Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Beberapa hal yang mempengaruhi sifat sifat minyak adalah asam lemak
penyusunnya, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh, yang terdiri atas
mono unsaturated fatty acid ( PUFA ) atau high unsaturated fatty acid. Para ahli
biokim dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan sebutan asam lemak tak jenuh
Omega3, Omega 6, dan Omega 9.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan ternyata mengkonsumsi PUFA (


omega 6 ) yang berlebihan tanpa diimbangi konsumsi Omega 3 memang dapat
menurunkan LDL kolestrol, akan tetapi HDL kolesterol juga dilaporkan ikut
mengalami penurunan. Selain itu, keseimbangan antara Omega 3 dan Omega 6
terganggu, menyebabkan darah mudah menggumpal. Kedua hal ini tidak
meguntungkan karena rasio LDL / HDL ( Indeks PJK ) yang menurun dan mudahnya
darah menggumpal tidak dapat mencegah terjadinya PJK, bahkan dapat memicu
terjadinya PJK.

Pada tahun 1985 Grundy dan 1987 Mensink menyatakan bahwa MUFA dapat
menurunkan kolesterol ( LDL - kolesterol ) sehingga MUFA mulai mendapat
perhatian. Salah satu jenis MUFA adalah Omega 9 ( Oleat ) yang berdasarkan
penelitian pada tahun 1992, 1998, 1999,dan 2000, menyimpulkan bahwa Omega 9
memiliki daya perlindungan yang mampu menurunkan LDL kolesterol darah,
meningkatkan HDL kolesterol yang lebih besar dibanding Omega 3 dan Omega 6,
lebih stabil dibandingkan dengan PUFA. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat yang
hidup dikawasan Mediteranian yang jarang ditemukan penderita jantung koroner
karena tingginya konsumsi Omega 9 dan Omega 3. Sedangkan di kawasan barat ( AS
dan Eropa ) konsumsi lemaknya memiliki rasio 10 : 1 ( Omega 3 ), yang dianggap
tidak sehat.

Berdasarkan penelitian dan kajian epidemilogi di atas, mmulai terjadi


perubahan pandangan dari konsumsi minyak kaya Omega 6 dan Omega 3 dengan

kembali mengkonsumsi minyak yang berimbang yaitu 30 % saturated fat, 40 %


MUFA ( Omega 9 ) dan 30 % PUFA (Omega 3).

B. TUJUAN PENULISAN

Agar dapat mengerti apa yang dimaksud dari Omega 3, Omega , dan Omega 9.

Dapat mengetahui kandungan yang terdapat dalam Omega 3, Omega 6, dan


Omega 9.

Agar lebih mengetahui fungsi dari Omega 3, Omega 6, dan Omega 9.

C. RUMUSAN MASALAH

Apa yang dimaksud dengan Omega 3, Omega 6, dan Omega 9.

Kandungan apasajakah yang terdapat dalam Omega 3, Omega 6, dan Omega 9.

Apa fungsi dari Omega 3, Omega 6, dan Omega 9.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

Pengaruh Omega 9 Asam Oleat Terhadap Kadar Kolesterol LDL.


LDL merupakan partikel likoprotein pertama pembawa kolesterol dalam sirkulasi.
Kolesterol dibawa ke jaringan perifer melalui endositosis yang diperantarai oleh
apolipoprotein B100 dan Apo E. Endositosis dimulai oleh peningkatan Apo B100 ke reseptor
LDL dipermukaan membrane sel perifer sehingga membrane sel mengalami infaginasi
membentuk vesikel sitoplasmik. Vesikel kemudian berfungsi dengan lisosom. LDL yang
terdapat di dalamnya didegradasi oleh enzim lisosom yang secara umum terlihat bahwa
akibat pemberian daging buah alpukat yang mengandung omega 9 asam oleat, kadar
kolesterol LDL mengalami penurunan secara signifikan (p<0,05) pada p1 dan p2 dari
sebelum pemberian. Pemberian dosis daging buah alpukat yang mengandung omega 9 asam
oleat dibarengi dengan kembali ke pakan standar d(P3) menyebabkan penurunan kolesterol
LDL paling tinggi yaitu 56,75 %, kelompok P2 berhasil menurunkan 44,6 %, P1
menyebabkan penurunan 36,92 % sedangkan P0 hanya berhasil 14,84 %. Pengaruh daging
buah alpukat yang mengandung omega 9 asam oleat pada fungsi structural yaitu pada
membrane sel sebagai sinyal transduksi dan fungsi pengatur, yaitu mempertahankan
kelembaban membrane sehingga mempertahankan fungsi reseptor LDL yang ada pada
membrane sel. Penurunan kadar kolesterol LDL belum dapat menyamai kadar kolesterol
LDL normal pada penelitian ini hal ini dapat dipahami karena meskipun diberi daging buah
alpukat omega 9 asam oleat dan kembali ke pakan standar, dimungkinkan pemberian dosis
yang belum optimal atau lamanya pemberian daging buah alpukat yang mengandung omega
9 asam oleat .
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsumsi lemak semakin rendah dengan
penggunaan udang Mantis semakin tinggi, namun ternyata kandungan lemak kuning telur
yang dihasilkan relatif sama, dengan demikian terjadi penurunan kandungan lemak setelah
difermentasi oleh Basillus sp. Kadar Omega -9 udang Mantis sesudah difermentasi terjadi
penurunan dari 12,7% menjadi 11,85%.
Peranan bakteri Basillus sp. Mesofilik dari cairan rumen sapi menghasilkan titinase
yang diproduksi optimal pada suhu 35oc pH 6,0 dan waktu piaraan 5 hari. Enzim lain yang
3

dihasilkan yaitu kitin deasetilase yang bekerja spesifik memotong gugus asetil dari kitin
menjadi kitosan. Kitin dapat dihidrolisis dengan enzim menjadi kitosan. Kitosan terdiri dari
unit n-acetil glukosamin dan n-glukosamin yang mempunyai sifat unik karena kerangka gula
pada kitosan mempunyai gugus amino bermuatan positif. Kitosan mempunyai gugus amina
bebas yang menjadikannya bersifat polikationi, sehingga kitosan dapat berfungsi sebagai
agen penggumpal dalam penanganan limbah terutama limbah berprotein dan lebih mudah
diolah menjadi bentuk lain.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. OMEGA - 3
Omega 3 merupakan salah satu jenis lemak tidak jenuh yang sangat dibutuhkan tubuh.
Sayangnya, tubuh tidak dapat menghasilkan sendiri jenis lemak ini sehingga kebutuhan akan
lemak jenis ini harus didapatkan melalui asupan makanan. Para ahli gizi menyatakan bahwa
tubuh membutuhkan sekitar 300 mg Omega 3 per harinya. Omega 3 sebagian besar dapat
ditemukan pada ikan-ikanan seperti ikan Salmon, ikan Tuna, ikan air tawar, Makerel, Hering,
ikan Tenggiri, dan ikan sarden (ikan Lemuru). Selain itu, Omega 3 dapat ditemukan pula
pada makanan yang berasal dari tumbuhan seperti minyak dari Raps, kacang Kenari,
Walnuts, Alpukat, Bayam, minyak Canola, dan kacang Kedelai.
Dalam Omega 3 sendiri terdapat komponen-komponen zat penting yang penting bagi
tubuh seperti DHA (Docosahexaenoic acid), EPA (Eicosapentaenoic acid), dan LNA
(Linolenic acid).DHA dan EPA banyak ditemukan pada ikan-ikanan sedangkan LNA pada
tumbuh-tumbuhan termasuk sayuran yang berwarna hijau. Masing-masing komponen
memiliki fungsi yang berbeda dalam tubuh.DHA berfungsi sebagai jaringan pembungkus
saraf yang berperan dalam melancarkan perintah saraf dan mengantarkan rangsangan saraf ke
otak. EPA berfungsi dalam membantu pembentukan sel-sel darah dan jantung, menyehatkan
sistem peredaran darah dengan melancarkan sirkulasi darah dan LNA berperan dalam
menghasilkan energi dari makanan yang dikonsumsi dan kemudian membawanya ke sel-sel
tubuh yang membutuhkannya.
Fungsi omega - 3
Secara umum, Omega 3 berfungsi bagi pertumbuhan sel otak, organ penglihatan dan
tulang, serta menjaga sel-sel pembuluh darah dan jantung tetap sehat.Omega 3 sangat penting
bagi perkembangan sel-sel otak karena 40% asam lemak di otak terdiri atas asam lemak
Omega 3. Omega 3 ini sangat dibutuhkan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan
sel-sel saraf otak agar optimal terutama pada anak-anak sampai sekitar usia 5 tahun
mengingat pertumbuhan otak anak yang cepat dan pesat pada masa tersebut.

Omega 3 bahkan tetap dibutuhkan sampai usia dewasa. Kurangnya kadar Omega 3
akan membuat sel saraf di otak kekurangan energi untuk proses perkembangan otak sehingga
dapat mengganggu kerja dan fungsi otak seperti hilangnya daya ingat dan penurunan fungsi
otak lainnya secara drastis. Tidak hanya bagi otak, Omega 3 juga memegang peranan penting
bagi organ penglihatan dan tulang.Sekitar 60% retina pada mata dibentuk dari Omega 3.
Kekurangan Omega 3 dapat mengakibatkan mata menjadi kabur.Omega 3 juga baik untuk
tulang karena di dalam Omega 3 juga terkandung kalsium.
Pada saat janin, Omega 3 dibutuhkan untuk membentuk sel-sel pembuluh darah dan
jantung. Pada saat dewasa, Omega 3 membantu dalam menyehatkan darah dan mekanisme
kerja pembuluh darah serta jantung. Dengan mengonsumsi Omega 3, tubuh akan dibantu
dalam menurunkan kadar trigliserida dan LDL dalam darah sehingga mengurangi
penimbunan lemak darah yang tidak baik pada saluran darah yang memicu aterosklerosis dan
tekanan darah tinggi. Resiko seperti stroke dan penyakit jantung pun dapat dihindari.
Pada orang lansia, Omega 3 dapat membantu mengatasi penyakit peradangan
persendian. Manfaat lain dari Omega 3 ialah kemampuannya dalam menjaga dan
mempertahankan kesehatan kulit.

3.2. OMEGA - 6
Asam lemak omega-6 adalah asam lemak tak jenuh ganda yang sangat penting untuk
pengembangan dan fungsi otak, sistem reproduksi, dan metabolisme, serta membantu
menjaga kesehatan kulit dan rambut. Konsentrasi tertinggi dari lemak tak jenuh ganda ini
ditemukan di kedelai, gandum, beras dan minyak rami.
Fungsi Omega - 6

Omega-6 berfungsi untuk menyehatkan organ jantung sehingga terhindar dari


penyakit jantung. Keseimbangan sinergi antara Omega-3 dan Omega-6 dapat memelihara
kesehatan kulit, kuku, rambut, hormon, meringankan gejala asma, serta mencegah kerusakan
sel pada pengidap kanker. Masih dari keluarga lemak tak jenuh, Omega-9 dikenal sebagai
asam oleat. Asam lemak ini diproduksi oelha tubuh namun akan lebih berkhasiat bila
diperoleh dari makanan.
6

3.3. OMEGA - 9
Omega-9 adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang ditemukan dalam minyak zaitun,
buah acai (berry), kacang, dan alpukat. Juga disebut asam oleat.
Fungsi Omega - 9 :
Omega-9 berfungsi untuk mengurangi lemak jahat pada minyak goreng. Risiko
penyakit jantung dan stroke bisa berkurang bila dikonsumsi secara teratur.

Kandungan omega 3, 6, 9 dalam penurunan kolesterol bermanfaat untuk :

Membantu meningkatkan pembakaran energi & metabolisme sel

Menjaga system penghantaran impuls syaraf dan memelihara tekanan darah

Menurunkan kekentalan darah, sehingga mengurangi resiko serangan jantung

Menurunkan kolesterol LDL dan Trigliserida

Meningkatkan HDL

Asam Lemak Dan Kandungan Antioksidan Dalam Makan Rumput Dan Biji-Bijian
Makanan Sapi
Daging merah terlepas dari rejimen makan adalah padat gizi yang dianggap sebagai
sumber penting asam amino esensial, Vitamin A,

B6, B12, D, E dan mpenting dan

memineral termasuk besi seng dan selenium. Seiring dengan nutrisi penting ini, konsumen
daging juga menelan sejumlah lemak yang merupakan sumber energi penting dan
memfasilitasi penyerapan vitamin larut lemak termasuk A, D, E dan K. Menurut ADA, lemak
hewani memberikan konstribusi sekitar 60% dari SFA dalam diet amerika, yang sebagian
besar adalah asam palmitat (C16 : 0) dan asam stearat (C18 : 0).asam stearat telah terbukti
tidak memiliki dampak bersih pada konsentrasi serum kolesterol pada manusia. Selain itu,
30% dari isi FA pada daging sapi yang diproduksi secara konvensional terdiri dari asam
oleat (C18 : 1), FA tak jenuh tunggal (MUFA) yang memunculkan efek penurun kolesterol
antara atribut sehat lainnya termasuk penurunan resiko stroke danpenurunan yang signifikan
di kedua tekanan darah sistolik dan diastolik pada populasi rentan.
7

Meskipun ada genetik, usia dan jenis kelamin terkait perbedaan di antara berbagai
spesies memproduksi daging sehubungan dengan profil lipid dan rasio, pengaruh hewan
cukup signifikan. Terlepas dari genetik, jenis kelamin, usia, jenis atau lokas
Hasil penelitian I melaporkan bahwa rumput selesai ternak biasanya rendah lemak
total dibandingkan dengan butir makan sezaman. Menariknya, tidak ada perbedaan yang
konsisten dalam kandungan total SFA antara kedua rejimen makan. Meraka SFA yang
dianggap lebih merugikan kadar kolerterol serum, yaitu, miristat (C14 : 0) dan palmitat (C16
: 0), lebih tinggi pada butir makan daging sapi dibandingkan dengan makan rumput sezaman
dalam 60% dari studi ditinjau. Rumput selesai daging mengandung konsentrasi tingi asam
stearat (C18 : 0) asam lemak jenuh hanya dengan dampak netral bersih pada kolesterol
serum. Dengan demikian, rumput selasai daging sapi cenderung mengasilkan komposisi SFA
lebih menguntungkan meskipun sedikit yang diketahui tenteng bagaimana sapi rumput
menjadi pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kolesterol serum pada pasien hiper
kolesterolemik dibandingkan dengan daging sapi makan biji-bijian.

Seperti asupan SFA, konsumsi diet kolesterol juga telah menjadi isu penting bagi
konsumen. Kandungan kolesterol daging sapi adalah sama dengan daging lainnya ( sapi 73,
babi 79; domba 85, ayam 76 dan 83 mg/100g kalkun), dan karena itu dapat digunakan secara
bergantian dengan daging putih mengurangi kadar kolesterol serum pada hiper
kolesterolemik individu. Penelitian telah menunjukan bahwa berkembang biak, nurtisii dan
jenis kelamin tidak mempengaruhi konsentrasi kolesterol otot rangka sapi, konten agak
kolesterol sangat berkolerasi dengan konsentrasi IMF. Karena tingkat IMF naik, sehingga
terjadi, konsentrasi kolesterol per gram jaringan. Karena padang rumput mengangkat daging
sapi rendah lemak keseluruhan, khususnya yang berkaitan dengan marmer atau IMF,
tampaknya mengikuti bahwa rumput jadi sapi akan lebih rendah dalm kandungan kolesterol
keseluruhan meskipun data sangat terbatas. Garcia et al (2008) melaporkan 40,3 dan 45,8
gram-gram cholesterol/100 jaringan di merumput dan butir makan sapi jantan, masingmasing (P < 0,001).
Butir makan daging sapi secara konsisten menghasilkan konsentrasi yang lebih
tinggi MUFAs dibandingkan dengan rumput makan daging sapi, yang meliputi Agreement
seperti asam oleat (C18 : 1 cis - 9), MUFA utama dalam daging sapi. Sejumlah studi
epidemiologi membandingkan tingkat penyakit di berbagai negara telah menunjukkan
8

hubungan terbalik antara asupan MUFA dan tingkat kematian untuk CVD. Meski begitu,
rumput makan daging sapi memberikan konsentrasi yang lebih tinggi TVA (C18 : 1 t11),
seorang MUFA penting untuk sintesis de novo dari asam linoleat terkonjugasi (PKB : C18 : 2
c 9 , t 11), anti kuat karsinogen yang disintesis dalam jaringan tubuh.
Asan lemak tak jenuh ganda yang penting (PUFA) dalam daging sapi konvensional
adalah asam linoleat (C18 : 2 ), asam alfa linolet (C18 :

3), digambarkan sebagai

Agreement esensial, dan asam lemak rantai panjang termasuk asam arakidonat (C20 : 4),
asam eicosapentaenoic (C20 : 5), asam docosanpentaeoic (C22 : 5) dan docosahexaenoic acid
(C22 : 6). Pentingnya nutrisipada komposisi asam lemak jelas ditunjukkan ketika profil
diperiksa oleh omega 6 (n 6) dan omega 3 ( n-3) keluarga. Tabel 2 menunjukkan tidak ada
perubahan yang signifikan terhadap konsentrasi keseluruhan n-6 fatty acid antara rejimen
makan, meskipun rumput makan daging sapi secara konsisten menunjukkan konsentrasi
yang lebih tinggi dari n-3 fatty acid dibandingkan dengan butir makan sezaman,
menciptakan lebih menguntungkan n-6 : n-3 rasio. Ada sejumlah studi yang melaporkan efek
positif dari peningkatan n-3 asupan pada CVD dan masalah kesehatan lainnya yang terkait
dibahas secara lebih rinci pada bagian berikutnya.
Hasil penelitian 2 perbandingan komposisi asam lemak polyunsatured berarti (dinyatakan
sebagai mg / g asam lemak atau sebagai % dari total lipid) antara yang makan rumput dan
makan biji-bijian makan ternak.
1. Ulasan omega 3 : kandungan asam lemak omega 6 dirumput makan daging
sapi
Ada dua asam lemak esensial (EFA) dalam gizi manusia : asam linoleat
(LA), asam lemak omega 3, dan asam linoleat (LA), omega 6 asam lemak.
Tubuh manusia tidak dapat menjadi mensintesis asam lemak esensial, namun mereka
sangat penting untuk kesehatan manusia, karena alasan ini, EFA harus diperoleh dari
makanan. Kedua LA dan LA yang tak jenuh ganda dan berfungsi sebagai prekursor
senyawa penting lainnya. Misalnya, LA adalah prekursor untuk omega 3 jalur.
Demikian juga, LA adalah asam lemak orang tua dalam omega 6 jalur. Omega 3
(n-3) dan omega 6 (n-6) asam lemak adalah dua keluarga yang berbeda yang
terpisah, namun mereka disintesis oleh enzim yang sama, khusus, delta 5

desaturase dan delta 6 desaturase. Kelebihan dari satu keluarga dari fatty acid dapat

mengganggu metabolisme yang lain, mengurangi penggabungan menjadi lipid


jaringan dan mengubah efek biologis mereka secara keseluruhan.

Gambar 1 menggambarkan skematis dari n-6 dan n-3 metebolisme dan elongasi
dalam tubuh

n 6 EFAs

n 3 EFAs

Linoleic Acid ( 18 : 2 6 )

Linoleic Acid ( C18 : 3n - 3 )


- 6 desaturase

Gamma Linoleic Acid

Stearidonic Acid

( C 18 : 3n - 6 )

( C 18 : 4n : 3 )

Dihomo gamma Linoleic Acid


( C 20 : 3n - 6 )

Eicosatetraenoic Acid
( C 20 : 4n - 3 )

- 5 - desaturase
Arachadonic Acid

Eiscosapentaeonic Acid

( C 20 :4n - 6 )

( C 20 : 5n 3 )

Adrenic Acid

Docosapentaenoic Acid

( C 22 : 4n 6 )

( C 22 : 5n - 3 )
- 4 - desaturase

Docosapentaenoic Acid
( C 22 : 5n 6 )

Docosahexaenoic Acid
( C 22 : 6 3 )

10

Diet sehat harus terdiri dari kira-kira 1 -4 x lebih banyak omega 6 asam
lemak dari omega -3 asam lemak. Makanan khas amerika cenderung mengandung 11
sampai 30 x lebih banyak omega 6 asam lemak omega - 3 dibandingkan dengan
sebuah fenomena yang telah dihipotesiskan sebagai faktor signifikan dalam tingkat
meningkatkannya gangguan inflamasi di amerika serikat. Tabel 2 menunjukkan
perbedaan yang signifikan dalam n-6 : n-3 rasio antara yang makan rumput dann bijibijian makan daging sapi, dengan dan rata-rata keseluruhan 1,53 dan 7,65 untuk
makan rumput dan biji-bijian makan, masing-masing, untuk semua studi yang
dilaporkan dalam ulasan ini.
Jenis utama omega 3 asam lemak yang digunakan oleh tubuh meliputi :
asam linolenat (C18 : 3 n-3, LA), asam eicosapentaenoic (C21 : 5 n-3, EPA),
asam docosapentaenoic (C22 : 5 n-3, DPA), dan docosahexanoic acid (C22 : 6 n-3,
DHA). Setelah dimakan, diubah tubuh LA EPA, DHA, dan DPA meskipun pada
efisiensi yang rendah. Studi umumnya sepakat bahwa konversi seluruh tubuh dari
LA ke DHA dibawah 5 % pada manusia, mayoritas dari rantai panjang fatty acid
dikonsumsi dalam makanan.
Asam lemak omega - 3 pertama kali ditemukan pada awal 1970-an ketika
dokter mengamati bahwa Denmark Greenland Eskimo memiliki insiden yang sangat
rendah dari penyakit jantung dan arthritis meskipun fakta bahwa mereka
mengkonsumsi diet tinggi lemak. Studi-studi awal didirikan ikan sebagai suumber
yang kaya n-3 asam lemak. Penelitian yang lebih baru telah menetapkan bahwa EPA
dan DHA memainkan peran penting dalam pencegahan aterosklerosis, serangan
jantung, depresi dan kanker. Selain itu, omega -3 konsumsi mengurangi peradangan
yang disebabkan oleh rheumatoid arthritis.
Otak manusia memiliki kebutuhan tinggi untuk DHA, DHA tingkat rendah
telah dikaitkan dengan tingkat serotonin otak yang rendah, yang dihubungkan dengan
peningkatan kecenderungan untuk depresi dan bunuh diri. Beberapa studi telah
membantuk hubungan antara rendahnya tingkat asam lemak omega -3 dan depresi.
Tingginya konsumsi omega -3 fatty acid biasanya terkait dengan kejadian yang lebih
rendah depresi, penurunan prevalensi kehilangan memori ang berkaitan dengan usia
dan resiko lebih rendah menderita penyakit alzheimer.

11

The National Institutes Of Health telah menerbitkan direkomendasikan asupan


harian Agreement, rekomendasi khusus meliputi 650 mg EPA dan DHA, 2,22
gram/hari dan 4,44 gram LA / hari LA. Namun, institute of medicine telah
merekomendasikan DRI (asupan makanan referensi) untuk LA (omega -6) pada 12
sampai 17 gram dan LA (omega-3) pada 1,1 1,6 gram untuk wanita dewasa dan
laki-laki, masing-masing. Meskipun makanan laut adalah sumber makanan utama n-3
asam lemak, survei asupan asam lemak baru-baru ini menunjukkan bahwa daging
merah juga berfungsi sebagai sumber penting dari n-3 asam lemak untuk beberapa
populasi.
Sinclair dan rekan kerja adalah yang pertama untuk menunjukkan bahwa
konsumsi daging sapi meningkat konsentrasi serum dari sejumlah n-3 asam lemak
termasuuk EPA, DPA dan DHA pada manusia. Demikian juga, ada sejumlah studi
yang telah dilakukan dengan hewan ternak yang melaporkan temuan yang sama,
yaitu, hewan yang mengkonsumsi ransum tinggi dalam lipid prekursor mnghasilkan
produk daging yang lebih tinggi dalam asam lemak esensial. Misalnya, sapi makan
rumput terutama secara signifikan meningkatkan omega -3 isi daging dan juga
menghasilkan omega -6 lebih menguntungkan omega 3 dibandingkan rasio butir
makan daging sapi.
Hasil penelitiaan 2 menunjukkan pengaruh ransum pada komposisi asam
lemak tak jenuh ganda dari sejumlah studi terbaru yang kontras ransum berbasis
rumput gandum konvensional makan rejimen. Diet berbasis rumput menghasilkan
tingkat lebih tinggi dari omega 3 dalam fraksi lemak daging, sementara omega 6
tingkat yang tersisa tidak berubah. Bahkan, karena konsentrasi gabah, meningkat pada
pola makan rumput, konsentrasi n-3 fatty acid yang menurun yang secara linear. Sapi
rumput jadi konsisten menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dari n-3 fatty acid
(tanpa mempengaruhi n-6 konten FA ), sehingga lebih menguntungkan n-6 : n-3 rasio.
Jumlah total lipid (lemak) ditemukan dalamm porsi daging sangat tergantung
pada rejimen makan seperti yang ditunjukkan tabel 1 dan 2. Lemak juga akan berbeda
dengan dipotong, karena tidak semua lokasi bangkai akan menyimpan lemak pada
tingkat yang sama. Genetika juuga berperan dalam metabolisme lipid menciptakan
efek berkembang biak signifikan. Meskipun begitu, efek dari rejimen makan adalah
penentu yang sangat kuat dari komposisi asam lemak.

12

2. Ulasan Conjugated Linoleic Acid (CLA ) Dan Trans Asam Vaccenic (TVA) di
Rumput Makan Daging Sapi
Asam linoleat terkonjugasi membuat sekelompok Agreement tak jenuh ganda
ditemukan dalam daging dan susu dari hewan ruminansia dan eksis sebagai campuran
umum isomer terkonjugasi dari LA. Dari sekian banyak isomer diidentifikasi, account
cis 9 , trans 11 CLA isomer (juga disebut sebagai asam rumenic atau RA) hingga
80 90 % dari total PKB dalam produk rumansia. Alami PKB berasal dari dua
sumber : isomerisasi bakteri dan / atau biohydrogenation asam lemak tak jenuh ganda
(PUFA) dalam rumen dan desaturasi asam trans lemak dijaringan adiposa dan
kelenjar susu.
Biohydrogenation mikroba LA dan LA oleh anaerobik rumen bakteri
butyrivibrio fibrisolvens sangat tergantung pada pH rumen. Konsumsi biji-bijian
menurun rumen pH, mengurangi aktifitas B fibrisolvens, sebaliknya diet berbasis
rumput menyediakan lingkungan rumen yang lebih menguntungkan untuk sintesis
bakteri selanjutnya. Rumen pH dapat membantu untuk menjelaskan perbadaan nyata
dalam konten PKB antara gandum dan produk daging rumput jadi (lihat tabel 2). De
novo sintesis PKB dari 11T C18 : 1 TVA telah didokumentasikan pada hewan
pengerat, sapi perah dan manusia. Studi menunjukkan peningkatan linier dengan KKB
sintesis sebagai isi TVA diet meningkat pada subyek manusia. Tingkat konversi TVA
ke PKB telah diperkirakan berkisar 5-12 % pada hewan pengerat menjadi 19 sampai
30

pada

manusia.

Asupan

makanan

sejati

PKB

karena

itu

harus

mempertimbangkan asli 9c11t C18 : 2 (sebenarnya PKB ) serta 11T C18 : 1 (


potensial CLA ) isi makanan.

13

Gambar 2 menggambarkan de novo jalur sintesis PKB dari TVA.


Rumen

Tissues

Dietary Fat e.g. linoleic Acid


cis-9, cis-12 C18 : 2

cis-9, trans-11 C18 : 2 (CLA)

cis-9, cis -12 C18 : 2

cis-9, trans-11 C18 :2 (CLA)


-9-Desaturase

trans-11 C18 : 1(Vaccenic acid)

c18 : 0( Stearic acid)

trans-11 C18 : 1

C18 : 0

cis-9 C18 : 1
-9-Desaturase

Augmentasi Alam CLA c9t11 dan TVA dalam fraksi lipid dari produk daging sapi
dapat dicapai melalui diet kaya rumput dan hijauan hijau subur. Sementara precursor dapat
ditemukan dikedua biji bijian dan hiaju subur hijauan, spesies ruminansia makan dalam
kurungan pada diet gabah tinggi, sebagaian besar karena lebih menguntungkan rumen pH.
Dampak dari praktik pemberian makan menjadi lebih jelas dalam terang laporan
terbaru dari Kanada yang menunjukkan pergeseran mendominasi trans C18 : 1 isomer dalam
butir makan daging sapi. Dugaan dkk ( 2007 ) melaporkan bahwa isomer trans utama dalam
daging sapi yang diproduksi dari diet biji bijian gandum 73 % adalah 10T 18 : 1( 2.13 %
dari total lipid ) dari pada 11T 18 : 1 ( TVA ) ( 0.77 % dari total lipid ), sebuah temuan
yang tidak terlalu menguntungkan mengingat data yang akan mendungkung dampak negative
dari 10T 18 : 1 pada kolestrol LDL dan CVD.

14

Selama dua dekade terakhir banyak penelitian telah menunjukkan manfaat kesehatan
yang signifikan disebabkan oleh tindakan CLA, seperti yang ditunjukkan oleh model hewan
percobaan, termasuk tindakan - tindakan untuk mengurangi karsinogenesis, aterosklerosis,
dan onset diabetes. Asam linoleat terkonjugasi juga telah dilaporkan untuk memodulasi
komposisi tubuh dengan mengurangi akumulasi jaringan adipose dalam berbagai spesies
termasuk tikus, babi, dan sekarang manusia.
Asupan makanan yang optimal masih harus ditetapkan untuk PKB. Telah
dihipotesiskan bahwa 95 mg CLA / hari sudah cukup untuk menunjukkan efek positif dalam
pengurangan kanker payudara pada wanita menggunakan data epidemologi menghubungkan
peningkatan konsumsi susu dengan penurunan kanker payudara. Ha dkk .( 1989 )
menerbitkan sebuah perkiraan yang lebih konservatif yang menyatakan bahwa 3g / hari CLA
diperlukan untuk mempromosikan manfaat kesehatan manusia. Ritzenthaler et al. ( 2001 )
memperkirakan CLA asupan 620 mg/hari untuk pria dan 441 mg/hari untuk wanita yang
diperlukan untuk pencegahan kanker.

3. Ulasan pro vitamin A / karoten dalam daging sapi yang diberi makan rumput.

Karotenoid adalah keluarga senyawa yang disintesis oleh tumbuhan tingkat tinggi
sebagai pigmen tumbuhan alami. Xanthophylls, karoten bertanggung jawab untuk warna
kuning, warna orange dan merah, masing masing. Ruminansia pada ransom pakan tinggi
melewati sebagaian dari karotenoid tertelan kedalam lemak susu dan lemak tubuh dengan
cara yang belum sepenuhnya dijelaskan. Meskipun kuning lemak karkas dianggap negative
dibanyak Negara diseluruh dunia, hal ini juga terkait dengan profil asam lemak sehat dan
kandungan antioksidan yang lebih tinggi.
Saat asupan yang direkomendasikan dari vitamin A adalah 3.000 smpai 5.000 IU
untuk pria dan 2.300 sampai 4.000 IU untuk wanita masing masing, yang setara dengan 900
1.500 mg ( microgram ) ( Catatan : DRI seperti dilansir Institute of Medicine untuk non
pregnant / non lactating betina dewasa adalah 700 mg / hari dan laki laki adalah 900 mg /
hari atau 2.300 3.000 IU ( konversi asumsi dari 3,33 IU / mg ). Meskipun tidak ada RDA (
Required Daily Allowance ) untuk karoten dan karotenoid lain pro vitamin A, Institute
of Medicine menyarankan mengkonsumsi 3 mg karoten setiap hari untuk
15

mempertahankan plasma karoten dalam kisaran yang berhubungan dengan fungsi normal
dan menurunkan resiko penyakit kroni ( NIH : Kantor Dietary Supplements ).
Efek dari makan rumput pada konten karoten daging sapi digambarkan oleh
Descalzo et al. ( 2005 ) yang menemukan padang rumput makan mengarahkan dimasukkan
dalam jumlah jauh lebih tinggi dari karoten menjadi jaringan otot disbandingkan dengan
butir makan hewan. Konsetrasi adalah 0,45 mg / g dan 0.06 mg / g daging sapi dari padang
rumput dan butir - makan ternak masing masing, menunjukkan peningkatan 7 kali lipat
dalam tingkat karoten untuk rumput makanan sapi selama sezaman makan biji bijian.
Data serupa telah dilaporkan sebelumnya, mungkin karena kandungan karoten tinggi
rumput segar dibandingkan dengan biji bijian sereal.

Tabel 3. Perbandingan kandungan vitamin karoten berarti dalam daging sapi segar
dari rumput makan dan makan biji bijian ternak.
Athor, year, animal class

Grass fed ( ug / g tissue )

Grain fed ( ug / g tissue )

Insani et al., 2007, Crossbred steers

0,74*

0.17*

Descalzo et al., 2005, Crossbred

0.45*

0.06*

0.16*

0.01*

steers
Yang et al., 2002, Crossbred steers

4. Ulasan Vitamin E / - tokoferol dirumput - makanan sapi.


Vitamin E juga merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang ada dalam delapan
isoform berbeda dengan aktivitas antioksi dan kuat, yang paling aktif menjadi - tokoferol.

16

Tabel 4. Perbandingan kandungan vitamin - tokoferol berarti dalam daging sapi segar dari
rumput makan dan makan biji bijian ternak.

Grass fed ( ug / g tissue )

Grain fed ( ug / g tissue )

4.07*

0.75*

3.08*

1.50*

Insani et al., 2007, Crossbred steers

2.1*

0.8*

Descalzo et al., 2005, Crossbred

4.6*

2.2*

Realini et al., 2004, Hereford steers

3.91*

2.92*

Yang et al., 2002, Crossbred steers

4.5*

1.8*

Athor, year, animal class

De la Fuente et al., 2009, Mixed


cattle
Descalzo et al., 2008, Crossbred
steers

steers

Antioksidan seperti vitamin E melindungi sel terhadap efek radikal bebas. Radikal
bebas yang berpotensi merusak oleh produk metabolisme yang dapat berkontribusi terhadap
penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung.
Penelitian awal menunjukkan suplementasi vitamin E dapat membantu mencegah atau
menunda penyakit jantung koroner [ 102 105 ]. Vitamin E juga dapat menghalangi
pembentukan nistrosamin yang bersifat karsinogen dibentuk dalam perut dari nitrat yang
dikonsumsi dalam makanan. Hal ini juga dapat melindungi terhadap perkembangan kanker
dengan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh [ 106 ]. Selain efek pertempuran kanker, ada
beberapa studi observasional yang menemukan kejelasan lensa ( alat diagnostik untuk katarak
) lebih baik pada pasien yang secara teratur menggunakan vitamin E [ 107108 ]. Saat asupan
yang direkomendasikan dari vitamin E adalah 22 IU ( sumber daya alam ) atau 33 IU (
sumber sintesis ) untuk pria dan wanita [ 93.109 ], masing masing, yang setara dengan 15
miligram berat.
Konsentrasi alami - tokoferol ( vitsmin E ) ditemukan dalam butir makanan sapi
berkisar antara 0,75 292 g / g otot, sedangkan rentang sapi pemakan rumput 2,1 7,73 mg /
g jaringan tergantung pada jenis pakan yang tersedia dengan binatang (Tabel 4 ). Rumput

17

menyelesaikan kenaikan tingkat - tokoferol tiga kali lipat daging sapi butir makan dan
tempat tempat rumput makanan sapi baik dalam jangkauan otot tingkat - tokoferol
diperlukan untuk memperpanjang kehidupan rak sapi retail ( 3 sampai 4 mg - tokoferol /
jaringan gram). Para penulis menyimpulkan bahwa antioksidan dalam rumput mungkin
disebabkan tingkat jaringan yang lebih tinggi dari vitamin E dalam menyerempet hewan
dengan manfaat oksidasi lipid yang lebih rendah dan retensi warna yang lebih baik meskipun
potensi yang lebih besar untuk oksidasi lipid.

5. Tinjau isi enzim antioksidan pada rumput makanan sapi.


Glutathione ( GT ) adalah protein yang relatif baru diidentifikasi dalam makanan. Ini
adalah tripeptide terdiri dari sistien, asam glutamat dan glisin dan fungsi sebagai antioksidan
terutama sebagai komponen darisistem enzim yang mengandung GT oksidase dan reduktase.
Meskipun pengetahuan kita tentang konten GT dalam makanan masih agak terbatas,
produk susu, telur, apel, kacang kacangan, dan beras mengandung sangat sedikit GT ( < 3,3
mg / 100 g >). Sebaliknya, sayuran segar ( misalnya, asparagus 28,3 mg / 100g ) dan dging
baru dimasak, seperti ham dan daging sapi ( 23,3 mg / 100 g dan 17,5 mg / 100 g, masing
masing ), yang tinggi GT.
Descalzo et al. ( 2007 ) melaporkan peninggkatan yang signifikan dalam konsetrasi
molar GT di rumput - makanan sapi. Selain itu, sampel rumput makanan juga lebih tinggi di
superoksida dismutase ( SOD ) dan katalase ( CAT ) aktivitas dibandingkan daging sapi dari
butir makanan hewan.

6. Isu yang terkait dengan rasa dan palatabilitas rumput makanan sapi.
Mempertahankan profil lipid yang lebih menguntungkan di rumput makanan sapi
membutuhkan presentase yang tinggi dari hijauan segar yang subur dalam ransum. Semakin
tinggi konsetrasi dari hijau segar hiajuan, semakin tinggi prekursor LA yang akan tersedia
untuk PKB dan n 3 sintesis. Segar padang rumput hijauan, seperti jerami, akan memiliki
jumlah sedikit lebih rendah dari prekursor untuk PKB dan sintesis n 3 sintesis. Pergeseran
diet untuk biji bijian sereal akan menyebabkan perubahan yang signifikan dalam profil FA
dan kandungan antioksidan dalam waktu 30 hari dari transisi.
18

Karena rumput menyelesaikan mengubah biokimia daging sapi, aroma, rasa juga akan
terpengaruh. Atribut atribut ini secara langsung terkait dengan susunan kimia dari produk
akhir. Dalam sebuuah peneliatian yang membandingakan antara senyawa rasa dimasak diberi
makan rumput dan biji bijian makanan sapi, sapi diberi makan rumput yang mengandung
kosentrasi yang lebih tinggi diterpenoids, turunan dari panggilan klorofil phyt 1 ena dan
phyt 2 ena, yang berubah baik rasa, aroma dari produk masak. Demikian juga, karena
kandungan lemak yang lebih rendah dari konsetrasi tinggi PUFA, waktu memasak akan
berkurang. Untuk melihat lengkap senyawa daging pada rasa, lihat Calkins dan Hodgen (
2007 ).

19

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Omega 3 merupakan salah satu jenis lemak tidak jenuh yang sangat dibutuhkan tubuh.
Sayangnya, tubuh tidak dapat menghasilkan sendiri jenis lemak ini sehingga kebutuhan akan
lemak jenis ini harus didapatkan melalui asupan makanan. Secara umum, Omega 3 berfungsi
bagi pertumbuhan sel otak, organ penglihatan dan tulang, serta menjaga sel-sel pembuluh
darah dan jantung tetap sehat.
Asam lemak omega-6 adalah asam lemak tak jenuh ganda yang sangat penting untuk
pengembangan dan fungsi otak, sistem reproduksi, dan metabolisme, serta membantu
menjaga kesehatan kulit dan rambut.Konsentrasi tertinggi dari lemak tak jenuh ganda ini
ditemukan di kedelai, gandum, beras dan minyak rami.
Fungsi Omega 6
Omega-6 berfungsi untuk menyehatkan organ jantung sehingga terhindar dari
penyakit jantung.Keseimbangan sinergi antara Omega-3 dan Omega-6 dapat memelihara
kesehatan kulit, kuku, rambut, hormon, meringankan gejala asma, serta mencegah kerusakan
sel pada pengidap kanker. Masih dari keluarga lemak tak jenuh, Omega-9 dikenal sebagai
asam oleat. Asam lemak ini diproduksi oleh tubuh namun akan lebih berkhasiat bila diperoleh
dari makanan.
OMEGA 9
Omega-9 adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang ditemukan dalam minyak zaitun,
buah acai (berry), kacang, dan alpukat. Juga disebut asam oleat.
Omega-9 berfungsi untuk mengurangi lemak jahat pada minyak goreng. Risiko penyakit
Fungsi Omega-9:
jantung dan stroke bisa berkurang bila dikonsumsi secara teratur.

20

Kandungan omega 3, 6, 9 dalam penurunan kolesterol bermanfaat untuk

Membantu meningkatkan pembakaran energi & metabolisme sel

Menjaga system penghantaran impuls syaraf dan memelihara tekanan darah

Menurunkan kekentalan darah, sehingga mengurangi resiko serangan jantung

Menurunkan kolesterol LDL dan Trigliserida

Meningkatkan HDL

21

DAFTAR PUSTAKA

Altman PL and DS Dittmer. 1974 Blood lipids. Vertebrates other man. Biology data book.
2nd ed. Marryland : Federation of American Societies for Experimental Biology.
Dreher, D., and AF. Junod. 1996. Role of oxygen free radicals in cancer development. Eur
. J. Cancer 32A ( 1 ) : 30 38.
Halliwell, B. 1994. Free radical, antioxidants, and human diasease : curiosity, cause
orconsequence? Lancet 344 : 721 724.

22

Anda mungkin juga menyukai