Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS BEDAH

APPENDIXITIS
TUTOR : dr. Leonardo W Permana, MARS

oleh :
Tuti Seli Sugiarti
10101023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2014

LAPORAN KASUS BEDAH


I.IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. E

Umur

: 44 th

Jenis kelammin: Perempuan


Alamat

: Pandau

II.ANAMNESIS : Alloanamnesis
1. Keluhan utama:
Nyeri perut kanan bawah sejak 4 hari yang lalu.
2. RPS:
Nyeri perut kanan bawah sejak 4 hari yang lalu.
Nyeri seperti berdenyut- denyut yang terjadi terus menerus
Nyeri menggangu aktivitas dan kenyamanan.
Nyeri diperberat saat beraktivitas.
Tidak ada faktor yang memperingan nyeri.
Nyeri dirasakan berawal dari daerah pusar.
Nyeri tidak menjalar ke seluruh bagian perut
Nyeri tidak menjalar ke punggung
Nyeri pinggang (-)
Sejak 4 hari mual dan muntah sebanyak 4 kali
Muntah berisi cairan bercampur makanan
BAB teratur, tidak nyeri dan tidak berdarah.
BAK teratur, tidak nyeri, tidak berdarah dan tidak ada batu.
Flatus (+)
Demam ringan (+)
Haid teratur dan tidak pernah nyeri
Nafsu makan menurun.
3. RPD
OS tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
OS tidak memiliki riwayat pembedahan perut sebelumnya.
OS tidak pernah dirawat sebelumnya.
4. RPK
Riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga disangkal.

5. Riwayat alergi
Alergi obat (-)
Alergi makanan (-)
6. Riwayat psikososial
Olahrga tidak teratur
Kebiasaan Makan makanan pedas
Kebiasan makan gorengan
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : pasien tampak sakit sedang
2. Kesadaran
: compos mentis dengan GCS E4 V5 M6
3. Tanda vital:
TD
: 120/80 mmHg
T
: 37 C
RR
: 20x/menit
Nadi
: 80x/menit
Irama
: teratur
Pulsasi
: kuat
Status generalisata
1.Kepala
Mata :
Dalam batas normal
Telinga:
Dalam batas normal
Hidung:
Dalam batas normal
Mulut
Dalam batas normal
2.Leher
Pembesaran KGB (-)
Pembesaran Kelenjar tiroid (-)
nyeri tekan pada kelenjar (-)
3. Kardiovaskular
Dalam batas normal
4.Paru
3

Dalam batas normal


5.Abdomen
Inspeksi : dinding perut datar
Palpasi : nyeri tekan dan nyeri lepas pada abdomen kuadran kanan bawah titik Mc
burney(+)
Perkusi : timpani
Auskultasi: bising usus (+)
pemeriksaan khusus
Psoas sign (+)
Obturator sign(+)
Rovsign sign (+)
6.Ekstremitas atas
Dalam batas normal
7.ekstremitas bawah
Dalam batas normal
IV .PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Laboratorium
Hb
Eritrosit
Trombosit
Ht
LED
Leukosit
GDS
Creatinin
Ureum
SGOT
SGPT
Eos
Bas
Stb
Seg
Lim
Mon

: 13,3 mg/%
: 4,45 juta/mm3
: 344.000 l
: 40,4%
: 35 mm/jam (meningkat)
: 8.100 mm3
: 129 mg/dl
: 0,6 mg/dl
: 18 mg/dl (menurun)
: 20 L
:15L
:1
:0
:5
:60
: 28
:6
4

2. Urinalisis
pH
warna
berat jenis
protein
bilirubin
keton
nitrit

: 6,0
: kuning jernih
: 1.010
: negatif
: negatif
: negatif
: negatif

3.USG Abdomen

Struktur tidak berperistaltik, buntu, berbentuk seperti sosis dan tidak bertekanan
Penebalan dinding mukosa
Diameter luar lebih dari 6 mm
Gambaran target
Terdapat apendikolit (massa feses yang tertumpuk di lumen appendiks)
Kumpulan cairan periapendiks
Gambaran lemak peri caecal yang echogenik

V.DIAGNOSIS KERJA
Peritonitis local susp apendisitis akut
VI. DIAGNOSIS BANDING
infeksi saluran kemih bagian atas
ureterolitiasis
VII. PENATALAKSANAAN
IVFD RL 20 gtt/i
Ceftriakson 2 x 1 gram
Ketorolak 2 x 1 ampul
VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. menurut Smeltzer C. Suzanne, Apendisitis adalah
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen
dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Istilah apendisitis
pertamakali diperkenalkan oleh Reginal Fitz pada tahun 1886 di Boston. Morton
pertamakali melakukan operasi apendektomi pada tahun 1887 di Philadelphia.
Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh
proses infeksi dari apendiks.
2. EPIDEMIOLOGI
Appendisitis akut adalah penyebab paling umum dari akut abdomen. Individu memiliki
risiko sekitar 7% untuk appendisitis semasa hidupnya dan puncaknya terjadi antara usia
10 sampai 30 tahun. Insidensi appendisitis cukup tinggi di Indonesia. Penyakit apendiks
merupakan pola penyakit pada pasien rawat inap di rumah sakit yang menempati urutan
keempat tertinggi di Indonesia pada tahun 2006 dan menempati urutan kesembilan pada
tahun 2009. Appendisitis akut memerlukan pembedahan segera untuk mencegah
komplikasi yang lebih buruk. Keterlambatan penanganannya berisiko terjadinya
appendisitis perforasi sehingga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.
Angka mortalitas bervariasi, pada appendisitis akut kurang dari 0,1%, sedangkan pada
appendisitis perforasi mencapai sekitar 5%. Insidensi appendisitis perforasi di Afrika
sekitar 20 -30%, sedangkan di Amerika insidensi appendisitis perforasi pada laki -laki
sebanyak 38,7% dan wanita 23,5%. inseiden bertambah sesuai dengan umur, dengan
puncak pada umur 10-30 tahun, ratio laki-laki dibanding perempuan pada usia remaja 3:2
dan menjadi 1:1 sesudah usia 25 tahun. Temuan tersebut semakin menunjukkan bahwa
diagnosa appendisitis akut harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Namun, diagnosa
appendisitis akut masih merupakan salah satu problem pada bidang bedah karena angka
negative appendectomy berkisar 15 -20%. Angka kesalahan tersebut seharusnya dapat
diturunkan, salah satunya dengan cara observasi tiap 1 - 2 jam di rumah sakit bila
diagnosisnya meragukan.
3. ETIOLOGI
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiper plasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan cacing
askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.
histolytic. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan
6

menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks


dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan
mempermudah timbulnya apendisitis akut. Beberapa penelitian menunjukkan peran
kebiasaan makan makanan rendah serat terhadap timbulnya apendisitis. Kebiasaan
makan makanan rendah serat dapat mengakibatkan kesulitan dalam buang air besar,
sehingga akan meningkatkan tekanan di dalam rongga usus yang pada akhirnya akan
menyebabkan sumbatan pada saluran apendiks.
4. ANATOMI DAN FISIOLOGI APENDIKS
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira- kira 10 cm (kisaran 315), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di
bagian distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada
pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab
rendahnya insidens apendisitis pada usia itu. Secara histologi, struktur apendiks sama
dengan usus besar. Kelenjar submukosa dan mukosa dipisahkan dari lamina muskularis.
Diantaranya berjalan pembuluh darah dan kelenjar limfe. Bagian paling luar apendiks
ditutupi oleh lamina serosa yang berjalan pembuluh darah besar yang berlanjut ke dalam
mesoapendiks. Bila letak apendiks retrosekal, maka tidak tertutup oleh peritoneum
viserale. Persarafan parasimpatis
berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus.
Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral.
Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi, apendiks akan
mengalami gangrene. Apendiks menghasilkan lendir 1 - 2 ml per hari. Lendir itu
normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan
aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis.
Imunoglobulin sekreator yang dihasilkan oleh GALT ( gut associated lymphoid tissue)
yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini
sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan
apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe di sini
kecil sekali jika dibandingka n dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

5. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Apendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang disebabkan oleh feses
yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai dengan pengamatan epidemiologi bahwa
apendisitis berhubungan dengan asupan serat dalam makanan yang rendah. Obstruksi
yang terjadi pada lumen apendiks vermiformis akan mengakibatkan gangguan
aliran mukus sehingga terjadi pembengkakan apendiks yang diikuti dengan
peningkatan tekanan intraluminal. Tekanan yang
meningkat
tersebut
akan
menyebabkan apendiks mengalami hipoksia, terjadi ulserasi mukosa dan invasi
bakteri. Sekresi mukus yang terus berlanjut, mengakibatkan tekanan intraluminal
terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema dan bakteri
akan menembus lapisan dinding apendiks. Peradangan timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis akut.Gangguan aliran arteri apendikularis
akan menyebabkan infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren.Pada
stadium awal dari apendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi mukosa. Inflamasi ini
kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan lapisan muskular dan serosa
(peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada permukaan serosa dan
berlanjut ke beberapa permukaan peritoneal yang bersebelahan, seperti usus atau dinding
abdomen, menyebabkan peritonitis local. Dalam stadium ini mukosa glandular yang
nekrosis terkelupas ke dalam lumen, yang menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri
yang menyuplai apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah
menjadi nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera terjadi dan menyebar ke rongga
peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses lokal akan.
6. KLASIFIKASI
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik :
Apendisitis akut.
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak
umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang
peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut talah nyeri samar-samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering
disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam
nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas
letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat
Apendisitis kronik.
Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya : riwayat nyeri
perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan
mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding

apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus
lama dimukosa , dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.
7. MANIFESTASI KLINIS
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak
umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang
peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar- samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering
disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa
jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini nyeri dirasakan
lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang
tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa
memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah
terjadinya perforasi Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya
terlindung oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada
saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. Apendiks yang
terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan
sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi
lebih cepat dan berulang- ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya.
8. DIAGNOSIS
Pada anamnesis pe nderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini terjadi karena
hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh saluran cerna,
sehingga nyeri viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau rangsangan viseral
akibat aktivasi n.vagus. Obstipasi karena penderita takut untuk mengejan. Panas akibat
infeksi akut jika timbul komplikasi. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi,
antara 37,5 - 38,5 C. Tetapi jika suhu lebih tinggi, diduga sudah terjadi perforasi. Pada
pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan membungkuk sambil
memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perf orasi, dan penonjolan perut
bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler abses.Pada palpasi, abdomen biasanya
tampak datar atau sedikit kembung. Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati hati dengan sedikit tekanan, dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri. Status
lokalis abdomen kuadran kanan bawah:
Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran
kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas
tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba -

tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di


titik Mc. Burney.
Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence muscular
adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietale.
Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah
apabila dilakuka n penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini
diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada
sisi yang berlawanan.
Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi pada apendiks.
Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan
lutut difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal
tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium.

Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat peristaltik normal,
peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat apendisitis
perforata. Auskultasi tidak bany ak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis,
tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada
pemeriksaan colok dubur ( Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9 12. Selain
itu, untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado, yaitu:

10

9. DIAGNOSIS BANDING
Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis
banding, seperti:
Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut l ebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltis sering ditemukan. Panas dan leukositosis
kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut.
Demam Dengue
Dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di sini didapatkan hasil tes positif
untuk Rumpel Leede, trombositopenia, dan hematokrit meningkat.
Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah
pada pertengahan siklus menstruasi.
Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus.
Kehamilan di luar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada
ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pendarahan, akan timbul nyeri
yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik.
Kista ovarium terpun tir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pe meriksaan perut, colok vaginal, atau colok rektal.
Endometriosis ovarium eksterna
Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di tempat endometriosis
berada, dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.
Urolitiasi s pielum/ ureter kanan
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan.
Penyakit saluran cerna lainnya
Penyakit lain yang perlu diperhatikan adalah peradangan di perut, seperti divertikulitis
Meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis,
divertikulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis,
karsinoid, dan mukokel apendiks.
10. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan laboratorium darah, biasanya didapati peningkatan jumlah leukosit
(sel darah putih). Urinalisa diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lainnya berupa
peradangan saluran kemih. Pada pasien wanita, pemeriksaan dokter kebidanan dan
11

kandungan diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis kelainan peradangan saluran


telur/kista indung telur kanan atau KET (kehamilan diluar kandungan). Pemeriksaan
radiologi berupa foto barium usus buntu ( Appendicogram) dapat membantu melihat
terjadinya sumbatan atau adanya kotoran (skibala) dida lam lumen usus buntu.
Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan CT scan bisa membantu dakam menegakkan
adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit lainnya di daerah rongga panggul.
Namun dari semua pemeriksaan pembantu ini, yang menentukan dia gnosis apendisitis
akut adalah pemeriksaan secara klinis. Pemeriksaan CT scan hanya dipakai bila didapat
keraguan dalam menegakkan diagnosis. Pada anak - anak dan orang tua penegakan
diagnosis apendisitis lebih sulit dan dokter bedah biasanya lebih agresif dalam bertindak.
11. TATALAKSANA
Pengobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah meradang/apendisitis akut
adalah dengan jalan membuang penyebabnya (operasi appendektomi). Pasien biasanya
telah dipersiapkan dengan puasa antara 4 sampai 6 jam sebelum operasi dan d ilakukan
pemasangan cairan infus agar tidak terjadi dehidrasi. Pembiusan akan dilakukan oleh
dokter ahli anastesi dengan pembiusan umum atau spinal/lumbal. Pada umumnya, teknik
konvensional operasi pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan
bawah di atas daerah apendiks. Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian
antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan
pipa nasogastrik perlu dilakukan sebelum pembedahan. Alternatif lain operasi
pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah laparoskopi. Operasi ini dilakukan
dengan bantuan video camera yang dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas
dapat melihat dan melakukan appendektomi dan juga dapa t memeriksa organ- organ di
dalam perut lebih lengkap selain apendiks. Keuntungan bedah laparoskopi ini selain yang
disebut diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara satu dan setengah sentimeter
sehingga secara kosmetik lebih baik.
12. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa
massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan letak usus halus. Komplikasi
usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus, abses
abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan kematian. Selain itu, terdapat
komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang mengikuti
apendisektomi adalah komplikasi prosedur intra -abdomen dan ditemukan di tempat tempat yang sesuai, seperti: infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus
paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan perdarahan dari mesenterium
apendiks.

12

13. PROGNOSIS
Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa penyulit, namun
komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah terjadI peritonitis
/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya penyembuhan setelah operasi
usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi, keadaan umum pasien, penyakit penyerta
misalnya diabetes mellitus, komplikasi dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara
10 sampai 28 hari.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Riwanto, Ign. Usus Halus, Apendiks, Kolon dan Rektum dalam Buku Ajar Ilmu Bedah
Edisi 2, editor R.Sjamsuhidajat, Wim de Jong dan John Pieter. Jakarta : EGC. 2010.
2. Morris JA dan Sawyers JL. Abdomen Akuta dalam Buku Ajar Bedah Bagian 1 oleh
David C. Sabiston, alih bahasa Petrus Ardianto dan Timan IS, editor Jonatan Oswari.
Jakarta : EGC. 2009.
3. Jehan, E. Peran C Reactive Protein Dalam Menentukan Diagnosa Appendisitis Akut.
Bagian Ilmu Bedah Universitas Sumatra Utara. 2011.
4. Gearhart S.L. & Silen W. Appendisitis Akut dan Peritonitis dalam Harrison: PrinsipPrinsip Ilmu Penyakit Dalam . Terjemahan Asdie A.H., et.al. Jakarta: EGC. 2010.
5. Price Sylvia A, Wilson Lorraine Mc Cart. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC. 2010.

14