Anda di halaman 1dari 82

PENTINGNYA BAHASA INDONESIA DALAM KEHIDUPAN

BERMASYARAKAT DAN PENGARUH BAHASA TERHADAP PERILAKU


MANUSIA

Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan


betapa
pentingnya
bahasa
dalam
kehidupan
bermasyarakat. Sebelum itu saya akan mendefinisikan
apa itu bahasa.
Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi sosial yang
mengkondisikan pikiran manusia tentang suatu masalah
yang berada di lingkungan sekitarnya, manusia berpikir
tentang suatu objek yang kemudian diubah bentuknya
ke dalam suatu simbol.
Kita kembali ke pokok permasalahan kita, apakah
penting
bahasa
indonesia
dalam
kehidupan
bermasyarakat?
Sesuai dengan definisi bahasa diatas dapat disimpulkan
bahwa bahasa indonesia sangat erat kaitannya dengan
kehidupan bermasyarakat. Dalam pergaulan sehari-hari
bahasa yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan
bahasa yang seharusnya digunakan. Seiring dengan
kemajuan zaman, bahasa indonesia mulai dipandang
sebelah mata oleh warga negara indonesia, masyarakat
mulai terpengaruh dengan bahasa asing yang menjadi
tren di ranah indonesia akhir-akhir ini.
Apalagi sejak adanya globalisasi bahasa inggris yang
mulai di wajibkan bagi seluruh warga di dunia untuk
mempelajarinya. Kurangnya kesadaran warga negara
indonesia juga menjadi faktor utama penyebab

pudarnya
bahasa
bermasyarakat.

indonesia

dalam

kehidupan

Masyarakat tidak menyadari betapa pentingnya bahasa


indonesia dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup
beberapa fungsi bahasa yaitu :
Untuk menyatakan ekspresi diri
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa
menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang
tersirat di dalam pikiran kita. Ada beberapa unsur yang
membuat manusia mengeluarkan ekspresi diri antara
lain :
-

Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita

- Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua


tekanan emosi.
Sebenarnya semua fungsi bahasa sebagai yang
dikemukakan di atas tidak terpisah satu sama lain dalam
kenyataan sehari-hari. Sehingga untuk menetapkan
dimana yang satu mulai dan di mana yang lain berakhir
sangatlah sulit. Pada taraf permulaan, bahasa pada
anak-anak sebagai berkembang sebagai alat untuk
menyatakan dirinya sendiri. Dalam buaian seorang bayi
sudah dapat menyatakan dirinya sendiri, ia menangis
bila lapar atau haus. Ketika mulai belajar berbahasa, ia
memerlukan kata-kata untuk menyatakan lapar, haus
dan sebagainya. Hal itu berlangsung terus hingga
seorang menjadi dewasa; keadaan hatinya, sukadukanya, semuanya coba diungkapkan dengan bahasa
agar tekanan-tekanan jiwanya dapat tersalur. Kata-kata
seperti, aduh, hai, wahai, dan sebagainya.

Sebagai Alat komunikasi


Komunikasi merupakan akibat dari ekspresi diri.
Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita
tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan
komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita
rasakan, pikirkan, dan kita ketahui kepada orang-orang
lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan
mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenekmoyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang
yang sejaman dengan kita.
Sebagai
alat
komunikasi,
bahasa
merupakan
penyampaian suatu maksud kita, melahirkan perasaan
kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama
dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam
aktivitas
kemasyarakatan,
merencanakan
dan
mengarahkan masa depan kita. Ia juga memungkinkan
manusia menganalisa masa lampaunya untuk memetik
hasil-hasil yang berguna bagi masa kini dan masa yang
akan datang.
Dalam pengalaman sehari-hari, atau katakanlah sejak
kecil hingga seorang meningkat dewasa, bahasa
perseorangan mengalami perkembangan, sejalan
dengan bertambahnya kenyataan-kenyataan atau
pengalaman-pengalaman
seseorang.
Bila
kita
membandingkan bahasa sebagai suatu sistem
keseluruhan dengan wujud dan fungsi bahasa yang
bertahap-tahap dalam kehidupan individual, yaitu wujud
dan fungsi yang terbatas pada masa kanak-kanak, serta
wujud dan fungsi bahasa yang jauh lebih luas pada

waktu seorang telah dewasa, maka dapatlah


dibayangkan betapa wujud dan fungsi bahasa itu sejak
awal mula sejarah umat manusia hingga kini. Bahasa itu
mengalami perkembangan dari jaman ke jaman sesuai
dengan perkembangan intelektual manusia dan
kekayaan cipta karya manusia sebagai hasil dari
kemajuan intelektual itu sendiri.
Untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa, di samping sebagai salah satu unsur
kebudayaan,
memungkinkan
pula
manusia
memanfaatkan
pengalaman-pengalaman
mereka,
mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalamanpengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orangorang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat
dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa
sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap
orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok
sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua
kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh
mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh
efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan
untuk memperoleh (pembauran) yang sempurna bagi
tiap individu dengan masyarakatnya.
Melalui bahasa seorang anggota masyarakat perlahanlahan belajar mengenal segala adat istiadat, tingkah
laku, dan tata karma masyarakatnya. Ia mencoba
menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya
melalui bahasa. Seorang pendatang bau dalam sebuah
masyarakat pun harus melakukan hal yang sama. Bila
ingin hidup dengan tentram dan harmonis dengan
masyarakat itu ia harus menyesuaikan dirinya dengan

masyarakat itu; untuk itu ia memerlukan bahasa, yaitu


bahasa
masyarakat
tersebut.
Bila
ia
dapat
menyesuaikan dirinya maka ia pun dengan mudah
membaurkan dirinya (integrasi) dengan segala macam
tata krama masyarakat tersebut.
Untuk mengadakan kontrol sosial
Yang dimaksud dengan kontrol sosial adalah usaha
untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk
orang-orang lain. Tingkah laku itu dapat bersifat terbuka
(overt; yaitu tingkah laku yang dapat diamati atau
diobservasi), maupun yang bersifat tertutup (covert;
yaitu tingkah laku yang tak dapat diobservasi)
Semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik
karena dapat diatur dengan mempergunakan bahasa.
Semua tutur pertama-tama dimaksudkan untuk
mendapatkan tanggapan, baik tanggapan yang berupa
tutur, maupun tanggapan yang berbentuk perbuatan
atau tindakan. Seorang pemimpin akan kehilangan
wibawa, bila bahasa yang dipergunakan untuk
menyampaikan intruksi atau penerangan kepada
bawahannya, adalah bahasa yang kacau dan tak
teratur.
Kekacauan
dalam
bahasanya
akan
menggagalkan pula usahanya untuk mempengaruhi
tingkah laku dan tindak-tanduk bawahannya.
Dalam mengadakan kontrol sosial, bahasa itu
mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi
suatu masyarakat.
Proses-proses sosialisasi itu dapat diwujudkan dengan
cara-cara berikut. Pertama, memperoleh keahlian
bicara, dan dalam masyarakat yang lebih maju,

memperoleh keahlian membaca dan menulis. Keahlian


berbicara dan keahlian menulis pada masyarakat yang
sudah maju, merupakan persyaratan bagi tiap individu
untuk mengadakan partisipasi yang penuh dalam
masyarakat tersebut. Kedua, bahasa merupakan
saluran yang utama di mana kepercayaan dan sikap
masyarakat diberikan kepada anak-anak yang tengah
tumbuh.
Disamping fungsi bahasa ada hal lain yang tidak kalah
pentingnya dalam bahasa indonesia yaitu, ragam
bahasa.
Ragam Bahasa
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa
kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa
Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai
kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata
baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa
Indonesia

baku

adalah

kosa

kata

baku

bahasa

Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia


ragam baku, yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan
berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia,
bukan

otoritas

lembaga

atau

instansi

di

dalam

menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi,


kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan
ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian,

tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata


ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain
asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam
yang bersangkutan.
Suatu

ragam

bahasa,

terutama

ragam

bahasa

jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk


menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku
agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna
bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu
diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku
yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan
(situasi

pembicaraan),

pelaku

bicara,

dan

topik

pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980).


Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi
berdasarkan :
1.

Media pengantarnya atau sarananya, yang

terdiri atas :
a.

Ragam lisan.

b. Ragam tulis.
Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh
pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan

yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau


memberi

sambutan,

dalam

situasi

perkuliahan,

ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya


dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam
kesempatan nonformal lainnya.
Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang
tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis
yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang
standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks,
majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat
menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah
remaja, iklan, atau poster.
2. Berdasarkan situasi dan pemakaian
Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam
bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan.
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna
kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh
situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan
makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh
situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi

pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam


penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan
kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata,
penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan
struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa
di dalam struktur kalimat.
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi
pemakaian

sehingga

kemungkinan

besar

terjadi

pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri


kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam
pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsurunsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam
struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam
ragam

baku

lisan

karena

situasi

dan

kondisi

pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami


makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda
tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan
dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam
bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat
disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai

ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis.


Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak
menunjukkan

ciri-ciri

ragam

tulis,

walaupun

direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa


itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua
ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan
memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam
bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata) :
1.

Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)

a.

Ragam bahasa lisan :

Nia sedang baca surat kabar

Ari mau nulis surat

Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.

Mereka tinggal di Menteng.

Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu


lintas.

Saya akan tanyakan soal itu


.

b.
-

Ragam bahasa Tulis :


Nia sedangmembaca surat kabar

Ari mau menulis surat

Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.

Mereka bertempat tinggal di Menteng

Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi


kemacetan lalu lintas.

2.

Akan saya tanyakan soal itu.


Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata :

a.

Ragam Lisan

Ariani bilang kalau kita harus belajar

Kita harus bikin karya tulis

Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak

b.

Ragam Tulis

Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar

Kita harus membuat karya tulis.

Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.


Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku
adalah ragam bahasa standar, semi standar dan
nonstandar.

a.

ragam standar,

b.

ragam nonstandar,

c.

ragam semi standar.

Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan


berupa

kaidah

dan

aturan

tetap.

Akan

tetapi,

kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap


luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang
kosakata,

peristilahan,

serta

mengizinkan

perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan


dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan
semi standar dilakukan berdasarkan :
a.

topik yang sedang dibahas,

b.

hubungan antarpembicara,

c.

medium yang digunakan,

d.

lingkungan, atau

e.

situasi saat pembicaraan terjadi

Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan


nonstandar :

penggunaan kata sapaan dan kata ganti,

penggunaan kata tertentu,

penggunaan imbuhan,

penggunaan kata sambung (konjungsi), dan

penggunaan fungsi yang lengkap.

Penggunaan

kata

sapaan

dan

kata

ganti

merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam


nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang
kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan
menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita
menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan
menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam
nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.

Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain


yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan
ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan
kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan
bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri
lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan
imbuhan secara jelas dan teliti.

Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata


depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam

ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata


depan

dihilangkan.

Kadang

kala,

kenyataan

ini

mengganggu kejelasan kalimat.


Contoh : (1) Ibu mengatakan, kita akan pergi besok
(1a) Ibu mengatakan bahwa kita akan pergi besok
Pada contoh (1) merupakan ragam semi standar dan
diperbaiki contoh (1a) yang merupakan ragam standar.
Contoh : (2) Mereka bekerja keras menyelesaikan
pekerjaan itu.
(2a)

Mereka

bekerja

keras

untuk

menyelesaikan pekerjaan itu.


Kalimat

(1)

kehilangan

kata

sambung

(bahwa),

sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan (untuk).


Dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan.
Hal ini menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk
ragam semi standar.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang
membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya,
ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena
situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian.
Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat
kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi

jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai,


Ida, mau ke mana? Pulang. Sering kali juga kita
menjawab

Tau.

untuk

menyatakan

tidak

tahu.

Sebenarnya, pmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi


tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya,
pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam
lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.
Selain fungsi dan ragam bahasa ada hal yang menurut
saya

sangat

penting

yaitu

EYD

(Ejaan

Yang

Disempurnakan).
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan penting sekali artinya dalam kaitannya dengan
penggunaan bahasa Indonesia produktif tulis. Dalam
tulis-menulis orang tidak hanya dituntut untuk dapat
menyusun kalimat dengan baik, memilih kata yang
tepat, melainkan juga mengeja kata-kata dan kalimat
tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku. Dalam
surat-surat pribadi dan kalimat catatan harian misalnya,
ketaatan dalam EYD tidak mutlak. Dalam karangan
ilmiah,

dalam

makalah,

dan

dalam

surat-surat

perjanjian, kaidah ejaan harus betul-betul ditaati.

Sebelum, EYD diumumkan, dalam tulis menulis


dipergunakan Ejaan Soewandi atau ejaan Republik.
Ejaan tersebut diumumkan berlakunya terhitung mulai
19 maret 1947. sebelum ejaan Soewandi berlaku Ejaan
Van Ophuysen yang ketentuannya dimuat dalam Kitab
Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku
Nawawi Gelar Soetan MaMur dan Muhammad Taib
Soetan Ibrahim. Ejaan ini dinyatakan mulai berlaku
sejak tahun 1901, sebelum ejaan Van Ophuysen berlaku
dalam tulis menulis dalam bahasa Melayu, digunakan
huruf Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf
Latin dengan ejaan yang tidak teratur.
berikut merupakan contoh perubahan EYD :
j berubah menjadi ch dan sekarang menjadi c
dj berubah menjadi j dan sekarang menjadi j
ch berubah menjadi kh dan sekarang menjadi kh
nj berubah menjadi ny dan sekarang menjadi ny
sj berubah menjadi sh dan sekarang menjadi sy
j berubah menjadi y dan sekarang menjadi y
oe* berubah menjadi u dan sekarang menjadi u
selain itu bahasa juga juga mempengaruhi perilaku
manusia, dalam hal ini Fodor(1974) mengatakan bahwa
bahasa adalah system symbol dan tanda. Yang
dimaksud dengan system symbol adalah hubungan
symbol dengan makna yang bersifat konvensional.
Sedangkan yang dimaksud dengan system tanda
adalah bahwa hubungan tanda dan makna bukan
konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri
tertentu yang dimiliki benda atau situasi yang dimaksud.
Dalam bahasa Indonesia kata cecak memiliki hubungan
kausal dengan referennya atau bintangnya. Artinya,

binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengaran


seperti cak-cak-cak. Oleh karena itu kata cecak disebut
tanda bukan symbol. Dari penjelasan yang dikatakan
Foder tersebut belum terlihat adanya kejelasan tentang
makna dari pengungkapan bahasa. Maka dengan itu
dijelaskan kembali oleh Bolinger, Bolinger(1981)
menyatakan bahwa bahasa memiliki system fonem,
yang terbentuk dari distinctive features bunyi, sistem
morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapan makna
bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang
dimaksud engan dunia luar adalah dunia di luar bahasa
termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam
pengertian
seperti
inilah
disebut
realita.
Penjelasan Bolinger(1981) tersebut menunjukkan
bahwa makna adalah hubungan antara realita dan
bahasa. Sementara realita mencakup segala sesuatu
yang berada diluar bahasa. Realita itu mungkin terwujud
dalam bentuk abstraksi bahasa, karena tidak ada
bahasa tanpa makna. Sementara makna adalah
hubungan
bahasa
dan
realita.
2.
Bahasa
dan
perilaku
Seperti yang telah diuraikan diatas, dalam bahasa selalu
tersirat realita. Sementara perilaku selalu merujuk pada
perilaku selalu merujuk pada pelaku komunikasi.
Komunikasi bisa terjadi jika proses decoding dan
encoding berjalan dengan baik. Kedua proses ini dapat
berjalan dengan baik, jika baik encoder mupun decoder
sama-sama
memilki
pengetahuan
dunia
dan
pengetahuan bahasa yang sama. (Omaggio, 1986).

Dengan memakai pengertian yang diberikan oleh


Bolinger(1981) tentang realita, pengetahuan dunia dapat
diartikan
identik
dengan
pengetahuan
realita.
Bagaimana manusia memperoleh bahasa. Sedangkan
pemerolehan pengetahuan dunia (realita) atau proses
penghubungan bahasa dan realita pada prinsipnya
sama, yakni manusia memperoleh representasi mental
realita melalui pengalaman yang langsung atau melalui
pemberitahuan orang lain. Misalnya seseorang
menyaksikan sebuah kecelakaan terjadi, orang tersebut
akan memiliki representasi mental tentang kecelakaan
tersebut dari orang yang langsung menyaksikan juga
akan membentuk representasi mental tentang
kecelakaan tadi. Hanya saja terjadi perbedaan
representasi mental pada kedua orang itu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa
sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia,
terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Karena tutur
kata yang baik sangat diperlukan dimanapun kita
berada. Hal ini membuktikan bahasa sangat
berpengaruh terhadap perilaku masing-masing individu
terhadap lingkungan di sekitarnya.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara yang beraneka ragam, kaya akan Sumber Daya
Alam maupun Sumber Daya Manusia. Negara ini memiliki Beribu - ribu kepulauan
dari Sabang hingga Merauke. Bahasa dan adat istiadat pun juga beragam. "Walau
berbeda - beda tetapi satu jua". Maka itu Indonesia menetapkan Bahasa Persatuan.
Yaitu Bahasa Indonesia, yang bisa digunakan oleh setiap daerah untuk saling

mengenal dari Sabang hingga Merauke. Maka itu dalam Karya Ilmiah ini, penulis
mengambil judul "Pentingnya Bahasa Indonesia bagi Negara Indonesia".

B. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini Pentingnya Bahasa Indonesia maka masalahnya
dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari Bahasa Indonesia ?
2. Mengapa penting sekali mempelajari Bahasa Indonesia ?

II. TEORI
Sesuai dengan judul Tulisan ini yaitu "Pentingnya Bahasa Indonesia bagi Negara
Indonesia" maka dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Definisi dari Bahasa Indonesia
2. Faktor - faktor adanya Bahasa Indonesia?

III. PEMBAHASAN
III.1 Definisi Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan komunikasi antara seseorang dengan orang lain sehingga
membentuk sebuah interaksi melahirkan pemahaman antara keduanya.
Bahasa juga dapat diibarat sebuah remote control yang dapat menyetel manusia
tertawa, sedih, menangis, lunglai, semangat dsb. Bahasa juga dapat digunakan
untuk memasukkan gagasan -gagasan ke dalam pikiran manusia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang dipakai Indonesia. Sebagai warga
Negara Indonesia pasti sadar diri, betapa banyaknya ragam bahasa Indonesia
III.2. Faktor factor pentingnya mempelajari Bahasa Indonesia
Betapa pentingnya sebuah bahasa dalam kehidupan sehari - hari. Lain daerah
maka lain pula bahasanya. Orang Sumatera memiliki bahasa sendiri, orang Jawa
memiliki bahasa sendiri, orang Kalimantan memiliki bahasa sendiri. Dan ragam
bahasa itu menjadi kebanggaan kita sebagai warga Negara Indonesia.
Ada beberapa alasan, mengapa kita perlu belajar bahasa Indonesia:

1.Bahasa menunjukkan bangsa.


Sebuah ungkapan atau sebuah pepatah yang memakai 2 unsur atau kata pokok
yaitu bahasa dan bangsa. Dari dua unsur dapat disimpulkan 3 arti yaitu:
1. tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka.
2. kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya.
3. bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa
pemilik bahasa tersebut.
2. Ilmu Pengetahuan
Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu kita harus belajar bahasaIndonesia. Sejak
kecil kita sekolah mulai dari sekolah di tingkat dasar, menengah, atas dan sampai
kuliah. Ilmu itu di ajarkan dalam bahasa Indonesia. Kalau dulu kita belajar dari orang
lain, kini giliran kita untuk mengajarkan kepada orang lain. Bagaimana kita dapat
mengajarkan kepada orang lain sedangkan bahasa Indonesia kita berantakan.
Apakah ada media lain selain bahasa tulisan untuk kita berbagi ilmu pengetahuan ?
tentu tidak, maka dari itu kita di tuntut untuk melatih agar bahasa Indonesia kita baik
dan sesuai dengan EYD. Kita tidak dituntut 100% baik dalam EYD tetapi separuhnya
juga boleh dan yang paling penting selalu berlatih.
3. Sebelum mempelajari struktur bahasa Asing, pelajari dulu struktur bahasa
sendiri
Jadi aneh kalau orang Indonesia bahasa Inggrisnya baik dan struktur bahasanya
bagus, tapi di kasih untuk menulis dalam bahasa Indonesia jadi berantakan. Maka
dari itu pondasi awal untuk mempelajari bahasa asing baik itu bahasa Inggris,
Jerman, Belanda, Jepang dan lain sebagainya maka dari itu pelajari dulu struktur
bahasa Indonesia dulu baru lanjut belajar strukrur bahasa Asing.

4. Bahasa Nasional
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat
fungsi:
1. lambang kebanggaan nasional,
2. lambang identitas nasional,
3. alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, dan
4. alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan
latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing.
Fungsi pertama

mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita.


Berdasarkan kebanggaan inilah, bahasa Indonesia kita pelihara dan kita
kembangkan.
Fungsi kedua mengindikasikan bahwa bahasa Indonesia -sebagaimana halnya
lambang lain, yaitu bendera merah putih dan burung garuda- mau takmau suka
taksuka harus diakui menjadi bagian yang takdapat dipisahkan dengan bangsa
Indonesia.
Fungsi ketiga memberikan kewenangan kepada kita berkomunikasi dengan siapa
pun memakai bahasa Indonesia apabila komunikator dan komunikan mengerti.
Fungsi keempat mengajak kita bersyukur kepada Tuhan karena kita telah memiliki
bahasa nasional yang berasal dari bumi kita sendiri sehingga kita dapat bersatu
dalam kebesaran Indonesia.
5. Bahasa Negara
Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara memiliki empat
fungsi yang saling mengisi dengan ketiga fungsi bahasa nasional. Keempat fungsi
bahasa negara adalah sebagai berikut:
1. bahasa resmi kenegaraan,
2. bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan,
3. alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, dan
4. alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Fungsi pertama bahasa Indonesia wajib digunakan di dalam upacara, peristiwa,


dan kegiatan kenegaraan, baik lisan maupun tulisan. Begitu juga dalam penulisan
dokumen dan putusan serta surat-surat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan
badan-badan kenegaraan.
Fungsi kedua mengharuskan lembaga-lembaga pendidikan menggunakan
pengantar bahasa Indonesia. Lembaga pendidikan mulai taman kanak-kanak
sampai perguruan tinggi mau takmau dalam pelajaran atau mata kuliah apa pun
pengantarnya adalah bahasa Indonesia.
Fungsi ketiga
engajak kita menggunakan bahasa Indonesia untuk membantu kelancaran
pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang.
Fungsi keempat mengingatkan kita yang berkecimpung dalam dunia ilmu. Tentu
segala ilmu yang telah kita miliki akan makin berguna bagi orang lain jika kita

sebarkan kepada saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air di seluruh pelosok
Nusantara, atau bahkan jika memungkinkan kepada saudara kita di seluruh dunia

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah Bahwa Bangsa Indonesia memang
sangat Penting sekali untuk dipelajari. Karena Bahasa Indonesia merupakan alat
komunikasi yang paling penting antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya. Dengan
adanya Bahasa Indonesia, persatuan sesama bangsa bisa erat dalam kerjasama
dan bisa mempermudah komunikasi karena saling mengerti antar sesama bangsa.
Selain itu Bahasa Indonesia juga merupakan kepribadian dari Negara Indonesia di
mata Negara lain.

Pentingnya Mempelajari Bahasa Indonesia


Paragraf Deduktif
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia yang digunakan
oleh bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia yang baik tentunya kita harus memahami
dan menguasai bahasa kita sendiri. Karena di negara kita memiliki beragam bahasa mungkin
kita sulit untuk mempelajari semuanya, sehingga ditetapkanlah bahasa pokok yang kita
gunakan di negara kita yaitu Bahasa Indonesia. Keragaman bahasa tersebut disebabkan oleh
asal daerah, sarana, serta konteks pemakaiannya. Mulai dari murid TK, SD, SMP, SMA,
Mahasiswa dan orang tua sekalipun diajarkan cara berbicara dengan menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik.
Paragraf Induktif
Baik Pulau Jawa, Pulau Sumatra, dan Pulau Kalimantan, bahasa yang digunakan
pada umumnya adalah Bahasa Indonesia. Walaupun mereka mempunyai bahasa khasnya
masing-masing, tetapi Bahasa Indonesia pun tetap digunakan untuk berbicara dengan
masyarakat yang berbeda pulau. Tidak mungkin kita berbicara dengan masyarakat yang
berbeda Pulau menggunakan bahasa khasnya, tentu mereka tidak akan saling mengerti bahasa
yang disampaikannya. Tidak hanya dengan ekspresi dan gerakan tubuh saja, kita pun bisa
menyampaikan sesuatu dengan bahasa. Sehingga alat komunikasi yang digunakan oleh
mereka yaitu Bahasa Indonesia agar kita bisa lebih mudah berkomunikasi.

Paragraf Analogi
Setiap murid di Indonesia harus mempelajari Bahasa Indonesia. Kita harus mencintai
bahasa tanah air kita. Seperti pribahasa tak kenal maka tak sayang. Jika kita tidak bisa
memahami Bahasa Indonesia maka tidak cinta terhadap bahasa sendiri. Setiap negara
tentunya memiliki bahasanya masing masing, begitu pula Bahasa Indonesia sebagai ciri khas
bahasa yang digunakan di Negara Indonesia.
Paragraf Deskripsi
Belajar bahasa Indonesia sangatlah penting. Belajar Bahasa Indonesia pun dapat
menambah wawasan dan pola pikir manusia. Untuk melatih berbicara, maka kita harus
pahami dan pelajari Bahasa Indonesia. Dengan belajar Bahasa Indonesia kita dapat
mengetahui cara berbicara yang sopan kepada orang yang lebih tua dari kita atau yang lebih
muda dari kita sekalipun. Dengan mempelajari Bahasa Indonesia kita dapat mengekspresikan
sikap dan perasaan kita. Dengan belajar Bahasa Indonesia, kita dapat menyatakan
kegembiraan, kesedihan, harapan dan juga perasaan yang lainnya yang kita rasakan.
Paragraf Campuran
Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan belajar. Dengan adanya bahasa kita dapat
berpikir secara abstrak. Mahasiswa umumnya, membuat skripsi menggunakan bahasa
Indonesia. Sehingga dalam perkuliahan pun terdapat mata kuliah Bahasa Indonesia.
Mahasiswa diajarkan cara penulisan skripsi sesuai dengan EYD, dan diajarkan pula cara
penyampaian dengan menggunakan tutur kata yang baik. Skripsi pun ditulis dengan bahasa
yang baku. Dengan ini, belajar Bahasa Indonesia menjadi sangat penting untuk dipelajari.

PENTINGNYA BAHASA INDONESIA DALAM KEHIDUPAN SEHARIHARI


Bahasa dimiliki setiap Negara dan Daerah selalu berbeda-beda. Bahasa
itu sendiri menjadi ciri khas setiap Negara dan Daerah tersebut. Di Negara kita
Indonesia , banyak sekali bahasa yg di gunakan, setiap pulau selalu berbeda-beda
bahasa yang di gunakannya. Akan tetapi, bahasa pemersatu kita ialah Bahasa
Indonesia. Dimana telah di sebutkan di semboyan Negara kita BHINEKA TUNGGAL
IKA.
BHINEKA TUNGGAL IKA itu sendiri memiliki arti WALAUPUN BERBEDABEDA TETAP SATU TUJUAN. Tapi sangat di sayangkan banyak masyarakat-

masyarakat pedalaman yang tidak bisa berbahasa Indonesia, itu pernah saya alami
sewaktu saya sedang di Yogyakarta. Orang tua- orang tua di sana banyak yang tidak
mengerti bahasa Indonesia, mereka menggunakan bahasa daerahnya yaitu bahasa
Jawa.
Seberapa pentingkah bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari kita ?
mungkin menurut saya, sangat lah penting sekali. Lihat dari fungsi bahasanya
sendiri itu bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi, jika kita
tidak mengerti bahasa Indonesia, bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orangorang yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia !
Dilihat dari bacaan di atas yang terekam betul betapa pentingnya kita
menggunakan bahasa Indonesia, apalagi menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) . Tidak sedikit orang asli
Indonesia sendiri yang masih sangat kurang mengerti dalam penggunaan EYD.
Mungkin di sebabkan oleh faktor-faktor seperti pergaulan, kebiasaan menggunakan
bahasa daerah dll.
Seperti contoh yang telah saya berikan di atas, masih banyak masyarakat
pedalaman yang tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, mereka lebih terbiasa
menggunakan bahasa daerah mereka sendiri. Hal yang seperti itu sangatlah di
sayangkan sekali. Tidaklah masyarakat pedalaman saja, sekarang banyak pemudapemudi yang dalam penggunaan bahasa Indonesianya tidak sesuai EYD, mereka
lebih senang menggunakan bahasa sehari-hari mereka (bahasa gaul).
Bahasa gaul itu sekarang sudah tidak lumrah lagi untuk di dengar, seperti
kata GUA,LU kata itu mereka gunakan untuk pengganti kata SAYA, KAMU .
Mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Mereka dan saya sendiri pun mengakui
selalu menggunakan bahasa tersebut dalam pergaulan sehari-hari.
Seberapa sulitkah berbahasa Indonesia dengan EYD ? EYD biasanya
sangatlah penting ketika kita membuat artikel,proposal,skirpsi dll yang bersifat
formal. Kita tidak lah mungkin menggunakan bahasa gaul kita untuk yang bersifat
formal tersebut. Tidaklah sulit untuk menggunakan bahasa dengan EYD, hanya saja
sedikit perlu teliti dalam penggunaannya.
Bahasa Indonesia EYD pun sangatlah sopan jika kita pakai sehari-hari.
Berbeda dengan kita menggunakan bahsa gaul. Hanya saja kita akan merasa baku
untuk mengucapnya dan mendengarnya. Karena kita terbiasa dengan bahasa gaul
dan bahasa daerah yang setiap saat kita dengar.
Dengan kita berbahasa Indonesia EYD, kita bisa dengan mudah
berkomunikasi dengan orang-orang yang mungkin terbiasa dengan bahasa
Indonesia EYD tersebut. Kita bisa menjadi lebih sopan, dan kita akan lebih di hargai
oleh orang tersebut. Tidak bosan-bosannya kita bertemu pelajaran bahasa Indonesia
yang sejak SD telah kita pelajari. Tapi mengapa kita tetap saja sulit untuk
menggunakan bahasa Indonesia EYD tersebut ? padahal sudah berapa tahun kita
mempelajarinya.

SEJARAH, FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA


A. Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang
bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara sejak
abad-abad awal penanggalan modern. Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi
ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar
ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan
Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya
sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi,
dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o"
sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi
beragam. Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat
dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan
bahasa Belanda untuk para pegawai pribumi dinilai lemah. Pada awal abad ke-20 perpecahan
dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat.
Pada tahun 1901, Indonesia sebagai Hindia-Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen
dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di
bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan
Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan
Mamoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Kemudian pada tahun 1908 Pemerintah
Hindia-Belanda (VOC) mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi
nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat). Intervensi pemerintah
semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat"
- KBR) pada tahun 1908, yang kemudian pada tahun 1917 ia diubah menjadi Balai Pustaka.
Balai itu menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku
penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu
penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "Bahasa Persatuan Bangsa" pada saat
Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa
nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah.
Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan
kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu
bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan
menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh
sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir
Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak
mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
Pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang
tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh
kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan
Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta. Kongres
tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan
bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini
berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para
pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan

bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan
pandangannya dalam kongres ini.

B. Peristiwa Penting dalam Perkembangan Bahasa Indonesia


Pada tahun 1908 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Commissie voor de Volkslectuur
melalui Surat Ketetapan Gubernemen tanggal 14 September 1908 yang bertugas
mengumpulkan dan membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di
kalangan rakyat, serta menerbitkannya dalam bahasa Melayu setelah diubah dan
disempurnakan. Kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka.
Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal
ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa
Indonesia.
Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu
menjadi bahasa persatuan Indonesia.
Tahun 1933 terbit majalah Pujangga Baru yang diasuh oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir
Hamzah, dan Armijn Pane. Pengasuh majalah ini adalah sastrawan yang banyak memberi
sumbangan terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Pada masa Pujangga Baru
ini bahasa yang digunakan untuk menulis karya sastra adalah bahasa Indonesia yang
dipergunakan oleh masyarakat dan tidak lagi dengan batasan-batasan yang pernah dilakukan
oleh Balai Pustaka.
Tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan
Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan
budayawan terkemuka pada saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr.
Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa
keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia.
Keputusan tersebut, antara lain: mengganti Ejaan van Ophuysen, mendirikan Institut Bahasa
Indonesia, dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam Badan
Perwakilan.
Tahun 1942-1945 (masa pendudukan Jepang), Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda
yang dianggapnya sebagai bahasa musuh. Penguasa Jepang terpaksa menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa resmi untuk kepentingan penyelenggaraan administrasi
pemerintahan dan sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan, sebab bahasa Jepang
belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Hal yang demikian menyebabkan bahasa
Indonesia mempunyai peran yang semakin penting.
18 Agustus 1945 bahasa Indonesia dinyatakan secara resmi sebagai bahasa negara sesuai
dengan bunyi UUD 1945, Bab XV pasal 36: Bahasa negara adalah bahasa Indonesia.
19 Maret 1947 (SK No. 264/Bhg. A/47) Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Mr.
Soewandi meresmikan Ejaan Republik sebagai penyempurnaan atas ejaan sebelumnya. Ejaan
Republik ini juga dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.
Tahun 1948 terbentuk sebuah lembaga yang menangani pembinaan bahasa dengan nama Balai
Bahasa. Lembaga ini, pada tahun 1968, diubah namanya menjadi Lembaga Bahasa Nasional
dan pada tahun 1972 diubah menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang
selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Pusat Bahasa.
28 Oktober s.d. 1 November 1954 terselenggara Kongres Bahasa Indonesia II di Medan,
Sumatera Utara. Kongres ini terselenggara atas prakarsa Menteri Pendidikan Pengajaran dan
Kebudayaan, Mr. Mohammad Yamin.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 tahun 1972 diresmikan ejaan baru yang berlaku
mulai 17 Agustus 1972, yang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Tap.MPR
No. 2/1972.

10 s.d. 14 25 s.d. 28 Februari 1975 di Jakarta diselenggarakan Seminar Politik Bahasa


Indonesia. Tahun 1978, bulan November, di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa
Indonesia III. Tanggal 21 s.d. 26 November 1983 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia IV
di Jakarta. Tanggal 27 Oktober s.d. 3 November 1988 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia
V di Jakarta. Tanggal 28 Oktober 2 November 1993 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia
VI di Jakarta.
Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di
Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini
selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak
tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55.
Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus
lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan
Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di
Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh
Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia,
Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan
dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada
pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia.
Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di
Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari
mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia,
Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga
Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel
Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

C. Beberapa Fungsi dalam Bahasa Indonesia


1.
a.
b.
c.
d.
2.
a.
b.
c.
d.
3.
a.
b.
c.
d.

Fungsi Bahasa Indonesia Baku :


Sebagai pemersatu : dalam hubungan sosial antar manusia
Sebagai penanda kepribadian mengungkapkan perasaan & jati diri
Sebagai penambah wibawa : menjaga komunikasi yang santun
Sebagai kerangka acuan : dengan tindak tutur yang terkontrol
Secara umum sebagai alat komunikasi lisan maupun tulis.
Menurut Santoso, dkk. (2004) bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai
berikut:
Fungsi informasi mengungkapkan perasaan
Fungsi ekspresi diri perlakuan terhadap antar anggota masyarakat
Fungsi adaptasi dan integrasi berhubungan dengan sosial
Fungsi kontrol social mengatur tingkah laku
Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:
Fungsi instrumental untuk memperoleh sesuatu
Fungsi regulatoris : untuk mengendalikan prilaku orang lain
Fungsi intraksional untuk berinteraksi dengan orang lain
Fungsi personal : untuk berinteraksi dengan orang lain

e. Fungsi heuristik untuk belajar dan menemukan sesuatu


f. Fungsi imajinatif untuk menciptakan dunia imajinasi
g. Fungsi representasional untuk menyampaikan informasi

D. Kedudukan Bahasa Indonesia


1. Sebagai Bahasa Nasional
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional diperoleh sejak awal kelahirannya,
yaitu tanggal 28 Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia dalam
kedudukannya sebagai bahasa nasional sekaligus merupakan bahasa persatuan. Adapun
dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional , bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai
berikut. Lambang jati diri (identitas). Lambang kebanggaan bangsa. Alat pemersatu berbagai
masyarakat yang mempunyai latar belakang etnis dan sosial-budaya, serta bahasa daerah
yang berbeda. Alat penghubung antarbudaya dan antardaerah
2. Sebagai Bahasa Resmi/Negara
Kedudukan bahasa Indonesia yang kedua adalah sebagai bahasa resmi/negara; kedudukan ini
mempunyai dasar yuridis konstitusional, yakni Bab XV pasal 36 UUD 1945. Dalam
kedudukannya sebagai bahasa resmi/negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut.
Bahasa resmi negara . Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. Bahasa resmi
dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan serta pemerintahan. Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan
pemanfaatan ilmu dan teknologi.

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia


1) Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka
Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa
Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa
yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar
Nusantara.
Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai
peninggalan-peninggalan misalnya:
Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.

Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.

Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.

Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.

Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:


1. Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan
sastra.
2. Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia

3. Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang
berasal dari luar indonesia.
4. Bahasa resmi kerajaan.
Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama
Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya
karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa
perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan.
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong
tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para
pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat
bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa
indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari
berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:
1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air
Indonesia.
2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
3. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.
Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama Sumpah Pemuda. Unsur yang ketiga dari
Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia merupakan bahasa
persatuan bangsa indonesia. Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan kedudukannya
sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara
pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan
sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan
bahwa Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi
bahasa indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia di pakai
oleh berbagai lapisan masyarakat indonesia.
Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahas persatuan bangsa
indonesia. Bahasa indonesia di resmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan
Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di
Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagi bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik,
bahasa indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai
adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja
di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.
Penamaan Bahasa Indonesia di awali sejak di canangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1928, untuk menghindari kesan Imperialisme bahasa apabila nama bahasa Melayu tetap di
gunakan.

Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu
yang di gunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia
merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui
penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Meskipun di pahami
dan di tuturkan oleh lebih dari 90% warga indonesia, bahasa indonesia bukanlah bahasa ibu
bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia menggunakan salah satu dari
748 bahasa yang ada di indonesia sebagai bahasa Ibu. Penutur Bahasa indonesia kerap kali
menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampur adukkan dengan dialek Melayu
lainnya atau bahasa Ibunya.
Meskipun demikian , bahasa indonesia di gunakan di gunakan sangat luas di perguruanperguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai
forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa indonesia di gunakan oleh
semua warga indonesia. Bahasa Melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara serta
makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang
dipakai didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak
budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari
bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.
Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.
Perkembangan bahasa Melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong
tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komikasi rasa persaudaraan
dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu
menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan
untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh
bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan
penuh dengan tantangan.
Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya
sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri cultural, yang ke
dalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.
Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia,
yaitu:
1. Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan
dan bahasa perdagangan.
2. Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu
tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
3. Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa
melayu menjadi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan
dalam arti yang luas.
1. Fungsi Bahasa Indonesia
Secara umum fungsi bahsa sebagai alat komunikasi: lisan maupun tulis

Santoso, dkk. (2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat komunikasi


memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Fungsi informasi
b) Fungsi ekspresi diri
c) Fungsi adaptasi dan integrasi
d) Fungsi kontrol sosial
2. Fungsi Bahasa Indonesia
Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk
keperluan:
a) Fungsi instrumental, bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu
b) Fungsi regulatoris, bahasa digunakann untuk mengendalikan prilaku orang lain
c) Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
d) Fungsi personal, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang
lain
e) Fungsi heuristik, bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan
sesuatu
f) Fungsi imajinatif, bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi
g) Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi
3. Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus, yaitu:
a) Bahasa resmi kenegaraan
b) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
c) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah
d) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Fungsi Bahasa Indonesia
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mempunyai fungsi:
a) Bahasa resmi kenegaraan
b) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
c) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah
d) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
5. Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga
perlu dibakukan atau distandarkan.

a) Ejaan Van Ophuijen (1901)


b) Ejaan Soewandi (1947)
c) Ejaan yang Disempurnakan (EYD, tahun 1972)
d) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman
Istilah (1975)
e) Kamus besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
(1988)
6. Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki fungsi-fungsi yang dimiliki oleh bahasa baku, yaitu:
a) Fungsi pemersatu, bahasa Indonesia memersatukan suku bangsa yang
berlatar budaya dan bahasa yang berbeda-beda
b) Fungsi pemberi kekhasan, bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan
bahasa yang lain
c) Fungsi penambah kewibawaan, bagi orang yang mahir berbahasa indonesia
dengan baik dan benar
d) Fungsi sebagai kerangka acuan, bahasa baku merupakan norma dan kaidah
yang menjadi tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan
penggunaan bahasa atau ragam bahasa

PERANAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

Fungsi Bahasa Indonesia


Secara umum fungsi bahsa sebagai alat komunikasi: lisan maupun tulis
Santoso, dkk. (2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi
sebagai berikut:
a) Fungsi informasi
b) Fungsi ekspresi diri
c) Fungsi adaptasi dan integrasi
d) Fungsi kontrol sosial
Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:
a) Fungsi instrumental, bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu
b) Fungsi regulatoris, bahasa digunakann untuk mengendalikan prilaku orang lain
c) Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
d) Fungsi personal, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
e) Fungsi heuristik, bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu

f) Fungsi imajinatif, bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi


g) Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus, yaitu:
a) Bahasa resmi kenegaraan
b) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
c) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional
serta kepentingan pemerintah
d) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mempunyai fungsi:
a) Bahasa resmi kenegaraan
b) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
c) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional
serta kepentingan pemerintah
d) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga perlu dibakukan
atau distandarkan.
a) Ejaan Van Ophuijen (1901)
b) Ejaan Soewandi (1947)
c) Ejaan yang Disempurnakan (EYD, tahun 1972)
d) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Istilah
(1975)
e) Kamus besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988)
Bahasa Indonesia memiliki fungsi-fungsi yang dimiliki oleh bahasa baku, yaitu:
a) Fungsi pemersatu, bahasa Indonesia memersatukan suku bangsa yang berlatar budaya dan
bahasa yang berbeda-beda
b) Fungsi pemberi kekhasan, bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa yang
lain
c) Fungsi penambah kewibawaan, bagi orang yang mahir berbahasa indonesia dengan baik
dan benar
d) Fungsi sebagai kerangka acuan, bahasa baku merupakan norma dan kaidah yang menjadi
tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan penggunaan bahasa atau ragam
bahasa
Peranan dan fungsi bahasa indonesia Dalam kehidupan sehari-hari
kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa
Indonesia. itulah penggalan dari isi Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober
1928. Lahirnya Sumpah pemuda merupakan sebuah awal menjadikannya bahasa Indonesia
sebagai bahasa Negara.
Dalam era globalisasi, kita sebagai warga negara indonesia sudah sepantasnya bangga dan
menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, yaitu bahasa indonesia. jati diri bahasa Indonesia

perlu dibina dan dimasyarakatkan. Hal ini diperlukan, agar bangsa indonesia tidak terbawa
arus oleh pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia.
bahasa indonesia memiliki fungsi sbb :
1. Sebagai Bahasa Nasional
Sebagailambang kebanggaan dan identitas nasional, Bahasa persatuan kita, memiliki nilainilai sosial budaya luhur bangsa yang harus dipertahankan dan direalisasikan dalam
kehidupan sehari-hari tanpa ada rasa renda diri, malu, dan acuh tak acuh. Indonesia memiliki
banyak budaya dan bahasa yang berbeda-beda hampir di setiap daerah. Pastinya, tidak akan
mungkin kita bisa saling memahami ketika berkomunikasi antar sesama. Oleh karena itulah
betapa pentingnya kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa dan sebagai
alat penghubungan antarbudaya dan daerah.
2. Bahasa Negara
Dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakandi Jakarta
pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai
bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai : bahasa dalam perhubungan pada
tingkat nasional untuk kepentinganperencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta menjadi
bahasa resmi kenegaraan, pengantar di lembaga-lembaga pendidikan/ pemanfaatan ilmu
pengetahuan, pengembangan kebudayaan, pemerintah dll.
fungsi itu harus dilaksanakan, sebab itulah ciri penanda bahwa suatu bahasa dapat dikatakan
berkedudukan sebagai bahasa negara.
Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan
diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia
harus mempersiapkan diri dengan baik dan harus bangga menggunakan bahasa indonesia
dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau kita cermati, sebenarnya ada satu lagi fungsi bahasa yang selama ini kurang disadari
oleh sebagian anggota masyarakat, yaitu sebagai alat untuk berpikir. Dalam proses berpikir,
bahasa selalu hadir bersama logika untuk merumuskan konsep, proposisi, dan simpulan.
Segala kegiatan yang menyangkut penghitungan atau kalkulasi, pembahasan atau analisis,
bahkan berangan-angan atau berkhayal, hanya dimungkinkan berlangsung melalui proses
berpikir disertai alatnya yang tidak lain adalah bahasa.
Sejalan dengan uraian di atas dapat diformulasikan bahwa makin tinggi kemampuan
berbahasa seseorang, makin tinggi pula kemampuan berpikirnya. Makin teratur bahasa
seseorang, maka makin teratur pula cara berpikirnya. Dengan berpegangan pada formula
itulah, dapat dikatakan bahwa seseorang tidak mungkin menjadi intelektual tanpa menguasai
bahasa. Seorang intelektual pasti berpikir, dan pasti memerlukan bahasa indonesia untuk
mempermudah dalam proses berfikirnya.
Cara Melestarikan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa
Sebagai salah satu dari pemuda Indonesia, saya melestarikan Bahasa Indonesia
dengan cara bersikap bahasa. Bersikap bahasa menurut saya adalah menggunakan bahasa
Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu untuk rajin
mengungkapkan pemikiran saya dengan bahasa Indonesia dan dengan sering membaca

karena membaca merupakan salah satu pintu terbukanya wawasan sehingga kemampuan
bahasa akan bertambah. Bahasa Indonesia dapat lestari karena setelah membaca kumpulan
ide dengan bahasa Indonesia kemudian kita salurkan ide kita sendiri dengan tulisan dalam
bahasa Indonesia juga bila hal ini terjadi terus menerus dan berkesinambungan. Selain itu,
cara lain adalah dengan mengurangi pengunaan bahasa gaul yang kebarat-baratan sehingga
bahasa Indonesia tidak tergeser nilai keberadaannya.
Jelaskan peranan Bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah!
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia, sebagaimana yang telah
disahkan pada sumpah pemuda 1928. Selain itu bahasa Indonesia mempunyai kedudukan
yang sangat penting bagi waga Negara Indonesia. Dalam peranannya bahasa Indonesia dalam
penulisan atau dalam konteks ilmiah sangatlah penting. Dikarenakan dalam penulisan ilmiah
membutuhkan penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik. Penggunaan tata bahasa
Indonesia dalam konteks ilmiah ialah penggunaan tata bahasa yang telah mengikuti aturan
EYD yang benar. Dimana dalam segi penggunaan tata bahasa, segi pemilihan kata, dan segi
penggunaan tanda baca
.
Sering kali pada konteks ilmiah bahasa diartikan sebagai buah pikir penulis, sebagai hasil dari
pengamatan, tinjauan, penelitian yang dilakukan oleh si penulis tersebut pada ilmu
pengetahuan tertentu. Dalam konteks karya ilmiah isi dari karya ilmiah harus menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam penulisan dan tata bahasanya.
Dalam penulisan karya ilmiah yang harus diperhatikan ialah dalam pemilihan kata,
penggunaan tanda baca, dan harus mengikuti EYD.
Adapun manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
1. Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif.
2. Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber.
3. Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan.
4. Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis.
5. Memperoleh kepuasan intelektual.
6. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.
Jadi dapat disimpulkan peranan dan fungsi bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah sangatlah
penting. Karena hasil baik dari penulisan ilmiah tidak lepas dari segi penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah atau akademik menuntut kecermatan dalam penalaran dan bahasa. Dalam

hal bahasa, karya tulis semacam itu (termasuk laporan penelitian) harus memenuhi ragam
bahasa standar (formal) atau bukan bahasa informal atau pergaulan.Ragam bahasa karya tulis
ilmiah atau akademik hendaknya mengikuti ragam bahsa yang penuturnya adalah terpelajar
dalam bidang ilmu tertentu. Ragam bahasa ini mengikuti kaidah bahasa baku untuk
menghindari ketaksaan atau ambigiutas makna karena karya tulis ilmiah tidak terikat oleh
waktu.
Dengan demikian, ragam bahasa karya ilmiah sedapat-dapatnya tidak mengandung bahasa
yang sifatnya kontekstual seperti ragam bahasa jurnalistik. Tujuannya agar karya tersebut
dapt tetap dipahami oleh pembaca yang tidak berada dalam situasi atau konteks saat karya
tersebut diterbitkan. Masalah ilmiah biasanya menyangkut hal yang sifatnya abstrak atau
konseptual yang sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata. Untuk
mengungkapkan hal semacam itu, diperlukan struktur bahasa keilmuan adalah
kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan
strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terungkap
dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya.
Penulisan ilmiah merupakan sebuah karangan yang bersifat fakta atau real yang ditulis
dengan menggunakan penulisan yang baik dan benar serta ditulis menurut metode yang ada.
Terdapat beberapa jenis penulisan ilmiah yang dapat di kategorikan sebagai berikut :
Makalah
Karya tulis yang menyediakan permasalahan dan pembahasan sesuai dengan data yang telah
di dapatkan di lapangan dengan objektif.
Kertas Kerja
Pada umumnya kertas kerja hamper sama dengan makalah akan tetapi kertas kerja digunakan
untuk penulisan local karya atau seminar serta lebih mendalam dari makalah.
Laporan Praktik Kerja
Karya ilmiah yang memaparkan fakta yang di temui di tempat bekerja yang digunakan untuk
penulisan terakhir jenjang diploma III (DIII).
Skripsi
Merupakan karya ilmiah yang mengemukakan pendapat orang lain dan data yang telah di
dapat di lapangan yang digunakan untuk mendapat gelar S1 :
1. Langsung (observasi lapangan)
2. Skripsi
3. Tidak langsung (studi kepustakaan)
Tesis
Karya ilmiah yang bertujuan untuk melakukan pengetahuan baru dengan melakukan
peneluitian penelitian terhadap hasil hipotesis yang ada.
Disertasi
Karya tulis untuk mengungkap dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta yang
realistis dan data yang relefan serta objektif.
Dalam menulis karya ilmiah sebaiknya menggukan kata-kata atau kalimat yang sesuai

dengan kaidah dan bahasa yang penuturannya terpelajar dengan bidang tertentu, ini berguna
untuk menghindari ketaksaan atau ambigu makna karna karya ilmiah tidak terikat oleh waktu.
Dengan demikian, ragam bahasa penulisan karya ilmiah tidak mengandung bahasa yang
sifatnya konstektual,
Oleh karena itu, pengajar perlu memperhatikan kaidah yang berkaitan dengan pembentukan
istilah, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang dikeluarkan oleh pusat pembinaan
bahasa Indonesia merupakan sumber yang baik sebagai pedoman dalam memperhatikan halhal tersebut. Dan juga tanda baca yang tepat untuk di setiap kalimat yang dimuat dalam Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD)
Ada yang menyebutkan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam karya tulis ilmiah
berupa penelitian yaitu :
1. Bermakna isinya
2. Jelas uraiannya
3. Berkesatuan yang bulat
4. Singkat dan padat
5. Memenuhi kaidah kebahasaan
6. Memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah
7. Komunikasi secara ilmiah

Kalimat Efektif
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan
sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
1.secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca
dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
Ciri-Ciri Kalimat Efektif
1.Kesepadanan
Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu unsur subjek (S), predikat (P),
objek (O), keterangan (K). Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam
pemakaian struktur bahasa.
Contoh:
Budi (S) pergi (P) ke kampus (KT).
Tidak Menjamakkan Subjek
Contoh:
Tomi pergi ke kampus, kemudian Tomi pergi ke perpustakaan (tidak efektif)
Tomi pergi ke kampus, kemudian ke perpustakaan (efektif)
2.Kecermatan Dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan
tafsiran ganda).
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (ambigu dan tidak
efektif).
Mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (efektif).
3.Kehematan

Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata,
frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Hal ini dikarenakan, penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat.
Untuk itu, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk dapat melakukan
penghematan, yaitu:
a. Menghilangkan pengulangan subjek.
b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (tidak efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (efektif)
Dia sudah menunggumu sejak dari pagi. (tidak efektif)
Dia sudah menunggumu sejak pagi. (efektif)
4.Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai
dengan ejaan yang berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan
yang logis/masuk akal.
Contoh:
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (tidak efektif)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (efektif)
5.Kesatuan atau Kepaduan
Kesatuan atau kepaduan di sini maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu,
sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan untuk menciptakan kepaduan kalimat, yaitu:
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak
simetris.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam
kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
c. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang
antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah
terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa
kemanusiaan. (efektif)
Makalah ini membahas tentang teknologi fiber optik. (tidak efektif)
Makalah ini membahas teknologi fiber optik. (efektif)
6.Keparalelan atau Kesajajaran
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan
dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya
harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif)
7.Ketegasan

Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat.
Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan)
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan
yang ada pada dirinya.
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan)
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada
anak-anak terlantar. (salah)
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada
anak-anak terlantar. (benar)
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel lah, -pun, dan kah.
Contoh:
Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini.

Proses Pembakuan Bahasa Indonesia


oleh Rukni Setyawati

Usaha pembakuan bahasa Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1979. Pembakuan bahasa
Indonesia tersebut dimaksudkan agar tercapai pemakaian bahasa yang cermat, tepat, dan efisien
bagi masyarakat Indonesia. Langkah yang dilakukan pemerintah adalah menetapkan kaidah berupa
aturan yang tepat di bidang ejaan, kosakata, tata bahasa, dan peristilahan.
Bahasa baku atau bahasa standar sebagai salah satu ragam bahasa Indonesia berbeda dengan
ragam-ragam lain (ragam santai, ragam akrab, dll) yang tidak menggunakan kaidah bahasa
Indonesia dengan baik. Oleh karena itu, untuk menghindari kesalahan dalam pemakaian bahasa
perlu ditetapkan kaidah (aturan) standar sebagai pegangan bagi pemakai bahasa. Adapun langkah
yang ditempuh dalam usaha pembakuan bahasa Indonesia ialah dengan kodifikasi, elaborasi, dan
implementasi.
Kodifikasi dalam KBBI (2008:578) bermakna pencatatan norma yang telah dihasilkan oleh
pembakuan dalam bentuk buku tata bahasa, seperti pedoman lafal, pedoman ejaan, pedoman
pembentukan istilah, atau kamus. Dua aspek penting dalam pengodifikasian bahasa Indonesia
adalah kodifikasi menurut situasi pemakai dan pemakaiannya dan kodifikasi menurut struktur sebagai
suatu sistem komunikasi. Kodifikasi yang pertama akan menghasilkan sejumlah ragam dan gaya
bahasa. Perbedaan ragam dan gaya bahasa ini tampak dalam pemakaian bahasa lisan dan bahasa
tulis. Tiap ragam dan gaya bahasa akan mengembangkan variasi menurut pemakaiannya di dalam
pergaulan keluarga, sekolah, lingkungan, dll. Di dalam hubungan formal, ragam dan gaya bahasa

digunakan dalam administrasi pemerintahan, perundang-undangan, peradilan, lingkungan


pendidikan, sarana komunikasi massa, iptek, dan sebagainya. Kodifikasi yang kedua menghasilkan
tata bahasa dan kosakata baku.
Ada beberapa langkah dalam kodifikasi. Pertama adalah inventarisasi bahan, kemudian dipilih tiap
bidang untuk dihimpun menjadi satu kesatuan. Kedua ialah elaborasi, yakni penyebarluasan hasil
kodifikasi yang dapat dilakukan dengan cara menerapkan hasil kodifikasi ke dalam berbagai bidang,
misalnya bidang pendidikan, kedokteran, pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi, hukum, iptek, dll.
Langkah terakhir adalah implementasi (pelaksanaan). Jika langkah ini telah sesuai dengan aturan,
tujuan pembakuan bahasa telah tercapai. Hal ini bergantung kepada pemakai bahasa dan kesadaran
masyarakat akan pentingnya penggunaan bahasa baku secara baik dan benar sesuai dengan kaidah
tata bahasa Indonesia.

PEMBAKUAN BAHASA (B.Indonesia)

PEMBAKUAN BAHASA
1. Pengertian Bahasa Baku dan Tidak Baku
Pembakuan bahasa adalah proses pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam
bahasa resmi kenegaraan maupun kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan
pengembangannya, yang biasa dilakukan terus menerus tanpa henti. Sementara kata baku
adalah kata yang cara pengucapan atau penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar
atau kaidah yang telah dibakukan.
Kata tidak baku adalah kata yang cara pengucapan atau penulisannya tidak memenuhi
kaidah-kaidah umum.
2. Fungsi Bahasa Baku
Bahasa baku memiliki fungsi, antara lain :
1. Fungsi Pemersatu
Adalah kesanggupan bahasa baku untuk menghilangkan perbedaan variasi dalam masyarakat
dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur, dalam bentuk minimal, memperkecil
adanya perbedaan variasi dialectal dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
2. Fungsi Kekhasan
Pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.
3. Pembawa Kewibawaan

Pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.


4. Kerangka Acuan
Bahasa baku menjadi tolak ukur bagi benar tidaknnya pemakaian bahasa seseorang atau
sekelompok orang.
5. Fugsi Pemisah
Maksudnya ragam baku dapat memisahkan atau membedakan penggunaan ragam bahasa
untuk situasi yang formal dan yang tidak formal.
6. Fungsi Harga Diri
Maksudnya pemakai ragam baku akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tingi daripada
yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari
dari lingkungan keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari.
3. Ciri- Ciri Bahasa Baku
Bahasa baku memiliki ciri antara lain :
Tidak dipengaruhi bahasa daerah
Tidak dipengaruhi bahasa asing
Bukan menurupakan bahasa percakapan
Pemakaian imbuhan secara eksplisit pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat
Tidak terkontaminasi, tidak rancu
Tidak mengandung arti pleonasme
Tidak mengandung hiperkorek
4. Pemilihan Ragam Baku
Dasar atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah
ragam menjadi ragam bahasa baku, antara lain :
a. Dasar otoritas, maksudnya penentuan bahasa baku atau tidak baku berdasar
kewenangan orang yang dianggap ahli, atau pada kewenangan buku tata bahasa atau
kamus.
b. Dasar bahasa penulis-penulis terkenal, maksudnya bahasa dari para penulis terkenal
sebaiknya digunakan untuk menjadi patokan bahasa yang baik.

c. Dasar demokrasi, maksudnya menentukan bentuk bahasa yang baik dan tidak benar
atau baku dan tidak baku harus menggunakan data statistik.
d. Dasar logika, maksudnya penentuan baku dan tidak baku digunakan pemikiran logika,
bisa diterima akal atau tidak.
e. Dasar bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat, maksudnya
penentuan baku dan tidak baku suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa orangorang terkemuka.

5. Contoh Kata Baku dan Tidak Baku


Baku
abjad
adegan
aerob
aerodinamika
ahli
aksen
aktual
anarki
anggota
atmosfer
bazar
cek
dialog
formal
masyarakat
pasien
prematur
transportasi
vakum
zodiak

Pembakuan Bahasa

A. Bahasa Baku

Tidak Baku
abjat
adehan
aerobe
aerodinamik
akhli
asen
aktuil
anrchi
anggauta
atmosfir
basar
check
dialoh
ormil
masarakat
pasen
premater
tranportasi
vakem
jodiak

Berbicara tentang bahasa baku dan bahasa nonbaku, berarti membicarakan tentang
variasi bahasa, karena yang disebut bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa yang
diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan tolok ukur sebagai bahasa
yang baik dan benar dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
Keputusan untuk memilih dan mengangkat salah satu ragam bahasa, baik ragam regional
maupun sosial, merupakan keputusan yang bersifat politis, sosial, dan linguistis. Disebut
keputusan politis karena menyangkut strategi politik yang berkaitan dengan kehidupan banga
dan negara secara nasional di masa masa mendatang. Disebut keputusan sosial karena
ragam yang dipilih itu pada mulanya hanyalah digunakan oleh satu kelompok anggota
masyarakat tutur, yang kelak akan menjadi alat komunikasi dalam status sosial yang lebih
tinggi, yaitu dalam situasi komunikasi yang bersifat resmi kenegaraan, padahal ragam
ragam lain tetap digunakan dalam kelompok kelompok sosial yang tidak bersifat resmi
kenegaraan. Disebut keputusan linguistik karena ragam yang dipilih menjadi ragam bahasa
baku itu harus mempunyai dan memenuhi persyaratan persyaratan linguistik tertentu.
Artinya dilihat dari segi linguistik ragam bahasa mempunyai kepadaan dalam hal tata bunyi,
tata bentukan (morfologi), tata kalimat (sintaksis), dan tata kata (leksikon). Jika ragam yang
dipilh itu tidak mempunyai kepadaa dalam hal hal tersebut, tentu ragam itu kelak sukar
digunakan untuk komunikasi resmi itu.
Penyebutan nama atau pemberian nama terhadap suatu bahasa menjadi bahasa
nasional, bahasa pemersatu, bahasa negara, dan juga bahasa tinggi adalah penamaan bahasa
sebagai langue, sebagai kode secara utuh keseluruhan padahal penamaan bahasa baku adalah
penamaan terhadap salah satu ragam dari sejumlah ragam yang ada dalam suatu bahasa. Oleh
karena itu penamaan yang lebih tepat adalah ragam bahasa baku atau bahasa ragam baku.
Jadi, penamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, atau bahasa
persatuan, adalah penamaan terhadap keseluruhan bahasa Indonesia sebagai sebuah langue
dengan segala macam ragam dan variasinya. Sedangkan bahasa Indonesia baku hanyalah
salah satu ragam dari sekian banyak ragam bahasa Indonesia yang ada, yang hanya digunakan
dalam situasi resmi kenegaraan.
Ragam bahasa baku adalah ragam bahasa yang sama dengan resmi kenegaraan yang
digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, termasuk kedalam pendidikan, dalam buku
pelajaran, dalam undang undang dan sebagainya. Tetapi sebenarnya bahasa baku pun ada
pada tingkat kedaerahan. Bahasa bali seperti dilaporkan Jendra (1981), bahasa sunda seperti
dilaporkan Widjajakusuma (1981), mempunyai ragam bahasa baku. Begitu juga dengan
bahasa jawa, bahasa jawa telah mempunyai Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa yang di susun

oleh Sudaryanto, dkk (1991). Fungsi penggunaannya sama yaitu untuk komunikasi yang
bersifat resmi dalam lingkup kedaerahan.
Pengertian bahasa baku menurut beberapa pakar. Halim (1980) mengatakan bahwa
bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga
masyarakat pemakainya sebagai resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa baku.
Sebagai kerangka rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan kaidah yang digunakan
sebagai pengukur benar atau tidaknya penggunaan bahasa. Dittmar (1976 : 8) mengatakan
bahwa bahasa baku adalah ragam ujaran dari suatu masyarakat bahasa yang di sahkan sebagai
norma keharusan bagi pergaulan sosial atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di
dalam itu. Tindakan pengesahan norma dilakukan melalui pertimbangan nilai yang
bermotivasi sosiopolitik. Menurut J.S. Badudu pembakuan atau standardisasi adalah
penetapan aturan-aturan atau norma-norma bahasa. Berdasarkan bahasa yang dipakai oleh
masyarakat, ditetapkan pola-pola yang berlaku pada bahasa itu. Pola yang dipilih itulah yang
dijadikan acuan. Bila kita akan membentuk kata atau menyusun kalimat, maka bentukan itu
haruslah

mengacu

pada

pola

bahasa

yang

sudah

ditetapkan.

Hartmann dan Stork (1972:218) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang
secara sosial lebih digandrungi, sering kali lebih berdasarkan pada ujaran orang orang yang
berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan atau politik suatu masyarakat
tutur. Sedangkan Pei dan Geynor (1954:203) mengatakan bahwa bahasa baku adalah dialek
suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek dialek lainnya,
dan di sepakati penutur dialek dialek lain sebagai bentuk bahasa yang paling sempurna.
B.

Fungsi dan Ciri Bahasa Baku


Selain fungsi penggunaanya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut
Gravin dan Mathiot (1956:785-787) juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik,
yaitu (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi pemisah, (3) fungsi harga diri dan (4) fungsi kerangka
acuan.
Fungsi pemersatu (the unifying function) adalah kesanggupan bahasa baku untuk
menghilangkan perbedaan variasi dalam masyarakat dan membuat terciptanya kesatuan
masyarakat tutur dalam bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialectal dan
menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
Fungsi pemisah (separatist function) adalah bahwa ragam bahasa baku itu dapat
memisahkan atau membedakan pengunaan ragam bahasa tersebut untuk situasi yang formal
dan yang tidak formal.
Fungsi pemberi kekhasan yang adalah membedakan bahasa itu dari bahasa yang lain.
Misalnya bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Malaysia atau bahasa Melayu Singapura

dan Brunei Darussalam. Dengan kata lain, bahasa Indonesia dianggap sudah jauh berbeda
dari bahasa Melayu Riau, Johor yang menjadi induknya.
Fungsi harga diri (prestige function) adalah bahwa pemakai ragam baku itu akan
memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak menggunakannya sebab
ragam bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari dari lingkungan keluarga atau lingkungan
hidup sehari-hari. Ragam bahasa baku hanya dapat dicapai melalui pendidikan formal, yang
tidak menguasai ragam baku tentu tidak dapat masuk ke dalam situasi-situasi formal, dimana
ragam baku itu harus digunakan.
Fungsi kerangka acuan (frame of reference function) adalah bahwa ragam bahasa baku
itu akan dijadikan tolok ukur untuk norma pemakaian bahasa yang baik dan benar secara
umum.
Kelima fungsi akan dapat dilakukan oleh ragam bahasa baku kalau ragam bahasa baku
itu telah memiliki tiga ciri yang sangat penting, yaitu (1) memiliki ciri kemantapan dinamis,
(2) memiliki ciri kecendekiawan, dan (3) memiliki ciri kerasional. Ketiga ciri ini bukan
merupakan sesuatu yang sudah tersedia di dalm kode bahasa itu, melainkan harus diusahakan
keberadaannya melalui usaha yang terus-menerus yang harus dilakukan dan tidak terlepas
dari rangkaian kegiatan perencanaan bahasa.
Ciri kemantapan yang dinamis, wujudnya yang berupa kaidah dan aturan yang tetap.
Namun, kemantapan kaidah itu cukup luwes sehingga dapat menerima kemungkinan
perubahan dan perekembangan yang bersistem baik di bidang kaidah gramatikal maupun di
bidang kosakata, peristilahan, dan berbagai ragam gaya di bidang semantik dan sintaksis. Ciri
kemantapan ini dapat diusahakan dengan melakukan kodifikasi bahasa terhadap dua aspek
yang penting, yaitu (1) bahasa menurut situasi pemakai dan pemakainanya; dan (2) berkenaan
dengan strukturnya sebagai suatu sistem komunikasi. Kaidah-kaidah tersebut ersifat dinamis
artinya, mempunyai kemungkinan untuk berubah dalam jangka waktu tertentu, sebab secara
teoritis tidak ada bahasa yang statis. Bahasa itu akan selalu berubah sesuai dengan
perkembangan dan perubahan budaya yang terjadi pada masyarakat penutur bahasa itu.
Ciri kecendekiaan bahasa baku harus diupayakan agar bahasa itu dapat digunakan untuk
membicarakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan modern.Kecendekiaan ini dapat
dilakukan dengan memperkaya kosakata dalam segala bidang kegiatan dan keilmuan.
Ciri kerasionalan bahasa harus tampak dalam penggunaan bahasa, baik di bidang
kosakata maupun struktur. Kerasionalan bahasa baku ini sangat tergantung pada kecendikiaan
penutur untuk menyusun secara logika untuk diterima isinya.
C. Pemilihan Ragam Baku

Moeliono (1957:2) mengatakan, bahwa pada umumnya yang layak dianggap baku ialah
ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan
paling besar kewibawaannya. Termasuk didalamnya para penjabat negara, para guru, warga
media massa, alim ulama, dan cendekiawan.
Dasar kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah ragam
bahasa baku, antara lain (1)otoritas, (2) bahasa-bahasa penulis terkenal, (3) demokrasi, (4)
logika, (5) bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat.
Dasar otoritas, maksudnya, penentuan baku atau tidak baku berdasar pada kewenangan
orang yang diangap ahli, atau pada kewenangan orang yang dianggap ahli, atau pada
kewenangan buku tata bahasa kamus. Dasar otoritas ini diajukan karena pada umumnya
manusia bekum puas bahwa yang dikerjakannya atau yang dikatakannya itu benar. Maka dia
akan bertanya kepada guruatau kepada orang yang dianggap pandai, atau kepada buku
pegangan yang ada. Dalam hal masalah bahasa tentu kepada guru bahsa atau ahli bahasa, atau
kepada buku tata bahasa atau kamus. Otoritas orang dan buku tata bahasa atau kamus boleh
saja digunakan asal saja pemikiran orang yang ditanya, dan buku-buku yang digunakan masih
sesuai dengan kenyataan sekarang.
Dasar bahasa penulis-penulis terkenal, maksudnya, seperti dikatakan Alisjahbana (dalam
Robin 1971) bahwa bahasa dari penulis terkenal sebaiknya digunakan untuk menjadi patokan
bahasa yang baik. Tetapi terdapat kelemahan bahasa para penulis terkenal yang dijadikan
bahasa baku. Pertama, bahasa penulis lebih banyak menggunakan bahasa tulis sedangkan
komunikasi sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa lisan. Kedua, tidak ada yang
menjamin penulis-penulis terkenal menguasai aturan tata bahasa dengan baik. Ketiga,
penulis-penulis terkenal itu berada pada zaman yang lalu yang bahasanya mungkin sudah
tidak sesuai dengan bahasa sekarang.
Dasar demokrasi memang baik untuk menentukan keputusan-keputusan politisi, tetapi
tidak dapat digunakan untuk menentukan keputusa-keputusan kebahsaan. Sejarah telah
membuktikan, dalam pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia ternyata dasar
demokrasi seperti itu tidak digunakan, meskipun penutur bahasa Jawa jauh lebih banyak,
namun yang dipilih menjadi bahasa Indonesiaadalah bahasa Melayu, yang jumlah penuturnya
lebih sedikit.
Dasar logika, maksudnya, dalam penentuan bahasa baku dan tidak baku digunakan
pemikiran logika, bisa diterima akal atau tidak. Tampaknya dasar logika tidak dapat
digunakan untuk menentukan kebakuan bahasa, sebab seringkali benar dan tidak benar strktur
bahasa tidak sesuai dengan pemikiran logika.

Dasar bahasa orang-orang terkemuka dalam masyarakat sejalan dengan konsep Moeliono
(1975:2), maksudya, penentuan baku tidaknya suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa
orang-orang terkemuka seperti pemimpin, wartawan, pengarang, guru, dan sebagainya.
Dewasa ini otoritas untuk pembakuan bahasa Indonesia ada pada Lembaga Pusat
Pembinan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Pusat
Bahasa). Maka daam proses pembakuan bahasa Indonesia sudah seharusnya lembaga ini
mencari dan mengumulkan data, menganalisis, mengatur, dan menyusun kaidah-kaidah lalu
menyebarluaskannya kepada masyarakat luas.
Usaha pembakuan bahasa, sebagai salah satu usaha pembinaan dan pengembangan
bahasa, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai sarana, antara lain :
1. Pendidikan, kiranya jalur pendidikan formal merupakan salah satu sarana yang paling tepat
untuk menghidupkan eksistensi bahasa baku. Pendidikan, sebagai situasi formal, bukan
hanya membutukan penggunaan bahasa baku, tetapi juga merupakan tempat untuk
menyebarkan pengembangan dan penyebaran bahasa baku.
2. Industri buku, tiadanya industri buku berarti juga menghambat pengembangan dan
penyebaran bahasa baku, sebab melalui bukulah ragam bahasa baku (tulis) dapat ditampilkan.
Kalau industri buku lebih berkembang, maka berarti juga proses pembakuan bahasa akan
lebih tercapai.
3. Perpustakaan, adanya perpustakaan dengan jumlah buku yang tersedia cukup banyak akan
mempercepat proses pembakuan bahasa. Tiadanya perpustakaan berarti hilangnya
kesempatan banyak orang untuk menggunakan bahsa baku. Penyebaran dan pengembangan
bahasa baku tidak dapat dilepaskan dari keberadaan perpustakaan.
4. Administrasi Negara, kelangsungan eksistensi bahasa baku dapat terjamin dengan adanya
administrasi Negara yang rapi, tertib , dan teratur.
5. Media massa, surat kabar dan majalah merupakan sarana bacaan yang paling banyak
mendekati masyarakat. Maka tersedianya media massa baik tulis maupun elektronik akan
emnjamin tercapainya pembakuan bahasa degan lebih luas.
6. Tenaga, pembakuan bahasa juga memerlukan tenaga-tenaga terlatih dan terdidik dalam
bidang kebahsaan. Tiadanya atau kurangnya tenaga kebahasaan ini akan menyulitkan proses
pembakuan bahasa. Maka alangkah baiknya bila pada tempat-tempat tertentu tersedia tenaga
kebahsaan ini seingga masyarakat yang memerlukan informasi kebahsaan dapat dipermudah
dengan keberadaan mereka.
7. Penelitian, tanpa adanya penelitian yang terus-menerus dibidang kebasaan (tentunya harus
dilakukan secara profesional) usaha pengembangan dan pembakuan bahasa tidak akan
mencapai kemajuan.
D. Bahasa Indonesia Baku

Memilih salah satu ragam bahasa Indonesia untuk dijadikan ragam baku dan
mengolahnya agar ragam tersebut memiliki ciri kemantapan yang dinamis, memiliki ciri
kecendekiaan, dan memiliki ciri kerasionalan, maka tindakan pembakuan itu harus dikenakan
pada semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan
semantik. Tentunya proses pengolahan itu harus dilakukan terus menerus selama bahasa itu
digunakan.
Secara resmi fonem fonem bahasa Indonesia telah di tentukan keberadaannya tetapi
mengenai lafalnya atau ucapannya belum pernah dilakukan pembakuan. Namun, ada
semacam konsesnsus yang rumusannya berbentuk negatif, bahwa yang disebut lafal bahasa
Indonesia yang benar adalah lafal yang tidak lagi menampakkan ciri ciri bahasa daerah.
Lafal para penyiar RRI dan TVRI telah dapat dianggap memenuhi kriteria sebagai lafal baku
bahasa Indonesia. Kalau lafal penyiar RRI dan TVRI sudah dapat dianggap baku, maka bisa
kita bandingkan bentuk lafal yang baku dan yang tidak baku.
Pembakuan dalam bidang ejaan telah selesai dilakukan untuk bahsa Indonesia.
Pembakuan ejaan ini telah melalui proses yang cukup panjang. Dimulai dengan
ditetapkannya ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901, dilanjutkan dengan perbaikannya yang
disebut ejaan Suwandi atau ejaan republic pada tahun 1937, lalu diteruskan dengan
penyempurnaannya dengan ditetapkannya Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
(EYD) pada tahun 1976. Yang menarik adalah bahwa EYD juga berlaku untuk bahasa
Malaysia di Malaysia dan bahasa Melayu di Brunei Darussalam.
Yang diatur di dalam ejaan adalah cara menggunakan huruf, cara penulisan kata dasar,
kata ulang, kata gabung, cara penulisan kalimat dan juga cara penulisan unsur-unsur serapan.
Berikut ini contoh penulisan bentuk kata yang baku dan tidak baku.
Bentuk baku

Bentuk tidak baku

Administratif
Ahli

administratip
akhli

Anarki

anarkhi

Anggota
Doa

anggauta
doa

Berikut ini contoh bentuk-bentuk baku secara gramatikal.


Bentuk baku

Bentuk tidak baku

Kuliah sudah berjalan dengan baik. Kuliah sudah jalan dengan baik

Bapak Cahyono pergi ke Surabaya. Bapak Cahyono ke Surabaya


Surat Saudara sudah saya baca.

Surat Saudara saya sudah baca

Harganya cukup mahal.

Dia punya harga cukup mahal

Mengapa kamu tidak datang?

Kenapa kamu enggak datang?

Pembakuan bahasa Indonesia dalam bidang kosakata dan peristilahan juga telah lama
dilakukan. Kebakuan unsur leksikal dapat dilihat dari ejaan, lafal, bentuk, dan sumber
pengambilannya. Kebakuan menurut bentuk misalnya, tetapi dan begitu adalah bentuk yang
baku, sedangkan tapi dan gitu adalah bentuk yang tidak baku. Kebakuan kosakata menurut
sumber pengambilannya adalah disebut tidak baku kalau kosakata itu adalah kosakata bahasa
daerah atau jelas-jelas bukan kosakata baku.
Berkenaan dengan adanya ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis serta adanya
derajat kebakuan, maka Halim (1980) menyatakan perlu dibedakannya ragam baku lisan dan
ragam baku tulis. Lalu, perlu pula dibedakan adanya ragam baku lisan nasional dan ragam
bahasa baku daerah, sehubungan dengan sangat sukarnya menentukan kebakuan ragam lisan.
Sedangkan ragam baku tulis yang ada hanya ragam baku tulis nasional sebab pemabakuan
ragam baku tulis itu lebih mudah.

PEMBAKUAN BAHASA
Salah satu bahasa dari sejumlah bahasa yang berkembang dalam suatu negara dapat
dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi dari negara bersangkutan. Proses pemilihan
suatu bahasa di antara ragam bahasa yang ada untuk menjadi bahasa resmi dengan berbagai
usaha pembinaan dan pengembangan tanpa henti dikenal dengan istilah pembakuan bahasa
atau standardisasi bahasa. Menurut J.S. Badudu yang dimaksud pembakuan atau
standardisasi sebenarnya adalah penetapan aturan-aturan atau norma-norma bahasa.
Pembakuan atau penstandaran bahasa adalah pemilihan acuan yang dianggap paling wajar
dan paling baik dalam pemakaian bahasa (http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?
info=artikel&infocmd=show&infoid=21&row=). Pembakuan bahasa adalah proses pemilihan
satu ragam bahasa untuk dijadikan bahasa baku (resmi) kenegaraan, serta usaha pembinaan
dan pengembangannya, yang bisa dilakukan terus-menerus. Pembakuan bahasa berarti
pemilihan salah satu variasi yang diangkat untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu, dan
ditempatkan di atas variasi yang lain. Pembakuan bahasa tidak dimaksudkan untuk

mematikan variasi-variasi bahasa nonbaku. Variasi-variasi bahasa nonbaku tetap hidup dan
berkembang sesuai dengan fungsinya.
Pada intinya pembakuan bahasa adalah proses pemilihan salah satu ragam bahasa
menjadi ragam bahasa resmi sebagai tolok ukur (norma) penggunaan bahasa yang baik dan
benar dengan usaha dan pengembangan yang tiada henti (selama bahasa itu masih
digunakan). Pembakuan bahasa memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Efesiensi dan efektivitas komunikasi
Bahasa baku memungkinkan adanya komunikasi yang lebih lancar, efektif, dan efisien.
Kesatuan dan kesamaan aturan bahasa maupun konsep-konsep bahasa memudahkan untuk
saling memahami antaranggota masyarakat pemakai bahasa.
b. Integrasi masyarakat budaya.
Perbedaan kebudayaan selalu diikuti dengan perbedaan konsep dan kata sehingga sering ada
anggapan bahwa kata yang ada dalam suatu bahasa tidak terdapat dalam bahasa lain. Dilihat
dari integrasi dalam suatu masyarakat, pembakuan konsep dan kata maupun kesamaan
atursan bahasa adalah syarat mutlak.
c. Pembinaan bahasa nasional
Variasi bahasa nonbaku sangat beragam, tergantung pada pemakai bahasa dan berbagai
variasi bahasa yang hidup dalam masyarakat. Biasanya bahasa baku mengatasi
keanekaragaman variasi bahasa yang lain. Bahasa baku merupakan pedoman dan pangkal
bagi variasi bahasa yang lain.
1. Bahasa Baku
Bahasa baku merupakan salah satu variasi/ragam bahasa yang dijadikan tolok ukur
sebagai bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi resmi, baik secara lisan maupun
tulisan. Kata baku berarti tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang
ditetapkan berdasarkan kesepakatan (KBBI, 2008: 123). Bahasa baku atau bahasa standar
adalah bahasa yang memiliki nilai komunikatif yang tinggi, yang digunakan dalam
kepentingan nasional, dalam situasi resmi atau dalam lingkungan resmi dan pergaulan sopan
yang terikat oleh tulisan baku, ejaan baku, serta lafal baku (Junus dan Arifin Banasuru,
1996:62). Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dijadikan acuan norma bahasa dan
penggunaannya, baik secara lisan maupun tulisan.
Bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa (dari sekian banyak variasi) yang diangkat
dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan tolak ukur sebagai bahasa yang

baik dan benar dalam komunikasi yang bersiat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
Ragam baku adalah ragam bahasa yang sama dengan bahasa resmi kenegaraan yang
digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, termasuk dalam pendidikan, dalam buku pelajaran
dalam undang-undang, dan sebagainya.
Dari segi bahasa, ragam baku mengacu kepada ragam bahasa bermutu yang dianggap
lebih tinggi dibandingkan dengan ragam-ragam lain yang ada dalam bahasa itu. Ragam baku
secara linguistik/ kebahasaan adalah dialek, baik dialek regional maupun dialek sosial. Suatu
ragam bahasa menjadi baku karen aprestise sosial (social prestige) tertentu. Sebenarnya,
setiap bahasa atau dialek sama-sama terdiri atas bunyi-bunyi yang bersistem yang dihasilkan
oleh organ-organ tutur (organ of speech), tetapi masyarakat tuturlah yang menghormati suatu
variasi bahasa yang membuat bahasa tersebut menjadi ragam bahasa baku (Sumarsono, 2004:
27).
Penentuan ragam bahasa menjadi bahasa baku ini dapat dikatakan sebagai keputusan yang
bersifat politis, sosial, dan linguistis. Pembakuan bahasa dikatakan sebagai keputusan politis
karena keputusan pembakuan bahasa menyangkut strategi politik yang berkaitan dengan
kehidupan bangsa dan negara secara nasional pada masa mendatang. Selain itu, pembakuan
bahasa juga disebut sebagai keputusan sosial karena ragam bahasa yang dipilih pada awalnya
hanya digunakan oleh salah satu kelompok tutur, kemudian akan digunakan sebagai alat
komunikasi dalam status sosial yang lebih tinggi (situasi komunikasi resmi kenegaraan).
Penetapan bahasa baku juga disebut sebagai keputusan linguistis karena ragam bahasa yang
akan ditetapkan menjadi bahasa baku harus mempunyai dan memenuhi persyaratanpersyaratan lingusitik tertentu. Dari sudut linguistik ragam bahasa yang ditetapkan menjadi
bahasa baku mempunyai kepadanan tata bunyi (fonologi), tata bentukan (morfologi), tata
kalimat (sintaksis), dan tata kata (leksikon).
Ada beberapa pengertian bahasa baku menurut para ahli (Chaer, 1995: 251252):
a. Halim (1980) berpendapat bahwa bahasa baku adalah bahasa yang dilembagakan dan diakui
oleh sebagian kelompok pemakainya sebagai bahasa resmi dan kerangka rujukan norma
bahasa serta penggunaannya. Bahasa baku sebagai kerangka rujukan memiliki norma dan
kaidah yang dijadikan tolok ukur benar atau tidaknya penggunaan bahasa. Sedangkan, bahasa
tidak baku adalah bahasa yang tidak dilembagakan dan cenderung menyimpang dari norma
bahasa baku.
b. Dittmar (1976) mendefisikan bahasa baku sebagai ragam ujaran dari satu masyarakat bahasa
yang disahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atau kepentingan dari berbagai
pihak yang dominan dalam masyarakat itu. pengesahan ragam tersebut dilakukandengan
mempertimbangkan nilai yang didorong oleh sosiolpolitik.

c. Hartman dan Stork (1972) memberikan pengertian bahasa baku sebagai ragam bahasa yang
secara sosial lebih sering diinginkan dan dikaitkan pada ujaran pihak-pihak yang
berpendidikan baik di dalam maupun di sekitar pusat kebudayaan atau politik masyarakat
tersebut.
d. Pie dan Geynor (1954) mendefinisikan bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa yang
istimewa dalam hal sastra dan budaya dibandingkan dengan dialek-dialek lainnya dan
disepakati sebagai bahasa yang paling sempurna oleh masyarakat penutur dialek-dialek lain.
Perbedaan bahasa baku dan nonbaku menyangkut semua komponen bahasa, yaitu tata
bunyi, tata bentukan, kosakata dan tata kalimat (Sumarsono, 2004: 33).
2.

a.

Ciri-ciri Bahasa Baku


Fungsi bahasa baku dapat dilaksanakan jika bahasa baku memiliki cir-ciri sebagai berikut
(Chaer, 1995: 254255).
Kemantapan yang dinamis
Bahasa baku memiliki kaidah dan aturan

yang tetap, tetapi luwes/dinamis. Keluwesan

tersebut memungkinkan bahasa baku menerima sistem perubahan dan perkembangan, baik
kaidah garamatikal, kosakata, peristilahan maupun berbagai ragam gaya di bidang sintaksis
dan semantik. Dengan kata lain, bahasa baku memiliki ciri dinamis yang akan selalu berubah
sesuai dengan perkembangan dan perubahan budaya yang dialami oleh masyarakat
penuturnya. Ciri ini dapat dicapai dengan melakukan kodifikasi (pencatatan) terhadap dua
aspek bahasa, yakni bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaiannya, dan bahasa yang
berkenaan dengan strukturnya sebagai suau sisem komunikasi. Pencatatan pada dua aspek
bahasa tersebut akan menghasilkan kumpulan kaidah struktur bahasa yang berisi penjabaran
kosakata dan bentuk baku yang sudah ditentukan.
b. Kecendekiaan
Bahasa baku memiliki ciri kecendekiaan agar dapat digunakan dalam ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kehidupan modern. Ciri ini dapat dicapai dengan memperkaya kosakata dalam
c.

berbagai aspek kegiatan dan keilmuan yang tampak secara struktual.


Kerasionalan
Kerasionalan bahasa tampak pada penggunaan bahasa baik di bisang kosakata maupun
struktur sintaksis. Kerasionalan bahasa baku sangat tergantung pada kecendekiaan penutur
untuk menyusun kalimat yang diterima secara logika.
Pada sumber lain disebutkan pula keseragaman sebagai salah satu ciri kebakuan suatu
bahasa. pembakuan bahasa merupakan penentuan dan pencarian titik keseragaman. Selain
ciri-ciri di atas, Sumarsono (2004: 3536) dalam bukunya yang berjudul Sosiolinguistik

menyebutkan beberapa ciri ragam baku:


a. Jumlah penutur asli bahasa baku lebih sedikit dibandingkan dengan keseluruhan penutur
bahasa.

b. Ragam yang biasa diajarkan kepada orang lain yang bukan penutur asli bahasa tersebut.
c. Ragam baku memberi jaminan kepada pemakainya bahwa ujaran yang dipakai kelak dapat
dipahami oleh masyarakat luas.
d. Ragam baku dipakai oleh kalangan terpelajar, cendekiawan, dan ilmuwan jika dikaitkan
dengan bahasa nasional.
e. Mempunyai bentuk-bentuk kebahasaan tertentu yang membedakan dengan ragam lain.
3. Fungsi Bahasa Baku
Menurut Gravin dan Mathiot (dalam Chaer, 1995: 252254), bahasa baku memiliki
fungsi yang bersifat sosial politik, yaitu
a. Fungsi pemersatu (the unifying function) adalah fungsi bahasa baku yang dapat
menghilangkan perbedaan dan menciptakan kesatuan dalam masyarakat tutur, khususnya
memperkecil perbedaan dialek dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
b. Fungsi pemisah (separatist function) berarti bahwa bahasa baku dapat menjadi pemisah atau
pembeda penggunaan ragam bahasa tersebut baik dalam situasi formal maupun situasi
nonformal. Fungsi pemisah dimaksudkan sebagai fungsi yang membedakan antara bahasa
c.

baku dengan bahasa yang lain (Alwi, 2000: 15).


Fungsi harga diri (prestige function) adalah fungsi bahasa baku yang dapat membuat
penggunanya (pemakai bahasa baku) merasa memiliki harga diri yang tinggi daripada mereka
yang tidak memakai bahasa baku, karena bahasa baku tidak dipelajari dari lingkungan hidup
sehari-hari. Fungsi ini senada dengan pendapat Fishman (1970) bahwa bahasa baku
mencerminkan kemuliaan, sejarah, dan keunikan seluruh rakyat. Selain itu, bahasa baku juga

merupakan lambang atau simbol suatu masyarakat tutur.


d. Fungsi kerangka acuan (frame of reference function) mengandung pengertian bahwa bahasa
baku akan menjadi tolok ukur atau patokan untuk norma pemakaian bahasa yang baik dan
benar secara umum.
Kridalaksana (1975) mencatat empat fungsi bahasa yang menuntut penggunaan ragam
baku, yaitu (1) komunikasi resmi, (2) wacana teknis, (3) pembicaraan di depan umum, dan
(4) pembicaraan dengan orang yang dihormati. Moeliono juga menyampaikan empat fungsi
bahasa: fungsi pemersatu, penanda kepribadian, penanda wibawa, dan kerangka acuan.
4.

Pemilihan Ragam Baku


Menurut Moeliono, ragam bahasa yag dianggap baku adalah ujaran atau tulisan yang
dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar
kewibawaannya. Akan tetapi, tidak selamanya bisa menjamin bahwa ragam bahasa yang
mempunyai pengaruh luas dan wibawa besar dapat diteladani. Ada beberapa kriteria yang

a.

dapat digunakan untuk meilih sebuah bahasa menjadi ragam bahasa baku:
Dasar otoritas adalah penentuan baku atau tidak baku berdasarkan pada kewenangan orang
yang dianggap ahli atau pada kewenangan buku tata bahasa atau kamus. Akan tetapi,

pemakaian dasar ini harus memperhatikan kesessuaian pemikiran dan kaidah-kaidah dalam
tata bahasa atau kamus dengan keadaan zaman.
b. Dasar bahasa penulis-penulis terkenal adalah pembakuan bahasa yang berdasarkan bahasa
dyang

digunakan oleh para penulis

terkenal. Pemakaian

dasar ini juga patut

mempertimbangkan kesesuaian bahasa yang digunakan dengan keadaan sekarang. Selain itu,
tidak ada yang bisa menjamin bahwa penulis-penulis terkenal telah menguasai aturan tata
c.

bahasa dengan baik.


Dasar demokrasi adalah menentukan bahasa yang baku atau tidak baku dengan
menggunakan data statistik untuk mengetahui frekuensi penggunaannya. Bahasa yang
frekuensinya paling banyak akan dianggap bahasa yang paling benar/baku, demikian
sebaliknya. Penggunaan dasar ini juga menimbulkan masalah keakuratan data statistik yang

d.

tidak dapat menentukan kebakuan suatu bahasa.


Dasar logika, maksudnya adalah dalam penentuan baku ataupun tidak baku digunakan
pemikiran logika, bisa diterima akal atau tidak. Tampaknya dasar logika tidak dapat
digunakan untuk menentukan kebakuan bahasa, sebab seringkali benar dan tidak benar

e.

struktur bahasa tidak sesuai dengan pemikiran logika.


Dasar bahasa orang-orang terkemuka dalam masyarat. Maksudnya penentuan baku atau
tidaknya suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa orang-orang terkemuka seperti
pemipin, wartawan, pengarang, guru dan sebagainya. Menurut Baradja penentuan baku atau
tidaknya suatu bentuk bahasa indonesia, barangkali dapat menggunakan dasar kelima ini
yang digabungkan dengan dasar pertama yaitu dasar otoritas.
Dalam menetapkan suatu ragam bahasa menjadi bahasa baku, ada tiga hal yang menjadi

pedoman, yaitu
a. Dasar keserasian: bahasa yang digunakan dalam komunikasi resmi,baik tulis maupun lisan.
b. Dasar keilmuan: bahasa yang digunakan dalam tulisan-tulisan ilmiah.
c. Dasar kesastraan: bahasa yang digunakan dalam berbagai karya sastra.
Masalah pembakuan bahasa terkait dengan dua hal, yakni kebijaksanaan bahasa dan
perencanaan bahasa. Melalui kebijaksanaan bahasa, bahasa dipilih dan ditentukan salah satu
dari sejumlah bahasa yang ada untuk dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi
kenegaraan. Sedangkan melalui perencanaan bahasa, bahasa dipilih dan ditentukan sebuah
ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada untuk dijadikan ragam baku atau ragam standar
bahasa tersebut
Usaha pembakuan bahasa, sebagai salah satu usaha pembinaan dan pengembangan
a)

bahasa, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai sarana, yaitu
Pendidikan : pendidikan sebagai situasi formal bukan hanya membutuhkan penggunaan
bahasa baku, tetapi juga merupakan tempat untuk menyebarluaskan pengembangan dan
penyebaran bahasa baku.

b)

Industri Buku : industri buku juga sangat penting dalam penyebaran dan pengembangan

bahasa baku, sebab melalui bukulah ragam bahasa baku dapat ditampilkan
c) Perpustakaan : adanya perpustakaan dengan jumlah buku yang tersedia cukup banyak akan
mempercepat proses pembakuan bahasa. penyebaran dan pengembangan bahasa baku tidak
dapat dilepaskan dari keberadaan perpustakaan.
d) Administrasi Negara : kelangsungan eksistensi bahasa baku dapat terjamain dengan adanya
administrasi negara yang rapi, tertib dan teratur. Admistrasi negara yang tidak teratur akan
merusak kelangsungan eksistensi bahasa baku.
e) Media massa : tersedianya media massa baik tulis maupun elektronik akan menjamin
f)

tercapainya pembakuan bahasa dengan lebih luas.


Tenaga : pembakuan bahasa juga memerlukan tenaga-tenaga terlatih dan terdidik dalam
bidang kebahasaan. Tiadanya atau kurangnya tenaga kebahasaan ini akan menyulitkan proses

g)

pembakuan bahasa.
Penelitian : tanpa adanya penelitian yang terus menerus di bidang kebahasaan, usaha
pengembangan dan pembakuan bahasa tidak akan mencapai kemajuan.

5. Bahasa Indonesia baku


Ketika kita telah memilih satu ragam bahasa Indonesia untuk dijadikan ragam baku dan
mengusahakan agar ragam bahasa tersebut mempunyai ciri kemantapan yang dinamis,
kecendekiaan, kerasionalan, maka pembakuan itu harus diterapkan kepada semua tataran
tingkat bahasa, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik. Usaha
mengelola ragam bahasa tersebut harus dilakukan secara kontinu selama bahasa itu
digunakan.
Fonem-fonem dalam bahasa Indonesia telah ditentukan keberadaannya, tetapi lafal atau
pengucapan bahasa Indonesia belum pernah dilakukan pembakuan. Menurut Konsensus,
seseorang telah berbahasa Indonesia dengan lafal baku apabila ia tidak menampakkan ciri-ciri
bahasa daerah. Dalam hal ini, lafal para penyiar RRI dan TVRI telah dianggap sebagai lafal
baku bahasa Indonesia.
Ejaan dalam bahasa Indonesia telah dilakukan pembakuan. Pembakuan ejaan ini dimulai
dari penetapan ejaan Van Ophuijsen (1901), dilanjutkan dengan perbaikan yang dikenal
dengan ejaan Suwandi atau ejaan Republik (1974), dan disempurnakan dengan penetapan
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972. Dalam ejaan diatur
cara menggunakan huruf, cara penulisan kata dasar, kata ulang, kata gabung, cara penulisan
kalimat, dan cara penulisan unsur-unsur serapan.
Nonbaku
Akhli
Atlit
Cuman

Baku
Ahli
Atlet
Cuma

Nonbaku
Akwarium
Beaya
Atmosfir

Baku
Akuarium
Biaya
Atmosfer

Nonbaku
Perangko
Konggres
Merubah

Baku
Prangko
Kongres
Mengubah

Esensiil
Frekwensi
Hapal
Himbau
Himpit
Nopember

Esensial
Frekuensi
Hafal
Imbau
Impit
November

Cabe
Ekstrim
Halangan
Hempas
Hutang
Biadap

Cabai
Ekstrem
Alangan
Empas
Utang
Biadab

Halangan
Doa
Kaedah
Komplek
Metoda
Nasehat

Alangan
Doa
Jadwal
Kompleks
Metode
Nasihat

Pembakuan tata bahasa dalam bahasa Indonesia sudah dilakukan dengan diterbitkannya
buku tata bahasa yang diberi nama Tata Bahasa Baku Indonesia.

Pembakuan bidang

kosakata dan peristilahan dalam bahasa Indonesia telah lama dilakukan yang dilakukan
dengan mempertimbangkan: ejaan, lafal, bentuk, dan sumber pengambilan. Dilihat dari segi
sumbernya, istilah-istilah dalam bahasa Indonesia yang diambil dapat bersumber dari (1)
kosakata bahasa Indonesia (baik yang lazim maupun tidak), (2) kosakata bahasa serumpun,
dan (3) kosakata bahasa asing.
Kata bahasa Indonesia, khususnya kata umum, baik yang lazim maupun yang tidak lazim
dapat menjadi bahan istilah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat diterima
menjadi bahan istilah, yaitu kata dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses,
keadaan atau sifat yang dimaksudkan; kata lebih singkat daripada kata yang lain yang
berujukan sama; kata yang tidak bernilai rasa (konotasi) buruk dan yang sedap didengar
(eufonik).
Seandainya dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat untuk
menggambarkan konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksudkan, maka akan dicari
istilah dalam bahasa serumpun, baik yang lazim maupun yang tidak lazim. Istilah tersebut
setidaknya adalah kata yang dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan
atau sifat yang dimaksudkan. Bahasa baku seringkali harus meminjam unsur leksikal dari
kosakata tidak baku, karena memang diperlukan. Peminjaman tersebut bisa dilakukan jika
memang diperlukan, karena belum ada padanan katanya dalam kosakta bahasa baku. Akan
tetapi, jika dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa serumpun tidak ditemukan istilah
yang tepat, maka bahasa asing dapat dijadikan sumber peristilahan Indonesia. Istilah baru
dapat dibentuk dengan

menerjemahkan, menyerap, menyerap sekaligus menerjemahkan

istilah asing itu.


Sehubungan dengan adanya ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis, serta adanya
pembakuan bahasa, Halim (dalam Chaer, 1995) menyatakan perlu dibedakan antara ragam
baku lisan dan ragam baku tulis. Ragam baku tulis adalah ragam baku yang dipakai denngan
resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya. Pemerintah telah
mendahulukan ragam baku tulis dengan menerbitkan masalah ejaan bahasa Indonesia yang

tercantum dalam buke Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman
Pembentukan Istilah, dan Pengadaan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Selain ragam baku tulis, ragam baku lisan juga dimasyarakatkan. Berbeda dengan ragam
baku tulis, ragam baku lisan penanganannya sangat sulit, karena umumnya para penutur
bahasa Indonesia memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Aibatnya, pengaruh
bahasa pertama,baik fonologi, morfologi, sintaksis maupun logat atau dialek akan terjadi bila
ia

bertutur

dengan

menggunakan

bahasa

Indonesia.

Seseorang dikatakan menggunakan ragam baku lisan apabila ia dapat meminimalkan atau
menghilangkan ragam daerah dalam tuturan. Artinya, bila ia berbicara maka orang lain tidak
dapat mengidentifikasi secara linguistik dari mana ia berasal.
Bahasa baku, baik dalam ragam lisan maupun tulisan selalu dikaitkan dengan bahasa
sekolah atau disebut pula bahasa tinggi sehingga ragam tinggi sering dikaitkan
penggunaannya dengan kaum terpelajar. Bahasa kaum terpelajar memiliki ciri perbedaan lafal
yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan bahasa kaum nonpelajar. Pada umumnya
aspek-aspek bunyi dan tekanan yang membedakan ragam bahasa baku dengan ragam bahasa
nonbaku bersumber pada perbedaan sistem bunyi bahasa Indonesia dengan bahasa ibu para
penutur yang cenderung menghasilkan ragam regional bahasa Indonesia yang lazim disebut
logat atau aksen.
Adanya ragam baku, termasuk lafal baku, dalam bahasa Indonesia merupakan tuntutan
Sumpah Pemuda dan UUD 1945. Pengikraran bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan
dengan nama bahasa Indonesia menuntut setiap orang Indonesia untuk bisa berkomunikasi
satu sama lain baik secara lisan maupun tertulis dalam bahasa persatuan. Penetapan bahasa
Indonesia

sebagai

bahasa

negara

berarti

bahwa

segala

bentuk

kegiatan

dalam

penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara dilakukan dalam bahasa Indonesia.


Semua kegiatan komunikasi verbal dalam bahasa Indonesia itu, secara lisan atau secara
tertulis, hanya akan mencapai hasil yang baik jika ada semacam rujukan yang dimiliki
bersamadalam hal ini ragam baku bahasa Indonesia. Untuk keperluan berbahasa lisan tentu
saja dibutuhkan lafal baku. Upaya pembakuan lafal bahasa Indonesia pada dasarnya dapat
dilaksanakan dengan dua jalur, yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah.
Pembakuan lafal melalui sekolah pada umumnya dilakukan secara pasif. Guru tidak secara
khusus melatih para murid untuk menggunakan lafal baku. Murid belajar lafal baku melalui
apa yang didengarnya dari guru dan, pada tahap tertentu, dari sesama murid. Melalui
pelajaran baca-tulis, murid dapat mengetahui nilai (fonetis) untaian huruf yang digunakan
untuk menuliskan kata-kata Indonesia. Peranan guru dalam upaya pembinaan lafal bahasa

baku sangatlah besar. Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam usaha
pembinaan lafal baku pada dunia pengajaran.
a. Guru haruslah menyadari bahwa lafalnya merupakan model atau kerangka acuan bagi muridmuridnya. Karena itu, hendaklah guru mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pengetahuan
fonologi akan banyak membantu tugasnya.
b. Guru perlu mengetahui aspek-aspek fonologi yang khas di daerah tempatnya mengajar agar
dapat mengetahui bunyi-bunyi yang sukar bagi murid-muridnya. Di daerah Tapanuli dan
sebagian besar Indonesia bagian timur, vokal /E/ cenderung dengan E taling.
c.

Guru hendaklah menyadari bahwa (ragam) bahasa menjadi lambang kelompok sosial.
Karena itu guru perlu menghargai logat murid-muridnya. Apabila murid merasa direndahkan
karena ketidak-mampuannya berbahasa Indonesia dengan lafal baku sebagai akibat pengaruh
logat/bahasa ibunya, maka ia cenderung menolak apa saja yang berbau lafal bahasa Indonesia
baku.
Lafal baku sebagai perwujudan ragam bahasa baku mempunyai nilai sosial yang tinggi. Di
berbagai belahan di dunia, acapkali ragam bahasa para penutur dari kalangan kelas sosial atas
sering dijadikan acuan atau model. Hal ini terlihat jelas di Indonesia. Ketika presiden sering
terdengar mengucapkan -kan sebagai [k n] maka banyak orang yang latah ikut-ikutan
mengucapkan [-k n] walaupun mereka bukan dari suku Jawa. Pemberian model lafal yang

baik kepada masyarakat perlu memperhatikan hal-hal berikut.


a. Setiap pemimpin dan tokoh masyarakat yang biasa dalam tugasnya berhadapan langsung
dengan rakyat perlu berusaha menggunakan lafal baku.
b. Para penyiar radio dan televisi hendaklah memberikan model yang baik bagi para pendengar
khususnya dalam pembicaraan yang bersifat resmi, seperti pembacaan berita atau wawancara
resmi dengan tokoh-tokoh masyarakat. Peranan televisi dan radio itu sangat besar dalam
pembentukan lafal bahasa Indonesia yang ada dewasa ini.
Persatuan yang kuat hanya bisa tercipta kalau ada bahasa yang digunakan bersama dengan
pemahaman yang sama. Meskipun begitu, upaya pembakuan lafal hendaklah dilakukan
secara hati-hati karena lafal lebih peka terhadap sentimen sosial. Upaya pembakuan lafal
selama ini dapat dipertahankan. Yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran kita sebagai
pemodel lafal.

Pengertian Paragraf (Alenia)

Paragraf (Alenia) merupakan kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan
lebih luas dari pada kalimat. Alenia merupakan kumpulan kalimat, tetapi kalimat
yang bukan sekedar berkumpul, melainkan berhubungan antara yang satu dengan
yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk suatu kalimat, dan juga bisa
disebut dengan penuangan ide penulis melalui kalimat atau kumpulan alimat yang
satu dengan yang lain yang berkaitan dan hanya memiliki suatu topic atau tema.
Paragraf
juga
disebut
sebagai
karangan
singkat.
Dalam paragraph terkandung satu unit pikiran yang didukung oleh semua kalimat
dalam kalimat tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat
topic, dan kalimat penjelas sampai kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling
berkaitan dalam satu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan.
Panjang pendeknya suatu paragraph akan ditentukan oleh banyak sedikitnya
gagasan pokok yang diungkapkan. Bila segi-seginya banyak, memang layak kalau
alenianya sedikit lebih panjang, tetapi seandainya sedikit tentu cukup dengan
beberapa
kalimat
saja.
B.
Struktur/Jenis-Jenis
Paragraf
(Alinea)
Deduktif
Struktur paragraph yang bersifat deduktif ini dimulai oleh kalimat inti, kemudian
diikuti uraian, penjelasan argumentasi, dan sebagainya. Dimulai dengan pernyataan
(yang tentunya brsifat umum), kemudian kalimat-kalimat berikutnya berusaha
membuktikan pernyataan tadi dengan menyebutkan hal-hal khusus, atau detaildetail
seperlunya.
Induktif
Struktur paragraph yang bersifat induktif adalah kebalikan dari pola yang bersifat
deduktif. Pola ini tidak dimulai dengan kalimat inti, dimulai dengan menyebutkan halhal khusus atau uraian yang merupakan anak tangga untuk mengantarkan pembaca
kepada gagasan pokok yang terdapat pada kalimat inti di akhir alenia. Jadi anakanak
tangga
itu
disusuk
untuk
mencapai
klimaks.
Deduktif
dan
Induktif
Pola paragraph yang ketiga ini adalah gabungan dari dua pola diatas (1, dan 2). Di
sini, pada kalimat pertama (sebagai kalimat inti) gagasan pokok telah dinyatakan;
tetapi pada kalimat terakhir, kembali diulang sekali gagasan pokok tersebut.
Deskriptif
atau
Naratif
Dalam pola ini, gagasan pokok tidak terbatas hanya dalam satu kalimat saja. Inti
persoalannya akan didapati pada hampir semua kalimat pada paragraf tersebut. Kita
harus membaca seluruh kalimat dalam paragraf itu, baru dapat memahami gagasan
yang
hendak
disampaikan
oleh
pengarangnya.
Jenis alinea dapat pula ditentukan berdasarkan cara kita mengembangkan ide dan
alat bantu yang digunakan untuk menjaga kesinambungan pengungkapan ide atau
keruntunan
ide.
Jenis
alinea
tersebut
adalah
:

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Alinea
Alinea
Alinea
Alinea
Alinea
klimaks
atau
Alinea
anti
klimaks
atau
Alinea
Alinea
sebab
Alinea
Alinea

definisi
contoh
perbandingan
anlogi
induktif
deduktif
campuran
akibat
proses
deskriptif

Berikut
ini
diberikan
contoh
untuk
setiap
alinea.
a.
Alinea/Paragraf
Definisi
contoh
:
Loyalitas pelanggan adalah suatu sikap dan prilaku seseorang untuk tetap bertahan
dalam membeli sesuatu pada took yang diyakininya sebagai took yang dapat
dipercaya,baik tentang harga maupun tentang kualitas barag.Meskipun banyak tooktoko baru yang bermunculan,ia tetap menjadi pelanggan yang setia pada took itu
betapapun gencarnya usaha pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan
lain,keyakinannya
tidak
goyah
terhadap
took
yang
dilangganiya.
Ide pokok pada alinea atau paragraf ini merupakan suatu definisi yang terdapat pada
bagian awal.Jadi, alinea ini merupakan alinea definisi dan juga alinea deduktif.
b.
Alinea
contoh
contoh
:
Perubahan telah terjadi pada industri tradisional.Berbagai jenis peralatan produk
baru seperti mesin potong, mesin pres, mesin bor, mesin bubut mesin las kini telah
meningkat kapasitasnya dengan berlipat ganda. Kapasitas mesin potong pada
industri modern telah banyak meningkat sebanyak ribuan kalilipat selama 1900-an.
Hal ini dimungkinkan karena telah ditemukannya logam yang tetap keras meskipun
dioprasikan dalam kecepatan sangat tinggi. Disamping itu, telah tercipta pula mesinmesin peralatan yang sangat kuat untuk mendukung proses tersebut.
Ide pokok pada paragraph diatas dikembangkan dngan menggunakan contoh.ide
pokok terdapat pada bagia awal jadi alinea ini juga merupakan alinea deduktif.
c.
Alinea
perbandingan
Contoh
:
Tata cara kehidupan masyarakat primitif berbeda dengan modern. Masyarakat
primitive dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari bahan-bahan yang tersedia
dilingkungannya tanpa membelinya. Jika barang yang diperlukannya tidak ada
dilingkungannya,maka mereka dapat memperolehnya dari masyarakat tetangganya
dengan sistem barter (saling menukar barang). Alat-alat yang diperluka untuk
memenuhi kebutuhannya juga diperoleh dari lingkungannya, yaitu berupa batu,
tanah liat, atau pun dahan pohon yang diolah secara manual. Sedangkan
masyarakat modern memperoleh kebutuhannya dengan cara membeli barang atau
membayar jasa. Alat-alat yang diperlukan merupakan olahan dari pabrik yang juga

harus
dibeli
untuk
memeperolehnya.
Ide pokok pada alinea ini terdapat pada bagian awal. Ide diungkapkan secara
perbandingan. Pada contoh diatas, ide yang dibandingkan dengan cara memperoleh
barang-barang, alat, dan jasa yang diperlukan dalam kehidupan antara masyarakat
primitif
dan
masyarakat
modern.
d.
Alinea
analogi
Contoh
:
Bahasa bukan merupakan tujuan dalam penulisan karangan ilmiah.Bahsa hanya
sebagai alat (komunikasi) agar gagasan ilmiah yang diungkapakan dalam karangan
tersebut dapat dipahami oleh pembaca dengan baik. Oleh sebab itu,sebelum
karangan itu sampai ketangan pembaca,penulis karang tersebut harus memeriksa
bahasa yang digunakannya, baik dari segi ketetapan pemilihan kata dan istilah
maupun dari segi gramatikal satuan-satuan struktur bahasa, misalnyastuktur satuan
kata, frasa klausa, kalimat, dan alinea atau paragrafnda juga pemakaiaan ejaan dan
tanda baca secara tepat. Jika terjadi gangguan atau kerusakan pada unsure-unsur
bahasa tersebut,besar kemungkinan pembaca tidak dapatmemahami gagasabn
ilmiah yang disampaikannya itu dengan baik. Hal ini dapat diibaratkan dengan
kendaraan yang digunakan untuk mencapai tujuan perjalanan yang jauh. Sebelum
berangakat,orang yang akan bepergian dengan kendaraan tersebut harus
memeriksa kondisi kendaraannya, baik yang berkaitan dengan rem, versneling,
roda, ban, bensin dan sebagainya.kalau perlu orang itu harus membawa
kendaraannya ke bengkel untuk diperiksa agar yang bersangkutan selamat sampai
ketempat
tujuan.
Ide pokok pada paragraf atau alinea diatas terdapat pada bagian awal. Jadi alinea
ini termasuk alinea deduktif. Pengungkapan ide dijelaskan dengan membandingkan
ide pokok (bahasa sebagai alat) secara analogi dengan menggunakan hal lain yang
sama karakternya dengan bahasa sebagai alat dalam penulisan karangan
ilmiah,yaitu kendaraan (mobil) sebagai alat untuk mencapai tempat tujuan dengan
selamat.
e.
Alinea
Klimaks
atau
Induktif
Contoh
:
Pendanaan bank diperoleh dari berbagai sumber,yaitu yang bersumber dari pemilik
bank,dari masyarakat penanam modal,dari masyarakat sebagai nasabah.Setiap
pihak menyandang dana mempunyai kepentingan dalam ropda kegiatan aliran arus
dana.Tidak ada di antara mereka yang mau dirugikandalam kebijakan pelasanaan
kegiatan tersebut.Masing-masing mengharapkan keuntungan sesuai dengan
ketentuan dan cara-cara yang lazim.Oleh sebab itu,majemen perbankan yang sehat
memegang peranan penting dalam pengelolaan dana yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian, penghimpunan, penyaluran, serta pengendalian dana sehingga
tidak
ada
pihak
yang
dikecewakan.
Ide pokok pada alinea di atas terdapat pada bagian akhir yang merupakan
kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang dikemukakan sebelumnya (klimaks).

Pengungkapan

ide

dijelaskan

dengan

hubungan

sebab

akibat.

f.
Alinea
Anti
Klimaks
atau
Deduktif
Contoh
:
Masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat adalah masalah keuangan.Produksi
barang dan jasa melimpah-limpah ditawarkan kepada masyarakat,sedangkan
kemampuan masyarakat untuk membeli dan memperolehnya sangat
terbatas.Penghasilan mereka rata-rata jauh lebih rendah daripada kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan pokok.Oleh sebab itu,mereka tidak bisa memperoleh
semua
barang
dan
jasa
yang
diperlukan.
Ide pokok pada alinea diatas terdapat pada bagian awal.Jadi alinea ini termasuk
alinea deduktif. Ide dikembangkan dengan hubungan sebab-akibat.Kalimat ketiga
menyatakan adanya penyebab masalah ekonomi. Kalimat terakhir mengandung ide
yang menyatakan akibat dari pernyataan pada kalimat ketiga.Hal ini dipertegas pula
oleh adanya ungkapan penghubung oleh sebab itu sebagai penanda adanya
hubungan
kolerasi
secara
eksplisit.
g.
Alinea
Campuran
Contoh
:
Koperasi merupakan badan usaha yang mengutamakan kesejahteraan ekonomi
anggotanya.Mencari keuntungan besar tidak menjadi tujuan utamanya.Modalnya
dikumpulkan dari anggotanya.Kegiatan usahanya juga dilakukan oleh
anggotanya.Keuntungan yang diperoleh badab usaha ini juga diperuntukan bagi
anggotanya.Oleh sebab itu,bila usaha ini dilakuka dengan baik dan jujur,koperasi ini
betul-betul
dapat
mensejahterakan
keadaan
ekonoi
anggotanya.
Ide pokok alinea terdapat pada kalimat awal dan akhir. Jadi,alinea ini merupakan
alinea campuran alinea deduktif dan induktif yang disingkat dengan sebutan alinea
camouran. Ide pada kalimat akhir alinea ini merupakan penegasan bterhadap ide
yang diungkapkan pada kalimat awal.Jadi,ide pokok pada alinea ini tetap satu.
Kaitan ide antarkalimat yang membentuk alinea ii dinyatakan secara eksplisit, yaitu
dengan menggunakan akhiran (-nya) yang mengacu pada koperasi sebagai suatu
badanusaha.
h.
Alinea
Sebab
Akibat
Lihat
contoh
(f)
di
atas.
i.
Alinea
Proses
Contoh
:
Sebagai suatu fungsi penyediaan jasa,akuntansi merupakan sumber informasi
keuangan
yang
bersifat
kuantitatif
kepada
berbagai
pihak
yang
berkepentingan.Sebagai suatu system informasi,petugas akuntansi (akuntan)
melaksanakan
pengumpulan
dan
pengolahan
data
keuangan
perusahaan.Perusahaan harus selalu mengikuti perkembangan data akuntansi
sehari-hari.Hari ini perlu dilakukan sbagi pedoman untuk membuat keputusan
ekonomis.

j.
Alinea
Deskriptif
Suatu lembah dikelilingi tebing terjal yang ditumbuhi oleh berbagai jenis
pepohonan.beberapa ekor kera bermain sambil berlompatan di antara batang
pohon.Di tengah lembah terdapat sebuah sungai yang airnya jernih dan
sejuk.Sungai itu tidak terlalu dalam.beberapa orang remaja berjingkrak menyrbrangi
sungai sambil bergurau.Di pinggir sungai juga banyak remaja berjalan-jalan dan ada
juga yang sedang mengabadikan pemandangan alam yang indah itu dengan
kameranya.Sebagian ada yang duduk di bawah naungan pohon yang rindang sambil
bercengkrama.Udara di lembah itui sangat sejuk.Sungguh suatu pemandangan yang
indah
dengan
suasana
yang
menyenangkan.
Ide pada alinea di atas dikembangkan secara deskriptif.Tidak ada salah satu kalimat
yang mengandung ide pokok.Walaupun secara eksplisit tidak dinyatakan ide
pokoknya pada alinea ini,pembaca alinea ini dapat mengetahui ide pokoknya adalah
suatu lokasi pariwisata yang sangat indah yang sering dikunjungi oleh para remaja
pada waktu hari libur.Jadi,ide pokok pada alinea deskriptif tetap ada,hanya tidak
dinyatakan secara eksplisit.Ide pokok dapat diketahui pembaca dengan cara
menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang diungkapkan pada alinea ini.
C.

Unsur-unsur

alinea

Alinea adalah satu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat kalimat yang
dipergunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyatakan dan menyampaikan
jalan pikirannya kepada para pembaca.Supaya pikiran tersebut dapat diterima oleh
pembaca,alinea harus tersusun secara logis-sistematis.Alat bantu untuk
menciptakan susunan logis-sistematis itu adalah unsur-unsur penyusun
alinea,seperti transisi (transition),kalimat topik (topic sentence),kalimat pengembang
(development
sentence),dan
kalimat
penegas
(punch-line).
Keempat
unsur
penyusun
alinea
tersebut,terkadang
muncul
secara
bersamaan,terkadang pula hanya sebagian yang muncul dalam sebuah alinea.
1.
Alinea
yang
Memiliki
Susunan
alinea
jenis
ini
a.
Tarnsisi
(berupa
kata,kelompok
b.
Kalimat
c.
Kalimat
d.
Kalimat
2.
Alinea
a.
b.

Alinea
yang
Memiliki
jenis
ini
terdiri
Transisi
(berupa
kata,kelompok
Kalimat

Empat
Unsur
terdiri
atas
:
kata,atau
kalimat);
topik;
pengembang;
penegas.
Tiga
atas
kata,atau

Unsur
:
kalimat);
topik;

c.
3.
Alinea
a.
b.
D.

Kalimaat
Alinea
jenis

yang
ini
Kalimat
Kalimat

Tujuan

pengembang.
Memiliki
terdiri

Dua
atas

Unsur
:
topik;
pengembang.

Pembentukan

Alinea

Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari


tema yang lain. Oleh sebab itu alinea hanya boleh mengan dung suatu tema, bila
terdapat
dua
tema,
maka
dipecahkan
menjadi
dua
alinea.
Memisahkan dan menegaskan perkataan secara wajar dan formal, untuk
memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhatian pada akhir kalimat.
Dengan perhentian yang lrbih lama ini, konsentrasi terhadap tema alinea lebih
terarah.
E.

Syarat-Syarat

Pembentukan

Alinea

Seperti halnya kalimat, sebuah alinea juga harus memenuhi syarat tertentu. Alinea
yang
baik
dan
efektif
harus
memenuhi
ketiga
syarat
berikut:
1) Kesatuan, maksudnya semua kalimat yang membina alinea itu secara bersamasama
menyatakan
satu
hal
suatu
hal
tertentu.
2) Koherensi (kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang
lain
yang
membentuk
alinea
itu).
3) Perkembangan alinea (perkembangan alinea adalah penyusunan/ perician
daripada
gagasan-gagasan
yang
membina
alinea-alinea
itu).
F.

Perkembangan

Alinea

Perkembangan dan pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu,


1. Kemampuan merinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasangagasan
bawahan.
2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu urutan
yang
teratur.
Adapun

metode

pengembangan

alinea

antara

lain

a.
Klimaks
Dan
Anti
Klimaks
Perkembanagn gagasan dalam sebuah alinea dapat disusun dengan
mempergunakan dasar klimaks, yaitu gagasan utama yang mula-mula diperinci
dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya.
Berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi
kedudukannya. Dengan kata lain, gagasan-gagasan bawahan disusun dengan
sekian macam sehingga tiap gagasan yang berikut lebih tinggi kepentingannya dari
gagasan
sebelumnya.
Variasi dari klimaks adalah antiklimaks yaitu, penulis memulai dari gagasan yang
dianggap paling tinggi kedudukannya kemudian perlahan-lahan menurun melalui
gagasan
yang
lebih
rendah
dan
semakin
rendah.
b.
Sudut
Pandangan
Yang dimaksud sudut pandangan adalah tempat dimana seorang pengarang melihat
sesuatu. Tapi, sudut pandang pandangan tidak diartikan sebagai penglihatan atas
suatu barang dari atas atau dari bawah. Tetapi, bagaimana kita melihat barang itu
dengan mengambil suatu posisi tertentu. Bagaimana seseorang menggambarkan isi
sebuah ruang? Pertama-tama ia harus mengambil sebuah posisi tertentu, kemudian
secara perlahan-lahan berurutan menggambarkan barang demi barang yang
terdapat dalam ruangan tersebut, dimulai dari yang paling dekat berangsur-angsur
kebelakang. Sebab itu, urutan ini juga disebut urutan ruang-ruang. Sudut pandangan
atau
point
of
view
ini
mempunya
dua
pengertian,
1. Sudut pandangan ini mencakup apakah sersoalan yang sedang dibahas dilihat
dari sudut pandangan orang pertama (saya, kami, kita) atau orang ke dua (engkau,
kamu, saudara) atau juga bentuk tak berorangbentuk sudut pandangan ini sama
sekali tidak ada hubungan dengan dasar pengembangan sebuah alinea. Tetapi,
mencangkup
konsistensi
sudut
pandangan
dari
seluruh
uraian.
2. Mencakup pengertian bagaimana pandangan atau anggapan penulis terhadap
subjek yang telah digarapnya itu. Sudut pandang ini membuat pengarangnya
memilih nada tertentu, kata-kata dan frase tertentu. Membentuk bahan mental
menjadi suatu karangan, ia membantu merumuskan meksud penulis dan membatasi
pokok
yang
akan
digarapnya.
c.
Perbandingan
Dan
Pertentangan
Yaitu suatu cara dimana pengarang menunjukkan kesamaan / perbedaan antara dua
orang bjek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu. Kita dapat
membandingkan misalnya dua tokoh pendidikan, bagaimana politik pendidikan yang
dijalankannya dengan memperhatikan pola segi-segi lain untuk menerangkan
gagasan sentral itu. Maksudnya untuk sampai kepada suatu penilain yang relatif
mengenai ke dua tokoh tersebut. Segi-segi perbandingan dan pertentangan harus
disusun sekian macam sehingga kita dapat sampai kepada gagasan sentralnya.
d.

Analogi

Bila perbandingan dipertentangan memberi sejumlah ketidaksamaan dan perbedaan


antar 2 hal, maka analogi merupakan perbandingan yang sistematis dari 2 hal yang
berbeda tetapi dengan memperlihatkan kesamaan segi/ fungsi dari kedua hal tadi
sebagai menunjukkan kesamaan-kesamaan antara 2 barang/ hal yang berlainan
kelasnya. Bila seorang mengatakan: Awan dari ledakan bom atom itu, membentuk
sebuah cendawan raksasa, maka perbandingan antara awan ledakan atom dan
cendawan. Merupakan sebuah analogi sebab kedua hal itu sangat bebeda kelasnya,
keduali
kesamaan
bentuknya.
e.
Contoh
Sebuah gagasan yang terlalu umum sifatnya, atau generalisasi-generalisasi
memerlukan ilustrasi-ilustrasi yang konkret sehingga daapt difahami oleh pmebaca.
Untuk ilustrasi terhadap gagasan-gagasan atau pendapat yang umum itu maka
sering dipergunakan contoh-contoh yang konkret, yang mengambil tempat dalam
sbuah alinea, tetapi harus diingat bahwa sebuah contoh sama sekali tidak berfungsi
untuk membuktikan pendapat seseorang. Tetapi dipakai sekedar untuk menjelaskan
maksud penulis dan hal ini pengalaman-pengalaman pribadi merupakan bahan yang
paling
efektif
untuk
setiap
pengarang.
f.
Proses
Sebuah dasar lain yang dapat juga dipergunakan untuk menjaga agar
perkembangan sebuah alinea dapat disusun secara teratur adalah proses. Proses
merupakan
suatu
urutan
dari
suatu
kejadian/
peristiwa.
Dalam

menyusun

sebuah

proses

diperlukan

hal-hal

sebagai

berikut:

Penulis
harus
mengetahui
perincian-perincian
secara
menyeluruh
- Penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya, bila tahaptahap kejadian ini berlangsung dalam waktu-waktu yang berlainan, maka penulis
harus
memisahkan
dan
mengurutkannya
secara
kronologis
- Penulis harus menjelaskan tiap tahap dalam detail yang cukup tegas sehingga
pembacaan dapat melihat seluruh proses itu dengan jelas.Sehigga proses itu
menyangkut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bagaimana mengerjakan hal itu?
Bagaimana bekerjanya? Bagaimana barang itu disusun? Bagaimana hal itu terjadi?.
g.
Sebab-Akibat
Perkembangan sebuah alinea dapat juga pula dinyatakan dengan mempergunakan
sebab-akibat sebagai dasar, dan hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan
utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Tetapi daapt juga
dibalik akibat dijadikan gagasan utama sedangkan untuk memahami sepenuhnya
akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciaanya.
Persoalannya sebab akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses,
bila proses itu dipecah-pecahkan untuk mencari hubungan antara bagian-bagianya,

maka proses itu dapat dinamakan proses kausal/ proses sebab akibat. Sebuah
variasi dari sebab akibat ini adalah pemecahan masalah, pemecahan maslah yang
bertolak dari hubungan kausal, tetapi tidak berhenti disitu saja, ia masih berjalan
lebih lanjut menunjukkan jalan-jalan keluar untuk menjauhkan sebab-sebab tersebut
atau
menjauhkan
akibat
yang
dihasilkan
oleh
sebab-sebab.
h.
Umum-Khusus
Dan
Khusus-Umum
Kedua cara ini, yaitu umum-khusus dan khusus-umum cara ini merupakan cara yang
paling umum untuk mengembangkan gagasan-gagasan dalam sebuah alinea secara
teratu. Dalam hal yang pertama gagasan utamanya di tempatkan pada awal alinwa,
serta pengkhususan atau perincian-perincianya terdapat dalam kalimat berikutnya,
sebaliknya dalam hal yang kedua mula-muladikemukakan perincianya, kemudian
pada akhir alinea generalisasinya. Jadi yang satu bersifat deduktif, sedangkan
lainnya
bersifat
induktif.
Sebuah variasi dalam kedua jenis alinea itu adalah semacam penggabungan. Yaitu
pada awal alinea terdapat gagasan utamanya ( jadi bersifat umum-khusus). Tetapi
pada akhir alinea gagasan utama tadi diulang sekali lagi ( jadi bersifat khusus-umum
).
i.
Klasifikasi
Yang dimaksud dengna klasifikasi adalah sebuah proses untuk mengelompkkan
barang-barang yang dianggap mempunyai kesamaan-kesamaan tertentu. Sebab itu
klasifikasi bekerja kedua arah yang berlawanan.yaitu pertama, mempersatukan
satuan-satuan kedalam kelompok, dan kedua, memisahkan kesatuan tadi dari
kelompok yang lain. Dengan demikian klasifikasi mempunyai persamaan-persamaan
tertentu baik dengan pertentangan dan perbandingan maupun dengan umumkhusus
dan
khusus-umum
j.
Definisi
luas
Yang dimaksud definisi dalam pembentukan sebuah alinea adalah usaha pengarang
untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal. Disini kita
tidak menghadapi hanya satu kalimat ( lihat definisi dalam baggian tentang kalimat),
tetapi suatu rangkaian kalimat yag membentuk sebuah alinea. Malahan kadangkadang untuk memberi pengertian yang bulat tentang pengertian itu, satu alinea
dianggap belum cukup, sehingga diperlukan rangkaian dari pada alinea-alinea.
Malahan dapat pulan dalam bentuk sebuah buku. Namun prinsip-prinsip definisi
tetap sama. Di sini kita lebih sering menghadapi sebuah definisi luas daripada
definisi formal biasa, atau definisi dengan menerapkan etimmologi kata atau istilah
tersebut.
Cara apapun yang dipergunakan untuk memperoloh kebulatan alinwa, prinsip
kesatuan ide, perpaduan ( koherensi ) dan perkembangan yang baik tidak boleh
dilanggar begitu saja. Pelanggaran atas prinsip-prinsip tersebut mengakibatkan
tergangunya
konsentrasi
atas
ide
sentralnya.

k.
Perkembangan
Dan
Kepaduan
Antar
Alinea
Kesatuan-kesatuan yang kita sebut alinea ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan
suatu unsur yang kecil dalam sebuah unit yang lebih besar, entah berupa bab
maupun untu yang berupa sebuah karangan yang lengkap. Karena alinea
merupakan unit yang lebih kecil, maka harus dijaga agar hubungan antara alinwa
yang satu dengan alinea yang lain, yang bersama-sama membentuk unit yang lebih
besar
itu
terjalin
dengan
baik.
Tiap tulisan yang baik selalu akan berlolak dari sebuah tesis karya ilmiah. Tesis
itulah yang dikembangkan dalam alinea-alinea yang mempunyai pertaliann yang
jelas, baik pertalian dalam perkembangan gagasan maupun perpaduan alineaalineanya. Karena hubungan yang jelas itulah pembaca dapat mengikuti uraian itu
dengan
jelas
dan
mudah.
Seperti halnya dengan alinea, maka perpaduan antara alinea dapat juga dijamin
dengan cara-cara seperti yang telah digunakan dalam sebuah alinea yaitu: repitisi
yang dinamakan anafora. Anafora adalah perulangan kata yang sama pada kalimat
yang berurutan atau dalam hal ini juga pada awal alinea yang berurutan. Disamping
kata-kata
kunci
bisa
dipergunakan
kata
ganti.
sumber
:
Ambary, Drs. Abdullah. Tanpa Tahun.Intisari Tatabahasa Indonesia, Untuk
SMTP.Bandung
:
Djatnika
Bandung.
Agustin, Risa, S.Pd. 2008. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Surabaya :
SERBA
JAYA.
Yahya, islachuddin. 2007. Teknik penulisan karangan ilmiah. Surabaya : surya jaya
raya.
Tarigan,Djago.
2009.
Membina
Keterampilan
Menulis
Paragraf
dan
Pengembangannya

JENIS ALINEA ATAU PARAGRAF MENURUT SIFAT ISINYA


1.AlineaPersuasif
Alinea Persuasif adalah alinea yang mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi
sesuatudengancaramempengaruhipembaca.
AlineaPersuasifbanyakdipakaidalampenulisaniklan,terutamaadvertorialyangbelakangan
inimarakmengisilembarankoran,majalah,sertalembarpromosilainnya.
Contoh:
DesainLiquidMinitampakmengilhamisosokLiquidExpress.Tampaksudutmelengkungdi
keduasisinamunLiquidEkspresspunyabentanganlayarlebihluasseukuran3,5inchi.Si
Liquid Exspress ditenagai prosesor qualcomm turbo berclock speed 800 mhz. Sebagai
pelengkap,fiturfiturandalanlaindariponselberhargasekitar$350initermasukkamera5

MP,Wifi,HSDPA,danaplikasikhususbikinanAcerbernamaSocialJoggerdimanakoneksi
mudahdancepatkehalamanfacebook,twitter,danflickr.
2.AlineaArgumentatif
Alinea Argumentatif adalahalinea yangmembahas satumasalah denganbuktibukti atau
alasanyangmendukung.
AlineaArgumentatifumumnyadipakaidalamkaranganilmiahsepertibuku,skripsi,disertasi,
makalah,danlaporan.Dalamtulisanilmiah,alineaargumentatif,deskriptif,danekspositoris
bahumembahumembangunkarangan.
Contoh:
Dan peganglah baikbaik kutipan religius yang satu ini, mulailah dengan yang kanan.
PenafsirannyamenurutSaya,jugamenurutAryGinanjardalamESQnya,mulailahdengan
otakkanan.Sebagaitambahan,SayamelihatkulturIndonesia,China,Islam,danNasrani
akrabdengankebaikan,contohnyatangankanan,langkahkanan,golongankanan,dan
sebelahkanan.Orangpadangbilang,langkahsuok.Tidakmauketinggalan,burunggaruda
dalamPancasilapunmenolehkekanan,bukannyakekiriatauluruskedepan.Jarumjamjuga
bergerakkekanan.
3.AlineaNaratif
AlineaNaratifadalahalineayangmenuturkanperistiwaataukeadaandalambentukcerita.
Alineanaratifseringdipakaidalamkaranganfiksiataunonilmiahsepertinoveldancerpen.
Contoh:
Selamabertahuntahun,JakaTarubmerawattigabidadariyangsakitjiwa,siCantik,siGenit
dan si Kalem. Suatu ketika Jaka Tarub ingin menguji kewarasan ketigatiganya. Maka,
diboyonglahketigabidadariitukesebuahtelagayangkeringtidakadaairnyasamasekali.
RuparupanyaJakaTarubinginmengujibagaimanatanggapanmereka.Begitutibadipinggir
telaga,siCantiklansungmelepaskankebayanyadanberlagakmandi.Tidakmauketinggalan
siGenitpunmelepaskankebayanyadanberlagakmencucipakaian.huh,dasarbidadari
bidadarigendeng!tukasJakaTarub,airnyatidakada,ehmalahmandi,malahmencuci.
4.AlineaDeskriptif
Alinea Deskriptif adalah alinea yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu dengan
bahasa.
AlineaDeskriptifumumnyadipakaidalamkaranganilmiahsepertibuku,skripsi,disertasi,
makalah,danlaporan.
Contoh:
Suakaalamtarusanmerupakanhutanhujantropispegunungan.Berdasarkanatasperbedaan
tinggidarimukalaut,hutantropisinidapatdibagimenjadi2(dua)yaitumontainrainforest
(hutanhujanpegunungan)denganketinggian700mdplsampai1600mdpldanhighmontain
rainforest(hutanhujanpegunungantinggi)denganketinggian10002000mdpl.Sungai
sungaiyangmengalirmelaluiarealtersebuttersebarmeratadanpadaumumnyaairmengalir
sepanjangtahun.
5.Alineaekspositoris
AlineaEkspositorisadalahalineayangmemaparkansesuatufaktaataukejadiantertentu.
Alineaekspositorisumumnyadipakaidalamkaranganilmiahsepertibuku,skripsi,disertasi,
makalah,danlaporan.Khususuntukberitadidalamsuratkabar,sebagianbesarmemakai
alineaekspositoris.
Contoh:
Padatahun1885,wilburwrightmengalamikecelakaan.Disebuahpermainanhoki,stik
menghajarmukanya.Walaupuncederanyatidakbegituparah,namunsetelahitu,ialebih

sukamenyendiridirumah.Kemudianiahanyutdiperusahaanpercetakanyangdirintisoleh
saudaranya,Orville.Sejauhitu,kelihatannyawilburtidakpunyacitacitaapapun.

Paragraf yang artinya sangat simpel yaitu kumpulan dari beberapa kalimat. Tapi apakah Anda
tau ada berapa jenis-jenis paragraf ?? Mungkin Anda boleh menganggap remeh dan gampang
tentang penulisan dalam paragraf, tapi ketahuilah ini tidak segampang yang anda pikirkan.
Jujur sebelum Saya mendapatkan mata kuliah yang namanya Bahasa Indonesia, mungkin
saya sudah lupa dengan yang namanya jenis-jenis paragraf. Di sini saya akan coba
menjelaskan sedikit mengenai jenis-jenis paragraf beserta contohnya.
1. Paragraf Narasi, yang intinya yaitu paragraf yang menceritakan suatu kejadian
berdasarkan kronologis (terdapat alur cerita, tokoh, setting, dan konflik. Paragraf
naratif tidak memiliki kalimat utama). Contohnya : Seseorang sedang menyapu
sambil menembang. Pak Mo mengumpulkan daun-daun kering di sudut halaman.
Esok hari pekerjaan yang sama menghadang di tempat yang sama. Daundaun jatuh
dan Pak Mo menyapunya lagi. Begitulah rupanya hakikat dari hidup, selalu menuntut
dibersih-bersihkan karena sampah dapat datang setiap saat, setiap desah nafas.
2. Paragraf Deskripsi, yaitu paragraf yang menggambarkan suatu kejadian dengan katakata yang merangsang indra realistis. Contohnya : Hampir semua pelosok Mentawai
indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini
menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek
aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung
Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan
penelitian dan objek wisata.
3. Paragraf Eksposisi. Dari katanya saja anda mungkin sudah tau tujuan dari paragraf ini.
Yupzz benar, tujuannya yaitu meng-ekspos, menguraikan sesuatu sejelas-jelasnya agar
pembaca mudah mengerti dan jelas. Contohnya : Pada dasarnya pekerjaan akuntan
mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi,
pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan,
juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan
informasi keuangan. Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan
laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum
dalam laporan tersebut.
4. Paragraf Argumentasi. Paragraf ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu
pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi
pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur
opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut. Contohnya :
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa
kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa
kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur,
berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap
sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di
berbagai bidang.
5. Paragraf Persuasi, yang intinya yaitu menghimbau dan mengajak pembaca untuk
melalukan sesuatu sesuai dengan yang dianjurkan penulisnya. Contohnya : Sistem
pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi
harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di

Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina,
Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai
tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA
dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat
menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari
kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang
melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita
mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi
mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan
nasional.
6. . PENDAHULUAN
7. Paragraf merupakan suatu kesatuan bentuk pemakaian bahasa yang
mengungkapkan pikiran atau topik dan berada di bawah tataran wacana.
Paragraf memiliki potensi terdiri atas beberapa kalimat. Kalimat-kalimat
tersebut haruslah dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi paragraf yang
baik, yaitu paragraf yang memenuhi persyaratan kesatuan, kepaduan, dan
kelengkapan. Pendistribusian kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas
haruslah menggunakan cara yang jelas sehingga dapat dirumuskan
strukturnya.
8. Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan.
Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh
semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat
topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan
kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah
gagasan.
9. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek
(singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu
gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau
buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk
membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran
pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat
berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan
yang terkandung dalam paragraf itu.
10. Secara garis besar struktur paragraf (selain paragraf narasi dan deskripsi)
dapat dikategorisasikan menjadi tiga, yaitu:

11. Kalimat utama pada awal paragraf dan diikuti dengan kalimat-kalimat
penjelas;
12. Kalimat pada akhir paragraf dan didahului dengan kalimat-kalimat penjelas;
dan
13. Kalimat utama terdapat pada awal dan akhir paragraf, diselingi dengan
kalimat-kalimat penjelas.
14. Paragraf

yang

hanya

terdiri

atas

satu

kalimat

tidak

mengalami

pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan topik, kesatuan pikiran atau


ide. Dengan demikian, setiap paragraf memiliki potensi adanya satu kalimat
topik atau kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas. Oleh Ramlan, (1993)
pikiran utama atau ide pokok merupakan pengendali suatu paragraf.
15. Pengembangan paragraf adalah perincian dan pengurutan pikiran yang
terpadu yang diwujudkan melalui penataan kalimat-kalimat. Penggunaan
kalimat topik yang tepat akan memudahkan pembaca membuat ringkasan
dari sebuah karya tulis. Kalimat-kalimat penunjang akan mengembangkan
gagasan yang terdapat dalam kalimat topik. Dalam ringkasan kalimat-kalimat
penunjang ini dapat diabaikan. Oleh karena itu, ada tiga persoalan yang
tercakup di dalamnya, yaitu:
16. kemampuan menentukan dan meletakkan kalimat topik secara tepat;
17. kemampuan memerinci secara maksimal gagasan utama paragraf ke dalam
gagasan bawahan; dan
18. kemampuan mengurutkan gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang
teratur.
19.
20. II. JENIS PENGEMBANGAN PARAGRAF
21. Secara

ringkas,

pengembangan

paragraf

dapat

dilakukan

dengan

memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik


dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula
terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua,
tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas
dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan
detail-detail/perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata
transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.

22. PERSYARATAN DALAM PENGEMBANGAN PARAGRAF:


23. Kesatuan
24. setiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok. Fungsi paragraf
adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam
pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh
menyimpang dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian
dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu
kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus
terfokus pada gagasan pokok.
25. Keterpaduan
26. syarat kedua yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf ialah koherensi atau
kepaduan. Sebuah paragraf bukanlah sekedar kumpulan atau tumpukan
kalimat-kalimat yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun
oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran
yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun
dapat dengan mudah memahami/ mengikuti jalan pikiran penulis tanpa
hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.
27.
28. Kelengkapan
29. syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf adalah kelengkapan.
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang
cukup menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama.
30. JENIS PARAGRAF BERDASARKAN PENGEMBANGAN:
31. Paragraf deduktif:
32. Paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat
penjelas.
33. Paragraf induktif:
34. kalimat utama terletak di akhir paragraf setelah kalimat-kalimat penjelas.
35. JENIS PENGEMBANGAN PARAGRAF BERDASARKAN POLA:
36. Pola Spansial:
37. Pola spansial adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan atas
ruang dan waktu. Pola ini menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan,

dari timur ke barat, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan
sebagainya.
38. Contoh:
Pada malam hari, pemandangan rumah terlihat begitu eksotis. Apalagi
dengan cahaya lampu yang memantul dari seluruh penjuru rumah. Dari luar
bangunan ini tampak indah, mampu memberikan pancaran hangat bagi siapa
saja yang memandangnya. Lampu-lampu taman yang bersinar menambah
kesan eksotis yang telah ada. Begitu hangat. Begitu indah.
39.
40. Pola Sudut Pandang:
41. Pola sudut pandang adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan
tempat atau posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu. Pola sudut
pandang tidak sama dengan pola spansial. Dalam pola ini penggambaran
berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap objek yang
digambarkannya itu. Untuk menggambarkan sesuatu tempat atau keadaan,
pertama-tama penulis mengambil sebuah posisi tertentu. Kemudian, secara
perlahan-lahan dan berurutan, ia menggambarkan benda demi benda yang
terdapat dalam tempat itu, yakni mulai dari yang terdekat kepada yang
terjauh.
42. Contoh:
43. Sekarang hanya beberapa langkah lagi jaraknya mereka dari tebing diatas
jalan. Menegakkan dirinya sambil menguasai ke muka dan ia pun berdiri tiada
bergerak sebagai pohon diantara pohon-pohon yang lain. Oleh isyarat yang
lebih terang dari perkataan itu maju sekian temannya sejajar dengan dia.
44. Pola Proses:
45. Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan atau perbuatanperbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu atau urutan dari
suatu kejadian atau peristiwa. Untuk menyusun sebuah proses, langkahlangkahnya adalah sebagai berikut:
46. penulis harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh;
47. penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya;
48. penulis menjelaskan tiap urutan itu ke dalam detail-detail yang tegas
sehingga pembaca dapat melihat seluruh prose dengan jelas.

49. Contoh :
50. Pohon anggur, di samping buahnya yang digunakan untuk pembuatan
minuman, daunnya pun dapat digunakan sebagai bahan untuk pembersih
wajah. Caranya, ambilah daun anggur secukupnya. Lalu, tumbuk sampai
halus. Masaklah hasil tumbukan itu dengan air secukupnya dan tunggu
sampai mendidih. Setelah itu, ramuan tersebut kita dinginkan dan setelah
dingin baru kita gunakan untuk membersihkan wajah. Insya Allah, kulit wajah
kita akan kelihatan bersih dan berseri-seri.
51. Pola Sebab Akibat:
52. Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dngan menggunakan sebabakibat. Dalam hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama,
sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Namun demikian,
dapat juga terbalik. Akibat dijadikan gagasan utama, sedangkan untuk
memahami sepenuhnya, akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab
sebagai perinciannya.
53. Contoh :
54. Pada tahun 1997, produksi padi turun 3,85 persen. Akibatnya, Impor beras
meningkat, diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 1998. Sesudah swasembada
pangan tercapai pada tahun 1984, pada tahun 1986, kita mengekspor
sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton pada tahun 1993. akan
tetapi, pada tahun 1004, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu ton.
Sejak itu, impor beras meningkat dan pada tahun 1997 mencapai 2,5 juta ton.
55. Pola Ilustrasi:
56. Sebuah gagasan yang terlalu umum, memerlukan ilustrasi-ilustrsi konkrit.
Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrsi tersebut tidak berfungsi untuk
membuktikan suatu pendapat. Ilustrasi-ilustrsi tersebut dipakai sekedar untuk
menjelaskan maksud penulis. Dalam hal ini pengamatan-pengamatan pribadi
merupakan bahan ilustrasi yang paling efektif dalam menjelaskan gagasangagasan umum tersebut.
57. Contoh :
58. Satu-satunya bidang pembangunan yang tidak memahami imbas krisis
ekonomi sektor-sektor di bidang pertanian. Misalnya, perikanan masih
meningkat

cukup

mengesankan,

yaitu

6,65

persen;

demikian

pula

perkebunan, yang meningkat 6,46 persen. Walaupun terkena kebakaran


sepanjang tahun, sektor kehutanan masih tumbuh 2,95 persen. Secara
umum, kontribusi dari sektor-sektor pertanian terhadap produk domestik broto
(PDB) meningkat dari 18,07 persen menjadi 18,04 persen. Padahal selama
30 tahun terakhir, pangsa sector pertanian merosot dari tahun ke tahun.
59. JENIS PENGEMBANGAN PARAGRAF BERDASARKAN TEKNIK:
60. Pengembangan Secara Alamiah:
61. Paragraf yang dikembangkan berdasarkan urutan waktu bersifat kronologis.
Hal itu berarti kalimat yang satu mengungkapkan waktu peristiwa terjadi, atau
waktu

kegiatan

dilakukan,

dan

diikuti

oleh

kalimat-kalimat

yang

mengungkapkan waktu peristiwa terjadi, atau waktu kegiatan dilakukan.


Paragraf yang dikembangkan dengan cara ini tidak dijumpai adanya kalimat
utama atau kalimat topik. Paragraf seperti ini biasanya digunakan pada
paragraf naratif dan prosedural.
62.
63. Pengembangan Secara Logis:
64. Pengembangan paragraf secara logis maksudnya adalah pengembangan
paragraf menggunakan pola pikir tertentu. Pengembangan paragraf secara
logis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu klimaks-antiklimaks, dan
umum-khusus.
65. Contoh kalimat paragraf umum-khusus:
66. Sudah beberapa kali kebijaksanaan itu dipertanyakan bahkan hendak
dipreteli dan diubah. Namun demikian, setiap usaha tersebut selalu gagal.
Betapapun usaha tersebut disiapkan dengan cara yang teliti dan matang,
semua

dapat

digagalkan.

Bukti

yang

lalu

meyakinkan

kita

bahwa

kebijaksanaan itu benar dan tak dapat dipreteli dan diubah.


67. JENIS PENGEMBANGAN PARAGRAF BERDASARKAN ISI:
68. Paragraf perbandingan atau pertentangan:
69. Cara pembandingan merupakan sebuah pengembangna paragraf yang
dilakukan

dengan

memperjelas

suatu

membandingkan
paparan.

atau

Kegiatan

mempertentangkan

guna

membandingkan

atau

mempertentangkan tersebut berupa penyajian persamaan dan perbedaan

antara dua hal. Sesuatu yang dipertentangkan adalah dua hal yang memiliki
tingkat yang sama. Dan keduanya memiliki persamaan dan perbedaan.
70. Paragraf contoh:
71. Contoh-contoh disajikan sebagai gagasan penjelas untuk mendukung atau
memperjelas gagasan umum. Gagasan umum dapat diletakkan pada awal
paragraf atau diakhiri paragraf bergantung pada gaya yang dikehendaki oleh
penulis.
72. Paragraf sebab akibat:
73. Cara sebab akibat sering disebut dengan kausalitas. Pengembangna paragraf
cara ini dapat dilakukan dengan menyajikan sebab sebagai gagasan
pokok/utama baru diikuti akibatnya sebagai gagasan penjelas, atau
sebaliknya disajikan akibat sebagai gagasan pokok utama diikuti dengan
penyebabnya sebagai gagasan penjelas.
74. Contoh:
75. Hari ini ia terpaksa tidak masuk sekolah. Sudah beberapa hari ibunya sakit.
Ayahnya yang dinanti-nantikan kedatangannya dari Jakarta belum tiba juga.
Adik-adiknya masih kecil dan tidak ada yang menjaga.
76. Paragraf klasifikasi:
77. Cara klasifikasi biasanya dilakukan dengan penyajian gagasan pokok/utama
kemudian diikuti dengan gagasan penjelas secara rinci. Gagasan penjelas
merupakan kalsifikasi dari gagasan utamanya. Misalnya, gagasan utama A,
memiliki gagasan penjelas yang dapat diklasifikasikan menjadi X dan Z.
78.
79. JENIS PENGEMBANGAN PARAGRAF BERDASARKAN METODE
80. Sudut Pandang.
81. Untuk memperkaya sebuah uraian atau berita, kita dapat menguraikan hasil
penyerapan pancaindera kita. Sudut pandang akan memerikan seseorang,
sebuah ruang, suasana, sebuah benda, atau perasaan. Dengan demikian,
kita dapat membangun suasana hati pembaca.
82. Contoh.
83. Sebuah gagasan bisa menjadi jelas jika diperkuat dengan beberapa contoh
atau ilustrasi. Contoh itu dapat pula diuraikan dalam sebuah narasi atau
deskripsi yang kuat.

84. Klimaks dan Antiklimaks.


85. Paragraf diawali dengan gagasan bawahan yang tidak terlalu penting, diikuti
oleh kalimat-kalimat yang berangsur-angsur meningkat kepentingannya.
Paragraf diakhiri oleh kalimat yang paling tinggi tingkat kepentingannya.
Secara

logis,

perkembangan

paragraf

seperti

ini

disebut

sebagai

pengembangan paragraf yang induktif. Sebaliknya, pengembangan paragraf


yang

antiklimaks

dibangun

oleh

kalimat-kalimat

yang

berkurang

kepentingannya. Paragraf ini akan diawali oleh kalimat yang paling tinggi
tingkat kepentingannya, diikuti oleh kalimat-kalimat yang berangsur-angsur
berkurang kepentingannya. Secara logis, pengembangan paragraf seperti ini
disebut sebagai pengembangan deduktif.
86. Definisi Luas.
87. Paragraf seperti ini biasanya menguraikan sebuah gagasan yang abstrak
atau istilah yang menimbulkan kontroversi yang membutuhkan penjelasan.
Jenis tulisan dalam paragraf seperti ini adalah eksposisi.
88. Klasifikasi.
89. Berbeda

dari

analisis

atau

uraian,

pengembangan

ini

berusaha

mengelompokkan berbagai hal yang dianggap memiliki kesamaan ke dalam


satu kategori. Dengan demikian, hubungan di antara berbagai hal itu menjadi
jelas. Paragraf dengan pengembangan klasifikasi ini juga merupakan jenis
tulisan eksposisi.
90. Perbandingan dan Pertentangan.
91. Perbandingan dan pertentangan dapat digunakan secara bersamaan atau
terpisah. Dalam perkembangan paragraf ini, unsur-unsur yang sama dari dua
hal atau lebih diungkapkan dan diuraikan, diikuti dengan unsur-unsur yang
membedakan dua hal atau lebih. al yang perlu diperhatikan adalah bahwa
perbandingan dan pertentangan itu dilakukan berdasarkan tolok ukur yang
sama.
92.
93. Analogi.
94. Dalam pengembangan paragraf analogis, uraian didasarkan pada kesamaan
dari dua hal atau lebih. Dua hal atau lebih dibandingkan secara sistematis
untuk menemukan hal-hal yang sama. Hal dibandingkan dapat berasal dari

kategori yang sama atau, bahkan, dari satu atau beberapa kelas yang
berbeda. Jenis tulisan yang digunakan di sini adalah tulisan eksposisi.
95. Sebab-Akibat.
96. Dalam paragraf ini diuraikan hal-hal yang menyebabkan suatu peristiwa
terjadi atau, sebaliknya, diuraikan dahulu sebuah akibat baru diikuti oleh
penyebabnya. Jenis karangan yang digunakan di sini dapat berupa jenis
narasi atau eksposisi.
97. Proses.
98. Pengembangan paragraf ini menguraikan proses bagaimana sesuatu terjadi
atau terwujud. Jadi, dalam pengembangan ini ada urutan dari tindakantindakan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu; atau urutan suatu
peristiwa. Pengembangan paragraf ini juga dapat diisi dengan kalimat-kalimat
yang menguraikan sesuatu ke dalam unsur-unsur yang membangunnya agar
pembaca dapat lebih mudah memahami hal itu. Jenis karangan yang
digunakan dalam pengembangan paragraf ini adalah eksposisi.
99. Umum-Khusus dan Khusus-Umum.
100.

Kedua cara pengembangan paragraf ini merupakan cara yang paling

umum digunakan. Dalam pengembangan Umum-Khusus, gagasan utama


atau kalimat topik diletakkan di awal paragraf, diikuti oleh kalimat-kalimat
yang mengalndung gagasan bawahan. Secara logis, pengembangan paragraf
seperti ini disebut sebagai pengembangan deduktif.
101.
102.

Dalam pengembangan Khusus-Umum, gagasan utama diletakkan di

akhir paragraf dengan sebuah kalimat kesimpulan. Paragraf diawali oleh


kalimat-kalimat

yang

mengandung

gagasan

bawahan.

Secara

logis,

perkembangan paragraf seperti ini disebut sebagai pengembangan paragraf


yang induktif.
103.

Dapat pula, dilakukan variasi dengan menggabungkan kedua jenis

pengembangan paragraf ini ke dalam sebuah paragraf. Jadi, paragraf diawali


dengan sebuah kalimat topik yang umum diikuti dengan kalimat-kalimat yang
mengandung gagasan bawahan. Kemudian, paragraf diakhiri dengan sebuah
kalimat topik lagi yang bersifat menyimpulkan. Dengan demikian, secara
logis, paragraf dikembangkan secara deduktif-induktif.

104.

III. PENUTUP

105.

Paragraf berpotensi terdiri atas beberapa kalimat yang secara visual

ditandai dengan indensasi. Pembentukkan paragraf yang baik harus


memenuhi persyaratan kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. Untuk itu,
diperlukan pengembangan paragraf yang baik. Kerangka struktur paragraf
dikembangkan berdasarkan peletakan kalimat utama dan kalimat-kalimat
penjelas.

Metode induktif
Paragraf Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahanpermasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri
dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum. Paragraf Induktis sendiri dikembangkan
menjadi beberapa jenis. Pengembangan tersebut yakni paragraf generalisasi, paragraf analogi,
paragraf sebab akibat bisa juga akibat sebab. Contoh paragraf Induktif: Pada saat ini remaja
lebih menukai tari-tarian dari barat seperti brigdance, salsa, free dance dan lain sebagainya.
Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka menyukai rock, blues, jazz, maupun reff
tarian dan kesenian tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren barat.
Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan pelestarian budaya
sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan menggeser kesenian dan budaya
tradisional.
Contoh generalisasi:
Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Referensi : Wikipedia
Paragraf deduktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf.
2. Paragraf induktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf.
Berikut contohnya :

a.
a.

b.

c.

Contoh paragraf deduktif :


Kebersihan sangat menjadi masalah di sekolah. Ini terjadi karena banyak murid-murid yang
tidak sadar akan kebersihan. Padahal kebersihan adalah sebagian dari iman.
Contoh paragraf deduktif dari koran :
KOTA Jarang ada pasar tradisional yang menyediakan layanan kesehatan seperti pasar
Songgolangit Ponorogo. Dinamakan pos kesehatan pasar alias poskespas karena ditujukan
melayani pedagang dan pembeli. Tingkat kunjungan pasien mencapai 20 orang perhari
kendati letak poskespas itu terpencil di dekat area parkir. Letakya nyelempit, kalau orang
baru pasti bingung mencari, ungkap karmini, salah seorang pedagang yang menjadi pasien
setia poskespas Pasar Songgolangit, kemarin (16/8).
Pos kesehatan di pasar itu memang di khususkan melayani pedagang dan pembeli. Pedagang
tidak akan khawatir meninggalkan dagangannya karena haanya berobat masih di kawasan
pasar. Mereka dapat antre saat sepi pembeli. kebanyakan periksa gula darah dan rematik,
mayoritas pasiennya berusia tua, papar Yayuk. (pra/hw)
Ada juga perda penyelenggaraan pendidikan. Aturan itu juga menggariskan sejumlah
kebijakan baru di bidang pendidikan. Misalnya, alokasi bantuan personal kepada sisiwa SD,
SMP, SMA/MK swasta. Dengan alokasi itu, siswa tidak mampu tidak perlu khawatir
memikirkan biaya membeli seragam, hinnga buku tulis. Sebab, pemkot akan menanggung
dalam bentuk barang.

Contoh paragraf induktif :


a. Maka dari itu saya sangat setuju dengan adanya kegiatan kerja bakti seminggu sekali.
Karena, jika lingkungan hidup bersih maka kita juga akan sehat. Maka dari itu, kegiatan
kerjanbakti sangat penting di lingkungan sekolah.

a.

Contoh paragraf induktif dari koran :


Padalah DPRD Surabaya sudah memproduksi banyak perda. Bila dihitung dari awal 2012,
jumlah perda yang di sahkan DPRD mencapai belasan aturan. Namun, sampai kini tak pernak
ada proses pengenalan kepada masyarakat.

b. Dalam APBD 2012, terungkap dana tersebut mencapai RP 248 juta. Berdasar alokasi
anggaran, sosialisasi sedianya dilakukan terhadap dua ribu orang. Namun, sampai sekarang
dana itu masih utuh alias tak terpakai sama sekali.
Pengertian paragraf campuran adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan kalimat
utama dan diakhiri pula dengan kalimat utama. Kalimat utama yang terletak diakhir paragraf
merupakan penegasan dari kalimat di awal paragraf. Atau paragraf yang gagasan utamanya
terletak di awal dan akhir paragraf. - See more at:
http://maspermono.blogspot.com/2013/09/pengertian-dan-contoh-paragrafcampuran.html#sthash.3zuThWG1.dpuf
Contoh 1:
Semua makhluk hidup memerlukan makanan dan minuman untuk melangsungkan hidupnya.
Setiap jenis binatang bertahan hidup dengan cara berburu makanan yang tersedia di alam.
Demikian pula dengan tumbuhan dan manusia yang memerlukan makanan dan minuman
untuk pertumbuhannya. Jadi, binatang, tumbuhan, dan manusia memerlukan makanan dan
minuman untuk melangsungkan hidupnya.

Contoh 2:
Saat ini Indonesia sedang berusaha membangkitkan perekonomiannya. Banyak usaha yang
dilakukan, mulai dari menekan jumlah barang import yang mengalahkan pemakaian barang
lokal. Pemerintah juga meluaskan lapangan pekerjaan, agar sumber daya manusia (SDM)
dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembangunan Negara. Bagia pelaku korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) yang sangat merugikan perekonomian Negara tentunya akan
diberikan sanksi tegas. Karna yang kita ketahui Indonesia terpuruk akibat KKN yang terjadi
di segala institusi. Oleh karena itu, dengan usaha yang dilakukan sekarang diharapkan
Indonesia dapat membangkitkan perekonomiannya. - See more at:
http://maspermono.blogspot.com/2013/09/pengertian-dan-contoh-paragrafcampuran.html#sthash.3zuThWG1.dpuf