Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS JURNAL

Oleh
KELOMPOK

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2013

JUMANTIK (Juru Pemantau Entik)


ANALISIS JURNAL
disusun sebagai pemenuhan tugas terstruktur mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan IIB
Dosen: Ns. Erti Ikhtiarini, M.Kep., Sp.Kep.J

Oleh:
Eka Yuliana

122310101013

Listya Pratiwi

122310101017

Made Enstini S.P

122310101035

Dina Amalia

122310101037

Afiq Zulfikar Z

122310101049

Sandi Indrayana

122310101060

Ditta Anggraini

122310101062

Cholil Albarizi

122310101068

Alisa Miradia P

122310101074

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2013

PRAKATA

Puji syukur kepada Allah Swt bahwa telah terselesaikan analisis jurnal
yang berjudulJUMANTIK (Juru Pemantau Entik). Analisis jurnal ini
disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan
IIB
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyelesaian analisis jurnal ini, terutama kepada Ns. Erti
Ikhtiarini, M.Kep., Sp.Kep.J selaku dosen mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan IIB.

Semoga analisis ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.


Kami selaku penulis menyadari bahwa analisis ini masih sangatlah jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan masukan
dari semua pembaca demi kesempurnaan pada pembuatan analisis jurnal
selanjutnya.

Jember, Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ..............................................................................

HALAMAN JUDUL .................................................................................

ii

PRAKATA .................................................................................................

iii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................

1.1 Latar Belakang ..............................................................................

1.2 Tujuan ...........................................................................................

BAB 2. PEMBAHASAN ...........................................................................

2.1 Peran Masyarakat .........................................................................

2.2 Peran Pemerintah dalam Program Jumantik ................................

11

2.3 Penerapan Penelitian Jurnal di Indonesia .....................................

12

BAB 3. PENUTUP.....................................................................................

13

3.1 Kesimpulan ...................................................................................

13

3.2 Saran .............................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

14

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit demam berdarah menjadi salah satu ancaman yang dapat
menghilangkan nyawa banyak orang. Demam berdarah merupakan penyakit yang
sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Korban dari penyakit yang disebabkan
virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypt ini memang tergolong
tinggi. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa Jawa Barat pada
2010 merupakan salah satu provinsi dengan kasus Demam Berdarah Dengue
(DBD) kedua tertinggi di Indonesia dengan jumlah 25.727 kasus. Hingga
Desember 2011, Jawa Barat merupakan provinsi dengan kasus DBD tertinggi,
namun terjadi penurunan angka yang cukup signifikan sekira 13.971 kasus DBD.
Peran serta masyarakat sangat penting dalam upaya menanggulangi penyakitpenyakit yang disebabkan oleh buruknya lingkungan pemukiman. Berkaitan
dengan upaya untuk menggugah peran serta masyarakat dalam menanggulangi
penyakit demam berdarah (DBD) yang saat ini kasusnya sudah mulai muncul,
dinas kesehatan merekrut dan menyelenggarakan pelatihan bagi kader Juru
Pemantau Jentik (JUMANTIK). Istilah ini digunakan untuk para petugas khusus
yang berasal dari lingkungan sekitar yang secara sukarela mau bertanggung jawab
untuk melakukan pemantauan jentik nyamuk demam berdarah, Aedes aegypti dan
Aedes albopictus di wilayahnya. Para Jumantik ini apabila selesai bertugas juga
harus melakukan pelaporan ke Kelurahan atau Desa masing-masing secara rutin
dan berkesinambungan. Pemantauan jentik dilakukan satu kali dalam seminggu
(biasanya hari Jumat) pada pagi hari. Jumantik yang bertugas di daerah-daerah ini,
sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari dinas terkait. Mereka juga dalam
tugasnya dilengkapi dengan tanda pengenal, dan perlengkapan berupa alat
pemeriksa jentik seperti cidukan, senter, pipet, wadah-wadah plastik, dan alat

tulis. Untuk menekan tingginya angka korban penyakit tersebut, keberadaan kader
jumantik menjadi sebuah solusi efektif.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembentukan JUMANTIK adalah:
1. untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk DBD secara berkala dan terus
menerus;
2. untuk menurunkan kepadatan atau populasi nyamuk penular penyakit
Demam Berdarah Dangue (DBD) dan jentiknya dengan Pemantauan Jentik
Berkala (PJB) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), melalui
penyuluhan dan kegiatan langsung di masyarakat secara terus menerus;
3. untuk memotivasi masyarakat dalam memperhatikan tempat-tempat yang
berpotensi berkembang biaknya nyamuk DBD.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Peran Masyarakat

Program Jumantik ini dapat terlaksana apabila adanya partisipasi dari berbagai
pihak. Selain partisipasi dari juru pemantau jentik dan tenaga kesehatan sendiri,
masyarakat juga memiliki peran yang penting dalam program ini. Kegiatan
program yang melibatkan masyarakat antara lain :
1. Masyarakat ikut berpartisipasi dalam pemilihan anggota Jumantik yang
dilakukan oleh tim kesehatan. Terutama mereka yang memenuhi syarat,
seperti pendidikan terakhir mereka SMU/sederajat,mereka yang belum
mempunyai pekerjaan tetap, dll.
2. Masyarakat berperan aktif dalam pelatihan yang dilakukan oleh petugas
kesehatan atau Puskesmas sehingga dengan mereka mengenal penyakit
Demam Berdarah dan cara-cara pencegahannya mereka dapat menjadi tim
jumantik yang mampu bekerja sesuai tujuan yang ditetapkan di awal.
3.

Masyarakat bersedia rumahnya di lakukan pemantauan oleh tim Jumantik


agar dalam program ini dapat berjalan sesuai rencana. Jadi masyarakat
bukan sebagai penghambat tetapi justru harus mendukung program yang
dilaksanakan ini, karena ada dari beberapa masyarakat yang masih belum
bersedia rumahnya dipantau, dengan alasan privasi dan sebagainya maka
jelaslah peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam hal ini.

4. Untuk selanjutnya setelah dilakukan pemantauan jentik di setiap rumah,


masyarakat mau dan mampu melakukan program 3M sebagai kelanjutan
dari program jumantik sehingga program ini dapat berhasil menekan
angka kesakitan yang disebabkan oleh nyamuk seperti DBD, malaria dan
lain sebagainya.

2.2 Peran Pemerintah Dalam Program Jumantik


Kebijakan desentralisasi memberikan kewenangan kepada daerah untuk
menyusun perencanaan daerah sedangkan propinsi berfungsi sebagai fasilitator.
Kebijakan otonomi daerah berakibat adanya perubahan kewenangan daerah di
bidang kesehatan, sehingga memerlukan penyesuaian produk hukum daerah
(Perda) untuk mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan oleh pemerintah.
Program Jumantik merupakan program yang digalakan oleh pemerintah
sebagai usaha untuk mengurangi endemi DBD yang marak terjadi. Pemerintah
menugaskan kepada setiap kelurahan untuk mensosialisasikan program Jumantik
kepada setiap RW yang nantinya akan mensosialisasikan kembali kepada setiap
warganya melalui kader-kader atau petugas Jumantik.

Peran Pemerintah Pusat melalui Departemen Kesehatan adalah :


1. Pemberian bantuan stimulan yang diterima daerah untuk rekrutmen
Jumantik selama 3-6 bulan. Sehingga diharapkan nantinya Jumantik akan
dapat berjalan dengan swadaya murni karena kesadaran masyarakat.
2. Pembuatan Pedoman Perekrutan, Pelaksanaan, Pemantauan dan Penilaian
Kinerja Jumantik yang didukung dengan pembuatan modul pelatihan dan
buku pegangan Jumantik.
3. Memfasilitasi terbentuknya tenaga Jumantik ( Juru Pemantau Jentik)
4. Penyuluhan kepada masyarakat agar masyarakat tetap waspada.

Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memelihara dan


meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat beserta
lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus berdasarkan pada
kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri, kepribadian bangsa, semangat
solidaritas sosial, dan gotong royong. Salah satunya melalui program Jumantik.
Pemerintah juga mempunyai peran untuk menghimpun dana yang
diperlukan untuk penyelenggaraan pembangunan kesehatan dalam program
Jumantik. Pengalokasian dana merupakan penetapan peruntukan dan penggunaan
dana sesuai kebutuhan. Pembelanjaan merupakan pemakaian dana yang telah

dialokasikan sesuai dengan peruntukan secara berdaya guna dan berhasil guna,
dilakukan sesuai dengan peraturan dan prosedur yang berlaku, dengan pembagian
yang memadai/proposional yang

mengacu pada kesepakatan pencapaian

program-program prioritas global, nasional dan regional/spesifik daerah, dengan


memperhatikan aspek kebutuhan dan kewajaran.
Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta serta
kerja sama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan diwujudkan dalam suatu
jaringan yang berhasil guna dan berdaya guna agar diperoleh sinergi yang lebih
mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Berbagai upaya pemerintah, masyarakat, dan swasta yang terpadu dan
saling mendukung, berguna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya termasuk dalam program Jumantik.