Anda di halaman 1dari 4

PERANAN KELUARGA

DALAM PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

Oleh :
Agustinus Suyoto, S.Pd
Guru SMU Stella Duce 2
Yogyakarta
ABSTRAKSI

Masalah degradasi moral sumber daya manusia Indonesia perlu segera mendapat penanganan
khusus. Hal ini berhubungan dengan masalah kesiapan bangsa kita dalam menyongsong era
globalisasi. Salah satu upaya penanganan khusus tersebut adalah melalui pendidikan budi pekerti.
Karena pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan nilai, pihak pertama yang paling cocok
memberikan budi pekerti adalah keluarga.
Permasalahannya adlah bagaimana keluarga dapat memberikan kontribusi pada pendidikan budi
pekerti. Untuk dapat memberikan kontribusi.pada pendidikan budi pekerti. Untuk dapat melaksanakan
pendidikan budi pekerti kita tidak dapat meminta setiap keluarga menjadi keluarga harmonis tanpa
masalah. Oleh sebab itu, kita harus berangkat dari kondisi riil keluarga di Indonesia. Dimana ada
keluarga yang sudah cukup harmonis, ada keluarga bermasalah, dan ada keluarga gagal. Namun
demikian, ada beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki keluarga apabila mau memberi pendidikan
budi pekerti secara efektif. Syarat tersebut adalah komitmen bersama untuk memperhatikan anak-
anaknya, keteladanan, dan komunikasi aktif. Sedangkan niali budi pekerti yang dapat diberikan dalam
keluarga adalah nilai ketrukunan, ketaqwaan, dan keimanan, toleransi, dan kepribadian sehat.
Jika seseorang telah memiliki dasar budi pekerti yang luhur dalam keluarga, pastilah ia akan mampu
mengatasi pengaruh yang tidak baik dari lingkungan sekitar. Dengan demikian peran keluarga dalam
pendidikan budi pekerti sangatlah besar.

1. PENDAHULUAN perguruan tinggi berlomba-lomba maningkatkan kualitas


Jauh sebelum kita memasuki tahun 2000, sidang Pleno ke XI sumber daya manusianya.
OIECmenyerukan empat nilai yang perlu ditekankan dalam Ternyata terbukti bahwa kita memang belum memiliki
menyongsong tahun 2000. keempat nilai universal tersebut sumber daya manusia yang berkualitas karena sumber daya
adalah hormat kepada sesama, kreativitas, solidaritas yang manusiakita gagal mengatasi krisis ekonomi , politik, sampai
bertanggung jawab dan kerohanian (Dick Hartoko, 1985:50). hampir-hampir mengakibatkan krisis moral bangsa.
Apabbila himbauan itu kita refleksiakn kembali pada saat ini, Jika masalah kemerosotan ini tidak segera diatasi,
rasa-rasanya tepatlah kekhawatiran banyak pihak yang terjadi perlahan-perlahan bangsa ini kan terjerumus pada kehancuran
saat itu, yaitu bahwa dunia akan dilanda degradasi moral yang lebih parah. Untuk itu perlu kiranya segera dicari cara
secara global apabila nilai-nilai universal seperti disebutkan di pemecahan yang terstruktur, efektif dan tepat sasran. Dengan
atas tetap tidak mendapat perhatian lebih. demikian dalam waktu yang relatif singkat kita mampu
Dalam hubungan dengan kondisi kemanusiaan di mengembalikan kualitas moral sumber daya manusia pada
Indonesia kita ketahui bahwa krisis ekonomi dan pilitik yang kondisi normal.
telah lebih dari tiga tahun ini, menimbulkan berbagai
permasalahan. Permasalahan yang kian menajam dan perlu PENTINGNYA PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
segera mendapat penanganan adalah masalah merosotnya DALAM ERA REFORMASI
moral sumber daya manusia. Banyak kasus yang menjadi Rasa-rasanya kita sepakat bahwa reformasi membawa
bukti akan merosotnya moralitas manusia Indonesia misalanya dampak dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
saja kasus pemerkosaan, maraknya pemakaian obat-obatan Sebagaimana semua perubahan , dampak perubahan ada
terlarang, pembunuhan,amuk masa dan masih banyak lagi. yang cenderung ke arah positif , tapi ada pula yang cenderung
Masalah kemerosotan moral manusia Indonesia itu ke arah negatif. Pengaruh positif yang selama ini dilihat adalah
menjadi semakin terlihat ironis ketika kita sedang gencar- iklim demokrasi dan kebebasan yang lebih baik dari masa
gencaarnya merencanakan peningkatan kualitas sumber daya sebelumnya. Sampai-sampai orang tidak memahamii
manusia dalam rangka menghadapi era globalisasi. pengaruh negatif dari reformasi karena perhatian terfokus
Peningaktan kualitas sumber daya manusia merupakan kunci pada masalah demokrasi.
kemampuan kita menghadapi era globalisasi karena jika tidak Jika saja reformasi tidak dibarengi dengan adanya
memilki sumber daya manusia yang handal tentu kita akan krisis ekonomi, politik dan pada akhirnya krisis moralitas, pasti
kalah bersaing di negeri sendiri manakala sumber daya lah reformasi akan menghasilkan kejayaan bagi bangsa kita .
manusia dari negara asing bebas masuk ke negara kita. Maka namun, ketika perhatian terfokus pada masalah keuntungan
dapat kita lihat betapa maraknya berbagai instansi maupun politis dari reformasi, orang menutup mata kan adanya bahaya
besar yang dihadapi bangsa kita. Bahaya besara dan kebudayaan Jawa istilah yang digunakan untuk menyebut
mendasar tersebut adalah krisis moralitas bangsa. hubungan kekeluargaan bertingkat sampai tujuh turunan.
Gejala-gejala ke arah krisis moralitas bangsa sudah Eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat
tampak jelas. Kasus Ambon dan Aceh, kerusuhan , Indonesia merupakan indikator kuatnya dominasi keluarga
pembakaran , dan pemerkosaan merupakan kasus-kasus dalam kehidupan seseorang. Norma-norma keluarga
monumental yang mengindikasikan adanya krisis moral tampaknya masih dijunjung tinggi. Bahkan sampai seseorang
bangsa. Sedangkan kasus-kasus lainnya seperti narkotika, membentuk keluarga sendiri pun, asal usul keluarganya masih
pemalsuan uang, utang konglomerat, lambannya penyelesaian selalu dibawa.
masalah KKN, pembunuhan , tawuran, pemogokan dan asal Dalam hubungannya dengan perkembangan
demostrasi merupakan indicator lebih jauh merosotnya moral seseorang, keluarga merupakan tempat pertama dan utama
bangsa. dalam perkembangan seseorang. Dikatakan tempat pertama
Rasanya kita sudah terlalu jenuhh dengan masalah karena seseorang pertama kali belajar bersosialisasi dan
krisis multidimensial ini. Untuk itu perlu segera dialakukan berkomunikasi dalam lingkungan keluarga ( Kaswanti Purwo,
upaya agar bangsa kita kembali pada keadaan semula 1990:101-103 ). Sejak masih dalam kandungan, kelahiran,
sehingga siap lebih cepat dalam menyambut perkemabangan masih bayi, masa kanak-kanak, remaja, samapai masa
dunia. Upaya yang sekiranya tepat dan langsung menyentuh dewasa, seseoranng tentu berinteraksi secara intensif dengan
hakikat dasar perkembangan suatu bangsa adalah upaya keluarga. Interaksi dengan keluarga baru mulai terbagi ketika
penanganan moralitas sumber daya manusia Indonesia. seseorang telah mengikatkan diri dengan orang lain dalam
Masyarakat Indonesia perlu disapa sehingga moralitasnya suatu perkawinan. Itu saja hubungan keluarga pasti tidak
normal kembali. terputus seratus persen.
Pihak yang sekiranya masih terlihat netral dalam Dikatakan menjadi tempat utama karena pola
menangani masalah moralitas sumber daya manusia ini dalah komunikasi dan tatanan nilai dalam suatu keluarga
lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan. Lembaga memberikan pengaruh sangat besar terhadap perilaku seorang
keagamaan tentu berkepentingan lansung dengan penigkatan anak ( Gordon,1984; 6 ). Misalnya saja keluarga yang
kualitas moral umat manusia. Karena berkepentingan lansung harmonis dan demokratis. Nilai keharmonisan dan demokratis
maka dengan sendirinya mereka akan berupaya keras untuk yang dimiliki keluarga itu tentu diwarisi oleh anak-anaknya.
menumbuhkan kesadaran dan meningkatakan kualitas moral Dalam bahasa Jawa ada peribahasa yang sangat sesuai
umatnya. Namun upaya mereka terbatas pada kontels religius dengan hal itu yaitu “Kacang mongso ninggali lanjaran”.
masing-masing agama. Artinya, perilaku anak kurang lebih sama dengan perilaku
Lembaga pendidikan rasanya lebih mampu orangtuanya.
menjangkau khalayak tanpa memandang golongan agama. Karena keluarga menduduki posisi sentral dalam
Pendididikan yang selam ini menawarkan kebenaran- perkembangan awal anak, banyak ahli memberikan perhatian
kebenaran ilmiah dan universal tampaknya lebih bisa masuk pada masalah hubungan harmonis orangtua dan anak. Hal ini
ke segala lapisan masyarakat. Lembaga ini juga bisa disebabkan oleh banyaknya kasus ketidak harmonisan
memainkan posisi strategi ketika masyarakat kita sudah mulai hubungan antara orangtua dan anak padahal dalam konteks
terpecah-pecah karena masalah keagamaan. perkembangan anak, orangtua berperan sangat besar
Karena pendidikan dipandang lebih masuk ke ( Gordon,1984 : 1-9 ).
berbagai lapisan dan golongan tanpa mempedulikan unsur Dalam konteks konseling terhadap para remaja di
SARA maka sudah layak dan sepantasnya jika lembaga SMU diketahui bahwa kasus-kasus yang berhubungan dengan
pendidikan dititipi masalah pendidikan budi pekerti. Dengan masalah budi pekerti anak biasanya dapat dilacak dari latar
masuknya pendidikan budi pekerti dalam pendidikan secara belakang keluarganya. Misalnya saja anak yang mempunyai
umum, hal itu berarti bahwa pendidikan budi pekerti dapat penyimpangan pergaulan biasanya latar belakang
dilaksanakan secara sistematis dan jangkauannya sangat luas. ketidakharmonisan keluarga. Atau ada anak yang kecanduan
Terlepas dari pro dan kontra masalah pendidikan budi narkoba karena kurangnya kasih sayang dari orangtua
pekerti yang jelas bagi praktisi pendidikan cara itulah yang mereka.
menjadi sumbangan terbaik dari dunia pendidikan. Tentu saja
pendidikan budi pekerti yang dimaksud bukan melulu 4. PERAN KELUARGA DALAM
pendidikan dalam arti formal, yaitu pendidikan yang PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
diselenggarakan oleh sekolah, melainkan pendidikan dalam
Seperti diketahui, pendidikan dapat dikelompokkan
arti luas, yaitu bahwa pendidikan dapat berlangsung dalam
menjadi tiga jenis, yaitu pendidikan informal, pendidikan formal
lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
dan pendidikan nonformal ( Tamsik Udin dan Sopandi, 1967 :
31-33 ). Pendidikan formal biasanya sangat terbatas dalam
. PERAN KELUARGA DALAM PERKEMBANGAN memberikan pendidikan nilai. Hal ini disebabkan oleh masalah
ANAK formalitas hubungan antara guru dan siswi. Pendidikan non
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat formal dalam perkembangannya saat ini tampaknya juga
yang memiliki tradisi kekerabatan yang panjang dan kompleks. sangat sulit memberikan perhatian besar pada pendidikan
Di beberapa daerah dikenal istilah nama marga yang nilai. Hal ini berhubungan dengan proses tranfornmasi budaya
menunjukkan adanya hubungan kekeluargaan. Di Jawa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita (Moedjanto,
walaupun jarang sekali digunakan nama marga tetapi Rahmanto, dan J. Sudarminto, 1992:141-142).
hubungan kekeluargaan tidak kalah eratnya dengan daerah Pihak yang masih dapat diharapkan adalah pendidikan
yang mempergunakan nama marga.Bahkan dalam informal yang terjadi dalam keluarga. Pendidikan dalam
keluarga sebenarnya menjadi sangat penting dalam konteks
pendidikan nilai karena keluarga merupakan tempat pertama Akibatnya walaupun mereka berada dalam satu rumah tetapi
bagi seseorang untuk berinteraksi dan memperoleh dasar- jarang sekali terjadi komunikasi langsung.
dasar budi pekerti yang baik (Ambroise, 1987: 28). Proses Jika ketiga prasarat pendidikan budi pekerti dalam
pendiduikan dalam keluarga terjadi secara wajar melalui keluarga di atas dapat terpenuhi, maka dapat diyakini bahwa
tranformasi nilai ini terjadi secara perlahan-lahan tetapi keluarga mampu berperan dalam pendidikan budi pekerti.
sistematis. Hal ini berhubungan dengan hakikat nilai yang Permasalahannya sekarang adalah nilai budi pekerti yang
bukan pertama-tama merupakan kebiasaan- kebiasaan yang manakah yang dapat ditanamkan dalam keluarga. Kiranya ada
mengarah pada kebaikan. empat nilai yang dapat ditanamkan dalam keluarga.
Yang menjadi permasalahan sat ini adalah bagaimana Pertama, nilai kerukunan. Kerukunan merupakan
keluarga berperan dalam memberikan pendidikan budi pekerti salahsatu perwujudan budi pekerti. Orang yang memiliki budi
pada anak dididk. Hal ini tentu tidak mudah mengingat kondisi pekerti luhur tentu lebih menghargai kerukunan dan
keluarga di negara kita sangat bervariasi. Secara umum kebersamaan daripada perpecahan. Jika dalam keluarga
kondisi keluarga di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam 3 sudah sejak dini ditanamkan nilai-nilai kerukunan itu dan anak
variasi. Pertama, keluarga harmonis. Yang dimaksud keluarga dibiasakan menyelesaikan masalah dengan musyawarah
harmonis disini adalah keluarga yang tidak memiliki masalah maka dalam kehidupan di luar keluarga mereka juga akan
yang begitu berarti baik dari segi masalah hubungan terbiasa menyelesaikan masalah perdasarkan
antarpribadi maupun masalah finansial. Kedua, keluarga permusyawarahan.
bermasalah. Yang dimaksud keluarga bermasalah disini Kedua, nilai ketakwaan dan keimanan. Ketagkawaan dan
adalah keluarga yang memiliki masalah baik masalah keimanan merupakan pengendali utapa budi pekerti.
hubungan antar pribadi atau masalah finansial. Ketiga, Seseorang yang memiliki ketagwaan dan keimanan yang
keluarga gagal. Yang dimaksud keluarga gagal disini adalah benar dan mendasar terlepas dari apa agamanya tentu akan
keluarga ynag mengalami kegagalna dalam membangun mewujudkannya dalam perilaku dirinya. Dengan demikian
keluarga sehinmgga keluarga menjadi terpecah belah. sangat tidak mungkin jika seseorang memiliki kadar ketakwaan
Karena kompleknya permasalah keluarga di negara kita, dan keimanan yang mendalam melakukan tindakan-tindakan
pendidikan yang diberikan pun tidak dapat disamaratakan. yang menunjukkan bahwa dirinya itu memiliki budi pekerti yang
Peran masing-masing keluarga dalam pendidikan budi pekerti sangat hina.
pun tidak dapat disamakan satu keluarga dengan keluaga lain. Ketiga, nilai toleransi. Yang dimaksud toleransi di sini
Namun demikian, ada beberapa prinsip yang rasanya harus terutama adalah mau memperhatikan sesamanya. Dalam
ada jika keluarha ingin berperan dalam pendidikan budi keluarga nilai toleransi ini dapat ditanamkan melalui proses
pekerti. saling memperhatikan dan saling memahami antaranggota
Pertama, komitmen keluarga untuk memperhatikan anak- keluarga. Jika berhasil, tentu hal itu akan terbawa dalam
anaknya. Terlepas dari apakha suatu keluarga merupakan pergaulannya.
keluarga harmonis, bermasalah, ataupun keluarga gagal , Keempat, nilai kebiasaan sehat. Yang dimaksud kebiasaan
komitmen untuk memperhatikan anak-anaknya menjadi kunci sehat di sini adalah kebiasaan-kebiasaan hidup yang sehat
pendidikan budi pekerti bagi keluarga. Walaupun suatu dan mengarah pada pembangunan diri lebih baik dari
keluarga merupakan keluarga yang tampaknya sangat sekarang. Penanaman kebiasaan pergaulan sehat ini tentu
harmonis tetapi jika kedua orang tuanya tidak memilki saja akan memberikan dasar yang kuat bagi anak dalam
komitmen untuk memperhatikan anak-anaknya maka anak- bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
anaknya akan kekeringan perhatian dan pengarahan.
Akibatnya bsa jadi anak akan mudah mendapat pengaruh PENUTUP
negatif dari lingkungan pergaulannya yang pada akhirnya Tinggi rendahnya budi pekerti seseorang tidak dapat
mengalami kemerosotan moral dan budi pekerti. Sebaliknya diukur hanya dari angka-angka seperti NEM hasil EBTANAS.
walaupun keluarga bermasalah, jika mereka punya komitmen Budi pekerti hanya bisa diukur dengan mengamati perilaku dan
besar untuk memperhatikan ank-anaknya, niscaya anak- perubahan perilaku seseorang. Pendidikan budi pekerti juga
anaknya akan berkembang sangat baik dan memiliki budi bukan pendidikan instant yang segera dapat diketahui
pekerti luhur. hasilnya. Mungkin saja nilai-nilai budi pekerti yang ditawarkan
Kedua, keteladanan. Proses pendidikan dalam keluarga saat ini baru terlihat hasilnya sepuluh tahun kemudian.
mengandalkan pada masalah keteladanan orangtua. Hal ini Satu hal yang menjadi kunci masalah pendidikan budi
berbeda dengan pola pendidikan sekolah yang lebih pekerti adalah bahwa kita harus sepakat bahwa moralitas SDM
menekankan pada pola indoktrinasi dan peluasan wawasan. bangs akita perlu segera dibenahi bagaimanapun caranya.
Jika dalam keluarga diberlakukan pola indoktrinasi dan Jika perlu, kita harus menanamkan ke dalam diri para pendidik
peraturan, maka keluarga justru akan menjadi tidak harmonis. dan orangtua bahwa kunci utama untuk mengatasi krisis
Bahkan bisa jadi anak justru akan menjadi agresif dan antipati berkepanjangan ini adalah dengan menaruh perhatian besar
terhadap keluarga. Akibatnya anak justru lebih kerasan tinggal pada pendidikan budi pekerti lewat segala bidang.
di luar rumah daripada berada di rumahnya sendiri. Jika
demikian artinya pendidikan budi pekerti dalam keluarga Daftar Pustaka
kurang berhasil. Ambroise, Yvon. 1987. “Pendidikan Nilai” dalam Pendidikan
Ketiga, komunikasi aktif. Kasus-kasus renggangnya Nonformal sebagai Pendidikan Orang Dewasa.
hubungan antara anak dan orang tua lebih banyak disebabkan Jakarta : LPPS-KWI.
oleh kurangnya komunikasi antara anak-orangtua. Karena Gordon, Thomas. 1984. Menjadi Orangtua Efektif. Jakarta :
kesibukan masing-masing, anggota keluarga jarang bertemua. Gramedia.
Hartoko, Dick. Ed. 1985. Memanusiakan Manusia Muda. Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. “Perkembangan Bahasa
Yogyakarta : Kanisius. Anak dari Lahir Sampai Masa Prasekolah” dalam
Hurlock, Elisabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu PELLBA 3, penyunting Bambang Kaswanti
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Purwo. Yogyakarta : Kanisius.
Edisi kelima. Jakarta : Erlangga. Sanggar Talenta. 1996. Biarkan Kami Bicara Tentang
Moedjanto, G, B. Rahmanto, dan J. Sudarminto. Ed. 1992. Orangtua dan Pergaulan. Yogyakarta : Kanisius.
Tantangan Kemanusiaan Universal. Yogyakarta : Udin, AM. Tamsik dan Sopandi. 1987. Ilmu Pendidikan.
Kanisius Bandung : Epsilon Grup.