Anda di halaman 1dari 10

ESTIMASI POPULASI HEWAN

(Laporan Praktikum Ekologi)

Disusun Oleh:
Nama

: Erma Indriyana

Npm

: 1211060086

Kelas/ Smt

: Biologi B/V

Dosen

: 1. Eko Kuswanto M.si


2. Lora Purnamasari M.si

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2014

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

: ESTIMASI POPULASI HEWAN

Tempat

: Laboratorium Biologi

Tanggal

: 4 November 2014

Nama

: Erma Indriyana

Npm

: 1211060086

Jurusan

: Biologi

Fakultas

: Tarbiyah

Kelas

: Biologi B

Kelomok

: 2 (dua)

Bandara lampung, 6 Desember 2014


Mengetahui Asisten

Karyati
1111060117

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis
(atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang
mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang
walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok
dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu (Soetjipta, 1992).
Estimasi populasi adalah suatu metode yang digunakan untuk melakukan
perhitungan kepadatan suatu populasi. Kepadatan populasi satu jenis atau
kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit,
atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan.
Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis
dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan
relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin, 1989).
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan
satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau
biomassa per satuan luas per satuan isi. Kerapatan populasi dapat dihitung dengan
dua cara, yaitu secara absolut dan secara relatif. Pada kerapatan relatif jumlah
individu tidak dapat dinyatakan secara pasti melainkan dibandingkan dengan jenis
lain atau frekuensinya per satuan waktu. Cara mengukur kerapatan absolut ada
dua, yaitu mengitung seluruh individu dan metode sampling (Widyaleksono, dkk,
2012).
Dalam suatu ekosistem terdapat fluktuasi kepadatan populasi, untuk
mempermudah dalam menghitung kepadatan suatu populasi, maka dibuat suatu
simulasi cara penghitungan kepadatan populasi tersebut. Metode yang dapat
digunakan adalah metode Peterson, yaitu metode cuplikan dengan menghitung
proporsil kecil populasi atau dengan metode Eschmeyer, yaitu memperkirakan

besarnya populasi simulan (objek simulasi). Dengan demikian dapat ditentukan


nilai kepadatan suatu populasi dan membandingkan hasil estimasi dari tiga rumus
rumus Petersen, Schnabel, and Eschmeyer-Schumacher

2.1 Tujuan
1. Menerapkan metode capture-mark-release-recapture untuk memperkirakan
populasi simulasi (obyek populasi) dan membandingkan hasil estimasi dari
tiga rumus yang berbeda, yaitu rumus Petersen, Schnabel, and EschmeyerSchumacher.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Populasi adalah sehimpunan individu atau kelompok individu dalam satu


spesies atau kelompok lain yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan
jenis yang bersangkutan, dan pada waktu tertentu menghuni suatu wilayah atau
tata ruang tertentu. Populasi memiliki karakterisitik kelompok (statistical
measure) yang tidak dapat diterapkan pada individu. Karakteristik dasar populasi
yang banyak didiskusikan adalah kepadatan (density). Empat parameter populasi
yang mengubah kepadatan populasi adalah natalitas (kelahiran), mortalitas
(kematian), imigrasi dan emigrasi (Tarumingkeng, 1994).
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua
pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran populasi mempertahankan
ukuran populasi, yang relatif konstan sedangkan populasi lain berfluktuasi cukup
besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang
dirangsang untuk meningkatkan populasi tersebut. Penyelidikan tentang dinamika
populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian
dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam (Naughton,
1973).
Perhitungan

populasi

baik

untuk

hewan

maupun

tumbuhan

dapat

dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung, yaitu
dengan perkiraan besarnya populasi sedemikian rupa sesuai dengan sifat hewan
atau tumbuhan yang dapat dihitung. Misalnya, untuk sampling populasi rumput di
padang rumput dapat digunakan metode kuadrat rumput, untuk hewan-hewan
besar dapat dilakukan dengan metode track count atau fecal count, sedangkan
untuk hewan yang relatif mudah ditangkap misalnya tikus, belalang atau rumput
dapat diperkirakan populasinya dengan metode capture mark release recapture
(CMRR) (Suin, 1989).
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan
menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan
metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi.

Populasimerupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang


mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama
dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu
menghitung dan mengidentifikasinya (Resosoedarmo, 1990).
Metode Capture-Recapture seringkali sulit digunakan untuk menduga ukuran
populasi alami. Hal ini disebabkan karena asumsi-asumsi dalam metode CaptureRecapture sulit dilaksanakan di lapangan. Untuk itu dilakukan metode Removal
Sampling yang tidak melepaskan kembali hewan yang telah disampling. Contoh
metode Removal Sampling adalah Metode Zippin yang dilakukan dengan cara
penangkapan pertama tidak dilepaskan kembali, kemudian dalam jangka waktu
tertentu dilakukan kembali penangkapan kedua dan juga hewan tidak dilepaskan
kembali. Sehingga dengan menggunakan persamaan Zippin dapat diduga populasi
hewan dalam suatu areal (Umar, 2009).
Secara umum untuk melakukan pengambilan keputusan mengenai data suatu
populasi berdasarkan analisis data, dapat dilakukan dengan salah satu cara, yaitu
dengan melakukan estimasi pengamatan masa mendatang (estimasi atau prediksi).
Jadi, estimasi populasi adalah suatu metode yang digunakan untuk melakukan
perhitungan kepadatan suatu populasi dengan cara memprediksikannya (Anonim,
2011).
Suatu populasi dapat ditafsirkan sebagai suatu kelompok yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi
dapat dibagi menjadi deme atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang
dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.
Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak
dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi
adalah besar populasi atau kerapatan (Soetjipta, 1992).
Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan
satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau
biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan
kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (kerapatan spesifik). Kerapatan kasar

adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik
adalah cacah individu biomassa persatuan ruang habitat (Hadisubroto, 1989).
Dalam kejadian yang tidak praktis, untuk menerapkan kerapatan mutlak
suatu populasi, ternyata dianggap cukup bila diketahui kerapatan nisbi suatu
populasi. Kerapatan populasi dapat dihitung dengan dua cara, yaitu secara absolut
dan secara relatif. Pada kerapatan relatif jumlah individu tidak dapat dinyatakan
secara pasti melainkan dibandingkan dengan jenis lain atau frekuensinya per
satuan waktu. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.
Cara mengukur kerapatan absolut ada, yaitu:
a. Mengitung seluruh individu di suatu daerah, contoh: sensus
b. Metode sampling, dengan metode Peterson atau metode Eschmeyer
(capture and recapture methode) (Widyaleksono, dkk, 2012).
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menghitung kepadatan suatu populasi,
namun sebaiknya dipilih cara standar sehingga hasilnya representatif. Untuk
mempelajari suatu populasi tertentu dapat dilakukan dengan menghitung jumlah
total individu dalam satu area pada kurun waktu tertentu. Hasil dari perhitungan
tersebut dapat dikatakan sebagai kepadatan absolut. Namun, pada beberapa kasus
perhitungan kerapatan populasi, cukup dengan hanya

menentukan

kepadatan relatifnya (Noerdjito, 2003).


Metode Peterson adalah salah satu metode dalam mengukur kepadatan
absolut. Pada dasarnya, model Peterson adalah metode dengan menangkap
sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu
yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa
waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan (penangkapan ke-2)
terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah
diidentifikasi individu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan
individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan kedua (Soegianto, 1994).

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kancing dan
alat tulis.

3.2 Cara Kerja


1. Mengambil 2 warna kancing
2. Satu warna kancing taburkan ke petak keramik
3. Kemudian mengitung kancing yang masuk kedalam petak keramik
4. Kancing yang yang berada di petak keramik diganti dengan kacing yang
beda warna
5. Lalu kancing yang telah digantikan dengan beda warna, dicampurkan
kembali dengan kancing yang berada diluar petak
6. Kemudian kacing yang telah dicampurkan ditaburkan kembali
7. Dan mencatat hasilnya
8. Mengulang selam 5 kali pengulangan

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Estimasi populasi adalah suatu metode yang digunakan untuk melakukan
perhitungan kepadatan suatu populasi.
2. Populasi adalah sehimpunan individu atau kelompok individu dalam satu
spesies atau kelompok lain yang dapat melangsungkan interaksi genetik
dengan jenis yang bersangkutan, dan pada waktu tertentu menghuni suatu
wilayah atau tata ruang tertentu.
3. Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan
dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi.
4. Dari hasil pembahasan dari ketiga rumus tersebut yang lebih baik atau
mendekati yaitu menggunakan rumus peterson dan rumus schumschereschmeyer.

DAFTAR PUSTAKA

Hadisubroto, Tisno (1989) dalam Dewi Suryani. 2011. Azas-azas dan Konsep
mengenai Organisasi pada Tingkat Populasi. Padang : Universitas Negeri
Padang
Noerdjito, Woro A, dan Pudji Aswari. 2003. Metode Survei dan Pemantauan
Populasi Satwa. Seri keempat. Kupu-kupu Paplionidae. Bogor : Puslit
Biologi-LIPI. Hlm. 54-57
Soetjipta (1992) dalam Hendra Marihot Pasaribu. 2010. Simulasi Estimasi
Populasi Hewan. Jambi: Universitas Negeri Jambi
Suin, Nurdin Muhammad (1989) dalam Hasnah. 2010. Estimasi Besarnya
Populasi Serangga. Makassar: Universitas Negeri Hasanudin
Tarumingkeng, R.C. (1994) dalam Harmin Adijaya. 2011. Metode Sampling
Biotik untuk Menduga Populasi Hewan Bergerak. Makassar: Universitas
Negeri Hasanudin
Umar, M. Ruslan. 2004. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Universitas
Hasanuddin. Makassar.