjaan biaya modal dapat
dirinci seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
1

Energi Baru dan Terbarukan

Fahmy Munawar Cholil 2413105005

Jika PLTN di Indonesia dibangun mulai tahun 2014 dengan masa konstruksi selama 6 tahun, maka
PLTN pertama akan siap beroperasi secara komersial pada tahun 2020. Pembuatan bahan bakar
nuklir untuk PLTN terdiri dari 4 tahap yang masing-masing memberi kontribusi pada harga bahan
bakar nuklir daur terbuka (front end costs), yaitu: i) harga uranium alam (U2O8), ii) biaya
konversi, iii) biaya pengkayaan (separative work unit / SWU), iv) biaya fabrikasi. Komponen
front-end costs diberikan pada Tabel 4. Dalam bulan Januari 2010 biaya dalam US$ untuk
mendapatkan 1 kg uranium UO2 bahan bakar reaktor pada harga pasar ditunjukkan dalam Table
3. Pada 55.000 MWd/t burn-up akan memberikan 360.000 kWh electrical per kg. sehingga biaya
bahan bakar menjadi 0.58 c/kWh.

Hasil perhitungan menunjukkan biaya pembangkitan listrik paling murah adalah NPP-1 (48.08
mills$/kWh), NPP-2 (base case 61.81 mills$/kWh), NPP-3 (69.13 mills$/kWh), NPP-4 (87.44
mills$/kWh) dan NPP-5 (105.74 mills$/kWh). Hasil perhitungan biaya pembangkitan tersebut
dapat ditunjukkan pada Gambar 1.

Energi Baru dan Terbarukan

Fahmy Munawar Cholil 2413105005

Namun jika biaya pembangkitan listrik dengan menggunakan biaya eksternalitas seperti referensi
Negara-negara maju sebesar (46.33 mills$/kWh), maka biaya pembangkitan listrik PLTU batubara
dengan harga 70 US$/ton, 80 US$/ton dan 90 US$/ton menjadi 103.94 mills/kWh, 107.58 mills
$/kWh dan 111.23 mills/kWh, Semua ini menunjukkan bahwa PLTN lebih murah dibandingkan
PLTU batubara. Perbandingan biaya pembangkitan listrik antara PLTN dan PLTU batubara dapat
dilihat pada Gambar 2.

Jika menggunakan biaya eksternalitas berdasarkan kasus Indonesia (lihat PLTU Suralaya, Banten)
seperti biaya kerusakan akibat polusi yang dikeluarkan oleh PM10, SOx dan NOx , maka sebesar
23.4 mills$/kWh dan jika menggunakan carbon tax sebesar 110 US$/MT C atau 30 US$/ton CO2
mempunyai nilai sebesar 25.47 mills$/kWh. Jika CPP-1 (harga batubara sebesar 70 US$/ton), CPP2 (harga batubara 80 US$/ton), dan CPP-3 (harga batubara 90 US$/ton) maka biaya
pembangkitan listrik untuk PLTU batubara menjadi CPP-1 sebesar 106.5 mills$/kWh, CPP-2
sebesar 110.1 mills$/kWh dan CPP-3 sebesar 113.8 mills$/kWh.
Semua ini menunjukkan bahwa PLTN lebih murah dibandingkan PLTU batubara. Perbandingan
biaya pembangkitan listrik antara PLTN dan PLTU batubara ditunjukkan pada Gambar 3.

Energi Baru dan Terbarukan

Fahmy Munawar Cholil 2413105005

Kesimpulan

Jika kebutuhan listrik membutuhkan kapasitas daya yang besar seperti interkoneksi Sumatera
Jamali, maka PLTN ukuran large atau PLTU batubara sangat sesuai diterapkan pada kasus
tersebut.

Dalam studi ini, jika dibandingkan antara PLTN ukuran large dengan PLTU batubara maka hasil
perhitungan tergantung dari asumsi yang digunakan. Karena nilai porsi dari biaya investasi
pada PLTN lebih sensitif dari pada PLTU batubara, maka perhitungan biaya pembangkitan
listrik pada PLTN tergantung pada berapa banyak biaya investasi dikeluarkan.

Dalam kasus ini biaya investasi PLTN menggunakan US$ 1850 /kWe lebih kompetitif
dibandingkan PLTU barubara dengan menggunakan asumsi harga batubara sebesar 70
US$/ton, 80 US$/ton dan 90 US$/ton. Jika harga batubara menunjukkan 80 US$/tons maka
nilainya relatif sama hasilnya jika PLTN dengan menggunakan biaya investasi sebesar 2600
US$/kWe.

Kebijakan Pemerintah tentang pengelolaan dan pengembangan energi


harus
mempertimbangkan aspek lingkungan, maka PLTN dengan biaya investasi dari 1850 US$/kWe
hingga 5000 US$/kWe lebih murah dibandingkan PLTU batubara.

Referensi
Nasrullah, Mochamad. 2011. Analisis Komparasi Ekonomi Pltn Dan Pltu Batubara Untuk Bangka
Belitung. Yogyakarta: BATAN.
4