Anda di halaman 1dari 4

.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas :


1. Obat : sifat fisiko-kimia zat aktif, formulasi, dan teknik pembuatan.
2. Subjek : karakteristik subjek (umur, bobot badan), kondisipatologis, posisi, dan aktivitas
tubuh (pada subjek yang sama).
3. Rute pemberian
4. Interaksi obat atau makanan

Biovailabilitas obat sangat bergantung pada 2 faktor, yaitu faktor obat dan faktor pengguna obat.
Terdapat kemungkinan obat yang sama diberikan pada orang yang sama, dalam keadan berbeda,
memberikan kurva dosis-respon yang berbeda.
Faktor obat
Kelarutan obat
Ukuran partikel
Bentuk fisik obat
Dosage form
Teknik formulasi
Excipient
Faktor Pengguna
Umur, berat badan, luas permukaan tubuh
Waktu dan cara obat diberikan
Kecepatan pengosongan lambung
Gangguan hepar dan ginjal
Interaksi obat lain
Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang pengaruh faktor obat terhadap biovailabilitas. Faktor
penderita tidak disinggung lebih lanjut karena berada di luar ranah biofarmasetika.
PARTICLE SIZE
Kecepatan disolusi obat berbanding lurus dengan luas permukaan yang kontak dengan cairan.
Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan obat, semakin mudah larut. Dengan
memperkecil ukuran partikel, dosis obat yang diberikan dapat diperkecil pula, sehingga
signifikan dari segi ekonomis. Terdapat hubungan linier antara kecepatan absorpsi obat dengan
logaritma luas permukaan. Sebagai contoh, pemberian 500 mg griseofulvin bentuk mikro
memberikan kadar plasma yang sama dengan 1 g griseofulvin bentuk serbuk.
Bahan-bahan obat yang memberikan perbedaan absorpsi antara bentuk halus dan tidak halus
antara lain, acetosal, barbiturate, calciferol, chloramphenicol, digoxin, griseofulvin,
hydroxyprogesterone acetate, nitrofurantoine, spironolactone, sulfadiazine, sulfamethoxine,

sulfathiazole, sulfasoxazole, tetracycline, tolbutamide


DRUG SOLUBILITY
Pengaruh daya larut obat bergantung pada sifat kimia (atau modifikasi kimiawi obat) dan sifat
fisika (atau modifikasi fisik obat)
Modifikasi Kimiawi Obat
a. Pembentukan Garam
Obat yang terionisasi lebih mudah dalam air dari[pada bentuk tidak terionisasi. Pembentukan
garam ini terutama penting dalam hal zat aktif berada dalam saluran cerna, kelarutan modifikasi
sewaktu transit di dalam saluran cerna, karena perbedaan pH lambung dan usus.
Peningkatan kecepatan pelarutan obat dalam bentuk garam berlaku untuk obat-obat berikut :
penicilline, barbiturate, tolbutamide, tetracycline, acetosal, dextromethorphane, asam salisilat,
phenytoine, quinidine, vitamin-vitamin larut aie, sulfa, quinine
b. Pembentukan Ester
Daya larut dan kecepatan melarut obat dapat dimodifikasi dengan membentuk ester. Secara
umum, pembentukan ester memperlambat kelarutan obat. Beberapa keuntungan bentuk ester,
antara lain :
1. Menghindarkan degradasi obat di lambung
Ester dari erythromycin (misalnya erythromycine succinat) memungkinkan obat tidak rusak pada
suasana asam di lambung. Ini merupakan semacam pro-drug, dalam suasana lebih basa di usus,
terjadi hidrolisis erythromycine ethylsuccinat.
2. Memperlama masa kerja obat
Misalnya esterifikasi dari hormon steroid.
3. Menutupi rasa obat yang tidak enak
Contohnya adalah ester dari kloramfenikol. Kloramfenikol palmitat dan Kloramfenikol stearat
dihidrolisis di usus halus untuk melepaskan kloramfenikol.
Modifikasi Bentuk Fisik Obat
a. Bentuk Kristal atau Amorf
Bentuk amorf tidak mempunyai struktur tertentu, terdapat ketidakteraturan dalam tiga
dimensinya. Secara umum, amorf lebih mudah larut daripada bentuk kristalnya. Misalnya
Novobiocin, kelarutan bentuk amorf 10 x dari bentuk Kristal.
b. Pengaruh Polimorfisme
Fenomena polimorfisme terjadi jika suatu zat menghablur dalam berbagai bentuk Kristal yang
berbeda, akibat suhu, teakanan, dan kondisi penyimpanan. Polimorfisme terjadi antara lain pada
steroid, sulanilamida, barbiturat, kloramfenikol. Kloramfenikol palmitat terdapat dalam bentuk
polimorf A, B, C, dan amorf. Tetapi hanya bentuk polimorf B dan bentuk amorf yang dapat
dihidrolisis oleh usus.

c. Bentuk Solven dan Hidrat


Sewaktu pembentukan Kristal, cairan-pelarut dapat membentuk ikatan stabil dengan obat,
disebut solvat. Jika pelarutnya dalah air, ikatan ini disebut hidrat. Bentuk hidrat memiliki sifatsifat yang berbeda dengan bentuk anhidrat, terutama kecepatan disolusi. Ampisilina anhidrat
lebih mudah larut daripada Ampisilian trihidrat.
FAKTOR FISIKA KIMIA LAIN
a. pKa dan Derajat Ionisasi
Obat berupa larutan dalam air dapat diklasifikasi menjadi 3 kategori, yaitu :
Elektrolit kuat ; seluruhnya berupa ion (contoh : Na, K, Cl)
Non elektrolit ; tidak terdisosiasi (contoh : gula, steroid)
Elektrolit lemah ; campuran bentuk ion & molekul
Konsentrasi relatif bentuk ion/molekul bergantung pada pKa obat dan pH lingkungan.
Kebanyakan obat dalam bentuk asam lemah atau basa lemah, yang terabsorpsi secara difusi aktif,
sehingga hanya bentuk molekul (tidak terionisasi) yang terabsorpsi. Akibatnya perbandingan
ion/molekul sangat menentukan absorpsi.
Konsentrasi ion dari obat berupa asam lemah (misal asetosal) meningkat dengan peningkatan pH
media air. Sebaliknya Konsentrasi molekul dari obat berupa asam lemah (misal
alkaloid)meningkat dengan apeningkatan pH media air. Sehingga asam lemah lebih banyak
diabsorpsi pada suasana asam (di lambung, pH 1-3), sedangkan basa lemah lebih banyak
diabsorpsi di usus (pH 6-8).
b. Koefisien Partisi Lemak-Air
Koefisien partisi menunjukkan rasio konsentrasi obat dalam 2 cairan yang tidak bercampur.
Koefisien partisi merupakan indeks dari solubilitas komparatif suatu zat dalam 2 solven.
Koefisien partisi lemak-air digunakan sebgai indikator penumpukan obat di dalam lemak tubuh.
Normal lemak dalam tubuh adalah 10-25%, pada keadaan obesitas dapat menjadi 50% atau
lebih. Pada penderita obesitas, obat dengan daya larut lemak tinggi akan menumpuk pada lemaktubuh dalam jumlah besardan menjadi depo di mana obat dilepaskan secara perlahan. Pada
pemberian barbiturate, pelepasan obat diperlama dari depo, menyebabkan kondisi hang-over.
TEKNIK FORMULASI
Faktor-faktor manufaktur (pembuatan obat) dapat mengurangi bioavailabilitas obat, diantaranya :
1. Peningkatan kompresi (tekanan) pada waktu pembuatan meningkatkan kekerasan tablet. Hal
ini menyebabkan waktu disolusi dan disintegrasi menjadi lebih lama.
2. Penambahan jumlah bahan pengikat pada formula tablet atau granul akan meningkatkan
kekerasan tablet, mengakibatkan perpanjangan waktu disintegrasi dan disolusi
3. Peningkatan jumlah pelincir (lubricant) pada formula tablet akan mengurangi sifat hidrofilik
tablet sehingga sulit terbasahi (wetted). Hal ini memperpanjang waktu disintegrasi dan disolusi
4. Granul yang keras dengan waktu kompresi yang cepat serta kekuatan yang tinggi akan
menyebbakan peningkatan suhu kompresi, sehingga obat yang berbentuk kristal mikro akan

membentuk agregat yang lebih besar.


EXCIPIENT
Obat jarang diberikan tunggal dalam bahan aktif. Biasanya dibuat dalam bentuk sediaan tertentu
yang membutuhkan bahan-bahan tambahan (excipients). Obat harus dilepaskan (liberated) dari
bentuk bentuk sediaannya sebelum mengalami disolusi, sehingga excipients dapat
mengakibatkan perubahan disolusi dan absorpsi obat.
Contoh kasus pengaruh excipient pada bioavailabilitas terjadi pada tahun 1971 di Australia.
Banyak pasien yang mengkonsumsi tablet fenitoin memperlihatkan gejala keracunan, meskipun
kadar fenitoin tablet tersebut tepat. Ternyata bahan pengisi pada formula tablet tersebut
menggunakan laktosa, sebelumnya kalsium sulfat. Penggantian Laktosa menyebabkan
peningkatan bioavailabilitas sehingga terjadi efek toksis.
Zat-zat aktif permukaan (seperti tween dan span) atau zat hidrofil yang mudah larut dalam air
(polivinil pirolidon, carbowax), dapat meningkatkan kecepatan disolusi tablet. Sebaliknya, zatzat hidrofob yang digunakan sebagai lubricant (misal magnesium stearat) dapat menghambat
disolusi. Kini lebih umum digunakan aerosol sebagai lubricant karena tidak menghambat disolusi
Zat pengikat (pada tablet) dan zat pengental (pada suspensi), seperti gom dan gelatin umumnya
juga memperlambat disolusi. Sebaliknya zat penghancur seperti amilum justru mempercepat
disolusi.
Pemilihan basis suppositoria juga mempengaruhi kecepatan absorpsi obat. Kini lebih umum
basis sintetis dibandingkan oleum cacao. Tetapi bberapa obat sukar dilepaskan dari basis ini.
Sehingga indometasin dan kloralhidrat lebih baik dibuat dalam basis carbowax, sedangkan
aminofilin dalam basis oleum cacao.
BENTUK SEDIAAN
Kecepatan disolusi sangat dipengaruhi oleh bentuk sediaan obat. Kecepatan disolusi dari
berbagai sediaan oral menurun dengan urutan berikut :
Larutan < suspensi < emulsi < serbuk < kapsul < tablet < film coated (salut film) < dragee (salut
gula) < enteric coated (salut selaput) < sustained release/retard
Dapat dilihat bahwa tablet, meskipun murah dan praktis, lebih rendah efektivitasnya
dibandingkan sediaan cair, serbuk, dan kapsul