Anda di halaman 1dari 9

ANALISA EFISIENSI DAN OPTIMALISASI POLA TANAM PADA DAERAH IRIGASI

TIMBANG DELI KABUPATEN DELI SERDANG

Dina Novitasari Alhinduan1, Ivan Indrawan2


1

Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1Kampus USU Medan
Email: dalhinduan@gmail.com

Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1Kampus USU Medan

ABSTRAK
Irigasi merupakan komponen yang sangat penting guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka
ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat. Daerah irigasi adalah suatu wilayah daratan yang
kebutuhan airnya dipenuhi oleh sistem irigasi. Daerah Irigasi Timbang Deli dengan luas 520 ha dengan
debit rencana 0,624 m3/s kebutuhan air irigasinya sebelumnya dipenuhi bangunan free intake dan sekarang
dipenuhi oleh bangunan Bendung Sungai Ular. Untuk merencanakan pola tanam yang optimum memerlukan data
hidrologi, klimatologi, topografi yang kemudian akan dianalisa untuk mendapatkan curah hujan efektif,
evapotranspirasi, dan kebutuhan air irigasi. Dalam menentukan curah hujan regional digunakan metode rata-rata
aljabar dengan data curah hujan 10 tahun dari tiga stasiun penakar hujan untuk mendapatkan nilai curah
hujan efektif pada lokasi penelitian. Perhitungan Evapotranspirasi dilakukan dengan Metode Penman. Berdasarkan
hasil analisis data curah hujan didapat curah hujan maksimum rata rata terjadi di bulan Oktober sebesar 322 mm
dan terendah terjadi di bulan Februari sebesar 129 mm. Dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat pola
tanam optimum pada alternatif ke -18 dengan nilai NFR 2,68 mm/hari dan DR 0,33 lt/dt/ha dengan tingkat
efisiensi 72,57%.
Kata kunci : Pola Tanam, Efisiensi Pemakaian Air

ABSTRACT
Irrigation is a very important component to improve agricultural production in the context of national food
security and welfare of the community. Irrigation area is an area of land where water demand met by the irrigation
system. Deli area with extensive irrigation Weigh 520 ha with the discharge 0.624 m3 / s before irrigation water
needs met free intake building and the building is now filled by a Ular River dam. To plan the optimum cropping
pattern requires data hydrology, climatology, topography which will then be analyzed to obtain effective
precipitation, evapotranspiration, and irrigation water requirements. In determining the use of regional rainfall
average algebraic method with 10 years of rainfall data from rain graduated three stations to get the value of
effective rainfall at the study site. Calculation Method of Evapotranspiration done Penmann. Based on the analysis
of rainfall data obtained maximum rainfall average occurs in October amounted to 322 mm and the lowest occurred
in February by 129 mm. By using 24 alternative cropping patterns obtained optimum cropping pattern at the
alternatives 18th with NFR value 2.68 mm / day and DR 0.33 lt / dt / ha with 72.57% efficiency rate.
Keywords: Planting Pattern, Water Use Efficiency

1.

Pendahuluan

Latar Belakang
Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi
irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Irigasi dimaksudkan
untuk mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan
nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi.
Daerah Irigasi Timbang Deli (D.I. Timbang Deli) dilihat dari letak geografis, maka D.I Timbang Deli
terletak pada posisi 330 331 LU dan 98559856 BT, dengan luas 520 ha dengan debit rencana 0,624 3 /s
(Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara, 2006). Kebutuhan air irigasi pada D.I. Timbang Deli sebelumya
dipenuhi oleh bangunan free intake yang terletak pada sisi kiri badan sungai. Sekarang kebutuhan air irigasi
dipenuhi oleh adanya bangunan Bendung Sungai Ular yang berada pada sisi kiri Bendung yang memotong melalui
bawah tanah dari sisi kanan ke sisi kiri badan Sungai Ular.

Perumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam analisa efisiensi dan optimalisasi pola tanam daerah irigasi Timbang
Deli adalah :
Berapakah kebutuhan air irigasi untuk pola tanam optimum ?
Berapakah kebutuhan air irigasi yang berasal dari curah hujan dan dari pintu pengambilan ?
Apakah pintu pengambilan mampu dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam yang
ada ?
Apakah dengan adanya bangunan bendung yang baru kebutuhan air irigasi terpenuhi sepanjang tahun
?
Apakah penggunaan air pada pola tanam optimum sudah efisien ?

Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ditulis di atas maka permasalahan dibatasi mencakup hal-hal sebagai
berikut :

Penulisan tugas akhir dilakukan pada awal tahun 2013, dengan menggunakan data curah hujan dan
klimatologi tahun 2002 sampai tahun 2011.

Hanya menghitung irigasi daerah Timbang Deli dengan luas layanan seluas 520 ha.

Menghitung curah hujan efektif dengan metode aljabar rata-rata.

Mencari pola tanam yang optimum.

Menghitung kebutuhan air irigasi terhadap pola tanam.

Menganalisa efisiensi sesudah adanya bendung baru dari pola tanam optimum.

Menghitung debit andalan dengan metode F.J.Mock.

Tujuan

Penulisan tugas akhir analisa efisiensi dan optimalisasi pola tanam daerah irigasi Timbang Deli ini
bertujuan untuk :
Menganalisa kebutuhan air untuk irigasi dengan debit yang dapat disediakan oleh bangunan Bendung
Sungai Ular.
Untuk mengetahui kebutuhan air optimum dan menentukan pola tanam terbaik untuk daerah irigasi
tersebut.
Dapat mengetahui kehandalan pintu pengambilan dalam memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola
tanam yang ada.
Mendapatkan pola tanam optimum untuk menentukan pemakaian air yang lebih efisien.

2.

Tinjauan Pustaka

Curah Hujan Efektif


Tidak semua curah hujan yang jatuh diatas tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya,
ada sebagian yang menguap dan mengalir sebagai limpasan permukaan. Air hujan yang jatuh diatas permukaan
dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

Curah hujan nyata, yaitu sejumlah air yang jatuh pada periode tertentu

Curah hujan efektif, yaitu jumlah air hujan yang jatuh pada suatu daerah atau petak sawah semasa
pertumbuhan tanaman dan dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhannya.
Adapun curah hujan efektif untuk tanaman palawija menurut KP-01 dipengaruhi oleh besarnya tingkat
evapotranspirasi dan curah hujan daerah. Besaran curah hujan efektif harian dihitung dengan analisis pendekatan
rumus (KP-01, 1986) sebagai berikut:
Untuk padi, Re = 70% x R80
Untuk palawija, Re = 70% x R50

Efisiensi Irigasi
Hampir seluruh air irigasi berasal dari pembagian dari saluran-saluran dari reservoir. Kehilangan air terjadi
ketika air berlebih. Efisiensi irigasi dapat dicari dengan menggunakan rumus:

EC =

Wf
x 100 %
Wr

dimana :
Ec : efisiensi irigasi
Wf : jumlah air yang terdapat di areal persawahan
Wr : jumlah air yang tersedia yang berasal dari pintu pengambilan

Kebutuhan Air di Sawah


Kebutuhan air bersih disawah (NFR) dipengaruhi oleh faktor-faktor NFR seperti penyiapan lahan,
pemakaian konsumtif, penggenangan, efisiensi irigasi, perkolasi dan infiltrasi, dengan memperhitungkan curah
hujan efektif (Re). Bedanya kebutuhan pengambilan air irigasi (DR) juga ditentukan dengan memperhitungkan
faktor efisiensi irigasi secara keseluruhan (e). Perhitungan kebutuhan air irigasi dengan rumus sebagai berikut:
NFR = Etc + P + WLR Re
DR = (NFR x A)/e

(1)
(2)

dimana:
NFR = kebutuhan air irigasi disawah (mm/hari) atau (lt/det/ha)
DR = kebutuhan air di pintu pengambilan (lt/det/ha)
Etc = penggunaan konsumtif (mm/hari)
P = perkolasi (mm/hari)
WLR = penggantian lapisan air (mm/hari)
Re = curah hujan efektif
A = luas areal irigasi rencana (ha)
e = efisiensi irigasi

Kebutuhan Penyiapan Lahan


Metode yang dapat digunakan untuk perhitungan kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan salah
satunya adalah metode yang dikembangkan oleh van de Goor dan Zijlstra (KP-01,1968). Metode ini didasarkan
pada laju air konstan dalam l/dt selama penyiapan lahan dan menghasilkan rumus berikut :
LP = M. ek / ( ek 1 )

(3)

dimana :
LP
M
Eo
P
T
S
k
e

= Kebutuhan air irigasi untuk pengolahan tanah (mm/hari)


= Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang telah
di jenuhkan (= Eo + P)
= Evaporasi air terbuka (mm/hari) (= Eto x 1,10)
= Perkolasi (mm/hari)
= Jangka waktu penyiapan lahan (hari)
= Kebutuhan air, untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm, yakni 200 + 50 = 250 mm
= MT / S
= bilangan Napier (2,7183)

Kebutuhan Air untuk Komsimtif Tanaman


Untuk menghitung kebutuhan air untuk konsumtif tanaman digunakan persamaan empiris sebagai berikut :
Etc = Kc x Eto
(4)
dimana :
Kc : Koefisien tanaman
Eto : Evapotranspirasi potensial (mm/hari)
Etc : Evapotranspirasi tanaman (mm/hari)

Perkolasi
Laju perkolasi sangat bergantung pada sifat-sifat tanah. Dari hasil penyelidikan tanah pertanian dan
penyelidikan kelulusan, besarnya laju perkolasi serta tingkat kecocokan tanah untuk pengolahan tanah dapat
ditetapkan dan dianjurkan pemakaiannya. Guna menentukan laju perkolasi, tinggi muka air tanah juga harus
diperhitungkan. Perembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah. Laju perkolasi normal pada tanah
lempung sesudah dilakukan genangan berkisar antara 1 sampai 3 mm/hari (KP 01, 1986). Di daerah dengan
kemiringan diatas 5 %, paling tidak akan ter terjadi kehilangan 5 mm/hari akibat perkolasi dan rembesan.

Pergantian Lapisan Air


1.
2.

Setelah pemupukan, usahakan untuk menjadwalkan dan mengganti lapisan air menurut kebutuhan.
Jika tidak ada penjadwalan semacam itu, lakukan penggantian sebanyak 2 kali, masing-masing 50 mm
( atau 3,3 mm/hari selama bulan ) selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi.

Pola Tanam
Pada umumnya, pola tanam di suatu daerah irigasi harus di atur sedemikian rupa agar waktu panen dan
menanam menjadi teratur. Pola tanam ialah susunan rencana penanaman berbagai jenis tanaman selama satu tahun.
Terbatasnya persediaan air adalah alasan yang mempengaruhi penyusunan pola tanam dalam satu tahun (Suryadi,
2011).

3.

Hasil Dan Pembahasan


Setelah proses panelitian, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Curah Hujan Regional DAS Sungai Ular


Tahun

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Juni

Juli

Agst

Sep

Okt

Nov

Des

2002

212

80

120

171

179

134

192

109

440

255

192

91

2003

152

163

145

182

189

165

230

189

255

264

235

181

2004

134

303

234

243

178

133

205

190

343

377

227

208

2005

132

84

89

212

235

214

220

201

234

515

238

212

2006

124

164

111

267

266

149

99

137

223

264

150

278

2007

180

100

139

178

328

185

186

298

434

330

336

183

2008

164

109

229

222

217

116

282

235

298

318

379

174

2009

206

132

400

232

264

145

144

271

285

390

227

224

2010

284

47

197

128

137

176

209

248

159

159

377

206

2011

170

108

367

144

214

167

85

253

211

347

241

246

Rata-rata

176

129

203

198

221

158

185

213

288

322

260

200

Curah hujan efektif didefenisikan sebagai bagian dari keseluruhan curah hujan yang secara efektif tersedia
untuk kebutuhan air bagi tanaman. Besaran curah hujan efektif diprediksikan sebesar 70% dari curah hujan tengah
bulanan dengan probabilitas 80%.
Tabel 2. Rekapitulasi Curah Hujan Efektif

Januari

Curah
Hujan
Efektif
padi
6,25

Februari

3,92

5,09

Agustus

8,82

10,97

Maret

5,60

9,19

September

10,41

13,30

April

7,98

9,89

10

Oktober

12,32

15,40

Mei

8,35

10,13

11

November

10,59

11,11

Juni

6,25

7,70

12

Desember

8,45

9,71

No.

Bulan

Curah
Hujan

Curah
Hujan
Efektif
palawija

Curah Hujan
Efektif
palawija
7,93

Juli

6,72

9,57

No.

Bulan

Efektif padi

Evapotranspirasi adalah kebutuhan dasar bagi tanaman yang harus dipenuhi oleh sistem irigasi yang
bersangkutan untuk menjamin suatu tingkat produksi yang diharapkan.

Tabel 3. Rekapitulasi Evapotranspirasi


Evapotranspirasi
No.

Evapotranspirasi

Bulan

No.
(mm/hari)

mm/bulan

Bulan
(mm/hari)

mm/bulan

Jan

74,29

4,64

Juli

60,16

3,76

Feb

69,98

4,67

Agust

72,50

4,53

Mar

66,02

4,13

Sept

72,31

4,82

Apr

59,50

3,97

10

Okt

76,83

4,80

Mei

67,64

4,23

11

Nov

60,26

4,02

Juni

52,03

3,47

12

Des

63,79

3,99

Tabel 4. Rekapitulasi hasil Analisa Kebutuhan Air


Analisa
kebutuhan
Air

NFR
(mm/hari)

Alt - 1

10,15

II

Alt - 2

10,15

Alt - 3

9,05

II

Alt - 4

7,95

Alt - 5

6,95

II

Alt - 6

6,95

Alt - 7

5,38

II

Alt - 8

5,38

Alt - 9

6,91

II

Alt - 10

6,91

Alt - 11

6,66

II

Alt - 12

6,66

Bulan
jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni

Analisa
kebutuhan
Air

(mm/hari)

Alt- 13

5,56

II

Alt- 14

5,56

Alt- 15

4,04

II

Alt- 16

4,04

Alt- 17

2,68

II

Alt- 18

2,68

Alt- 19

2,98

II

Alt- 20

2,98

Alt- 21

5,1

II

Alt- 22

5,1

Alt- 23

7,79

II

Alt- 24

7,79

Bulan
Juli
Ags
Sep
Okt
Nop
Des

NFR

Karena nilai NFR padi I dan padi II alternatif 18 terkecil maka, pola tanam optimum didapatkan jika pola
tanam dimulai mengikuti alternatif 18 yaitu pola tanam dengan kebutuhan air irigasi terkecil.
Dari hasil analisa kebutuhan air irigasi yang dilakukan, maka didapatkan perencanaan pola tanam dengan
kebutuhan air irigasi yang paling rendah yaitu dimulai dari September II. Berikut ini disajikan analisa kebutuhan air
September II. Berdasarkan tabel analisa kebutuhan air diatas, maka didapat perencanaan Pola Tanam seperti berikut
:
Sep
Okt
Nov
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agust
1

LP

Padi

LP

Padi

Gambar 3. Skema Pola Tanam

Kedelai

Tabel 5. Efisiensi Irigasi

DR
ALT
(m3/dt)

Debit
Rencana
Konsultan
(m3/dt)

Nilai
Efisiensi
(%)

ALT

DR

Ket
(m3/dt)

Debit
Rencana
Konsultan
(m3/dt)

Nilai
Ket

Efisiensi
(%)

0,94

0,624

50,58

Efisien

13

0,51

0,624

17,54

0,94

0,624

50,58

14

0,51

0,624

17,54

0,84

0,624

34,26

15

0,62

0,624

0,71

0,74

0,624

17,94

16

0,62

0,624

0,71

0,64

0,624

3,20

17

0,25

0,624

60,27

Efisien

0,64

0,624

3,20

18

0,17

0,624

72,57

Efisien

0,50

0,624

20,21

Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien

Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien

19

0,28

0,624

55,80

Efisien

0,25

0,624

60,27

Efisien

20

0,28

0,624

55,80

0,25

0,624

60,27

Efisien

21

0,47

0,624

24,28

10

0,28

0,624

55,80

22

0,47

0,624

24,28

11

0,62

0,624

1,22

23

0,72

0,624

15,61

12

0,47

0,624

24,28

Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien

24

0,72

0,624

15,61

Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien
Tidak
Efisien

4.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
1.
2.

3.
4.
5.

6.

Dari Analisis Data Curah Hujan didapat curah hujan maksimum rata rata terjadi di bulan Oktober sebesar
322 mm dan minimum terjadi di bulan Februari sebesar 129 mm.
Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat nilai NFR ( Net Farm Ratio)
yang terkecil (optimum) yaitu sebesar 2,68 mm/hari, dimana alternatif yang digunakan adalah alternatif ke-18
dengan awal Land Preparation pada periode September II.
Debit rencana di Pintu Pengambilan sebesar 0,624 m3/dt memenuhi nilai DR pada pola tanam optimum yaitu
sebesar 0,171 m3/dt.
Dari tabel perhitungan efisiensi didapat nilai efisiensi pada pola tanam opimum sebesar 72,57%.
Nilai debit andalan maksimum didapat pada bulan Januari sebesar 102,58 m3/dt dan debit minimum andalan
pada bulan Juni sebesar 47,31 m3/dt. Nilai debit dengan probabilitas terpenuhi 80% dalam 10 tahun adalah
45,04 m3/dt.
Nilai debit andalan dari hasil perhitungan adalah debit andalan keseluruhan Sungai Ular.

Saran
1.
2.

Berdasarkan hasil perhitungan curah hujan 10 tahun terakhir idealnya periode tanam untuk irigasi dilakukan
pada pertengahan September.
Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum maka sebaiknya memakai pola tata tanam Padi Padi
Kedelai alternatif 18.

DAFTAR PUSTAKA
Dept. Pekerjaan Umum. 1989. Metode Perhitungan Debit Banjir SK SNI M-18-1989-F. Bandung: Yayasan
Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan.
Dep. PU, Dit. Jen. Sumber Daya Air, Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara, 2006. Design Report of
Modification Design Work for Rehabilitation for Ular River Flood Control and Improvement of Irrigation
Project Volume-I: Main Report. Medan.
Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. 1986. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian
Jaringan Irigasi (KP-01). Bandung: CV. Galang Persada.
Hariatama, Adean. 2012. Analisa Optimalisasi Pola Tanam pada Daerah Irigasi Namu Rambe Kabupaten Deli
Serdang. Medan: USU.
Pasandaran, Effendi. 1991. Irigasi di Indonesia (Berstrategi dan Pengembangan editor Effendi Pasandaran).
Jakarta: LP3ES.
Soemarto, C.D. 1986. Hidrologi Teknik. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.
Soemarto, C.D. 1995. Hidrologi Teknik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Suryadi, Abdi. 2011. Studi Pengembangan Jaringan Irigasi di Daerah Irigasi bandar Sidoras. Medan: USU.