Anda di halaman 1dari 8

STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA

RAWAN AIR BERSIH DI KABUPATEN PONOROGO


PROPINSI JAWA TIMUR
Dwi Puspitorini1 dan Ali Masduqi2
1

Mahasiswa Program Magister Teknik Prasarana Lingkungan Permukiman, Jurusan Teknik


Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya,
Telp. 081335325004, email: dwi_pr@mhs.enviro.its.ac.id
2
Dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo
Surabaya, Telp. 031-5948886, email: masduqi@its.ac.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menentukan strategi penyediaan air bersih perdesaan di Kabupaten
Ponorogo ditinjau dari aspek teknis, finansial, kelembagaan, dan aspek peran serta masyarakat. Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif. Data dikumpulkan dari data sekunder dan data primer dengan
melakukan penyebaran kuesioner kepada 134 responden. Analisis kondisi wilayah dilakukan upaya
teknis untuk diaplikasikan ditiap-tiap desa. Pada aspek finansial dilakukan analisis terhadap masyarakat
terkait dengan ability to pay (ATP) air bersih setiap m3, analisis willingness to pay (WTP) biaya
sambungan rumah (SR), biaya retribusi, dan rencana anggaran biaya untuk pembangunan infrastruktur air
bersih. Pada aspek kelembagaan dilakukan evaluasi terhadap kinerja lembaga pemerintah dan masyarakat,
kemudian dilakukan analisis untuk menentukan strategi secara keseluruhan terhadap 4 aspek yang ada
dengan menggunakan analisa SWOT. Secara teknis dilakukan pembangunan prasarana air bersih secara
bertahap, sehingga pada tahun 2020 sudah dapat memberikan pelayanan bagi 8 desa dengan 58 HU, 2.711
SR, 6 unit pompa, dan 5 unit broncaptering. Total biaya infrastruktur sebesar Rp. 3.774.229.000,00.
Rata-rata ATP retribusi sebesar Rp. 6.062,50/bulan/KK, WTP biaya sambungan rumah sebesar Rp.
90.688,42/SR, dan retribusi sebesar Rp. 10.100,08/bulan/KK. Perlu peningkatan kapasitas kelembagaan,
dengan meningkatkan pelayanan penyediaan air bersih berupa peningkatan kapasitas terpasang dan
kapasitas produksi.
Kata kunci : desa rawan air, willingness to pay, ability to pay, Analisis SWOT.

1. PENDAHULUAN
Sistem penyediaan air bersih merupakan masalah penting bila dikaitkan dengan
pemenuhan kebutuhan untuk keperluan hidup sehari-hari, mengingat ketergantungan
yang amat besar terhadap air bersih bagi kehidupan manusia. Kondisi ini merupakan
suatu tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk dapat mencapai sasaran dari
MDGs. Indonesia berkeinginan mewujudkan pembangunan berkelanjutan sebagaimana
direkomendasikan dalam KTT Bumi di Johannesburg 2000 yang salah satu sasarannya
adalah bidang penyediaan air minum dan sanitasi. Sasaran pencapaian tersebut adalah
pada tahun 2015 mengurangi 50% proporsi jumlah penduduk yang kesulitan
memperoleh akses terhadap air minum aman dan sanitasi yang memadai. Sasaran
umum kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan sistem penyediaan air bersih
mengacu kepada sasaran nasional yang ditetapkan RPJMN 2010 2014 yang
menekankan tercapainya 67% penduduk terlayani akses air bersih.
Kabupaten Ponorogo dengan luas wilayah 1.371,78 km2 terbagi dalam 21
kecamatan, 279 desa, 26 kelurahan, 2.272 RW dan 6.842 RT. Penduduk Ponorogo
menurut registrasi tahun 2010 sebanyak 899.328 jiwa. Penduduk yang tinggal di daerah
perkotaan sebanyak 305.771 jiwa (34 %), sedangkan sisanya 593.557 jiwa (66 %)
bertempat tinggal di pedesaan[3]. Wilayah administrasi Kabupaten Ponorogo dapat
dilihat pada Gambar 1.

Dwi Puspitorini1 dan Ali Masduqi2

Gambar 1. Wilayah Administrasi Kabupaten Ponorogo


Penyediaan air bersih di Kabupaten Ponorogo dikelola oleh beberapa lembaga
yaitu HIPPAM, WS-LIC, dan PDAM. Cakupan pelayanan air bersih di Kabupaten
Ponorogo mencapai 50,83% dari total penduduk area pelayanan Kabupaten Ponorogo.
Kondisi ini masih rendah bila dibandingkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang
Perumahanan dan Permukiman yakni sebesar 55%-75%[4]. Dengan prosentase
pelayanan seperti itu, maka cakupan pelayanan air bersih perdesaan di daerah rawan air
bersih di Kabupaten Ponorogo masih belum memenuhi standar pelayanan minimal. Dari
21 kecamatan yang terdiri dari 305 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Ponorogo, 39
desa di dalam 12 kecamatan dikategorikan desa rawan air bersih.[2]
Kondisi lokasi sumber air yang sulit dijangkau telah menyebabkan tingkat
produktivitas masyarakat menjadi menurun. Hal ini mengakibatkan kondisi sosial
ekonomi masyarakat di daerah-daerah tersebut sangat rendah. Disamping itu, akibat
tingkat produktivitas masyarakat telah mengakibatkan kemiskinan dan juga rendahnya
resistensi kesehatan masyarakat.
Sumber pembiayaan untuk penyediaan air bersih diambil dari APBN, Bantuan
Luar Negeri, APBD Propinsi, APBD Kabupaten, dan swadaya masyarakat ( Bapeda,
2008). Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengajukan bantuan dana kepada Pemerintah
Propinsi dan Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
Upaya lain yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ponorogo adalah dengan
menempatkan program-program pemberdayaan masyarakat di perdesaan rawan air
bersih. Upaya untuk meningkatkan keberlanjutan infrastruktur yang telah dibangun,
telah dilakukan upaya pelibatan masyarakat dalam penyusunan dan perencanaan
program serta pengelolaannya melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum
(HIPPAM). Namun masih terkendala oleh sumber daya manusia serta besarnya biaya
operasional dan pemeliharaan.

2. DASAR TEORI
2.1 Sumber Air Baku
Sumber air baku untuk perencanaan sistem penyediaan air bersih berasal dari air
hujan, air tanah (mata air, air tanah dangkal, dan air tanah dalam), dan air permukaan
(sungai, danau, dan waduk). Dasar pemilihan alternatif sumber air yang dipilih adalah
biaya yang terkecil, jarak dari sumber air ke daerah pelayanan terpendek, pengaliran

Strategi Penyediaan Air Bersih di Desa Rawan Air Bersih di Kabupaten Ponorogo

secara gravitasi, kualitas air yang terbaik, kuantitas yang terbesar, dan kontinuitas
sumber air.[6]
2.2 Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih terdiri dari dua sistem penyediaan air bersih, yaitu
Sistem Penyediaan Air Bersih individual dan komunal. Dengan pertimbangan jumlah
penduduk, distribusi/sebaran penduduk, dan aktifitas dominan yang dilakukan
penduduk, dapat diketahui bahwa perbedaan antara kedua sistem tersebut terletak pada;
penerapan teknologi fisik, tingkat kapasitas pelayanan, tingkat jenis sambungan
pelayanan, dan tingkat institusi pengelolaan sistem.
Air Bersih Domestik
Kebutuhan domestik ditentukan oleh adanya konsumen domestik, yang berasal
dari data penduduk, pola kebiasaan dan tingkat hidup yang didukung adanya
perkembangan sosial ekonomi yang memberikan kecenderungan peningkatan
kebutuhan air bersih. Fasilitas penyediaan air bersih yang sering dikenal, yaitu;
- Fasilitas perpipaan, yaitu: sambungan rumah, sambungan halaman, sambungan
umum.
- Fasilitas non perpipaan, berupa; sumur, mobil air, mata air.
Kebutuhan air bersih suatu kawasan dipengaruhi oleh jumlah penduduk kawasan
tersebut. Jumlah penduduk suatu kawasan sangat mempengaruhi jumlah air bersih yang
dibutuhkan kawasan tersebut.[5]
Air Bersih Non Domestik
Kebutuhan air non domestik ditentukan oleh adanya konsumen non domestik,
yang memanfaatkan fasilitas - fasilitas antara lain[5]:
1. Perkantoran, tempat ibadah.
2. Prasarana pendidikan, prasarana kesehatan.
3. Komersial (pasar, pertokoan, penginapan, bioskop, rumah makan dll).
4. Industri.
2.3 Sistem Distribusi Air Bersih
Dalam pendistribusian air bersih terdapat tiga sistem pengaliran yang pemilihan
sistemnya disesuaikan dengan kondisi di lapangan[1]. yaitu;
1. Sistem Pengaliran Gravitasi
2. Sistem Pemompaan
3. Sistem Kombinasi
Perencanaan sistem distribusi air bersih didasarkan dua faktor utama yaitu:
a. Kebutuhan air (water demand).
b. Tekanan air serta ditunjang dengan faktor kontinuitas dan keamanan (safety).
Fungsi pokok jaringan distribusi adalah menghantarkan air bersih ke seluruh pelanggan
dengan tetap memperhatikan faktor kualitas, kuantitas, kontinuitas dengan tekanan dan
kecepatan air yang memenuhi standar. Kondisi yang diinginkan pelanggan adalah kapan
saja mereka membuka kran, air selalu tersedia.
Dalam hal pengaliran, terdapat tiga pilihan sistem pengaliran distribusi air
[1]
bersih , yang penggunaannya disesuaikan dengan kondisi eksisting sumber air baku
dan wilayah pengguna/konsumen, yaitu:
1. Sistem Pengaliran Gravitasi
2. Sistem Pemompaan
3. Sistem Kombinasi

Dwi Puspitorini1 dan Ali Masduqi2

2.4 Perencanaan Penyediaan Air Bersih


Perencanaan penyediaan air bersih meliputi aspek teknis, aspek finansial, aspek
kelembagaan dan aspek peran serta masyarakat.
1. Aspek Teknis antara lain terdiri dari kebutuhan air pada saat ini dan masa datang,
pengolahan air bersih, Standar teknis, prosedur O&M, kualitas air
2. Aspek finansial meliputi Kemampuan dan kemauan untuk membayar, serta rencana
anggaran biaya.
3. Aspek kelembagaan meliputi strategi ditingkat nasional dan kebijakan/landasan
hukum, para stakeholder dalam kegiatan ini, yaitu pengguna dan pemelihara
pelayanan air, sehingga hal ini akan menentukan keberhasilan kegiatan tersebut.
4. Aspek peran serta masyarakat terdiri dari Kebutuhan untuk peningkatan penyediaan
air bersih, rasa tanggung jawab dan memiliki, kebudayaan, kebiasaan, dan
kepercayaan yang berhubungan dengan air bersih.
3. METODOLOGI
Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi atas sarana air bersih perdesaan,
wawancara dengan pengelola dan pelanggan air bersih, menyangkut permasalahan yang
berkaitan dengan penyediaan air bersih kepada penduduk di 8 desa di daerah penelitian
dengan tingkat pelayanan <50%, dimana keberadaan sumber air yang ada masih
dikelola secara tradisional, sehingga pada saat musim kemarau panjang penduduk
setempat sulit mendapatkan air bersih. Responden yang dijadikan sampel dalam
penelitian ini berjumlah 134 orang di wilayah penelitian.
Pengumpulan data berupa data sekunder; berupa data kependudukan, fasilitas
kota, sumber air baku yang ada, dan data dari dinas yang berkaitan. Data primer berupa;
wawancara, kuisioner dan observasi baik pada responden masyarakat maupun pihak
pihak yang berhubungan langsung dengan pengelolaan air bersih di wilayah studi.
Tahapan evaluasi dan pembahasan merupakan evaluasi terhadap kondisi
eksisting dan rencana pengembangan sistem pelayanan air bersih sampai pada tahun
perencanaan, dalam mencukupi kebutuhan air bersih penduduk. Data ini akan
digunakan untuk menentukan strategi yang dapat di gunakan untuk pengembangan
sistem penyediaan air bersih di Kecamatan Slahung, Balong, dan Sambit, dengan
menggunakan metoda analisa deskriptif terhadap kondisi wilayah studi,yaitu :
a) Menganalisis kondisi sosial ekonomi dari masyarakat di daerah penelitian
b) Analisis penyediaan air bersih
Hasil analisis akan menggambarkan kondisi sarana air bersih yang akan
digunakan untuk mensuplai kebutuhan penduduk sampai akhir tahun perencanan,
partisipasi masyarakat, kemauan membayar, dan kondisi institusi pengelola. Setelah
dilakukan analisis dan pembahasan maka langkah selanjutnya yaitu melakukan analisis
strategi. Selain itu juga didasarkan pada visi dan misi pembangunan daerah, dan dapat
juga dilakukan dengan melihat indikator-indikator seperti agenda nasional dan agenda
global.
Tahap akhir dari penelitian ini adalah merangkum hasil pembahasan pada
penelitian yang telah dilakukan, dan memberikan rekomendasi bentuk strategi untuk
dijadikan pertimbangan kebijakan bagi peningkatan pelayanan, perbaikan dan
pengembangan sistem distribusi air bersih di tiga kecamatan ke arah yang lebih baik.
Alur pikir penelitian sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.

Strategi Penyediaan Air Bersih di Desa Rawan Air Bersih di Kabupaten Ponorogo

LATAR BELAKANG
RUMUSAN MASALAH

TUJUAN dan MANFAAT PENELITIAN


STUDI PUSTAKA
PENGUMPULAN DATA

DATA PRIMER
Real Demand Survey (RDS)
Kualitas air
Kontinuitas
Sarana dan prasarana
Potensi ekonomi dan peranserta masyarakat
Topografi sumber air

DATA SEKUNDER
Data kependudukan, RTRW
Sumber air baku, Cakupan pelayanan
Pelanggan/konsumen,
Pembiayaan
Sosial ekonomi
Pengelola PSAB
Data dari instansi terkait

Pengolahan Data

- Proyeksi jumlah penduduk


- Proyeksi fasilitas
- Perhitungan kebutuhan air

Analisis dan Pembahasan


Kapasitas Produksi

Evaluasi RDS
Analisis ATP dan WTP
Analisis kelembagaan
Analisis Peranserta masyarakat

STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH PERDESAAN


(Proyeksi 10 tahun)

KESIMPULAN DAN SARAN

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

4. HASIL DAN DISKUSI


4.1 Analisis Penyediaan Air Bersih Kecamatan Slahung, Balong dan Sambit
Potensi sumber air bersih di Kecamatan Slahung, Balong, dan Sambit dapat
dilihat pada Tabel 3, terlihat dengan kapasitas debit yang ada masih dapat melayani
penduduk hingga akhir tahun perencanaan dengan melakukan program secara teknis,
kelembagaan serta finansial.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo menindaklanjuti program penyediaan air
bersih perdesaan ini dengan membangun jaringan distribusi sebagai bentuk pelayanan

Dwi Puspitorini1 dan Ali Masduqi2

publik. Saat ini cakupan pelayanan air bersih bagi masyarakat di 3 kecamatan ini
sebesar 39,98% dari 25.065 jiwa penduduk ketiga kecamatan, 10.022 jiwa terlayani
pelayanan air bersih dari HIPPAM dan non perpipaan, penduduk yang belum terlayani
sistem yang ada sebanyak 15.043 jiwa. Selanjutnya membandingkan jumlah kebutuhan
air bersih dengan ketersedian air bersih yang ada (eksisting). Pada Tabel 1 disajikan
kapasitas sumber air yang ada di tiap desa.
Tabel 1: Kapasitas Sumber Air Baku
No.
1

Kecamatan
Slahung

Senepo

2
3
4
5
6
7
8

Desa

Wates
Balong

Ngendut
Sedarat
Tatung
Muneng
Ngadisanan
Gajah

Sambit

Jumlah

Nama Sumber Air


Baku
Sbr. Senepo
Dawetan II
Belik Bukul
Sumur Dalam
Sumur Dalam
Sumur Dalam
Sumur Dalam
Sumur Dalam
Sbr. Pagersari
Sbr. Gajah Barat
Sbr. Gajah Timur
Sbr. Jerakah

Kapasitas Sumber
(l/dt)
2
1
1
2
2
2
3
13

Kebutuhan air pada akhir tahun perencanaan (tahun 2020), yaitu dengan total (Q
Total) air bersih untuk semua wilayah sebesar 46,04 l/dtk untuk 19.368 jiwa penduduk
ketiga kecamatan. Kebutuhan domestik dan non domestik sebesar 27,90 l/dtk, dengan
tingkat kebocoran 30% dan kebutuhan air untuk hidran kebakaran sebesar 10%.
Hasil perhitungan penyediaan air bersih terhadap kebutuhan air bersih yang ada
menunjukkan bahwa, kapasitas dari sumber air belum dapat mencukupi kebutuhan
penduduk sampai pada akhir tahun perencanaan, yang di dapat dari hasil analisis secara
teknis bahwa kebutuhan air bersih wilayah penelitian sebesar 46,04 l/dtk dan kapasitas
debit sumber air yang ada sebesar 13 l/dtk yang dapat dimanfaatkan secara maksimal
untuk 75% tingkat pelayanan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan
sekitar sumber mata air.
Rasio standar jenis pelayanan air bersih antara sambungan rumah (SR) dan
hidran umum HU) untuk wilayah penelitian adalah 70:30, dengan konsumsi air bersih
sebesar 100 liter/orang/hari bagi sistem penyediaan SR dan 30 liter/orang/hari bagi
sistem penyediaan HU. Dari hasil analisis diperoleh kebutuhan SR sebanyak 2.711 dan
58 HU sampai akhir masa proyeksi (tahun 2020) dengan kebutuhan debit air bersih
sebesar 46,04 liter/detik. Rasio jenis pelayanan/penyediaan air bersih tersebut
dirumuskan berdasarkan tingkat kebutuhan air bersih dan tingkat kemampuan
membayar masyarakat. Pengembangan cakupan pelayanan hingga akhir masa proyeksi
mencapai 75% terhadap jumlah penduduk di 3 kecamatan wilayah studi[4].
Dari hasil perhitungan ATP dan WTP diketahui bahwa besarnya tingkat
kemampuan membayar masyarakat (ATP) lebih kecil dari pada tingkat kemauan

Strategi Penyediaan Air Bersih di Desa Rawan Air Bersih di Kabupaten Ponorogo

membayar (WTP) dari masyarakat. Untuk pengelolaan PSAB kemampuan masyarakat


dalam membayar retribusi adalah Rp. 6.062,50/bulan dan kemauan masyarakat
membayar biaya penyambungan adalah Rp. 90.688,42/bulan. Hal ini menunjukkan
pengguna mempunyai penghasilan yang relatif rendah tetapi utilitas terhadap jasa
tersebut sangat tinggi, sehingga keinginan pengguna untuk membayar jasa tersebut
cenderung lebih dipengaruhi oleh utilitas, pada kondisi ini pengguna disebut captive
riders. Sehingga nilai tarif yang diberlakukan, sedapat mungkin tidak melebihi nilai
ATP kelompok masyarakat sasaran.
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) menjadi tanggung
jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah, untuk menjamin setiap orang
mendapatkan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi
kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif sesuai dengan peraturan
perundangundangan. Arah kebijakan pemerintah dalam peningkatan cakupan dan
kualitas pelayanan air minum diantaranya memprioritaskan pembangunan untuk
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Identifikasi peran serta masyarakat dilakukan melalui expert option kepada
Kepala Desa, pengelola/pengurus PSAB, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan
Umum Kabupaten Ponorogo. Hasil wawancara, diperoleh peran serta masyarakat yang
dikelompokkan menjadi tiga yaitu; masa pra konstruksi, masa konstruksi dan pasca
konstruksi.
Untuk itu, disusun beberapa strategi sebagai penjabaran dari konsep strategi
terkait penanganan model kelembagaan sebagai berikut:
1. Mendayagunakan dinas terkait yang berwenang dalam penyediaan air bersih
perdesaan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kualitas air baku dalam
pemenuhan keinginan masyarakat akan air bersih dan meminimalkan konflik yang
mungkin terjadi, serta mengembangkan potensi desa.
2. Mewujudkan keinginan masyarakat akan air bersih yang didukung dengan kesediaan
membayar retribusi dan biaya penyambungan dengan tingkat kemampuan
masyarakat, agar mendukung biaya operasional dan pemeliharaan.
4.2 Rencana Tindak Penyediaan Air Bersih Kecamatan Slahung, Balong, dan
Sambit
Secara garis besar rencana tindak penyediaan air bersih ketiga kecamatan
mencakup:
a. Sasaran Jangka Pendek (2011-2012).
Total tingkat pelayanan mencapai 46,98%, dengan jumlah penduduk terlayani 629
Sambungan Rumah dan 14 unit Hidran Umum untuk 4.492 jiwa, di desa Ngendut
dan Wates, dengan langkah awal memberi bantuan teknis, penetapan Norma,
Standard, Pedoman, dan Manual (NSPM) mengenai teknik pembangunan sistem
perpipaan maupun pemanfaatan sumur secara perorangan, yang disesuaikan dengan
kondisi di daerah masing-masing.
b. Sasaran Jangka Menengah (2013-2015).
Total tingkat pelayanan mencapai 57,49% dengan jumlah penduduk terlayani 1.325
Sambungan Rumah dan 28 unit Hidran Umum, untuk 9.461 jiwa. Memberi bantuan
teknis, Penerapan profesionalisme dalam pengelolaan dan pelayanan, kemampuan
operasional.

Dwi Puspitorini1 dan Ali Masduqi2

c. Sasaran Jangka Panjang (2016-2020)


Total tingkat pelayanan mencapai 75% dengan tambahan jumlah penduduk terlayani
758 Sambungan Rumah dan 16 unit Hidran Umum untuk 5.415 jiwa. Langkah yang
dilakukan dengan memberikan bantuan konsultasi untuk perencanaan, perancangan,
DED (Detail Engineering Design) sistem penyediaan air bersih sesuai dengan
kondisi daerah dan aspirasi masyarakat setempat. Untuk dapat mengetahui progres
dari masing-masing daerah terhadap pencapaian MDG, pemerintah pusat juga perlu
menetapkan sistem monitoring dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah
setempat.

5. KESIMPULAN
1. Dari analisa diperoleh bahwa ketersediaan air bersih lebih kecil dari kebutuhan air
yang ada untuk wilayah Kecamatan Slahung, Balong, dan Sambit. Penduduk dengan
jumlah pelayanan terkecil terhadap ketersediaan air bersih yakni Kecamatan Banggai
Selatan dimana ketersediaan air bersih belum mencukupi dengan kebutuhan
penduduk secara keseluruhan. Pembangunan dan pengelolaan sarana prasarana
penyediaan air bersih dilakukan masih berdasarkan penetapan kebutuhan dari
pemerintah pusat (supply driven).
2. Jenis pelayanan air bersih yang diberikan berupa 58 HU, dan 2.711 SR hingga tahun
2020.
3. Diketahui bahwa total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur air
bersih adalah Rp 3.774.229.000, dengan skema pembiayaan oleh pemerintah pusat
(90%) Rp. 3.396.806.000,00 dan pemerintah daerah sebesar (10%) Rp.
377.423.000,00 sedangkan besarnya rata-rata kemampuan masyarakat (ATP) adalah
Rp. 6.062,50/bulan, besarnya kemauan(WTP) membayar penyambungan rumah
sebesar Rp. 90.688,42/SR dan pembayaran retribusi sebesar Rp. 10.100,08/bulan.

6. DAFTAR REFERENSI
1. Al-Layla, M.A., Ahmad, S dan Middlebrooks, E.J., (1978), Water Supply
Engineering Design, Ann Arbor Science Publishers, Michigan, USA.
2. Badan Perencanaan Pembangunan Kab. Ponorogo (2008), Laporan Akhir
Penyusunan Master Plan Air Bersih Perdesaan Wilayah SWP III Kabupaten
Ponorogo , Bappeda Kab. Ponorogo, Ponorogo
3. Badan Pusat Statistik Kab. Ponorogo (2010), Ponorogo Dalam Angka, Badan Pusat
Statistik Kabupaten Ponorogo
4. Departemen Kimpraswil, (2001), Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana
Wilayah Nomor: 534/KPTS/M/2001 tanggal 18 Desember 2001 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan
Pekerjaan Umum, Departemen Kimpraswil, Jakarta
5. Ditjen. Cipta Karya, (1998), Petunjuk Teknis Perencanaan, Pelaksanaan,
Pengawasan,Pembangunan dan Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Bersih
Perdesaan, Departemen PU, Jakarta.
6. Dirjen Cipta Karya (2009), Pedoman Pengelolaan Program Pamsimas, Departemen
PU, Jakarta
7. Rangkuti, Freddy (2006), Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis;
Reorientasi Konsep Perencanaan Strategi untuk Menghadapi Abad 21, PT.
Gramedia, Jakarta.