Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Terapi Intravena
Terapi intravena
memasukkan

cairan,

adalah
obat,

tindakan
darah

atau

perawatan
produk

dengan

darah

ke

pembuluh darah untuk pengobatan pasien (Kathryn, 2008)


Kathryn (2008) mengatakan bahwa tujuan utama tenaga
kesehatan
adalah:
1. Untuk

menginstruksikan
mengganti

dan

terapi

intravena

mempertahankan

pada

pasien

keseimbangan

elektrolit dan cairan tubuh


2. Untuk pengelolaan pengobatan, termasuk agen kemoterapi,
anestesi intravena dan reagen diagnostik
3. Untuk transfusi darah dan komponen darah
4. Untuk menyalurkan nutrien dan sumplemen nutrisi
Pemasangan kateter intravena digunakan untuk memberikan
cairan ketika pasien tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi
atau syok untuk memberikan garam yang diperlukan untuk
mempertahankan keseimbangan elektrolit atau glukosa untuk
metabolism atau untuk memberikan medikasi (WHO, 2005)

2. Jenis-jenis Larutan Intravena

Menurut Kathryn (2008), terdapat tiga kategori larutan


intravena;

isotonis,

hipertonis

dan

hipotonik.

Berikut

penjelasannya;
2.1
Cairan Isotonis
Larutan isotonis mempunyai konsentrasi atau osmolaritas
yang sama dengan serum atau cairan tubuh. Hal itu membuat
larutan

isotonis

dapat

meningkatkan

kompartemen

intravaskuler tubuh tanpa menyebabkan pergeseran cairan di


dalam tubuh. Larutan isotonis dapat memberikan hidrasi pada
pasien yang mengalami dehidrasi atau untuk mengggantikan
cairan ekstraseluler yang hilang pada pasien yang mengalami
kehilangan darah. Larutan isotonis juga diperlukan untuk
mengobati keadaan hipernatrimia.
Pasien yang menerima larutan isotonis, khususnya pasien
dengan

hipertensi

atau

gagal

jantung,

harus

hati-hati

terhadap beban cairan yang berlebih karena larutan isotonis


berfungsi dengan tidak menyediakan kalori yang adekuat
sehingga dapat menjadi penyebab hilangnya protein. Para ahli
menyarankan untuk tidak memberikan larutan isotonis dalam
jangka waktu yang lama kepada pasien yang tidak bisa
makan. Larutan yang termasuk larutan isotonis adalah D5W,
normal salin dan ringer laktat.
2.2

Cairan Hipertonis

Larutan hipertonis mempunyai osmolaritas yang lebih


tinggi terhadap serum. Ketika diinfuskan, larutan hipertonis
menyebabkan

peningkatan

osmolaritas

serum

dan

mendorong cairan di dalam sel dan kompartemen interstisial


ke pembuluh darah. Hal ini meningkatan volume ekstaseluler
dan

menyebabkan

sel

mengkerut.

Larutan

hipertonis

menurunkan resiko edema, menstabilkan tekanan darah dan


membantu

dalam

mengatur

urine

output.

Para

ahli

memberikan larutan hipertonis untuk tindakan pengobatan


pada pasien yang mengalami kehilangan cairan lambung
karena diare, muntah atau nasogastric suction dan dalam
upaya sementara penanganan gangguan sirkulasi dan syok.
Larutan hipertonis dapat digunakan sebagai larutan
pembalik untuk pasien yang mengalami dehidrasi akibat
kelebihan cairan infus hipotonis. Karena larutan hipertonis
menyebabkan

peningkatan

ruang

intravaskuler

sehingga

pasien harus di monitoring beban sirkulasinya terutama pada


pasien yang lemah jantung dan gangguan fungsi ginjal.
Contoh larutan hipertonis adalah D10W, D5 NS, dan D5 NS.
2.3
Cairan Hipotonis
Larutan ini mempunyai osmolaritas yang lebih rendah dari
serum. Larutan ini menyebabkan pergeseran cairan dari
ruang intravaskuler masuk ke dalam sel dan ruang interstisial
sehingga osmolaritas meningkat. Sel berhidrasi dan volume

sirkulasi menurun. Larutan hipotonis digunakan pada pasien


dehidrasi

akibat

diuresis.

Karena

larutan

hipotonis

menyebabkan peningkatan cairan ekstraseluler sehingga


tidak dianjurkan untuk diberikan pada pasien dengan edema
otot atau peningkatan tekanan intrakranial, luka bakar,
trauma atau kadar protein serum yang rendah pada kasus
malnutrisi atau penyakit liver. Cairan hipotonik yang sering
dikenali adalah NS
3. Pengaturan dan Pengawasan Tetesan infus
RCN (2010) memberikan kriteria praktis bahwa seorang
perawat yang akan memasang infus dan/atau memberikan terapi
infus harus memiliki kompetensi di semua aspek klinis terapi
infus. Adapun hal yang perlu diperhatikan perawat/tenaga
kesehatan dalam mengatur dan monitoring tetesan infus adalah
sebagai berikut:
1. Mengecek order dokter
perawat harus memperhatikan dan memastikan di dalam
order terdapat tanggal, waktu, nama cairan infus yang akan
diberikan, rute pemberian, dosis pemberian, volume yang
diinfuskan, kecepatan infus/tetesan, durasi dan tanda tangan
(Philips, 2005).
2. Pemilihan kateter
Praktisi kesehatan profesional harus menyadari lima faktor
dalam memilih kateter untuk pasien (Kathryn, 2008): 1) Tipe
cairan yang akan dimasukkan; 2) Memperkirakan lama waktu

pasien menerima cairan intravena, berlangsung kontinu atau


sementara; 3) Lokasi, ukuran dan kondisi vena pasien; 4)
Umur pasien, tingkat aktivitas dan kesadaran, dimana pasien
mungkin menganggu atau melepaskan atau terlepas infus; 5)
Metode yang digunakan untuk mengontrol laju infus.
3. Menghitung kecepatan tetesan infus
Cairan infus, zat adiktif maupun obat-obatan harus
diberikan

dengan

diperhatikan

untuk

tepat

dan

pengelolaan

benar.
terapi

Hal

yang

intravena

perlu
(infus)

dengan benar adalah kecepatan aliran dalam milliter per jam


dan/atau jumlah tetesan per menit. Ketika terapi intravena di
delegasikan,

perawat

harus

dapat

menghitung

volume,

kecepatan aliran dan waktu yang dibutuhkan; kemudian awasi


proses terapi infus dan lakukan pencatatan. (Kathryn, 2008).
Philips (2005) mengemukakan bahwa dalam menghitung
kecepatan aliran infus terdapat 2 komponen yang harus
dipahami;
1. Faktor tetesan ( beberapa tetesan dari larutan IV sama
dengan 1 mL ketika menggunakan pipa infus); terdapat
dua jenis yaitu makrodrip dan mikrodrip.
a. Makrodrip
Gunakan set makrodrip ketika 1) volume cairan
infus dalam jumlah besar harus diinfuskan dalam waktu

yang singkat; 2) mikrodrips per menit terlalu banyak


atau susah dihitung (Buchholz, 2003).
b. Mikrodrip
Gunakan set mikrodrip ketika 1) diberikan dalam
jangka waktu yang panjang; 2) cairan infus yang
dibutuhkan dalam jumlah sedikit; 3) makrodrip per
menit terlalu sedikit (Buchholz, 2003).

Berikut tabel perhitungan jumlah cairan infus yang


dibutuhkan dan jumlah tetesan infus sesuai dengan
pipa infus yang digunakan; (Philips, 2005)
Orde
r:
mL/h
10
15
20
30
50
75
80
100
120
125
150
166
175
200
250
300

10
tetes/mL
2
3
3
5
8
13
13
17
20
21
25
27
29
33
42
50

Faktor Tetesan
15
20
tetes/mL
tetes/mL
3
3
4
5
5
7
8
10
13
17
19
25
20
27
25
33
30
40
31
42
38
50
42
55
44
58
50
67
63
83
75
100

60
tetes/mL
10
15
20
30
50
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A
N/A

2. Jumlah cairan yang akan diinfuskan selama 1 jam.


Formula:

4. Labeling
Pada tempat pemasangan infus harus diberi etiket
setidaknya pada tiga titik, yaitu: di daerah insersi, di tubing
(selang), dan di container cairan. Pemberian etiket tersebut
memberikan

informasi

tentang

kateter,

balutan,

cairan,

medikasi dan pemberian set (INS, 2000 dalam Philips, 2005).


Etiket yang dipasang di lokasi venapungsi adalah di atas
balutan transparan atau sepanjang hub. Jangan menulis di
atas

lokasi

insersi

karena

akan

menyulitkan

dalam

mengobservasi lokasi insersi. Informasi yang perlu dituliskan


adalah tanggal dan waktu, tipe dan panjang kateter (ukuran
kateter) dan inisial perawat yang memasang.
Etiket yang di pasang di selang berisi informasi tentang
waktu untuk mengganti selang sesuai dengan kebijakan
lembaga, sehingga praktisi pasca shift berikutnya akan
memperhatikan kapan selang harus diganti. Sementara etiket
yang di pasang di container cairan berisi informasi tentang
nama cairan dan obat yang di tambahkan, inisial perawat,
dan kapan waktu pemberian cairan dimulai.
5. Edukasi Pasien
Pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang semua aspek perawatannya sehingga mereka akan
mengerti

serta

hak

untuk

menerima

atau

menolak

pengobatan (INS, 2000 dalam Philips, 2005). Setelah kateter


telah terpasang stabil, balutan sudah terpasang, dan sudah
diberi label, maka informasi yang harus diberikan kepada
pasien meliputi: informasi tentang pembatasan aktivitas atau
gerakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, penjelasan
tentang tanda atau alarm (bila ada) jika cairan habis,

menginstruksikan kepada pasien untuk melapor ke petugas


jika pada daerah insersi terjadi pelunakan atau terasa nyeri,
atau terjadi kemerahan dan bengkak dan diberi penjelasan
pada pasien bahwa lokasi insersi akan diperiksa oleh perawat.
6. Monitoring dan dokumentasi
Monitoring yang harus dilakukan pada pasien meliputi:
kanula, lokasi insersi dan daerah sekitarnya, kecepatan aliran,
data klinis, respon pasien dan target terapi yang ditentukan.
Dengan monitoring yang sering dapat memberikan informasi
tentang kemungkinan terjadinya komplikasi sehingga dapat
dilakukan tindakan segera.
Adapun dokumentasi berkaitan dengan prosedur terapi
infus menurut Dagger (2001) dalam Philips (2005) adalah
tanggal dan waktu insersi, nama produk atau stylet yang
digunakan, ukuran kateter, lokasi vena, cairan infus dan
kecepatan aliran, infus dengan gravitasi atau pump, jumlah
upaya pemasangan yang dilakukan sebelum pemasangan
infus

yang

sukses,

kondisi

ektremitas

sebelum

akses,

komentar pasien yang spesifik terkait prosedut, respon pasien


seperti kecemasan yang berlebihan, gerakan pasien atau
respon lain yang tidak diinginkan dan tanda tangan. Dokumen
harus

dapat

dibaca,

diakses

oleh

tenaga

kesehatan

professional dan mudah didapatkan kembali. Sedangkan


dokumentasi observasi yang berkaitan dengan pemberian

terapi infus meliputi nyeri tekan, temperature di daerah


insersi dan sekitarnya, perubahan warna, pembengkakan,
produksi cairan dan tindakan yang dilakukan perawat.
Dokumentasi penggantian alat infus juga penting
dilakukan. Dokumentasi tersebut meliputi kondisi daerah
insersi pada saat penggantian, keutuhan dan panjang kateter,
komplikasi-komplikasi yang terjadi: tanggal, waktu dan inisial
orang yang mengganti alat tersebut (Dugger 2001 dalam
Philips 2005).

4. Faktor Kesalahan Pengaturan laju tetesan Infus


Laju pengaturan tetesan infus merupakan masalah yang
sering terjadi pada terapi intravena. Kesalahan pengaturan
tetesan infus

menjadi faktor utama

penyebab komplikasi,

termasuk kelebihan beban cairan, overdosis atau underdosing


pengobatan, bekuan, phlebitis dan infiltrasi. Kathryn (2008)
menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang menjadi faktor
utama kesalahan dalam laju tetesan infus yaitu 1) pasien; 2)
peralatan dan 3) vena.
1. Faktor Pasien
Tekanan darah pasien merupakan faktor penyulit dalam
mempertahankan laju tetesan infus sehingga menyulitkan
tenaga kesehatan/perawat jika harus mempertahankan terapi
infus dengan laju infus rendah misalnya pada infus KVO

dengan order 10 mL/hr. Hal tersebut disebabkan karena


model infus dengan tipe gravitasi tidak mampu mengatasi
tekanan yang tinggi pada sistem sirkulasi pasien.
Pasien ataupun keluarga pasien juga bisa menjadi faktor
yang menyebabkan kesalahan laju tetesan infus. Akitivitas
pasien yang berlebihan dan keluarga pasien yang mengatur
sendiri tetesan infus mempersulit tenaga kesehatan/perawat
karena cairan infus yang diberikan tidak habis atau habis
tidak sesuai dengan waktu sesuai order.
2. Faktor Peralatan
Selang infus yang di dalamnya terdapat bekuan darah atau
selang infus tertekuk, cairan dengan viskositas yang tinggi
menyebabkan penurunan laju tetesan infus. Tinggi tiang infus
juga berpengaruh terhadap kecepatan laju tetesan infus.
Tinggi infus juga memepengaruhi laju tetesan infus sehingga
pada infus model gravitasi, tinggi tiang infus harus diset statis
seperti saat pertama pengaturan tetesan infus. Cairan infus
yang

hangat

memiliki

laju

tetesan

yang

lebih

cepat

dibandingkan cairan infus yang dingin.


3. Faktor Vena
Infiltrasi, phlebitis dan spasme vena dapat menurunkan
laju tetesan infus. Spasme pada vena adalah kontraksi vena
yang menyebabkan darah berhenti beredar di pembuluh
darah. Hal tersebut disebabkan oleh infus dengan cairan yang

dingin atau cairan infus yang memiliki sifat mengiritasi serta


laju infus yang terlalu cepat. Spasme otot akan meghentikan
atau

memperlambat

merasakan

nyeri

laju

pada

infus

area

sehingga

insersi

yang

pasien

akan

bergerak

ke

eksrimitas.
5. Komplikasi Pemasangan Infus
Terapi

intravena

menimbulkan

kecenderungan

berbagai

bahaya, termasuk komplikasi lokal, meliputi kelebihan beban


cairan, emboli paru, septicemia, dan infeksi; maupun komplikasi
sistemik, meliputi infiltrasi, flebitis, tromboflebitis, hematoma,
bekuan (clotting). Komplikasi sistemik lebih jarang terjadi tetapi
seringkali lebih serius dibandingkan komplikasi lokal. Berikut ini
adalah komplikasi pemasangan infus menurut Smeltzer & Bare
(2002).
1. Kelebihan Beban Cairan
Kelebihan beban cairan disebabkan volume cairan melebihi
beban sistem sirkulasi (Perdue 2001 dalam Dougherty 2008).
Hal

tersebut

meningkatkan

tekanan

vena

sentral

dan

memungkinkan dilatasi pembuluh darah jantung sehingga


dapat menyebabkan gagal jantung kongestif dan henti
jantung. Kelebihan beban sirkulasi disebabkan oleh volume
cairan infus yang diberikan terlalu banyak atau terjadi
peningkatan laju infus.

Tanda dan gejala awal yang dapat ditemui adalah pasien


gelisah, terjadi penurunan denyut nadi, sakit kepala, nafas
pendek, batuk dan mungkin sesak. Semakin banyak cairan
maka pasien beresiko mengalami hipertensi dan dispneu
dengan gurgling, dan batuk berbuih. Indikasi pasien yang
diduga mengalami dilatasi vena yaitu adanya pembesaran
vena jugularis, edema, peningkatan tekanan pulmonal dan
ronkhi

basah

saat

auskultasi.

Beberapa

pasien

juga

mengalami kelompak mata yang bengkak sesaat cairan mulai


membebani sistem sirkulasi (Dougherty 2008).
Pasien lanjut usia dan anak-anak harus

mendapat

perhatian khusus terutama pada pasien dengan masalah


ginjal

dan

jantung

(Macklin

&

Chernecky

2004

dalam

Dougherty 2008). Tindakan pencegahan yang diperlukan


sebagai berikut:
1. Kaji masalah pasien yang berhubungan dengan terapi
intravena dan riwayat kesehatan pasien terkait masalah
jantung dan paru.
2. Lakukan pengawasan dan nilai toleransi pasien yang
mendapat terapi intravena terhadap dosis obat dan cairan.
3. Pertahankan laju infus sesuai dengan order.
4. Perlambat kecepatan infus jika menemukan adanya tanda
dan gejala kelebihan beban sirkulasi dan tanya dokter
dalam upaya melakukan penurunan laju tetesan infus.

Jika kelebihan beban sirkulasi sudah terjadi, segera perlambat


laju infus dan baringkan pasien dengan posisi fowler tinggi,
sering memantau tanda-tanda vital, mengkaji bunyi nafas dan
pemberian oksigen dan obat-obatan jika diperlukan (Smeltzer
& Bare 2002).
2. Emboli Paru
Emboli udara terjadi jika udara masuk peredaran darah
dan menuju ventrikel kanan melalui vena cava. Emboli udara
disebabkan oleh kanulasi vena-vena sentral. Embolisme udara
mungkin ditandai dengan dispnea, sianosis, hipotensi, nadi
yang lemah dan cepat, hilangnya kesadaran, nyeri dada,
bahu, dan punggung bawah. Tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan meliputi dengan segera mengklem kateter,
membaringkan pasien miring ke kiri dan posisi trendelenburg,
mengkaji tanda-tanda vital dan bunyi nafas dan memberikan
oksigen (Smeltzer & Bare 2002).
3. Septikemia
Infeksi lokal pada tempat penusukan kateter beresiko
menyebabkan

infeksi

sistemik.

Sistem

imunitas

pasien

merupakan faktor penghambat ataupun pendorong apakah


kemajuan komplikasi dapat berlangsung cepat/lambat dan
berakibat fatal atau tidak. Infeksi lokal yang terjadi

banyak

disebabkan

aseptik

karena

ketidakpatuhan

pada

teknik

selama

prosedur

dan

manipulasi;

gagal

dalam

mempertahankan bagian yang bersih dan steril dan lalai


dalam melakukan pergantian set peralatan infus dan kanula
dengan teratur. Teknik aseptik merupakan kunci keberhasilan
tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan infeksi
yang disebabkan oleh terapi intravena (RCN 2010).
Septikemia

merupakan

tahap

patologis

atau

reaksi

pirogenik yang biasanya ditimbulkan berhubungan dengan


adanya penyakit sistemik. Hal tersebut terjadi ketika bakteri
patologis masuk ke dalam pembuluh darah (bakteriemia) dan
menimbulkan gejala infeksi. Adapun tanda dan gejalanya
adalah panas dingin, demam, malaise, dan sakit kepala yang
terjadi ketika organisme patogenik pertama kali menginvasi
sirkulasi. Peningkatan suhu tubuh yang semakin tinggi,
peningkatan denyut nadi dan kelemahan disertai dengan
gejala muka memerah, sakit pungung, mual, muntah dan
hipotensi. Tanda dan gejala tersebut akan semakin parah jika
tidak dilakukan penanganan dengan baik. Sianosis, takipneu
dan

hiperventilasi

dapat

terjadi

menyebabkan

kolaps

pembuluh darah, syok dan kematian (Perdua 2001 dalam


Dougherty 2008).

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan


melakukan kultur kateter IV, selang atau larutan jika dicurigai
mengandung agen infeksi, pindahkan tempat penusukan IV
jika akan dilakukan pemberian obat-obatan dan atau cairan
lagi dan berikan pengobatan sesuai tanda dan gejala yang
ditemukan (Smeltzer & Bare 2002).
4. Infeksi
Tindakan untuk mencegah infeksi merupakan hal yang
penting pada saat melakukan pemasangan jalur IV dan
sepanjang periode pemberian infus menurut Smeltzer & Bare
(2002).
1. Mencuci tangan sesuai standar sebelum kontak dengan
bagian apapun dari sistem infus atau dengan pasien.
2. Mengevaluasi penampung IV akan adanya keretakan,
kebocoran, atau kekeruhan, yang mungkin menandakan
suatu larutan yang terkontaminasi.
3. Menggunakan tehnik aseptik sesuai standar.
4. Menempatkan kanula IV dengan kuat untuk mencegah
pergerakan keluar-masuk.
5. Memeriksa tempat penusukan
mengganti balutan steril
6. Melepaskan kateter IV

pada

IV

setiap

adanya

tanda

hari

dan

pertama

peradangan lokal, kontaminasi, atau komplikasi


7. Mengganti kanula IV perifer setiap 48 sampai 72 jam, atau
sesuai indikasi
8. Mengganti kanula IV yang dipasang saat keadaan gawat
sesegera mungkin

9. Mengganti

kantong

setiap

24

jam

dan

seluruh

set

pemberian sedikitnya setiap 48 sampai 72 jam, dan setiap


24 jam jika produk darah atau lemak yang diinfuskan.
5. Infiltrasi
Infiltrasi adalah masuknya larutan ke dalam jaringan
subkutan sebagai akibat dari pergeseran jarum dan robeknya
pembuluh darah (RCN 2010).
Tanda dan gejala Infiltrasi adalah edema di sekitar tempat
penusukan, ketidaknyaman, rasa dingin di area infiltrasi dan
penurunan

laju

tetesan

infus.

Kejadian

Infiltrasi

dapat

diminimalisir dengan cara menggunakan ukuran dan jenis


kanula yang sesuai untuk vena dan melakukan inspeksi
berkala pada daerah pemasangan infus.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan
menghentikan infus dan melepaskan IV, balut area infiltrasi
dengan balutan steril, berikan infus lanjutan di lengan yang
berlawanan atau di daerah proksimal dari tepat penusukan
yang pertama atau area infiltrasi, kompres hangat diberikan
dengan meninggikan lengan untuk meningkatkan absorpi
cairan.
6. Flebitis
Flebitis adalah inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi
kimia maupun mekanik. Tanda dan gejalanya adalah bengkak,
nyeri, merah dan hangat pada daerah penusukan atau
sepanjang vena. Insiden flebitis meningkat seiring lamanya

pemasangan infus, komposisi cairan infus atau obat, ukuran


dan tempat kanula, teknik dan tempat pemasangan IV yang
tidak

tepat

dan

masuknya

mikroorganisme

pada

saat

penusukan (Smeltzer & Bare 2002).


Perawatan yang dapat dilakukan adalah menghentikan IV
dan memulai di daerah lain dan memberikan kompres hangat
di area flebitis. Flebitis dapat dicegah dengan menggunakan
teknik aseptik selama prosedur, menggunakan ukuran kateter
dan

ukuran

jarum

yang

sesuai

untuk

vena,

mempertimbangkan komposisi cairan dan medikasi ketika


memilih daerah penusukan, memonitor kemungkinan adanya
komplikasi apapun setiap jam, dan menempatkan kateter
atau jarum dengan baik (Smeltzer & Bare 2002)
7. Tromboflebitis
Tromboflebitis mengacu pada adanya bekuan ditambah
peradangan dalam vena. Hal ini dikarateristikan dengan
adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan
pembengkakan di sekitar tempat penusukan atau sepanjang
vena, immobilisasi ekstremitas karena rasa tidak nyaman dan
pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam,
malaise, dan leukositosis. Perawatan termasuk menghentikan
IV, memberikan kompres hangat, meninggikan ekstremitas,
dan memulai jalur IV di ekstremitas yang berlawanan.
Tromboflebitis dapat dicegah dengan menghindarkan trauma

pada vena pada saat IV dimasukkan, mengobservasi tempat


penusukan setiap jam, dan melakukan pengecekan tambahan
pengobatan kompabilitas (Smeltzer & Bare 2002).
8. Hematoma
Hematoma terjadi sebagai akibat dari kebocoran darah ke
jaringan

di

sekitar

tempat

penusukan.

Hal

ini

dapat

disebabkan karena pecahnya dinding vena, jarum bergeser ke


luar vena, dan tekanan yang diberikan inadekuat

setelah

jarum atau kateter dilepaskan (Smeltzer & Bare 2002).


Tanda dan gejala dari hematoma termasuk ekimosis,
pembengkakan segera dan kebocoran darah pada tempat
penusukan. Hematoma dapat dicegah dengan memasukkan
jarum secara hati-hati dan menggunakan perawatan yang
baik jika pasien mempunyai kelainan perdarahan, pasien yang
menerima antikoagulan, atau pasien dengan penyakit hati
yang sudah parah (Smeltzer & Bare 2002).
9. Bekuan (Clotting)
Bekuan pada jarum disebabkan karena selang IV yang
tertekuk, kecepatan aliran yang terlalu lambat, kantong IV
yang

kosong,

atau

tidak

memberikan

aliran

setelah

pemberian obat atau larutan intermiten. Tanda dan gejalanya


adalah penurunan kecepatan aliran dan aliran darah kembali
ke selang IV.

Jika terjadi bekuan, jalur IV harus dihentikan.

Perawatan terdiri dari tidak mengirigasi atau melakukan


pemijatan pada selang, tidak mengembalikan aliran dengan

meningkatkan kecepatan atau menggantung larutan lebih


tinggi, dan tidak melakukan aspirasi bekuan dari kanul.
Bekuan

pada

jarum

mungkin

dicegah

dengan

tidak

membiarkan kantong IV menjadi kosong, penempatan selang


untuk

mencegah

tertekuknya

selang,

mempertahankan

kecepatan aliran yang adekuat dan memberikan aliran pada


selang setelah pemberian medikasi atau larutan intermitten.