Anda di halaman 1dari 8

PROPHETIC

INTELLIGENCE
Buletin Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqien

Edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

KECERDASAN KENABIAN
Menumbuhkan Potensi Esensial Manusia
Melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani

)
ecerdasan (intelligence) memiliki deinisi yang beragam.
Sejumlah ilmuwan barat akan
memberi jawaban yang berbedabeda jika ditanya tentang deinisi
kecerdasan. Setiap kultur memiliki
batasannya sendiri untuk menentukan kecerdasan seseorang. Tradisi barat yang lebih menitikberatkan pada intelektual, menilai kecerdasan hanya berdasarkan kekuatan
akal. Deinisi cerdas dan berpikir
pada sosok manusia hanya dibatasi oleh bekerjanya simpul-simpul
syaraf otak berdasarkan premispremis logika yang diasumsikan
sebagai kebenaran.

Intelligence Quotient (IQ) sempat dimitoskan sebagai satu-satunya kriteria kecerdasan. Adalah Sir
Francis Galton, ilmuwan yang memelopori studi IQ dalam karyanya
Heredity Genius (1869), yang kemudian disempurnakan oleh Alfred
Binet dan Simon. IQ pada umumnya mengukur kemampuan yang
berkaitan dengan pengetahuan

MEJA REDAKSI

Pengasuh :
KH. Hamdani Bakran
Adz-Dzakiey
Pimpinan Redaksi :
Harun Nur Rosyid
Sekretaris :
Asmul Fauzi
Bendahara:
Syahrul Munir
Redaktur :
Fadhil Huda
A. Sulaiman Fachri A.
Nur Habib Rizqillah
Alamat :
Pondok Pesantren
Raudhatul Muttaqien

praktis, daya ingat (memory), daya


nalar (reasoning), perbendaharaan
kata dan pemecahan masalah (vocabulary and problem solving).

Jl. Cangkringan KM. 04


Babadan Purwomartani
Kalasan Sleman Yogyakarta

Mitos ini dipatahkan oleh Daniel


Goleman yang memperkenalkan
kecerdasan emosional atau disingkat EQ (Emotional Quotient) dalam
bukunya Working with Emotional
Intelligence (1999). Dia menunjukkan dengan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang
yang ber-IQ tinggi tidak menjamin
hidupnya akan sukses. Sebaliknya,
orang yang memiliki EQ banyak
yang menempati posisi kunci di
dunia eksekutif.

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

Asumsi tersebut diperkuat


oleh Dannah Zohar, sarjana isika dan ilsafat di MIT (Massachusetts Institute of Technology),
yang memelopori munculnya
kecerdasan spiritual atau SQ
(Spiritual Quotient) dalam bukunya Spiritual Intelligence - The
Ultimate Intelligence (2000).
Kecerdasan Kenabian (Prophetic Intelligence)
Tradisi ketimuran, Islam khususnya, tidak meletakkan kecerdasan pada kekuatan akal
semata. Terdapat sebuah instrumen yang jauh lebih kuat, luas,
halus dan peka daripada akal.
Kalbu (qalb) adalah sebuah potensi yang ada dalam diri manusia yang memiliki vitalitas melebihi akal.
Dalam tradisi Islam, kinerja
akal ada di bawah kendali hati,
begitu juga dengan pikiran, jiwa
dan indrawi. Rasulullah SAW.
sebagai model panutan umat
Islam mengisyaratkan dalam
sabdanya: Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia
terdapat segumpal darah, jika

ia baik, maka baiklah seluruh


tubuhnya, tetapi jika ia rusak,
maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah itu adalah hati.
(Mutafaq alayh).
Dengan menisbatkan kecerdasan pada kekuatan hati, maka
umat Islam memiliki sebuah
konsep kecerdasan yang sangat berbeda dengan tradisi
barat, yaitu Kecerdasan Kenabian (Prophetic Intelligence), yang
adalah kecerdasan yang bertumpu pada kekuatan hati nurani. Kecerdasan kenabian dapat
diperoleh melalui memaksimalkan fungsi hati nurani sebagai
penentu baik buruknya keadaan
seseorang.
Potensi Kecerdasan Kenabian
dalam diri manusia sudah ada
sejak manusia pertama diciptakan. Allah SWT. berirman tentang penciptaan Adam as.: Dan
Allah telah mengajarkan kepada
Adam nama-nama semuanya...
(Q.S. Al Baqarah 31). Firman-Nya
yang lain: Maka apabila Aku
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah kutiupkan ke
dalam dirinya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud (Q.S. Al-Hijr 30).
Pengajaran Allah SWT. kepada
Adam as. tentang nama-nama
segala sesuatu, dan peniupan
ruh-Nya yang adalah ruh dari
segala sesuatu membuat Adam
memiliki kecerdasan menyeluruh yang berasal langsung dari
Allah SWT. Inilah konsep dasar
Kecerdasan Kenabian yang terdapat pada diri Nabi Adam as.
yang kemudian diwariskan kepada seluruh anak cucunya.
Proses pengajaran dan peniupan tersebut tidak lain adalah
bertempat pada hati manusia.
Sebagaimana irman Allah dalam hadits qudsi: Langit dan

Tradisi ketimuran,
Islam khususnya,
tidak meletakkan
kecerdasan pada
kekuatan
akal semata.
bumi-Ku tidak akan mampu menampung-Ku, tetapi yang mampu menampung-Ku adalah hati
hamba-Ku yang beriman (H.R.
Abu Dawud).
Namun, seiring dengan perjalanan hidup manusia, Iblis dan
syaitan yang menjadi musuh
nyata manusia, membisikkan
tipu dayanya hingga membuat
mereka melakukan perbuatanperbuatan yang mengotori kemurnian hati nuraninya. Mengingkari keberadaan Tuhannya
dan menyekutukan-Nya. Tindakan-tindakan inilah yang kemudian menutup potensi kecerdasan itrah manusia. Hati yang
seharusnya memandang hanya
kepada Allah mulai tertutup
oleh hijab-hijab hawa nafsu dan
kenikmatan duniawi.
Kesehatan Ruhani dan Kecerdasan Kenabian
Kotoran-kotoran hati ini kemudian menimbulkan penyakit bagi ruhani manusia. Bak
virus-virus yang menyerang
hati, penyakit ruhani, seperti
syirik (menyekutukan Allah), kufur (mendustakan Allah), nifaq
(bermuka dua di hadapan Allah)
dan fasik (menganggap enteng
Allah), akan menutupi hati dari
menerima pengajaran dan peniupan ruh dari Allah SWT.

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

Untuk mengembalikan fungsi


hati nurani pada asalnya, manusia harus berusaha untuk membersihkan nuraninya dari nodanoda yang mengotorinya. Sebab
Kecerdasan Kenabian bertumpu
pada hati nurani yang bersih
dari penyakit-penyakit ruhaniah
seperti syirik, kufur, nifaq dan
fasik.
Kesehatan ruhani merupakan
keharusan yang utama untuk
mengembangkan Kecerdasan
Kenabian. Ketika ruhani telah
menjadi sehat, maka pengembangan kecerdasan itrah (kenabian) yang telah dimiliki oleh setiap individu akan lebih mudah
untuk diwujudkan.
Dalam pandangan Islam, kesehatan ruhani adalah selamatnya kalbu (hati nurani) dari penyakit-penyakit ruhani, karena
telah hadirnya cahaya hidayah
atau petunjuk Ilahiah di dalamnya. Cahaya itu mengandung
energi dan power ilahiah yang
senantiasa mendorong dan menerangi eksistensi diri untuk selalu tetap dalam keyakinan dan
persaksian tauhid La ilaha illa
Allah, yakni tiada sesembahan
melainkan Maha Zat yang bernama Allah Azza wa Jalla.
Persaksian hati akan kemahaesaan Allah tersebut akan
mempengaruhi sikap, perbuatan, akal pikir, perilaku dan tindakan manusia. Hati yang senantia-

Kesehatan ruhani
adalah keharusan
yang utama untuk
mengembangkan
Kecerdasan
Kenabian.

sa reseptif akan kehadiran Allah


akan memperoleh kecerdasan
yang bersifat langsung dari
Allah SWT.
Kewajiban Manusia untuk
Menjaga Kesehatan Ruhani
Allah SWT. banyak menggambarkan dalam irman-irmanNya tentang bahaya dan hinanya
penyakit ruhani bagi seseorang,
antara lain adalah:
1. Kalbu sangat sulit menerima
kebaikan dan kebenaran serta
tersentuh nasihat ketuhanan
(Q.S. Al-Baqarah 6).
2. Kalbu merasa tidak senang
mendengar kebaikan dan kebenaran Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka cenderung menjauhkan diri dari kebenaran
tersebut, karena khawatir ayatayat-Nya tersebut akan menghalangi kesenangan hidup di
dunia. (Q.S. Az-Zumar 45).
3. Kalbu menjadi terkunci mati
dan disegel oleh Allah SWT. karena terlalu sering menentang
dan mendustakan ayat-ayatNya (Q.S. Al-Araf 101).

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

4. Allah memerintahkan kepada


para malaikat agar melakukan
eksekusi dengan pemancungan
anggota tubuh orang-orang
yang ingkar. Dalam artian Allah
akan mencabut fungsi hakiki
anggota tubuh tersebut (Q.S.
Al-Anfal 12).
5. Kalbu menjadi bodoh dan
tidak dapat memahami ayatayat Allah, sehingga seseorang
yang memiliki ruhani yang sakit,
senang atau tidak senang ia
akan menjadi penghuni neraka
(Q.S. Al-Araf 176).
Masih banyak ayat-ayat Allah
yang menerangkan tentang eksistensi orang-orang yang sakit
ruhaninya yang menggambarkan betapa meruginya orangorang yang mengidap penyakit
ruhani dan tidak berusaha untuk
terlepas darinya.
Sedangkan bagi mereka yang
terus berusaha menyehatkan ruhaninya dengan senantiasa membersihkan hatinya dari noda
dan kotoran, akan memperoleh
ketakwaan yang akan menjadi
dasar tumbuh dan berkembangnya Kecerdasan Kenabian. Berikut ini adalah beberapa irman

Allah SWT. yang menjelaskan


buah dari ketakwaan:
1. Dan bertakwalah kepada
Allah, niscaya Allah akan mengajarimu ... (Q.S. Al Baqarah
282),
2. Hai orang-orang yang telah
beriman, jika kamu bertakwa
kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadamu kemampuan untuk membedakan (furqan) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan
mengampuni dosa-dosamu (Q.S.
Al-Anfal 29).
3. Siapa saja yang bertakwa
kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadanya jalan
keluar (Q.S. Ath-Thalaq 2).
4. Dan siapa saja yang bertakwa
kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kemudahan dalam
urusannya (Q.S. Ath-Thalaq 4).
Kecerdasan Kenabian yang
muncul dalam diri manusia akan
menumbuhkan potensi atau kemampuan untuk berinteraksi,
menyesuaikan diri, memahami
dan mengambil manfaat dan
hikmah dari kehidupan langit

dan bumi, ruhani dan jasmani,


lahir dan batin, serta dunia dan
akhirat. Hal mana kerja kemampuan atau potensi tersebut senantiasa dalam bimbingan Allah
SWT.
Pada akhirnya, Kecerdasan
Kenabian akan melahirkan kecerdasan holistik yang mencakup seluruh kecerdasan manusia. Di antaranya adalah:
1. Kecerdasan Berjuang (Adversity Intelligence)
Dengan kecerdasan ini seseorang dapat dengan mudah mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan
kesulitan. Sehingga ia senantiasa memiliki spirit untuk selalu
mencari jalan dan celah agar
dapat menembus esensi tantangan, kesulitan dan penderitaan itu melalui perjuangan dan
pengorbanan.
2. Kecerdasan Ruhani (Spiritual
Intelligence)
Yaitu potensi atau kemampuan yang dengannya manusia
dapat beradaptasi, berinteraksi
dan bersosialisi dengan lingkungan ruhaniahnya yang bersi-

fat gaib dan transendental, serta


dapat mengenal dan merasakan
hikmah dari ketaatan beribadah
secara vertikal di hadapan Tuhannya secara langsung.
3. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)
Yaitu kemampuan untuk dapat mengetahui, memahami, mengenali dan merasakan keinginan atau kehendak lingkungannya serta dapat mengambil hikmah darinya.
4. Kecerdasan Berpikir (Intellectual Intelligence)
Kecerdasan Berpikir adalah
kemampuan untuk memahami,
menganalisis, membandingkan
dan menyimpulkan tentang objek ilmu yang diterima oleh kalbu. Sehingga diri akan memperoleh keyakinan akan objek
tersebut secara keilmuan, praktis dan nyata, serta pengalaman
langsung.
5. Kecerdasan Indrawi (Perceptional Intelligence)
Yakni Kemampuan menilai
esensi dari sesuatu yang ditangkap oleh indra pengecap, penciuman, penglihatan, pendengaran dan perabaan, sehingga
melahirkan sikap kehati-hatian
dan kewaspadaan dari hal-hal
yang negatif dan destruktif.
Melalui kecerdasan-kecerdasan tersebut, tugas dan tanggung
jawab manusia dalam mengimplementasikan pesan-pesan ketuhanan dan kenabian akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Diri akan menjadi sentral rahmat
Allah, lalu rahmat itu akan mengalir hidup dan berkembang kepada lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan sosial
dan alam semesta raya.

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

Seri Terjemahan Kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah


Karya Syaikh Muhyiddin Muhammad bin Ali Ibn Arabi

Bab 68

TENTANG RAHASIA-RAHASIA
TAHARAH (1)
TAHARAH MAKNAWI DAN TAHARAH
INDRAWI
Ketahuilah semoga Allah menguatkan kami
dan dirimu dengan r dari-Nya bahwasanya
ketika taharah juga berarti kebersihan (nafah),
maka tahulah kita bahwa ia berasal dari sifat
tanzh (ketiadataraan/keterlepasan). Taharah terbagi menjadi taharah maknawi dan indrawi, yaitu
taharah hati dan taharah anggota-anggota badan
tertentu.
Taharah maknawi adalah taharah jiwa dari akhlaq yang buruk dan tercela, dan taharah akal dari
noda-noda pikiran dan kekaburan (syabah), serta
taharah sirr1 dari memandang kepada selain Allah.
Mengenai taharah anggota tubuh, maka ketahuilah, bahwa setiap anggota tubuh memiliki taharah
maknawi. Hal ini telah kami jelaskan dalam kitab
at-Tanazzult al-Mawiliyyah pada bab-bab Taharah. Sedangkan taharah inderawi adalah taharah
dari hal-hal yang dianggap kotor dan dapat mengotori jiwa-jiwa manusia baik secara tabiat maupun
adat. Inilah dua jenis taharah yang disyariatkan.

TAHARAH LAHIRIAH: BERMACAM JENIS,


NAMA DAN INSTRUMENNYA
Taharah indrawi lahiriah ada dua macam. Pertama, sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu
kebersihan (nafah). Kedua, tindakan-tindakan
tertentu yang telah ditetapkan, pada bagian-bagian

tubuh tertentu yang telah ditetapkan pula, untuk


keadaan-keadaan tertentu yang juga telah ditetapkan, dengan tanpa ditambahkan apa pun padanya
dan tidak dikurangi sesuatu pun darinya sesuai
dengan ketentuan syariat.
Taharah ini memiliki tiga nama menurut syariat, yaitu wudu, mandi besar (gusl) dan tayamum.
Taharah ini dilakukan dengan menggunakan tiga
benda, dua di antaranya disepakati oleh para ulama,
sedangkan yang satu masih diperselisihkan. Benda
yang disepakati adalah air mutlak dan debu, baik
debu itu terpisah dari tanah maupun tidak. Ada
satu benda yang diperselisihkan, khususnya jika
dipakai untuk berwudu, yaitu air perasan kurma.
Sedangkan benda yang terpisah dari tanah tetapi
tetap disebut tanah ketika berada di tanah2
masih diperselisihkan, kecuali debu sebagaimana
yang telah kami sebutkan.
Taharah ini bisa menjadi ibadah tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: Di dalamnya
(taharah) terdapat cahaya di atas cahaya, dan juga
bisa menjadi syarat untuk sahnya ibadah syariat
tertentu, yang tidak akan sah ibadah itu menurut
syariat tanpa adanya taharah ini, atau (untuk ibadah-ibadah tertentu) agar menjadi lebih afdal.
Keadaan pertama (taharah sebagai ibadah
tersendiri) adalah seperti wudu di atas wudu yang
adalah bagaikan cahaya di atas cahaya. Sedangkan yang kedua (taharah sebagai syarat sahnya ibadah) adalah untuk mengangkat atau menghilang-

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

kan sesuatu yang menghalangi keabsahan suatu


tindakan ibadah (seperti najis) yang tidak akan
sah ibadah itu tanpa adanya taharah ini, dan juga
untuk mengesahkan tindakan ibadah tersebut.
Dan keadaan kedua inilah yang menjadi landasan
pensyariatan taharah.

TAHARAH UMUM DAN TAHARAH KHUSUS


Taharah ada yang umum atau menyeluruh (untuk bagian tubuh umum atau keseluruhan), yaitu
mandi (gusl), (yang dilakukan) karena terjadinya
fan` (kesirnaan) yang meliputi seluruh zat diri
seseorang, disebabkan adanya kenikmatan dengan
makhluk jadian (kawn) ketika bersetubuh.
Kuperlihatkan padanya bintang-bintang,
dan dia perlihatkan padaku rembulan.
Sedangkan taharah khusus atau sebagian (bagian
tubuh tertentu) adalah wudu, yang dikhususkan
untuk bagian-bagian tubuh tertentu dengan basuhan dan usapan. Wudu adalah pengingat (atau
perlambang) untuk pelbagai maqm tertentu dan
tajall yang mulia. Di antaranya adalah: kekuatan
(quwwah), perkataan (kalm), napas-napas (anfs),
kejujuran (idq), kerendahan hati (tawu), rasa
malu (ay`), pendengaran (sam) dan ketetapan
hati (abt). Setiap bagian-bagian wudu tersebut
adalah maqm-maqm mulia yang niscaya akan
menghasilkan kedekatan kepada Allah SWT.

DUA INSTRUMEN TAHARAH RUHANI


Taharah ruhaniah ini (dapat dicapai) dengan
dua hal, yaitu dengan rahasia kehidupan (makna
air) atau dengan asal usul bentuk tabiati unsuri
(makna tanah dan debu). Wudu dengan rahasia
kehidupan adalah ber-musyhadah kepada Sang
Maha Hidup dan Maha Lestari. Sedangkan wudu
dengan asal-usul bentuk yang adalah bapak
yang menjadi asal dari segenap keturunan, yaitu
tanah dan debu, tak lain adalah perenungan dan
tafakur tentang zat dirimu agar kau tahu siapa
yang mewujudkanmu. Sesungguhnya Allah SWT.
telah menunjukkan (siapa) dirimu kepada dirimu
sendiri dalam irman-Nya: Dan di dalam dirimu
sendiri, apakah kau tidak melihatnya?(Q.S. 51:21).
Juga melalui sabda Rasul-Nya SAW.: Barangsiapa yang telah mengetahui dirinya maka dia telah
mengetahui Tuhannya.
6

Allah memperlihatkan dirimu kepada dirimu


sendiri melalui keterperincian (tafl) dan menyembunyikan dirimu dari dirimu sendiri melalui
keterhimpunan (ijml) agar engkau dapat melihat dan mengambil petunjuk darinya. Allah SWT.
berirman tentang tafl: Dan sungguh kami telah
menciptakan manusia dari segumpal tanah (Q.S.
23:12), (yang dimaksud dengan manusia) di sini
adalah Nabi Adam as., kemudian Kami jadikan ia
benih (nufah) di dalam tempat yang kukuh (Q.S.
23:13), dan nufah adalah benih anak manusia di
dalam rahim, tempat menetesnya nufah-nufah
dan menetapnya bintang-kemintang (mawqi annujm), Allah mengumpamakan rahim sebagai
tempat yang kukuh. Kemudian benih itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging (janin), dan janin
itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Sampai di
sini telah selesai (penciptaan) badan manusia secara tafl (yang terdiri dari banyak bagian), termasuk bahwa daging terdiri dari urat-urat nadi dan
urat-urat syaraf.
Pada setiap keadaan terdapat pertanda
yang menunjukkan betapa fakirnya diriku.
Kemudian Allah SWT. menghimpun (bagianbagian terpisah tersebut) dengan penciptaan jiwa
rasional yang dengannya kemudian ia disebut
dengan insn pada ayat berikut ini, Dia berirman: Lalu Kami jadikan ia penciptaan yag lain.
(Q.S. 23:14).

MARTABAT JASAD DAN MARTABAT RUH


Al-Haqq memberitahukan kepada kita dengan
penjelasan di atas bahwasanya mizj3 tidak memiliki pengaruh kepada jiwa rasionalmu. Meskipun
tidak ada nas (yang menjelaskan tentangnya), namun hal ini jelas tersirat. Lebih jelas lagi terlihat
pada ayat berikut: Dia membentukmu, lalu menyeimbangkanmu (Q.S. 82:7), ayat ini menerangkan tentang (penciptaan) secara tafl dalam bentuk dan keadaan yang berluktuasi. Kemudian Dia
berirman: Dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki, disusunlah kamu (Q.S. 82:8). Di ayat ini
Allah menghubungkan mizj dengan kehendakNya. Jelas kiranya jika mizj menuntut ruh khusus dalam bentuk tertentu, maka Allah tidak akan

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

berirman: dalam bentuk apapun (ayyi) yang Dia


kehendaki. Karena kata ayyi merupakan kata
ganti tak tentu (nakirah) yang berarti sama dengan
kata m, yaitu huruf yang menunjukkan kepada
segala sesuatu.
Al-Quran menerangkan kepadamu bahwa pada
dasarnya mizj tidak bisa menuntut kepada bentuk
(rah). Tetapi setelah rah tercipta, dia akan memerlukan mizj dan mencarinya untuk memakainya. Karena mizj memiliki kekuatan yang tanpa
kekuatan tersebut rah tidak akan bisa mengatur
mizj. Perumpamaan mizj dan kekuatannya bagi
rah adalah seperti peralatan bagi tukang kayu
atau bangunan. Sebagai contoh, ketika sebuah
alat sudah dibuat, disiapkan dan disempurnakan,
maka dia akan memerlukan dari segi zat dan
keadaannya seorang tukang untuk memakainya
untuk sesuatu yang sesuai dengan tujuan pembuatannya. Dan tidaklah alat-alat itu dinamai dengan
Zaid, Umar, Khalid, atau siapapun. Apabila datang
seorang tukang untuk memakainya, alat tersebut
memberi kuasa sepenuhnya kepada tukang itu
terhadap dirinya dengan pemberian kekuasaan
secara zt, dan alat tidak disifati dengan kemampuan memilih dalam hal ini. Kemudian si tukang
membuat dengan alat tersebut apa yang hendak
dia buat sesuai dengan fungsi masing-masing alat.
Di antara (alat-alat tersebut) ada yang seutuhnya disempurnakan, sehingga disebut dengan
sempurna dalam penciptaan (mukhallaqah)
(Q.S. 22:5), yaitu telah sempurna bentuk pen-

ciptaannya. Ada juga ada yang tidak seutuhnya


sempurna, yang disebut dengan tidak sempurna
penciptaannya (gayru mukhallaqah) (Q.S. 22:5).
Maka kekurangan pada hasil kerja tukang sebanding dengan kekurangan pada kinerja alatnya.
Semua itu tidak lain adalah agar diketahui bahwa
kesempurnaan zt adalah milik Allah SWT. semata. Demikianlah Al Haqq telah menjelaskan kepadamu martabat tubuh lahiriahmu dan ruhmu,
agar engkau mengamati dan merenungkan, dan
menghayati sepenuhnya bahwa Allah SWT. tidak
menciptakanmu dengan sia-sia, meskipun butuh
waktu yang panjang [untuk menyadarinya].
Catatan kaki
1. Sebuah esensi lembut yang tersimpan di dalam hati seperti ruh bagi badan. Sirr adalah tempat musyhadah
sebagaimana ruh adalah tempat cinta dan hati tempat
marifah.Ibn Arab, Mukhtaar f Itilt al iyyah,
Hal. 79.
2. Benda-benda, seperti barang tambang, yang bisa disebut
tanah jika tidak terpisah dari tanah, dan mempunyai
sebutan khusus ketika mereka terpisah dari tanah. Misalnya kapur, gips (gypsum) dan tanah liat. Ada perselisihan pendapat tentang apakah benda-benda itu dengan namanya masing-masing boleh digunakan untuk tayamum.
3. Susunan tubuh bawaan. Berasal dari kata ma-za-ja, yang
artinya mencampur. Ibn Manzr berkata, Mizj badan
(badan) adalah kekuatan-kekuatan yang menyusunnya.
Mizj tubuh (jism) adalah susunan badan yang terdiri
dari darah, dua ginjal, lemak dan lain-lain. Kata mizj
dalam Ilmu Kedokteran Klasik berarti susunan unsurunsur dalam tabiat, keadaan, dan kecenderungan tubuh
yang perubahan paduannya berimbas pada kesehatan seseorang.

LAPORAN INFAQ DAN SHODAQOH

PONDOK PESANTREN RAUDHATUL MUTTAQIEN


Jl. Cangkringan Km.04 Babadan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta

No.

Tanggal

Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.

21 September 2014
28 September 2014
7 Oktober 2014
12 Oktober 2014
13 Oktober 2014

Infak pengajian Ahad pagi


Infak pengajian Ahad pagi
Biaya cetak buku dan ATK
Infak pengajian Ahad pagi
Tagihan listrik

Saldo Kas

Penerimaan

Pengeluaran

Saldo

Rp. 550.000,Rp. 300.000,-

Rp. 230.000,Rp. 790.000,Rp. 240.000,Rp. 396.000,Rp. 96.000,-

Rp. 850.000,-

Rp. 96.000,-

Rp. 230.000,Rp. 560.000,Rp. 156.000,Rp. 946.000,-

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H

Raudhatul Muttaqien

Storyline

Pengajian Ahad Pagi diselenggarakan


untuk umum setiap hari Ahad pukul
09.00 WIB - selesai.

Workshop dan pelatihan Prophetic


Intelligence untuk menumbuhkan
potensi hakiki manusia.

Kerajinan batik untuk melatih


daya cipta, karya dan karsa.

Biro Haji dan Umroh Izzah Zamzam


Sakinah.

Persiapan rekaman album Gerakan


Indonesia Amanah di Fazan Musik
Indonesia

K.H. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey,


pengasuh Pondok Pesantren
Raudhatul Muttaqien.

Dzikir dan Munajah dilaksanakan


setiap malam Jumat setelah shalat
Isya hingga selesai.

Pimpinan Pondok Pesantren bersama jajaran ustadz dan ustadzah.

Gerakan Indonesia Amanah Membangun komunitas yang diisi orangorang amanah yang berpenghasilan
besar dan mencintai Indonesia

Workshop Gerakan Indonesia


Amanah di Pondok Pesantren
Raudhatul Muttaqien.

Prophetic Intelligence edisi 1 Ahad 19 Oktober 2014 M/ 24 Dzulhijjah 1435 H